Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN I TAHUN B, 27 Nopember 2011

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN I TAHUN B, 27 Nopember 2011
Yes 63:16b-17, 64:1,3b-8, Mzm 80:2ac,3b,15-16,18-19, 1Kor 1:3-9, Mrk 13:33-37

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamana tuan rumah pulang!” Hidup kristiani adalah penantian yang aktif dan kreatif.

BACAAN INJIL: Mrk 13:33-37

Pada suatu waktu Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!"

RENUNGAN:
Hiduplah senantiasa dalam penantian penuh sukacita iman.

Menanti sering dikatakan sebagai pekerjaan yang membosankan. Namun kiranya bukan buat semua orang bahwa menanti atau menungguh merupakan suatu pekerjaanyang membosankan, karena tergantung apa atau siapa yang dinantikan. Bagi sepasang suami istri yang menantikan kelahiran anak mereka apalagi itu anak pertama, penantian mereka bukanlah suatu hal yang membosankan, tetapi suatu penantian yang penuh sukacita, meskipun diresapi rasa was-was akan kesehatan atau keselamatan istri atau anak yang akan lahir. Bagi seorang wanita yang menantikan kunjungan kekasihnya pada malam minggu, pasti bukan suatu penantian yang membosankan, tetapi suatu penantian yang menggemberikan, karena yang akan disambut adalah orang yang dicintai dan mencintainya. Dalam penantian yang demikian juga biasanya mereka menanti bukan hanya menunggu dengan hanya duduk-duduk berpangku tangan, tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu yang perlu. Sehingga intinya bila yang dinantikan adalah yang dicintai dan yang mencintai, pasti penantian itu mengasyikkan, juga apabila yang dinantikan itu adalah yang baik, pasti juga penantian itu menyenangkan.

Hari ini kita memasuki masa adven, mada penantian, yakni menantikan kelahiran Yesus pada hari raya Natal. Perayaan ini kita rayakan setiap tahun pada tanggal 25 Desember. Kedatangan atau kelahiran Yesus yang kita nantikan adalah Tuhan yang sungguh mengasihi kita, karena kasih-Nya yang sungguh besar Dia mau datang ke dunia, hidup bersama-sama dengan kita dan merasakan apa yang kita alami, kecuali Dia tidak mengalami dosa. Sehingga masa penantian kita adalah penantian yang membahagiakan. Dengan demikian masa adven bagi kita bukan suatu masa yang membosankan dan bukan beban, tetapi suatu penantian yang penuh sukacita. Kegembiraan imanlah yang kiranya menjiwai kita selama masa adven ini.

Dalam penantian itu, tentu kita tidak hanya berpangku tangan menunggu hingga tiba waktunya hari raya kelahiran Yesus tiba, tetapi kita harus juga mempersiapkan apa yang perlu dan layak dipersipkan untuk menyambut kedatangan Dia yang mengasihi kita dan kita kasihi. Yang kita perlu persiapkan terutama bukanlah pesta yang besar, kemeriahan perayaan, tetapi hidup yang kudus sesuai dengan hakekat Dia yang kita nantikan. Kita semua mengimanai bahwa yang kita nantikan kedatangan-Nya adalah Tuhan yang kudus, Tuhan yang mulia, maka jelas kita harus mempersiapkan hal yang kudus, sesuai dengan hakekat Yesus Tuhan sendiri. Hidup yang kudus, itulah yang harus dan terutama kita persiapkan dalam menanti kedatangan Yesus, supaya bila tiba waktunya, hidup dan diri kita layak menerima kehadiran Yesus yang kudus.

Hidup yang kudus kita upayakan selama masa adven adalah dengan semakin lebih banyak membaca firman Tuhan, memperbanyak hidup doa, lebih aktif dalam kegiatan gereja baik di paroki maupun dilingkungan-lingkungan hidup menurut kehendak Tuhan dan juga hidup berbuat kasih sebagaimana Dia yang datang adalah karena kasih-Nya kepada kita. Maka ketika tiba waktunya Yesus datang, hidup kita menjadi tempat yang layak menyambut kehadiran-Nya. Maka yang terpenting pada masa adven adalah pertobatan diri yang tampak dalam hidup yang semakin mendekatkan diri dengan Tuhan lewat membaca dan merenungkan firman Tuhan, lewat doa-doa pribadi dan hidup baik, penuh cinta kasih dan perbuatan baik kepada sesama. Oleh karena itulah, Gereja kita menganjurkan agar kita menghindarkan pesta-pesta atau kemeriahan pada masa adven, karena semuanya itu bisa membuat kita lupa bahwa kita harus mempersiapkan kesucian diri kita. Persiapan jasmani perlu untuk menyambut hari kelahiran Yesus, tetapi yang terpenting dan tidak bisa dilalaikan adalah pertobatan hidup, hidup yang suci di hadapan Allah.

Bermatiraga juga sangat baik dilakukan pada masa adven ini yakni mengurangi dan membatasi kesenangan kita selama ini. Matiraga melatih kita untuk berani mengurangi kenikmata kenikmatan dunia. Namun matiraga yang benar adalah maritaraga yang tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mengandung aspek cinta kasih, yakni hasil dari matiraga kita itu, kita kumpulkan dan itu kita berikan kepada sesama yang membutuhkan. Dengan demikian, masa adven yang kita jalani sungguh mempunyai aksi nyata dalam perbuatan kasih kepada sesama.

Namun perayaan setiap tahun ini mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah masa penantian terus menerus yakni menantikan kedatangan Tuhan. Kedatangan Tuhan dalam hidup kita masing-masing adalah nyata dan pasti yakni kematian. Kedatangan Tuhan lewat kematian kita, tidak ada yang tahu pasti. Dari sebab itulah Yesus dalam injil hari ini mengingatkan kita agar kita selalu berhati-hati dan berjaga-jaga senantiasa. Masa adven ini mengajak kita untuk sadar diri bahwa selama ini kita hidup kurang dalam iman sehingga kita membutuhkan pertobatan agar bila kematian mengunjungi kita, kita siap siaga menyambut kedatangan Tuhan yang datang menjemput kita untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Kita sebagai orang beriman percaya dan merindukan kehidupan kekal setelah kematian kita. Sehingga orang yang selama hidupnya berhati-hati dan berjaga-jaga, bila kematian hari Tuhan datang atas dirinya lewat kamatian, Tuhan akan mengajak dia untuk masuk dalam kerajaan Allah. Namun kiranya kita ingat kembali, bahwa hari Tuhan datang yakni kematian, kita tidak tahu pasti, kematian itu bisa datang dengan tiba-tiba tanpa kita sangka-sangka. Maka agar kita kelak masuk dalam kerajaan Allah, kita harus selalu berhati-hati dan berjaga-jaga.

Maka hidup orang kristiani adalah hidup dalam penantian yang penuh sukacita. Namun penantian kristiani adalah bukan penantian yang pasif, tetapi penantian yang yang aktif dan bermakna. Kesadaran bahwa Yesus akan datang menjemput setiap saa, tanpa penentuan waktu yang jelas, jsutru hendaknya membuat kita beriman secara kreatif, waspada, dan selalu siap untuk menyambut kedatangan Yesus. Dengan demikian, seluruh hidup, yang berarti seluruh penantian adalah saat-saat di mana manusia harus mengupayakan hal-hal yang baik, yang utama, yang berkualitas badi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Maka dari itu. Mari kita sambut dan jalani masa Adven ini dengan penuh sukacita iman. Persiapan yang lebih dibutuhkan adalah persiapan rohani yakni pertobatan diri dengan mengupayakan kekudusan hidup. Kita jalani masa adven ini dengan penuh sukacita iman, karena yang kita nantikan adalah Yesus Tuhan yang mahakasih, dan mahakudus. Masa Adven ini juga hendaknya menjadi suatu pengingat bagi kita bahwa hidup kita adalah selalau dalam masa penantian yakni menantikan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, untuk menjemput kita masuk dalam kerajaan-Nya, yakni lewat kematian. Kita tidak tahu hal itu kapan terjadi. Oleh karena itu kita hendaknya senantiasa berhati-hati dan berjaga-jaga dengan mengupayakan hidup yang bermakna, hidup yang berkualitas bagi diri sendiri dan juga bagi sesama. Hidup kristiani adalah penantian yang aktif dan kreatif. Amin.

Praksis Pastoral Misa Tridentin

Praksis Pastoral Misa Tridentin

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI menuliskan motu proprio (“atas kehendak pribadi”) Summorum Pontificum (7 Juli 2007), ketika menyampaikan pesan mengenai dibukanya kembali kemungkinan merayakan Misa Tridentin. Motu proprio pada hakikatnya adalah inisiatif pribadi dan ditandatangani secara pribadi pula. Meski surat ini bisa saja ditujukan kepada sebagian komunitas atau seluruh komunitas Gereja universal, tetaplah ini inisiatif pribadi.

Dengan motu proprio, Paus menyampaikan secara resmi bahwa para imam mendapatkan delegasi untuk merayakan Misa Tridentin. Di sini Paus menggunakan kewenangannya, sekaligus dengan cara hati-hati menyampaikan kebenaran yang diyakininya.

Paus sadar bahwa anjuran ini akan menimbulkan perbantahan. Terutama pendapat yang hendak langsung membenturkan anjuran dan izin ini dengan Konsili Vatikan II yang mempunyai status ajaran dan otoritas lebih tinggi. Hasil-hasil Konsili di bidang Liturgi, Ekaristi, dan Sakramen justru sangat maju ke depan. Konsili berkali-kali menekankan inkulturasi, konteks lokal, bahasa vernakular. Sebaliknya, Paus menganggap bahwa tidak ada pertentangan ajaran iman di antara keduanya. Kontinuitas teologi liturgi berlangsung di sana.

Seorang perempuan Katolik aktivis perdamaian yang sangat dikenal beberapa dekade lalu bernama Dorothy Day sangat menggandrungi Misa Tridentin. Paus Yohanes Paulus II pun tidak jarang merayakan Misa yang dipromulgasikan Paus Pius V pada 14 Juli 1570 ini. Tetapi sebaliknya, seorang Uskup Agung ‘ultrakonservatif’ di Perancis bernama Lefebvre dikeluarkan (diekskomunikasi) dari Gereja gara-gara – satu dari banyak alasan lain – merayakan Misa yang sepenuhnya menggunakan bahasa Latin ini. Perbedaan dan gesekan semacam ini menjadi perhatian Paus. Dia menginginkan umat universal bisa bersatu, sebagaimana Gereja yang pada hakikatnya adalah Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Mereka yang pro terhadap Misa ini beranggapan bahwa liturgi ini adalah kekayaan tradisi Gereja yang pernah mengisi relung-relung rohani seluruh umat di atas planet ini sepanjang ratusan tahun. Mengapa ini tidak kita segarkan kembali? Misa ini terbukti mengandung keagungan dan kesakralan tersendiri. Membuka kemungkinan perayaan Misa yang praktis tidak pernah dibuat lagi sejak 1969, berarti juga membuka kemungkinan untuk mengajak kembali kesatuan dalam Gereja Katolik Roma. Sementara Misa ‘biasa’ yang kita kenal sekarang ini dikritik terlalu banyak eksperimen, penuh dengan coba-coba yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sehingga berisiko mengandung banyak penyimpangan.

Banyak pihak dan pemimpin Gereja memandang Misa ini dengan perasaan enggan. Ekspos yang berlebihan ‘demi persatuan dan penyeragaman’ justru berisiko melahirkan konflik dan perpecahan. Belum lagi kesulitan praktis dan teknis, yaitu semakin langka orang memahami bahasa Latin yang pada dasarnya melekat dengan Misa ini.

Praktik pastoral konkret mengenai Misa Tridentin di tengah-tengah umat ternyata jauh lebih rumit dari apa yang dikatakan dalam dokumen atau secarik kertas. Pastoral umat selalu memperhitungkan aspek-aspek psikologi, sosiologi, antropologi, bahkan politik umat. Terlalu gegabah menjelaskan pro-kontra praksis penggembalaan umat langsung hanya dengan argumen normatif, seperti ‘taat dan tidak taat’, ‘setia atau tidak setia pada tradisi suci’, sepaham atau tidak dengan Gereja’

Disadur dari: Majalah Hidup, Edisi No. 41 Tanggal 9 Oktober 2011

Misa Tridentin: Pro dan Kontra

Misa Tridentin: Pro dan Kontra

HIDUPKATOLIK.com - Misa Tridentin adalah sebuah bentuk Misa Ritus Romawi yang diundangkan oleh Paus Pius V pada 1570, berdasarkan keputusan Konsili Trente, dan diberlakukan di seluruh Gereja Barat, kecuali wilayah-wilayah dan Lembaga Hidup Bakti yang mempunyai tradisi tata cara Misa yang telah berusia 200 tahun.

Pada 1962 Paus Yohanes XXIII mengundangkan kembali Misa Tridentin, yang dipakai hingga November 1969 ketika diperkenalkan Misa Paulus VI, sebagai tindak lanjut pembaruan liturgi dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), khususnya dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci.

Dokumen pendukung

Sejak digunakan Tata Cara Misa Baru pada 1969, Misa Tridentin tidak pernah secara eksplisit dibatalkan. Melalui Konstitusi Apostoliknya, Paus Paulus VI menghendaki agar Tata Cara Misa Baru menggantikan Tata Cara Misa pra-Konsili. Sementara itu muncul kelompok-kelompok yang melawannya dan menghendaki agar Misa Tridentin tetap dapat digunakan. Menanggapi situasi ini, pada 3 Oktober 1984 Kongregasi Ibadat mengeluarkan surat Quattuor Abhinc Annos yang menyatakan, para uskup dapat memberikan izin (indult) kepada para imam dan umat yang menghendaki Misa Tridentin 1962 dengan syarat tertentu.

Pada 2 Juli 1988 Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan Surat Apostolik Motu Proprio Ecclesia Dei yang mengizinkan kelompok-kelompok tertentu merayakan Misa Tridentin dengan izin uskup setempat.

Pada 7 Juli 2007 Paus Benedictus XVI melalui Motu Proprio Summorum Pontificum menegaskan, umat Katolik diizinkan untuk merayakan Misa Tridentin 1962 yang disebut forma extraordinaria, tanpa perlu izin khusus dari uskup setempat. Sebenarnya Paus ingin merangkul semua umat Katolik dalam kesatuan dengan Gereja. Motu Proprio ini kemudian diteguhkan dengan Instruksi Pelaksanaannya yang dikeluarkan oleh Komisi Kepausan Ecclesia Dei pada 30 April 2011.

Pro dan kontra

Ada pandangan pro dan kontra tentang Misa Tridentin. Pro-nya, pertama, untuk membangun sikap toleransi bagi mereka yang mencintai liturgi ini sehingga diharapkan mereka tetap bersatu dengan Gereja. Kedua, Gereja diperkaya dengan Tata Cara Liturgi Lama yang berbahasa Latin. Ketiga, Bapa Suci melihat, tidak ada pertentangan antara liturgi pra-Konsili dan paska-Konsili; ada kontinuitas antara Liturgi Lama dan Liturgi Baru. Keempat, Misa Tridentin dirasakan lebih khusyuk, karena ada banyak waktu hening saat Doa Syukur Agung didaraskan secara berbisik-bisik oleh imam. Imamnya pun perlu mempersiapkannya dengan matang karena ada banyak rubrik (aturan) yang harus ditaati.

Kontra-nya, Misa Tridentin lebih dirasakan sebagai pertunjukan karena bahasa dan struktur yang digunakan. Umat tidak mengerti bahasa Latin sehingga tidak dapat mengikuti doa-doa yang didaraskan. Umat hanya “menonton” imam yang melakukan ritual, karena sama sekali tidak ada partisipasi umat di dalam Misa. Situasi inilah yang ingin diperbarui oleh Konsili Vatikan II. Konstitusi tentang Liturgi Suci menegaskan, liturgi merupakan perayaan iman umat. Liturgi bukan hanya urusan imam belaka, tetapi menjadi urusan umat seluruhnya. Dengan demikian, dibutuhkan partisipasi umat secara penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (SC 14). Penekanan unsur persekutuan ini merupakan ciri paham Gereja sebagai umat Allah. Ciri ini tampak dalam posisi imam yang menghadap ke umat: ada kebersamaan, ada komunikasi, ada perayaan bersama. Rubrik-rubrik yang rumit tidak lagi diterapkan dalam Liturgi Baru. Ada penyederhanaan liturgi supaya umat dapat lebih memahami simbol-simbol yang digunakan dan imam pun tidak perlu menjadi skrupel, tegang, atau takut.

Istilah “extraordinaria” sering disalahartikan sebagai “yang istimewa”. Padahal maksudnya adalah “yang di luar kebiasaan umum”. Maka, tepat dikatakan, Tata Perayaan Ekaristi yang baru tetap merupakan bentuk Ekaristi yang biasa dan baku, sedangkan Misa Tridentin dapat dilakukan di luar yang biasa.

B.A. Rukiyanto SJ
Penulis adalah seorang imam, dosen di Yogyakarta.

Disadur dari: Majalah Hidup Katolik, Edisi No. 41 Tanggal 9 Oktober 2011

Misa Tridentin: Warisan Liturgi yang Dipertahankan

Misa Tridentin: Warisan Liturgi yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin bagi semua imam dan umat Katolik. Surat tersebut dikeluarkan pada 7 Juli 2007, dan mulai diberlakukan pada 14 September 2007.

Seiring dipromulgasikannya Summorum Pontificum, Bapa Suci juga menuliskan surat kepada seluruh uskup, dengan tanggal yang sama, untuk memberikan penjelasan dan petunjuk pelaksanaannya. Paus menyebutkan, Gereja Katolik Roma tetap hanya mempunyai satu ritus, tetapi dapat dirayakan dengan dua tata cara liturgi resmi.

Tata cara tridentin disebut sebagai bentuk liturgi yang luar biasa (forma extraordinaria); sedangkan tata cara liturgi hasil pembaruan Konsili Vatikan II disebut sebagai bentuk liturgi yang biasa (forma ordinaria). Bentuk liturgi yang biasa ini adalah tata cara yang dipromulgasikan pada tahun 1970, pada masa Paus Paulus VI, dan pembaruan terakhir dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 2005. Oleh karena itu, tata cara yang biasa tersebut dikenal dengan Missale Romanum Paulus VI.

Keduanya, baik bentuk liturgi yang biasa maupun yang luar biasa, adalah sama dan tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Dua cara liturgi itu tetap menunjukkan ekspresi tata doa (lex orandi) Gereja yang bersumber dari satu ritus Gereja Latin Roma yang sah.

Sebenarnya Summorum Pontificum sebagai motu propio (dengan kehendak sendiri) merupakan penegasan dari motu propio Ecclesia Dei yang dipromulgasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 2 Juli 1988. Reksa pastoral Yohanes Paulus II tersebut didorong oleh adanya survei dari para uskup seluruh dunia yang termuat dalam Notitiae (1981). Dua dokumen motu propio tersebut secara tegas mengizinkan pelaksanaan Missale Romanum 1962 yang tidak lain adalah tata cara tridentin.

Dalam Summorum Pontificum, Paus Benediktus XVI juga mengutip dokumen khusus tentang pelaksanaan tata cara tridentin, Quattuor Abhinc Annos, yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat pada 1984.

Komisi Ecclesia Dei

Dalam perkembangannya, pada 1991 Takhta Suci membentuk Komisi Kepausan Ecclesia Dei yang diberi wewenang untuk melaksanakan dan memantau ketaatan pada keputusan Surat Apostolik Bapa Suci. Saat ini Ecclesia Dei diketuai oleh Kardinal William J. Levada, Prefek Kongregasi Ajaran Iman.

Pada 30 April 2011 Komisi Ecclesia Dei mengeluarkan instruksi tentang penerapan Summorum Pontificum. Instruksi tersebut berisi tentang hal-hal praktis yang terkait dengan pelaksanaan tata cara tridentin. Imam dan umat berhak merayakan Misa Tridentin dengan memperhatikan syarat-syarat tertentu. Misalnya, pengetahuan dan pemahaman bahasa Latin harus memadai, tidak terhalang oleh Hukum Kanonik untuk merayakan Misa, dan imam mampu menunjukkan diri secara spontan dan terbiasa atau pernah merayakan Misa ini. Begitupun bagi para uskup diosesan. Para uskup bertugas memantau dalam rangka menjamin kebaikan bersama dan menjamin pelaksanaan serta penghormatan terhadap tata cara tridentin ini sesuai dengan amanat Bapa Suci dalam Summorum Pontificum.

Hal fundamental dalam instruksi ini adalah larangan untuk mempertentangkan validitas tata cara tridentin dengan tata cara biasa. Dalam Perayaan Ekaristi, bacaan Misa dapat dinyatakan dalam bahasa Latin, atau bahasa Latin diikuti bahasa setempat, atau hanya dalam bahasa setempat. Bahkan, demi kebutuhan pastoral, uskup diosesan berwenang memastikan calon imam dilatih untuk merayakan tata cara yang tidak biasa ini.

Tujuan ‘Summorum Pontificum’

Banyak orang menangkap bahwa Summorum Pontificum hanya bertujuan untuk merangkul kembali kelompok Mgr Marcel Lefebvre, yang dikenal sebagai kelompok tradisionalis Society of St Pius X (SSPX). Kelompok ini menentang hasil Konsili Vatikan II. Pada 1998 SSPX diekskomunikasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Tetapi, setahun setelah mengeluarkan Summorum Pontificum, pada 2008 Paus Benediktus XVI mencabut ekskomunikasi kelompok ini.

Namun, dokumen tersebut sebenarnya bertujuan untuk menawarkan kepada umat tata cara liturgi tua (usus antiquior) dalam Gereja Katolik sebagai harta bernilai yang harus dipertahankan. Hal ini direfleksikan sebagai reksa pastoral bagi umat yang ingin merayakannya. Dalam dokumen lain, Sacramentum Caritatis, juga disinggung tentang khazanah Gereja yang harus dipelihara dan dilestarikan, antara lain penggunaan bahasa Latin.

R.B. Agung Nugroho

Disadur dari: Majalah Hidup Katolik, Edisi No. 41 Tanggal 9 Oktober 2011

Fenomena Misa Tridentin

Fenomena Misa Tridentin

HIDUPKATOLIK.com - Misa Tridentin merupakan salah satu bentuk Misa Ritus Romawi yang mengacu pada Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII pada 1962. Di Indonesia, Misa ini masih dipraktikkan.

Mereka yang menghayati tata liturgi yang tidak biasa (for­ma extraordinaria) ini tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar. Dari pengamatan HIDUP, setidaknya praktik Misa ini berlangsung di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Bahkan, tidak hanya Misa Tridentin tetapi juga pemberkatan perkawinan, pemberkatan ibu-ibu hamil, dan pemberkatan rumah. Keberadaan komunitas ini dan informasi tentang Misa Tridentin juga dapat ditemukan di akun facebook “Kami Cinta Ritus Tridentin”, situs “www.misa1962.org”, dan blog "http://tradisikatolik.blogspot.com”.

Sutradara dan aktor kondang Mel Gibson, kabarnya secara rutin juga merayakan Misa Tridentin di gereja tradisional dekat rumahnya di Malibu, California. Tetapi, ia mengikuti ajaran komunitas Society of Pius X (SSPX), pengikut Marcel Lefebvre, uskup agung yang diekskomunikasi Gereja Katolik pada 1998. Tetapi, pada 2008, Paus Benediktus XVI telah mencabut ekskomunikasi tersebut.

Misa Tridentin sebenarnya adalah bentuk liturgi Misa yang digunakan oleh Gereja di seluruh dunia sejak 1570. Liturgi Misa Tridentin yang sekarang digunakan adalah Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII. Misa Tridentin dirayakan dengan menggunakan bahasa Latin. Sedangkan liturgi Misa yang umum dipakai sekarang mengacu pada Missale Romanum Paulus VI yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Liturgi Misa Paulus VI ini disebut bentuk liturgi biasa (forma ordinaria), dengan menggunakan berbagai bahasa sesuai kebutuhan umat setempat.

Trend di Indonesia

Di Indonesia sudah terbentuk beberapa komunitas pencinta Misa Tridentin. Misalnya, Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus di Jakarta. Andre Prasetya dipilih sebagai koordinator kelompok ini. Pada 2009 Andre mengenal Misa Tridentin tatkala diajak adiknya untuk mengikuti Misa Tridentin yang diorganisasi oleh Thomas Rudy Haryanto. Andre mengatakan, jumlah umat yang hadir sangat tergantung pada tempat di mana Misa diselenggarakan. Misalnya, di Kembang Wangi, biasanya dihadiri 10-20 orang; ketika diselenggarakan di Inti College, jumlah umat sekitar 15-40 orang. Jumlah umat yang hadir bisa mencapai 5.000 orang, ketika Misa diadakan di gereja.

Dalam Misa biasa, Doa Syukur Agung dibacakan secara lantang oleh imam. Sedangkan dalam Misa Tridentin, imam membacakannya secara ‘bisik-bisik’. Selain itu, bacaan epistola hanya ada satu, sedangkan bacaan Injil ada dua. Injil kedua dibacakan di akhir Misa dan selalu diambil dari Injil Yohanes 1.

Aktivis Misa Tridentin dari Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus, Thomas Rudy Haryanto, mengenal Misa Tridentin melalui buku maupun internet. Ia menemukan, ternyata ada bentuk liturgi lain yang tidak biasa yang digunakan sebelum Konsili Vatikan II, yaitu Tridentin. Kemudian, pada 2007 muncul peraturan yang menyatakan dapat menggunakan bentuk liturgi yang tidak biasa tersebut. Selanjutnya, ia minta seorang imam untuk mempersembahkan Misa Tridentin. Misa perdana dirayakan di rumahnya pada 2008, atas izin pastor Kepala Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat. Dan, Misa Tridentin ini berlanjut di rumah orangtuanya di Puri Kembangan, Jakarta Barat.

Rudy berpendapat, ada perbedaan aspek teologis antara Misa biasa dan Misa Tridentin. Misa biasa menekankan pada aspek kebersamaan, sedangkan Misa Tridentin menekankan pada aspek kurban. Misa Tridentin banyak membuat tanda salib, karena yang ingin ditonjolkan adalah kurban Kristus yang disalib. Ada sekitar 20 kali membuat tanda salib selama Misa. Selain itu, ada ‘acara’ penciuman altar yang dilakukan sekitar 10 kali. Peran imam sangat mencolok dalam Misa ini, karena ingin menonjolkan imam sebagai yang serupa dengan Kristus sendiri (in persona Christi). Hal ini berarti menekankan ajaran mengenai pentingnya Imamat Jabatan, dan perbedaannya dengan Imamat Umum kaum beriman. Lebih lanjut Rudy menjelaskan, Imamat Jabatan ditonjolkan agar kurban salib dapat terlaksana, yakni tanpa imam, tidak ada Misa.

Sementara di Surabaya, ada Kelompok Studi dan Koor Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS) yang telah diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, 30 Mei 2008. Anggota SCS berasal dari berbagai paroki di Surabaya, antara lain Paroki Katedral Surabaya, St Yusup Karang Pilang, dan Salib Suci Sidoarjo. Umur anggotanya pun bervariasi, berkisar antara 18 sampai 66 tahun. Kelompok ini berkumpul seminggu sekali untuk belajar bersama tentang tradisi musik Gregorian dan liturgi Gereja. Di samping itu, atas prakarsa Romo Eko Budi Susilo Pr, SCS juga mendaraskan Ibadat Penutup (Completorium) di Katedral setiap hari Minggu pukul 21.00-21.30.

Peminat liturgi dan tradisi Katolik asal Surabaya, Albert Wibisono mengatakan, baik Misa dengan tata cara biasa maupun yang tidak biasa, baik dan sah menurut Takhta Suci. Namun, yang hendaknya diperhatikan adalah peningkatan kualitas dan keterampilan imam, pelayan katekese umat, dan syarat untuk bisa merayakan Ekaristi.

Albert menambahkan, partisipasi aktif yang diamanatkan dalam Konsili Vatikan II tidaklah berarti bahwa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dan/atau menyanyikan semua lagu dalam Misa. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam, dan ada aklamasi-aklamasi yang merupakan bagian umat, misalnya aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membaca Sabda Tuhan dan umat mendengarkan (bukan ikut membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Sikap diam dan khusyuk mendengarkan serta menghayati doa, bacaan Kitab Suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam Misa. Mendengarkan mungkin menjadi bentuk partisipasi aktif yang tersulit. Akhirnya, partisipasi batiniah lebih penting daripada partisipasi lahiriah.

Tanggapan hirarki

Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI), Pastor Bosco da Cunha OCarm, mengatakan, Paus Benediktus XVI telah menerbitkan Surat Apostolik Summorum Pontificum, melanjutkan apa yang sudah direstui oleh para paus pendahulunya. Pada 1991 Paus Yohanes Paulus II membentuk Komisi Kepausan Ecclesia Dei, sebuah komisi khusus untuk mengurusi dan menangani realisasi Misa Tridentin. Segala hal atau persoalan yang terkait dengan pelaksanaan Misa Tridentin dari seluruh Gereja universal ditampung dan diolah dalam komisi ini.

Menurut Romo Bosco, Sri Paus melihat, masih ada kelompok-kelompok yang ingin bernostalgia dan merasa cocok hatinya dengan gaya liturgi lama (lagu-lagu Latin, penggunaan bahasa Latin, perayaan dengan imam yang terkesan sangat sakral). Mereka juga harus tetap dihormati dan dilayani.


A. Eddy Kristiyanto OFM & Bosco da Cunha OCarm [Dok. HIDUP]

Komlit KWI, demikian Romo Bosco, tidak mengurusi persoalan-persoalan tentang tridentin. Persoalan tersebut langsung diserahkan pada kewenangan para uskup diosesan di keuskupan masing-masing. Dalam Surat Apostolik juga tidak dijelaskan bahwa KWI harus mendukung. Namun, ada poin yang mengatakan bahwa uskup hendaknya memberikan pelayanan. “Seorang uskup yang ingin memenuhi permintaan dari umat, tetapi karena berbagai alasan tidak dapat memenuhinya, dapat langsung melaporkan kepada Komisi Ecclesia Dei di Roma yang akan memberikan bimbingan dan pemberitahuan lebih lanjut,” jelasnya.

Sedangkan pakar sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Prof Dr A. Eddy Kristiyanto OFM mengatakan bahwa tujuan Misa Tridentin adalah ingin mengakomodasi kelompok Santo Pius X yang dulu memisahkan diri atau dipisahkan dari Gereja Katolik Roma, karena Uskup Agung Marcel Lefebvre tidak mau menandatangani Konsili Vatikan II. Maka, Paus Benediktus XVI berusaha merangkul kembali. “Sri Paus ini sangat cerdas, mengarah ke suci, tapi juga sangat konservatif,” kata imam Fransiskan ini. Dalam motu proprio, yakni inisiatif pribadi Bendiktus XVI, dijelaskan bahwa Misa Tridentin tidak dianjurkan, tetapi apabila ada yang berkeinginan menyelenggarakan, kebijakannya diserahkan masing-masing keuskupan. Problem yang muncul, demikian Romo Eddy, adalah umat tidak menguasai bahasa Latin. Tetapi, jika ada orang yang merasa lebih tenang dengan misa ini, haruslah dilayani hanya sesekali saja. Jadi, kendalanya bukan pada perayaannya, melainkan pada bahasanya.

Di tempat terpisah, seorang imam di Malang mengatakan, Misa Tridentin itu mengacaukan liturgi. Maksudnya, umat sudah terbiasa dengan pembaruan liturgi Konsili Vatikan II, dengan segala pengetahuan liturgi yang begitu luas, tetapi justru diajak kembali ke belakang lagi. Seolah-olah Gereja mengalami kemunduran dan kembali ke zaman pra Konsili Vatikan II.

Benny Sabdo
Laporan: Aprianita Ganadi, Laurentia Rosalina, R.B. Agung Nugroho

Disadur dari: Majalah Hidup Katolik

BACAAN HARI MINGGU ADVEN I TAHUN B, 27 Nopember 2011

BACAAN HARI MINGGU ADVEN I TAHUN B,
27 Nopember 2011
Yes 63:16b-17, 64:1,3b-8, Mzm 80:2ac,3b,15-16,18-19, 1Kor 1:3-9, Mrk 13:33-37

BACAAN I: Yes 63:16b-17, 64:1,3b-8

“Sekiranya Eng
kau mengoyakkan langit dan turun.”

Ya Tuhan, Engkau sendirilah Bapa kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sej
ak dahulu kala. Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu? Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik kepunyaan-Mu!
Sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu karena Engkau melakukan kedahsyatan yang tidak kami harapkan, seperti tidak pernah didengar orang sejak dahulu kala! Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian. Engkau menyongsong mereka yang melakukan yang benar dan yang mengingat jalan yang Kautunjukkan! Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm 80:2ac,3b,15-16,18-19

Reff.: Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

1. di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami.
Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

2.batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!
Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu!

3. maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu.
Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

BACAAN II: 1Kor 1:3-9

“Kita menantikan penampakan Tuhan kita Yesus Kristus.”
Saudara-saudara, kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.

BACAAN INJIL: Mrk 13:33-37

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamana tuan rumah pulang!”

Pada suatu waktu Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!"

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Sabtu 26 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Sabtu 26 Nopember 2011
(Leonardus, Yohanes Berchmans)
Dan 7:15-27 , MT Dan 3:82,83,84,85,86,87, Luk 21:34-36

BACAAN INJIL:
"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

RENUNGAN:
Sekali waktu seorang ibu datang untuk meminta supaya suaminya bisa dikuburkan dalam tatacara gereja katolik. Beliau datang sendiri ke pastoran karena pengurus gereja di stasi tidak mau melayani mereka. Ibu itu menerangkan bahwa suaminya dulu adalah seorang pengurus gereja. Ini tentu suatu hal yang aneh. Karena terasa aneh, saya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ibu itu menelepon pengurus gereja dan meminta datang ke pastoran untuk membahasnya. Sesudah di pastoran, pengurus gereja menjelaskan alasan keengganan mereka melayani menguburkan suami dari ibu itu. Pengurus gereja itu di menjelaskan bahwa suami ibu itu memang dulu pernah menjadi pengurus Gereja lima tahun yang lalu, tetapi setelah tidak lagi menjadi pengurus gereja, yang meninggal dan keluarga itu hampir tidak pernah lagi ke gereja hingga dia meninggal juga tidak memenuhi kewajiban-kewajiban mereka terhadap gereja. Baru ketika suami ibu meninggal, ibu itu dan keluarganya datang kepada pengurus gereja untuk meminta penguburan dengan alasan bahwa mereka belum pindah agama, masih tetap katolik.

Kejadian seperti ini sering terjadi, orang datang dan mengaku sebagai orang beriman karena membutuhkan pelayanan dari Gereja, padahal dalam keseharian mereka tidak memperlihatkan bahwa mereka beriman. Terkadang orang menganggap bahwa beriman itu cukup hanya mengatakan diri percaya pada Yesus, cukup dengan hanya dibaptis. Juga menganggap bahwa mereka masih tetap anggota Gereja karena mereka sudah dibaptis, walau tidak aktif selama ini merasa masih punya hak menuntut pelayanan dari Gereja. Banyak juga diantara kita yang sering perpikiran bahwa menghayati iman atau rajin atau aktif dalam kegiatan gereja, nanti setelah tua dan hampir mati saja, atau nanti setelah pensiun atau setelah kaya dulu, sehingga sebelumnya hidup menikmati dunia atau sibuk dalam kegiatan dunia, dalam pekerjaan dan menikmati hidup. Ya, kalau kita bisa mengetahui dan menentukan kematian kita, mungkin prinsip seperti itu tidak apa-apa. Namun kenyataannya, tidak seorangpun yang bisa mengetahui dan menentukan kapan kematiannya secara pribadi, sebab kematian sering datang secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Sehingga bila seseorang mati setelah bertobat, itu bagus, namun seringkali terjadi seseorang mati sebelum bertobat, sebelum rajin atau aktif dalam iman.

Kita tahu bahwa tidak seorangpun bisa mengetahui dan menentukan kematiannya yang merupakan hari Tuhan datang untuk mengambilnya dari kehidupan dunia ini. Maka, jangan menunda untuk beriman.Ingatlah bahwa yang terpenting bukan apa yang telah kita buat selama ini dan sudah berapa lama kita beriman, tetapi yang terpenting adalah bahwa ketika kematian datang, kita hidup dalam iman. Oleh sebab itu, mari kita berjaga-jaga dengan senantiasa hidup dalam iman dan melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan dan kita senantiasa berdoa agar kita beroleh kekuatan dalam menghadapi hidup. Doa terus menerus dan doa yang keluar dari iman, akan membuat kita mampu menghadapi persoalan hidup, memampukan kita untuk menghindari pesta pora, godaan-godaan kenikmatan dunia, sehingga semuanya itu tidak menjauhkan kita dari Tuhan. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Jumat 25 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Jumat 25 Nopember 2011
(Katarina dr Aleksandria)
Dan 7:2-14 , MT Dan 3:75,76,77,78,79,80,81, Luk 21:29-33

BACAAN INJIL:
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."

RENUNGAN:
“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."

Pada kenyataannya semua pasti akan berlalu, ada yang musnah, tidak ada sama sekali dan ada yang hanya menjadi suatu kenangan yang tidak mungkin diulang lagi. Dari pengalaman hidup kita jelas mengetahui bahwa tidak selamanya musim kemarau, pasti akan tiba waktunya menjadi musim hujan, demikian sebalikya. Juga pohon tidak selamanya berbuah, pasti ada saatnya tidak berbuah dan bahkan pohon itu mati termakan usia atau karena hama. Perubahan juga terjadi dalam zaman kita. Hidup manusiapun bisa berubah, dari kecil, besar, dewasa dan akhirnya mati. Ada pula yang dulunya kaya berubah menjadi miskin atau sebaliknya. Jelas dari semuanya itu kita ketahui bahwa dalam hidup di dunia ini tidak ada yang abadi/kekal.

Dari pengalaman hidup juga kita mengetahui bahwa semua orang pasti mati dan kita juga tahu bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh jabatan, pangkat, kekausaan dan harta duniawi. Semua harta duniawi sifatnya adalah sementara, tidak kekal dan pada suatu saat semuanya itu pasti akan musnah dan tidak akan bisa berbuat apa-apa, misalnya manakala manusia harus mati, harta duniawi tidak bisa mempertahakan hidup manusia dan tidak bisa menyelamatkan manusia.

Hal itu semua pasti sudah kita ketahui. Namun hal ini harus kita ketahui dan yakini bahwa ada yang tidak pernah akan berubah, yakni Sabda Tuhan, kasih Tuhan kepada kita. Sabda Tuhan kepada kita tidak pernah berubah, sabda itu sejak semula dan sampai selamanya adalah sabda Tuhan yang membawa kita kepada keselamatan dan kebahagiaan kekal. Demikian juga kasih Tuhan kepada kita tidak akan pernah berubah, tidak akan pernah musnah dan tidak ada yang bisa menghalangi kasih Allah kepada kita. Walaupun kita seringkali tidak setia dengan hidup tidak mendengarkan sabda Tuhan, tidak setia kepada-Nya, namun Tuhan tetap setia mengasihi kita.

Oleh karena itu, baiklah kiranya hari ini kita sadar dan menyakin bahwa semua yang ada di dunia ini pasti berubah dan pasti akan musnah, sehingga baiklah kiranya kita tidak mempertahankan hidup dunia dan harta dunaiwi, baiklah kiranya tidak mengandalkan atau menggantungkan hidup pada hidup dunia dan harta duniawi. Tetapi yakinilah bahwa hanya sabda Tuhan, kasih Tuhan dan Tuhan itu sendirilah yang kekal, tidak akan pernah berubah dan tidak akan musnah. Dengan demikian kita hendaknya selalu mendengar dan melaksanakan sabda Tuhan, kita selalu mengandalkan dan berpegang pada sabda Tuhan dan kepada Tuhan sendiri. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Kamis 24 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Kamis 24 Nopember 2011
(Andreas Dung Lac, Ignasius Delgado, Vinsensius Liem, Dominikus An-Kham)
Dan 6:12-28, MT Dan 3:68,69,70,71,72,73,74, Luk 21:20-28

BACAAN INJIL:
"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu." "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."

RENUNGAN:
“...Mungkin Tuhan mulai bosan Melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan Bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang
“. Lirik lagu ini berjudul Berita kepada Kawan, nyanyian Ebiet G. Ade. Lagu ini mengisahkan penderitaan karena bencana alam dan pada saat itu terjadi umumnya orang mempertanyakan peran Tuhan. Dia menyatakan bahwa mungkin Tuhan sudah bosan mlihat manusia sehingga membiarkan penderitaan itu datang atau malah berpikir karena itu pula Tuhan mendatangkan bencana yang membuat manusia menderita. “Masihkah Tuhan mengasihi kita, dan apakah Tuhan itu sungguh ada?” Kalau Tuhan itu ada dan mengasihi kita, tentu Dia tidak membiarkan semuanya ini terjadi!” Pernyataan dan pertanyaan seperti ini kerap akan terlontar menakala persoalan, penderitaan dan kematian terjadi baik itu karena kemiskinan, karena penyakit, karena perang dan karena bencana alam.

Hal yang menarik bahwa seringkali ketika terjadi gempa, banyak orang yang menyerukan nama Tuhan, seakan mereka ingat Tuhan saat pengalami penderitaan dan banyak pula orang rajin ke Gereja, gereja menjadi penuh. Namun ketika gempa atau bencana itu mereda, orang tidak ingat lagi akan Tuhan dan kembali tidak rajin ke gereja. Akan tetapi hal yang seringkali juga terjadi adalah bahwa umumnya orang seringkali menganggap bahwa dalam penderitaan Tuhan tidak hadir atau penderitaan itu adalah hukuman dari Tuhan. Benarkah hal itu semuanya?

Tentu pernyataan itu tidaklah benar dan tidak pernah bencana alam, penderitaan itu berasal dari Allah dan Allah sengaja membiarkannya terjadi karena Tuhan sudah bosan dengan tingkah laku manusia yang penuh dengan kesalahan dan dosa. Tuhan tidak pernah mendatangkan bencana atau penderitaan untuk menghukum manusia.

Dalam Injil hari ini, kembali Yesus menegaskan dan mengingatkan kita bahwa penderitaan, bencana dan kematian pasti akan kita hadapi, namun hendaknya kita tetap yakin bahwa Tuhan selalu hadir bersama dengan kita. Dalam hal ini Yesus mengatakan “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." Tuhan tidak pernah jauh dari kita dan Dia juga tidak pernah mendatangkan penderitaan pada kita. Namun pada saat kita mengalami penderitaan, kita hendaknya bangkit dan mengangkat muka kita, sebab penyelamat kita sudah datang. Kata-kata Yesus ini bisa kita mengerti sebagai ajakan agar pada saat mengalami persoalan dan penderitaan kita bangkit dari iman yang kurang percaya dan kita menguatkan iman bahwa Tuhan penyelamat kita hadir bersama kita. Sehingga dengan demikian, baiklah kiranya saat mengalami penderitaan, kita bukannya mempertanyakan kehadiran dan cinta Tuhan pada kita, bukannya semakin tidak percaya pada Tuhan, tetapi kita bangkit dalam iman, semakin beriman kepada Tuhan, dan ini menjadi kekuatan dasyat bagi kita dalam mengahadapi semuanya. Injil hari ini jelas mengajak kita tidak sudah takut dan gentar menghadapi penderitaan yang kita alami, sebab Tuhan beserta kita.

Kita percaya bahwa hidup yang sekarang bukanlah segala-galanya, bukanlah hidup yang sejati, masih ada kehidupan kekal setelah kematian di dunia ini, yakni hidup bersama Allah dalam kebahagiaan surga, hidup kekal. Hidup kekal itu kita peroleh hanya setelah kita mengalami kematian dalam dunia ini dan bila kita selalu setia kepada Allah dalam hidup. Tidak ada yang sampai pada kehidupan kekal bila tidak percaya pada Tuhan dan dia harus melalui kematian terlebih dahulu. Dengan keyakinan iman ini, menjadi suatu kekuatan bagi kita dalam menghadapi semua penderitaan. Dengan kata lain, saat mengalami penderitaan kita tidak takut, tetapi tetap setia pada Tuhan sebab kita percaya bahwa ada kehidupan kekal menanti kita setelah kita mengalami penderitaan dan bila kita mengalami kematian.

Semuanya ini memang kadang terasa aneh dan sulit kita lakukan. Namun bagi kita jelas bahwa semua orang pasti akan mengalami penderitaan dan kematian. Namun lebih pasti lagi bagi kita, bahwa masih ada kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan kehidupan kekal itu kita peroleh setelah mengalami kematian di dunia ini. Sehingga pendertiaan dan kematian tidak membuat kita takut sebab kita yakin bila kita tetap percaya kepada Tuhan, kehidupan kekal malah sudah siap menanti kita. Maka dalam penderitaan kita hendaknya selalu percaya pada Tuhan. Amin.

Penutupan Sidang KWI 2011

Penutupan Sidang KWI 2011
KONFERENSI PERS Bersama Ketua dan Sekretaris Jendral KWI Pada Penutupan Sidang Tahunan KWI
7 - 17 November 2011


Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tahun 2011, yang berlangsung sejak tanggal 7 sampai dengan tanggal 17 November 2011, baru saja ditutup secara resmi. Tahun ini Gereja Katolik Indonesia merayakan dengan syukur Yubileum Emas berdirinya Hierarki Gereja Katolik di Indonesia. Sebanyak 36 Uskup dari seluruh Indonesia yang tergabung di dalam KWI tersebut telah berhimpun untuk membahas keberadaan hierarki Gereja Katolik di Indonesia itu, dengan mensyukuri segala rakhmat dan berkat yang boleh dialaminya selama 50 tahun itu.

Setelah dalam dua sidang tahunan sebelumnya para Waligereja Indoneisa itu merefleksikan tugas pelayanan Gereja di bidang pendidikan dan kesehatan, tahun ini fokus perhatian dipusatkan pada pelayanan pewartaan atau katekese. Oleh karena itu telah dipilih tema persidangan tahun ini

"Mewartakan Injil adalah rahmat dan panggilan khas Gereja,
merupakan identitasnya yang terdalam"
(Evangelii Nuntiandi, a.14)

Menyadari pentingnya tugas tersebut, tiga hari pertama di awal Sidang Tahunan KWI 2011 ini, para Uskup menyelenggarakan hari studi tentang katekese.

Mencermati Karya katekese di Indonesia

Setelah mencermati karya katekese di Indonesia pertama-tama pantaslah disyukuri adanya arah yang jelas, yang dirumuskan dan dikembangkan dalam Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se Indonesia (PKKI) I-IX, yaitu Katekese Umat.

Namun para peserta juga menyadari masih adanya pelbagai tantangan dan keprihatinan, sehingga hasil perumusan katekese Umat dalam PKKI tidak seutuhnya dapat dilaksanakan.

Masih adanya pastor penanggungjawab katekese di tingkat paroki yang dirasa kurang memberikan perhatian pada karya katekese.

Refleksi Iman

Gereja dipanggil untuk mewartakan Kabar Gembira kepada dunia. Tugas ini adalah "rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam" (EN 14). Gereja mewartakan Injil, karena Injil itu "ragi yang menimbulkan perombakan di dunia ini" (FABC V, 8.1.4).

Langkah Tindakan Pastoral

Untuk membangkitkan dan menggairahkan karya katekese di Indonesia diperlukan langkah-langkah pastoral sebagai berikut:

1. Katekese Umat sebagai arah karya katekese di Indonesia perlu ditumbuh-kembangkan dalam lingkungan hidup umat, khususnya melalui komunitas-komunitas basis atau pun kategorial. Katekese umat perlu diperkaya dengan Injil, Tradisi dan ajaran Gereja.

2. Katekese sekolah tidak jarang merupakan satu-satunya kesempatan bagi banyak orang muda untuk menerima pengajaran dan pendidikan agama. Kerjasama antara penanggungjawab pastoral setempat dengan sekolah dan khususnya guru agama sekolah, perlu dikembangkan.

3. Perlu dikembangkan program katekese yang menyeluruh dan berkesi-nambungan sejak usia dini sampai usia lanjut. Untuk itu perlu kerjasama antara Komisi Kateketik KWI maupun Komisi Kateketik Keuskupan-keuskupan, dengan komisi-komisi lain yang terkait dengan pembinaan iman.

4. Berjalannya karya katekese sangat tergantung pada para petugas pastoral yang menjalankan katekese di tengah umat. Maka, perlulah pembinaan terus-menerus bagi para pelaksana atau fasilitator katekese umat tersebut.

5. Demi kemajuan karya katekese di Indonesia diperlukan orang-orang yang sungguh ahli dalam bidang katekese, yang harus disiapkan dengan sungguh-sungguh.

6. Karya katekese di tingkat paroki seringkali tergantung pada para imam pemimpin paroki. Maka pembinaan katekese bagi para imam dan calon imam mutlak diperlukan.

7. Salah satu tanda bahwa karya katekese merupakan prioritas utama dalam Gereja ditampakkan dalam dukungan finansial bagi program-program katekese maupun bagi pembinaan dan penghidupan para petugas pastoral yang berkarya di bidang katekese.

8. Perlu ditingkatkan mutu dan peranan lembaga pendidikan pastoral katekese dan kerjasamanya dengan lembaga pendidikan calon imam.

9. Dengan menyadari betapa pentingnya katekese dalam hidup dan perkem-bangan Gereja, kerjasama dengan pelbagai pihak, misalnya Bimas Katolik, perlu diusahakan dan dikembangkan.

Pemikiran-pemikiran penting tersebut mendesak untuk dituangkan dalam kebijakan-kebijakan praktis, baik di tingkat KWI, Regio atau Provinsi Gerejawi, keuskupan maupun di paroki-paroki.

Tentang Katekese ini KWI mengeluarkan "Pesan Pastoral KWI tentang Katekese".

Dalam pembahasan serta evaluasi dan perencanaan Komisi, Lembaga, Sekretariat, dan Departemen itu beberapa hal dibicarakan secara khusus, misalnya:

•1) Indonesian Youth Day 2012 yang akan diselenggarakan di Keuskupan Sanggau.

•2) Yang juga mendapat perhatian karena adanya permintaan untuk membicarakannya adalah hal-ikhwal mutakhir yang terjadi di Papua. Sehubungan dengan itu KWI merencanakan akan mengeluarkan semacam pernyataan sikap terhadap situasi Papua tersebut. Adapun yang menjadi gagasan-gagasan KWI adalah yang berikut ini:

KWI menyampaikan Seruan KWI tentang Papua: Hentikan Kekerasan! Marilah Berdialog!

Kekerasan di Tanah Papua masih terus terjadi walaupun sudah berulangkali diserukan oleh berbagai pihak agar masalah-masalah Papua diselesaikan dengan cara damai. Kesejahteraan masyarakat yang mau dibangun hanya bisa terwujud kalau ada suasana damai yang memungkinkan semua komponen masyarakat bekerja sama dengan tenang. Masalah-masalah sosial yang begitu banyak tidak mungkin diatasi dengan jalan kekerasan. Kekerasan yang dilawan dengan kekerasan hanya melahirkan kekerasan baru dan menambah masalah. Lebih buruk lagi kalau ungkapan pendapat dan pernyataan politik sekelompok masyarakat Papua, yang disampaikan secara terbuka dengan cara yang damai, lagi-lagi ditanggapi dengan gertak senjata, penangkapan, penganiayaan serta pembunuhan. Konferensi Waligereja lndonesia (KWl) menyatakan keprihatinan yang mendalam dan mengutuk tindakan kekerasan itu yang jelas-jelas tidak mengindahkan martabat manusia dan merampas hak hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap manusia.

Kekerasan terhadap masyarakat Papua dan pelanggaran hak-hak orang Papua adalah kisah dengan sejarah yang sudah amat panjang. Jeritan hati orang-orang Papua atas perlakuan itu tidak bisa hanya dianggap angin lalu atau dibungkam dengan himbauan dan kebijakan-kebijakan sesaat. Diperlukan keberanian Pemerintah Pusat untuk mengubah sikap dan mengambil langkah pendekatan, serta penyelesaian yang berfokus pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Papua. Sambil sekali lagi menegaskan keprihatinan dan solidaritasnya dengan semua yang menjadi korban kekerasan, Konferensi Waligereja lndonesia menyampaikan seruan ini kepada Pemerintah Pusat:

•· Kami mendorong Pemerintah Pusat untuk mewujudkan dialog dengan Masyarakat Papua. Niat Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono, yang pernah dicetuskan sejak awal pemerintahannya, untuk menyelesaikan masalah Papua, hendaknya kini diwujudkan. Jalan yang dipakai haruslah jalan dialog. Ucapan-ucapan indah seperti "membangun Papua dengan hati" hendaknya dimulai dengan dialog dari hati. Dengan hati lapang, tanpa stigmatisasi apapun, hendaknya Pemerintah mendengarkan jeritan hati orang-orang Papua dan kisah penderitaan yang dialaminya sejak integrasinya dengan NKRI.

•· Untuk mewujudkan dialog yan g konstruktif bagi seluruh masyarakat Papua, maka kami mendorong Pemerintah untuk memfasilitasi upaya-upaya mempertemukan berbagai komponen masyarakat Papua Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Majelis Rakyat Papua untuk mengakomodasi harapan-harapan mereka mengenai cara dan materi dialog.

•· Kelompok-kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Papua, entah OPM atau apapun juga namanya, baik yang berada di dalam negeri maupun yang di luar negeri, harus mendapat tempat utama dalam dialog itu. Untuk menjamin terjadinya dialog yang bermartabat, adil dan benar serta saling menghormati, harus ada pihak ketiga yang terpercaya untuk menjadi penengah.

•· Atas segala bentuk pelanggaran HAM yang dialami orang-orang Papua, Pemerintah harus berani menegakkan keadilan, meminta maaf, mengganti rugi dan memulihkan hak-hak orang Papua.

•· Undang-undang Otonomi Khusus bermaksud memberikan perlindungan dan kemudahan khusus untuk orang-orang Papua dalam membangun kesejahteraannya. Ada banyak hal yang belum terlaksana dari Otonomi khusus itu. Dengan banyaknya uang yang beredar di Papua, arus pendatang dari luar Papua pun makin deras. Dalam banyak bidang kehidupan, orang Papua terpinggirkan oleh pendatang-pendatang itu. Kami mendorong Pemerintah Pusat dan Daerah untuk menata kembali kependudukan dan lebih terarah mengutamakan persiapan tenaga kerja Papua untuk lapangan kerja yang ada.

•· Pasukan-pasukan keamanan yang ditempatkan di Tanah Papua terlalu banyak jumlah dan jenisnya. Mereka tidak mempunyai kegiatan yang secara positif mengisi waktunya dan bermanfaat untuk masyarakat setempat. Sikap dan perilaku mereka lebih sering menjadikan mereka musuh masyarakat dan bukan sebagai penjaga keamanan dan rasa aman bagi masyarakat. Kami mendorong Pemerintah untuk mengurangi jumlah TNI di Papua dan menempatkan di sana mereka yang matang serta mampu menjadi bagian dari masyarakat setempat sehingga betul menjadi pelindung masyarakat dan penjaminan keamanan.

Bersama dengan PGI KWI mengeluarkan Pesan Natal Bersama PGI-KWI 2011, yang berjudul: "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar" (Yes. 9:1a). Semoga Pesan Natal Bersama tersebut membawa terang di Indonesia, dan khususnya di Tanah Papua.

Demikian gagasan-gagasan kami para Uskup dari Konferensi Waligereja lndonesia. Seraya mengharapkan perhatian Pemerintah untuk apa yang kami suarakan, dengan ini kami menyatakan dukungan bagi para Pemimpin Agama dan semua pihak yang memperjuangkan terwujudnya Papua Tanah Damai.

Sekianlah beberapa hal yang bisa disampaikan di dalam Konferensi Pers kali ini. Hal-hal kecil dan rutin lain yang juga menjadi pokok pembicaraan dalam Sidang Tahunan tersebut tidak kami sebut di sini, karena lebih menyangkut hal-hal internal dan teknis organisatoris Lembaga KWI.

Jakarta, 17 November 2011


KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,

Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM.CapMgr. Johannes Pujasumarta
K e t u aSekretaris Jenderal


Disadur dari: www.mirifica.net

Paus Melawat ke Kota Asal Voodoo

Paus Melawat ke Kota Asal Voodoo

(Cotonou 19/11/2011)Paus Benediktus XVI melawat Gereja Katolik Benin di Kota Cotonou, Jumat (18/11). Dalam kunjungan keduanya ke negara yang dikenal sebagai tempat lahir voodoo tersebut, rohaniwan 84 tahun itu berusaha meredam gejolak umat Katolik Benin. Beberapa waktu lalu, skandal korupsi dan praktik sihir mengguncang gereja.

"Sebelumnya, gereja tak pernah mengalami kejadian yang begitu menimbulkan keresahan seperti ini," kata Roger Gbegnonvi, mantan menteri dalam negeri Benin. Karena itu, dalam kunjungan tiga harinya, paus akan berusaha melakukan pemulihan. Dia berharap, kedatangan bapa suci dari Vatikan itu bisa membuat umat Katolik Benin tenang kembali dan kehidupan berjalan normal lagi.

Puluhan ribu umat Katolik menyambut kedatangan paus kemarin. Di negara tersebut, pertumbuhan umat Katolik sangat cepat. Kendati demikian, voodoo tetap menjadi keyakinan terbesar yang dianut penduduk negara tersebut. Saat ini, sebanyak 40 persen penduduk Benin tercatat sebagai penganut voodoo. Bahkan, Hari Voodoo pun diperingati di negara tersebut dan menjadi hari libur nasional.

Sementara, umat Kristiani dan muslim di Benin masing-masing tercatat sekitar 27 persen dan 22 persen. Karena dominasi voodoo, umat Kristen, Katolik dan Islam Benin pun sering mencampur ajaran agama mereka dengan praktik ilmu hitam tersebut. Karena itu, paus akan memaparkan pandangan gereja Katolik terhadap voodoo dalam kunjungannya di museum voodoo Kota Ouidah hari ini.

Selain voodoo, Gereja Katolik Benin juga terjerumus pada beberapa skandal yang bertentangan dengan ajaran gereja. Tahun lalu, uskup agung dan uskup Cotonau dipecat karena terlibat korupsi di negara berpenduduk 9 juta jiwa tersebut. Konon, keduanya juga melakukan pelanggaran moral. "Gereja Katolik Benin sedang krisis. Semoga lawatan paus bisa menyelamatkan gereja," kata Sosiolog Bertin Affognon. (jpnn.com)

(Foto: Osservatore Romano)

Disadur dari: www.mirifica.net

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Rabu 23 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Rabu 23 Nopember 2011
(Klemens I, Kolumbanus, Kolumbanus, Mikhael Agustinus Pro)
Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28, MT Dan 3:62,63,64,65,66,67, Luk 21:12-19

BACAAN INJIL:
Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."

RENUNGAN:
Sungguh mudah mengatakan bahwa kita percaya kepada Yesus bila hidup kita terasa aman, tidak ada persoalan atau penderitaan dan juga bila kita punya rejeki yang lumayan atau kita mempunyai banyak harta. Namun apakah kita juga masih berani mengatakan bahwa kita percaya pada Yesus bila kita mengahadapi persoalan, penderitaan dan mila kita hidup miskin atau jatuh miskin?

Sungguh menakutkan nasib para pengikut Kristus sebagaimana yang digambarkan Yesus dalam injil hari ini. Yesus menggambarkan bahwa nasib para pengikut-Nya adalah akan dianiaya, dihadapkan kepada para penguasa dan dipenjara karena nama-Nya. Penderitaan yang akan dialami para pengikut Yesus karena nama Yesus, tidak hanya datang dari orang-orang jauh, tetapi malah dikatakan oleh Yesus, justru akan datang juga dari orang-orang dekat, orang-orang yang justru seharusnya mengasihi kita dan kita kasihi, yakni orang tua, saudara-saudari dan sahabat-sahabat kita sendiri. Gambaran nasib para pengikut Yesus sebagaimana kita dengarkan hari ini tentu membuat kita merasa takut, gentar dan berpikir bahwa kehadiran iman kita justru menjadi pembwa persoalan dalam kehidupan bersama dan bahkan mendatangkan penderitaan bagi kita sendiri. Mungkinkah kita sanggup menghadapi semuanya ini?

Sungguh hal yang menasiawi dan wajar bila kita menjadi takut, gentar sehingga banyak orang yang tidak sungguh-sungguh hidup sebagai pengikut Yesus. Apalagi kita seringkali berpikir ‘Lebih baik mengalah, daripada ribut-ribut atau daripada dibenci orang lain.’ “Lebih baik kita mengalah, daripada persahabatan dan kekeluargaan kita menjadi pecah.” “Lebih baik kita menghayati iman kita dengan biasa-biasa saja, daripada kita menjadi korban karena iman kita.” Umumnya kita lebih mementingkan rasa aman dari pertengkaran, lebih berpihak pada persahabatan dan kekeluargaan, daripada berpihak pada iman kita. Memang rasa aman, persahabatan dan kekeluargaan itu penting. Namun kiranya Yesus mengatakan bahwa manakala semuanya itu membuat kita tidak hidup dalam iman kepada Yesus, kita harusnya berpihak pada iman kita walaupun resikonya bahwa kita dibenci oleh orang-orang jauh dan orang dekat kita. Inilah kiranya yang menjadi pilihan para murid Yesus. Sehingga jelas bahwa hidup iman kita itu bukan menjadi pembawa perpecahan, tetapi hidup iman kita pasti akan mengalami tantangan dari orang-orang yang tidak sejalan dengan iman kita. Pada saat demikian, pasti kita akan mengalami penderitaan karena iman kepada Yesus, dan ini sudah digambarkan oleh Yesus kepada kita. Sekarang persoalannya, ‘Beranikah kita mengambil jalan yang sudah dinyatakan oleh Yesus?”

Kiranya ini bukanlah hal yang gampang dan bahkan seakan mustahil untuk kita hadapi. Memang kalau kita hanya mengandalkan kemampuan kita, kita pasti tidak sanggup. Oleh karena itulah Yesus mengatakan agar kita tidak mengandalkan kekuatan kita dalam menjalani hidup kita, sebab Dia sendiri akan memberi kata-kata hikmat kepada kita agar kita sanggup menghadapi tantangan-tantangan itu. Ini berarti kita diajak untuk bersikap percaya dan berpasrah pada kuasa dan kasih Allah. Yesus juga memberi jaminan bahwa Dia akan selalu menyertai kita, tidak akan melupakan kita, bahkan sungguh indah Yesus mengatakan pendampingan-Nya kepada kita dengan mengatakan bahwa sehelai rambut dari kepala kitapun tidak akan hilang.

Oleh karena itu, hari ini hendaknya kita berusaha untuk setia kepada Yesus, walaupun kita pasti menghadapi tantangan, persoalan dan bahkan penderitaan. Tetapi ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesus, bahwa barang siapa yang bertahan dalam iman kepada-Nya, dia akan beroleh hidup. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Selasa 22 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Selasa 22 Nopember 2011
(Sesilia)
Dan 2:31-45, MT Dan 3:57,58,59,60,61 , Luk 21:5-11

BACAAN INJIL:

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: "Apa yang kamu lihat di situ?akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?" Jawab-Nya: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." Ia berkata kepada mereka: "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.

RENUNGAN:
Kebanggaan atas kemajuan maupun kebanggan atas prestasi bisa membuat orang lupa akan Tuhan. Kemajuan atau prestasi yang demikian bisa membuat orang jatuh pada kesombongan, menganggap bahwa semuanya itu diperoleh adalah karena kehebatan, karena perjuangannya semata-mata, bukan karena karunia Tuhan. Bahkan orang bisa membuat orang tidak lagi menganggap peran Tuhan dalam kehidupan ini. Orang tidak lagi menganggap bahwa Tuhan tidak perlu lagi memainkan peran-Nya, karena tanpa Tuhan merasa sanggup melakukan apapun.

Sering juga terjadi bahwa peristiwa yang tidak menyenangkan, persoalan, penderitaan dan benacana alam membuat orang mempertanyakan peran Tuhan dalam kehidupan ini. Manakala semuanya itu terasa sangat besar dan seakan tidak ada kesudahannya, orang bisa jatuh pada ketidakpercayaan pada Tuhan. Bahkan tidak jarang terjadi orang menganggap bahwa itu pertanda kiamat akan terjadi. Pada saat demikian juga bisa jadi ada orang mencari kesempatan yang mengatakan nubuat Tuhan. Pada saat orang mempertanyakan kehadiran Tuhan dan mengharapkan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, bisa terjadi ada orang menawarkan Tuhan dan menyampaikan nubuat Tuhan. Hal ini kiranya sudah sering terjadi.

Hari ini Yesus mengingatkan kita akan semuanya itu, agar kita waspada akan rasa bangga atas kemajuan zaman, akan prestasi dan bahkan akan hidup rohani kita. Juga terutama Yesus mengingatkan kita agar waspada akan persoalan, penderitaan dan bencana alam pasti akan terjadi, tetapi semuanya itu bukan menjadi tanda kesudahan akan terjadi dan terutama bukan menjadi bukti ketidakhadiran Tuhan. Tuhan senantiasa hadir dalam kehidupan kita, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Oleh karena itu, Yesus mengharapkan agar kita tetap selalu percaya kepada Tuhan. Dalam sukses, dalam kemajuan tekhnologi dan perstasi, itu bukan semata-mata karena usaha diri, tetapi karena berkat Tuhan selalu bekerja bagi kebehagiaan manusia. Sehingga kita hendaknya malah harus bersyukur dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Demikian juga halnya dalam pengalaman tidak menyenangkan, kita hendaknya tetap yakin akan Tuhan dan malah semakin mendekatkan diri kepada Tuhan serta berusaha hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab memang akan tiba saatnya bahwa semuanya itu akan terjadi, namun bila hal itu terjadi hendaknya kita semakin mendekatkan diri pada Tuhan, karena hanya pada Tuhanlah ada kebahagiaan dan keselamatan. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Senin 21 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIV, Senin 21 Nopember 2011
Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah
Dan 1:1-6,8-20, MT Dan 3:52,53,54,55,56, Luk 21:1-4

BACAAN INJIL:
Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

RENUNGAN:
Dengan memberi pemberian kepada sesama, kita berbagi berkat dan kita tidak kehilangan.

Ketika permohonan bantuan dana untuk pembangunan Gereja disampaikan kepada bebrapa orang dan saat dimuat di FB gereja Katolik, banyak juga tanggapan yang kami terima. Ada yang dengan senang hati memberikan sumbangan, dengan memberitahukan kepada kami dan adapula yang memberi dengan diam-diam. Ada pula yang mengatakan, bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk diberikan, hanya berdoa semoga pembangunan dapat berjalan dan selesai. Adapula orang yang mengkritik dengan mengatakan, “Kalau tidak punya uang untuk membangun Gereja, mengapa harus membangun Gereja, apalagi Gereja yang mahal, lebih baik membangun iman umat.” Adapula yang mengatakan, “Bikin malu katolik aja, karena mengemis lewat FB.”Ada pula paroki di Jakarta yang terbilang kaya membalas proposal dengan jawaban, "Dengan sangat menyesal kami tidak bisa membantu apa-apa, karena kami juga lagi membangun gereja stasi."

Memberi seringkali sulit untuk kita lakukan, seringkali kita lebih bangga bila mendapatkan sesuatu, merasa bahagia daripada memberi sesuatu kepada orang lain. Kita seringkali merasa kehilangan saat memberi, dan merasa mendapatkan sesuatu saat mendapatkan sesuatu dari sesama. Kita sulit memberi yang ada pada kita untuk berbagi dengan sesama, karena kita merasa takut kehilangan apa yang sudah ada pada kita, dan karena kita sendiri merasa kehilangan.

Hari ini Yesus berbicara tentang persembahan yang diberikan pada peti persembahan. Jelas bahwa uang yang diberikan adalah persembahan. Dari antara orang banyak yang memberi persembahan, Yesus melihat bahwa ada yang memberi persembahan banyak dan ada seorang janda yang memberi sedikit. Hal yang aneh bagi kita karena Yesus melihat berapa besar yang diberikan orang pada peti persembahan. Ini tentu bukan hal yang aneh, sebab biasanya orang yang memberi banyak mengusakan bagaimana supaya orang lain melihat pemberiannya itu, ini sudah hal yang biasa dilakukan. Hal ini bisa kita temukan dalam kehidupan sekarang ini, banyak orang-orang kaya atau para pejabat pada momen tertentu tampil sebagai orang-orang yang murah hati dengan membagi-bagikan uang, atau beras atau daging kepada orang lain, dan hal itu dipublikasikan atau mengundang wartawan supaya dipublikasikan. Ada pula yang memberi sumbangan kepada gereja tetapi harus diumumkan di depan gereja. Kalau tidak diumumkan, mereka akan marah atau menarik kembali pemberiannya. Dari pengalaman ini, maka tidak sulit kita mengerti bagaimana Yesus mengetahui bahwa ada yang memberi banyak pada peti persembahan.

Namun dari semua orang yang memasukkan uang ke peti persembahan, Yesus memuji persembahan seorang janda, yang hanya memberi sedikit, mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan pemberian orang kaya itu. Yesus memuji pemberian yang sedikit itu dibandingkan pemberian yang banyak. Beda halnya dengan kita, kita pasti akan lebih memuji, lebih mengagung-agungkan orang yang memberi banyak. Dalam hal ini Yesus memuji pemberian janda itu karena memberi dari kekurangannya, yang mungkin saja uangnya hanya itu, sedangkan pemberian orang kaya itu adalah pemberian dari kelebihannya, atau mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan yang dihabiskan sehari-hari untuk makan atau kesengannya. Yesus memuji pemberian janda itu karena dia memberi dengan ketulusan hati, sedangkan orang kaya itu memberi tidak dengan tulus hati.

Memberi dengan tulus hati itulah membedakan pemberian seseorang itu, bukan soal banyaknya. Sebab bagi Tuhan pemberian persembahan yang banyak tetapi tidak dengan tulus hati, memberi dari kelimpahan, itu kuranglah bernilai. Namun betapa seringnya kita sulit untuk memberi persembahan kepada Allah lewat Gerejanya. Seringkali kita memberi dari kelimpahan atau sisa-sisa dari apa yang ada pada kita. Banyak dari kalangan umat saat memberi persembahan baik itu saat kolekte atau pada pemberian untuk kepentingan gereja, mereka memberi tidak dengan tulus, tetapi memberi apa yang mungkin tidak mereka perlukan lagi, misalnya ada yang memberi uang kolekte adalah uang yang tidak laku lagi dikedai-kedai, ada yang memberi uang terkecil dari dalam kantong atau dompetnya. Sering juga kita temui orang membagi-bagikan pakaian bekas yang tidak lagi dipakai, dengan alasan daripada busuk di gudang, dan dia membeli lagi pakaian yang mahal dan bagus untuk dirinya. Kedengaran hal ini bagus, tetapi dia memberi apa yang tidak lagi dia butuhkan.

Terkadang orang juga mengatakan bahwa pemberian itu kan yang penting tulus walaupun sedikit. Namun mari kita jujur merenungkan “Apakah kita memang tulus memberikan yang sedikit itu padahal sebenarnya kita bisa memberi lebih banyak karena kita sudah mendapatkan banyak berkat dari Tuhan?” Seringkali hal ini menjadi alasan yang kita pakai untuk memberi sedikit, karena kita tidak mau kehilangan dari apa yang ada pada kita, kita merasa rugi dan merasa kehilangan bila memberikan.

Adapula yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa memberi apa-apa baik itu untuk sesama atau untuk gereja, dan mengatakan hanya bisa memberi doa. Benarkah mereka tidak mempunyai apa-apa atau tidak mendapatkan berkat dari Tuhan sehingga mereka tidak bisa memberi apa-apa, selain dari doa saja? Ini seringkali malah disalahgunakan sebagai alasan untuk tidak memberi apa-apa. Padahal sebenarnya dia sudah mendapatkan berkat dari Tuhan, sebenarnya bisa memberikan untuk persembahan, tetapi karena merasa masih kekurangan, karena tidak mau berbagi, makan menggunakan alasan itu sebagai alasan untuk tidak memberi.

Memang pemberian kita tidak diukur dari besar atau banyaknya, tetapi dari ketulusan hati kita dalam memberi. Namun ingatlah, Tuhan telah memberi kita hidup dan berkat, sehingga kitapun harus dengan jujur dan tulus memberikan persembahan kita, sebagian dari banyak berkat yang sudah kita terima dari Tuhan. Dalam hal ini, sebenarnya kita tidak memberi persembahan kepada Tuhan lewat Gereja, tetapi mengembalikan sedikit dari banyak berkat yang sudah kita terima. Juga pemberian yang dimaksudkan bukan hanya materi, tetapi diri dan hidup kita. Oleh karena itu pula, kita hendaknya memberikan yang terbaik sebagai persembahan kita, bukan persembahan atau pemberian dari sisa-sisa atau yang tidak kita perlukan. Semakin kita memberikan apa yang memang kita butuhkan, semakin besarlah nilai pemberian itu di hadapan Tuhan. Semoga kita berani memberi, berbagi berkat Tuhan kepada sesama kita, kepada Gereja dengan tulus. Semakin kita banyak memberi, semakin banyak pula kita mendapatkan berkat. Maka mari kita memberikan persembahan kepada Tuhan dengan tulus hati. Amin.

Romo Benny: Wali Kota Bogor Timbulkan Keretakan Berbangsa

Romo Benny: Wali Kota Bogor Timbulkan Keretakan Berbangsa

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tokoh agama dan pluralisme, Romo Benny, menilai, apabila Presiden SBY melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri), tidak menindak Wali Kota Bogor, Diani Budiarto karena melarang jemaat GKI Taman Yasmin beribadah di gerejanya yang sah, maka hal itu akan menimbulkan keretakan hidup berbangsa dan bernegara.

"Presiden harus menindak, kalau dibiarkan akan meresehkan. Akibatnya, akan cukup luas pelanggar konstitusional, ini persoalan hidup berbangsa dan bernegara. Kalau tidak patuh akan menimbulkan keretakan," ujar Romo Benny yang ditemui selepas, acara peluncuran buku karya anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo, di Bumbu Desa Resto, Jakarta, Minggu (20/11/2011).

Menurutnya apabila tidak ada tindakan yang diambil oleh Presiden terhadap Wali Kota Bogor, maka tidak menutup kemungkinan kepala daerah lainnya akan melakukan hal yang serupa.

"Kalau semua Wali Kota punya kebijakan yang bertentangan dengan 4 pilar, lantas bagaimana republik ini. Pemohon kan sudah minta supaya itu dieksekusi, tapi tidak dijalankan," kata Romo Benny.

Seperti diberitakan sebelumnya, kesahan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) GKI Taman Yasmin, Bogor diakui oleh MA dalam putusan kasasi yang mereka keluarkan. Namun Wali Kota Bogor, Diani Budiarto hingga kini tetap melakukan penyegelan terhadap bangunan gereja dan belum mentaati putusan MA tersebut.

Disadur dari: berita.yahoo.com/romo-benny-wali-kota-bogor-timbulkan-keretakan-berbangsa

RENUNGAN HARI MINGGU : HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM MINGGU 20 Nopember 2011

RENUNGAN HARI MINGGU : HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
MINGGU 20 Nopember 2011
Yeh 34:11-12,15-17, Mzm 23:1-2a,2b-3,5-6, 1Kor 15:20-26,28, Mat 25:31-46

BACAAN INJIL: Mat 25:31-46
“Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya, dan memisahkan orang-orang yang satu dari yang lain.”

"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

RENUNGAN:

Dalam budaya Batak, kata raja tidak bukanlah hal yang aneh, karena kerap digunakan dalam peradatan, dan sebutan raja juga tidak selalu mengandung arti seorang raja yang mempunyai kekuasaan atau mempunyai rakyat. Kata raja juga digunakan kepada orang-orang tertentu yang dianggap sebagai yang dituakan tetapi itu hanya pada saat tertentu atau pada saat pesta itu saja, misalnya seseorang dikatakan ‘raja’ parhata yang artinya serseorang yang dianggap ahli dalam adat istiadat; ada pula dikatakan raja parboru yakni seseorang yang dihormati atau dituakan pada pesta sesesorang, yakni dari pihak istri seseorang yang berpesta; ada pula dikatakan raja parhobas, yakni orang yang dihormati dalam kelompok bagian konsumsi pada pesta tertentu, dan masih ada banyak sebutan raja diberikan kepada seseorang tetapi itu hanya pada saat itu, tidak permanen. Saat ini juga dalam dunia modern banyak diberikan gelar raja kepada orang-orang tertentu, misalnya dikatakan raja dangdut, raja komputer, raja narkoba, dan lain-lain.

Walaupun demikian, pada dasarnya bila kita mendengar kata raja kita langsung berpikir pada seorang raja yang memiliki wilayah kekuasaan, memiliki rakyat yang tunduk kepada dia, mempunyai bala tentara, punya hak penuh atas rakyatnya, punya kekayaan yang berlimpah dan banyak laghi atribut yang dikenakan kepada seorang raja. Namun seorang raja dia memiliki semuanya itu hanya dalam lingkup wilayah kekuasaannya saja. Seorang raja di daerah tertentu, tentu dia tidak mempunyai semuanya itu di wilayah lain, meskipun atribut raja itu tetap digunakan. Jadi walaupun seorang raja itu sungguh kedudukan yang tinggi, tetapi dia menjadi raja dengan segala yang ada padanya terbatas di daerah kerajaannya sendiri.

Hari ini kita merayakan Yesus adalah raja semesta alam. Gereja merayakan iman yang mengajarkan bahwa Yesus adalah raja bukan hanya di daerah tertentu, tetapi raja atas semua semesta alam ini, raja atas dunia ini. Sehingga Gereja mengajarkan bahwa Yesus merajai semua yang ada di atas muka bumi ini, Dia adalah raja di atas segala raja. Namun Yesus sebagai raja, jauh dari kehidupan raja-raja dunia ini. Yesus raja tidak hidup dalam kemewahan, tidak tinggal dalam istana yang besar dan mewah, Yesus tidak dikawal oleh para serdadu atau tentara dengan sejata lengkap, singkatnya Yesus raja sungguh berbeda dengan raja-raja dunia, kerajaan-Nya pun berbeda dengan kerajaan dunia ini. Namun yang jelas dan pasti bagi kita bahwa Dia sungguh punya kuasa atas alam semesta ini, atas semua kerajaan. Pada akhirn zaman semua orang, juga para penguasa dan para-raja akan dihadapkan kepada Dia untuk dinilai apakah seseorang itu layak masuk dalam kerajaan-Nya atau tidak. Sungguh dia mahakuasa atas segala bumi ini.

Kerajaan Yesus memang berbeda dengan kerajaan yang ada di muka bumi ini, sebagai raja Dia juga berbeda dengan raja-raja bumi ini. Kerajaan Yesus adalah kerajaan cinta kasih, Dia adalah raja yang penuh dengan cinta kasih kepada manusia dan bahkan karena cinta kasih-nya yang begitu besar, Dia datang menemui manusia, hidup bersama dengan manusia bahkan menyamakan diri dengan orang-orang miskin, orang-orang menderita dan orang-orang yang disingkirkan. Dan pada akhirnya, Yesus sebagai raja rela mati demi kebahagiaan dan kehidupan kekal manusia. Kiranya tidak ada di bumi ini seorang raja yang demikian besar cinta kasih-nya kepada manusia dan tidak ada seorang raja yang rela mati demi rakyatnya. Hal ini hanya ada pada Yesus dan hanya Yesus yang melakukannya. Dari sebab itu, hari ini kita merayakan iman kita dengan penuh gembira karena kita mempunya Tuhan raja kita, tetapi Dia mau menjadi gembala bagi kita, dan bahkan rela mati demi keselamatan kita.

Namun menjadi permenungan bagi kita, “Apakah memang kita yakin bahwa Yesus-lah raja bagi kita melebihi semua yang ada dalam bumi ini? Apakah memang kita sudah menjadikan Yesus sebagai raja kita?” Ingatlah apa yang dikatakan kepada kita dalam Injil hari ini, dengan jelas dikatakan bahwa pada akhirnya semua orang akan datang berlutut di hadapan-Nya dan Dia akan memisahkan orang yang layak masuk dalam kerajaan-Nya dan mana yang tidak layak. Dia sungguh berkuasa atas hidup yang kekal. Kehidupan kekal adalah kerinduan hati kita. Bila kita sungguh merindukan kehidupan kekal dan menjadikan Dia sebagai raja dalam hidup kita, tentu kita hanya menyembah Dia, dan terutama menuruti ajaran dan teladan hidupnya.

Yesus raja segala bangsa menyamakan diri dengan orang-orang miskin, orang-orang kecil dan orang-orang sederhana. Sehingga kerajaan Allah dapat kita temukan dalam kehidupan kita setiap hari karena dalam kehidupan kita banyak kita temukan para saudara yang miskin, kecil, terlantar dan terasingkan. Sehingga kita tidak usah repon mencari kehadiran kerajaan Allah dalam hidup kita. Demikian juga halnya, kita tidak sulit sebenarnya untuk ambil bagian masuk dalam kerajaan-Nya. Yesus sendiri mengatakan bahwa apa yang kita perbuat kepada orang lain terutama yang lebih kecil, itu kita lakukan kepada Dia. Bila kita berbuat baik kepada sesama terutama yang paling kecil, maka kita sudah masuk menjadi anggota kerajaan Allah dan kelak kita akan diperkenankan masuk dalam kerajaan Surga. Demikian sebaliknya, kalau kita tidak melakukan perbuatan baik kepada sesama, terutama kepada mereka yang lebih kecil, itu juga kita lakukan kepada Allah, sehingga jelas kita memisahkan diri dari anggota kerajaan Allah dan kelak kita tidak diperkenankan masuk dalam kerajaan Allah.

Dari pernyataan Yesus ini, jelas juga bagi kita bahwa orang yang sungguh menjadikan Yesus sebagai raja-Nya dan rinduk kelak masuk dalam kerajaan surga, tidak cukup hanya mengatakan diri beriman, percaya, tetapi semuanya itu harus nyata dalam perbuatan kasih kepada orang-orang miskin dan orang-orang kecil.

Maka dalam perayaan hari ini, kita diingatkan bahwa Yesus adalah raja segala bangsa, tetapi Dia raja yang penuh cinta kasih, yang menjadi gembala atas kita, bahkan rela mati bagi kita. Dia berkuasa memilih orang untuk masuk dalam Kerajaan surga. Tetapi Tuhan memilih orang-orang yang dalam hidupnya melakukan perbuatan baik kepada sesama terutama kepada orang-orang kecil dan miskin. Yesus menyamakan diri-Nya dalam diri orang-orang miskin dan kecil, sehingga setiap hari kita dapat melihat kehadiran kerajaan Allah, kehadiran Yesus dalam diri orang-orang miskin dan orang-orang kecil. Oleh karena itu, mari kita nyatakan iman kita bukan dengan kata-kata, bukan hanya dalam perayaan liturgi, tetapi juga dalam perbuatan kasih yang nyata kepada sesama kita terutama yang miskin dan orang-orang kecil. Yakinlah, bahwa kelak kita akan menjadi bagian orang-orang yang diperkenankan masuk dalam kerajaan surga. Amin.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)