Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011

Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011
Yes 42:1-4,6-7, Mzm 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10, Kis 10:34-38, Mat 3:13-17

“ Anak-anak Allah”

BACAAN INJIL:
Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

Pengantar

Syalom, para saudara yang dikasihi Tuhan! Hari ini kita semua bersama Gereja diajak untuk mengenangkan kembali makna pembaptisan kita semua. Pesta Pembaptisan Tuhan yang hari ini kita rayakan adalah peritiwa iman yang pernah kita alami ketika kita memutuskan menjadi pengikut Kristus. Iman kita akan Kristus ditandai dengan pembaptisan yang sama seperti yang dialami Kristus pada hari ini. Dengan pembaptisan kita semua dimasukkan menjadi keluarga Kerajaan Allah. Kita semua disatukan sebagai saudara Kristus sendiri sebagai anak-anak Allah. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Seruan Allah Bapa inilah yang sampai saat ini patut kita syukuri. Pembaptisan kita semua adalah pembaptisan yang mempersatukan. Pembaptisan kita adalah tanda kasih Allah yang lebih dahulu mencintai kita. Dengan Roh Kudusnya kita diurapi dan dikuduskan.
Renungan
Dalam suatu kesempatan kemping, saya pergi dengan beberapa kawan berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas sampai akhirnya memutuskan untuk meyusuri jalan setapak yang menuju air terjun atau coban. Air terjun itu memang tidak terlalu besar seperti air terjun kebanyakan, tetapi karena ketinggianya membuat air terjun ini tampak lebih indah. Hal pertama saya kagumi adalah bahwa kolam dasar air terjun itu memiliki dasar yang lumayan dalam. Dalam hati saya berpikir luar biasa ya air ini mampu membuat lubang pada cadas batu yang begitu keras. Meski air terjun ini kecil tetapi air yang ia alirkan mampu mengubah apa yang ada di dasarnya. Wow..wow…dasyat, luar biasa karya Tuhan in!

Para saudara kita semua tentunya sudah tidak asing lagi dengan air bukan? Air adalah hal yang mendasar dalam keseharian hidup kita. Air menjadi bagian utama dalam hidup kita. Air yang kita minum setiap hari, mandi, mencuci dan mencukupi kebutuhan setiap hari tanpa kita sadari adalah adalah hal yang amat biasa. Karena kita merasa bahwa air itu adalah hal yang amat biasa kadang kita kehilangan makna penting dari air itu. Air disatu sisi adalah penopang hidup kita, tetapi air juga mampu menjadikan malapetaka dalam hidup kita, banjir dan bencana longsor merupakan bagian dari ketidakbijaksanaan kita dalam memanfaatkan air. Betapa air dalam hidup kita sampai saat ini begitu berharga dan penting artinya.

Para saudara yang dikasihi Tuhan. Hari ini kita diajak untuk memaknai air yang sama yang kita jumpai setiap hari. Pembaptisan Yesus yang dilakukan di sungai Yordan merupakan persitiwa penting dalam kehidupan Yesus sebagai manusia. Saat itulah Allah menyatakan diri kepada Yesus sebagai putra tunggal yang dikasihiNya. Air yang digunakan dalam pembaptisan bukanlah air yang tidak memiliki arti apapun. Dalam pembaptisan air itu mengubah hidup kita. Air menandakan bahwa Roh Kudus mengurapai kita menjadi manusia baru. Dengan baptis, manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali serupa sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh materai yang tak terhapuskan (bdk. Kan. 849). Unsur yang nampak di sini adalah bahwa kita juga disatukan dengan Kristus sebagai Anak Allah. Kristus telah tinggal dalam diri kita.

Pembaptisan bukan peristiwa biasa. Pembaptisan adalah peristiwa agung dimana kita semua menjadi anak-anak Allah. Sebagaimana air terjun itu melubangi dasar cadas dan megubah dasarnnya menjadi kolam yang dalam. Hidup kitapun oleh air dalam pembaptisan diubah menjadi baru, disucikan dan dikuduskan. Sebagaimana Yesus setelah dibaptis oleh Yohanes dinyatakan sebagai anak Allah dan menyatakan ketaatanya kepada Allah Bapa, demikianpun kita diminta melakukan yang sama. Pembaptisan kita menjadi tanda bahwa kita harus melaksanakan kehendak Allah Bapa, taat dan setia pada setiap perutusannya.
8 Januari 2011

Bacaan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)

Bacaan Pesta Pembaptisan Tuhan :
Minggu 9 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)

Yes 42:1-4,6-7, Mzm 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10, Kis 10:34-38, Mat 3:13-17

"On do Anakku, Haholongan i; halomoan ni rohangku do Ibana!"

BACAAN INJIL:

Uju i ma ro Jesus sian Galilea tu batang aek Jordan, laho padidihon Ibana tu si Johannes. Alai manjua do si Johannes, didok ma: Ahu do nian patut didionmu, hape Ho ro mandapothon ahu! Alai didok Jesus ma mandok ibana: Songon i ma jolo! Ai tama do tapajongjong nasa hatigoran! Dung i dioloi ma Ibana. Asa dung tardidi Jesus, pintor hehe ma Ibana sian aek i, jala mungkap ma langit, jadi tarida ma mijur Tondi ni Debata songon darapati sumonggopi Ibana. Laos mangkuling ma soara sian ginjang, didok ma: On do Anakku, Haholongan i; halomoan ni rohangku do Ibana.
Songoni ma Barita Nauli na dipatolhas tu hita sadari on.

Bacaan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011 (Bahasa Karo)

Bacaan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011 (Bahasa Karo)
Yes 42:1-4,6-7, Mzm 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10, Kis 10:34-38, Mat 3:13-17

"Enda me Anakku si Kukelengi. Ia me si ngena ateKu.

BACAAN INJIL:
Paksa e reh Jesus i Galilea nari ku Lau Jordan. Idahina Johanes Peridiken, jenari ipindona gelah Johanes mperidiken Ia. Tapi Johanes Peridiken la nggit mperidikenca nina, "Aku nge aturenna iperidikenNdu; enda Kam ka ngadap man bangku!" Ngaloi Jesus nina, "Labo dalih. Sabap alu bage sidalanken kai si ngena ate Dibata!" E maka Johanes pe setuju meridiken Jesus. Kenca Jesus iperidikenna, ndarat Ia i bas lau nari. Rempet talang langit janah idahna Kesah Dibata nusur bagi nderapati ku baboNa. Jenari terbegi sora i Surga nari ngatakenca nina, "Enda me Anakku si Kukelengi. Ia me si ngena ateKu.
Bagenda me kata Tuhan.

Bacaan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011

Bacaan Pesta Pembaptisan Tuhan : Minggu 9 Januari 2011
Yes 42:1-4,6-7, Mzm 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10, Kis 10:34-38, Mat 3:13-17

"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

BACAAN INJIL:

Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

Renungan hari Sabtu sesudah Penampakan Tuhan: 8 Januari 2011

Renungan hari Sabtu sesudah Penampakan Tuhan: 8 Januari 2011
1Yoh 5:14-21, Mzm 149:1-2,3-4,5,6a,9b, Yoh 3:22-30
(Petrus Tomas)

"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."

BACAAN INJIL
Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." Jawab Yohanes: "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Sekarang ini banyak bermunculan para pengkotbah ulung dan bahkan juga bisa menyembuhkan. Tidak jarang terdengar adanya kebaktian oleh pengkotbah tertentu, yang terkenal dan juga diadakan doa-doa penyembuhan. Pada umumnya yang diundang adalah pengkotbah yang sudah terkenal supaya menarik banyak orang untuk hadir. Kalau sekiranya yang diundang adalah pengkotbah yang biasa-biasa, pasti tidak banyak yang hadir. Pengkotbah yang terkenal itu memang sangat menarik dalam menyampaikan dan mengupas sabda Tuhan, bisa membuat orang terkagum-kagum. Namun yang sudah terjadi, seorang pengkotbah besar sudah banyak yang sudah punya pengawal pribadi, bukan hanya satu orang tetapi banyak. Saya tidak tahu mengapa sampai ada begitu banyak pengawal, apakah dia lebih percaya pada pengawal atau pada Tuhan yang diwartakannya? Ada pula pengkotbah yang sudah membuat daftar patokan harga sekali tampil dengan alasan biaya perjalanan, biaya hidup dan tim yang dia bawa karena ke mana-mana harus membawa tim. Dia lebih yakin bahwa pelayanannya lebih bagus dan sukses bila bersama timnya daripada penyelenggaraan ilahi. Patokan harga yang dibuat, kerapkali juga dengan alasan bukan bayaran tapi persembahan kepada Tuhan. Bila ini terjadi, pengkotbah sudah jatuh pada kesombongan yang menganggap dirinya hebat, dia bukan lagi mewartakan Yesus atau sabda Tuhan, tetapi menjual kehebatannya, kemahirannya mengupas dan membahasakan sabda Tuhan, bahkan menjual firman Tuhan untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya.

Bibit kesombongan ada dalam diri semua orang dan pada suatu saat pasti akan menjatuhkan orang pada dosa kesombongan kalau dia tidak waspada. Yohanes pembaptis seorang nabi PB yang sangat mengagumkan banyak orang. Namun Yohanes tidak jatuh pada dosa kesombongan, dia tetap sadar bahwa dirinya bukan mesias, bukan pula lebih besar dibandingkan dengan Yesus. Dia sadar bahwa dia hanya mendapat anugerah kepercayaan dari Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias. Dia tidak mengakui diri sebagai Mesias atau mengambil alih posisi Mesias. Dia sendiri juga tidak mau memuji dia besar atau menganggap dia Mesias dan tidak mau orang mengkultuskan dirinya. Malah dia dengan rendah hari berkata bahwa sukacitanya adalah semakin banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Yesus Mesias, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes Pembaptis sungguh nabi besar tetapi juga sangat rendah hati. Yesus sendiri memuji kerendahan hati Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis mengajarkan arti kerendahan hati yang sejati kaum beriman dan juga agar selalu waspada sehingga tidak jatuh pada dosa kesombongan. Lewat teladan Yohanes, kita diajak senantiasa menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahkan rahmat dan berkat-Nya kepada kita. Rahmat itu berbeda-beda satu sama lain, mungkin ada yang diberi karunia berkotbah, kelihaian mengulas dan membahasakan sabda Tuhan, ada karunia kekayaan harta yang melebihi orang lain, dan masih banyak lagi karunia lain. Semua karunia itu berasal dari Allah dan dipercayakan kepada kita, bukan untuk disombongkan. Allah mempercayakan kepada kita untuk kita gunakan demi kemuliaan atau memuliakan Tuhan, semuanya hendaknya menjadi alat bagi kita untuk bersaksi akan Tuhan dalam hidup kita. Semakin besar karunia yang kita terima, semakin besar pula kiranya kesaksian kita akan Allah yang mahakuasa dan mahakasih kepada dunia ini. Karuni yang kita terima, janganlah digunakan jadi alat untuk mencari kesenangan, keuntungan dan kemuliaan pribadi yang menyerobot posisi atau kemuliaan Allah, tetapi digunakan sebagai alat untuk semakin memuliakan Tuhan. Seorang pengkotbah yang sejati, janganlah kiranya mencari keuntungan dan kemuliaan dirinya dari karunia yang dia terima. Seorang pengkotbah kerap begitu senang dan bangga kalau banyak orang yang hadir mendengar kotbahnya. Tetapi apakah pernah berpikir bahwa semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus dan juga pada kuasa sabda Tuhan itu?

Kita semua harus bersaksi akan Yesus Sang Mesias. Namun, mari kita meneladan Yohanes Pembaptis yang sungguh rendah hati, yang mengingatkan kita agar selalu waspada agar tidak sampai jatuh pada dosa kesombongan, Oleh karena itu, mari kita selalu ingat dan tanamkan dalam hari kita, apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Amin dan semoga.

PESAN PERDAMAIAN BAPA SUCI PAUS BENEDIKTUS XVIPADA PERAYAAN HARI PERDAMAIAN DUNIA 1 JANUARI 2011

PESAN PERDAMAIAN BAPA SUCI
PAUS BENEDIKTUS XVIPADA PERAYAAN HARI PERDAMAIAN DUNIA
1 JANUARI 2011

KEBEBASAN BERAGAMA, JALAN MENUJU PERDAMAIAN

1. Mengawali tahun yang baru ini, saya menawarkan harapan baru bagi anda dan seluruh umat manusia untuk ketentraman dan kemakmuran, dan terutama sekali bagi perdamaian dunia. Sungguh menyedihkan, bahwa tahun ini musti diakhiri lagi dengan adanya penindasan, diskriminasi, tindak kekerasan dan semakin menipisnya toleransi antar agama.

Perhatian saya khususnya tertuju pada negeri tercinta Irak, yang terus menerus menjadi ajang kekerasan dan perselisihan demi mencari cara untuk membangun stabilitas serta rekonsiliasi di masa mendatang. Saya pun prihatin akan penderitaan umat Kristiani baru-baru ini, khususnya serangan keji terhadap Siriah-Katolik di Gereja Katedral Bunda Penolong Abadi di Baghdad pada tanggal 31 Oktober. Dalam serangan ini dua orang imam dan lebih dari lima puluh umat beriman tewas pada saat mereka berkumpul dalam perayaan Misa Kudus. Beberapa hari kemudian serangan lain terjadi. Kali ini di rumah-rumah pribadi. Hal ini berdampak pada penyebaran rasa takut di antara umat Kristiani dan sebagian besar dari mereka berusaha untuk mengungsi demi mencari kehidupan yang lebih baik. Saya meyakinkan mereka melalui pendekatan pribadi dan melalui seluruh Gereja, pendekatan yang dinyatakan secara konkrit dalam Majelis Khusus Sinode para Uskup untuk TimurTengah baru-baru ini. Sinode ini mendorong komunitas Katolik di Irak dan seluruh Timur Tengah untuk hidup dalam persatuan dan untuk terus berani menjadi saksi iman di tanah itu.

Saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada para Pemerintah yang telah berusaha meringankan penderitaan ini, saudara-saudara kita sesama manusia. Saya mengajak seluruh umat Katolik untuk berdoa dan mendukung saudara-saudara seiman yang menjadi korban kekerasan dan perselisihan. Dalam konteks inilah, saya merasa sangat tepat untuk berbagi beberapa refleksi tentang kebebasan beragama sebagai jalan menuju perdamaian. Sungguh kenyataan yang menyakitkan bila memikirkan bahwa ternyata di beberapa bagian dunia ada kenyataan tidak memungkinkannya seseorang dapat memeluk agama secara bebas dengan alasan risiko kehidupan dan kebebasan pribadi. Sedangkan di bagian dunia yang lain kita melihat bentuk yang lebih halus dan sempurna atas prasangka dan permusuhan terhadap penganut kepercayaan dan simbol-simbol agama. Saat ini, umat Kristiani adalah kelompok agama yang paling menderita karena penganiayaan iman. Banyak umat Kristiani yang mengalami pelecehan dan hidup dalam ketakutan karena mereka mencari kebenaran, karena iman mereka akan Yesus Kristus dan karena pembelaan mereka terhadap penghargaan dan kebebasan beragama. Kenyataan ini sungguh tidak dapat diterima, karena itu menyatakan penghinaan kepada Allah dan perendahan akan martabat manusia; terlebih lagi, hal ini merupakan ancaman bagi keamanan dan perdamaian, serta menjadi hambatan bagi tercapainya pembangunan manusia secara otentik dan integral. [1]

Kebebasan beragama menggambarkan betapa uniknya pribadi manusia, yang memungkinkan kita untuk mengarahkan kehidupan pribadi dan sosial kita kepada Allah; yang menyatakan identitas, makna dan tujuan hidup seseorang yang sepenuhnya dapat dipahami. Menolak atau secara sewenang-wenang membatasi kebebasan ini akan menumbuhkan visi reduktif pribadi manusia. Menutupi peran masyarakat beragama akan menciptakan masyarakat yang tidak adil, karena kegagalan menempatkan sifat manusia yang hakiki. Hal ini akan melumpuhkan pertumbuhan perdamaian yang otentik dan abadi dalam seluruh kehidupan manusia.

Dengan alasan ini, saya mohon kebaikan semua orang untuk memperbaharui komitmen mereka untuk membangun sebuah dunia yang membebaskan semua orang untuk memeluk agama atau kepercayaan mereka, dan untuk menyatakan cinta mereka kepada Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap pemikiran mereka (lih. Mat 22:37). Inilah pendapat yang mengilhami dan mengarahkan Pesan bagi Perdamaian Dunia yang ke-44, dengan tema, “Kebebasan Beragama, Jalan menuju Perdamaian”.

Sebuah Hak Asasi yang Suci untuk Hidup dan Menuju Kehidupan Spiritual

2. Hak atas kebebasan beragama berakar pada martabat hakiki manusia, [2] yang secara alamiah sangat tidak boleh terabaikan maupun diabaikan. Tuhan menciptakan pria dan wanita menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (bdk. Kej 1:27). Untuk alasan inilah setiap manusia diberkahi dengan hak asasi yang suci untuk hidup sepenuhnya, juga dalam hal spritualitas. Tanpa pengakuan terhadap spiritualitasnya dan tanpa keterbukaan terhadap hal yang transenden manusia mengalami kemunduran dalam dirinya, gagal menemukan jawaban atas pertanyaan terdalam tentang makna hidup, gagal untuk menyesuaikan nilai-nilai etis dan prinsip-prinsip abadi, dan bahkan gagal untuk mengalami kebebasan yang otentik dan membangun masyarakat yang adil. [3]

Kitab Suci, yang mengharmoni dalam pengalaman kita sendiri, mengungkapkan nilai terdalam martabat manusia: "Ketika aku melihat langit buatan tangan-Mu, bulan dan bintang-bintang yang telah Engkau cipatakan, apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya dan apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya"(Mzm 8:3-6).

Merenungkan kenyataan luhur tentang manusia, kita akan mengalami kekaguman yang sama seperti Pemazmur. Secara alami kita terbuka terhadap Misteri, kemampuan untuk bertanya lebih jauh tentang diri kita sendiri dan asal usul alam semesta serta gema Cinta Allah yang tertinggi, awal dan akhir dari segala sesuatu bagi setiap orang dan manusia. [4] Martabat transendental seseorang merupakan nilai penting bagi kebijaksanaan Yahudi-Kristen, namun berkat penggunaan akal, dapat diakui oleh semua orang. Martabat ini dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mencari kebenaran sebagai pengakuan universal. Menghormati unsur penting martabat manusia, seperti hak untuk hidup dan hak atas kebebasan beragama, merupakan prasyarat untuk legitimasi moral bagi setiap norma sosial dan hukum.

Kebebasan Beragama dan Saling Menghormati

3. Kebebasan beragama berasal dari kebebasan moral. Keterbukaan terhadap kebenaran dan kebaikan yang sempurna yaituTuhan, berakar secara alamiah dalam diri manusia. Ini merupakan kepenuhan martabat bagi setiap individu dan merupakan jaminan bagi rasa saling menghormati antar manusia. Kebebasan beragama harus dipahami, maka, bukan hanya sekedar kekebalan terhadap pemaksaan, tetapi bahkan lebih mendasar sebagai kemampuan untuk mengatur pilihan sesuai dengan hati nurani.

Kebebasan dan penghormatan tidak dapat dipisahkan; memang, "dalam melaksanakan hak mereka, individu dan kelompok sosial terikat oleh hukum moral untuk memperhatikan hak orang lain, kewajiban mereka terhadap orang lain dan kepentingan bersama". [5]

Kebebasan yang bertentangan dengan Tuhan merupakan bentuk pengingkaran diri dan tidak menjamin penghormatan kepada orang lain. Kehendak untuk meradikalkan keyakinan tidak akan mampu mencari kebenaran dan kebaikan serta tidak memiliki tujuan. Hal itu bukan pula sebagai alasan untuk menyelamatkan kepentingan sendiri dan kelompoknya. Radikalisasi tidak memiliki "identitas" untuk melindungi serta mengembangkan sebuah keputusan yang sungguh bebas dan sadar. Sebagai akibatnya, ia tidak dapat menuntut rasa hormat dari "kehendak" lain, yang terlepas dari keinginan mereka yang terdalam dan dengan demikian mampu memaksakan "alasan" lain atau, dalam hal ini, tanpa "alasan" sama sekali. Ilusi bahwa relativisme moral merupakan kunci untuk hidup berdampingan secara damai sebenarnya merupakan asal pemecah-belah dan penolakan terhadap martabat manusia. Oleh karena itu kita dapat melihat kebutuhan akan pengakuan dua dimensi dalam kesatuan pribadi manusia: dimensi agama dan dimensi sosial. Dalam hal ini, "memungkinkan bahwa orang percaya harus menekan sebagian dari diri mereka sendiri - iman mereka - untuk menjadi warga yang aktif. Tidak perlu menyangkal Tuhan untuk memperoleh hak-hak seseorang ". [6]

Keluarga sebagai Tempat Pembelajaran bagi Kebebasan dan Perdamaian.

4. Jika kebebasan beragama adalah jalan menuju perdamaian, pendidikan agama merupakan cara utama untuk mengarahkan generasi yang akan datang untuk memandang orang lain sebagai saudara mereka, dengan siapa mereka berjalan dan bekerja sama. Dengan demikian semua orang akan merasa bahwa mereka hidup sebagai anggota keluarga manusia, tanpa terkecuali.

Keluarga dibangun melalui sebuah perkawinan. Keluarga merupakan perwujudan ikatan penyatuan dan saling melengkapi antara pria dan wanita. Di dalam keluargalah terjadi proses pembelajaran awal masalah sosial, budaya, pembentukan moral dan spiritual, serta pertumbuhan anak yang harus dapat dilihat pada ayah dan ibu mereka sebagai saksi hidup pertama dalam mengajarkan kebenaran dan kasih Allah. Orang tua harus bertanggung jawab dan tanpa paksaan mewariskan kepada anak-anak mereka, iman, nilai-nilai serta budaya. Keluarga, sebagai unsur awal dari masyarakat dunia, tetap menjadi tempat pembelajaran utama bagi keharmonisan hubungan di setiap tingkat kehidupan bersama secara manusiawi, nasional dan internasional. Kearifan menunjukkan bahwa inilah jalan untuk membangun persaudaraan sosial yang kuat, dimana kaum muda dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab yang tepat dalam kehidupan, dalam masyarakat luas, dan memiliki semangat untuk saling memahami dan berdamai.

Sebuah Warisan Bersama

5. Dapat dikatakan bahwa diantara hak dan kebebasan dasar manusia, kebebasan beragama ditempatkan pada posisi istimewa. Ketika kebebasan beragama diakui, martabat manusia dihormati secara mendasar, dan etos serta lembaga kemasyarakatan menjadi kuat. Di sisi lain, ketika kebebasan beragama diabaikan dan ada upaya untuk menghalangi orang untuk mengakui agama atau kepercayaannya -serta hidup secara beradab- martabat manusia dihina, sehingga mengakibatkan ancaman bagi keadilan dan perdamaian, yang didasarkan pada tatanan sosial yang benar berdasarkan Kebenaran dan Kebaikan yang Agung.

Dalam hal ini, kebebasan beragama juga merupakan keberhasilan peradaban politik dan hukum. Inilah kebajikan yang penting: setiap orang harus dapat secara bebas menggunakan haknya untuk menganut dan menyatakan, baik secara individu maupun di dalam masyarakat, iman atau kepercayaannya, di muka umum dan secara pribadi, dalam pengajaran, dalam kehidupan, dalam publikasi, dalam ibadah dan dalam peringatan ritual. Seharusnya tidak ada hambatan bagi seseorang untuk akhirnya memiliki agama lain atau tidak mengakuinya sama sekali. Dalam konteks ini, hukum internasional menjadi model dan acuan bagi semua negara, sejauh hal itu tidak membolehkan penghinaan terhadap kebebasan beragama, selama persyaratan ketertiban umum dipertimbangkan. [7] Hukum internasional mengakui bahwa hak beragama memiliki status yang setara dengan hak untuk hidup dan kebebasan pribadi, sebagai pembuktian bahwa hal itu sangat memiliki arti penting bagi hak asasi manusia, dimana hukum universal dan hukum alam yang mengatur manusia tidak dapat mengabaikannya.

Kebebasan beragama bukanlah warisan eksklusif bagi para pengikutnya, melainkan bagi seluruh masyarakat di bumi. Ini merupakan unsur penting bagi sebuah negara hukum; Hal yang tidak dapat dipungkiri tanpa -pada saat bersamaan- melanggar seluruh hak fundamental dan kebebasan, karena merupakan perpaduan dan asas mendasar. Ini adalah "tes lakmus atas penghormatan kepada semua hak asasi manusia lainnya". [8] Sementara ini mewarnai pengajaran utama bagi manusia, memberikan tempat bagi pengembangan integral yang menyangkut manusia dalam setiap dimensi. [9]

Dimensi Publik Agama

6. Kebebasan beragama, seperti kebebasan lainnya, diproses dari lingkungan pribadi dan dicapai dalam hubungan dengan orang lain. Kebebasan tanpa saling hubungan bukanlah kebebasan penuh. Kebebasan beragama tidak terbatas pada dimensi individu saja, tetapi dicapai dalam sebuah komunitas dan dalam masyarakat, sejalan denganhubunganantar manusia dan sifat publik dari sebuah agama.

Hubungan persaudaraan adalah komponen yang menentukan dalam kebebasan beragama, yang mendorong komunitas orang yang percaya untuk melatih solidaritas demi kebaikan bersama. Dalam dimensi anggota komunitas, setiap orang tetap unik dan tidak dapat disamakan, sementara pada saat bersamaan saling melengkapi dan terrealisasi secara penuh.

Kontribusi komunitas beragama di dalam masyarakat tidak dapat disangkal lagi. Lembaga amal dan budaya banyak memainkan peranan dalam kehidupan bermasyarakat. Terlebih penting lagi adalah kontribusi etika beragama diajang politik. Agama tidak boleh tersisih atau dilarang, tetapi terlihat memilik kontribusi yang efektif untuk memperjuangkan kepentingan umum. Dalam konteks ini disebutkan bahwa adanya dimensi budaya beragama, dibangun selama berabad-abad berkat kontribusi etika sosial dan terutama sekali agama. Dimensi ini sama sekali tidak diskriminatif terhadap mereka yang tidak memiliki keyakinan yang sama, tetapi malah memperkuat ikatan penyatuan, sosial dan rasa solidaritas.

Kebebasan Beragama, Memperkuat Kebebasan dan Peradaban:
Bahaya Muncul dari Pengeksploitasiannya.

7. Eksploitasi terhadap kebebasan beragama untuk menyamarkan kepentingan tersembunyi, seperti subversi terhadap tatanan yang telah ditetapkan, penimbunan sumber daya atau penguasaan pada kekuatan kelompok tertentu, dapat menyebabkan kerugian besar dalam masyarakat. Fanatisme, fundamentalisme dan praktek-praktek yang bertentangan terhadap martabat manusia tidak pernah dapat dibenarkan, apalagi bila mengatas-namakan agama. Profesi agama tidak dapat dimanfaatkan atau diterapkan secara paksa. Negara-negara dan berbagai komunitas manusia tidak boleh lupa bahwa kebebasan beragama memiliki kondisi untuk mencari kebenaran, dan kebenaran tidak dapat dipaksa dengan kekerasan tetapi "oleh kekuatan kebenaran itu sendiri". [10] Dalam hal ini, agama adalah pendorong positif untuk membangun masyarakat sipil dan politis.

Bagaimana orang dapat menyangkal kontribusi agama-agama besar dunia dalam perngembangan peradaban? Pencarian yang tulus akan Allah telah memberikan penghormatan yang besar terhadap martabat manusia. Komunitas Kristiani, dengan warisan nilai-nilai dan prinsipnya, telah memberikan banyak sumbangsih bagi penyadaran setiap individu dan masyarakat akan identitas dan martabat mereka, pembentukan lembaga-lembaga demokrasi dan pengakuan terhadap hak asasi manusia -hak lainnya.

Hari ini juga, didalam masyarakat yang semakin global, umat Kristiani dipanggil, tidak hanya melalui tanggung jawab untuk terlibat dalam kehidupan sipil, ekonomi dan politik saja, tetapi juga melalui kesaksian mereka dalam amal dan iman, untuk memberikan kontribusi yang berararti bagi segala usaha menuju keadilan, pengembangan masyarakat secara keseluruhan dan urusan-urusan kemanusiaan. Pengecualian agama dari kehidupan bermasyarakat meniadakan dimensi terakhir yang terbuka kepada transendensi. Tanpa pemahaman mendasar ini akan sulit untuk mengarahkan masyarakat menuju prinsip kode etik secara universal dan membuat tatanan hukum di tingkat nasional dan internasional yang sepenuhnya mengakui dan menghormati hak-hak asasi serta kebebasan sebagai sebuah tujuan –sayang sekali masih diabaikan atau dipertentangkan –dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia tahun 1948.

Issu Keadilan dan Peradaban:
Fundamentalisme dan Permusuhan pada Penganut Kepercayaan Berkompromi pada Sekularitas Positif Negara-Negara

8. Ketentuan yang sama -yang mengutuk setiap bentuk fanatisme dan fundamentalisme agama- juga harus menentang setiap bentuk permusuhan terhadap agama yang membatasi peran publik para penganut dalam kehidupan sipil dan politik.

Haruslah jelas bahwa fundamentalisme agama dan sekularisme memiliki kesamaan dalam hal keduanya merupakan bentuk ekstrim dari penolakan terhadap pluralisme yang sah dan prinsip sekularitas. Keduanya absolut sebagai reduktif dan sebagian visi pribadi manusia, memihak pada salah satu bentuk kasus integralisme agama dan, di sisi lain, rasionalisme. Sebuah masyarakat yang memaksakan atau, sebaliknya, menolak agama tidak hanya tidak adil kepada individu dan kepada Tuhan, tetapi juga pada dirinya sendiri. Allah mengundang manusia dengan rencana penuh kasih yang, dengan melibatkan keseluruhan pribadi dalam dimensi alam dan spiritual, meminta jawaban yang bebas dan bertanggung jawab sepenuh hati, sebagai individu dan komunitas. Masyarakat pun, sebagai ungkapan pribadi dan dalam seluruh bentuk konstitusinya, harus hidup dan mengatur dirinya dengan cara yang terbuka terhadap transendensi. Untuk alasan itulah, hukum dan lembaga-lembaga masyarakat tidak dapat dibentuk sedemikian rupa untuk mengabaikan bentuk agama warganya atau untuk membelokkannya dari hal tersebut. Melalui kegiatan demokratis warga sadar akan panggilan tertinggi mereka, badan hukum dan lembaga-lembaga harus cukup mencerminkan sifat alami seseorang dan mendukung dimensi keagamaannya. Karena hal ini bukan ciptaan negara, tidak dapat dimanipulasi oleh negara, melainkan harus diakui dan dihormati olehnya.

Jika sistem hukum di tingkat manapun, nasional maupun internasional, memungkinkan atau mentolerir fanatisme agama atau antiagama, ia gagal dalam misinya untuk melindungi dan mencanangkan keadilan dan semua hak. Hal-hal ini tidak dapat diserahkan pada kebijaksanaan legislator atau kaum mayoritas karena, seperti Cicero pernah mengatakan, keadilan lebih dari sekedar tindakan membuat dan memberlakukan hukum. Ia memerlukan pengakuan terhadap martabat setiap orang [11] yang, jika tidak ada jaminan akan kebebasan beragama untuk hidup dengan esensinya, akan berakhir menjadi pada pembatasan dan penghinaan, berisiko jatuh kedalam kekuasaan berhala, barang relatif yang kemudian menjadi mutlak . Semua ini menghadapkan masyarakat pada risiko bentuk totalisme politik dan ideologi yang menekankan kekuasaan publik sementara merendahkan dan membatasi kebebasan hati nurani, pemikiran dan agama sebagai pesaing potensial.

Dialog antar Lembaga Sipil dan Lembaga Keagamaan

9. Prinsip warisan dan nilai-nilai yang diungkapkan oleh sebuah religi otentik merupakan sumber yang memperkaya masyarakat dan etos-nya. Ia berbicara langsung ke hati nurani serta pikiran -baik laki-laki dan perempuan, mengingatkan pada kebutuhan konversi moral, dan mendorong tindakan kebajikan dan pendekatan penuh kasih pada orang lain sebagai saudara, sebagai anggota keluarga manusia yang lebih besar. [12 ]

Dengan penghormatan kepada sekularitas positif lembaga negara, dimensi publik agama harus selalu diakui. Dialog yang sehat antar lembaga-lembaga sipil dan lembaga agama, merupakan dasar untuk pengembangan integral pribadi manusia dan keharmonisan sosial.

Hidup dalam Kasih dan Kebenaran

10. Dalam dunia global dimana masyarakat semakin multi-etnis dan multi-agama, agama-agama besar dapat berperan sebagai faktor penting bagi persatuan dan perdamaian dalam keluarga manusia. Atas dasar keyakinan agama mereka dan usaha mewujudkan kesejahteraan umum, para penganut dipanggil untuk memberikan bertanggung jawab pada komitmen mereka dalam konteks kebebasan beragama. Di tengah beragam budaya agama, terdapat kebutuhan akan nilai unsur-unsur yang mendorong koeksistensi sipil, dan menolak apa pun yang bertentangan dengan martabat pria dan wanita

Ruang publik yang disediakan oleh masyarakat internasional untuk agama mereka dan usulan tentang apa yang merupakan "hidup yang baik" membantu menciptakan ukuran kesepakatan tentang kebenaran dan kebaikan, dan sebuah kesepakatan moral; kedua hal ini merupakan fundamental dari koeksistensi keadilan dan kedamaian. Para pemimpin agama-agama besar, berkat posisi mereka, pengaruh dan otoritas mereka didalam komunitasnya, menjadi orang pertama yang dipanggil untuk saling menghormati dan berdialog.

Umat Kristiani, dalam perannya, didorong oleh iman mereka kepada Allah, Bapa dari Tuhan Yesus Kristus, untuk hidup sebagai saudara yang bertemu dalam Gereja dan bekerja sama untuk membangun dunia secara individu dan masyarakat "tidak boleh saling menyakiti atau menghancurkan ... agar bumi penuh dengan pengetahuan akan Tuhan seperti air yang menutupi laut" (Yes. 11:9).

Dialog sebagai Pencarian Bersama

11. Bagi Gereja, dialog antar para penganut agama-agama yang berbeda merupakan sarana penting untuk bekerja sama dengan semua komunitas agama demi kebaikan bersama. Gereja sendiri tidak menolak apa yang benar dan suci dalam berbagai agama. "Dia menjunjung tinggi cara hidup dan perilaku, ajaran dan doktrin yang, meskipun berbeda dalam banyak hal dengan pengajarannya sendiri,namun sering mencerminkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang ". [13]

Jalan yang diambil bukan cara relativisme atau sinkretisme agama. Gereja, pada kenyataannya, "menyatakan, dan terikat dalam tugas untuk mewartakan, Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6); dalam Kristus, di dalam Dia Allah mendamaikan segala sesuatu untuk dirinya sendiri, orang menemukan kepenuhan hidup keagamaan ". [14] Namun hal ini tidak termasuk dialog dan pencarian kebenaran dalam berbagai bidang kehidupan, karena, sebagaimana Santo Thomas Aquinas berkata," setiap kebenaran, siapa pun yang mengucapkan itu, berasal dari Roh Kudus ". [15]

Tahun 2011 merupakan peringatan ke-25 Hari Doa Sedunia bagi Perdamaian yang diadakan di Assisi pada tahun 1986 oleh Paus Yohanes Paulus II. Pada kesempatan itu para pemimpin agama-agama besar dunia bersaksi pada fakta bahwa agama adalah faktor pemersatu dan perdamaian, dan bukan faktor pemecah dan konflik. Peringatan atas peristiwa tersebut memberikan harapan dimasa depan di mana semua orang beriman akan melihat dirinya sendiri, dan benar-benar akan menjadi duta keadilan dan perdamaian.

Moral Kebenaran dalam Politik dan Diplomasi

12. Politik dan diplomasi harus melihat warisan moral dan spiritual yang ditawarkan oleh agama-agama besar di dunia dalam hal pengakuan dan penegasan akan kebenaran universal, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang tidak dapat disangkal tanpa menolak martabat manusia. Tapi apa artinya, dalam praktek nyata, mencanangkan kebenaran moral dalam dunia politik dan diplomasi? Ini berarti bertindak secara bertanggung jawab berdasarkan pengetahuan objektif dan integral atas fakta ini; Ini berarti mendekonstruksi ideologi politik yang pada gilirannya menggantikan kebenaran dan martabat manusia dalam rangka untuk mencanangkan nilai-nilai semu dengan dalih perdamaian, pembangunan dan hak asasi manusia; artinya membina komitmen teguh berdasarkan hukum positif pada prinsip hukum alam. [16] Semua ini diperlukan secara konsisten guna penghormatan pada martabat dan nilai pribadi manusia yang diabadikan oleh masyarakat dunia dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa1945, yang menyajikan nilai-nilai universal dan prinsip-prinsip moral sebagai titik acuan bagi norma, lembaga dan sistem yang mengatur koeksistensi pada tingkat nasional dan internasional.

Mengatasi Kebencian dan Prasangka

13. Belajar dari sejarah serta adanya upaya negara-negara, organisasi internasional dan regional, organisasi non-pemerintah dan banyak pria dan wanita yang memiliki kehendak baik -yang setiap hari bekerja untuk melindungi hak-hak dasar dan kebebasan, dunia saat ini tetap dilanda kasus penganiayaan, diskriminasi, tindak kekerasan dan perselisihan antar agama. Kasus tersebut pada umumnya terjadi di Asia dan Afrika dan yang menjadi korban utama adalah anggota kelompok minoritas agama. Mereka dicegah untuk mengakui agama mereka atau dipaksa untuk mengubah agama mereka dengan cara intimidasi dan pelanggaran hak-hak mereka, termasuk kehilangan kebebasan pribadi dan kehidupan itu sendiri.

Ada juga - seperti telah saya katakan - bentuk yang lebih canggih dari permusuhan agama yang, di negara-negara Barat, kadang-kadang dinyatakan dalam penyangkalan sejarah dan penolakan simbol-simbol keagamaan yang mencerminkan identitas dan budaya dari mayoritas warga. Seringkali bentuk permusuhan juga memupuk kebencian dan prasangka, mereka tidak konsisten dengan visi pluralisme dan lembaga sekularitas yang setara dan seimbang, tidak menyampaikan fakta bahwa generasi mendatang berisiko kehilangan kontak atas warisan spiritual tak ternilai dari negara mereka.

Agama dipertahankan dengan membela hak-hak dan kebebasan umat beragama. Para pemimpin agama-agama besar dunia dan para pemimpin negara harus memperbaharui komitmen mereka untuk mencanangkan dan melindungi kebebasan beragama, dan khususnya untuk membela kelompok minoritas agama; Hal ini tidak menjadi ancaman bagi identitas mayoritas melainkan merupakan sebuah kesempatan untuk berdialog dan saling memperkaya budayanya. Membela mereka adalah cara ideal untuk mengkonsolidasikan semangat yang baik, keterbukaan dan timbal balik yang dapat menjamin perlindungan atas hak-hak mendasar dan kebebasan di segala bidang dan wilayah di dunia.

Kebebasan Beragama di Dunia

14. Akhirnya saya ingin menyampaikan sesuatu pada komunitas Kristiani yang menderita penganiayaan, diskriminasi, kekerasan dan intoleransi, terutama di Asia, Afrika, Timur Tengah dan khususnya di Tanah Suci, tempat yang dipilih dan diberkati oleh Allah. Sekalilagi saya ingin berafeksi bersama mereka di dalam kasih dan doa. Saya pun minta kepada mereka yang berwenang untuk segera bertindak guna mengakhiri setiap ketidakadilan terhadap umat Kristiani di negara tersebut. Dalam menghadapi kesulitan ini, semoga pengikut Kristus tidak tawar hati, untuk bersaksi atas Injil, dan akan selalu, sebagai tanda kontradiksi.

Mari kita resapi sabda Tuhan Yesus: "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur ... Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan ... Berbahagialah kamu, jika karena Aku, orang mencaci kamu dan menganiaya kamu dan mengucapkan segala kejahatan terhadap kamu. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga "(Mat 5:4-12). Kemudian marilah kita memperbaharui "janji yang kita berikan untuk memaafkan dan mengampuni ketika kita meminta pengampunan Tuhan dalam doa Bapa Kami. Kita sendiri mengkondisikan dan memperluas rahmat yang kita minta ketika kita mengatakan: "Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami '(Mat 6:12)" [17] Kekerasan tidak dapat diatasi dengan kekerasan. Semoga teriak kesakitan kita selalu disertai dengan iman, dengan harapan dan dengan kesaksian cinta kita pada Allah. Saya juga menyatakan harapan saya bahwa di Barat, dan terutama di Eropa, akan berakhirlah permusuhan dan prasangka terhadap umat Kristiani karena mereka memutuskan untuk mengarahkan hidup mereka dengan cara yang konsisten sesuai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Injil. Semoga Eropa lebih memilih berdamai dengan ke-Kristenannya sendiri, yang secara fundamental memahami perannya di masa lalu, sekarang dan masa depan dalam sejarah; dengan cara ini akan datang keadilan, kerukunan dan perdamaian dengan mengembangkan dialog yang tulus dengan semua orang.

Kebebasan Beragama, Jalan Menuju Perdamaian

15. Dunia membutuhkan Tuhan. Ini kebutuhan yang bersifat universal, saling membagi nilai-nilai etika dan spiritual, dan agama dapat memberikan kontribusi yang berharga untuk memotivasi mereka, dalam membangun suatu tatanan sosial yang adil dan damai di tingkat nasional dan internasional.

Perdamaian adalah karunia Allah dan pada saat yang sama menjadi tugas yang tidak pernah selesai. Sebuah masyarakat yang berdamai dengan Allah lebih dekat dengan perdamaian, yang bukan hanya dengan tidak adanya perang atau hasil dari supremasi militer maupun ekonomi, terlebih lagitanpa kepandaian menipu atau memanipulasi. Sebaliknya, perdamaian adalah hasil dari suatu proses pemurnian dan ketinggian budaya, moral dan spiritual yang melibatkan setiap individu dan masyarakat, sebuah proses di mana martabat manusia dihormati sepenuhnya. Saya mengundang semua orang yang ingin menjadi pembawa damai, khususnya kaum muda, untuk mengindahkan hati mereka dan dengan demikian di dalam Tuhan menemukan acuan yang pasti untuk mencapai kebebasan otentik, kekuatan sepenuhnya untuk memberikan dunia arah yang baru dan semangat, dan memperbaiki kesalahan di masa lalu. Mengutip kata-kata Paus Paulus VI, yang dengan kebajikan dan pandangannya yang jauh ke depan yang mana kita memiliki Hari Perdamaian Dunia: "Hal ini diperlukan sebelum orang lain memberikan damai dengan senjata lain –berbeda dengan yang ditakdirkan untuk membunuh dan memusnahkan umat manusia. Apa yang dibutuhkan di atas semua itu adalah senjata moral, orang-orang yang memberikan kekuatan dan wibawa pada hukum internasional - senjata, yang utama, ketaatan pakta "[18] Kebebasan beragama adalah senjata otentik bagi perdamaian, melalui sejarah dan misi kenabiannya. Perdamaian membuahkan hasil dari kualitas terdalam dan potensi manusia, kualitas yang dapat mengubah dunia dan menjadikannya lebih baik. Ini memberikan harapan bagi keadilan dan perdamaian dimasa depan, bahkan dalam menghadapi kematian ketidakadilan dan kemiskinan moral. Semoga semua pria dan wanita, dan masyarakat disetiap tingkatan dan disegenap bagian bumi, segera bisa mengalami kebebasan beragama, jalan menuju perdamaian!

Dari Vatikan, 8 December 2010
PAUS BENEDIKTUS XVI

Catatan:
[1] Cf. BENEDICT XVI, Encyclical Letter Caritas in Veritate, 29, 55-57.
[2] Cf. SECOND VATICAN ECUMENICAL COUNCIL, Declaration on Religious Freedom Dignitatis Humanae, 2.
[3] Cf. BENEDICT XVI, Encyclical Letter Caritas in Veritate, 78.
[4] Cf. SECOND VATICAN ECUMENICAL COUNCIL, Declaration on the Relation of the Church to Non-Christian Religions Nostra Aetate, 1.
[5] ID., Declaration on Religious Freedom Dignitatis Humanae, 7.
[6] BENEDICT XVI, Address to the General Assembly of the United Nations (18 April 2008): AAS 100 (2008), 337.
[7] Cf. SECOND VATICAN ECUMENICAL COUNCIL, Declaration on Religious Freedom Dignitatis Humanae, 2.
[8] JOHN PAUL II, Address to Participants in the Parliamentary Assembly of the Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) (10 October 2003), 1: AAS 96 (2004), 111.
[9] Cf. BENEDICT XVI, Encyclical Letter Caritas in Veritate, 11.
[10] Cf. SECOND VATICAN ECUMENICAL COUNCIL, Declaration on Religious Freedom Dignitatis Humanae, 1.
[11] Cf. CICERO, De Inventione, II, 160.
[12] Cf. BENEDICT XVI, Address to Representatives of Other Religions in the United Kingdom (17 September 2010): L’Osservatore Romano (18 September 2010), p. 12.
[13] Cf. SECOND VATICAN ECUMENICAL COUNCIL, Declaration on the Relation of the Church to Non-Christian Religions Nostra Aetate, 2.
[14] Ibid.
[15] Super Evangelium Joannis, I, 3.
[16] Cf. BENEDICT XVI, Address to Civil Authorities and the Diplomatic Corps in Cyprus (4 June 2010): L’Osservatore Romano (6 June 2010), p. 8; INTERNATIONAL THEOLOGICAL COMMISSION, The Search for Universal Ethics: A New Look at Natural Law, Vatican City, 2009.
[17] PAUL VI, Message for the 1976 World Day of Peace: AAS 67 (1975), 671.
[18] Ibid., p. 668.

Renungan Hari ke 5 sesudah Penampakan Tuhan, Jumat 7 Januari 2010

Renungan Hari ke 5 sesudah Penampakan Tuhan,
Jumat 7 Januari 2010

1Yoh 5:5-13, Mzm 147:12-13,14-15,19-20, Luk 5:12-16
(Raimundus dr Penyafort, Lindalva)

“Seringkali Yesus mengecewakan kita karena permohonan kita tidak dikabulkan?”

BACAAN INJIL:
Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Mungkin kita pernah kecewa kepada Yesus atau malah mungkin kita sering merasa kecewa karena merasa permohonan kita tidak pernah dikabulkan. Hal ini kadang membuat kita malas datang kepada-Nya untuk memohon, kalaupun menyampaikan permohonan, permohonan itu disampaikan hanya sebagai basa-basi dan tidak disampaikan dengan penuh keyakinan. Permohonan sering kita panjatkan tanpa ada pengharapan untuk dikabulkan.

Dalam injil yang kita dengar hari ini, orang kusta itu tersungkur di hadapan Yesus dan memohon penyembuhan dari Yesus. Namun dalam permohonan itu, dia tidak berkata, “Tuhan, sembuhkanlah aku.” Tetapi dia hanya berkata , “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Sungguh luar biasa, orang kusta itu tidak secara konkrit mengajukan permohonan untuk disembuhkan, tetapi Yesus langsung menyembuhkan orang itu. Bagi kita, orang kusta itu hanya sekali saja meminta, tapi langsung dikabulkan oleh Yesus. Sedangkan kita mungkin merasa sudah sering, berkali-kali memohon tetapi seakan tidak pernah dikabulkan.

Orang kusta itu memohon dengan tersungkur. Tersungkur tentu bukan karena dia tidak bisa berdiri tegak atau berlutut biasa. Sikap tersungkur adalah tanda kerendahan hati yang mendalam. Dalam kata-kata orang kusta itupun, tampak suatu iman dan keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan yang dapat menyembuhkannya dan yakin bahwa Yesus tahu dan mau menyembuhkannya. Orang kusta itu percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya dan pasti mau, tetapi dia tidak mau memaksakan permohonannya itu, dia menyerahkan sepenuhnya kepada kemauan atau kehendak Yesus. Orang kusta itu percaya bahwa Yesus tahu apa yang terbaik bagi dirinya sehingga dia tidak ngotot memaksakan kehendaknya atau permohonannya.

Kita pasti sering memanjatkan permohonan kepada Yesus dan seringpula merasa permohonan kita tidak dikabulkan. Namun kita seringkali kita datang memohon bukan dengan sikap tersungkur di hadapan Yesus. Kita mungkin sering memohon bukan dengan sikap rendah hati karena kita merasa tidak pantas memohonan kepada-Nya karena kedosaan dan ketidaksetiaan kita kepada-Nya, tidak dengan rendah hati karena percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Tanpa kita sadari, kita memohon kepada Yesus dengan ditunggangi kesombongan diri yakni merasa bahwa Yesus pantas dan harus membantu atau mengabulkan doa kita . Kita berpikir bahwa diri kita sudah baik, sehingga Yesus harus membantu kita. Memang hal ini bisa jadi kita tidak sadari, tapi kadang itu terjadi dalam permohonan kita. Mungkin kita seperti orang banyak itu yang berbondong-bondong mengikuti Yesus tetapi tidak sepenuhnya percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa, mahapengasih dan mahapenyayang.

Kita datang kepada-Nya tidak dengan sikap tersungkur. Doa permohonan yang disampaikan dengan ketulusan dan kerendahan hati, juga akan terungkap dalam penyerahan diri pada kehendak Tuhan. Artinya dalam permhonan itu, kita serahkan pada kehendak-Nya karena kita percaya Yesus pasti tahu apa yang terbaik bagi kita dan akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kita seringkali merasa bahwa apa yang kita mohonkan, adalah penting, baik dan berguna bagi kita, padahal belum tentu demikian menurut Yesus. Dari sebab itu, memang kita bisa memohon, berharap tetapi tetap menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita. Karena kita kurang menghayati sikap ini, maka kita seringkali kecewa kepada Yesus, padahal Yesus memberikan jauh lebih besar daripada yang kita mohonkan, hanya kita kurang menyadarinya sebab kita hanya terpusat pada apa yang kita katakana, pada apa yang kita anggap baik dan berguna bagi kita. Dari sebab itu, dalam doa-doa terutama dalam doa permohonan kita, sampaikanlah dalam kerendahan hari yang mendalam, dalam iman yang tulus dan serahkan semuanya pada kehendak-Nya. Yakinlah, Yesus akan memberikan yang terbaik bagi kita, melebihi apa yang kita mohonkan. Semoga. Amin.

RENUNGAN : Kamis 6 Januari 2011

RENUNGAN : Kamis 6 Januari 2011
1Yoh 4:19-5:4, Mzm 72:2,14,15bc,17, Luk 4:14-22a
(Didakus Yosef dr Sadiz)

"Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

BACAAN INJIL:
Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?"
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN

Kehadiran Yesus mengagumkan banyak orang, juga tersiar ke kampung halaman-Nya. Mungkin itulah alasan mengapa Yesus diminta untuk membacakan kitab suci ketika Dia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat. Orang-orang sekampung-Nya yang tentu juga mendengar ketenaran Yesus, ingin mendapat pengajaran dari-Nya. Kepada Yesus diberikan kitab nabi Yesaya yang berbicara tentang kedatangan Mesias yang menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Orang-orang yang mendengar tentu berharap agar Yesus mengajarkan kepada mereka maksud dari ayat yang barusan mereka dengarkannya. Di luar dugaan mereka tentunya, Yesus justru menegaskan bahwa teks yang dibacakan-Nya adalah berbicara tentang diri-Nya. Itu berarti Yesus memperkenalkan diri-Nya bahwa Dialah Mesias sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Mungkin kita bertanya, “Apakah kebetulan kepada Yesus diberikan kitab nabi Yesaya untuk dibacakan?” Bagi kita yang percaya akan Roh Allah yang berdiam dalam diri Yesus, hal itu bukanlah suatu kebetulan. Namun lewat yang menurut orang kebetulan, kita bisa mengambil suatu makna yang besar yakni bahwa setiap Sabda Tuhan dibacakan kepada kita, saat itu pula Yesus hadir berbicara kepada kita. Setiap kita mendengarkan sabda Tuhan, saat itupula Yesus hadir dan Dia sendirilah yang menyampaikan sabda itu kepada kita. Demikian juga halnya ketika kita membaca kitab Suci baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam kelompok, kita harus percaya bahwa saat itupula Yesus hadir.

Dari sebab itu, mari kita merenungkan, apakah setiap sabda kita dengar pada saat perayaan Ekaristi ataupun dalam ibadat, kita percaya bahwa Yesus hadir menyampaikan sabda itu kepada kita? Atau kita tidak peduli akan sabda yang disampaikan kepada kita, sibuk dengan diri sendiri? Mungkin seringkali kita kurang meyakini ini, sehingga ketika sabda dibacakan kita sibut dengan pikiran kita sendiri, bahkan mungkin sibuk sms an pada waktu itu. Juga mungkin adapula umat yang membaca kitab Suci ketika sabda Tuhan disampaikan. Memang yang dibacanya tentu perikop yang dibacakan saat itu, tetapi sikap demikian kuranglah baik karena bisa saja sebagai tanda bahwa dia kurang mengerti apa arti Sabda yang disampaikan. Walaupun hal ini bisa terjadi karena si pembaca kurang memahami perannya sebagai orang yang dipakai oleh Yesus untuk membacakan sabda-Nya dan menghadirkan Yesus lewat sabda-Nya.

Tidak jarang kita dengarkan pembaca / lector saat membacakan sabda dalam perayaan ekaristi, membaca dengan tidak sangat jelas, seakan membaca Koran dan membaca untuk diri sendiri, tidak sadar bahwa dia membacakan sabda Tuhan kepada orang baik. Oleh karena itu, baiklah siapapun yang bertugas untuk membcakan sabda pada perayaan ekaristi maupun dalam ibadat sabda, hendaknya mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, meyadari perannya sebagai alat Tuhan dalam menyampaikan sabda-Nya sehingga, umat yang mendengarkan sabda itu sungguh menyadari dan mengimani bahwa Yesus hadir lewat sabda-Nya yang dibacakan.

Sabda Allah yang disampaikan dengan baik dan benar, menghadirkan Yesus sendiri yang bersabda bagi kita dan bagi banyak orang. Kalau kita mengimani ini, tentu baiklah kita menjadi pendengar yan baik, tidak sibut dengan pikiran sendiri, sibuk dengan HP atau sibuk membaca sendiri teks yang sama. Namun kiranya pendengar yang baik tidak hanya sekedar mendengar dan tekagum-kagum akan sabda yang diengarkan. Pendengar yang baik, tentunya menjadikan sabda yang diengar menjadi bagi dari dirinya dengan menghayati sabda yang didengarkan. Sabda yang kita dengar, hendaknya tidak tinggal dalam hati atau pikiran kita saja, tetapi berbuah dalam perbautan nyata seperti yang diperintahkan oleh Yesus sendiri yakni melakukan perbautankasih sebagaimana diaktakan dalam bacaan pertama mengakatan, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” (1Yoh 5:2). Sabda yang kita dengar sungguh menghadirkan Yesus sendiri bila sabda itu kita laksanakan dalam perbuatan kasih. Amin.

RENUNGAN : Rabu 5 Januari 2011

RENUNGAN : Rabu 5 Januari 2011
1Yoh 4:11-18, Mzm 72:2,10-11,12-13, Mrk 6:45-52
(Karolus Houben, Yohanes Neumann)

"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

BACAAN INJIL:

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Rasa takut tentu hal yang wajar dan normal dalam hidup. Adanya rasa takut secara positif menandakan adanya kesadaran dalam diri akan kekurangan. Namun hal yang menjadi luar biasa adalah bila tidak pernah merasa takut, karena bisa jadi tidak pernah merasa takut dikarenakan tidak peduli dengan hidupnya, tidak peduli dengan resiko atau terlalu percaya diri. Hal lain yang luar biasa adalah kalau seseorang selalu merasa takut yang berlebihan.

Dalam Injil hari ini, para murid mengalami ketakutan yang luar biasa ketika perahu mereka diterjang oleh angin sakal. Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi ketika melihat Yesus berjalan di atas air, malah mengira itu adalah hantu. Sedikit menggelikan sikap para murid. Peristiwa ini terjadi sesudah mereka meyaksikan Yesus memberi makan ribuan orang dengan mempergandakan 5 roti dan 2 ikan dan sisa 12 bakul. Ini tentu peristiwa yang luar biasa, yang seharusnya membawa mereka pada suatu keyakinan bahwa Yesus guru mereka adalah Tuhan yang mampu melakukan hal yang luar biasa, melebihi semua kemampuan manusia. Namun nampaknya mereka hanya terkagumg-kagum, belum sampai ke puncak iman yakni pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan. Kalau sekiranya mereka percaya kepada Yesus adalah Tuhan, tentu mereka tidak sampai panic, tentu seharusnya berseru kepada Yesus, bukan malah mengira Yesus yang berjalan di atas air adalah hantu. Dari sebab itulah dalam Injil yang kita dengar hari ini, hati mereka dikatakan degil karena sulit percaya.

Kita juga tentu juga pernah mengalami peristiwa hidup yang membuat kita ketakutan luar biasa. Bisa saja seseorang baru mendengar Injil yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan tetapi ketika pulang melewati tempat yang gelap sabda yang baru didengar hilang seketika karena takut pada begu atau hantu. Seringkali saat mengalami ketakutan, pikiran kita bisa menjadi tidak jernih, tidak terarah sehingga bisa menimbulkan tindakan yang tidak baik, misalnya merusak hidup kita dan orang lain. Ketakutan yang luar biasa juga bisa membuat kita lupa akan iman kita kepada Yesus Tuhan yang senantiasa melindungi kita sehingga saat demikian kita mempertanyakan keberadaan Tuhan dan kasih-Nya kepada kita. Banyak hal yang bisa terjadi dikala ketakutan menghinggapi diri kita. Bacaan hari ini menyatakan kepada kita bahwa pengalaman hidup yang membuat kita merasa takut pasti akan ‘menemui’ kita. Namun dalam situasi demikian kita boleh takut dalam arti menyadari kelemahan atau kekurangan kita sehingga membutuhkan suatu kekuatan dari luar diri kita dalam menghadapinya. Dalam situasi demikian hendaknya kita tidak usah takut, tetapi justru seharusnya membawa kita pada kesadaran bahwa kita membutuhkan Yesus Tuhan yang mahakuasa.

Saat menghadapi ketakutan dalam hidup, mari kita memohon kepada Yesus agar Dia membantu kita, memberi kekuatan kepada kita untuk menghalau ketakutan dalam diri sehingga kita mampu menghadapi persoalan yang membuat kita takut. Mari kita yakinkan diri kita, bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah jauh dari kita. Dia senantiasa ada untuk kita dan bersama kita dan senantiasa siap sedia menolong kita. Hal yang masih sering terjadi dalam diri orang kristiani, saat ketakutan menghinggapi dirinya, dia tidak percaya pada Yesus Tuhan, tetapi mencari dan meminta kekuatan dari dunia kegelapan. Agar kita mampu menghalau ketakutan dalam diri kita, mari kita hidup seperti yang dikatkan dalam bacaan pertama tadi, “Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.”( 1Yoh 4:15)

"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Kata-kata Yesus ini sungguh menyejukkan bagi telinga kita terutama kala kita mengalami ketakutan hidup. Dalam pengalaman hidup ini, begitu banyak orang yang mengalami ketakutan luar biasa, yang membuat mereka putus asa. Kiranya kata-kata Yesus ini juga patut mereka dengarkan atau diperdengarkan kepada mereka. Kita sebagai murid Yesus, haruslah kirnya memperdengarkannya kepada dunia yang penuh dengan ketakutan yakni dengan malakukan perbuatan kasih.

Kiranya kita juga dapat berkata kepada sesama kita yang mengalami ketakutan dalam hidupnya, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Kehadiran kita hendaknya membawa kegembiraan, harapan dan pertolongan bagi sesama yang membutuhkan peneguhan iman, dan pertolongan dari sesama. Dengan melakukan perbuatan kasih yang nyata dalam perbuatan, hidup yang membawa harapan bagi sesama, itulah tandanya bahwa kita tinggal dalam Allah dan Allah dalam kita. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1Yoh 4:18). Semoga kita tidak takut untuk melakukan perbuatan kasih kepada sesama. Amin.

KEGIATAN PAROKI : PERAYAAN NATAL ASMIKA BERSAMA UMAT

PERAYAAN NATAL ASMIKA BERSAMA UMAT
Kelucuan dan kegembiraan, itulah yang terpancar dalam diri anak-anak asmika yang merayakan natal. Perayaan Natal asmika stasi Induk paroki Tigalingga diadakah pada tanggal 25 Desember 2010 sehabis perayaan Ekaristi. Perayaan Natal Asmika diadakan di Aula paroki dan sekaligus menjadi perayaan Natal umat stasi induk paroki.

Dalam pengumuman pastor paroki selalu menghimbau agar orang tua dan semua umat agar turut hadir dalam perayaan Natal bersama apalagi perayaan natal bersama itu disatukan dengan perayaan Natal anak-anak sekolah minggu. Kehadiran orang tua dan semua umat sangat diharapkan karena selain untuk bergembira bersama merayakan Natal juga sabagai bentuk ungkapan cintakasih dan perhatian terhadap anak-anak yang juga bergembira merayakan natal bersama. Dalam perayaan ini anak-anak menampilkan berbagai atraksi yakni tari-tarian baik itu tarian modern dan tarian tradisional, juga menampil fashion show. Anak-anak dengan kepolosan dan kegembiraannya menampilkan atraksi tersebut, mereka bergembira dan orang tua serta semua yang hadir dalam kegiatan tersebut juga ikut tertawa dan bergembira. Kegembiraan orang tua dan semua yang hadir dalam perayaan itu juga diyatakan dengan semangat orang tua untuk menyumbang dalam setiap atraksi.

Dalam perayaan ini juga diadakan makan bersama. Masing-masing keluarga dimintai biaya pertisipasi untuk pengadaan lauk sedangkan nasi dibawa oleh masing-masing. Perayaan Natal bersama ini kelihatan sederhana tetapi menjadi meriah karena penampilan anak-anak asmika. Kegembiraan Natal memang layak dan harus kita rayakan baik secara pribadi dan terutama secara bersama-sama karena Yesus Kristus lahir bagi kita semua. Amin.

KEGIATAN PAROKI : NATAL MUDIKA PAROKI

KEGIATAN PAROKI : NATAL MUDIKA PAROKI
JADILAH TERANG YANG SEJATI!

Semangat orang muda adalah semangat masa kini dan masa depan Gereja. Semangat inilah yang mendorong orang-orang muda dari Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga untuk berkumpul bersama merayakan natal bersama orang muda se paroki. Natal menjadi ajang yang paling tepat untuk mengumpulkan orang muda karena mereka yang belajar di luar kota pulang kampung. Kurang lebih 100 orang muda berkumpul di Aula paroki Tigalingga untuk bersama-sama merayakan natal. Diawali dengan Ekaristi oleh P. Yoakim Lako O. Carm sebagai pastor moderator MUDIKA. Dalam kotbahnya P. Yoakim memberi ilustrasi mengenai tiga hewan yang seringkali menginspirasi orang muda. Ada Harimau, Keledai dan Domba yang saling berdialog, untuk mencari siapa yang lebih unggul. Pesan dari ilustrasi dialog tiga hewan ini adalah orang muda diminta menjadi Domba, domba yang setia menemani Yesus ketika lahir di palungan. P. Yoakim tidak meminta orang muda menjadi Harimau yang suka menerkam atau keledai yang hanya menurut tetapi menjadi Domba yang berbulu putih.

Setelah ekaristi selesai acara dilanjutkan dengan makan malam dan sambutan dari ketua dewan harian paroki yaitu Bpk. Jansen Ginting. Dalam sambutanya pak Ginting merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena melihat begitu banyak orang muda di paroki Tiggalingga harapanya nanti orang muda ini mampu meneruskan keberlangsungan Gereja Tigalingga. Setelah itu sambutan pastor paroki, P. Anton Manik O.Carm, dengan semangat yang berapi-api P. Anton mengingatkan bahwa acari ini sepenuhnya adalah acara orang muda, acara untuk saling menumbuhkan semangat akan kecintaan orang muda paroki Tigalingga pada parokinya. Harapanya kedepan dengan pertemuan ini mereka tetap setia untuk dating dan tidak meninggalkan paroki ketika mereka sudah menikah nanti. Ingatan akan cinta dan kesetiaan pada paroki inilah yang beliau tekankan pada orang muda saat ini.

Setelah sambutan-sambutan acara dilanjutkan dengan malam kreativitas dari stasi-stasi dan panitia, pengundian door prize, dan acara ditutup dengan api ungun di belakang aula. Api unggun ini sengaja disiapkan untuk menginggatkan mereka akan tugas yang sesungguhnya sebagai orang muda yaitu menjadi terang sejati seperti Kristus yang lahir ke dalam dunia dan hati orang muda. ( Fr. Aris O. Carm)

PERAYAAN NATAL DI PAROKI

PERAYAAN NATAL DI PAROKI

Perayaan Malam Natal di paroki Tigalingga dimulai pukul 20.00. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh pastor paroki, Pastor Antonius Manik O.Carm. Perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan mulai dari sakristi menuju ke dalam Gereja. Pastor paroki memberkati kandang natal yang sederhana patung-patungnya sangat mini karena memang itu yang ada, namun cukup indah karena sentuhan tangan Frater Aris O.Carm yang membuatnya. Sesudah pemberkatan kandang natal, diadakan doa di depan kandang natal. Doa disampaikan petugas yang telah dipersiapkan yakni mewakili anak-anak, mudika, orang tua yakni ayah dan ibu dan juga mewakili biarawan-biarawati. Umat mengikutinya dengan berlutut dengan lilin bernyala dan semua lampu dipadamkan. Doa di depan kandang natal, menurut umat adalah merupakan hal yang baru mereka alami, karena selama ini belum pernah dilakukan. Hal ini bisa terjadi karena mungkin selama ini stasi induk kerap diandaikan statusnya tidak berbeda dengan stasi-stasi lain.
Walau udara dingin, tetapi umat yang hadir cukup lumayan banyak, sampe-sampe beberapa umat mengikuti perayaan Ekaristi di tenda yang disediakan di depan Gereja. Perayaan Ekaristi berjalan dengan meriah, lancer dan khusus.


















KEGIATAN PAROKI: PERSIAPAN PERAYAAN NATAL

KEGIATAN PAROKI: PERSIAPAN PERAYAAN NATAL

Menjelang hari Raya Natal, semua tentu pasti sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk perayaan Natal. Jauh hari sebelum hari raya Natal pasti sudah mulai merencanakan dan merancang kegiatan apa yang akan dilaksanakan pada hari raya Natal nanti. Apa yang direncanakan tentu juga sudah mulai dipersiapkan dengan baik. Sesudah mendekati hari Raya Natal, persiapan dipusatkan pada seputar perayaan Natal dalam liturgi, baik itu upaya menciptakan liturgy Natal yang indah, yang sacral dengan mempersiapkan nyanyian-nyanyian juga hiasan Natal dalam Gereja yang akan membantu penghayatan umat dalam merayakan Natal.

Paroki Tigalingga juga sebuk berbenah dan mempersiapkan diri dalam merayakan hari Raya Natal. Tidak seperti biasanya, pada menjelang Natal, umat bergotong royong untuk membersihan pekarangan gereja dengan memotong rumput, menata taman dan lokasi sekitar Gereja supaya kelihatan bersih dan indah. Umat juga tidak lupa membersihkan bagian dalam Gereja. Gedung Gereja paroki yang bangunannya sangat sederhana dibersihkan dan dihias dengan hiasan natal supaya kesederhanaan bangunan dikalahkan oleh keindahan dan semarak perayaan Natal.

Para petugas liturgy juga sibuk membersiapkan diri demikian juga para mesdinar tidak mau kalah dengan latihan-latihan dalam tugas mereka, juga membantu dalam semua persiapan diri. Perayaan Natal adalah momen sangat penting bagi kita, juga membina kebersamaan dan bahkan bisa dikatakan momen menanamkan kecintaan pada Gereja karena pada saat seperti ini kerap umat begitu terlibat dalam membersihkan Gereja dan pekarangan sekitar gereja, dan dalam mempersiapkan liturgy yang indah dan menawan. Persiapan yang demikian kerap kurang nampak dalam hari-hari biasa. Namun walau memang tidak semua umat yang melihat hal ini, karena kerap jumlah umat yang terlibat tidak sebanding dengan jumlah umat yang ada di paroki. Banyak juga umat yang tidak perduli, sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan terkadang pintar menilai yang dilihat, tetapi tidak mau terlibat.

Dalam persiapan itu, para pastor dan frater yang diparoki juga ikut terlibat ambil bagian. Hal yang menarik di paroki Tigalingga, pastor dan frater tidak hanya sibuk mempersiapkan liturgy, tetapi juga ikut ambil bagian bersama umat untuk menciptakan suasana lingkungan yang mendukung perayaan Natal. Dalam hal ini Frater sibuk terlibat dalam pembuatan hiasan kandang Natal dan bahkan pastor paroki sendiri yang membuatkan kandang natal dari bambu. Selain dari itu, bahkan pastor paroki juga ikut membuat pohon natal dari besi untuk diletakkan di pekarangan Gereja. Pastor paroki dengan dibantu mudika dan beberapa pengurus Gereja mengelas besi untuk dirangkai menjadi pohon natal dengan dihiasi dengan lampu kedap kedip. Kalau ditanya, apakah pastor dan frater tidak mempersiapkan renungan atau liturgy untuk perayaan Natal? Jawaban yang dilontarkan adalah persiapan renungan atau liturgy harus sudah dilakukan jauh hari sebelumnya, bukan pada hari menjelang hari raya itu. Sehingga persiapan menjelang hari Raya itu dilakukan adalah menciptakan atau mengupayakan situasi kondisi dari apa yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Semua usaha itu dilakukan untuk menciptakan suasana natal yang indah dan menawan yang mendukung liturgy perayaan Natal. Inilah kiranya sekilas gambaran kesibukan paroki dalam mempersiapkan perayaan Natal.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)