Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN : Minggu 2 Januari 2011

RENUNGAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN :
Minggu 2 Januari 2011

Yes 60:1-6, Mzm 72:2,7-8,10-11,12-13, Ef 3:2-3a,5-6, Mat 2:1-12

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

BACAAN INJIL:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN

Hari ini kita merayakan Penampakan Tuhan, yang kita kenal dengan sebutan epiphaneia (Yunani). Hari raya ini tentu sangat berbeda dengan penampakan dalam artian biasa dalam masyarakat yakni sesuatu yang tidak berwujud menampakkan diri lalu hilang lagi. Hari Raya Penampakan Tuhan yang kita rayakan hari ini adalah Tuhan menyatakan diri-Nya, memperkenalkan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus kepada manusia. Allah yang selama ini tidak dikenal, tetapi lewat kehadiran Yesus Kristus, kita bisa mengenal, bertemu dan hidup bersama dengan kita. Kalau sebelumnya Allah menyatakan diri kepada para gembala, hari ini kita dengar bahwa Allah menyatakan diri kepada 3 raja dari Timur. Dalam perayaan hari ini secara lebih luas lagi Tuhan menampakkan, menyatakan diri kepada semua bangsa lewat peristiwa tiga orang Majus atau raja dari Timur yang datang untuk menyembah Yesus. Sehingga jelaslah bahwa Allah menyatakan diri bagi semua orang dan semua bangsa.

Ada sebuah kisah yang menceritakan seorang imam yang kebiasaannya naik ke menara Gereja dengan maksud supaya dekat dengan Tuhan. Dia meniru Musa yang naik ke Gunung untuk menyatakan kabar sukacita kepada umatnya. Suatu hari dia merasa bahwa dia mendengar suara Tuhan tetapi tidak terlalu jelas. Oleh karena itu dia memanjat dan naik ke menara Gereja. Setelah sampai di atas, dia berteriak ,”Di manakah Engkau Tuhan? Saya tidak mendengar suara-Mu dengan jelas?” Lalu Tuhan menjawab teriakan pastor itu, “Saya ada di bawah, di tengah-tengah umatmu pastor. Emang pastor ada di mana?”

Allah telah menyatakan diri dan bahkan hadir dalam dunia ini kepada semua bangsa. Dia menyatakan diri bukan hanya di Betlehem dan sekitarnya tetapi juga jauh dari tempat itu. Kehadiran-Nya dinyatakan lewat tanda yang Dia berikan, seperti yang dialami oleh 3 orang raja dari Timur. 3 raja dari timur itu, menangkap tanda yang diberikan oleh Allah kepada mereka lewat kehadiran bintang. Mereka yang juga sering dikatakan sebagai ahli perbintangan (astrolog) melihat tanda bintang itu, mempelajarinya dan pada akhirnya mereka menangkap makna bahwa bintang itu adalah tanda kehadiran sesuatu yang ilahi, yakni tanda bagi mereka bahwa seorang raja Yahudi telah lahir dan mereka ingin menyembahnya. Bintang itu menuntun mereka, mereka mau dituntun bintang itu sehingga sampailah mereka pada Yesus Tuhan Mesias dan mereka menyambah-Nya. Tuhan tentu juga memberi tanda kehadiran-Nya kepada orang-orang di sekitar Betlehem dan di tempat Herodes, tetapi mereka tidak menyadari, tidak menangkapnya, bahkan sesudah mengetahui tanda itu lewat 3 orang majus yang bertanya dan lewat keterangan para imam, mereka dan terutama Herodes tidak mau mengikuti tanda itu.

Demikianlah halnya dalam kehidupan beriman kita pada zaman ini. Allah sebenarnya senantiasa hadir dalam hidup kita, dan Dia memberi tanda-tanda kehadiran-Nya yang menghantar kita kepada-Nya. Namun tanda kehadiran Allah itu seringkali kabur atau sulit kita sadari dan tangkap karena kalah dengan tawaran-tawaran dunia atau iklan-iklan kehidupan dunia ini. Juga karena tanda kehadiran Tuhan itu kelihatan kurang menarik dibanding dengan iklan-iklan dunia, iklan setan yang sangat menarik, menawarkan hal-hal yang kelihatan sangat indah sehingga kita terbuai dan lebih tertarik mengikuti mereka itu. Kita juga seringkali sulit menangkap kehadiran Tuhan dan tanda-tanda yang diberikan-Nya karena kita sibuk dengan urusan dunia, sibuk dengan diri sendiri, sibuk dengan ambisi untuk kehidupan dunia ini seperti Herodes yang sibuk dengan kekuasaan dan kehormatannya.

Allah hadir senantiasa dalam hidup kita, Dia menyatakan kehaderan-Nya lewat tanda-tanda yang menghantar kita kepada keselamatan-Nya. Misalnya kita mengalami suatu peristiwa atau kecelakaan, dan kita selamat. Padahal sebenarnya dalam peristiwa itu tidak mungkin kita bisa selamat, tetapi nyatanya masih selamat. Dalam pengalaman ini kalau kita beriman, kita percaya bahwa kita selamat karena Tuhanlah yang menyelamatkan kita. Dengan kesadaran ini, mengajak dan menghantar kita untuk senantiasa percaya kepada-Nya. Namun karena kita kurang percaya, kita tidak sampai pada keselamatan itu, melihat bahwa kita bisa selamat dari peristiwa itu adalah karena peruntungan, karena nasib baik dan menganggap karena kita hebat bisa menyelamatkan diri dari peristiwa itu. Selama tahun 2010 yang sudah kita lalui, pasti kita banyak mengalami peristiwa besar yang mempertaruhkan hidup kita, yang kalau kita jujur kalau mengandalkan kemampuan kita, kita tidak sanggup, namun nyatanya kita masih bisa bertahan dan melewati tahun 2010 serta memasuki tahun 2011 ini. Apakah kita menyakini bahwa semuanya itu karena Tuhan dan membuat kita semakin mendekatkan diri pada Sang Keselamatan?

Beriman memang bukanlah hal yang mudah, juga dalam menangkap tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Sama seperti yang dialami 3 raja dari timur, sesudah mereka melihat tanda bintang itu, mereka mencoba memahami apa maksudnya. Sesudah memahaminya, mereka juga berusaha, berjuang untuk sampai kepada makna tanda bintang itu. Untuk itu mereka harus berjalan jauh dari tempat tinggal mereka, harus bertanya kepada raja Herodes dan bahkan juga tentu sadar akan ketidaksenangan Herodes akan niat mereka. Walaupun demikian, mereka tetap berusaha dan pada akhirnya sampai kepada keselamatan itu yakni bertemu dengan Yesus Sang Mesias.

Dalam hidup beriman juga dituntut usaha terus menerus, perjuangan yang tidak gampang putus asa. Beda halnya dengan sikap hidup iman kita. Kita seringkali beriman mau gampangnya sendiri, mau enaknya sendiri. Ketika semua atau perjalanan hidup kita lancara, aman terkendali, mungkin kita dengan gampang menyatakan diri bahwa kita beriman kepada Yesus, mungkin kita dengan gampang dan mudah merayakan iman kita. Tetapi coba kalau kita menghadapi kendala, hambatan atau persoalan hidup, apakah kita masih dengan mudah mengatakan dan merayakan iman kita? Kita seringkali tidak mau berusaha dan berjuang untuk menangkap kehadiran Tuhan dalam hidup kita, juga tidak mau berjuang dan berusaha untuk menghayati iman kita. Saat kita mengalami kendala dalam menghayati iman kita, kita seringkali langsung muncur, putus asa dan bahkan mungkin menyerah. 3 raja dari Timur berjuang, berusaha, berjerih payah untuk sampai kepada Yesus, dan mereka akhirnya sampai pada Yesus serta Allah sendiri menuntun mereka. Usaha, perjuangan dan jerihpayah kita dalam menghayati iman kita, pasti akan membawa kita sampai kepada keselamatan dan Tuhan sendiri akan menuntun kita dalam perjalanan penghayatan iman kita, Tuhan tidak akan tinggal diam.

Ketika 3 orang Majus itu sampai dan bertemu dengan Yesus, mereka begitu bergembira. Mereka menyembah Yesus dan menyampaikan persembahan mereka. Sesudah bertemu dengan Yesus, ada suatu perubahan hidup dalam diri mereka yakni tidak mau lagi pulang lewat jalan mereka ketika datang, tidak lagi melalui jalan di mana mereka bertemu dengan Herodes. Mereka tidak lagi menghendaki bertemu dengan Herodes si jahat itu. Kita sudah merayakan Natal, kita sudah lama di baptis, bersatu dengan Yesus.

Orang Majus itu mempersembahkan persembahan yang menjadi lambang kemaharajaan Yesus, keilahian-Nya, Kemuliaan Yesus yang melebihi diri mereka dan melebihi semua raja di dunia ini. Nah, apa yang sudah kita persembahkan kepada Yesus? Atau apa yang dapat kita persembahkan kepada Yesus Tuhan kita? Mari kita menyembah dan memuliakan Yesus dengan mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Kita mempersembahkan hidup kita dan mempercayakannya kepada kuasa dan kasih-Nya.

Apakah pertemuan kita dengan Yesus sudah mengubah hidup kita? Kenyataannya, tidak sedikit diantara kita yang mengatakan diri sudah beriman kepada Yesus, namun nyatanya tidak ada perubahan hidup. Kita masih seringkali tidak mau hidup melalui jalan yang ditawarkan dan diajarkan oleh Yesus Kristus. Kita masih seringkali hidup melalui jalan menuju herodes-herodes dunia ini yakni menempuh jalan yang penuh dengan kejahatan. Bahkan mungkin kita sendiri seringkali bersahabat dengan herodes dunia yakni kejahatan dunia. Kita menempuh jalan herodes dan bersahabat dengan dia manakala kita sendiri melakukan kejahatan, melakukan apa yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Memang kita tidak melakukan kejahatan besar dalam hidup ini, tetapi kita tidak hidup seperti yang diajarkan oleh Yesus dan kita tidak mendukung atau berpihak kepada kebaikan. Misalnya ketika ada orang yang menawarkan kebaikan, menyampaikan ide untuk hidup lebih baik lagi, kita bukannya mendukung tetapi malah menolaknya. Mengapa? Mungkin kita seperti herodes, takut tersaingi dan merasa tidak dihargai lagi. Kita hendaknya menjauhkan diri dari jalan herodes, menolak bekerja sama dengan herodes-herodes dunia ini.

Dalam perayaan hari ini, jelaslah bagi kita bahwa Allah telah menampakkan diri kepada semua orang , kepada semua bangsa. Allah hadir dalam sejarah hidup kita. Di mana kita bisa bertemu dengan Yesus? Dia hadir bukan di tempat tinggi, tetapi dalam hidup dunia ini. Kita bisa menemukannya dalam peristiwa hidup kita sehari-hari bahkan dalam dan lewa orang-orang sederhana sebagaimana orang Majus bertemu dengan Yesus di Betlehem. Mereka melihat Yesus terbaring dalam palungan. Jadi kita tidak usah capaek-capek mencari, karena Dia hadir di sekitar kita, dalam hati kita dan juga dalam hidup setiap orang. Mari kita berusaha bertemu dengan Yesus raja kita dan menyembah Dia. Amin.

BACAAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN : Minggu 2 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)

BACAAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN :
Minggu 2 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)

Yes 60:1-6, Mzm 72:2,7-8,10-11,12-13, Ef 3:2-3a,5-6, Mat 2:1-12

“Naung huida hami do bintangna di tano habinsaran; ala ni i ro do hami sumomba Ibana!”

BACAAN INJIL:
Asa dung tubu Jesus di huta Betlehem, di luat Judea, uju hinarajahon ni si Herodes, ro ma angka parhapistaran sian purba tu huta Jerusalem, angka ninna ma: Didia do Raja na imbaru tubu i? Naung huida hami do bintangna di tano habinsaran; ala ni i ro do hami sumomba Ibana! Alai disi dibege raja Herodes hata i, tarsonggot ma ibana ro di sude pangisi ni huta Jerusalem.Jadi dipapungu ma angka sintua ni malim ro di sibotosurat ni bangso i, dipamanat ma tu nasida huta hatubuan ni Kristus i. Jadi didok nasida ma tu ibana: Huta Betlehem na di luat Judea do, ai songon on do pandok ni panurirang i: "Ia ho, huta Betlehem, apala tung na ummetmet ho di tongatonga ni angka huta na di luat Judea, ai ho do huta haroroan ni Raja i, na marmahan Israel, bangsongki!" Dung i marhusip ma si Herodes manjou angka parhapistaran i tu jolona disihirsihiri ma tu nasida lelengna, dung tarida bintang i. Dung i disuru ma nasida tu huta Betlehem, ninna ma: Laho ma hamu, tangkas ma diori hamu Dakdanak i! Ia dung jumpang, paboa hamu ma tu ahu, asa dohot ahu ro marsomba tu Ibana. Asa dung dibege nasida hata ni raja i, laho ma nasida. Anggo bintang i, naung niidanasida hian di tano habinsaran i, sai di ginjangnasida do muse, rasirasa sahat tingkos di ginjang ni inganan ni Dakdanak i. Marnida bintang i, mansai las situtu ma rohanasida. Laos dibongoti ma bagas i, gabe diida ma Dakdanak i dohot si Maria, inana i. Dung i manungkap ma nasida marsomba tu Dakdanak i, dirungkari ma artanasida: Sere, haminjon dohot angka na angur, parsombanasida tu Ibana. Dung i ro ma tona ni Debata marhite sian nipinasida, unang pola mulak be tumopot si Herodes; jadi sian dalan na asing nama nasida mulak tu luatnasida.
Songon I ma Barita Nauli na pinatolhas tu hita sadari on.

BACAAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN : Minggu 2 Januari 2011 (Bahasa Karo)

BACAAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN :
Minggu 2 Januari 2011 (Bahasa Karo)

Yes 60:1-6, Mzm 72:2,7-8,10-11,12-13, Ef 3:2-3a,5-6, Mat 2:1-12

“kami enggo reh guna nembah man baNa."

BACAAN INJIL:
Jesus tubuh i kuta Betlehem i taneh Judea asum Herodes jadi raja. La ndekahsa kenca si e reh me ku Jerusalem piga-piga kalak guru i Timur nari. Nungkun guru-guru Timur e nina, "I ja kin raja kalak Jahudi si mbaru tubuh e? Sabap idah kami bintangna i Timur, janah kami enggo reh guna nembah man baNa." Megi kata e sengget kal Raja Herodes ras kerina anak kuta Jerusalem. E maka ipepulung Raja Herodes kerina imam-imam si mbelin ras guru-guru agama Jahudi. Jenari nungkun ia nina, "I ja kin Mesias e tubuh?" Ngaloi kalak e nina, "I kuta Betlehem i taneh Judea, sabap enggo isuratken nabi: 'O kam Betlehem i taneh Juda, labo kam kuta si kitikna i daerah Juda; sabap i bas kam nari reh me sekalak peminpin si mpermakani bangsaNgku bangsa Israel.' " Kenca megi kai si ikataken e, idilo Herodes guru-guru i Timur nari e alu erbuni-buni. Jenari isungkunina ndiganai bintang e mulai teridah. Kenca bage isuruhna guru-guru e lawes ku Betlehem. Nina, "Berkatlah janah pepayo alu mehuli i ja ingan anak e, janah adi enggo kam jumpa, beritaken man bangku, gelah aku pe ku jah nembah man baNa." Kenca bage berkat guru-guru Timur e. Idahna ka bintang si enggo idahna mbarenda i Timur. La tanggung riahna ukurna ngidahsa. Bintang e erdalan arah lebena jenari ngadi tepat i babo ingan anak e. E maka bengket ia ku bas idahna Anak ndai ras Maria, nandeNa. Jenari erjimpuh ia nembah man Anak e. Ibuatna erta-erta si ibabana e, jenari ipersembahkenna man Anak si mbaru tubuh e. Erta-erta si ipersembahkenna e, e me: emas, kumenen ras mur. Perbahan ikataken Dibata man guru-guru e arah nipina gelah ola ia mulihken ndahi Herodes, e maka mulih ia arah dalan si deban ku negerina. Bagenda me kata Tuhan.

DOA & TEOLOGI

DOA & TEOLOGI

Teologi adalah refleksi iman. Doa adalah (salah satu bentuk) pengungkapan iman. Maka, amat wajar kalau teologi juga merefleksikan doa sebagai penghayatan iman. Ciri khas teologi adalah sifat ilrniahmya. Bukan sembarang refleksi irnan bisa disebut teologi. Teologi itu harus dijalankan secara metodis dan sistematis. Tetapi, dalam ulasan ini, justru aspek itu tidak mau diberi terlalu banyak perhatian. Tujuannya lain. Tekanan ada pada refleksi, tetapi dalam kerangka teologi umum Dalam ulasan yang terakhir ini, doa mau di tempatkan dalam keseluruhan hidup iman sejauh direfleksikan dan disistematisasikan oleh teologi. Sesungguhnya segala sesuatu yang telah dikatakan dalam bab-bab yang mendahului sudah merupakan refleksi teologis. Bab terakhir ini mempunyai maksud khusus, mau bertanya mengenai sumbangan yang dapat diberikan oleh teologi pada doa. Pertanyaan ini sebetulnya agak aneh. Sebab, banyak orang yang berdoa, dan berdoa dengan baik sekali, namun sama sekali tidak tahu-menahu mengenai teologi. Bagaimana mau berbicara mengenai sumbangan teologi pada doa mereka? ltulah pertanyaan pokok. Tetapi, sebelum dapat menjawab pertanyaan itu, perlu dipikirkan dulu apa yang dimaksud dengan refleksi iman dan apa yang membedakan teologi (sebagai refleksi iman) dari doa.

Refleksi iman

Teologi adalah refleksi iman, atau lebih lengkap dikatakan: teologi adalah refleksi atas wahyu Tuhan sejauh diterima oleh manusia beriman. Tujuan teologi adalah pemahaman, mau mengerti apa yang diimani dan apa sebetulnya arti iman itu sendiri. Doa lain. Dalam doa, pasti juga ada unsur refleksi, sebab orang berdoa dengan sadar dan penuh pengertian. Tetapi, tujuan doa bukanlah pemahaman. Doa mau menanggapi sapaan Allah. Biasanya doa dipahami sebagai suatu dialog dengan Allah. Kata "dialog" itu sebetulnya suatu metafora, bahkan semacam antropomorfisme, yang berbicara mengenai Allah seolah-olah Dia seorang manusia. Tetapi, metafora itu dapat dimanfaatkan. Dalam percakapan manusia dengan orang lain, dapat dibedakan empat aspek: pemyataan, ekspresi diri, sapaan, dan tawaran hubungan pribadi. Keempat aspek itu menjadi satu dalam percakapan. Tetapi, dalam percakapan konkret, biasanya tekanan ada pada satu aspek saja, di mana yang lain tinggal implisit. Misalnya dalam suatu percakapan mengenai dagang, tekanan jelas ada pada "pemyataan" mengenai harga, kondisi, jaminan, dan seterusnya, dan soal hubungan pribadi terbatas pada relasi bisnis sebagai penjual dan pembeli. Bisa juga bahwa seluruh percakapan terbatas pada sapaan saja, misalnya kalau memanggil seseorang. Tetapi, dalam hal itu, percakapan juga belum selesai dengan panggilan itu saja. Dalam wahyu Tuhan, juga dapat dibedakan empat aspek itu, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka seluruh relasi Allah dengan manusia, khususnya dalam kerangka sejarah keselamatan.

Jelas sekali bahwa dalam doa, tekanan ada pada ekspresi diri, sapaan, dan hubungan pribadi. Pernyataan juga ada, sebab tidak ada doa tanpa isi. Tetapi, jelas sekali bahwa yang paling pokok bukan isi itu, melainkan relasi, hubungan pribadi. Berhubungan dengan itu, juga sapaan dan ekspresi diri perlu. Manusia menyadari (itu unsur refleksi) bahwa ia dipanggil ("disapa") oleh Allah, dan doanya adalah pertama-tama jawaban atas panggilan Allah itu. Itu bisa berupa puji-syukur, bisa permohonan; bisa didoakan bersama, bisa sendirian; bisa dirumuskan dengan kata-kata, bisa merupakan sikap batin saja. Semua itu tidak mengubah yang pokok ini, bahwa doa adalah hubungan pribadi, tanggapan atas panggilan Allah. Karena itu, doa tidak tertuju kepada pemahaman,tetapi kepada hubungan. Sejauh mana doa itu "menyentuh" Allah yang disapa, itu merupakan pertanyaan teologis lain yang juga harus dibicarakan di bawah ini. Tetapi doa, dalam bentuk mana pun, selalu menyapa Allah, "berseru kepada nama Tuhan" (Kis 2:21; 22:16; Rom 10:13). Maka, yang penting dalam doa adalah nama Allah, bukan paham Allah. Nama memang tidak sama dengan pengertian atau pemahaman. Nama adalah sebutan, bahkan sebutan khusus, yang khas untuk pribadi tertentu. Dalam Alkitab, nama Allah sering sama dengan Allah sendiri (lih. 2Sam 7:13; Mzm 86:11; Mat 6:9). Dengan narna-Nya itu, Tuhan menjadi konkret, dan bukan suatu daya-kekuatan yang gaib saja. Pabarn dapat dijelaskan dan dibatasi, nama hanya dapat dimengerti dari cerita pengalaman. Untuk pabam ada contoh banyak, nama selalu unik dan khusus. Nama berkaitan dengan sejarah seseorang.

Nama dan paham

Sesungguhnya pewahyuan nama Allah adalah dasar dan suri-teladan segala wahyu. Dengan memberikan nama-Nya Allah memberikan diri kepada manusia. Ini bukan bahasa antropomorf: ini bahasa manusia, karena berbicara mengenai sejarah Allah dengan manusia. DaIam nama-Nya, Allah yang tetap "tersembunyi dan rahasia" (l Kor 2:7; bdk. Ef 3:9) hadir dalam sejarah man usia. Karena itu, nama Allah memang inti-pokok pewahyuan. Maka, dari pihak manusia, nama itu juga pusat imannya (bdk. lTim 4:6). Nama itu adalah semacam simbol yang menunjuk ke atas manusia sendiri kepada Allah yang agung dan mulia. Nama itu memang diberikan kepada manusia, tetapi tidak pernah dimiliki atau dikuasai oleh manusia. Dengan nama itu, manusia berhadapan dengan Allah, yang tetap tinggal misteri baginya. Nama itu berarti Allah yang memberikan diri kepada manusia. Dalam doa, manusia berani menanggapi pemberian diri Allah itu, dan menyapa Allah dengan nama yang disingkapkan-Nya kepada manusia. Justru karena nama itu, doa menjadi dialog, paling sedikit dari pihak manusia. Manusia berbicara dengan Allah yang dapat disapa olehnya.

Namun, kalaupun nama dengan tegas harus dibedakan dari paham, itu tidak berarti bahwa nama tidak ada hubungan dengan pemahaman. Tidak tanpa dasar larangan dalam Ul 4:19: "Jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu." Bulan dan bintang ada pada "segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka". Tetapi "Tuhan telah mengambil kamu dan membawa kamu keluar dari dapur peleburan besi, dari Mesir, untuk menjadi umat milik-Nya sendiri" (ay. 20). Nama Tuhan tidak hanya berhubungan dengan doa dan kebaktian, tetapi khususnya dengan anamnesis, pengenangan akan karya agung Tuhan di dunia. Yang paling pokok dalam doa memang relasi pribadi dengan Allah, yang disapa dengan nama Tuhan. Tetapi, nama Tuhan itu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah Allah dengan manusia. Dan ternyata dalam perkembangan sejarah, nama clan paham Allah makin saling mempengaruhi dan menentukan. Khususnya karena paham monoteis, Tuhan makin berarti Allah yang Mahakuasa. Perkembangan itu dapat dilihat dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Lama. Kentara sekali bahwa Tulran yang disapa sebagai Allah bangsa terpilih makin dipahami sebagai Allah semesta alamo Dalam doa, tekanan memang ada pada hubungan pribadi yang khusus. Tetapi, janganlah doa dibatasi pada urusan pribadi saja. Juga dalam doa pribadi, yang disapa adalah "Tuhan langit dan bumi" (Mat 11:25), yang adalah "Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus" (Rm 15:6; 2Kor 1:3; Ef 1:3; Kol 1:3; 1Ptr 1:3). Yang dihadapi dan disapa adalah Sang Pencipta yang telah menyatakan diri dalam Yesus Kristus, Anak-Nya. Biarpun Tuhan disapa dalam relasi pribadi yang sangat khusus, sapaan itu hanya mempunyai arti kalau dilihat dan ditempatkan dalam seluruh sejarah Allah dengan manusia.

Mengenal Allah

jelas, paham Allah harus dibedakan dari nama Allah. Itu berarti bahwa pengetahuan harus dibedakan dari pengalaman. Dengan segala pengetahuan teoretis, manusia tak pernah dapat mengenal Allah secara pribadi. Hanya dalam pertemuan,dalam pengalaman hidup, manusia dapat mengenal Allah. Dengan pengalaman akan Allah, di sini tentu dimaksudkan pengalaman iman. Allah dimengerti sebagaimana Ia menyatakan diri. Itu berarti pertama-tama sebagai Pencipta, dan kedua sebagai Penyelamat; atau dengan kata lain: sebagai dasar dan tujuan hidup. Adalah tugas teologi untuk memperlihatkan bagaimana karya Allah, sebagai Pencipta dan Penyelamat, dalam pewahyuan triniter benar-benar memperlihatkan siapa Allah sesungguhnya. Maka, teologi mulai dengan mengakui adanya Allah. Sebab, orang tidak dapat percaya pada Allah yang tidak ada. Tetapi, ini bukan semacam pengandaian pikiran, melainkan suatu pengandaian yang berdasarkan pengalaman iman dalam perjumpaan dengan Allah (melalui Sabda-Nya dan dalam Roh-Nya). Secara konkret, ini berarti bahwa Allah dimengerti sekaligus sebagai Yang transenden dan imanen, dan pengertian itu pun adalah pengalaman. Sebab, Allah dialami sebagai Nan Mahaagung yang mengatasi segala-galanya, namun yang sekaligus hadir dan menghidupkan. Oleh karena itu, sikap iman tidak hanya berarti pengakuan, tetapi juga ketaatan, sembah-sujud, dan pengabdian. Adalah tugas teologi untuk menjelaskan semua itu secara rasional.

Jadi, teologi harus menerangkan

1.apa dasar (historis) iman;
2.bagaimana iman itu diungkapkan, baik dahulu maupun sekarang:
3.apa inti-pokok iman itu dan apa hubungan antara aneka aspeknya; dan
4.bagaimana iman itu dapat diwartakan dan disosialisasikan pada zaman sekarang.

Teologi tidak berpangkal pada pahamAllah, tetapi berusaha memperlihatkan bagaimana Allah telah mendekati manusia dan ingin bertemu dengannya. Tugas pokok teologi ialah mempertemukan manusia modern dengan wahyu Allah, yang diberikan dalam sejarah sejak zaman dahulu. Itu hanya mungkin kalau teologi secara serius dan pribadi bertanya mengenai arti Allah bagi manusia sekarang. Jawaban atas pertanyaan itu adalah paham Allah. Paham Allah tidak berasal dari refleksi manusia atas dirinya sendiri, melainkan dari refleksi atas sejarah pewahyuan Allah. Namun, perlu diperhatikan juga bagaimana manusia mampu menerima wahyu Allah itu. Sebab, Firman Allah ditujukan kepada manusia, dan hanya mempunyai arti kalau dapat diterima dan dimengerti oleh manusia. Juga dalam doa, manusia tidak menyapa Allah sebagai pribadi yang tidak dikenal atau yang hanya dibayangkan saja menurut khayalan sendiri. Sebaliknya, dalam doa, manusia menyapa Allah yang dengan nyata-nyata telah memperkenalkan diri secara konkret dan historis, khususnya dalam Yesus dari Nazaret.

Cari yang pokok

Teologi harus membantu orang untuk menempatkan doa-nya dalam kerangka yang lebih luas, dalam kerangka sejarah Allah dengan man usia. Tetapi, pusat perhatian teologis adalah paham Allah, yakni pemahaman akan apa yang dimaksud dengan kata "Allah". Iman devosional atau agama yang dimutlakkan hanya dapat hidup dari gambaran Allah yang antropomorf atau dari rumusan dogmatis yang abstrak. Kedua-duanya tidak menyentuh hati. Paham Allah sebagai rnisteri tidak pernah dapat digambarkan ataupun dirumuskan, hanya dapat dihayati dalam dinamika hidup sendiri. Itu berarti bahwa setiap orang harus mencari paham Allah sendiri. Hanya boleh diharapkan bahwa dialog di antara orang beriman dapat menolong orang perorangan untuk mengarahkan matanya kepada misteri Allah itu. Dalam hal ini, ia dapat memperoleh banyak pertolongan dari orang lain, khususnya dari mereka yang diberi tugas merefleksikan sejarah wahyu dan iman.Dengan demikian, orang senantiasa dapat mengoreksi gambaran atau rumusannya sendiri mengenai Allah dan mencocokkannya dengan pengalaman misteri dalam hidupnya sendiri, Yesus bersabda, 'Yang kamu sebut Allah, Aku sebut 'Bapa'" (bdk. Yoh 8:54). Ia tidak menerangkan atau mengoreksi gambaran mereka, Ia berbicara mengenai hubungan dengan Allah itu. Ia tidak berbicara mengenai Allah, Ia berbicara dengan Allah. Tetapi, Ia berdoa dalam tradisi Israel, yang Ia kenal dengan baik. Doa-Nya berdasarkan suatu relasi yang sangat pribadi sifatnya (lib. Mat 6:7-8), tetapi Ia sering memakai kata-kata dan rumus yang lazim dalam agama Yahudi.

Sesungguhnya dengan demikian Yesus memberi pelajaran bahwa paham Allah hanya dapat ditemukan dalam hati orang yang mengasihi sesamanya dan yang hidup di dalam dunia yang dinikmatinya serta disyukuri sebagai anugerah Allah. Maka, paham Allah juga dapat berkembang dalam penderitaan. Allah bukanlah Allah filsafat dan teologi, tetapi Allah anak-anak, yang mengagumi dunia di sekitar mereka dengan hati yang gembira (bdk. Luk 18:16). Allah itu juga memberi inspirasi kepada orang tua dan kepada semua orang yang mau hidup (bdk. Yoh 10:10), yang hidup di dunia sekarang, tetapi yang hidupnya bermuara ke dalam keabadian hidup Allah sendiri. Paham Allah berkaitan langsung dengan pengharapan, dengan penghargaan terhadap hidup. Paham Allah tidak terikat pada agama, jangan lagi pada satu agama. Sebab, paham Allah itu berpangkal pada sikap Allah sendiri, yang adalah kasih (lih.1Yoh 4:7-8). Paham Allah muneul dari pertemuan pribadi dengan Allah. Refleksi atas pengalaman itu dibantu oleh pengalaman orang lain, khususnya oleh mereka yang dalam teologi melatih diri untuk merefleksikan irnan dan pengalaman iman. Teologi bukanlah syarat untuk doa. Tetapi, teologi dapat memberi sumbangan berarti bagi orang yang ingin bertemu dengan Allah sebagaimana Ia menyatakan diri dalam sejarah keselamatan. Sebab, selalu ada bahaya bahwa doa tidak menjawab sapaan Allah, tetapi hanya mengungkapkan pikiran dan keinginan hati orangsendiri. Manusia dapat menjadi nabi palsu bagi dirinya sendiri. Maka, tanggapan kritis dari teologi dapat membantu untuk tetap mencari Allah sebagaimana Ia menyatakan diri.

Teologi ditemukan di mana?

Pertanyaan pokok, bagaimana mungkin sumbangan teologi pada doa orang yang sarna sekali tidak tahu-menahu mengenai teologi, sesungguhnya sudah terjawab. Di atas sudah dikatakan bahwa orang tidak pernah berdoa sendirian, juga kalau ia berdoa sendiri. Orang beriman selalu berdoa dalam jemaat, dalam hubungan dengan orang lain. Dalam jemaat itu, pasti ada pengaruh dari teologi, entah karena pengaruh pribadi para teolog, entah karena karya pewartaan dan katekese, yang juga dipengaruhi oleh teologi. Memang teologi bukan syarat untuk doa, dan tidak perlu setiap orang berirnan mengadakan refleksi iman yang ilmiah. Tetapi, setiap orang wajib bersikap kritis terhadap doanya sendiri. Iman bukan hanya soal perasaan dan sentimen, tetapi "dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi dan kehendak sepenuhnya" (Dei Verbum 5). Segi akal budi dan kehendak itu pantas diperhatikan. Untuk itu, memang tidak perlu teologi. Tetapi, perlu refleksi dan perhatian. Dan seeara khusus Konsili Vatikan II berani berkata, "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus" (DV 25). Membaea Kitab Suci dengan memanfaatkan aneka pedoman dan keterangan seeara tidak langsung membuat orang belajar teologi, tidak seeara ilmiah, tetapi dalam kerangka refleksi yang kritis. Begitu juga dengan ibadat sabda dan pelajaran agama. Tetapi, semua itu mengandaikan bahwa pelayanan Firman dalam Gereja sungguh bermutu dan membantu.

Maka, sumbangan teologi bagi doa harus datang pertama-tama dari para teolog sendiri. Itu berarti bahwa dalam teologi, janganlah ilmu diceraikan dari doa. Hubungan antara teologi clan doa hams mulai dalam teologi sendiri. Teologi mencari pemahaman. Tetapi, pemahaman selalu berdasarkan penghayatan, dan doa adalah penghayatan iman yang khusus. Sudah dikatakan dalam bab mengenai "Ora et Labora" bahwa doa tidak boleh dipisahkan dari karya. Maka, teologi tidak hanya merefleksikan doa, dan teologi juga tidak hanya dapat dikembangkan dengan doa. Diperlukan banyak kerja, termasuk kerja ilmiah. Tetapi, justru di mana orang beriman secara khusus berusaha menanggapi wahyu Allah, yakni di dalam doa, amat pentinglah refleksi teologis. Doa dan teologi kait-mengait. ltu berarti bahwa doa dan teologi saling membutuhkan. Tanpa doa, teologi mudah menjadi filsafat atau ilmu agama. Sebaliknya, tanpa teologi, doa mudah menjadi usaha mencari kepuasan rohani sendiri. Tanpa sikap kritis,doa mudah berpusat pada pusatnya sendiri dan tidak lagi berupa dialog. Bahaya khusus untuk doa sudah ditunjuk oleh Yesus sendiri: sikap Farisi yang puas diri. "Aku bersyukur bahwa aku tidak seperti orang lain" (Luk 18: 11). Doa selalu harus dihayati dalam kesadaran akan kesatuan dalam iman dengan banyak orang lain. Karena itu, juga pantas didengarkan dan diperhatikan orang lain itu.

Dialog

Pertanyaan kedua, yang disebut pada awal uraian ini, ialah sejauh mana doa menyentuh Allah yang disapa. Ini jelas pertanyaan teologis, karena menyangkut soal iman. Dikatakan bahwa "Tuhan telah menyatakan kebaikan-Nya lama sebelum kita mengajukan permohonan khusus kepada-Nya. Segala permohonan harus kita tempatkan dalam kerangka sejarah kebaikan Tuhan". Hal yang sarna berlaku untuk sifat "dialog" dalam doa. Tuhan telah memanggil kita sebelum kita menanggapi panggilan-Nya dalam doa. Inisiatif untuk doa tidak ada pada manusia. Dari pihak manusia, doa adalah jawaban, tanggapan. Doa memang suatu dialog, tetapi tidak seperti antara dua orang manusia. Menggambarkan doa sebagai obrolan dengan orang ternan, dan menantikan tanggapan dari Tuhan seperti dari ternan, adalah khayalan dan antropomorfisme. Kalau dikatakan bahwa "Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka, seperti seorang berbicara kepada temannya"(Kel 33:11), maka tidak dimaksudkan bahwa Musa sebaya dengan Tuhan. Yang dimaksud bahwa pembicaraan dan doa Musa sangat akrab, sungguh merupakan hubungan pribadi. Tetapi, "Tuhan memanggil Musa" (KeI19:20; juga 1m 1:1), dan bukan Musa yang memanggil Tuhan. Inisiatif ada pada Tuhan.

Tetapi, kebenaran itu tidak berarti bahwa Tuhan berbicara dulu-dulu, dan tidak dalam doa sekarang. Di sini perlu diperhatikan dua hal, firman Tuhan dahulu dan tanggapan kita sekarang. Tuhan memang bersabda dahulu. jalan kepada firman Tuhan itu adalah Kitab Suci. Maka, doa yang paling baik memang berpangkal pada Kitab Suci. Tetapi, perlu diingat teguran Yesus kepada orang Farisi, "Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal. Tetapi, walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu" (Yoh 5:39-40). Kitab Sucihanyalah jalan kepada Yesus. Yang pokok adalah Yesus. Sebab, Dia adalah Firman Allah sendiri. Dan "Yesus Kristus tetap sarna, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-Iamanya" (Ibr 13:8). Kita bertemu dengan Yesus bukan hanya dalam Alkitab, tetapi dalam Gereja, dalam sakramen, dan dalam setiap pertemuan kasih dengan sesama manusia. Adalah tujuan utama doa untuk membuat Yesus dari dahulu menjadi aktual sekarang. Maka, dialog doa adalah pertama-tama dialog dengan Yesus yang hadir dalam hidup sekarang, dan melalui Yesus dengan Bapa yang mengutus Yesus. Menurut DV ~, dialog itu hanya mungkin dengan "bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi dan menimbulkan rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran". Kata-kata terakhir amat penting: karena karya Roh Kudus manusia sadar bahwa di sini, sekarang dan di tempat ini, ia disapa oleh Allah, bahwa firman dari dahulu mempunyai arti bagi dia sekarang. Dalam kesadaran itu, doa menjadi dialog.

Merasakan kehadiran Tuhan

Doa bukan teologi. Dalam doa, memang ada refleksi karena sadar. Tetapi, yang pokok dalam doa adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan. Itu dapat terjadi tanpa kata-kata, bahkan tanpa pikiran refleksif. Yang pokok adalah mengalami dan merasakan kehadiran Tuhan. Maka, ketenangan adalah intisari doa ini. Dalam ketenangan, orang makin masuk ke dalam dasar jiwanya, makin mengalami yang paling pokok dalam hidupnya, makin mengalami diri sebagai makhluk eiptaan Tuhan, yang amat dicintai oleh-Nya. Di sini menjadi kentara peranan teologi. Sebab, kemakhlukan, cinta Allah, dan hidup abadi bukanlah gagasan yang spontan muneul, melainkan sudah terbentuk dalam benak sebelurnnya. Teologi membantu orang, entah langsung entah melalui pengaruh orang lain, untuk menjadi peka terhadap pengalaman akan kehadiran Tuhan. Pengalaman itu s~ndiri datang langsung dari Tuhan, dan inilah yang oleh Konsili disebut "rasa manis". Tetapi, mengenal pengalaman itu sebagai perjumpaan dengan Tuhan adalah pemahaman, yang akhirnya berasal dari teologi. Pemahaman itu dapat menolong ketenangan. Orang makin mudah dan makin pasti masuk ke dalam kehadiran Tuhan, tanpa diganggu oleh pertanyaan atau kekhawatiran. Orang tahu bahwa ia memang diberi kesempatan mengalami kehadiran Tuhan.. Karena itu. ia berani percaya pada pengalaman itu. Ia tidak bingung dengan suatu pengalaman yang memang luar biasa. Inilah "yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (lKor 2:9). Orang mau bersungguh-sungguh belajar untuk menerima anugerah Tuhan itu dan membiarkan Roh berkarya sendiri.

Kepada orang Korintus, Paulus sudah berkata, "Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" (lKor 3:16; bdk. Rm 8:9.11; 2Tim 1:14; juga Yoh 14:17). Orang beriman senantiasa sudah menjadi "bait Roh Kudus" (l Kor 6:19). Tetapi, barangkali banyak orang harus berkata, bersama dengan Yakub, "Sesungguhnya Tuhan ada di sini, dan aku tidak tahu" (Kej 28:16). Pemahaman akan karya Allah dapat membantu untuk merasakan kehadiran Roh dengan lebih sadar. ltulah sumbangan yang dapat diberikan oleh teologi kepada doa: membuat orang sadar mengenai karya Allah dalam dirinya. Sebab, doa bukanlah suatu pengalaman individual saja. Tuhan sungguh berkarya dalam diri orang individual, tetapi tidak hanya dalam dia. Karya Allah "mempersatukan di dalam Kristus segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi" (Ef 1:10). Karya Allah dalam satu orang berkaitan langsung dengan pengudusan dan penyelamatan semua orang yang lain. Kehadiran Roh dalam satu orang berhubungan langsung dengan seluruh Gereja, bahkan dengan alam raya seluruhnya. Karena itu, doa tidak pernah dapat dilepaskan dari misteri keselamatan Allah dalam seluruh sejarah dan medan kehidupan umat manusia. Doa kait-mengait dengan sakramen, dengan sejarah keselamatan, dengan pembangunan masyarakat, dengan kematian dan hidup kekal, dan dengan segala sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Semua itu tentu tidak selalu disadari seeara langsung, tetapi harus dihayati sebagai latar belakang untuk doa yang konkret. Dalam hal itu, teologi dapat menolong.

Teori dan praktek

Teori tanpa praktek tidak ada gunanya; itu disetujui oleh hampir semua orang. Tetapi kebalikannya, bahwa praktek amat membutuhkan teori, bukanlah keyakinan umum. Padahal, segal a kegiatan manusia baru sungguh manusiwi kalau diarahkan oleh pikiran. Hal itu berlaku untuk kegiatan manusia pada umurnnya, termasuk benar juga untuk doa. Doa kehiangan nilai manusiawinya kalau tidak diarahkan oleh pikiran. Namun dengan demikian, tidak mau dikatakan bahwa doa sarna dengan pikiran. Mungkin itu berlaku untuk meditasi, tetapi ada banyak bentuk doa lain yang digerakkan langsung oleh pengalaman akan kehadiran Allah. Doa tidak sirna dengan pikiran, tetapi juga tidak bisa tanpa pikiran. Mau tidak mau, orang bertanya mengapa berdoa, untuk apa berdoa, bagaimana berdoa. Doa sendiri bukan masalah. Tetapi, doa menjadi pertanyaan sebagai salah satu kegiatan manusia di antara sekian banyak kegiatan yang lain. Untuk rnenjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tidaklah perlu suatu teori yang berlaku urnum. Yang dibutuhkan ialah pertanggungjawaban mengenai kegiatan manusiawi itu. "Siap sedialah memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu," kata surat pertarna St. Petrus (3:15). Ini berlaku umurn. Adalah tugas teologi untuk mernbantu pertanggungjawaban itu.

Kesulitannya ialah bahwa teologi, sebagai ilrnu, selalu berbicara dengan bahasa khusus yang dipandang berlaku umurn. Karena bahasa itu khusus, dengan sendirinya bisa disangsikan apakah diketahui urnum. Dan rnernang teologi yang sudah sarnpai status "teori", artinya yang sudah menjadi suatu sistern tersendiri, pasti sulit diketahui oleh orang yang . bukan ahli (sarna seperti semua ilrnu yang lain). Tetapi, sikap teologis, yang rnencoba merealisasikan apa yang diminta oleh surat Petrus tadi, dapat diungkapkan dalam bahasa yang "biasa". Sikap itu adalah sikap kritis, yang mernpertanggung-jawabkan irnan tidak hanya terhadap orang lain, tetapi lebih-lebih terhadap dirinya sendiri. ikap itu membuat doa meniadi suatu kegiatan manusiawi yang sungguh berharga, juga kalau dilihat dari sudut manusia saja, Tentu saja yang dimaksud adalah manusia beriman (dari sudut pandangan at is, doa memang berarti mernbuang waktu). Manusia beriman yang dapat rnempertanggungjawabkan irnannya juga dapat menghargai doa secara rnanusiawi. Itulah pula sumbangan teologi pada doa.

Prof. Dr. Tom Jacobs, SJ
Kiriman artikel ditulis oleh B. Jeanedith
Disadur untuk dibagikan dari : http://www.imankatolik.or.id/

BACAAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN : Minggu 2 Januari 2011

BACAAN HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN :
Minggu 2 Januari 2011

Yes 60:1-6, Mzm 72:2,7-8,10-11,12-13, Ef 3:2-3a,5-6, Mat 2:1-12

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

BACAAN INJIL:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem 2dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH : Sabtu 1 Januari 2011

RENUNGAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH :
Sabtu 1 Januari 2011
Bil 6:22-27, Mzm 67:2-3,5,6,8, Gal 4:4-7, Luk 2:16-21

" Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”

BACAAN INJIL:
Pada waktu itu para gembala bergegas menuju Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada mereka. Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

SELAMAT TAHUN BARU 2011. Setiap pergantian tahun, kita bertanya-tanya dalam hati, “Apakah tahun baru ini akan lebih baik dibanding dengan tahun yang baru dilalui?” Banyak orang yang bergembira meninggalkan tahun yang sudah dilewati dan bergembira menyambut tahun baru. Namun tidak sedikit orang yang menganggap peralihan dari tahun lama ke tahun baru dianggap biasa-biasa saja dan bahkan sedikit pesimis dengan tahun yang baru. Sikap demikian terjadi karena melihat dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, melihat bahwa dalam hidup ini tidak tampak perubahan hidup yang lebih baik, bahkan seakan tahun demi tahun persoalan hidup semakin lebih berat, kekacauan dalam hidup Negara ini bukannya berkurang, tetapi malah semakin parah dan meningkat. Apalagi rasa pesimis semakin bertambah karena seringkali pada awal tahun banyak bermunculan para peramal atau paranormal yang ‘menjual’ kepintarannya dengan ramalan-ramalan di tahun yang baru. Pada umumnya mereka katanya lebih melihat kemalangan yang akan terjadi dalam tahun yang baru. Ini membuat ketakutan dalam banyak orang semakin menjadi-jadi. Akankah hidup di tahun ini akan lebih baik? Masih dapatkah kita bertahan dan menjalani tahun 2011 ini?

Mengawali tahun baru ini, kita merayakan Perayaan Santa Perawan Maria Bunda Allah. Allah memilih dan menetapkan Maria ikut berperan dalam menghadirkan penyelamat umat manusia sebagaimana yang telah dijanjikan lewat para nabi. Maria sebagai manusia biasa menerima tugas ini meskipun dia tahu persoalan berat yang akan dihadapinya, namun Allah berjanji bahwa Tuhan akan menyertainya dalam tugas mulia ini. Maria yakin bahwa Allah tidak pernah ingkar janji. Janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia dinyatakan dalam kelahiran Yesus Sang Mesias. Nama Yesus sendiri berarti Allah menyelamatkan.

Dalam injil hari ini juga, kita mendengar bahwa para gembala bergegas ke Betlehem stelah mendengar berita yang disampaikan oleh para malaikat kepada mereka sehubungan dengan kelahiran Sang Mesias. Di Betlehem mereka menemukan seperti yang dikatakan para malaikat Tuhan kepada mereka.

Mengawali tahun baru yang dimahkotai dengan perayaan Santa Perawan Maria Bunda Allah, kita diajak untuk meneladan Maria. Seperti Maria, kitapun tahu bahwa di hadapan kita pada tahun yang baru ini, juga akan kita hadapi tugas, tanggungjawab yang berat serta pasti akan menghadapi persoalan-persoalan hidup, namun kita yakin bahwa Allah tidak pernah ingkar janji, Tuhan akan senantiasa hadir menyertai kita. Dalam perayaan natal yang barusan kita rayakan, janji Allah itu nyata kepada kita dalam kelahiran Yesus Kristus Sang penyelamat. Lewat dank arena iman Maria, juga Yusuf keselamatan itu telah datang ke dunia. Dengan demikian, kita diajak menyambut dan menjalani tahun ini dengan penuh keyakinan dan harapan bahwa Yesus hadir senantiasa bersama kita, dalam tahun ini juga selalu ada keselamatan dari Allah. Sehingga kita tidak perlu takut dan pesimis dalam menyambut dan menjalani tahun ini. Selain itu, Maria percaya dan melaksanakan sabda Tuhan sehingga hadirlah keselamatan. Demikian juga para gembala mendengar dan melaksanakan seperti yang dikatakan oleh para malaikat Tuhan kepada mereka, dan mereka menemukan Yesus sang penyelamat. Oleh karena itu, kita juga tidak boleh lupa, bahwa di tahun ini, kita pasti akan menemukan kebahagiaan, keselamatan bila kita juga mau mendengar dan melaksanakan Sabda Tuhan dalam hidup kita.

Kita semua pasti merindukan agar tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Semua pasti merindukan hal itu. Kerinduan kita hendaknya bukan hanya suatu mimpi, angan-angan atau menunggu turunnya dari langit atau menunggu orang lain menghadirkannya. Bunda Maria dipilih dan ditetapkan untuk berperan menghadirkan Yesus Sang Mesias ke dunia ini. Iman dan kesediaan Bunda Maria berperan dan mewujudkan janji keselamatan umat manusia sehingga Yesus Sang Penyelamat hadir di dunia ini dan kita semua menikmatinya. Allah melibatkan manusia yang dalam hal ini Maria mewujudkan janjinya. Demikian juga halnya, Allah membutuhkan dan melibatkan kita menghadirkan keselamatan itu dalam hidup kita, dalam hidup tahun ini. Tuhan memanggil dan membutuhkan kita juga untuk menghadirkan keselamatan bagi kita dan bagi banyak orang. Ini menjadi perjuangan kita bersama dalam tahun-tahun ini. Kita jangan mengharapkan hidup yang lebih baik turun dari langit atau menunggu dilakukan oleh orang lain, tetapi baiklah kiranya seperti bunda Maria, kita harus terlibat menghadirkan keselamatan itu. Maria menjadi saluran rahmat keselamatan itu, kitapun lewat hidup, perkataan dan perbuatan kita menjadi saluran rahmat keselamatan kepada duni ini. Kalau bukan kita lagi yang menghadirkannya, siapa lagi?

Semoga tahun ini kita sambut dengan sukacita sebagai Tahun rahmat Tuhan karena Tuhan senantiasa menyertai kita. Semoga juga kita seperti bunda Maria menjadi saluran rahmat keselamatan, kebahagiaan bagi dunia. Amin.

BACAAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH : 1 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)

BACAAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH :
1 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)
Bil 6:22-27, Mzm 67:2-3,5,6,8, Gal 4:4-7, Luk 2:16-21

“Jadi dung dapot ari paualuhon i, asa tarsunat Ibana, gabe dibahen ma Goarna Jesus, naung digoar pardisurgo i hian, andorang so di bortian dope.”

BACAAN INJIL:
Jadi hatop ma nasida laho tusi, gabe jumpangsa si Maria dohot si Josep dohot Posoposo i, na peak di panggagatan i. Asa dung diida, dibaritahon nasida ma boaboa, naung dihatahon tu nasida taringot tu Dakdanak i. Jadi sude na umbegesa, longang be do siala na hinatahon ni angka parmahan i tu nasida. Ia si Maria, dipeop do hata i sudena jala dipahusorhusor di bagasan rohana. Mulak do angka parmahan i, dipasangap jala dipapujipuji do Debata ala ni sasude na binege jala na niidanasida, songon naung dihatahon i tu nasida. Jadi dung dapot ari paualuhon i, asa tarsunat Ibana, gabe dibahen ma Goarna Jesus, naung digoar pardisurgo i hian, andorang so di bortian dope.
Songoni ma Barita Nauli na dipatolhas tu hita sadari on.

BACAAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH : 1 Januari 2011 (Bahasa Karo)

BACAAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH
: 1 Januari 2011 (Bahasa Karo)
Bil 6:22-27, Mzm 67:2-3,5,6,8, Gal 4:4-7, Luk 2:16-21

“Janah ibahanna gelarNa Jesus, e me gelar si enggo ibereken malekat ope denga Ia lit i bas bertin.”

BACAAN INJIL:
E maka pedas-pedas berkat permakan ndai janah idapetina Maria ras Jusup dingen idahna pe Anak e medem i bas pelangkah. Asum permakan-permakan ngidah Anak e, iturikenna man Jusup ras Maria kai si enggo ikataken malekat man bana kerna Anak e. Jenari iturikenna pe man kalak si deban, janah kemamangen kerina kalak si megi berita si ikataken permakan e. Tapi rukur Maria kerna erti kata e janah ibunikenna i bas ukurna. Jenari mulih permakan-permakan janahna rende muji Tuhan, sabap kerina si enggo ibegina ras idahna payo bagi si ikataken malekat ndai man bana. Kenca umur waluh wari isunatkenna Anak ndai. Janah ibahanna gelarNa Jesus, e me gelar si enggo ibereken malekat ope denga Ia lit i bas bertin.
Bagenda me kata Tuhan.

BACAAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH : 1 Januari 2011

BACAAN HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH : 1 Januari 2011
Bil 6:22-27, Mzm 67:2-3,5,6,8, Gal 4:4-7, Luk 2:16-21

" Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”

BACAAN INJIL:
Pada waktu itu para gembala bergegas menuju Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang dibertahukan Tuhan kepada mereka. Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

BACAAN MALAM TAHUN BARU: Jumat 31 Desember 2010 (Thn. A)

BACAAN MALAM TAHUN BARU:
Jumat 31 Desember 2010 (Thn. A)
1Yoh 2:1-5a; Yoh 3:16-21

"Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal".

BACAAN INJIL:
Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada Nikodemus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita malam ini.

Tentang Kami : Visi dan Misi Paroki

SELAMAT DATANG di Blog Paroki Maria dari Gunung Karmel-
Tigalingga-KEUSKUPANG AGUNG MEDAN
Paroki Tigalingga adalah paroki termuda dari 4 paroki yang ada di Kabupaten Dairi yakni Paroki Sidikalang, Paroki Parongil dan Paroki Sumbul. Paroki ini terletak di daerah perbukitan demikian juga stasi-stasinya. Jumlah stasi maupun jumlah umat termasuk lebih sedikit dibanding dengan 3 paroki lainnya yang ada di Dairi. Paroki ini terletak di perbatasan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Karo, sehingga suku mayoritas di paroki ini adalah Batak Toba dan Batak Karo. Ini berpengaruh dalam pelayanan pastoral. Di beberapa stasi, bahasa sehari-hari menggunakan bahasa Batak Karo demikian juga dalam ibadah, dan di beberapa stasi menggunakan bahasa Batak Toba juga dalam Ibadah, hanya Gereja Induk menggunakan bahasa Indonesia saat ibadah.

Dilihat dari gedung Gereja paroki maupun dari Gedung pastoran, Gedung Gereja dan Gedung Pastoran paroki inilah yang saat ini yang kurang bagus, bahkan kurang layak disebut Gedung Paroki yang membawahi 26 Stasi. Bahkan juga mungkin yang paling kurang bagus dari semua paroki yang ada di Keuskupan Agung Medan. Walaupun demikian, paroki tetap berjalan dan dalam semangat dan kekuatan Roh Kudus mewartakan Kerajaan Allah.

Visi :

Dalam terang Roh Kudus Gereja Maria dari Gunung Karmel merupakan persekutuan umat beriman akan Yesus Kristus, yang menghayati iman secara mendalam dan dewasa serta menjadi berkat bagi masyarakat sekitar (bdk. Mat 5:13-16).

Misi:

1. Menanamkan dan meningkatkan iman kekatolikan dalam diri umat paroki sehingga tetap disemangati iman katolik di tengah hidup masyarakat yag mayoritas Protestan.

2. Membangun persaudaraan dan kesadaran umat akan panggilannya sebagai warga Gereja untuk berperan serta dalam kehidupan menggereja.

3. Membangkitkan semangat rasa memiliki, pengorbanan dan komitmen umat dan pengurus Gereja dalam tugas pengutusan Kristus.

4. Membangun dan memelihara kehidupan iman katolik dan kehidupan rohani dalam setiap komunitas keluarga secara berkesinambungan.

5. Meningkatkan eksistensi & partisipasi umat dalam setiap kegiatan Paroki serta mewujudkan keberanian menjadi saksi iman di tengah masyarakat.

6. Meningkatkan pembinaan iman generasi muda.

7. Mengembangkan sikap murah hati, cepat tanggap, peduli dan bela rasa terhadap masalah kehidupan masyarakat sekitar.

Saat ini, Paroki sedang membangun Gedung Gereja yang layak dan mendukung kesakralan Gereja sebagai tempat beribadah dan sesuai dengan perkembangan Gereja Katolik di Tigalingga. Sehubungan dengan hal ini, dalam dilihat di Persembahan Untuk Pembangunan Gereja Paroki

Semoga nama Tuhan semakin dimuliakan banyak orang. Amin.

Renungan Hari ketujuh dalam Oktaf Natal; Jumat 31 Desember 2010

Hari ketujuh dalam Oktaf Natal; Jumat 31 Desember 2010
1Yoh 2:18-21, Mzm 96:1-2,11-12,13, Yoh 1:1-18
(St. Silvester I)

"Allah hadir, menyertai dan memberkati perjalanan hidup kita sepanjang tahun 2010 yang akan berlalu."

BACAAN INJIL:
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku." Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Menjelan akhir tahun 2010 ini, Injil hari ini mengajak kita mengingat dan merenungkan bagaimana Allah yang hadir dalam hidup kita selama setahun ini. Dalam perayaan Natal kemarin, itulah yang kita rayakan, yakni Allah yang ada sejak kekal telah hadir menjadi manusia seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Dia yang telah menciptakan langit dan bumi ini juga kita manusia. Dia sungguh mengasihi kita dank arena kasihNya yang sangat besar Dia datang melawat kita dan hidup bersama dengan kita. Memang kahadiran-Nya yang demikian bagi kita dalah suatu ‘keanehan’, karena bagaimana mungkin Dia yang adalah Allah menjadi manusia seperti kita, Dia mau hidup bersama dengan kita. Itulah misteri masih Allah bagi kita, Dia bisa berbuat apa saja demi menyatakan kasih-Nya kepada manusia. Tuhan begitu dekat dengan kita sehingga sebenarnya kita bisa begitu mudah mendakatkan diri pada-Nya karena Dia sendiri sudah terlebih dahulu mendekati kita. Tuhan itu pulalah yang memberkati dan melindungi kita sepanjang tahun ini sehingga kita mampu melewati tahun ini. Tentu banyak hal yang sudah kita alami sepanjang tahun ini, ada suka dan ada duka. Dalam semuanya Tuhan menyertai dan memberkati kita, Dia senantiasa hadir dalam sepanjang hidup kita. Hanya memang kehadiran-Nya seringkali tidak kita sadari dan seringkali kita tidak mengenal Dia yang hadir dalam hidup kita sepanjang tahun ini.

Sebelum mengakhiri tahun 2010 ini, patutlah kita merenungkan apakah selama setahun ini kita sudah menyadari kehadiran-Nya dan mengenal Dia yang telah hadir dan memberkati hidup kita? Menyadari dan mengenal kehadiran Allah dalam hidup, oleh pengarang Yohanes dalam bacaan I adalah tinggal dalam kasih Allah dan Kasih Allah ada dalam dia. Pengarang Surat Yohanes mengatkan bahwa semua kita, baik kaum muda, kaum ayah dan juga kaum ibu hendaknya merenungkan hidup kita selama setahun yang akan kita lewati ini. Dia mengatakan bahwa orang yang mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalamnya. Selama hidup kita memang hidup dunia tetapi dengan pengajaran itu, bukan berarti mengajak kita untuk membenci dunia, membeci hidup di dunia ini. Kita tetap harus hidup dalam dunia, karena Yesus sendiri tidak membenci dunia bahkan Dia sendiri memasuki sejarah hidup dunia kita. Namun Yesus mengajak kita agar kita hidup dunia ini tidak hanya sekedar hidup, tetapi hendaknya menjadi garam dan terang di dunia ini. Yang dimaksud dengan mengasihi dunia adalah hidup dalam keinginan daging, keinginan mata dan keangukan hidup karena semuanya itu bukan berasal dari Allah. Yang berasal dari Allah adalah semua kebaikan, karena Allah itu mahabaik. Dengan demikian jelasnya apa yang dimaksud oleh Yohanes dengan mengasihi dunia, yakni hidup yang tinggal dalam dan melakukan kedosaan hidup. Hidup yang tidak mengasihi dunia berarti senantiasa percaya kepada Allah, melaksanakan sabda-Nya dan mewartakan keselamatan-Nya dalam hidup. Manakala kita hidup mengasihi dunia ini, pada saat itulah kita tidak menyadari, tidak mengenal kehadiran Allah dan bahkan menolak Allah dalam hidup kita.

Nah, patutlah sebelum meninggalkan tahun 2010 ini kita renungkan hidup kita selama tahun ini. Kalau memang selama tahun ini, kita seringkali tidak meyadari, tidak mengenal dan menolak kehadiran Tuhan dalam hidup kita, baiklah kita menyesalinya dan pada akhirnya kita tanamkan sikap tobat sebelum meninggalkan hari tahun ini dan dalam menyambut tahun yang akan akan kita jalani. Kita meninggalkan tahun ini dengan penu syukur karena walaupun kita melakukan semua itu, tetapi Tuhan senantiasa mengasihi kita sehingga kita dapat melalui tahun ini. Selain itu, mari kita tanamkan dan bangun sikap tobat dalam hidup dalam menyambut tahun yang baru. Kita berharap bahwa Tahun baru nanti kita menjadi semakin menyadari kehadiran Tuhan, mengenal kehadiran-Nya dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Pengarang surat Yohanes mengatakan, “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Kata-kata ini menjadi semangat dan harapan bagi kita dalam menyambut tahun baru, bahwa tahun yang baru yang walaupun pasti terdapat perosalan hidup sesuai dengan zamannya, tetapi kita dalam iman akan Allah akan tetap hidup, bertahan dalam semuanya dan akan menemukan kebahagiaan berlimpah pada tahun baru. Amin dan semoga.

REFLEKASI PRIBADI:
1. Cobalah merenungkan perjalan hidup selama tahun 2010 ini, apakah Anda sungguh menyedari, mengenali kehadiran Tuhan dan menerima-Nya?
2. Bersyukurlah kepada Tuhan atas tahun yang akan kita lalui dan bangunglah sikap tobat dalam menyambut tahun 2011 yang hampir tiba.

Hari Keenam dalam Oktaf Natal, Kamis 30 Desember 2010

Hari Keenam dalam Oktaf Natal, 30 Desember 2010
1Yoh 2:12-17, Mzm 96:7-8a,8b-9,10, Luk 2:36-40

"Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya."

BACAAN INJIL:
Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi ktia hari ini.

RENUNGAN

Dalam satu cerita film China (kami lupa judulnya), bintang utamanya adalah actor laga Jaky Chan. Film itu mengisahkan sekelompok anak muda yang hidupnya bersenang-senang, merampok dan bahkan dalam kisah itu, dalam perampokan membunuh polisi. Kelompok anak muda itu merampok bukan untuk biaya hidup mereka, tetapi dianggap merupakan kesenangan saja, karena mereka berasal dari keluarga kaya, anak dari pejabat local dan pengusaha local. Hidup mereka demikian, dianggap sebagai protes terhadap para orang tuanya yang tidak memperhatikan mereka, orang tua sibuk dengan urusannya sendiri. Singkat kata, mereka anak-anak orang kaya, tetapi miskin dalam kasih sayang orang tua.

Ketika anak menjadi jahat, pada umumnya yang dipersalahkan adalah anak itu sendiri, dianggap tidak tahu berterimakasih kepada orang tua, dianggap mempermalukan nama baik orang tua. Ada pula orang tua yang mempersalahkan para guru, karena menganggap sudah membayar guru mahal-mahal tetapi tidak dapat mendidik anak-anak mereka menjadi anak yang baik. Ada juga anak yang lebih dekat dengan pembantunya disbanding dengan ibunya. Seorang anak, ketika pembantunya sakit, dia begitu sedih dan resa. Tetapi ketika ibu kandungnya sakit, dia anggap biasa-biasa saja. Hal ini terjadi, karena hari-hari anak itu banyak dihabiskan bersama pembantunya, sampai-sampai dia merasa bahwa ibunya adalah pembantunya, sedangkan ibu kandungnya hanya yang melahirkan.

Ini sebagian dari kisah anak-anak yang memang sering kita temui dalam hidup. Banyak anak-anak yang dari hal meteri mereka berlebihan juga dalam hal pendidikan formal, tetapi miskin kasih sayang dari orang tua. Orang tua seringkali menganggap bahwa tugas mereka sebagai orang tua sudahlah terpenuhi kalau mereka mampu membiayai hidup anak-anak mereka. Mereka lupa bahwa anak adalah pribadi yang utuh, yang tidak hanya membutuhkan materi tetapi juga sapaan, perhatian dan kasih sayang.

Para orang tua, hendaknya senantiasa berguru dari keluarga Nasaret. Yosef dan Maria menjadi teladan dalam mendidik anak-anak. Yesus sebagai anak dalam keluarga kudus pasti mendapat didikan dari orang tuanya. Dalam Injil hari ini dikatakan bahwa Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Yusuf dan Maria bekerja mencari nafkah untuk membesarkan anak mereka. Mereka juga tentu tidak lupa mengajarkan dan mewariskan nilai-nilai hidup yang baik sehingga dikatakan bahwa Yesus penuh hikmat. Sebagai orang tua, Yusuf dan Maria juga tidak lupa mendidik dan mewariskan iman mereka terhadap Yesus anak mereka. Oleh karena itulah dikatankan bahwa kasih karunia Allan ada padaNya. Kasih karunia Allah ada pada-Nya tentu bukan hanya karena Dia adalah Allah, tetapi dalam daging manusia, Yesus tumbuh menjadi orang beriman. Yusus dan Maria mendidik anaknya dengan baik, tentu bukan hanya lewat perkataan, tetapi terlebih-lebih dalam iman dan lewat perbuatan atau contoh teladan yang mereka perlihatkan dalam hidup sehari-hari. Mereka melakukannya semuanya dengan penuh kasih sayang kepada anak mereka.

Belajar dari keluarga kudus, bagi kita jelas bahwa anak hendaknya tumbuh berkembang menjadi orang yang bijaksana, penuh hikmat dan menjadi orang beriman kepada Allah. Orang tua tidak cukup hanya membesarkan tubuh anak-anak tetapi harus juga memperhatian pendidikan nilai dan iman anak-anak sehingga anak-anak tumbuh menjadi orang yang penuh hikmat dan beriman kepada Allah. Pembinaan dan pendidikan anak hendaknya sudah dimulai sejak anak berusia bayi dalam keluarga. Dengan dimikian, orang tualah sebenarnya yang menjadi guru pertama dan utama dari anak-anak dan ‘sekolah hidup’ pertama anak adalah dalam rumah tangga atau dalam keluarga itu sendiri. Orang tua harus berani memberi waktu yang cukup kepada anak-anak mereka, orang tua juga harus memberi teladan yang baik dalam hidup sehari-hari, karena teladan adalah cara paling efektif dalam mendidik anak-anak. Janganlah kiranya apa yang diharapkan orang tua atas anak dan diajarkan kepada anak tidak sesuai dengan perilaku hidup yang diperlihatkan orang tua. Singkat kata, baiklah kiranya para orang tua berguru kepada keluarga kudus dalam membesarkan dan mendidika anak-anak. Anak-anak dalam keluarga juga hendaknya berguru kepada Yesus bagaimana hidup sebagai seorang anak dalam keluarga. Amin.

Berita Gerejani : Polisi tahan para imam di Korea

Polisi tahan para imam di Korea

Pastor John Ko Byeong-soo yang ditahan polisi

Pada 27 Desember, Polisi Korea Selatan menahan sekelompok imam dan aktivis ketika menggelar protes terhadap proyek pemerintah yaitu pembangunan basis angkatan laut.
Polisi menangkap Pastor John Ko Byeong-soo, wakil ketua Special Committee for the Island of Peace dari Keuskupan Cheju. Bersama tiga imam Katolik, dua pendeta Protestan, dan sekitar 20 aktivis, Pastor Ko menghadang berbagai perusahaan konstruksi yang membawa bahahan bangunan ke tempat pembangunan.
Kelompok tersebut mengadakan konferensi pers di gerbang tempat pembangunan tersebut, tepatnya di Desa Gangjeong, Pulau Jeju (Cheju), dan menghimbau adanya penyelesaian atas konflik terkait dengan konstruksi tersebut.

“Mengapa dan untuk siapa basis angkatan laut ini dibangun di Desa Gangjeong, kawasan paling bersih di Korea? Tidak ada persenjataan modern dan sekutu yang bisa melindungi perdamaian dan kehidupan kita,” kata Uskup Cheju Mgr Peter Kang U-il dalam kotbahnya sebagaimana diberitakan oleh Voice of Jeju, sebuah kantor berita online setempat.

Pada 25 Desember, Uskup Kang mempersembahkan Misa Natal bersama warga Desa Gangjeong di kawasan konstruksi yang kontroversial tersebut. Pulau Jeju merupakan kawasan resor terkenal. Tahun 2005 pemerintah menjadikannya sebagai “Island of Peace.”

Pada bulan Juni 2007, Angkatan Laut dan pemerintah Propinsi Jeju menjadikan Desa Gangjeong sebagai tempat proyek basis angkatan laut tersebut. Pada 29 Januari, Angkatan Laut menandatangani kontrak dengan dua perusahaan untuk karya konstruksi itu. Basis angkatan laut seluas 400.000 meter persegi itu akan menjadi pusat untuk armada kapal-kapal penghancur yang akan berpatroli di East China Sea antara Cina dan Jepang.

Sumber : ucanews.com; By John Choi, Seoul, Tanggal publikasi: 28 Desember 2010

Sumber Berita Katolik

Renungan Hari kelima dalam Oktaf Natal, 29 Desember 2010

Renungan Hari kelima dalam Oktaf Natal, 29 Desember 2010
1Yoh 2:3-11, Mzm 96:1-2a,2b-3,5b-6, Luk 2:22-35
(St.Thomas Becket)

"Janganlah kita menunggu atau menunda waktu untuk berbuat kasih kepada sesama."

BACAAN INJIL:
Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri?,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

“Melihat Tuhan, itulah kesempurnaan hidup dan kebahagiaan kekal.” Inilah iman yang dihanyati oleh nabi Simeon ketika dia melihat dan menatang Yesus yang dipersembahkan kepada Allah menurut hokum Taurat. Dia selama hidupnya merindukan kehadiran Sang Mesias, dan sesudah melihat Yesus Sang Mesias, kerinduan hatinya sudah terpenuhi dan itulah baginya kebahagiaan tertingggi, tujuan hidupnya sehingga dia berkata, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Tiada kegembiraan lain baginya selain melihat Sang Mesias. Sungguh iman yang sangat mendalam akan Yesus yang adalah Mesias.

Apakah kita sudah melihat Yesus Sang Mesias? Dalam perayaan Natal kemarin, kita melihat dan bertemu dengan Yesus Mesias yang membawa keselamatan kepada kita. Melihat dan mengenal Tuhan, tentu tidak hanya dalam artian melihat dengan mata kepala sendiri atau bertatap muka langsung dengan Tuhan. Melihat dan mengenal Tuhan juga dalam arti percaya kepada Tuhan. Kita semua tentu sudah percaya pada Yesus adalah Mesias dan ini kita rayakan pada hari raya natal kemarin. Nah persoalannya, apakah kita juga seperti Simeon yang meyakini bahwa ‘melihat’ Yesus itulah kebahagiaan tertinggi? Bagi Simeon, tidak ada yang dia harapkan dalam hidup selain melihat Yesus dan dia bertahan hidup hanya untuk melihat Yesus dan setelah melihat Yesus, dia merasa hidupnya sudah sempurna. Apakah kita juga sudah mengalami demikian setelah percaya kepada Yesus?

Surat Pertama Yohanes bab 2 sebagaimana kita dengarkan dalam bacaan I sungguh begitu indah menjelaskan bagaimana hidup orang yang mengaku telah mengenal dan percaya kepada Yesus. Dia mengatakan bahwa orang yang mengenal atau percaya kepada Tuhan, berarti tidak ada lain selain dia juga mengikuti perintah-perintah Tuhan. Orang yang mengaku dirinya sudah mengenal dan percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menuruti perintah Tuhan, dia itu seorang pendusta, kebohongan yang ada dalam dirinya, tidak ada kebenaran dalam dirinya. Orang yang menuruti perintah Tuhan, itulah tandanya dia bersama dalam Tuhan dan Tuhan dalam dirinya, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi manusi, demikianpun kiranya kita mengasihi sesama kita sebagai saudara. Oleh Yohanes ditegaskan bahwa dengan mengasihi saudara, itulah juga tandanya kita melaksanakan perintah Tuhan dan hidup seperti Dia. Saudara yang dimaksudkan tentu bukan hanya orang-orang tertentu, atau orang yang dekat dengan kita saja. Dalam perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37), Yesus memberitahukan kepada kita siapa saja yang menjadi saudara kita. Dalam perumpamaan itu jelas dinyatakan saudara kita adalah terutama orang yang menderita, yang membutuhkan pertolongan, bantuan dari kita. Di sekitar kita banyak orang yang menderita, orang kecil yang merindukan sapaan kasih, mendambakan dan merindukan pertolongan kita. Baiklah kiranya kita yang sudah melihat Yesus, berbuat kasih kepada mereka. Kita seringkali menemukan dan melihat orang yang menderita, tetapi justru seringkali tidak berbuat apa-apa. Mungkin karena sudah terlalu sering melihatnya, sehingga melihat hal itu biasa saja. Padahal seharusnya, kita bisa berbuat sesuatu yang baik kepada mereka. Memang kita tidak bisa membantu atau berbuat baik kepada semua orang yang menderita, tetapi paling tidak kita mengasihi dan berbuat baik kepada orang yang menderita yang ada di sekitar kita. Ada orang yang tidak berbuat kasih kepada sesama karena merasa tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan dan merasa bahwa dirinya masih berkekurangan serta berpikir akan berbuat kasih kepada orang lain setelah hidupnya berkelimpahan. Ini prinsip yang keliru, hanya sebagai alasan untuk menghindarkan diri dari kewajiban untuk berbuatk kasih kepada sesama. Kalau kita berpikir memberi atau berbuat kasih kepada sesama setelah kita mempunyai lebih, itu bukan berbuat kasih, tetapi memberi dari kelebihan kita, kita dalam hal ini hanya memberi dari apa yang tidak kita perlukan. Begitu banyak orang yang bangga dan merasa dirinya sudah berbuat kasih kepada orang kecil dengan menyumbangkan bakaian atau barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi. Padahal apa yang diberi karena tidak lagi dibutuhkannya dan setelah itu membeli yang labih mahal lagi. Adapula yang sudah bangga karena memberi sumbangan, padahal uang yang dihabiskannya setiap hari jauh lebih besar dari yang diberikannya. Adapula yang memberi jauh lebih sedikit dari uang yang dikeluarkannya setiap hari untuk makanan binatang piaraannya. Memberi dari kelebihan, itu bukanlah perbuatan kasih. Memberi dari kekurangan, itulah perbuatan kasih yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, kita yang sudah ‘melihat’ Sang Mesias, hidup dalam Dia dengan menuruti perintah-perintah-Nya. Kita melaksanakan perintah Tuhan dengan berbuat kasih kepada sesama. Janganlah kita menunggu atau menunda waktu untuk berbuat kasih kepada sesama. Amin.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Apakah Anda sungguh sudah ‘melihat’ Yesus sehingga merasa itulah tujuan utama hidup dan kebahagiaan tertinggi?

2. Hiduplah dalam kasih Tuhan, karena itulah tandanya kita sudah bersama Tuhan dan Tuhan bersama kita.

Renungan : Selasa 28 Desember 2010

Renungan : Selasa 28 Desember 2010
1Yoh 1:5-2:2, Mzm 124:2-3,4-5,7b-8, Mat 2:13-18
(Pesta Kanak-Kanak Suci)

"Mari kita menghargai hidup kita dan hidup orang lain!"

BACAAN INJIL:
Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN

Herodes jelas adalah raja yang haus akan kekuasaan, orang yang berambisi dan tidak ingin disaingi oleh orang lain. Oleh karena itulah Ketika raja Herodes mendengar orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya tentang Yesus raja orang Yahudi yang baru dilahirkan, dan mereka hendak menyembah Dia, Herodes sangat terkejut. dia terkejut dan ? Herodes merasa kerajaannya terancam sehingga berencana membunuh Yesus yang masih bayi. Namun Tuhan Allah menyelamatkan Yesus lewat mimpi kepada Yusuf yang menyuruh mereka mengungsi ke Mesir. Karena Herodes tidak bisa menemukan dan membunuh Yesus, dia menjadi sangat marah sehingga membunuh bayi-bayi yang seusia dengan Yesus yakni bayi berumur 2 tahun ke bawah. Bayi-bayi itu menjadi korban ambisi, iri hati, kekejian, kemarahan dan kekejaman Herodes.

Pada zaman ini juga banyak orang yang berperilaku seperti Herodes. Banyak penguasa, pemimpin, orang kaya dan yang lain begitu gampangnya menghilangkan nyawa orang lain, hanya karena kepentingan mereka sendiri. Dengan mudahnya seseorang membunuh atau menyewa seorang pembunuh bayaran untuk membunuh orang yang dianggap saingan atau lawannya. Betapa mudahnya seorang koruptor mengkorupsikan uang yang diperuntukkan untuk orang-orang kecil dan miskin. Bukan rahasia juga bahwa ketika ada bencana alam, banyak orang berlomba-lomba mencari keuntungan dari semuanya itu, yakni seakan mencari dana untuk para korban, tetapi sebenarnya juga mencari kekayaan atau pekerjaan dari kejadian itu, dana bantuan yang harusnya disalurkan untuk para korban, tetapi nyatanya dipakai untuk kepentingan sendiri. Semuanya itu tidak jauh beda dari sikap Herodes yang menganggap hidup atau nyawa orang lain tidak berharga sehingga dengan mudah begitu saja ditelantarkan bahkan dihilangkan.

Sekarang ini juga, sering kita dengar bahwa anak-anak menjadi korban ambisi orang dewasa atau orang tua. Tanpa sadar, orang dewasa atau orang tua karena demi ambisinya mengorbankan anak-anak. Misalnya orang tua seringkali memaksanakan kehendaknya kepada anak misalnya dalam masalah pendidikan. Orang tua berambisi anaknya menjadi seorang dokter karena merupakan suatu gengsi di mata umum, namun sebenarnya anaknya punya minat dan keingingan lain. Tetapi karena dipaksa orang tua, anak menjadi mengikutinya. Dalam hal ini, tanpa sadar orang tua membunuh karakter anak dan juga masa depannya. Sebab bisa jadi anak setelah menyelesaikan keinginan orang tuanya, dia tidak bisa menikmati hasilnya, dia hidup seakan-akan bukan karena keinginannya, tetapi karena keinginan orang tuanya, hidupnya akan terasa hampa. Ada juga orang tua yang begitu kejam dan pemarah, dia sering memukul dan menyiksa anaknya dan bahkan ada orang tua yang sampai membunuh anaknya. Masih banyak kejadian yang kita dengarkan sehubungan dengan anak menjadi korban kekejaman, kekerasan, kekejian dan kemarahan orang-orang dewasa.

Tentu selain mengajak kita untuk menghotmati anak-anak yang menjadi korban kekejaman Herodes karena tidak bisa membunuh Yesus, kita juga diajak untuk tidak berperilaku seperti Herodes, yang sifatnya ambisius, iri hati, kejam, keji dan tidak menghargai hidup orang lain. Hidup itu sungguh berharga, berasal dari Tuhan dan milik Tuhan. Oleh karena itu, mari kita menghargai hidup kita dan hidup orang lain.

Bagi para orang tua, Injil hari ini mengajak agar melihat bahwa hidup anak-anak adalah anugerah Tuhan, pemberian Tuhan. Dengan kesadaran ini, para orang tua hendaknya berusaha memelihara dan bahkan harus berjuang untuk mempertahankan hidup anak-anak. Orang tua harus berusaha agar anak-anak tetap hidup, terhindar dari apa yang dapat membunuh mereka baik itu yang membunuh hidupnya dan imannya. Orang tua yang memelihara hidup anaknya, sama halnya melaksanakan perintah Tuhan yang memberi dan menghargai hidup. Amin.

Cina Kritik serangan Vatikan

CINA KRITIK SERANGAN VATIKAN

Kemarin 22 Desember, pemerintah Cina membalas serangan Vatikan. Pernyataan Vatikan tentang kebijakan kebebasan beragama Cina itu ditanggapi pemerintah Cina sebagai “sangat tidak bijak dan tidak berdasar.”

Inilah tanggapan resmi pertama Beijing terhadap komunike yang dipublikasi Vatikan lima hari lalu. Dalam komunike itu, Vatikan mengungkapkan kepedihannya atas Eighth National Congress of Catholic Representatives di Beijing.

Kantor berita Xinhua mengutip jurubicara State Administration for Religious Affairs (SARA) yang mengatakan: Vatikan salah paham tentang situasi Gereja Cina sekarang ini dan berusaha memanfaatkan agama untuk menerapkan nilai-nilai politiknya. Pejabat SARA itu mengatakan, ini akan membawa bahaya serius bagi perkembangan sehat Gereja Cina.

Jurubicara SARA tersebut menekankan bahwa kongres nasional itu tidak menyentuh doktrin Katolik, tidak melanggar hal-hal fundamental iman Katolik, dan tidak butuh pengakuan negara-negara atau organisasi-organisasi lain.

Vatikan telah berusaha keras mencegah jalannya kongres melalui berbagai cara dan mengancam menghukum klerus yang mengambil bagian dalam kongres, kata jurubicara tersebut. “Bukanlah ini jelas bahwa dialah yang mengancam keyakinan agama dengan tangan besi dan memaksa umat Katolik melawan ‘hati nurani’?”

Ketua baru Chinese Catholic Patriotic Association dan ketua baru Bishops’ Conference of the Catholic Church in China telah terpilih dengan suara bulat. Ini sesungguhnya mencerminkan impian dan harapan para peserta kongres, lanjut jurubicara tersebut.

Hukuman Vatikan terhadap mereka berarti Vatikan secara keras “menginjak dan menghina” kerinduan akan demokrasi dari sebagian besar umat Katolik Cina dan Vatikan “berperilaku sangat kasar dan tidak sopan.”

Jurubicara itu mengakhiri kritikannya dengan menyatakan, pemerintah Cina berharap bahwa Vatikan berhati-hati dan menahan diri agar tidak memperburuk hubungan Cina-Vatikan dan kembali berdialog di jalur yang benar.

ucanews.com, By Reporter ucanews.com, Hong Kong, Cina
Disadur dari http://www.cathnewsindonesia.com/, Tanggal publikasi: 23 Desember 2010


Renungan hari Senin Masa Natal, 27 Desember 2010

Renungan hari Senin Masa Natal, 27 Desember 2010
1Yoh 1:1-4, Mzm 97:1-2,5-6,11-12, Yoh 20:2-8
(Pesta St. Yohanes Rasul)

"Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya."

BACAAN INJIL:
Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Ketika TimNas Indonesia menang atas Filipina, mereka disanjung-sanjung dan begitu banyak pujian, sanjungan, komentar-komentar indah, media televisi sampe mengekspost seseorang juga perpidahan agamanya dari agama Katolik ke agama lain. Indonesia terlalu bangga, memuji-muji Tim Nasional karena menang dan memenuhi keinginan dan harapan banyak orang. Tetapi setelah barusan kalah 3-0 dengan Malasya, apakah masih ada pujian, sanjungan seperti sebelumnya? Mungkin yang akan muncul adalah kritik, celaan dan mencari kambing hitam. Suatu kenyataan yang seringkali terjadi dalam hidup kita, orang dipuji, disanjung, diekspost ketika orang tersebut memenuhi harapannya. Seringkali dukungan sifatnya hanya temporer, gampang berubah-ubah.

Hal yang demikian juga bisa seringkali terjadi dalam kaitan dengan iman akan Yesus Kristus. Kerap ketika kita merasa bahwa Tuhan mengabulkan doa kita, atau iman sungguh sesuai dengan harapan kita, kita memuji, memuliakan Yesus, mengagung-agungkan Tuhan dengan bangganya dan bersaksi dengan lantang bahwa Tuhan itu baik. Tetapi ketika seakan Yesus tidak mengabulkan doa-doa kita dan Yesus tidak memenuhi harapan kita, kita berpaling darinya. Cinta dan iman kita kepada Yesus, seringkali sifatnya temporer, kita tidak mampu bersaksi selalu akan Yesus yang adalah Tuhan.

Di dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, ketika para murid mendengar berita bahwa jenasah Yesus telah diambil orang, Petrus dan murid yang lain, yang kerap disebut murid yang dikasihi, langsung berlari ke makam. Cinta mereka kepada Yesus tidak pudar, meskipun Yesus wafat dan tidak seperti yang mereka harapkan. Memang mereka terpukul dan kecewa tetapi tidak langsung berpaling dari Yesus, tidak mencela Yesus. Para Rasul tetap mengasihi Yesus, Yesus tetap ada di dada mereka, dalam hati dan hidupnya. Bukan hanya seperti slogan untuk timnas Indonesia. Cinta yang tetap menggebu-gebu kepada Yesus secara khusus diperlihatkan oleh Yohanes Rasul yang dinamakan murid yang dikasihi. Ketika dia melihat menyataan dalam kubur, dia langsung percaya bahwa Yesus telah bangkit. Dia percaya meskipun tidak melihat secara langsung Yesus yang bangkit, dia hanya melihat tanda-tanda. Cintanya yang besar kepada Yesus dan kesadaran bahwa Yesus membuat dia mampun menangkap kehadiran Yesus yang bangkit dan dia bersaksi atas kebangkitan Yesus bagi kita. Bahkan dia mampu melihat kebangkitan Yesus di makam, tempat yang melambangkan kematian, tiadanya pengharapan dan tempat yang mengerikan banyak orang.

Kitapun seperti Yohanes rasul adalah orang-orang yang dikasihi Yesus. Kasih Allah kepada kita, itupulalah yang kita rayakan pada hari Raya Natal yang bari kita rayakan. Kesadaran diri akan kasih Allah kepada kita tentunya juga membuat kita juga mengasihi Yesus. Kalau kita ditanya apakah kita mengasihi Yesus? Tentu kita semua akan menjawab ‘ya’. Sebagai orang yang mengasihi Allah, tentu kasih itu kita nyatakan dalam kesetiaan kepada Tuhan. Yohanes Rasul melihat ke dalam makam dan percaya akan Yesus yang bangkit, hidup mulia dalam dunia, makam dan kematian tidak membatasi kasih Tuhan kepada manusia. Pada perayaan Natal kita juga sudah menyaksikan kasih Allah dalam kelahiran Yesus Sang Mesias. Cinta kita dan apa yang telah kita lihat dalam perayaan Natal, hendaknya membuat kita semakin percaya kepada Yesus dan juga membuat kita berani bersaksi. Demikianlah juga kiranya yang kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.(1Yoh 1:3-4). Sebagai orang yang dikasihi Yesus, kita tidak cukup hanya bergembira dan menikmati kasih Yesus seorang diri, tetapi kita harus bersaksi kepada sesama akan kasih Yesus. Kesaksian itu kita nyatakan dengan berbagi kasih kepada sesama, khususnya bagi sesama yang merasa hidupnya terasa seakan berada di ‘makam’, di mana tidak ada lagi harapan, rasa putus asa, kegelepan. Cinta kasih kita kepada Tuhan, hendaknya membuat kita mampun menangkap kehadiran Tuhan dalam hidup yang kelam sekalipun dan kita juga bersaksi serta membantu sesama agar mereka juga dapat menangkap kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka, bahkan dalam kehidupan yang kelam sekalipun. Dengan demikian, kasih Allah yang telah kita lihat, kita rasakan hendaknya membuat kita mengasihi Allah dan membuat kita berani bersaksi akan kasih Allah kepada dunia.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Lakukanlah dan warnailah hidupmu dengan perbuatan kasih dan dilandasi oleh kasih Allah.

2. Bagikanlah kasih itu kepada sesama dengan berbuat baik kepada sesama.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)