Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN II TAHUN B, 4 Desember 2011

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN II TAHUN B, 4 Desember 2011
Yes 40:1-5,9-11, Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14, 2Ptr 3:8-14, Mrk 1:1-8

BACAAN INJIL: Mrk 1:1-8

“Luruskanlah lorong-lorong Tuhan.”

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya", demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."

RENUNGAN:

Pertobatan adalah syarat untuk beroleh sukacita pada kedatangan Sang Juruselamat.

Pada umumnya seruan atau kata-kata nasihat ditentukan oleh siapa yang mengatakannya. Kalau kata-kata nasihat itu keluar dari mulut seorang yang mempunyai jabatan tinggi, orang kaya, seringkali kita dengan mudah manggut-manggut mengiyakannya, meskipun tidak melaksanakannya karena kita tahu, kata-kata itu bagus didengar namun tidak tampak pada perilaku orang yang mengatakannya, atau yang mengatakan itu tidak memperlihatkan kekuatan kata-kata yang diucapkannya lewat kehidupan pribadinya. Kalaupun kita melaksanakannya, bukan karena sadar bahwa yang dikatakan itu baik, tetapi mungkin hanya karena takut atau menjilat. Juga bila yang mengatakan kata-kata yang sama adalah orang sederhana dan miskin, kita pada umumnya menutup telinga atas seruan itu dan bahkan mungkin akan mencibir. Namun kiranya bila kata-kata seruan atau nasihat itu kita lihat contoh nyata dalam diri orang yang mengatakan, pasti kita semua meyakini kekuatan kata-kata seruan nasihat itu, dan berusaha untuk melaksanakannya.

Demikianlah kiranya yang kita dengarkan dalam Injil hari ini. Dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun menyerukan pertobatan, menyerukan agar orang mempersiapkan jalan untuk Tuhan. Injil hari ini sungguh indah melukiskan siapa yang menyerukan pertobatan itu, yakni Yohanes Pembaptis yang tinggal di padang gurun. Padang gurun adalah tempat yang sunyi, jauh dari keramaian dan tentunya juga tempat yang sulit untuk bertahan hidup. Yohanes tinggal di padang gurun, jauh dari keramaian, malah meninggalkan keramaian, dia tidak terhanyut oleh keramaian hidup di kota. Jelas dengan demikian digambarkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah pribadi seorang pertapa yang meninggalkan gemerlap hidup dunia, hidup di kota dan dengan demikian juga tentu dia jauh dari kehidupan dosa. Maka itu menggambarkan bahwa Yohanes pembaptis adalah seorang pribadi yang saleh dan suci.

Juga dijelaskan bagaimana dia hanya memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Hal ini semakin menjelaskan siapa dan bagaimana hidup Yohanes pembaptis, dia seorang pertapa suci yang tidak mau dikuasai oleh kenikmatan makanan dan juga kemewahan hidup dunia. Karena bagaimanapun orang pasti senang dan berlomba untuk menikmati hidup dunia ini baik dengan makanan-makanan enak dan pakaian yang mewah dan mahal, tetapi Yohanes Pembaptis meninggalkan semuanya itu.

Semuanya itu dilakukan oleh Yohanes Pembaptis kiranya bukan karena dia seorang yang miskin, tetapi karena dia melihat ada nilai tertinggi baginya yakni hidup yang baik, hidup yang lurus untuk seseoarang yang lebih berharga yakni Dia yang akan datang. Seseorang yang akan datang itulah yang lebih berharga baginya dan itulah yang diserukannya bagi semua orang. Dia sendiri sudah terlebih dahulu mempersiapkan diri untuk kedatangan seorang yang sangat mulia dan dia menyerukan agar orang lain juga mempersiapkan jalan untuk kedatangan Dia yang agung itu. Sehingga seruan pertobatan bukanlah hanya penghias bibir, tetapi suatu kenyataan yang sudah dia hidupi. Demikian juga halnya dia menyatakan bahwa yang akan datang itu sungguh mulia dengan pengakuannya yang mengatakan bahwa untuk membungkuk dan membuka tali kasutnyapun dia tidak layak. Suatu pengakuan yang sangat rendah hati. Dia yang hidupnya suci, saleh, tetapi merasa tidak layak membungkuk dan membuka tali kasut Dia yang akan datang. Jelas ini menunjukkan bahwa yang akan datang itu jauh melebihi dia, sangat mulia, sungguh pribadi yang sangat agung. Diapun mengatakan bahwa dia baptis dengan air, tetapi Dia yang akan datang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Kesaksian hidup yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembatis sungguh menjadi bukti nyata akan keagungan pribadi yang dia wartakan kedatangan-Nya, seruan itu dikuatkan oleh hidupnya sehingga saat itu banyak orang yang datang kepadanya untuk dibaptis. Penulis Injil Markus sengaja menggambarkan hidup dan pribadi Yohanes Pembaptis bukan untuk menonjolkan Yohanes itu sendiri, tetapi mau menyatakan keagungan Dia yang akan datang.

Kepada kita seruan ini kembali dinyatakan dalam mempersiapkan kedatangan Dia yang agung yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis, yakni Yesus Kristus. Keagungan Yesus Kristus yang kedatangan-Nya kita nantikan dinyatakan kepada kita oleh seorang yang suci, saleh yakni Yohanes Pembaptis. Orang-orang pada waktu itu mendengarkan seruan Yohanes dengan datang kepadanya untuk dibaptis. Kitapun hendaknya mendengarkan dengan sungguh seruan Yohanes Pembaptis yang dinyatakan hari ini kepada kita.

Yohanes Pembaptis menyatakan kepada kita bahwa yang kita nantikan kedatangan-Nya adalah seorang yang sangat Agung yakni Yesus Kristus. Yohanes menyerukan bahwa yang harus kita lakukan menyambut Dia adalah dengan dibaptis. Namun kita semua telah mendapat baptisan bukan dari Yohanes Pembaptis tetapi dari Yesus sendiri, kita telah dibaptis dalam Roh Kudus. Sehingga seruan Yohanes pembaptis agar kita merelakan diri dibaptis adalah seruan pertobatan. Baptisan yang dinyatakan Yohanes bagi kita adalah seruan kepada kita adalah seruan pertobatan. Hanya dengan pertobatan lah kita layak menyambut kedatangan Yesus Kristus.

Pertobatan yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembatis adalah dengan mempersiapkan jalan bagi Tuhan, yakni dengan meluruskan jalan hidup yang selama ini sudah berkelok-kelok karena hidup kita yang melakukan perbuatan dosa. Tentu banyak perbuatan yang tidak baik, perbuatan dosa yang sudah kita lakukan, dan itu membuat jalan hidup kita berkelok-kelok dan tidak rata. Ketidak jujuran, kesombongan, kecemburuan, ketidak pedulian kepada sesama, perbuatan jahat kepada sesama, keegoisan, ketidak percayaan pada Tuhan, dan yang lainnya, semuanya itu membuat jalan hidup kita tidak lurus. Dan jalan hidup kita yang berlobang-lobang karena perbuatan yang tidak baik, kita timbun dan ratakan dengan berusaha hidup semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dan hidup baik menurut kehendak Tuhan. Yohanes Pembandi menyerukan pertobatan dan memberi contoh teladan hidup dalam pertobatan yakni hidup tidak dikuasai oleh kehidupan dunia, hidup dalam kesederhanaan dan hidup dalam ketulusan dan kejujuran, tidak menyombongkan diri di hadapan sesama dan terutama di hadapan Tuhan. Dengan bertobat berarti kita mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan Sang Mesias Agung.

Semoga kita mendengarkan seruan Yohanes Pembaptis dan sungguh-sungguh hidup mewujudkan pertobatan dalam hidup. Dengan bertobat, kita mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias. Amin.

BACAAN HARI MINGGU ADVEN II TAHUN B, 4 Desember 2011

BACAAN HARI MINGGU ADVEN II TAHUN B, 4 Desember 2011
Yes 40:1-5,9-11, Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14, 2Ptr 3:8-14, Mrk 1:1-8

BACAAN I: Yes 40:1-5,9-11

Siapkanlah jalan Tuhan!”

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya. Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya." Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!" Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14

Reff.: Tunjukkanlah belaskasih-Mu, ya Tuhan, dan selamatkanlah kami.

1. Aku mau mendengarkan apa yang hendak disabdakan Allah, Tuhan,
Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan orang-orang yang dikasihi-Nya supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?
Sesungguhnya keselamatan daripada-Nya, dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

2. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.
Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.

3. Bahkan Tuhan akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya.
Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

BACAAN II: 2Ptr 3:8-14

“Aku menantikan langit baru dan bumi baru.”

Saudara-saudara terkasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.

BACAAN INJIL: Mrk 1:1-8

“Luruskanlah lorong-lorong Tuhan.”

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya", demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus."

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, Sabtu 3 Desember 2011-11

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I,
Sabtu 3 Desember 2011-11
(Pesta St. Fransiskus Xaverius)
1Kor 9:16-19,22-23, Mzm 117:1,2, Mrk 16:15-20

BACAAN INJIL:
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

RENUNGAN:

Seseorang bila mengutus seseorang untuk menyatakan sesuatu kepada orang lain tentu membekali orang yang diutus agar dia mau didengar dan mau diterima orang. Bekal yang diberikan bisa berupa pelatihan, pemahaman dan juga suatu tanda yang menunjukkan bahwa yang diutus itu benar mewakili orang yang mengutus sehingga yang diutus dan apa yang disampaikan utusan itu bisa diterima. Tanda itu tentu sebagai lambang yang melambangkan orang yang mengutus. Dengan demikian si utusan itu yakin dengan tugas yang diberikan. Yang diutus juga pasti merasa senang menjalankan tugasnya karena sudah dibekali. Orang itu pasti semakin senang menjalankan tugas itu apabila orang yang mengutusnya bukan orang semabrangan tetapi orang yang besar, terkenal dan baik. Siapa yang tidak senang bila orang diutus seorang terkenal untuk menyatakan sesuatu ke tempat lain dan mewakili orang yang mengutus itu?

Namun apakah demikian halnya dengan perutusan yang kita terima dari Yesus? Hari ini Yesus berkata kepada para murid dan kepada kita semua agar kita pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan injil. Dalam tugas itu, Yesus juga mengatakan bahwa orang yang percaya atas pewartaan Injil yang kita sampaikan, akan diselamatkan dan orang yang tidak percaya akan dihukum. Wah sungguh tugas mulia sebenarnya yang disampaikan oleh Yesus kepada kita. Sungguh suatu tugas besar, luar biasa yang disampaikan oleh Yesus kepada kita, karena kita dipercaya oleh Yesus yang adalah Tuhan untuk mewartakan injil-Nya, mewakili-Nya dan bahkan tugas itu juga menyangkut keselamatan orang lain. Selain itu Yesus tidak hanya sekedar mengutus, tetapi membekali kita dengan bekal yang luar biasa, melebihi hal yang manusiawi, bukan sekedar suatu benda yang menjadi simbol kehadiran orang Yesus yang mengutus kita, tetapi Yesus menganugerahkan kuasa-Nya atas diri kita yang akan menyertai perutusan kita sehingga orang lain menerima kita dan apa yang kita sampaikan. Sebab Yesus mengatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sungguh luar biasa sebenarnya tugas yang diberikan kepada kita. Namun kenyataannya, bila seorang pejabat, orang kaya mengutus kita menyampaikan pesannya, kita pasti berlomba-lomba, tetapi atas perutusan Yesus, kita biasanya berat melaksanakannya.

Hari ini, kita semua hendaknya menyadari bahwa Yesus mengutus dan menjadikan kita semua menjadi utusan-Nya, untuk mewartakan injil ke seluruh dunia. Ingat apa yang dikatakan oleh Yesus, yakni kita harus mewartakan injil ke seluruh dunia. Dunia yang dimaksudkan tentu tidak hanya dalam arti kita menjadi misionaris ke dunia lain, tetapi jadi misionaris dalam dunia kita, tempat kita hidup, bekerja atau dunia kita sehari-hari. Di mana kita hidup dan berada, di situlah kita hendaknya mewartakan Injil Tuhan. Kita tidak usah takut dan ragu untuk melaksanakan tugas ini, karena Yesus sudah membekali kuasa-Nya pada kita untuk menyertai perutusan kita, yakni dalam arti Dia akan selalu menyertai kita, Dia akan menolong kita. Namun tugas perutusan itu hendaknya kita laksanakan terutama dengan hidup sesuai dengan sabda Tuhan, ajaran-Nya dan mengikuti apa yang telah diteladankan oleh Yesus kepada kita. Ingatlah tugas ini adalah tugas luhur karena menyangkut keselamatan kekal bagi kita dan bagi sesama. Bila kita setia, kita dan orang yang percaya atas pewartaan kita, kelak juga akan diangkat oleh Yesus untuk masuk dalam kerajaan surga, hidup bersama Yesus dalam kerajaan-Nya. Amin.

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, Jumat 2 Desember 2011-11

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I,
Jumat 2 Desember 2011-11
(Maria Angela Astorch, Edmund Campion, Robertus Southwell)
Yes 29:17-24, Mzm 27:1,4,13-14, Mat 9:27-31

BACAAN INJIL:
Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini." Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

RENUNGAN:

Ada keluhan yang kadang muncul sehubungan dengan membantu orang yang sedang kesusahan atau butuh pertolongan, “Kadang susah membantu orang yang meminta bantuan, karena saat mereka butuh, mereka merengek-rengek minta tolong atau minjam uang dengan janji ini itu, tetapi setelah diberi atau setelah mendapatkan, malah mereka menjauh dari kita supaya yang dipinjam tidak ditagih atau supaya dia tidak mengembalikan yang dia pinjam. Intinya, seringkali orang yang lagi butuh merengek-rengek mohon belaskasihan, tetapi setelah dibantu atau mendapat yang diinginkan malah menjauh atau mengulah, tidak tahu berterimakasih.” Pengalaman yang seperti inilah seringkali menjadi alasan bagi orang untuk hati-hati membantu sesama, atau meminjamkan uang kepada orang yang datang meminjam uang karena butuh sekali. Karena alasan ini pula orang menjadi malas membantu sesama.

Memang demikian sering terjadi dan hal seperti itu juga mungkin seringkali kita perbuat kepada Tuhan sendiri. Ketika kita menghadapi persoalan hidup dan butuh bantuan Tuhan, kita datang merengek-rengek meminta dari Tuhan. Tetapi setelah kita Tuhan mengabulkan permohonan kita atau ketika kita lepas dari persoalan, kita malah menjauh dari Tuhan, malah mungkin mengulah dengan menganggap bahwa hidup kita aman, lancar dan kita bisa terlepas dari persolan hidup, hanya karena keberuntungan kita, kerja kerasa dan kemampuan kita sendiri. Kita tidak sadar bahwa semuanya itu adalah karena berkat Tuhan yang senantiasa menyertai kita, Dia senantiasa bekerja bagi kita.

Berbeda halnya dengan dua orang buta yang meminta kesembuhan dari Yesus, sebagaimana dikatakan dalam injil hari ini. Kedua orang buta itu mengikuti Yesus sambil berseru-seru atau merengek-rengek kepada Yesus agar Yesus menyembuhkan mereka, bahkan mereka melakukan hal itu sampai Yesus masuk ke dalam sebuah rumah. Mungkin kita merasa aneh dengan sikap Yesus yang seakan tidak peduli dengan kedua orang buta itu, karena tidak langsung menyapa dan menyembuhkan mereka, tetapi seakan membiarkan mereka terus memintanya sampai ia masuk ke dalam sebuah rumah. Baru setelah di dalam rumah, ketika kedua orang buta itu menghadap Yesus, Yesus mengatakan apakah mereka memintanya karena percaya kepada Dia yang bisa menyembuhkan atau karena semata-mata hanya ingin sembuh dari kebutaannya. Kedua orang buta itu menjawab bahwa mereka meminta kesembuhan dari Yesus bukan sekedar karena ingin terbebas dari kebutaan mereka tetapi karena percaya bahwa Yesus dapat melakukannya dan bukan hanya itu saja, tetapi karena Yesus penuh kasih. Mereka memintanya karena beriman. Hal itu mereka terbukti bahwa setelah mereka disembuhkan oleh Yesus, mereka menyadari kasih Yesus atas mereka dan karena kasih itu pula mereka mendapat kesembuhan, sehingga mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. Merasa tahu bersyukur dan rasa syukur itu mereka nyatakan dalam perbuatan dan mewartakan kemuliaan Tuhan.

Kita kerap tidak seperti kedua orang buta ini. Saat kita menghadapi persoalan hidup dan butuh pertolongan Tuhan, kita datang kepada Tuhan dan merengek-rengek memohon belaskasih Tuhan bahkan mungkin kita berani berjanji akan suatu hal bila Tuhan mengabulkan permohonan kita. Namun kerapkali kita datang kepada Yesus dan meminta pertolongannya bukan karena kita percaya Dia adalah Tuhan yang mahakasih dan mampu melakukan perbuatan besar untuk membantu kita, tetapi kita hanya sekedar mau terlepas dari persoalan kita. Sehingga manakala permohonan kita seakan tidak didengarkan oleh Yesus, kita langsung putus asa atau kecewa terhadap Tuhan, kita tidak seperti orang buta itu, tetap mengikuti Yesus dan setia meminta kepada-Nya. Dari sebab itu, mari kita renungkan, “Apakah kita mengikuti Yesus dan datang meminta kepada-Nya karena kita percaya kepada-Nya?

Kitapun seringkali tidak tahu diri atau tidak tahu bersyukur atas kuasa dan kasih Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Kita sudah mendapatkan kasih karunia Tuhan setiap saat, tetapi itu tidak kita sadari dan syukuri, kita menganggap semuanya itu hanya karena usaha kita. Karena itu pulalah, kita tidak memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Kalau kita sungguh sadar bahwa hidup dan berkat yang kita terima hanya karena kasih dan kuasa Tuhan, pasti kita juga tahu bersyukur dan memasyurkan Tuhan dalam kehidupan kita. Maka semoga kita tahu bersyukur atas kasih Tuhan pada kita, dan rasa syukur terungkap dalam hidup yang senantiasa memasyurkan Tuhan di manapun kita berada. Amin.

Pemimpin Islam-Katolik Bahas Akal Budi dan Iman

Pemimpin Islam-Katolik Bahas Akal Budi dan Iman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Forum Internasional Katolik-Muslim (Catholic-Muslim Forum) kembali berdialog dengan menggelar seminar yang berlangsung di Rumah Konferensi Baptism Site of Jesus di padang gurun tepi Laut Mati, Yordania, 21 - 23 Nopember 2011. Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought sebagai tuan rumah.

Royal Aal al-Bayt Institute yang dikepalai Pangeran Ghazi Muhammad bin Talal adalah sebuah pusat kajian teologis-ilmiah tentang pemikiran-pemikiran Islam, juga bergelut dalam kajian lintas agama untuk memajukan dialog antarumat beragama, terutama antara umat Kristiani dan Muslim.

Seminar ke-2 kali ini yang mengambil tema Reason, Faith and the Human Person (Akal Budi, Iman dan Pribadi Manusia), dihadiri 24 tokoh Katolik Roma dan 24 tokoh Muslim di seluruh dunia.

Wakil-wakil setiap agama dipilih oleh masing-masing pihak secara bebas atas berbagai pertimbangan. Pihak Muslim menghadirkan pula Prof Din Syamsuddin selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammidiyah satu-satunya wakil dari Indonesia.

Pastor Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya putra Indonesia yang menjabat di Dewan Kepausan di Vatikan ambil bagian dalam kegiatan ini selaku satu dari 24 peserta Katolik, dan mewaikil Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue), sekaligus ko-penyelenggara even tersebut.

Menurut Markus, Sekretaris Eksekutif Desk Dialog Kristem-Islam di Asia pada Dewan Kepausan Dialog Antarumat Beragama mengatakan, para peserta seminar mendapat kehormatan diterima Raja Yordania Abdullah II bin al-Hussein di Istana Basman di Kota Amman.

Saat pertemuan dengan pemuka agama-agama itu, Raja mengutarakan beberapa hal penting guna memajukan perdamaian dan keharmonisan global serta mendorong para peserta untuk tetap berkarya demi perdamaian antar penganut kedua agama besar ini di seluruh dunia.

Di akhir seminar para tokoh ke-dua agama merumuskan lima butir kesepakatan sebagai Deklarasi Bersama. Pertama, Allah telah menganugerahkan akal budi kepada manusia, melaluinya (akal budi) manusia mengenal kebenaran. Pengenalan kebenaran menyinari tanggungjawab kita di hadapan Allah dan di hadapan satu sama lain.

Kedua, iman adalah anugerah Allah, melaluinya (iman) manusia sadar (discover) bahwa ia diciptakan oleh Allah dan bertumbuh di dalam pengetahuan akan Dia. Ketiga, hati yang putih-bersih adalah pusat (center) dari seorang yang setia, di mana iman, akal budi dan belarasa (compassion) berpadu di dalam penyembahan kepada Allah dan kasih akan sesama manusia.

Kesepakatan keempat, derajat manusia yang dianugerahkan Allah harus dihormati oleh semua orang dan harus pula dilindungi di dalam/melalui hukum. Dan kelima, di dalam dialog, kaum beriman harus mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas segala rahmatNya di atas di dalam suasana saling menghormati dan dalam belarasa, dan di dalam sebuah bentuk hidup yang harmonis dengan ciptaan Tuhan.

Tokoh-tokoh Katolik-Roma dan Muslim seluruh dunia tetap ingin melanjutkan dialog ini sebagai sebuah jalan untuk memajukan saling pemahaman dan kebaikan bersama seluruh umat manusia, terutama mewujudnyatakan hasratnya terhadap perdamaian, keadilan dan solidaritas.

Forum Internasional Katolik-Muslim (Catholic-Muslim Forum) dibentuk tahun 2008 sebagai tanggapan bersama antara Katolik dan Muslim terhadap surat pernyataan sikap ke-137 tokoh Muslim seluruh dunia terhadap Kuliah Sri Paus Benediktus di Regensburg, Jerman.

Seminar pertama dilakukan dari 2-4 Nopember 2008 di Vatikan dengan tema "Kasih akan Allah dan Kasih akan Sesama", sebuah refleksi teologis mencari aplikasi nyata dalam relasi keseharian antara Kristiani dan Muslim. (*)

Editor: Domu D. Ambarita

Disadur dari: www.tribunnews.com

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, Kamis 1 Desember 2011-11

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I,
Kamis 1 Desember 2011-11
(Beato Dionisius dan Redemptus)
Yes 26:1-6, Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27a, Mat 7:21,24-27

BACAAN INJIL:
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

RENUNGAN:
Hendaknya kita menjadi pewarta sabda bukan hanya dengan kata-kata, tetapi terutama dengan perbuatan yang melaksanakan sabda Tuhan.

Mudah kiranya mengatakan kata-kata yang baik demikian juga mudah bagi kita mengatakan diri kita beriman atau mengatakan sabda Tuhan kepada sesama. Tetapi pasti melaksanakan sabda Tuhan tidak semudah dengan mengatakannya. Sebab dengna melaksanakan sabda Tuhan, kita harus berani menyangkal diri dan berani berbuat baik kepada sesama. Kenyataannya, banyak orang mengira bahwa beriman itu hanya sebatas liturgi, hanya sebatas kata-kata atau nyanyian puji-pujian yang menggelegar bergema saja, merasa itu semua sudah cukup sebagai jalan untuk beroleh keselamatan kekal. Makanya tidak heran kita temukan bahwa begitu antusiasnya orang menghadiri kebaktian yang nyanyiannya meriah (KRK) dan ktobah yang menggelegar, meggetarkan telinga (bukan hati), tetapi apa yang dibawa pulang, hanya rasa puas, kegembiraan lahiriah saja, dan mungkin kekaguman atas acara yang meriah dan ktobah yang menarik saja, tidak mengubah hidup dan menguatkan iman. Mungkin bisa saja orang merasa imannya semakin kuat, tetapi itu kiranya hanya karena kepuasan lahiriah saja. Sehingga tidak jarang orang yang akitf dalam kegiatan Gereja, rajin menghadiri KRK, tetapi ketika ada persoalan, imannya langsung goyah dan runtuh. Itulah yang dikatakan oleh Yesus dalam perumpamaan hari ini, yakni mendengar perkataan-Nya tetapi tidak melaksanakannya, itu seperti orang mendirikan rumahnya di atas batu, dan ketika hujan datang, rumah itu langsung rusak dan rubuh. Orang demikian dikatakan orang yang bodoh.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita agar kita waspada, yakni dalam beriman jangan terlalu puas hanya dengan kata-kata, hanya dengan nyanyian yang meriah dan tidak hanya dengan mewartakan sabda Tuhan saja. Semuanya itu tidak cukup. Tetapi hendaknya sabda Tuhan yang kita dengarkan harus kita laksanakan dalam hidup sehari-hari. Dengan menjadi pelaksana sabda Tuhan, kita bukan hanya kelak diperkenankan masuk surga, tetapi kita akan beroleh kekuatan dalam hidup sehingga kita tidak gampang digoyahkan oleh persoalan yang pasti menghampiri kita.

Beato Dionisius dan Redemptus, dua biarwan Karmel sungguh menajdi teladan bagi kita atas sabda Yesus hari ini. Mereka berdua mati sebagai martir di tanah Aceh demi mewartakan sabda Tuhan. Baiklah kiranya kita tidak hanya menghapal sabda Tuhan dan mewartakannya dengan kata-kata atau bibir kita, tetapi mewartakannya dengan menjadi pelaksana sabda Tuhan. Amin.

Siaran Langsung Misa Kudus di Manila Melalui Internet

Siaran Langsung Misa Kudus di Manila Melalui Internet

(Manila 17/11/2011) Misa Kudus di Gereja Quiapo kini boleh diikuti secara langsung melalui internet. Gereja Quiapo merupakan tempat ‘kelahiran' pencinta doa "Black Nazarene" dan ia juga merupakan pusat ziarah penting di Filipina.

Msgr Clemente Ignacio, paderi paroki Basilika Minor bagi pencinta doa "Black Nazarene" mengatakan projek itu sedang menjalani "siaran ujian" dan setakat ini ia berjalan dengan lancar.

"Secara khusus, kami sebenarnya ingun menjangkau para warga Filipina yang sedang bekerja di luar negara dan para pengikut "Black Nazarene." Msgr Ignacio memberi peringatan bahawa siaran langsung ini bukanlah pengganti atau alasan untuk tidak ke Misa Kudus. Umat Katolik harus menghadiri Perayaan Ekaristi di Gereja.

"Siaran langsung Misa Kudus ini tercetus kerana permintaan ramai warga Filipina yang bekerja di luar negara. Mereka selalunya tidak dapat menghadiri Misa Kudus. Diharapkan dengan menonton upacara Misa Kudus melalui internet, ia akan dapat menyegarkan dan melepaskan rindu mereka terhadap Ekaristi," kata Msgr Ignacio.

Beberapa Misa Kudus diadakan setiap hari di Gereja Quiapo tetapi hanya ibadat liturgi pada hari Jumaat dan Ahad sahaja yang akan disiarkan secara langsung.

Hari Jumaat merupakan Hari Quiapo. Pada hari tersebut beribu-ribu umat Katolik akan membanjiri Basilika Minor untuk berdoa memperoleh mukjizat-mukjizat daripada "Black Nazarene." Siaran internet ini juga boleh dilayari melalui laman web paroki Quiapo.

Siaran tersebut merupakan salah satu contoh usaha Sidang Uskup Katolik Filipina untuk menggunakan Internet bagi tujuan penginjilan.

Satu lagi projek yang menarik perhatian umat awam ialah "Visiting Iglesia Online (Melawat Gereja secara online)" yang bertujuan untuk membantu rakyat Filipina mematuhi upacara Pra-Paskah Katolik, terutama bagi orang-orang yang bukan dari negara Katolik.

Beberapa uskup dan paderi juga giat menulis blog untuk menyebarkan Firman Tuhan.

(heraldmalaysia.com)

(Foto : ilustrasi)
Disadur dari: www.mirifica.net(KWI)

Lagu Gregorian ‘perlu dihidupkan kembali’

Lagu Gregorian ‘perlu dihidupkan kembali’

Bruder Ignatius Bintang Prakarsa OSB

Seorang pakar musik liturgi mendesak umat Katolik menghidupkan kembali lagu-lagu Gregorian yang dinyanyikan dalam bahasa Latin, karena saat ini tradisi itu sangat jarang didengar di gereja-gereja lokal.

“Padahal gregorian sebagai nyanyian khas liturgi Romawi, maka gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara liturgi,” kata Bruder Ignatius Bintang Prakarsa OSB pada sebuah pertemuan 26 November dengan para pemerhati lagu-lagu itu di Gereja St. Alfonsus di Yogyakarta.

Bruder Prakarsa, yang tinggal di Pertapaan St. Benediktin di Italia, juga menyesalkan tradisi liturgi lain seperti berlutut juga sudah mulai hilang.

Sejumlah paroki bahkan tidak menyediakan bangku untuk berlutut, katanya.

“Kalau hal-hal ini dihilangkan atau diremehkan, maka dengan sendirinya iman terhadap doktrin itu akan semakin menyurut dan memudar karena tidak mendapat dukungan apapun dari praktik hidup sehari-hari,” katanya.

Ia mengatakan Konsili Vatikan II ingin Gereja memiliki kembali vitalitasnya karena hal itu bisa mewartakan Injil, dan tidak memiliki niat untuk mematikan tradisi itu.

“Jadi memang ada missing thing. Ada yang tercecer. Nyanyian gregorian adalah salah satu yang tercecer itu,” tambahnya.

Pastor Matheus Joseph Riawinarta, ketua Bidang Musik Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, Jawa Tengah, mendukung seruan Bruder Prakarsa.

Pastor Riawinarta mengatakan ia “ingin membuka semacam kursus gregorian di Seminari Tinggi Kentungan. Saya berharapkan kursus tersebut diikuti para seminaris muda, juga tidak tertutup kemungkinan bagi kaum awam.”

Namun, Piet Hari Santoso, seorang penyanyi Gregorian, mengatakan situasi di Yogyakarta kurang mendukung untuk berkembangnya gregorian.

“Karena ada gereja yang terang-terang tidak mendukung bahkan menolak adanya Misa gregorian, sehingga kelompok koor gregorian tidak semangat lagi dan akhirnya mati,” kata umat Paroki Hati St. Maria Tak Bercela di Kumetiran.

Sumber: Gregorian chant ‘needs reviving’

Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, Rabu 30 Nopember 2011-11 (Pesta St. Andreas, Rasul) Rabu 30 Nopember 2011-11 (Pesta St. Andreas, Rasul)

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, Rabu 30 Nopember 2011-11
(Pesta St. Andreas, Rasul)
Rm 10:9-18, Mzm 19:2-3,4-5, Mat 4:18-22

BACAAN INJIL:
Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

RENUNGAN:

"Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Hanya kata-kata ini yang diucapkan oleh Yesus kepada Petrus dan suadaranya Andreas juga kepada Yakobus dan Saudaranya Yohanes, kedua anak Zebedeus. Sapaan atau kata-kata Yesus sungguh luar biasa, karena hanya dengna kata-kata itu mereka semua mengikuti Yesus, mereka langsung meninggalkan pekerjaan, jala dan bahkan ayah mereka. Mereka juga belum tahu pasti ke mana mereka mengikuti Yesus dan pekerjaan apa sebenarnya menjadi penjala manusia yang dimaksudkan oleh Yesus. Dalam hal ini kita tidak usah terlalu heran, karena Yesus adalah Tuhan, kuasanya juga mengalir dalam perkataan-Nya.

Yang menjadi permenungan kita adalah bahwa Tuhan justru memanggil mereka yang hanya seorang nelayan saja, bukan dari kalangan berpendidikan dan tentu juga bukan orang kaya. Para nelayan pada umumnya sudah biasa menghadapi tantangan dan mereka biasa mempertaruhkan nyawanya di tengah lautan, para nelayan umumnya keras, kuat fisik dan juga tidak gampang menyerah, atau ulet. Namun kiranya bukan karena itu Yesus memanggil mereka untuk mengikuti Dia. Yesus memanggil mereka adalah karena Yesus mengasihi semua orang dan Yesus sebenarnya memanggil semua orang untuk mengikuti Dia. Namun Dia tahu apakah seseorang itu mau mengikuti-Nya atau tidak, karena itulah ketika Yesus melihat mereka, Yesus memanggil mereka untuk mengikuti Dia dan memang benar bahwa mereka menanggapi ajakan Yesus. Mereka menanggapinya dengan sungguh dengan berani meninggalkan hidup lama mereka sebagai nelayan dan mengikuti Yesus serta kelak menjadi penjala manusia. Ini berarti menanggapi panggila Yesus, berarti menjadi manusia baru yang semata-mata mengikuti Yesus dan menjadi penjala manusia tuk mengikuti Yesus.

Kita semua juga dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti Dia dan mau menjadikan kita sebagai penjala manusia. Panggilan Yesus ini ditujukan kepada kita semua, tanpa memandang status dan kedudukan kita. Ini sungguh hal yang luar biasa, karena Yesus yang adalah Tuhan, bukan hanya mau menyapa kita tetapi malah mau mengajak kita mengikuti-Nya dan bahkan mau mempercayai kita sebagia penjala manusia. Hanya persoalannya, kita menanggapi panggilan Yesus tetapi tidak seperti para rasul menanggapi panggilan Yesus yakni dengan berani meninggalkan pekerjaan, dan menjalani hidup baru dengan Yesus. Kita mengatakan diri sebagai pengikut Yesus, tetapi kita masih senang hidup dalam manusia lama kita, yakni masih senang hanya mencari kesenangan pribadi, tidak berani meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Yesus. Kita tidak percaya bahwa dengan mengikuti Yesus, kita akan beroleh kebahagiaan dan Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya kepada kita. Mari kita belajar dari para murid yang menanggapi panggilan Yesus, mereka menjadi manusia baru. Mengikuti Yesus berarti kita harus menjadi manusia baru, hidup dalam dan bersama Yesus.

Selain itu, kita belajar bahwa menanggapi panggilan Yesus berarti kita juga harus siap diminta untuk menjadi penjala manusia. Sehingga jelas bahwa beriman mengikuti Yesus, bukanlah hanya untuk diri sendiri, tetapi iman itu harus kita wartakan sehingga orang lainpun datang mengikuti Yesus. Iman kita tidak pasif hanya untuk diri sendiri, tetapi aktif mengajak orang lain untuk percaya kepada Yesus.
Maka semoga dalam masa Adven ini, kita berusaha hidup menjadi manusia baru dalam dan bersama Yesus. Iman yang hidup, itulah jala yang ampuh untuk menjala manusia dan membawanya kepada Yesus. Amin.

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, Selasa 29 Nopember 2011

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I,
Selasa 29 Nopember 2011
(Fredericus dr Regensburg)
Yes 11:1-10, Mzm 72:2,7-8,12-13,17, Luk 10:21-24

BACAAN INJIL:
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."

RENUNGAN:
Yesus sungguh berbahagia melihat manusia dapat melihat kemuliaan dan kuasa Allah dan pada akhirnya mau percaya kepada Tuhan. Namun kiranya tidak semua orang mampu melihat kemuliaan, kuasa Tuhan dalam hidup ini sehingga tidak dapat sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Mengapa demikian? Untuk dapat melihat, merasakan kemuliaan, kuasa kasih dan kehadiran Tuhan dalam hidup, dituntut sikap renah hati yang tidak mengandalkan hidup dan kemampuan sendirti serta hal yang duniawi. Kalaupun dalam Injil Yesus mengatakan bahwa seakan Tuhan menyembunyikan semuanya kepada orang bijak dan pandai, bukan karena Tuhan tidak menyatakannya kepada mereka, sebab Tuhan menyatakan semuanya kepada semua orang, mengasihi semua orang. Namun orang bijak dan pandai seringkali tidak bersikap rendah hati, mengandalkan kemampuan dan kekayaannya sehingga mereka tidak mampu melihat, merasakan kemuliaan, kasih dan kuasa Tuhan dalam hidup mereka.

Oleh sebab itu, Yesus mengajarkan agar kita bersikap rendah hati di hadapan sesama dan terutama di hadapan Allah. Sikap rendah hati ini pula yang juga harus kita bina selama masa Adven ini, agar kita mampu menemukan dan melihat kehadiran Tuhan dalam pengalaman hidup dan sesama kita. Sebab orang yang rendah hati, dia juga akan bergembira melihat keberhasilan sesama, atau bergembira melihat sesama yang beroleh berkat, juga bergembira bila sesama akhirnya mampu melihat dan merasakan kasih karunia, kemuliaan dan kuasa Allah hadir dalam hidupnya. Semoga kita berusaha membuat Yesus tersenyum dan bergembira. Amin.

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I, SENIN 28 Nopember 2011-11

RENUNGAN HARIAN PEKAN ADVEN I,
SENIN 28 Nopember 2011-11
(Yakobus dr Marka, Katarina Laboure, Maria Helena Stollenwerk)
Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6, Mzm 122:1-2,3-4a,4b-5,6-7,8-9, Mat 8:5-11

BACAAN INJIL:
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,

RENUNGAN:
Hari pertama masa Adven ini, kepada kita langsung disodori suatu pengajaran yang mengakatan bahwa iman harus berbuah dalam perbuatan nyata pada sikap hidup dan kepedulian atau perbuatan nyata kepada sesama.

Perwira yang diceritakan dalam Injil tentu adalah tuan hamba yang sedang sakit parah. Perwira itu walau seorang tuan, tetapi dia sangat peduli kepada hambanya yang sedang sakit parah. Padahal sebenarnya bisa saja dia memecat hambanya yang sakit itu dan menggantinya dengan orang lain. Namun perwira itu tidak seperti itu, dia peduli kepada hambanya dan dengan rendah hati dia datang memohon kepada Yesus agar Yesus berkenan menyembuhkan hambanya itu. Tentu dia melakukan demikian, bukan karena supaya hambanya itu sembuh dan bisa kembali bekerja untuk dia. Tetapi karena memang dia orang yang peduli kepada sesama, dan sikap peduli ditunjukkan dengan mau repot datang kepada Yesus untuk memohonkan kesembuhan bagi hambanya. Pada akhir perikop ini, nyatalah bagi kita mengapa perwira itu mau melakukan hal itu kepada hambanya, yakni karena dia memang orang yang beriman. Yesus sendiri memuji iman perwira itu dengan mengatakan, “"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga.”

Apakah kita juga termasuk orang yang beriman? Pasti kita semua menjawab ‘ya’. Tetapi belajarlah dari perwira ini, hidup iman bukan hanya untuk diri sendiri, hidup beriman bukan hanya saat perayaan liturgi saja, tetapi harus terungkap dalam sikap rasa peduli kepada sesama, terutama yang sedang menderita. Namun sikap peduli kepada sesama, bukan hanya rasa simpati, bukan pula rasa kasihan dan tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita berdoa bagi mereka agar Tuhan menolong mereka. Tetapi sikap beriman yang peduli kepada sesama harus terungkap dalam sikap mau repot melakukan sesuatu bagi sesama.

Maka dalam masa adven ini, mari kita perdalam iman kita dengan meningkatkan sikap rasa peduli kepada sesama. Iman kita harus aktiv dan kreativ. Amin.

Frans Seda dicalonkan sebagai Pahlawan Nasional

Frans Seda dicalonkan sebagai Pahlawan Nasional

Alm. Frans Seda

Pemerintah Propinsi NTT bersama Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) menggelar seminar nasional untuk pencalonan Alm. Fransiskus Xaverius Seda sebagai pahlawan nasional.

Demikian Humas Undana, David Sir, yang ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (26/11), seperti dilansir Kupang Pos.

Menurut David, seminar ini akan dilaksanakan hari ini (28/11).

“Seminar ini bertujuan untuk mendapatkan bukti-bukti sah sesuai kriteria peraturan perundangan tentang jasa luar biasa Alm, Fransiscus Xaverius Seda dalam pembangunan nasional,” jelasnya.

David menambahkan, “Tersusunnya bukti-bukti sah dimaksud secara sistematis sesuai definisi, prosedur dan kriteria peraturan perundangan tentang pencalonan nasilna dan membangun semangat masyarakat NTT dan dukungan masyarakat secara nasional untuk pencalonan tersebut.”

David mengatakan, sebagai bagian dari bangsa, masyarakat dan pemda NTT harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan sesuai definisi, kriteria dan prosedur pencalonan menurut ketentuan peraturan yang berlaku.

“Usaha pembuktian adalah melalui pengumpulan bukti-bukti sah secara sistematis, salah satunya melalui seminar,” jelasnya

David menambahkan, seminar tersebut akan menghadirkan enam orang nara sumber yakni Dr. Cosmas Batu Bara dengan makalah berjudul Frans Seda dan Konsep Pembangunan Daerah, Ricard Bagun (pemred Kompas), Prof. Dr. Anhar Gonggong dengan judul makalah Perspektif Sejarah Perjalana Bapak Frans Seda.

Pembicara lainnya adalah Rektor Unika Atmajaya dengan makalah berjudul Peranan Almarhum sebagai tokoh pendidikan dan tokoh Gereja, serta Daniel Wodapale, mantan Bupati Sikka, sebagai pembicara mewakili keluarga dengan judul Pandangan Masyarakat Sikka dan masyarakat NTT tentang Alm. Frans Seda.

David menambahkan tim pembahas dan perumus diantaranya Prof.Ir. Fredrik Benu, Dr. David BW Pandie, Prof. Dr. Liliweri Aloysius, dan Rektor STFTK Ledalero.

Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)