Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Paus Fransiskus memberikan peneguhan kepada warga Filipina

Paus Fransiskus memberikan peneguhan kepada warga Filipina 

Paus Fransiskus bertemu dengan komunitas Filipina di Roma hari ini, dengan mendorong mereka untuk bangkit dari bencana baru-baru ini di negara asal mereka untuk tidak pernah bosan berdoa. Mengacu pada topan Haiyan yang menimbulkan bencana dahsyat di Filipina, Paus Fransiskus mendorong mereka, “Di saat-saat sedih, biarkan kuasa doa ini menjadi andalan kita. …Dan saya juga menemani Anda dengan doa.” 

“Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus berdoa, terutama di saat-saat sulit,” tekan Paus Fransiskus. Paus Fransiskus telah bergabung dengan Luis Antonio Kardinal Tagle dari Manila dan komunitas Filipina di Roma untuk menghormati St. Pedro Calungsod, seorang katekis dan martir Filipina. Paus memberkati mosaik pemuda itu yang dikanonisasikan sebagai Santo oleh Paus Benediktus XVI Oktober tahun lalu. Kardinal Tagle berbicara tentang perjuangan rakyat Filipina, serta keberanian mereka dalam menghadapi situasi menakutkan. 

Paus Fransiskus memeluk kardinal itu pada akhir sambutannya, menunjukkan rasa solidaritas serta “kedekatan dan doanya.” Penghormatan terhadap St. Pedro Calungsod di Basilika Santo Petrus datang pada saat yang penting bagi rakyat Filipina, yang sedang berjuang untuk pulih akibat topan tersebut. Lina Santos, yang tinggal di Roma, tetapi berasal dari Filipina, mengatakan kepada CNA bahwa pertemuan hari ini adalah “sangat berarti bagi kami” karena menghormati santo dari Filipina” meskipun kesulitan yang kami hadapi sekarang.” “Meskipun kami telah mengalami bencana, masih ada harapan bahwa kami dapat memperoleh lagi harapan kami,” katanya.

Sumber: Rome’s Filipino community meets the pope
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

CATATAN KECIL : DIMANA CINTA???

CATATAN KECIL : DIMANA  CINTA???


Banyak...bukan menghakimi, tapi kenyataan...banyak orang yg setiap saat koar-koar mulutnya mengatakan cinta Tuhan dan "mengumandangkan" firman Tuhan...tapi, disaat diminta sedikit bantuan dana utk Tuhan/Gereja...semua pada terdiam dan bersembunyi... ◦(˘_˘")◦ ♒нůfftttt...♒ Dimana cinta itu??? 

 Judul di atas saya ambil langsung dari kutipan status FB dari seseorang, yang tentunya tidak perlu saya sebutkan namanya. Status itu menyatakan kekesalan hati beliau atas apa yang beliau alami. Mungkin beliau sedang mencari sumbangan untuk satu kegiatan Gereja, dan meminta kebeberapa orang yang dia yakin akan memberi, namun nyatakanya harapannya tidak terkabulkan. Dia yakin bahwa yang dia mintai pasti akan memberi dengan alasan bahwa orang yang dia mintai itu banyak berbicara tentang cinta Tuhan dan berbicara indah tentang firman Tuhan. Namun ternyata dugaan dia tidak demikian, apa yang dia harapkan tidak terwujud. Itulah membuat orang ini kecewa. Pasti dia mengalami hal demikian sampai beberapa kali dengan banyak orang, sehingga dia begitu kesal sampai menuliskannya di status FB beliau. Selain untuk menumpahkan kekesalan hatinya, juga tanpa sadar berharap agar apa yang diungkapkannya dibaca oleh orang yang membuatnya kesal. 

Kebangkitan untuk ikut mewartakan iman. 

Apa yang dialami oleh seseorang yang kami sebutkan di atas, mungkin suatu gambaran dari apa yang sebenarnya terjadi. Memang kalau kita simak yang di Fb, begitu banyak orang yang menuliskan status FB berisi renungan berdasarkan bacaan hari itu, renungan pribadi atas sabda Tuhan, banyak pula menuliskan renungan dari refleksi pribadi, banyak pula yang membuat gambar aktivitasnya dalam kehidupan menggereja dan banyak pula membuat status baik dengan tulisan ataupun dengan gambar tentang kehidupan peziarahan imannya yang mengadakan perjalanan ziarah ke tempat-tempat ziarah rohani. 

Semuanya ini adalah hal yang positif , itu lebih baik daripada menggunakan FB hanya untuk canda dan sekedar pengisi waktu luang. Semuanya itu jadi salah satu tanda kebangkitan iman dari umat beriman yang mulai ikut ambil bagian dalam pewartaan iman lewat dunia maya, salah satu tanda kebangkitan hidup iman umat yang hendak me,bagikan pengalaman iman mereka kepada banyak orang. Kalau selama ini banyak umat yang tidak percaya diri menyatakan imannya dan berbagi pengalaman iman, saat ini umat mulai membuka diri. 

Apakah yang kelihatan menggambarkan kedalaman iman seseorang? 

Namun apakah semuanya itu bisa menyatakan kedalaman iman seseorang? Apakah status dan foto yang indah itu menggambarkan kedalaman iman sipembuat status atau gambar itu? Ini yang menjadi permenungan bersama. Apa yang tertulis atau apa yang ditulis dan apa yang kelihatan indah apalagi lewat foto, tidak bisa menjadi ukuran kedalaman iman seseorang. Bisa saja banyak orang yang pintar berkata-kata tentang cinta Tuhan, lihai berbicara akan sabda Tuhan dan melakukan banyak kegiatan gereja dan peziarahan ke tempat-tempat ziarah, belum tentu menggambarkan iman mereka. 

Walaupun orang yang membaca tulisan status yang indah, sarat akan firman Tuhan dan foto yang memperlihatkan kegiatan iman, pasti akan berpikir bahwa sipembuat dan sipemilik FB itu pasti orang beriman dan hidup menghayati imannya. Atas dasar itulah mungkin orang berharap kepada mereka dengan meminta bantuan dari mereka itu. Inilah mungkin yang dialami oleh orang yang membuat status di atas. Dia kecewa karena yang tampak di status FB tidak menggambarkan kehidupan iman pemiliknya. Ini menjadi permenungan bagi kita semua dan juga bagi kami yang juga mempunyai FB. 

Apakah harus Kecewa dan Sakit hati bila ditolak? 

Apa yang dialami oleh pemilik status tersebut, kiranya itu pulalah yang kami alami. Dalam upaya membangun Gereja Paroki Tigalingga, kami banyak berharap dari para saudara se iman lewat FB ini. Dalam upaya menggalang dana untuk pembangunan gereja paroki ini, kami banyak meminta lewat umat katolik yang ada di FB ini. Kami biasanya meminta dengan mengajukan permohonan lewa pesan FB yang kami mintai. Dasar kami meminta kepada seseorang adalah dengan melihat nama, agama, status FB mereka dan juga foto-foto yang ada di FB mereka. Sama seperti orang lain, kami pun berharap bahwa orang yang kami mintai itu adalah orang beriman, orang yang aktiv menggereja dan merekapun pasti orang yang baik hati, pasti mau berbagi berkat Tuhan apalagi kami meminta untuk pembangunan Gereja Paroki. Itulah harapan kami. Namun harapan itu tidak seluruhnya terpenuhi, bahwa dari sekian banyak yang kami minta, bisa dikatakan hanya sepertiga yang menanggapi permohonan kami. Tidak jarang terjadi yang kami mintai hanya sekedar bertanyat, berjanji dan ada yang mengabaikan begitu saja permohonan itu, mereka membaca tetapi tidak membari tanggapan apa-apa. 

Walaupun demikian, kami tidak sakit hari, dan tidak sampai menumpahkan semuanya itu dengan menuliskan di status FB. Mungkin bila dibandingkan dengan orang yang membuat status di atas, kami lebih sering mengalaminya. Kami mencoba berpikir positif saja, yakni kemungkinan mereka lagi sibuk dan masih banyak kebutuhan yang harus mereka tanggung, atau mungkin saja sebelum kami masih banyak permohonan yang meminta mereka sehingga kami diminta untuk bersabar menunggu giliran. Kami mencoba berpikir bahwa mungkin saja mereka kurang yakin akan permohonan ini karena sekarang ini banyak penipuan berselubungkan kegiatan amal, atau mungkin saja karena mereka tidak tahu bahwa yang meminta atau mengemis kepada mereka adalah seorang pastor/imam, gembala mereka sendiri. Mungkin kalau mereka yakin akan kebenaran permohnan ini dan tahu bahwa yang mengemis itu adalah seorang pasto, pasti mereka akan memberi dengan senang hati. 

Kami juga berpikir bahwa mungkin saja mereka tidak membalas permohonan tetapi dengan diam-diam mengirimkan persembahan untuk pembangunan ini karena mereka tidak mau perbuatan baik mereka kami ketahui. Kami yakin bukan karena mereka tidak peduli dan pelit, tetapi karena belum waktunya untuk kami. Syukur pada Tuhan, bahwa ada juga banyak yang kami mintai memberi persembahan kasih untuk pembangunan ini. Apa yang kami harapkan dengan melihat status dan foto kegiatan seseorang di FB nya, menggambarkan hidup iman mereka. Kami sangat bahagia menerimanya, karena itu adalah berkat Tuhan bagi kami lewat mereka. Namun walaupun sebenarnya pemberian mereka menurut kami hanya sekedarnya saja karena rasanya tidak seimbang dengan berkat Tuhan yang telah mereka terima. Walaupun demikian, kami tidak mau menghakimi mereka, kami tetap bersyukur dan memohonkan berkat bagi mereka semua baik yang memberi dan yang belum memberi, supaya Tuhan memberkati mereka di manapun mereka berada serta hidup mereka bahagia. 

Tuhan Punya Banyak cara menyalurkan berkat-Nya

Ada pengalaman yang menarik yang kami alami selama menggalang dana lewat FB ini. Pada satu kesempatan kami mencoba mengirimkan banyak permohonan lewat pesan di FB mereka, mereka itu adalah umat katolik. Kami menunggu beberapa saat dan beberapa hari, tetapi tidak ada yang menanggapi. Namun tanpa diduga kami menerima pesan dari FB dari seorang ibu yang mengatakan bahwa beliau telah mentransfer persembahan kasih untuk pembangunan Gereja paroki. Kami mencoba mengingat bahwa kami tidak pernah mengajukan permohonan kepada beliau. Kami memang sudah sering melihat beliau aktif di FB. Untuk menyakinkan diri, kami mencoba membuka halaman FB beliau dan melihat identitasnya. Dalam identitas beliau tertulis agamanya bukan Katolik, tetapi protestan. 

Sungguh luar biasa dan mengharukan. Kami meminta dari umat katolik dan berharap untuk diberi, namun ternyata tidak, malahan rahmat Tuhan justru datang bukan dari yang kami kenal dalam iman, dalam arti sama-sama katolik, malahan dari saudara yang bukan sei iman katolik. Jumlah yang beliau persembahkan juga lebih banyak dari beberapa umat katolik yang sudah memberi. Apakah karena beliau itu lebih kaya daripada umat katolik yang sudah memberi? Mungkin saja benar. Namun kiranya bukan soal beliau lebih kaya atau tidak, tetapi ini soal sara memiliki dan rasa syukur pada Tuhan. Kalau umat katolik menyadari bahwa yang memintai adalah Gereja dan bahkan seorang pastor, dan itu untuk Gereja, tentu akan dengan rela memberi persembahan kasih tanpa berhitung atau setimpal dengan berkat yang diterima. Kalau pemberian seorang katolik yang berada lebih banyak dari yang bukan katolik, itu hal biasa. Tetapi bila pemberian seorang katolik yang berada lebih sedikit daripada pemberian seorang yang bukan katolik, itu sungguh luar biasa. 

Pengalaman ini bagi kami adalah pengajaran dari Tuhan yang mengatakan bahwa dalam usaha yang baik, selalu berhadap pada Tuhan, bukan berharap pada orang bahkan orang yang seiman, karena dengan demikian kita mengandalkan mereka, bukan mengandalkan Tuhan. Tuhan mau mengatakan bahwa kami boleh meminta kepada umat se iman, tetapi pengharapan yang teguh hanya pada Tuhan, dan Tuhan punya banyak cara untuk menyalurkan berkat-Nya, bahkan bisa lewat orang-orang yang tidak pernah kita mintai dan harapkan. 

Cinta Tuhan pasti akan selalu mengalir dengan banyak cara dan bentuk yang tidak bisa kita prediksi sejak awal. Itulah salah satu misteri cinta kasih Tuhan bagi kita. Pada akhir catatan kecil ini, kami mohon maaf kepada para saudara, bukan niat kami mengahakimi siapapun, kami hanya sekedar berbagi pengalaman karena terdorong oleh status dari saudara yang kecewa sebagaimana kita baca di atas. Kami merasa terdorong untuk menuliskan hal ini. Ini semua menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar hidup iman kita selaras dengan perkataan, dan perbuatan baik kita bagi sesama, terutama lewat Gereja-Nya.

BACAAN HARI MINGGU: 24 NOVEMBER 2013 (HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM)

BACAAN HARI MINGGU: 24 NOVEMBER 2013 
(HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM) 
2Sam. 5:1-3; Mzm. 122:1-2,4-5; Kol. 1:12-20; Luk. 23:35-43 

BACAAN I: Mal. 4:1-2a 
“Mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel.” Sekali peristiwa, datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel." Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. 

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm. 122:1-2,4-5 
Ulangan : Ku menuju ke altar Allah dengan sukacita. 

Ayat : 
1. Kubersukacita waktu orang berkata keapdaku: Mari kita pergi ke rumah Tuhan. Sekarang kaki kami berdiri di gerbangmu, hai Yerusalem. 

2.Kepada suku-suku berziarah yakni suku-suku Tuhan, untuk bersyukur paa nama Tuhan ssuai dengan peraturan. 

3. Berdoalah agar Yerusalem sejahtera! “Damai bagi orang yang mencintai Engkau. Semoga damai turun atas wilayahmu dan kesentosaan atas putrimu. 

4. Atas nama saudara dan sahabatku kuucapkan keselamatan kepadamu. Demi bait Tuhan Allah kita kumohon bahagia bagimu. 

BACAAN II : Kol. 1:12-20 
“Allah telah memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.” 

Saudara-saudara, semoga kamu mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus 

INJIL Luk. 23:35-43 
“Tuhan, ingatlah akan daku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” 

Ketika Yesus bergantung di salib, pemimpin-pemimpin Bangsa Yahudi mengejek-Nya, "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi". Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

RENUNGAN HARI BIASA: SABTU 23 NOVEMBER 2013

RENUNGAN HARI BIASA: SABTU 23 NOVEMBER 2013
 (Klemens I, Kolumbanus, Mikhael Agustinus Pro) 
1Mak. 6:1-13; Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19; Luk. 20:27-40 

BACAAN INJIL: 
 Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. 

RENUNGAN : 
Dalam hidup ini, perkawinan dianggap keharusan bagi semua orang dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan. Masih banyak oran g yang sulit mengerti bila ada orang yang tidak menikah atau tidak berkeluarga, juga masih ada saja orang yang sulit menggerti para imam dan suster yang tidak menikah . Karena perkawinan dianggap suatu keharusan, orang tua malu bila sampai anaknya tidak kawin. Oleh sebab itu, orang tua berusaha agar anaknya kawin, bahkan sampai menjodohkannya. 

Alasan utama perkawinan adalah untuk melanjutkan keturunan dan itu dianggap suatu kebahagiaan. Orang Saduki adalah suku yang tidak percaya akan kebangkitan dan akan roh-roh. Mereka adalah suku yang konservatis, hanya menerima lima kitab hukum musa dan tidak mau repot dengan segala aturan sebagaimana yang dihidupi oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, juga tidak percaya akan kebangkitan. 

Di dalam injil hari ini, orang saduki ingin menjebak Yesus tentang ajaran kebangkitan. Sepertinya orang Saduki bertanya kepada Yesus setelah habis berdebat dengan orang Farisi dan ahli-ahli Taurta. Mungkin saja mereka mau menjebak Yesus atau juga mau mendapatkan pembenaran akan ajaran mereka sehubungan dengan tidak adanya kebangkitan. 

Orang Saduki menjebak Yesus tentang perkawinan yang sudah biasa terjadi pada masa itu. Seorang wanita yang menikah sampai tujuh kali karena suami pertama meninggal tanpa meninggalkan anak baginya, sehingga saudara suaminya harus menikah dengan dia supaya harta suaminya tidak hilang menjadi milik wanita itu. Demikianlah akhirnya wanita itu menikah dengan saudara-saudara suaminya sampe tujuh kali menikah. Atas kasus ini, orang Saduki bertanya tentang siapa yang kelak menjadi suami wanita ini dalam kehidupan selanjutnya. 

 Persoalan yang dismapaikan oleh orang Saduki memang logis bila memikirkan bahwa kehidupan setelah kebangkitan itu sama dengan hidup manusia di dunia sekarang ini. Orang Saduki berharap bahwa dengan pertanyaan itu Yesus membenarkan ajaran mereka sehingga mengalahkan pemikiran orang Farisi yang mengajarkan tentang kebangkitan. Menanggapi pertanyaan jebakan orang Saduki itu, Yesus mengatakan bahwa kebangkitan itu memang ada. Percaya pada kebangkitan berarti percaya bahwa ada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini, kehidupan itu diperoleh setelah mengalami kematian dari kehidupan dunia ini. Namun kehidupan dalam kebangkitan itu bukan seperti kehidupan sekarang di dunia ini. 

Dalam kehidupan itu, manusia hidup seperti malaikat, penuh sukacita, tidak berkekurangan dan tidak mati lagi sehingga tidak lagi membutuhkan perkawinan. Dalam kebangkitan itu, manusia tidak lagi kawin dan dikawinkan karena mereka tidak mati lagi dan mereka hidup dalam kebahagiaan kekal. Jawaban Yesus membuat orang Saduki tidak berkutik lagi dan orang Farisi dan ahli-ahlit Taurat merasa dibela oleh Yesus sehubungan ajaran tentang kebangkitan, sehingga mereka mengatakan, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Mereka mengatakan demikian, bukan karena sepenuhnya setuju pada ajaran Yesus, tetapi karena merasa dibela di hadapan orang-orang Saduki. 

Injil hari ini jelas mengajarkan kepada kita bahwa hidup yang sekarang bukanlah hidup yang sejati, tidak selamanya, masih ada hidup yang lain yakni hidup kekal setelah kebangkitan. Kehidupan setelah kebangkitan adalah kehidupan penuh sukacita, hidup seperti malaikat, tidak dapat mati lagi. Namun hidup setelah kebangkitan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang layak, yakni orang yang selama hidupnya di dunia ini berkenan di hadapan Tuhan, dengan percaya kepada Yesus dan hidup seturut kehendak Tuhan. Dengan demikian, hidup yang sekarang adalah persiapan untuk menuju hidup kekal. Maka semoga hidup kita yang sekarang kita arahkan untuk kehidupan kekal. Amin.

Paus angkat Pastor Paskalis OFM sebagai Uskup Bogor

Paus angkat Pastor Paskalis OFM sebagai Uskup Bogor 

Pastor Paskalis Bruno Syukur OFM Pada Kamis (21/11), Paus Fransiskus mengangkat Pastor Paskalis Bruno Syukur OFM sebagai Uskup Bogor yang baru. Sebagaimana dilansir Agenzia Fides, penunjukkan ini dilakukan setelah Bapa Suci menerima permohonan pengunduran diri Mgr Mikael Cosmas Angkur OFM yang menjadi Uskup Bogor sejak 1994 dan kini menginjak usia 76 tahun. 

Pastor Paskalis yang lahir di Ranggu, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada 17 Mei 1962 selama ini bertugas sebagai Definitor General OFM di Roma, jabatan di bawah pemimpin umum OFM. Dari 9 anggota Definitor General, ia membawahi sejumlah provinsi OFM di Asia dan Oceania, seperti India, Pakistan, Jepang, Australia-Selandia Baru, termasuk Indonesia. 

Dalam rangka tugasnya sebagai Definitor General, ia terakhir kali mengunjungi Indonesia pada awal Oktober lalu, saat menghadiri Sidang OFM Provinsi Indonesia di Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat. Dalam perpisahannya dengan pimpinan OFM di Roma, setelah mendapat berita pengangkatannya, Pastor Paskalis mengatakan, ini merupakan tugas baru yang tampaknya sulit. 

“Tapi saya mohon doa saudara-saudara sekalian”, tegasnya dalam video yang di-posting di situs www.ofm.org. Pastor Paskalis masuk Ordo Fransiskan, setelah menyelesaikan pendidikan SMP-SMA di Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur. Studi filsafat dilewatinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta (1983-1987) dan kemudian melanjutkan studi teologi di Fakultas Teologi Wedhabkti, Kentungan, Yogyakarta. Pada 2 Februari 1991 ia ditahbiskan menjadi imam, dimana setelahnya ia diutus bertugas di Paroki Moanemani, Keuskupan Jayapura, hingga 1993. Tahun 1993-1996 ia studi Spiritualitas Fransiskan di Universitas Antonianum, Roma dan meraih gelar licensiat. 

Sepulang studi, ia menjadi magister para novis OFM di Novisiat Transitus Depok, Jawa Barat (1996-2001) sekaligus menjadi anggota dewan OFM Provinsi Indonesia. Tahun 2001, dalam Sidang Provinsi, ia dipilih menjadi Provinsial OFM Indonesia. Sidang periode berikutnya, pada 2007, ia terpilih kembali dan hanya menjabat 2 tahun, karena diangkat menjadi Definitor General, sehingga ia harus pindah ke Roma. Pastor Paskalis akan memimpin Keuskupan Bogor yang berdiri sejak 3 Januari 1961. 

 Keuskupan dengan luas wilayah 18,369 kilometer persegi ini awalnya dipimpin uskup Fransiskan asal Belanda, Mgr Nicolaus Johannes Cornelis Geise OFM (1961-1975). Ia kemudian digantikan oleh Mgr Ignatius Harsono (1975-1993). Setelah Uskup Ignatius pensiun, Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoto SJ menjadi administrator hingga Mgr Mikael dipilih pada 1994. Populasi penduduk di Keuskupan Bogor mencapai 16.283.000, dengan jumlah umat Katolik 83.406, yang tersebar di 18 paroki. Mayoritas warga di wilayah keuskupan ini, adalah Muslim. 

Ryan Dagur, Jakarta
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

CATATAN KECIL : TUHAN DI MANA? TUHAN BERPIHAK KEPADA SIAPA?

CATATAN  KECIL : TUHAN DI MANA? TUHAN BERPIHAK KEPADA SIAPA? 

Kiranya pertanyaan demikian pasti akan terlontar manakali kita atau orang lain mengalami suatu malapetaka atau bencana. Ketika terjadi tsyunami di Filipina, orang pun pasti berpikir mengapa Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi. Orang seringkali mengaitkan bencana alam atau penderitaan sebagai peringatan dan hukuman dari Tuhan. Tidak jarang hal demikian kita dengarkan dan bahkan mungkin kita sendiri mengatakannya. 

Bila hal ini dikaitkan dengan bencana alam yang terjadi di Filipina, kita pasti heran karena kita ketahui penduduk Filipina mayoritas beragama Katolik sehingga, “Apakah memang Tuhan menghukum mereka dengan bencana itu? Apa yang mereka perbuat sehingga terjadi demikian? Kalaupun itu bukan karena hukuman dari Tuhan, mengapa Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi? Sebab peristiwa itu jelas membuat banyak orang menderita, terutama orang-orang miskin. Masih banyak bentuk atau hal yang membuat orang berpikir dan bertanya, “Di mana Tuhan ketika kita atau orang lain mengalami bencana alam, penderitaan dan persoalan dalam hidupnya? Apakah memang Tuhan masih peduli dengan hidup manusia? Adapula perkara yang membuat orang lain bingung, sehubungan dengan keberadaan dan keberpihakanTuhan. 

Kita pasti pernah mendengarkan seseorang yang miskin menjadi korban kejahatan orang lain, mereka mencari keadilan tetapi tetapi tidak mendapatkannya. Misalnya seseorang dituduh oleh seorang kaya atau orang yang berkuasa dan dijatuhi hukuman. Orang miskin itu tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan, dia hanya korban fitnah orang tertentu atau malah dikorbankan demi menutupi kejahatan yang menjani lawannya di pengadilan. Namun orang miskin itu yang menjadi korban sedangkan yang melakukan perbuatan jahat itu malah bebas. Orang kaya itu akhirnya bebas karena dia bisa membayar pengacara yang mahal dan mungki bisa membeli hakim sehingga membebaskan dirinya, sedangkan orang miskin itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ironisnya adalah orang kaya itu ketika putusan pengadilan seringkali menggelar konferensi pers dan dengan tegas mengatakan, bahwa Tuhan berpihak kepada diri-Nya dan Tuhan itu mencintainya makanya dia bebas dari hukuman. Sedangkan orang miskin yang akhirnya terhukum akan merutuki nasibnya dan akan bertanya, “Di mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak membelanya? Mengapa Tuhan justru berpihak kepada yang melakukan kejahatan. 

TUHAN MENGASIHI MANUSIA 

Bertitik tolak pada contoh di atas, kita bertanya, “Apakah memang Tuhan berpihak kepada orang jahat itu sehingga dia terbebas dari hukuman? Mengapa Tuhan tidak membela orang miskin dan benar itu? Secara manusiawi, pertanyaan ini sulit kita mengerti dan kitapun sulit untuk menjawab bila pertanyaan itu diajukan kepada kita. Benarkah Tuhan menjadi sumber bencana alam, sumber dari malapetaka atau penderitaan manusia? Benarkah Tuhan mendatangkan semuanya itu untuk menghukum manusia supaya manusia menjadi sadar? Tentu tidak pernah demikian. Tuhan tidak pernah menjadi sumber malapetaka, sumber bencana alam dan sumber penderitaan dan persoalan hidup manusia. Bila kita percaya bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan, berarti Tuhan itu sungguh kejam, mendidik manusia dengan penghukuman yang sangat berat. 

Dalam kitab suci jelas kita ketahui bahwa Allah itu kasih . Kasih Allah yang sungguh besar dinyatakan dalam diri Yesus yang diutus untuk membawa kabar sukacita bagi manusia, yakni bahwa Allah mengasihi manusia. Ini adalah kabar sukacita bagi manusia, karena pada masa itu orang sering berpikir bahwa Allah kita kejam dan Allah itu tidak berpihak kepada orang-orang kecil dan miskin. Pemikiran demikian muncul karena pengajaran saat itu yang mengatakan bahwa orang sakit, orang miskin adalah orang yang tidak diberkati oleh Tuhan, orang yang mendapat penghukuman. 

Pemikiran demikian juga muncul karena penderitaan yang dialami seakan tidak berkesudahan, sehingga berpikir bahwa mereka tidak dikasihi dan tidak dikehendaki oleh Tuhan sehingga membiarkan mereka demikian. Oleh sebab itulah para rasul juga bertanya bertanya kepada Yesus ketika melihat orang buta sejak dilahirmakan, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? (yoh 9:2). Para murid bertanya demikian karena memang pemahaman pada masa itu mengatakan bahwa orang sakit dan miskin adalah hukuman dari Tuhan karena dosanya atau juga karena dosa keluarga atau orang tuanya. Menanggapi pertanyaan itu, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa orang buta itu lahir demikian, bukan karena hukuman dari Tuhan, bukan karena dia tidak diberkati oleh Tuhan. Namun hal itu terjadi karena memang manusia adalh ciptaan dan akan ada dalam kehidupan manusia. Hal ini dikatakan oleh Yesus dengan mengakatan, “...selama masih siang; akan datang malam..” ini bisa kita artikan bahwa selama ada kehidupan, pasti masih akan ada penderitaan manusia, namun itu bukan berasal dari Tuhan dan bukan karena hukuman dari Tuhan karena kedosaan manusia. 

MANUSIA MENYALAHGUNAKAN ANUGERAH KEBEBESAN YANG DAROI TUHAN 

Mungkin kita berpikir, “Mengapa Tuhan tidak menghilangkan kejahatan dan penderitaan dari hidup manusia?” Mengapa Tuhan seakan membiarkan orang-orang jahat meraja lela dan seakan malah mendukung kejahatan mereka?” Kita pasti selalu berharap agar Tuhan membunuh saja kejahatan dari hidup ini dan menghilangkan persoalan dari hidup manusia. Menanggapi hal demikian, ada orang berpikir bahwa dengan adanya penderitaan dan persoalan itu, manusia sadar bahwa dirinya adalah manusia lemah sehingga membutuhkan Tuhan. Kita harus hati-hati dengan pemikiran demikian, karena bisa berarti bahwa Tuhan sengaja membuat kita lemah agar kita tergantung kepada Dia. Kiranya hal ini yang terjadi dalam kehidupan kita, pemerintah dan penguasa sengaja membuat rakyat miskin tetap miskin supaya mereka terikat dan merasa membutuhkan pemerintah. Tuhan tidaklah demikian. Kita pasti masih ingat dalam kisah penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa Allah. 

Allah menciptakan manusia bukan hanya sekedar berbeda bentuk dengan ciptaan lain, tapi Allah memberi kehendak bebas bagi manusia yang tidak ada pada ciptaan lain dan Allah memberi kuasa atas manusia untuk menguasai semua ciptaan. Allah memberi pesan kepada manusia yang tidak bisa mereka langgar, dengan berfirman; "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."( Kej 2:16-17)Namun apa yang terjadi? Manusia melanggar perintah Tuhan. Dalam hal ini bukan soal makan buah itu atau tidak, tetap pelanggaran atas perintah Tuhan. Sejak saat itu manusia keluar dari taman firdaus, bukan karena Allah menghukum tetapi karena perbuatan manusia itu sendiri yang membuat manusia itu tidak layak lagi tinggal di taman Firdaus. Walaupun manusia itu berdosa, Allah masih membela manusia dan tidak menghendaki manusia itu mati, yakni Allah masih membuatkan pakaian untuk manusia itu, (Kej 3: 20). 

Demikian juga halnya ketika Kain membunuh Habel adiknya hanya karena kecemburuan. Mengapa Tuhan membiarkan Kain membunuh adeknya Habel, Habel yang baik dan jujur itu? Hanya Tuhan yang tahu. Namun yang kita tahu pasti adalah bahwa Tuhan tetap mengasihi Kain walaupun telah membunuh Kain adiknya, sebab itu Tuhan menaruh tanda atas Kain agar orang tidak membunuh dia. Tuhan masih mengharapkan manusia itu hidup dan diberi kesempatan untuk bertobat. Secara singkat dapat kita katakan bahwa penderitaan itu bukan berasal dari Tuhan. Penderitaan itu berasal dari manusia sendiri, baik karena perbautannya sendiri maupun karena perbuatan orang lain. 

Kejahatan dan penderitaan itu bermula dari kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan dan disalahgunakan oleh manusia. Namun kita tentu tidak berpikir bahwa kejahatan itu terjadi karena kesalahan Tuhan yang memberi manusia kehendak bebas. Kalau Tuhan tidak memberi kita kehendak bebas karena itu yang menjadi awal kejahatan dan penderitaan orang lain, maka kita tidak ada ubahnya dengan binatang dan kita bukan lagi ciptaan menurut gambar dan rupa Allah. Demikianlah terjadi dalam perjalanan hidup manusia. Manusia bukannya semakin baik, tetapi semakin menyalahgunakan kebebasan yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan tidak menghendaki manusia itu binasa, oleh karena itu Yesus diutus untuk membawa kabar sukacita dan keselamatan bagi manusia. Kabar sukacita yang pertama-tama dinyatakan kepada manusia adalah bahwa Allah mengasihi semua manusia dan menghendaki manusia selamat dan pada akhirnya beroleh hidup kekal. Berita bahwa Allah mengasihi semua manusia terutama mereka yang miskin dan menderita tentu sungguh kabar yang menyejukkan hati bagi para kaum miskin dan menderita pada masa itu dan juga pada masa sekarang. Sebab pada masa itu dengan jelas diajarkan bahwa orang menderita dan orang miskin dianggap kutukan Tuhan dan mereka tidak diberkati oleh Tuhan. 

BERIMAN BUKAN MENGHILANGKAN PERSOALAN DAN PENDERITAAN MANUSIA. 

Kita percaya bahwa Yesus datang mewartakan kabar sukacita dan pertobatan. Namun apa yang terjadi? Tidak semua orang menerima Dia dan bahkan menolak serta membunuh Yesus. Mengapa Yesus tidak memaksa orang-orang yang menolak-Nya supaya percaya kepada Dia? Mengapa Yesus tidak melenyapkan orang yang tidak menerima Dia? Mengapa justru Yesus seakan kalah dan mati di salib? Apakah Yesus memang kalah? Yesus tidak melakukan demikian karena Yesus menghargai manusia sebagai manusia yang diciptakan secitra dengan Dia, Yesus mengheargai kehendka bebas manusia. Yesus kommit dengan apa yang sudah diberikan ketika manusia diciptakan, tidak menarik kehendak bebas manusia. Inilah tanda nyata kasih Tuhan bagi manusia. Yesus mengharapkan manusia menerima Dia karena kesadaran dan iman, bukan karena dipaksa. 

Penolakan sebagian besar manusia, penderitaan dan kematian Yesus, bukan berarti Yesus gagal. Memang secara manusiawi Yesus seakan gagal, tetapi sebenarnya tidak. Kedatangan Yesus adalah untuk mewartakan dan menyatakan kasih Tuhan kepada manusia dan mau menyelamatkan manusia. Inila misi utama Yesus datang ke dunia ini. Yesus siap menerima resiko dari perutusan-Nya dan Yesus tetap setia, tidak mau menghindar dari tugas itu walau menghadapi resiko kematian. Sehingga penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus akhirnya menyelamatkan manusia. 

Dengan demikian, Yesus tidak gagal tetapi Yesus menang karena setia pada kasih-Nya kepada manusia, manasia akhirnya diperdamaikan dengan Tuhan dan manusia mendapat kesempatan untuk bersatu dengan Tuhan dalam kehidupan kekal. Yesus datang tidak menghapus kejahatan dan penderitaan tetapi justru menantang dan melawan semuanya itu dengan kasih dan pengorbanan yang pada akhirnya berbuah hidup kekal kepada manusia. Yesus sendiri kerap mengatakan kepada manusia bahwa para murid-Nya akan menghadapi penderitaan, perosalan hidup dan nyawa mereka terancam oleh karena nama-Nya. Dengan demikian, kita juga mengatakan bahwa beriman kepada Dia bukan berarti terbebas dari penderitaan, persoalan dan kejahatan. 

NAMA TUHAN AKAN DIMULIAKAN DALAM HIDUP 

Jelas bahwa beriman tidak menghilangkan penderitaan, persoalan dan kejahatan dari hidup ini. Jelas juga bahwa semuanya itu tidak berasal dari Tuhan. Kita ingat kembali apa yang dikatakan oleh Yesus tentang orang buta sejak dilahirkan, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”( Yoh 9:3) Yesus yang akhirnya wafat di salibkan, bukan gagal atau kalah, tetapi pemenang, karena Yesus setia pada kehendak Allah. Secara manusiawi memang seakan gagal, tetapi yang gagal adalah orang yang menolak dan membunuh Dia. 

Demikian juga halnya dalam hidup, secara manusiawi orang yang membuat orang lain menderita, mereka seakan menjadi pemenang dalam hidup ini. Mereka bukan pemenang dan bukan karena Tuhan berpihak kepada mereka. Mereka itu justru orang yang kalah, karena mereka dikalahkan oleh kejahatan sehingga kelak mereka akan masuk dalam kebinasaan hidup. Memang saat ini mereka tertawa, tetapi akhirnya mereka pasti akan menangis dan menderita dalam penderitaan kekal. Kalaupun mereka mengatakan bahwa kemenangan mereka karena kebaikan Tuhan dan Tuhan berpihak kepada mereka, itu samasekali tidak benar, karena Tuhan tidak pernah berpihak dan membenarkan kejahatan. Mereka akan mendapat hukuman akibat perbuatan mereka. Kita tidak mengharapkan demikian, tidak usah kita berharap demikian, karena tanpa kita minta, mereka pasti akan mengalaminya. 

Kita yang menderita karena ulah orang lain, bencana alam yang terjadi bukan karena kita kalah dan berosa. Semuanya itu terjadi bukan karena Tuhan, tetapi lewat semuanya itu nama Tuhan akan dimuliakan. Bukan penderitaan dan bencana alam itu yang akan memuliakan Tuhan, tetapi orang beriman yang tetap setia akan memuliakan nama Tuhan. Coba kita lihat, bahwa dalam setiap bencana alam, pasti banyak orang bersimpati dan memberikan bantuan kasih kepada mereka. Lewat peristiwa itu, nama Tuhan dimuliakan lewat perbuatan kasih banyak orang. Nama Tuhan juga dimuliakan lewat orang-orang yang mengalami penderitaan tetapi tetap setia kepada Tuhan. Bukan rahasia bahwa sering kita temukan bahwa banyak orang yang mengalami penderitaan dan bencana alam, tetapi mereka tetap setia beriman. Nama Tuhan dimuliakan lewat keteguhan iman mereka. Sebab mereka sanggup tetap teguh beriman, bukan dari dirinya sendiri tetapi Tuhan sendirilah yang menguatkan hati mereka yang tetap memberi semangat hidup kepada mereka. Dalam diri mereka ini Tuhan bekerja atau menyatakan diri. Tentu kita heran melihat orang yang menderita, dianiaya dan kena bencana alam tetapi mereka tetap ceria dan tetap teguh dalam iman. 

Dalam hidup mereka itu, nama Tuhan semakin dimuliakan, karena mereka mengajarkan iman yang hidup kepada kita. Selain itu, kita harus yakin bahwa dalam setiap penderitaan, persoalan dan bencana alam, Tuhan tetap hadir, Tuhan tidak jauh, Tuhan tidak menghukum dan tidak meninggalkan kita, Tuhan tetap beserta kita dan akan menyatakan mukijzat-Nya. Oleh sebab itu, ktia hendaknya tetap teguh dalam hidup, walau kita menderita, dianiaya dan menghadapi bencana alam. Biarlah lewat keteguhan iman kita, nama Tuhan semakin kita muliakan.

RENUNGAN HARI BIASA: JUMAT 22 NOVEMBER 2013

RENUNGAN HARI BIASA: JUMAT 22 NOVEMBER 2013 
 (Peringatan Wajib St. Sesilia ) 
1Mak. 4:36-37,52-59; MT 1Taw. 29:10,11abc,11d-a2a,12bcd; Luk. 19:45-48 

BACAAN INJIL: 
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. 


RENUNGAN : 
Saya masih ingat satu pengalaman yang sangat menarik, yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Pada saat itu saya bersama teman sedang berbincang-bincang di depan satu Gereja Katolik, bukan di pekarangan Gereja, tetapi di jalan raya tepat di depan Gereja. Ketika sedang asyik berbincang-bincang, saya melihat seorang ibu yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti di depan Gereja dan ibu itu membuat tanda salib dan sesudah itu kembali melanjutkan perjalanannya. 

Peristiwa kecil ini sungguh mengagetkan sekaligus mengagumkan, karena ibu yang sederhana itu begitu percaya akan kekudusan gedung Gereja sebagai rumah Tuhan, bait Allah, bangunan yang kudus, sehingga hanya melintas di depannya, ibu itu menunjukkan penghormatannya dengan berhenti dan membuat tanda salib. Gedung Gereja memang adalah bangunan fisik, namun gedung itu adalah rumah Tuhan, rumah doa, bangunan yang dikuduskan untuk merayakan iman, tempat diyakini Allah berdiam dan di situ umat dipersatukan sebagai satu saudara dalam Tuhan dan menjadi tempat umat bertermu dengan Tuhan. Intinya bagi kita yang beriman, gedung gereja adalah Bait Allah, tempat kudus. 

Namun apakah masih banyak umat yang menghayatinya hingga sekarang dan penghayatan itu ditunjukkan dengan sikap iman? Kiranya yang kita dengarkan dalam injil hari ini, masih juga sering terjadi dalam kehidupan beriman. Sebagaimana kita dengarkan dalam injil hari ini, Yesus marah dan mengusir semua pedanga yang ada di pelataran Bait Allah. Yesus dengan tegas mengatakan Bait Allah adalah rumah-Nya rumah doa, bukan menjadi sarang penyamun. Yesus mengatakan bahwa Bait Allah itu adalah rumah-Nya sendiri. 

Dengan ungkapan itu, jelas Yesus mengatakan siapa diri-Nya sendiri, yakni Dia adalah Allah. Orang Farisi yang mendengar perkataan ini pasti kaget karena Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan, pemilik Bait Allah. Ini juga menjadi salah satu alasan orang Farisi untuk menentang Yesus, karena mereka tidak menerima bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus marah karena Bait Allah yang pada hakekatnya adalah kudus, tempat berdoa, tapi justru dijadikan tempat berdagang dan menjadi sarang penyamun. Yesus mengatakan demikian, karena dipelataran Bait Allah itu banyak para pedagang yang menjajakan ternak untuk persembahan dan para penukar uang untuk menukar uang yang akan dipersembahkan. Kehadiran pedagang dan penukar itu membaut suasana Bait Allah menjadi riuh, mengganggu keheningan. Apalagi mereka membuat harga yang sangat tinggi untuk kepentingan pribadi, mencari untung yang besar, karena bagaimanapun orang yang hendak mempersembahkan persembahan pasti akan membeli walaupun dengan harga yang sangat tinggi. 

Hal ini tentu sangat memberatkan orang-orang miskin yang mau mempersembahkan persembahan baik itu korban persembahan dan uang persembahan, karena harus membeli atau menukar dengan harga yang sangat tinggi. Para pedagang itu berbuat demikian tentu karena ada ijin dari orang yang berkuasa pada saat itu atas Bati Allah dan mereka itupun pasti mendapat bagian dari keuntungan para pedagang. Oleh sebab itu, Bait Allah yang seharusnya tempat untuk berdoa, malahan dijadikan menjadi tempat bermisnis, tempat berdagang, tempat untuk mencari keuntungan dengan mengorbankan orang lain terutama orang-orang yang kecil, menghalangi orang-orang miskin untuk memberi persembahan. Kemarahan Yesus dalam injil hari ini, mungkin juga masih terjadi dalam kehidupan kita saat ini. 

Kita perlu bertanya, “Sejauh mana keyakinan kita bahwa Gedung Gereja adalah Bait Alalh, tempat untuk berdoa? Penghayatan kita juga harus ditampakkan dengan perilaku kita dalam gereja maupun dalam gereja. Mungkin kita tidak pernah menemukan umat atau pengurus gereja yang berdagang di pekarangan Gereja untuk mencari keuntungan besar bagi dirinya sendiri. Namun bukan suatu yang rahasia bahwa terkadang kita mendengar bahwa kegiatan gereja bisa menjadi ladang bisnis bagi orang atau kelompok tertentu. Mungkin bisa saja terjadi, ada orang atau pengurus Gereja yang berusaha membuat proyek gereja dengan tujuan untuk mencari untung. 

Hal demikian bisa saja terjadi. Namun mungkin hal demikian sangat jarang kita temukan. Kita juga sering atau pernah mendengar keluhan beberapa umat sehubungan dengan pakaian yang pantas ke Gereja. Keluhan itu disampaikan banyak orang, karena tidak sedikit umat yang datang beribadah dengan pakaian yang bisa mengganggu orang lain dalam beribadah. Memang semuanya itu tergantung dari hati dan keteguhan umat yang merasa risih. Namun apakah para saudara yang berpakaian demikian itu sadar bahwa dirinya berada di tempat yang suci atau tidak? Apakah dia sadar dirinya hadir untuk merayakan ibadah suci atau berpikir mau ke tempat santai saja? 

Seringkali orang yang demikian memberi alasan bahwa Yesus pun tidak risih dengan penampilan umat yang datang dan Yesus pasti menerima penampilan apa adanya umat yang hadir. Kiranya ini bisa dikatakan suatu pembenaran diri. Namun sebenarnya kita sendiri harus merenungkan bahwa apakah memang pantas kita ke gereja berpakaian seperti ke tempat santai? Ada lagi perilaku yang lain, yakni ke gereja menggunakan pakaian seadanya bahkan terlihat sangat sederhana, padahal kalau ke tempat lain atau resepsi lain menggunakan pakaian yang sangat bagus dan anggun. Kalau memang kita sadar bahwa gereja adalah Bait Allah, rumah doa, tempat yang suci, tentu perilaku dan penampilan kita juga menunjukkan penghayatan kita. Oleh sebab itu, ingatlah kata-kata Yesus, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."

Kesaksian seorang penderita penyakit langka dipeluk Paus Fransiskus

Kesaksian seorang penderita penyakit langka dipeluk Paus Fransiskus

Seorang pria yang menderita penyakit langka merasa bahagia dan dikasihi setelah dirangkul Paus Fransiskus. “Paus tidak takut dengan saya, ia memeluk saya. Ia membelai saya, saya merasa sentuhan kasihnya,” kata Vinicio, 53. Ini adalah kesaksian Vinicio, pria yang menerima berkat khusus dari Paus Fransiskus, dan foto-fotonya telah beredar di seluruh dunia. 

 Dalam sebuah wawancara dengan koran Italia, Panorama, Vinicio berbicara dengan penuh emosional tentang rangkulan kasih Paus Fransiskus yang berlangsung di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. “Saya pertama kali mencium tangannya, sedangkan ia membelai kepala dan menyentuh lukaku. Kemudian dia merangkul saya, saya mendekap dia erat-erat dan ia mencium wajahku,” kisah pria itu. Ia menambahkan, “Paus menarik kepalaku ke dadanya dan tangannya merangkul saya. 

Dia memelukku erat-erat, seolah tidak membiarkan saya pergi. Saya mencoba untuk berbicara, mengatakan sesuatu, tapi saya tidak bias berkat-kata: Saya sangat emosional. Itu berlangsung sekitar lebih dari satu menit, tapi rasanya seperti seabad.” Berasal dari Isola, sebuah desa kecil di Provinsi Vicenza, Italia, Vinicio tinggal bersama adiknya dan bibi mereka, Caterina Morena, yang mengasuh mereka. 

Seperti saudarinya yang menderita penyakit yang sama (dalam tipe yang lebih ringan), ia telah menderita nuerofibromitosis tipe 1 sejak ia berusia 15 tahun. Nuerofibromitosis adalah penyakit langka yang menyebabkan rasa sakit di seluruh tubuh. Saat ini, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. “Tanda-tanda pertama dari penyakit itu muncul setelah saya berusia 15 tahun. Saya diberitahu bahwa saya akan mati dalam 30 tahun. 

Tapi, saya masih hidup hingga sekarang,” katanya. “Tangan Paus begitu lembut. Lembut dan indah. Senyumnya ceria dan terbuka. Tapi, apa yang paling mengesankan saya adalah bahwa ia langsung mencium saya. Penyakitku tidak menular, tapi ia tidak tahu itu. Ia membelai wajahku, dan ketika dia melakukan, saya merasakan sentuhan kasihnya,” tambahnya.
Sumber:  How it felt to be embraced by the pope
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)