Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN Hari Minggu Biasa V : 6 Februari 2011

RENUNGAN Hari Minggu Biasa V : 6 Februari 2011
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16
“Kamu adalah garamg dan terang dunia.”

PENGANTAR:
Identitas orang kristiani adalah garam dan terang dunia dalam kehidupan ini. Dengan hidup sesuai dengan identitas itu pula, menjadikan hidup kekristenan seseorang menjadi bermakna bagi dunia dan berkenan kepada Tuhan serta menjadikan hidup dunia ini menjadi enak dan indah. Mari kita coba memahami identitas yang diberikan Yesus kepada kita dan juga jalan hidup bermakna yang sekaligus menjadi misi hidup kristiani.

RENUNGAN:

Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan identias para pengikutnya. Dia juga mengajarkan bagaimana hidup para pengikut-Nya menjadi bermakna dan sekaligus itu pula yang menjadi misi hidup para pengikut-Nya di dunia ini yakni dengan menggunakan lambang garam dan terang. Yesus menggunakan gambaran yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan sangat dekat dengan hidup manusia.

Kita semuat tentu mengenal dengan baik apa itu garam dan bagimana pentingnya garam bagi hidup kita setiap hari. Tidak dapat diragunakan bahwa setiap hari kita membutuhkan garam dan menikamatinya. Secara singkat dapat kita karakan bahwa garamg itu membuat makanan menjadi enak. Sebagus apapun ramuan dari makanan itu, tetapi kalau tidak diberi garamg, pasti akan terasa hambar dan tidak enak. Garam juga banyak digunakan untuk mengawetkan makanan dan bahkan banyak para pendaki gunung sering juga menaburi sekeliling kemah dengan garam dengan maksud agar ular tidak masuk ke kemah mereka. Bedasarkan pengalaman hidup kita, jelas bahwa garam itu sangat dekat dengan hidup kita, sangat kita butuhkan dan bisa dikatakan garam itu menjadi bagian hidup kita yang membuat makanan yang kita makan menjadi enak. Namun jelas juga kita ketahui bahwa garam itu berguna bagi kita kalau garam itu digunakan atau larut dalam makanan. Kalau garam itu hanya tinggal di kotaknya atau di tempatnya, dia tidak akan berguna apa-apa.

Dalam hidup sehari-hari kita juga membutuhkan terang. Saat malam hampir tiba, semua orang menyalakan lampu istrik atau lampu minyak. Semua orang membutuhkan terang dan tidak ada yang suka tinggal dalam gelap, kecuali pencuri tentunya. Bahkan bila saat malam lampu listrik padam, bisa jadi kita memaki-maki PLN, karena kita tidak menyukai gelap. Tidak ada orang yang menyukai gelap, karena dalam kegelapan kita tidak bisa melihat apa-apa, kita tidak bisa melihat arah jalan atau tujuan yang mau kita jalani, dan bahkan dalam kegelapan pasti banyak resiko yang harus kita hadapi; Misalnya kita takut akan hantu dan ada resiko tersandung.

Dengan mengumpamakan orang Kristen sebagai garam dan terang dunia, Yesus mengatakan bahwa begitu penting dan bergunanya kita dalam hidup dunia ini. Dengan gambaran ini, bagi kita dikatakan bahwa kehadiran kita sangat dibutuhkan dunia, tanpa kehadiran kita dunia tidak akan terasa enak dan hidup dalam kegelapan atau kekacauan. Inilah identitas orang Kristen, inilah misa kita dan ini pulalah yang menjadikan hidup kekristenan bermakna dalam hidup dunia ini.

Kita sebagai umat katolik tentu hidup dalam masyarakat bersama banyak orang, beragam suku, bahasa dan agama atau keyakinan. Kita tidak hanya hidup dalam satu kelompok saja, hanya dengan yang seiman dengan kita. Seperti garam yang larut dalam makanan, demikian juga kiranya orang Kristen harus tinggal bersama orang lain. Sangatlah tidak kristiani hanya tinggal dalam satu kelompok, baik itu hanya bergaul dengan kelompok yang satu suku, satu bahasa, satu marga atau satu agama. Iman Katolik sungguh sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh Yesus karena dalam Gereja Katolik terdiri atas berbagai suku, bahasa, bangsa, budaya dan agama. Iman Katolik mempersatukannya dan menjadikan keragaman itu menjadi enak. Orang Kristenpun hendaknya demikian, yakni hidup bersama orang lain. Namun dalam kebersamaan dengan orang lain, orang Kristen hendaknya tidak kehilangan identitas diri yakni dengan membuat hidup itu menjadi lebih enak.

Dengan sangat indah, nabi Yesaya melukiskan bagaimana hidup sebagai garam dengan mengatakan, “supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yes 58:7), lebih lanjut dia mengatakan, “apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.”(Yes 58:10). Hidup kekristenan menjadi garam, membuat hidup ini menjadi enak yakni dengan hidup yang rela berbagi dengan orang lain, terutama orang yang miskin, orang yang membutuhkan pertolongan. Menjadi orang Kristen yang sungguh bermakna menjadi garam berarti rela berbagi suka cita, berbagi berkat dengan orang lain, mempunyai kepekaan terhadap orang lain terutama yang membutuhkan pertolongan, selalu bersedia untuk membantu, bersikap adil dan selalu berusaha untuk membawa sukacita bagi orang lain. Semua kita bisa menjadi garam yang berguna dalam kehidupan ini yakni dengan berbagi. Kerelaan berabagi memang membutuhkan pengorbanan. Ini seringkali yang membuat menjadi sulit. Namun kita harus ingat bahwa Yesus sudah mengatakan bahwa kita dalah Garam bagi dunia ini, dan agar hidup kita bermakan, mau tidak mau kita sebenarnya harus disemangati hidup yang senantiasa rela berbagi. Kerelaan untuk berbagi hidup ini bagi orang kristiani semakin mendesak bila kita mempunya banyak kesempatan dan kemampuan untuk itu. Orang yang beroleh banyak berkat seharusnya kesempatannya untuk berbagi harus lebih banyak; berkat yang diperoleh dalam bentuk rejeki, penghasilan hendaknya tidak untuk dinikmati sendiri, tetapi dibagikan untuk kebahagiaan banyak orang. Bahkan Yesus mengatakan bahwa orang Kristen sungguh-sungguh menjadi garam bila mau mengorbankan kesenangannya untuk diberikan kepada orang lain.

Hidup menjadi garam dunia, saat itu pula kita menjadi terang dalam dunia ini. Nabi Yesaya sendiri mengatakan bahwa bila kita hidup rela berbagi dengan orang lian, saat itu pula kita menjati terang yang bercahaya.

Sekarang ini banyak orang yang hidup dalam kegelapan: orang hidup dalam kepura-puraan, hidup dalam kebohongan, hidup dalam keputusasaan seakan tanpa harapan, dan hidup yang sangat mendewakan kepentingan pribadi, hidup lebih banyak mementingkan diri sendiri, tidak lagi peduli dengan orang lain terutama orang-orang yang menderita. Bahkan karena hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, orang malahan dengan gampang mengorbankan orang lain. Orang kristiani yang menjadi garam, pada saat itu pula dia menjadi terang bagi dunia, karena dengan demikian kita membuka mata banyak orang bahwa hidup itu bukan untuk diri sendiri, tetapi hidup juga untuk orang lain dengan rela berbagi dengan orang lain. Hidup yang berbagi dengan orang lain, menjadi hidup kita bermakna bagi orang lain, dan hidup kita dan hidup orang lain akan menjadi semakin enak dan indah.

Hidup menjadi terang dunia dalam dunia yang penuh kegelapan karena kepura-puraan, kebohongan, kemunafikan, itu berarti kita berusaha hidup dalam kejujuran, ketulusan, dan keterbukaan, juga hidup dalam kerendahan hati terutama di hadapan Tuhan sebagaimana yang dikatakan oleh rasul Paulus, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” (1Kor 2:3).

Dalam dunia yang penuh kegelapan karena merasa tidak ada lagi jalan untuk hidup bahagia, seakan tidak ada lagi harapan atau hidup dalam keputusasaan, hidup yang tidak lagi melihat peran dan kehadiran Allah dalam dunia ini, kita hendaknya menjadi terang dengan memberi pengharapan akan kasih Tuhan yang senantiasa menyertai manusia yakni dengan hidup baik, dan juga dengan hidup iman yang senantiasa bergantung pada kekuatan Allah (1Kor 2:5). Hidup iman kita hendaknya dapat membawa orang lain pada tujuan hidup yang sebenarnya yakni persatuan dengan Tuhan.

PENUTUP:
Kita adalah garam dan terang dunia. Kehadiran kita umat kristiani sangat penting dan sangat dibutuhkan dalam hidup dunia ini bahkan hidup yang sekarang sangat membutuhkan kehadiran kita agar hidup itu menjadi enak dan indah. Untuk itu, hendaknya kita rela berkorban untuk berbagi hidup dengan sesama dan kehadiran kita terutama iman kita menerangi hidup orang lain sehingga orang lainpun dapat sampai pada tujuan hidup sebenarnya yakni persatuan dengan Tuhan. Amin.

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Toba)

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Toba)
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16

“Naeng songon i ma marsinondang palitomuna di jolo ni halak, asa diida angka pambahenanmuna na denggan i, asa dipuji nasida Amamuna na di banua ginjang i.”

BARITA NAULI:
Hamu do sira ni tano on! Alai molo tung gabe hambar sira i, aha ma bahenon paansimhon? Nda tung na hasea be i; sibolongkononhon nama tu balian, asa didegei halak. Hamu do panondang ni portibi on! Ndang tarbahen so sai patar huta na di atas dolok. Ndang dihungkuphon halak ampang tu palito na ginalahanna; tu ginjang ni parpalitoan do dibahen, asa disondangi saluhut na di jabu i. Naeng songon i ma marsinondang palitomuna di jolo ni halak, asa diida angka pambahenanmuna na denggan i, asa dipuji nasida Amamuna na di banua ginjang i.

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Karo)

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Karo)
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16

“Ersinalsal lah min terangndu i lebe-lebe kalak si nterem gelah adi idahna perbahanenndu si mehuli, ipujina Dibata, Bapandu si i Surga!”

BERITA SIMERIAH:
"Bagi sira si seh kal perluna guna pangan, bage pe kam nandangi kerina manusia. Tapi adi sira e lanai masin, lanai banci ibahan masin mulihi. Sira e lanai erguna, e maka iambekken jenari idedehi kalak. Bagi terang si seh kal perluna i bas gelap, bage pe kam nandangi doni enda. Kuta si lit i das uruk la banci lang teridah. Labo isagani kalak lampu kenca bage itutupina alu tumba; tapi itamakenna ku datas nahe pertendangen, gelah terang iakap kalak kerina si lit i bas rumah e. Dage, ersinalsal lah min terangndu i lebe-lebe kalak si nterem gelah adi idahna perbahanenndu si mehuli, ipujina Dibata, Bapandu si i Surga.
Enda me kap Injil Tuhanta.

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16

" Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

BACAAN INJIL:
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

Beberapa Berita Media Massa Tentang Perayaan Yubelius (50 Tahun) Hirarki Gereja di Keuskupan Agung Medan

Din: Konflik Agama karena Kurangnya Dialog
Jumat, 28 Januari 2011, 21:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,MEDAN--
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan konflik agama yang terjadi selama ini disebabkan kurangnya pertemuan yang dialogis untuk menyelesaikan masalah.

"Harus sering berdialog, tetapi yang dialogis, dua arah," katanya di Medan, Jumat malam. Ia mengatakan hal itu pada acara dialog dalam rangka Yubileum 50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan dengan topik 'Menguatkan persaudaraan sejati dalam membangun bangsa'.

Menurut dia, dalam pemantauan selama ini di tanah air konflik umat beragama sering terjadi antara umat Islam dan Kristen. "Padahal Islam dan Kristen 'satu keturunan', yakni anak cucu Nabi Ibrahim," kata Din.

Namun, kata dia, yang sering terlibat dalam konflik tersebut adalah kelompok aliran keras yang dinilai kurang dapat memahami perbedaan dua agama tersebut. "Sedangkan yang moderat justru salam-salaman dan peluk-pelukan," katanya.

Untuk mengurangi kemungkinan dan potensi konflik itu, kedua agama tersebut harus sering diajak berkomunikasi secara dialogis agar dapat memahami perbedaan yang ada. Selama ini, dialog sudah ada tetapi belum dialogis. "Hanya satu atau dua sumber saja," katanya.

Din Syamsudin mengatakan pernah membuat pertemuan antara tokoh Islam dan Kristen serta menyiapkan daftar isian tentang ganjalan dan ketidaksenangan terhadap kedua agama itu. Ternyata, kata dia, hampir tidak ada masalah yang paling krusial selain dari metode penyebaran agama dan pendirian tempat ibadah.

Oleh karena itu, menurut dia, komunikasi yang dialogis harus terus diintensifkan agar ganjalan dan ketidaksenangan terhadap agama lain dapat diminimalisir, bahkan dituntaskan. "Saya tidak ingin kalau jumpa senyum-senyuman. Namun ternyata, masih ada dusta di antara kita," katanya, yang disambut tepuk tangan peserta dialog.

Red: Krisman Purwoko
Sumber: antara

Beberapa Berita Media Massa Tentang Perayaan Yubelius (50 Tahun) Hirarki Gereja di Keuskupan Agung Medan

Keuskupan Agung Medan
Rayakan Yubileum 50 Tahun

Jumat, 4 Februari 2011
MEDAN (Suara Karya): Ketua Gerakan Pemuda Katolik Sumatera Utara (Sumut) Oloan Simbolon memuji kekompakan umat Katolik di lingkungan Keuskupan Agung Medan. Salah satu bukti kekompakan itu menurut dia membludaknya massa yang hadir dalam pucak perayaan Yubileum 50 tahun Hirarki Gereja Katolik di Keuskupan Agung Medan yang dilaksanakan, Sabtu (29/1) di Wisma Deli Persada, Paroki Deli Tua, Deli Serdang, Sumut.

"Kami sebelumnya memperkirakan umat yang datang menghadiri perayaan dimaksud hanya sekitar 25.000 orang, tapi dugaan kami meleset yang datang hampir 50.000 orang atau dua kali lipat dari yang kami perkirakan. Puji Tuhan, walaupun massa ramai, perayaan berlangsung tertib, hikmat dan meriah. Begitu besar rasa kebersamaan umat Katolik dalam perayaan tersebut," sebut Oloan Simbolon yang juga Ketua Panitia Perayaan Jubileum Keuskupan Agung Medan menjawab Suara Karya, Rabu (2/2).

Dikatakan, dalam rangka memperingati Yubileum 50 tahun hirarki Gereja Katolik di Keuskupan Medan, panitia sebelumnya (Jumat) juga melaksanakan Dialog Interaktif yang menampilkan pembicara Ketua Tokoh Lintas Agama, Din Syamsuddin. Dialog diikuti sejumlah tokoh lintas agama di Sumut membahas persaudaraan sejati dengan tema "Tingkatkan Persaudaraan Sejati dalam Membangun Bangsa".

Menurut Oloan, pelaksanaan perayaan Yubelium 50 tahun hirarki gereja Katolik di Keuskupan Agung Medan salah satunya bertujuan untuk meningkatkan rasa persaudaraan sejati di antara umat Katolik, begitu juga di antara sesama umat beragama. "Persaudaraan sejati harus dibangun dengan ketulusan dan kejujuran dari kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Dengan demikian, tidak ada lagi perang antar agama, antar suku dan lainnya. Semua damai tidak ada perpecahan," ucap anggota DPRD Sumut ini.

Rangkaian acara puncak perayaan ini menurut Oloan Simbolon diawali perayaan misa ekaristi dipimpin Uskup Agung Medan, Mgr Dr Anicetus Bongsu Sinaga. Dalam misa tersebut, Uskup Anicetus menyampaikan sejarah singkat hirarki Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan. Dimulai tahun 645 di mana sudah ada gereja Katolik "Perawan Suci" di Barus, Tapanuli Tengah, kemudian masuk ke Aceh pada tahun 1668. Tahun 1878 berdiri Paroki di Medan. Jumlah umat Katolik di seluruh Sumatera pada waktu itu ada sekitar 4.000 orang umumnya berasal dari Eropa.

Mengutip data Kanwil Depag Sumatera Utara 2009, Uskup Agung Medan mengatakan, jumlah umat Katolik di Sumut sekitar satu juta orang yang tersebar di 50 paroki termasuk Keuskupan Sibolga. Sementara pada 1961 lalu jumlah umat Katolik di Medan, hanya sekitar 88.190 orang. Sedangkan Jumlah imam berdasarkan data statistik per 1 Januari 2010 sebanyak 227 orang. (M Tampubolon)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/

Berita : Menghina nabi seorang anak ditahan

Menghina nabi seorang anak ditahan

(3/2/2011)Lembaga pemerhati masalah hak asasi manusia Human Rights Watch meminta pemerintah Pakistan untuk membebaskan seorang remaja setelah ditangkap dengan menggunakan undang-undang kontroversi terkait dengan penghinaan.

Muhammad Samiullah, 17, ditangkap di Karachi Selatan setelah dituduh melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dalam sebuah ujian tertulis.

Human Right Watch menyebut kasus anak lelaki ini ''benar-benar merusak''.
''Pakistan telah membuat standarisasi intoleransi ketika menggunakan undang-undang penghinaan, tetapi dengan mengirim seorang remaja ke penjara untuk sesuatu yang dia coret dalam kertas ujian sungguh sangat merusak,'' kata Bede Sheppard seorang pengurus Human Rights Watch yang mengurusi masalah hak anak-anak.

Insiden dugaan penghinaan Nabi Muhammad ini pertama kali dilaporkan oleh seorang pengawas ujian, di Nazimadab Utara Karachi.

Polisi mengatakan mereka menahan Muhammad Samiullah menerima laporan resmi dari kepala penjaga ujian pada 28 Januari.

Dia kemudian dibawa ke pengadilan dimana majelis hakim mengirimnya ke penjara anak-anak, sementara polisi melakukan penyelidikan dalam kasus ini.

Undang-undang penghinaan ini sebelumnya juga pernah menjadi sorotan saat seorang Kristen, Asia Bibi, dihukum mati November silam.

Dia sendiri membantah telah menghina Nabi Muhammad pada Juni 2009.
Januari lalu, gubernur Punjab Salman Taseer dibunuh oleh pengawalnya sendiri karena dianggap mendukung perubahan atas undang-undang kontroversial tersebut, hal ini menimbulkan ketakutan diantara para pendukung gerakan anti undang-undang penghinaan.

Sejumlah kritik menyebut UU Penghinaan Pakistan ini digunakan untuk menganiaya kaum minoritas di Pakistan dan kadang digunakan untuk mengeksploitasi aksi balas dendam.

(bbc.co.uk)
(foto: ilustrasi)

Disadur dari : http://www.mirifica.net/

Renungan Harian, Sabtu 5 Februari 2011

Renungan Harian, Sabtu 5 Februari 2011
Ibr 13:15-17,20-21, Mzm 23:1-3a,3b-4,5,6, Mrk 6:30-34
(Agata )

"Hidup kita adalah rahmat, panggilan dan perutusan untuk ikut ambil bagian dalam mewartakan Kerajaan Allah."

BACAAN INJIL:

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita.

RENUNGAN:

Orang mengatakan bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga bekerja merupakan panggilan hidup dari Tuhan yang diperuntukkan juga demi pelayanan kepada sesama. Itu semuanya tentu baik. Namun kiranya menjadi kurang baik bila seluruh waktu dalam hidup kita hanya kita isi dengan bekerja saja, bahkan seakan kekurangan waktu untuk bekerja. Hal ini bisa terjadi karena kita menikmati pekerjaan itu, apalagi bila pekerjaan yang kita geluti itu sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Juga bisa terjadi karena tuntutan kehidupan atau kebutuhan hidup. Namun manakala seluruh hidup kita hanya untuk bekerja atau pekerjaan, pasti kita akan sampai pada titik kejenuhan aktivitas, merasa hidup kita hanya menjalankan rutinitas sehingga ada perasaan kering.

Para murid sehabis menjalankan tugas perutusan dari Yesus, mereka kembali kepada Yesus. Tentu para murid menceritakan banyak hal akan apa yang mereka alami dan mereka lakukan. Sebagaimana yang kita dengarkan dalam Injil hari ini, para murid menjalankan tugas mereka dengan baik, mereka begitu bersemangat dan sukses sehingga dikatakan karena begitu banyak orang yang datang dan yang pergi, membuat mereka tidak sempat makan. Para murid tentu mengharapkan pujian dari Yesus atas semua yang mereka lakukan. Namun diluar dugaan mereka, Yesus mengajak mereka untuk mengasingkan diri ke tempat sunyi, malah mengajak mereka rekoleksi atau retret. Namun orang banyak tetap mencari mereka sehingga ketika mereka mendarat di tempat tujuan, Yesus dan para murid sudah menemukan orang banyak itu. Melihat hal itu, tergeraklah hati Yesus untuk mengajar orang banyak itu. Retret yang hendak dijalani oleh para murid bersama Yesus menjadi batal karena orang banyak yang mendahului mereka dan Yesus akhirnya mengajar orang banyak itu.

Bagi kita, perikop ini sedikit membingungkan, karena setelah para murid sibuk bekerja, Yesus mengajak mereka mengasingkan diri ke tempat sunyi, yang seakan mengajak para murid keluar sejenak dari aktivitas mereka. Sikap itu seakan mengatakan bahwa para murid perlu keluar dari aktivitas, untuk sejenak bersama-sama dengan Yesus. Tetapi ketika Yesus menemukan orang banyak itu, Yesus sendiri yang membatalkan rekoleksi atau retret mereka, dan malah Yesus sendiri melayani orang banyak itu. Dengan mengajak para murid sejenak pergi ke tempat sunyi adalah untuk mengajak para murid merenungkan kembali apa yang telah mereka lakukan atau kerjakan. Mereka menjalankan tugas perutusan dari Yesus sendiri, sehingga perlulah kiranya para murid menimba kekuatan baru dari Yesus yang mengutus. Selain itu terutama mengajak para murid merenungkan perjalanan tugas perutusan mereka, untuk melihat apakah mereka menjalankannya hanya sekdera melaksanakan perintah Yesus, apakah mereka bekerja untuk mencari popularitas diri, kebanggaan diri ataukah mereka justru sudah jatuh pada kesombongan diri? Hal ini memang tidak dikatakan dalam perikop ini. Tetapi lewat peristiwa sesudah mendarat mereka sudah menemukan orang banyak yang mencari mereka, mengharapkan pelayanan mereka, Yesus mau mengatakan bahwa tugas utama dalam perutusan Yesus adalah pewartaan kerajaan Allah lewat kepakaan kepada sesama, siap sedia melayani sesama dan membawa suka cita, kegembiraan dan berkat bagi sesama. Dengan demikian, Yesus mengingatkan para murid akan tugas utama mereka untuk mewartakan kerajaan Allah lewat contoh yang diberikan-Nya dengan kesiap sediaan-Nya, kepekaan-Nya untuk melayani orang banyak.

Kita juga tentu punya kegiatan atau aktivitas harian, yang mungkin sangat padat sehingga seakan kita kekurangan waktu untuk menjalankan semua aktivitas kita itu. Apapun kesibukan, pekerjaan dan aktivitas kita, kita membutuhkan waktu untuk keluar sejenak dari semuanya itu. Kalau ada orang mengatakan bahwa tidak tidak punya waktu untuk berdoa, tidak punya waktu untuk keluar sejanak dari aktivitas atau pekerjaannya, itu tidak baik dan tidak benar, orang demikian pada suatu saat akan jatuh pada kejenuhan, hidupnya tidak lebih hanya rutinitas belaka dan dia dirajai oleh pekerjaan, bukan dirinya yang mengatur atau merajai pekerjaan. Sejenak keluar dari aktivitas harian bukan semata-mata untuk bersantai saja, tetapi baiklah kiranya diisi merenungkan pejalanan hidup harian atau pekerjaan kita. Injil hari ini mengajak kita untuk keluar sebentar dari aktivitas harian dengan datang kepada Yesus dan sejanak bersama dengan Yesus. Pada kesempatan yang demikian, kita diajak untuk merenungkan bahwa bagaimanapun hidup dan semuanya kita peroleh karena kasih karunia Tuhan Yesus sehingga kita perlu menimba kekuatan baru dari Dia. Juga dalam permenungan itu, kita mengingat kembali bahwa apapun pekerjaan dan aktivitas kita, di situ pulalah Yesus mengutus kita untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kita merenungkan apakah hidup kita sehari-hari sudah membawa Kerajaan Allah dengan kepekaan terhadap kebutuhan sesama, kepekaan untuk membantu sesama, hidup yang membawa sukacita dan berkat bagi sesama yang kita temui sehari-hari atau tidak. Menyediakan diri untuk sejenak tinggal bersama Yesus, merupakan kesempatan rekoleksi atau retret pribadi yang harus kita lakukan setiap hari, misalnya sore atau malam hari sesudah kita sibuk bekerja seharian, setiap minggu pada perayaan Ekaristi atau Ibadah pada hari Minggu di Gereja. Juga perlulah kiranya kita mengikuti rekoleksi atau retret bersama dalam kelompok. Semuanya itu sangat kita perlukan untuk membantu kita tidak jatuh pada titik kejenuhan dan perasaan bahwa hidup tidak lebih hanya rangkaian rutinitas. Yakinlah, hidup yang semuanya habis untuk kerja, aktivitas dan tanpa ada waktu untuk keluar dari kesibukan harian, tanpa ada waktu masuk dalam kesendirian diri bersama Yesus, akan sampai pada kejenuhan hidup.

Mari kita ingat, bahwa hidup kita adalah rahmat, panggilan dan perutusan untuk ikut ambil bagian dalam mewartakan Kerajaan Allah. Hidup yang membawa berkat, suka cita, peka akan kebutuhan sesama dan kepekaan untuk membantu sesama, akan menemukan sukacita dalam hidup dan pekerjaannya. Semoga. Amin.

Uskup Agung: Israel Bukan Tanah Perjanjian

Uskup Agung: Israel Bukan Tanah Perjanjian

(Roma 25/1/2011) Uskup Agung Umat Katolik menyatakan Israel bukan Tanah Perjanjian. Demikian kesimpulan konferensi Uskup Agung yang berlangsung di Tahta Suci Vatikan.

"Israel tidak bisa menggunakan alasan Tanah Perjanjian untuk mengklaim teritori Palestina," ujar Cyril Salim Bustros, Uskup Gereja Melkite Yunani, seperti dikutip CNN, Senin (25/10).

Pascaperang Dunia II, kaum Yahudi berkumpul di tepi barat Laut Tengah, dan mengklaim wilayah itu sebagai Tanah yang Dijanjikan Tuhan dalam kitab suci mereka, Taurat.

Wilayah itu merupakan tempat leluhur Yahudi, yang dipimpin Nabi Musa, tinggal setelah lari dari kejaran Firaun dan menyeberang Laut Merah. Kaum Yahudi, yang menganggap diri sebagai Umat Terpilih, tidak memandang 1,5 juta bangsa Palestina yang sudah berada di sana sebelumnya.

Bustros mengatakan tidak dapat menerima penggunaan "Perintah Tuhan" untuk melakukan ketidakadilan. Menurutnya, Umat Kristiani tidak lagi memandang Tanah Perjanjian bagi kaum Yahudi. "Karena 'Perjanjian' sudah terhapus dengan hadirnya Kristus," ujarnya.

Para Uskup Agung menyatakan "Kerajaan Tuhan" meliputi seluruh dunia. "Tidak ada 'Umat Terpilih', semua laki-laki dan perempuan di setiap negara adalah 'Orang-orang Terpilih'," kata Bustros.

Konferensi dua pekan ini berlangsung atas permintaan dunia internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk membahas pendudukan Israel di Tanah Palestina. Synoda atau konferensi ini berakhir setelah sidang terakhir yang dipimpin langsung Paus Benedictus XVI, Sabtu lalu.

Pernyataan itu mengundang kemarahan Israel. "Konferensi itu dibajak gerakan anti-Israel," kata Wakil Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon. "Ini adalah serangan politik, bagian dari Proganda Arab."

Ayalon menuding pernyataan Bustros sebagai fitnah. Dia menegaskan komentar itu bukan pernyataan resmi Vatikan.

(tempointeraktif.com/CNN/Times Live)

Disadur dari : http://www.mirifica.net/

Santri Demo Tolak Rumah Ibadah, Massa Bubar Usai kantongi Janji Pengembang

Santri Demo Tolak Rumah Ibadah, Massa Bubar Usai kantongi Janji Pengembang


(Bandung 1/2/2011)Unjuk rasa yang dilakukan ratusan santri Pondok Pesantren Sirnamiskin untuk menolak pembangunan gereja di sekitar sekolah mereka, akhirnya bubar setelah sekitar 30 menit melakukan aksi, Selasa (1/2/2011). Massa membubarkan diri, setelah mendapatkan pernyataan dari pengembang proyek, yang berjanji tak akan membangun gereja di sekitar ponpes mereka.

Aksi dilakukan di depan Kantor Ciputra Bizpark Jalan Kopo yang jaraknya hanya 200 meter dari Ponpes Sirnamiskin. Selama aksi dilakukan, arus lalu lintas di Jalan Kopo pun jadi tersendat karena banyak kendaraan yang memperlambat kendaraan saat melintas di lokasi aksi.

Dalam aksinya, mayoritas santri MTs dan SMK berada di dalam halaman kantor sementara santri MI berada di trotoar. Mereka pun seakan tak mau kalah dengan senior-seniornya, mereka ikut menyanyikan yel dan membawa poster-poster. Terlihat guru-guru mereka mendampingi.

Aksi unjuk rasa pun berjalan tertib karena demostran telah dibatasi dengan tali rafia. Massa membubarkan diri setelah ada perwakilan dari PT Central International Property dan mengeluarkan surat pernyataan bahwa mereka tidak akan membangun tempat ibadah dalam proyek mereka di Jalan Kopo Nomor 445.

Surat tersebut ditandatangani oleh GM PT Central International Property Ida Prastini dengan materai Rp 6.000 mereka pengembang isi pernyataannya.

Ditemui usai aksi, Direktur Nahdliyyin Centre, Iik Abdul Chalik mengatakan demo yang kebanyakan dilakukan santri merupakan bagian dari pembelajaran demokrasi. Selain itu siswa diajarkan sejak dini tentang aturan yang ada di Indonesia.

"Kita ingin memberikan memberikan mereka pendidikan agama Islam serta pembelajaran demokrasi, menghargai aturan. Karena pembangunan gereja ini tidak memiliki izin," ujar Iik.

Namun Iik menolak jika aksi yang dilakukan dikatakan mengganggu kegiatan belajar sebab aksi yang dilakukan dilakukan saat jam istirahat. "Itu tidak menganggu kegiatan belajar mengajar. Aksinya kan saat jam istirahat. Setelah aksi, mereka juga kembali belajar," katanya.

Iik menjelaskan, pada Sabtu (29/1/2011) kemarin sempat ada perwailan dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang memberikan surat pemberitahuan bahwa akan ada pembangunan gereja yang tidak jauh dari Ponpes.

"Lokasinya itu jaraknya kurang dari 1 meter di belakang Ponpes, itu belum ada izin, termasuk dari kita. Katanya ke Pemkot, izinya juga masih dalam proses," jelas Iik.

Meski telah mengantongi surat dari perwakilan PT Central International Property, namun Iik mengaku belum puas. "Kami belum puas dan meragukan jawaban mereka. Kami inginnya, ada jawaban dari GBI dan Walikota Bandung agar rencana pembangunan gereja dibatalkan," katanya.

Iik menambahkan, dalam waktu dekat mereka akan melakukan aksi ke Balaikota Bandung untuk menyampaikan keberatan warga sekitar dan ponpes atas rencana pembangunan gereja.

"Kami akan langsung sampaikan ke walikota, biar semuanya cepat beres dan masa yang akan datang akan jauh lebih banyak dari yang sekarang. Kami akan dibantu oleh berbagai eleman misalnya dari ormas islam," tuturnya.

Sementara itu hingga saat ini PT Inernational International Property tak ada yang bersedia memberikan keterangan atas masalah ini.(detik.com)

Disadur dari : http://www.mirifica.net/(Foto:www.detik.com)

Renungan Harian : Jumat 4 Pebruari 2011

Renungan Harian : Jumat 4 Pebruari 2011
(Yosef dr Leonisa, Katarina dr Ricci, Yohanes de Britto, Rudolfo Acquaviva, Fransiskus Pacheco, Carlo Spinola, Yakobus Berthieu, Leo Mangin)
Ibr 13:1-8, Mzm 27:1,3,5,8b-9abc, Mrk 6:14-29

Harta kekayaan, Pangkat, kuasa, gengsi, ambisi dan kesombongan merupakan godaan yang bisa membuat kita menyingkirkan kebenaran dan bahkan orang lain.

BACAAN INJIL:
Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia." Yang lain mengatakan: "Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu." Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi." Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!", lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Harta kekayaan, Pangkat, kuasa, gengsi, ambisi dan kesombongan merupakan godaan yang bisa membuat kita menyingkirkan kebenaran dan bahkan orang lain.

Dalam Injil hari ini dikatakan bahwa Yohanes pembaptis dipenjara dan akhirnya kepalanya dipenggal karena bermula dari kritik atau teguran Yohanes kepada Herodes yang mengambil istri FIlipus saudaranya. Yohanes menegur dengan keras perbuatan Herodes. Teguran ini membuat Herodes tersinggung dan juga tentunya Herodias sitri Filipus yang serobot Herodes sehingga Yohanes Pembaptis dipenjara. Pada akhirnya kebencian Herodes dan Herodias berpuncak pada pemenggalan kepada Yohanes Pembaptis.

Yohanes mengalami nasib demikian tentu bukan karena kesalahannya, tetapi karena dia mengatakan yang benar, jujur dan dia tidak takut melakukan itu juga kepada penguasa. Sehingga Yohanes mengalami semuanya itu adalah karena kejahatan Herodias dan Herodes.

Herodias mau diserobot Herodes dan menjadikannya istrinya tentu bukan karena semata-mata Herodes raja dan takut menolak keinginan raja, tetapi karena Herodias menginginkannya dan bahkan mungkin dia sengaja menggoda Herodes agar diambil menjadi isterinya, walaupun dia sudah mempunyai suami. Herodias menginginkannya karena dengan menjadi istri raja, dia akan hidup dalam kelimpahan harta, dia akan lebih dihormati dan ditakuti banyak orang. Tentu beda halnya bila hanya menjadi isteri adik seorang raja. Ambisinya yang begitu besar itu terbukti ketika Yohanes Pembaptis menegur mereka, dia malah marah besar dan berencana membunuh Yohanes Pembaptis. Dia berusaha menyingkirkan orang yang dirasa mengahalangi keinginganannya.

Demikian juga halnya dengan Herodes. Herodes tahu bahwa Herodias adalah isteri Filipus adiknya dan dia tahu itu tidak benar, karena ternyat dia mengakui kebenaran ajaran ataupun teguran Yohanes tetapi dia lebih mementingkan keinginannya itu. Mungkin Herodias cantik dan dia ingin mendapatkannya sehingga dia tidak peduli itu istri adiknya, dia mengambilnya. Herodes juga tidak peduli akan teguran Yohanes Pembaptis, malah memenjarakan Yohanes Pembaptis. Puncak kejahatan Herodes adalah karena rasa gengsi kepada tamu atau orang lain, tidak mau dianggap tidak menepati janjinya kepada anak Herodias yang menyukakan dirinya dengan tari-tarian sehingga dia mengabulkan permintaan Herodias untuk memenggal kepala Yohanes pembaptis. Herodes tahu bahwa permintaan itu tidak benar, dia ragu, tetapi dia lebih mengutakan gengsi dibanding kebenaran dan hati nuraninya. Karena itu semua, dia melakukan perbuatan yang sangat kejam yakni membunuh seorang nabi dan bahkan perbautan yang sangat kejam karena kepala Yohanes Pembaptis dibuat di atas talam. Seakan baginya membunuh bukanlah perbuatan dosa, kejam tetapi sepertinya dianggap hanya hiburan belaka.

Sebagai manusia, tentu kita mempunyai keinginan, kerinduan atau mimpi harapan masa depan untuk mendapatkan hidup yang labih baik. Semuanya itu baik demi kemajuan hidup. Namun hendaknya kita waspada jangan sampai semuanya itu menjadi ambisi yang menjatuhkan kita pada kedosaan dan pada akhirnya menyingkirkan kebenaran dan orang yang melakukan kebenaran. Tuhan tidak melarang kita mencari uang, harta, tidak melarang kita mengejar cita-cita atau keinginan untuk hidup lebih baik. Tetapi hendaknya kita ingat agar kita jangan dirajai semuanya itu sehingga membuat kita membenarkan segala cara bahkan sampe menyingkirkan orang-orang yang kita anggap menghalangi semua keinginan kita. Untuk itu kita perlu mengadakan pembedaan roh dengan menilai apakah keinginan dan harapan kita itu baik dan benar atau tidak. Untuk itu kita perlu bertanya atau belajar pada orang yang lebih bijak dari kita, karena bisa saja pemahaman dan pengalaman kita masih belum bisa menilainya baik atau benar. Namun bila kita melihat bahwa itu semua bukannya mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, itu berarti keinginan, harapan, cita-cita yang ingin kita itu adalah tidak baik. Harapan atau mimpi yang akan kita dapatkan atau yang sedangkan kita perjuangkan hendaknya selalu membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi banyak orang. Hendaknya kita berpegang teguh pada hidup demikian, sehingga kita tidak seperti Herodes yang dengan gampang dipengaruhi oleh rasa gengsi, padahal sebenarnya dia tahu bahwa Yohanes mengatakan sesuatu yang benar. Oleh karena itu, kita hendaknya waspada dengan keingingan-kiinginan kita, yang kadangkala seakan kita butuhkan, merasa kita perlukan, tetapi sebenarnya adalah nafsu-nafsu daging yang merugikan kita dan banyak orang.

Yohanes Pembaptis berpegang teguh pada cita-cita untuk mewartakan datangnya Kerajaan Allah, menyerukan pertobatan. Yohanes tidak takut akan tantangan yang dihadapinya untuk mewujudkan impinya, karena yang dia perjuangkan adalah kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatan bagi semua orang. Semoga kitapun dalam mengejar cita-cita, harapan, pekerjaan dan perjuangan hidup kita, selalu berpegang teguh untuk membawa kebaikan, kebahagiaan dan suka cita bukan hanya membuaskan diri atau untuk diri sendiri, tetapi untuk semua orang. Amin.

Renungan Harian : Kamis 3 Januari 2011

Renungan Harian : Kamis 3 Januari 2011
Ibr 12:18-19,21-24 , Mzm 48: 2-3a,3b-4,9,10,11, Mrk 6:7-13
(Blasius, Ansgarius, Stefanus Bellesini)

"Mewartakan Kerajaan Allah adalah panggilan dan perutusan Tuhan atas semua yang telah dibaptis. Semuanya adalan pelayanan dan pengorbanan. Bersediakah kita menjalankan tugas ini?

BACAAN INJIL:

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Mungkin pernah Anda dengar bahwa di beberapa tempat, Paroki mengalokasikan dana khusus untuk pengurus Gereja atau DPPH saat rapat. Para pengurus Gereja yang ikut rapat diberi sekedar uang duduk, walaupun memang tidak dibuat system jam, tetapi pada kenyataannya setiap rapat para pengurus Gereja harus diberi seperti yang duduk. Alasan yang diberikan adalah sekedar mengganti uang transport para pengurus Gereja atau sekedar ucapan terimakasih atau penghargaan. Namun apakah ini bisa dikatakan bahwa prinsip harus mendapat imbalan sudah merasuki Gereja? Apakah itu tidak berarti bahwa pengurus gereja harus diberi imbalan baru mau meluangkan waktu untuk rapat? Kalau untuk rapat saja harus diberi imbalan, apalagi bila diminta berpastoral ke tempat-tempat pelayanan.

Dalam Injil hari ini, Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua untuk mewartakan Kerajaan Allah. Dalam perutusan itu, Yesus memberi syarat yang tidak masuk akal bagi dunia kita sekarang ini, yakni dikatakan bahwa mereka tidak boleh membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat, roti, bekal dan uangpun tidak boleh mereka bawa. Perutusan yang aneh bagi zaman kita sekrang ini, Yesus hanya membekali kuasa atas roh-roh jahat dan kuasa penyembuhan, tetapi malah memberi syarat larangang yang banyak. Yesus juga mengingatkan para murid bahwa pasti aka nada juga yang akan menolak mereka. Dengan gambaranini, lengkaplah gambaran beratnya tugas perutusan para murid ini, karena sudah gak mendapat imbalan apa-apa dan bekal lain, tetapi aka nada pula yang menolak mereka. Namun Yesus juga memberi semangat bagi para murid bahwa mereka tidak usah khawatir karena Tuhan sendiri akan menyertai mereka dan pasti ada juga yang akan menerima mereka dan memberi mereka penginapan dan makanan.

Membandingkan tugas perutusan Yesus atas para murid dengan mental zaman sekarang ini, tentulah tidak mudah menemukan orang yang mau bekerja atau melayani tanpa diberi bekal maupun imbalan. Mental manusia sekarang ini dirasuki oleh prinsip untung rugi dan imbalan. Belum lagi karena dalam kenyataan, selalu ada penolakan dalam pelayanan, paling tidak orang kurang menghargai tugas pelayanan itu. Misalnya, beberapa kali kami melayani ke stasi, pulang dengan kelaparan karena umat yang dilayani tidak memberi makan.

Namun walaupun demikian, kita semua dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan kepada sesama dan dunia ini. Semua kita dipanggil dan diutus tanpa kecuali. Yesus mengutus kita menjalankan tugas perutusan dalam dunia sekitar kita, sesuai dengan situasi dan kondisi kita atau sesuai dengan peran kita dalam dalam hidup ini. Dalam menjalankan tugas perutusan itu, kita tidak usah khawatir akan apa yang kita perlukan untuk tugas itu, kita tidak usah mengharapkan imbalan dari tugas itu, karena Tuhan sendiri akan melimpahkan berkat-Nya bagi kita, memberikan apa yang kita perlukan dalam tugas perutusan dan Tuhan sendiri tentu akan berkenan akan perutusan kita. Hendaknya dalam menjalankan tugas perutusan itu, kita semata-mata hendak mewartakan Kerajaan Allah. Dengan menjalankan tugas perutusan itu, kita juga sekaligus menawarkan kepada dunia atau kesaksian bagi dunia bahwa pengorbanan dan pelayanan adalah keutamaan kristiani yang tidak dapat dinilai dengan imbalan atau uang, tetapi sebagai ungkapan syukur dan pengabdian kepada Tuhan. Juga selain menghadirkan kerajaan Allah juga memberi kesaksian bagi dunia sekarang ini bahwa uang, harta ataupun imbalan bukan satu-satunya tujuan hidup, tetapi kehadiran kerajaan Allah atau persatuan dengan Allah. Semoga kita juga bersedia dan rela mewartakan Kerajaan Allah di manapun dan kapanpun kita berada. Berkat Tuhan akan senantiasa berlimpah atas kita dan bagi sesama. Amin.

Renungan Harian : Rabu 2 Februari 2011

Renungan Harian : Rabu 2 Februari 2011
Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18, Mzm 24:7,8,9,10, Luk 2:22-40
(Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah)

"Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah".

BACAAN INJIL:
Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri?,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Anak adalah anugerah Tuhan. Saya yakin semua orang tua mengakui hal ini. Namun sayang seringkali dalam kenyataannya, orang tua dan banyak orang kurang menghayatinya dan melaksanakannya.

Hari ini adalah Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Yusuf dan Maria orang yang taat beriman dan pada aturan agama berusaha mendidik Yesus dengan menanamkan ajaran Iman, teladan hidup beriman dan dengan mentaati aturan agama. Oleh karena itulah ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Yusuf dan Maria juga sadar bahwa Yesus anak mereka harus dipersembahkan kepada Tuhan.

Pesta pengkudusan Yesus atau Yesus dipersembahkan kepada Tuhan tentu bukan berarti Yesus sebelumnya tidak kudus. Yesus itu adalah Tuhan, Dia sudah kudus sejak awal mula dan selamanya. Pesta ini mau menyatakan kepada kita siapa sebenarnya Yesus dan tugas perutusan-Nya. Dari nubuat nabi Simeon dan Hana jelas bagi kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah dijanjikan oleh Allah sejak dahulu dan Dia datang untuk membawa keselamatan bagi semua umat manusia. Yesus datang untuk melaksanakan kehendak Allah. Sehingga Yesus yang dipersembahkan kepada Allah, juga sekaligus dipersembahkan kepada kita mansusia karena Dia datang untuk menyelamatkan manusia sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Hal ini dirasakan oleh Simeon dan Hana.

Simeon dan Hana dapat merasakan kehadiran Yesus yang dipersembahkan kepada Allah, Dialah Mesias yang diutus untuk menyelamatkan kita manusia. Mereka memberi kesaksian kepada kita akan hal ini. Semoga kitapun berani menerima Yesus adalah Mesias, Tuhan yang diutus untuk menyelamatkan kita dan Dia adalah sungguh penyelamat kita. Simeon dan Hana meyakini ini, bagi mereka melihat Yesus sang penyelamat, itulah kerinduan tertinggi bagi mereka, itulah puncak tujuan hidupnya, kebahagiaan tertinggi. Menerima dan meyakini bahwa Yesus sudah dipersembahkan bagi kita dan Dia adalah penyelamat kita berarti kita menyakini bahwa persatuan dengan Dia itulah tujuan hidup kita, itulah kebahagiaan sejati dan Dialah yang utama dalam hidup kita. Keyakinan ini kita wujudnyatakan dengan mempersembahkan diri kepada-Nya. Mempersembahkan diri kepada Yesus berarti menjadikan Yesus adalah yang utama dalam hidup kita, persatuan dengan Dia itulah yang menjadi tujuan hidup kita. Semuanya kita upayakan dengan berusaha hidup kudus sesuai dengan kehendak-Nya dan teladan yang sudah Yesus berikan kepada kita. Dengan hidup demikian kita menghayati hidup yang sudah dipersembahkan kepada Allah, karena kita semua sudah dipersembahkan kepada Allah. Hidup kita hendaknya dikususkan untuk kemuliaan Allah.

Kepada para Saudara yang hidup sebagai orang tua, hendaknya meneladan Yusuf dan Maria, sadar bahwa anak adalah anugerah Allah dan harus dipersembahkan kepada Allah. Mempersembahkan anak kepada Allah berarti mendidik mereka dengan iman, menanamkan iman kepada Yesus sejak mereka kecil. Sangatlah baik bila orang tua sudah sejak anaknya kecil membawa mereka dan mengikutkan mereka dalam perayaan ekaristi. Tentu saat ekaristi berlangsung, orang tua memperhatikan dan mendidik anak-anak agar tidak malah menjadi sumber keributan. Sekalilagi, para orang tua hendaknya selalu sadar dan ingat bahwa anak adalah anugerah Tuhan, sehingga harus dididik dan dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan. Amin.

Renungan Harian : Selasa 1 Pebruari 2011

Renungan Harian : Selasa 1 Pebruari 2011
Ibr 12: 1-4, Mzm 21:26b-27,28,30,31-32, Mrk 5:21-43
(Randelaria dr. St.Josef, Maria Anna Vaillot & Odilia Baumgarten)

"Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

BACAAN INJIL:
Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Seminggu yang lalu, ada seorang anak gadis remaja seusia kelas 2 SMP, meninggal dunia. Dia mengidap penyakit ayan. Penyakit itu seringkali kambuh dan tentu dia sangat menderita. Orang tuanya sudah berupaya membawanya berobat tetapi tidak sembuh juga. Anak tersebut karena penyakitnya menjadi pendiam, suka mengeluh atas sakitnya dan tertekan, demikian juga halnya orang tuanya. Namun setahun sebelum dia meninggal, anak ini ikut dalam persekutuan doa karismatik Katolik di Sidikalang. Dia begitu rajin ikut dalam persekutuan doa karismatik, disamping kelompok doa ini emmberi perhatian dengan menjemput dan menghantarnya. Sejak saat itu ada perubahan dalam hidupnya, yakni dia sudah mulai ceria dan tidak lagi mengeluhkan penyakitnya. Penyakit ayan yang dia derita memang tidak sembuh tetapi dia tidak lagi mengeluhkan penyakitnya itu dan sudah bisa ceria. Orang tuanya mengakui hal ini, pada saat kematian puteri mereka itu mengatakan bahwa sejak anak itu ikut dalam keolompok doa karismatik, dia tidak lagi mengeluhkan penyakitnya, dia menjadi rajin berdoa dan mengingatkan orang tuanya supaya tidak usah terlalu memikirkan penyakitnya dan supaya rajin berdoa. Sehingga saat Tuhan memanggil anak mereka itu, orang tua menghantarnya dengan iklas karena yakin anak mereka meninggal bukan karena penyakitnya tetapi karena Tuhan yan gemanggilnya.

Anak tersebut dan juga anggota kelompok doa Karismatik berdoa baginya memohonkan kesmebuhan anak ini dari penyakitnya, tetapi penyakit itu masih tetap ada dalam diri anak itu. Apakah itu berarti bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa mereka? Apakah Tuhan tidak melakukan mukjizat penyembuhan atas anak itu?

Dalam doa permohonan penyembuhan seringkali orang hanya melihat dan mengukur dengan kesembuhan fisik dari penyakit, kurang melihat dalam arti lebih dalam yakni kesembuhan rohani si sakit dan keluarganya. Seperti dalam cerita anak itu, penyakit ayan memang masih dideritanya, tetapi dia beroleh kesembuhan rohani, yang mana penyakit itu tidak lagi mengekang kegembiraannya sebagai remaja puteri, penyakit itu tidak lagi membuat dia tertekan, mengeluh tetapi dia menjadi ceria dan bahkan dia semakin rajin berdoa juga malah menasehati orang tuanya supaya rajin berdoa. Tuhan juga memberi kesembuhan rohani kepada orang tuanya karena orang tuanya tidak lagi menjadi putus asa, menjadi rajin berdoa dan bisa menghadapinya dalam iman. Mukjizat Allah terjadi dalam peristiwa ini, bagi iman anak ini dan orang tuanya. Bahkan ini juga menjadi mukjizat yang besar, karena bisa saja orang disembuhkan secara fisik tetapi dia dan kaum keluarganya tidak semakin dekat dengan Tuhan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan 2 kisah mukjizat sekaligus yang diperbuat oleh Yesus. Dalam kisah penyembuhan wanita yang mengalami pendarahan itu, diceritakan bahwa dia sudah menderita begitu lama dan sudah berobat kemana-mana sampai menghabiskan hartanya, namun tidak sembuh juga. Pada puncak upaya dan kerinduannya untuk sembuh, dia hanya berharap dari Yesus sendiri. Wanita itu punya keyakinan bahwa Yesus mampu menyembuhkannya, keyakinannya begitu kuat sehingga dia berpikir bahwa hanya dengan menyentuh jubah Yesus saja, dia yakin akan sembuh. Apa yang dirindukan dan diyakini wanita itu memang terjadi, dia merasa sudah sembuh ketika menjamah jubah Yesus.

Namun dalam kisah ini, menurut kami, wanita itu belumlah sembuh secara fisik dari penyakitnya, dia hanya merasakan semangat hidupnya kembali, penyakit itu tidak membuatnya menderita dan semakin yakin bahwa Tuhan akan menyembuhkan penyakitnya. Hal ini terbukti dari kata-kata Yesus, "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" Dari kata-kata Yesus ini jelas bahwa wanita itu sembuh secara fisik baru setelah Yesus mengatakan ‘perfilah dengan selamat dan sembuhlah penyakitmu.’ Mukjizat kesembuhan yang pertama terjadi atas wanita itu adalah kesembuhan rohani, baru setelah itu Yesus memberi kesembuhan fisik atas wanita itu.

Demikian juga halnya yang terjadi dalam kisah mukjizat yang dilakukan oleh Yesus kepada rumah ibadat yang bernama Yairus. Yairus datang menghadap Yesus dan memohon kesembuhan bagi anak puterinya yang sudah hampir mati. Yairus percaya bahwa Yesus sanggup dan mau melakukannya. Namun saat Yesus sampai ke rumahnya, anaknya telah mati. Dalam situasi demikian, tentu iman Yairus tentu menjadi goyah, apalagi mendengar perkataan orang-orang saat itu yang mengatakan "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Iman Yairus menjadi semakin goyah ketika orang menertawakan Yesus yang mengatakan bahwa anaknya tidak mati tetapi tidur. Iman Yairus menjadi goyah dan orang-orang menertawakan Yesus karena memang dari pengalaman hidup mereka, tidak ada orang yang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal.

Dalam peristiwa ini, Yesus tidak langsung beraksi dengan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi Dia terlebih dahulu menyembuhkan iman Yairus dan juga orang disekitarnya dengan berkata "Jangan takut, percaya saja!" Yesus bisa saja langsung menghidupkan kembali anak itu, tetapi Dia terlebih dahulu menguatkan iman Yairus, memberi kesembuhan iman kepada Yairus, baru setelah itu Yesus menghidupkan kembali anak itu.
Bermenung dari kisah-kisah ini, jelaslah bagi kita bahwa:

Jelaslah bagi kita bahwa Yesus adalah Tuhan, Dia mahakuasa yang mampu memberi kesembuhan dan menghidupkan orang mati. Dengan iman ini, kita hendaknya selalu datang kepada-Nya dan menyerahkan hidup kita kepada kuasa dan kasih-Nya. Kita hendkanya selalu yakin bahwa Yesus tidak akan pernah menolak permohonan yang kita sampaikan dengan penuh iman kepada-Nya, namun Dia akan memberikan yang terbaik kepada kita. Dalam doa permohonan penyembuhan baik untuk diri kita dan juga bagi orang lain, hendaknya kita tidak hanya terpusat pada kesembuhan fisik saja tetapi juga melihat pentingnya kesembuhan rohani. Kesembuhan rohani membuat orang percaya kepada Tuhan, semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, penyerahan diri dan terbuka akan karya mukijzat Tuhan atas dirinya. Semoga dengan Injil hari ini iman kita kepada Yesus semakin diteguhkan. Amin.

Renungan Hari Biasa : Senin 31 Januari 2011

Renungan Hari Biasa : Senin 31 Januari 2011
Ibr 11: 32-40, Mzm 31:20,21,22,23,24, Mrk 5:1-20
Yohanes Bosco

"Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"

BACAAN INJIL:
Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"

Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Membaca teks Injil hari ini, ada anekdot yang mengatakan, “Orang Batak itu banyak yang kerasukan setan atau gampang kerasukan setan.” Anekdot ini kalau gak dimengerti sebagai anekdot atau kelakar, bisa membuat marah orang Batak. Ternyata kelakar itu dikaitkan bacaan Injil hari ini, yakni setan legion yang memasuki babi-babi. Orang Batak sendiri umumnya suka makan daging babi dan bahkan dalam acara pesta-pesta adat, daging babi menjadi lauk utama. Adapula yang tidak mau makan daging babi karena takut keasukan setan. Namun kiranya ini hanya sebuah kelakar dan bukan ini yang menjadi inti permenungan kita hari ini.

Gambaran orang yang kerasukan setan sebagaimana yang kita dengarkan dalam Injil hari ini sangat mengerikan. Orang yang kerasukan setan itu siang malam berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Dia sudah sering dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Namun walaupun begitu keadaanya dan banyak roh jahat yang berdiam dalam diri orang tersebut, Yesus menyembuhkannya dengan mengusir roh-roh jahat itu keluar dari dalam diri orang itu. Orang yang kerasukan itu menjadi sembuh, dan waras kembali. Namun orang-orang di daerah itu bukannya senang karena Yesus menyembuhkan orang itu tetapi malah mengusir Yesus dari tempat itu. Sepertinya mereka merasa rugi karena babi-babi mereka menjadi korban. Nampaknya babi-babi lebih berharga dibanding dengan kesembuhan orang itu. Setelah menyaksikan peristiwa itu, mereka juga merasa bahwa untuk selanjutnya kehadiran Yesus akan merugikan mereka. Melihat sikap mereka yang aneh itu, kita jadi menduga bahwa penduduk itu memang sengaja memelihara atau bersahat dengan roh-roh jahat dan orang itu mereka jadikan sebagai tumbal. Mungkin karena itu, mereka keberatan roh-roh jahat itu justru diusir oleh Yesus. Mereka lebih senang roh-roh jahat itu tinggal di tempat mereka disbanding dengan kehadiran Yesus.

Bisa kita katakan bahwa perikop di atas menjadi gambaran situasi hidup manusia hingga sekarang ini. Hingga saat ini masih banyak orang bahkan orang kristiani yang senang memelihara roh-roh jahat atau menjalin persahatan dengan roh-roh jahat atau kekuatan di luar Yesus. Pasti masih ada orang yang menjalin persahatan dengan roh-roh jahat dan untuk itu tega mengorbankan orang lain bahkan anggota keluarganya menjadi tumbal. Demikian juga halnya yang terjadi, banyak orang yang merasa harta kekayaan lebih berharga dari pada orang lain atau sesama, sehingga berani mengorbankan orang lain demi kepentingannya. Bahkan masih banyak orang yang ingin tetap hidup dalam dunia demikian, walaupun jelas dia tahu bahwa karena hal itu dia harus mengorbankan orang lain, tidak ingin datang kepada Yesus untuk melepaskannya. Banyak juga orang kristiani yang lebih percaya pada kekuatan roh-roh jahat, mengabdi roh-roh jahat, dan tidak percaya pada Yesus.

Lewat injil hari ini, hendaknya kita sadar bahwa tidak ada kekuatan yang melebihi Yesus sendiri. Semua kekuatan roh-roha jahat dan kekuatan yang ada di dunia ini takut dan takluk kepada Yesus. Yesus sendiri tidak akan membiarkan umat-Nya dikuasai, diperhamba oleh roh-roh jahat. Dari perikop ini juga jelas bagi kita bahwa menjalin persahabatan dengan roh-roh jahat itu berarti kita mengorbankan orang lain, diri kita dan menjadikan diri kita diperhamba oleh roh-roh jahat itu. Semoga sabda Yesus hari ini mengingatkan kita dan membuat kita percaya kepada Yesus, bukan kepada kekuatan-kekuatan lain. Sehingga kita menyerahkan diri seutuhnya kepada Yesus yang mahakuasa dan mahakasih.

Kehadiran Yesus yang menyembuhkan memang membuat penduduk desa itu merasa rugi karena kehilangan babi-babi mereka juga mungkin karena roh-roh jahat yang mungkin sengaja mereka pelihara dan menjadikan orang kerasukan itu menjadi tumbal. Karena itu mereka mengusir Yesus dari kampong mereka. Bagi mereka lebih berharga babi-babi dibanding orang yang disembuhkan itu. Bagi Yesus, menyelamatkan manusia lebih berharga dibanding babi-babi. Semoga kita juga selalu menganggap sesama atau keselamatan orang lain lebih berharga dibanding dengan harta, sehingga kita tidak mengorbankan orang lain karena persahabatan kita dengan harta atau kekuatan-kekuatan si jahat. Amin.

VIDEO YOUTUBE PEMBANGUNAN GEREJA PAROKI (latar Lagu : Mukjizat itu nyata)

VIDEO YOUTUBE PEMBANGUNAN GEREJA PAROKI
(latar Lagu : Mukjizat itu nyata)

Din: Jangan Remehkan Gerakan Moral Tokoh Agama

Din: Jangan Remehkan Gerakan Moral Tokoh Agama

Medan (ANTARA News) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengimbau pemerintah untuk tidak meremehkan imbauan tokoh lintas agama yang merupakan penyuara aspirasi rakyat.

“Saya hanya bermohon, jangan diremehkan. Jangan dilecehkan,” katanya di Medan, tadi malam (28/1 usai dialog dalam rangka HUT Yubileum ke-50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Keuskupan Agung dengan topik “Menguatkan Persaudaraan Sejati Dalam membangun Bangsa”.

Menurut Din, gerakan mengkritik pemerintah itu telah ada di masyarakat karena kecewa terhadap penyelenggaran pemerintahan.

Karena itu, tidak ada alasan lain bagi pemerintah kecuali menganggap kritikan yang disampaikan tokoh lintas agama tersebut sebagai aspirasi rakyat.

Din juga menilai, kritik yang disampaikan tokoh lintas agama harus disikapi sebagai amanat dari rakyat. “Jadi, kami ingatkan agar tidak main-main dengan amanat rakyat,” katanya.

Kritikan tokoh agama itu adalah gerakan moral yang diharapkan memiliki pengaruh besar untuk memperbaiki kondisi bangsa.

Din Syamsuddin menyebutkan gerakan moral itu berubah menjadi gerakan politik jika pemerintah tidak serius melakukan perbaikan. “Kalau seandainya tidak ada perbaikan, gerakan moralnya akan lebih dahsyat lagi,” katanya.

Dia juga mengharapkan pemerintah tidak melarikan masalah atau menjadi pihak yang menganggap seolah-olah tidak ada masalah.

Kalau itu dilakukan, maka masalah yang terjadi dewasa ini akan menumpuk dan membahayakan kelangsungan bangsa.

Dia menganggap pemerintah pemerintah sering meremehkan kritik masyarakat. “Itu yang terkesan selama ini,” katanya.

Padahal, katanya, meremehkan aspirasi rakyat akan berujung pada gejolak politik yang dapat menimbulkan hal-hal tidak diinginkan seperti di Tunisia dan Mesir. “Jangan sampai itu terjdai di Indonesia,” katanya.

Din Syamsuddin mengungkapkannya jika seluruh permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia belakangan dapat diatasi kalau pemerintah serius memperbaiki diri. “Itu juga yang menjadi harapan berbagai tokoh lintas agama tersebut,” katanya. (*)

(Antaranews.com)

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)