Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Teolog ‘Tuhan sudah mati’ telah wafat

Teolog ‘Tuhan sudah mati’ telah wafat

William Hamilton, seorang teolog kontroversial yang mengatakan pada tahun 1960-an bahwa Tuhan sudah mati, telah meninggal, Selasa (28 Februari) di apartemennya di pusat kota Portland, Amerika Serikat, dalam usia 87 tahun.

Hamilton mengatakan dia telah dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan sejak ia masih remaja. Beberapa tahun kemudian, ketika kesimpulannya itu diterbitkan di majalah TIME, edisi 8 April 1966, ia menemukan dirinya di tengah badai teologis.

Saat Time memunculkan gerakan baru “teologi radikal,” Hamilton sebagai salah satu tokoh kuncinya mendapat ancaman mati dan surat-surat dari orang yang marah dikirim ke meja redaksi majalah itu.

Dia kehilangan gelar sebagai profesor teologi di sekolah yang kini Colgate Rochester Divinity School tahun 1967.

Hamilton pindah mengajar agama di New College di Sarasota, Florida, dan kemudian mengajar di Portland State University tahun 1970.

Hamilton mengajar mata pelajaran agama, kritik sastra dan kematian selama 14 tahun hingga pensiun.

“Dia adalah seorang guru berbakat dan inspiratif, orang intelektual yang dinamis dan luas,” ujar Ronald Carson, yang bertemu Hamilton tahun 1962 dan telah menjadi temannya selama 50 tahun.

Carson mengenang kembali ketika Hamilton berbicara selama sekitar 10 menit dan ia merasa “terpesona.”

“Saya tidak tahu apa yang dikatakan,” katanya, “tapi saya ingat dari sesi itu dan berpikir, ‘saya akan senang untuk menjadi seperti dia.”

Sumber: Theologian who said “God is dead” has died

Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH II : 4 Maret 2012

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH II : 4 Maret 2012
Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18, Mzm 116:10,15,16-17,18-19, Rm 8:31b-34, Mrk 9:2-10

BACAAN INJIL: Mrk 9:2-10

“Inilah Anak-Ku terkasih.”

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."

RENUNGAN:

Yesuslah Anak Allah. Barang siapa mendengarkan-Nya, dia akan beroleh mulia dari Tuhan.

Ada sebuah kisah yang menceritakan adanya kebakaran di sebuah rumah bertingkat. Apa menyala dan menimbulkan banyak asap. Semua penghuni rumah sudah berlari keluar tetapi ternyata saat semua orang berusaha memadamkan api dan menyaksikan kebakaran itu, ada suara anak kecil yang berteriak dari atas loteng. Anak itu menanangis, berteriak memanggil ayahnya dan meminta tolong, namun yang kedengaran adalah hanya suara, karena asap tebal membuat anak itu tidak kelihatan. Ayah anak itu mendengar suara anaknya dan berjalan tepat di bahwa suara anaknya berteriak. Ayahnya itu berkata, “Anakku, lompatlah, ayah ada di bawah dan ayah akan menangkapmu di bawah sehingga engkat tidak akan celaka.” Mendengar suara ayahnya dari bawah, walaupun tetap tidak bisa melihat ayahnya, anak itupun melompat dari atas dan tepat di pelukan ayahnya. Anak itu tidak melihat ayahnya, hanya mendengar suara ayahnya dan yakin bahwa ayahnya pasti akan menangkapanya, maka dia berani melompat dari atas.

Mendengar orang yang kita kasihi dan kita tahu mengasihi kita, membuat kita berani untuk melaksanakan apa yang dikatakan karena yakin bahwa orang yang kita kasihi itu pasti tidak akan mencelakakan kita.

Dalam injil hari ini, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes ke sebuah gunung yang tinggi. Di gunung itu ketiga murid mengalami suatu pengalaman yang luar biasa, yakni Yesus berubah rupa, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Pengalaman itu bagi para murid adalah suatu pengalaman yang sungguh luar biasa. Peristiwa itu seakan memberi suatu pengajaran kepada mereka, apa gunanya mengikuti Yesus, yakni bahwa Yesus yang mereka ikuti adalah Tuhan dan merekapun akan beroleh kemuliaan dari Tuhan. Karena begitu senangnya Petrus menawarkan untuk membuat 3 kemah, satu untuk Yesus, satu untuk musa dan satu untuk Elia. Saking gembiranya, Petrus hanya berpikir membuat kemah 3 buah, sedangkan untuk mereka tidak perlu.

Mereka begitu sangat bahagia, karena di gunung itu mereka mengalami kemuliaan Tuhan. Mereka menawarkan membuat kemah, karena mereka tidak mau kehilangan peristiwa mulia itu dan ingin tetap berada dalam kemuliaan Tuhan yang mereka alami. Namun tiba-tiba turun awan yang menaungi mereka dan dari dalam awan itu ada suara yang berseru, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Awan dan suara itu seakan menyadarkan para murid bukan hanya siapa Yesus yang mereka ikuti, tetapi juga disadarkan bahwa untuk menikmati kemuliaan Tuhan adalah hanya dengan mendengarkan Yesus.

Dalam pengalaman hidup beriman, kitapun mungkin pernah mengalami pengalaman yang menyenangkan, pengalaman yang membuat kita merasa damai dan bahkan pengalaman yang merasa betapa indahnya beriman kepada Tuhan. Hal seperti itu bisa terjadi saat-saat kita mengikuti perayaan ekaristi, mengikuti kegiatan rohani, mungkin sehabis rekoleksi, retret dan juga saat berziarah. Pada saat demikian, kita merasa damai dan seakan tidak mau melepaskan kedamaian itu, sehingga kita membangun niat-niat yang baik. Mungkin orang yang melakukan jiarah, merasa waktu terlalu cepat berlalu dan sekan enggan untuk pulang. Karena itu membangun niat, kelak akan jiarah lagi.

Pada saat-saat demikian kita merasakan damai, tidak ingin rasa damai itu cepat berlalu dari kita. Itu suatu pertanda bahwa kita merindukan damai dan merindukan kelak beroleh kemuliaan Tuhan. Namun lewat pengalaman para murid lewat suara yang berseru, kita diingatkan bahwa untuk mencapai kedamaian kekal atau sampai ke kemuliaan Allah, jalan satu-satunya adalah hanya dengang mendengarkan Sabda Yesus. Mendengarkan sabda Tuhan/Yesus tentu tidak hanya saat berada di atas gunung, bukan hanya saat-saat rekoleksi atau retret atau saat Ziarah, tetapi mendengarkan Tuhan harus diwujudkan dalam kehidupa sehari-hari.

Dari sebab itu, dalam masa Prapaskah ini, baiklah kita semakin banyak mendengarkan Sabda Tuhan, baik itu lewat membaca kitab suci maupun lewat ibadah-ibadah dan dalam Ekaristi kudus. Mendengarkan sabda Tuhan, tentu tidak hanya mengangguk-angguk tetapi apa yang didengarkan sungguh dilaksanakan. Berani melaksanakan sabda Tuhan karena percaya bahwa Tuhan tidak akan mencelaki kita, tetapi malah Tuhan akan membawa kita ke kemuliaan Tuhan, kedamaian hidup yang sejati. Sama halnya seperti anak dalam cerita di atas, anak itu mendengarkan suarau ayahnya dan berani melompat walau tidak melihat ayahnya, karena dia percaya bahwa ayahnya tidak berbohong dan ayahnya pasti menangkapnya. Demikian juga halnya kita dalam mendengarkan sabda Tuhan. Kita setia melaksanakan sabda Tuhan karena kita percaya bahwa Tuhan tidak akan menyesatkan, tidak akan mencelakai kita, tetapi Tuhan pasti akan menyelamatkan kita.

Sabda Tuhan itu memang seringkali tidak masuk akal dan seringkali tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun kita harus percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah mencelakai kita, Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang akan mencelakai kita. Dalam bacaan I, Tuhan meminta Abraham membawa anaknya Ishak ke tanah Moria dan mempersembahkan dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan dikatakan Tuhan kepada-Nya. Perintah Tuhan ini tentu tidak masuk akal, sebab Tuhan memberi Ishak anak satu-satunya pada masa tuanya Abraham, tetapi Tuhan malah meminta Abraham untuk menjadikan anaknya itu sebagai korban persembahan. Walau tidak masuk akal, Abraham tetap menuruti perintah Tuhan, Abraham tetap yakin bahwa sabda Tuhan itu adalah yang terbaik dan harus dilaksanakan. Ternyata Tuhan menguji kesetiaan Abraham dan Abraham setia. Bagi Abraham setia mengikuti Sabda Tuhan, walaupun seakan tidak masuk akal, itu lebih penting dibandingkan yang berharga padanya, juga anaknya. Abraham siap mengorbankan anaknya demi mendengarkan sabda Tuhan. Namun meskipun anaknya tidak jadi dipersembahkan, Abraham setia pada sabda Tuhan. Dan memang Tuhan tidak merencanakan agar Abraham mempersembahkan anaknya, hanya menguji kesetiaan Abraham dan Abraham lulus.

Sabda Tuhan memang seringkali tidak masuk akal kita. Namun yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meminta kita melakukan hal yang menyesatkan dan membinasakan kita. Tuhan tidak akan pernah meminta kita untuk membunuh orang lain, tetapi Tuhan meminta kesetiaan kita dalam mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Namun yang seringkali terjadi, kita sulit mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan, karena kita kurang yakin akan Tuhan. Kita seringkali kurang yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita. Seakan kita berpikir bahwa melakukan sabda kita atau kehendak itu, itulah yang terbaik dan sabda Tuhan itu seringkali tidak masuk akal. Tetapi dari pengalaman Abraham, kita diyakinkan bahwa kesetiaan kita melaksanakan sabda Tuhan, kita akan beroleh berkat berlimpah.

Kita semua tentu rindu dan mengaharapkan beroleh kemuliaan Tuhan baik sekarang maupun kelak. Merindukan kemuliaan Tuhan dalam hidup sekarang adalah kerinduan agar Tuhan memberi kita hidup bahagia. Kita ingin dimuliakan Tuhan, tetapi kita sendiri kurang percaya pada-Nya dan tidak memuliakan Tuhan. Agar kita beroleh kemuliaan Tuhan adalah dengan memuliakan Tuhan sendiri. Jalan untuk memuliakan Tuhan adalah dengan mendengarkan Yesus dan melaksanakan sabda itu dalam hidup setiap hari. Sabda Tuhan, tidak akan pernah menyesatkan dan membinasakan kita, tetapi akan membawa kita pada kemuliaan Tuhan. Semoga kita semakin rajin mendengarkan dan melaksanakan sabda Yesus. Amin.

BACAAN HARI MINGGU PRAPASKAH II : 4 Maret 2012

BACAAN HARI MINGGU PRAPASKAH II : 4 Maret 2012
Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18, Mzm 116:10,15,16-17,18-19, Rm 8:31b-34, Mrk 9:2-10

BACAAN I: Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18

“Kurban bapa Abraham leluhur kita.”

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri?demikianlah firman TUHAN?:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku."

MAZMUR TANGGAPAN: Mzm 116:10,15,16-17,18-19

Reff: Bawalah kurbanmu bagi Tuhan, sembahlah Dia dalam istana yang kudus.

1. Berbelaskasihlah Tuhan dan adil; Allah kami adalah rahim.
Orang bersahaja dijaga-Nya, dan yang hina diselamatkan-Nya.

2. Apa balas budikau kepada Tuhan atas anugerah-Nya? Piala keselamatan akan kuangkat, dan nama Tuhan akan kuserukan.

3. Nadarku bagi Tuhan hendak kubayar di hadapan seluruh umat-Nya, kukurbankan pada-Mu kurban pujian, dan nama-Mu akan kuserukan.

4. Nadarku bagi Tuhan hendak kubayar di hadapan seluruh umat-Nya. Di dalam pelataran rumah Tuhan, di tengah-tengamu, ya Yerusalem.

BACAAN II: Rm 8:31b-34

“Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri.”

Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

BACAAN INJIL: Mrk 9:2-10

“Inilah Anak-Ku terkasih.”

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."

RENUNGAN PEKAN I PRAPASKAH, Sabtu 3 Maret 2012

RENUNGAN PEKAN I PRAPASKAH, Sabtu 3 Maret 2012
Ul 26:16-19, Mzm 119:1-2,4-5,7-8, Mat 5:43-48

BACAAN INJIL:

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

RENUNGAN:

Hal biasa kita temukan bila ada seseorang yang mengadakan pesta atau dilantik menjadi seorang pejabat, pasti banyak para pengusaha atau para pejabat yang akan membuat papan bunga atau memberi kado hadiah ucapan selamat. Juga ketika seseorang hendak mencalonkan diri menjadi pejabat daerah ataupun pejabat tinggi, pasti banyak orang yang berusaha memberi sumbangan dengan alasan memberi dukungan. Namun sebenarnya itu dilakukan dengan harapan kelak bila seseorang itu menjadi orang penting, maka mereka berharap kelak akan mendapatkan balasan. Jadi intinya memberi demi mendapatkan dari yang diberi. Demikian juga halnya bahwa adalah hal yang sudah biasa, kita mengasihi orang yang mengasihi kita, orang umumnya mau bergaul dengan orang yang dianggap menguntungkan. Apakah mereka akan melakukan hal yang sama terhadap orang miskin, orang yang tidak mampu membalasa yang mereka berikan? Apakah memang orang mau mengasihi orang yang nyata-nyata membenci mereka? Kiranya, orang akan dengan mudah berkorban untuk orang yang mengasihi mereka, orang akan dengan mudah memberikan kepada orang yang jelas-jelas akan mampu membalasnya. Dengan kata lain, orang melakukan sesuatu demi mendapat balasan seperti yang dilakukannya.

Namun berbeda dengan sabda Yesus hari ini. Yesus justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Yesus mengajarkan agar kita mengasihi bukan hanya orang yang mengasihi kita, kita diajarkan bukan hanya kepada orang yang berbuat baik kepada kita, tetapi juga kepada orang yang membenci kita dan musuh-musuh kita. Apa yang dimaksudkan oleh Yesus dalam ajaran ini bukan hanya sekedar tidak membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepada kita, tetapi juga berbuat baik kepada mereka. Dari sebab itu, Yesus mengatakan “berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ini jelas-jelas mengatakan bahwa kita juga harus berani berbuat baik.

Ajaran Yesus hari ini sungguh bertolak belakang dengan apa yang dianut oleh manusia pada umumnya, sehingga kita berpikir, “apakah hal ini mungkin kita laksanakan? Memang secara manusia ini adalah hal yang tidak mungkin dan sangat sulit untuk diwujudkan. Namun Yesus menegaskan bahwa justru dengan hidup demikian, nyatalah kita sebagai anak-anak Allah dan inilah kesempurnaan hidup. Sebab seperti Bapa sempurna dalam kasih, mengasihi kita walaupun kita sering berdosa, demikianpun kita hendaknya sempurna seperti Bapa. Bisa kita banyangkan kalau sekiranya Tuhan berpikir seperti pikiran manusia yang hanya mengasihi orang yang mengasihinya, berbuat baik hanya kepada orang yang berbuat baik kepadanya, tentu kita semua tidak layak mendapatkan dan mengharapkan kasih dari Allah. Namun syukurlah bahwa Tuhan tidak demikian. Oleh karena itu, kalau Allah sendiri mau mengasihi dan berbuat baik kepada kita yang berdosa ini, mengapa kita tidak melalukan hal yang sama kepada sesama kita. Hidup yang mengasihi sesama yang berbuat baik kepada kita dan juga musuh-musuh atau yang membenci kita, nyatalah bahwa kita adalah anak-anak Allah. Amin.

RENUNGAN PEKAN I PRAPASKAH, Jumat 2 Maret 2012

ENUNGAN PEKAN I PRAPASKAH, Jumat 2 Maret 2012
(Agnes dr Praha)
Yeh 18:21-28, Mzm 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8, Mat 5:20-26

BACAAN INJIL:
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

RENUNGAN:

Hidup beriman, tidak sedekar menjalankan aturan agama, tetapi iman itu harus hidup, nyata dalam perbuatan nyata. Kiranya Yesus mengatakan bahwa hidup keagamaan pengikut-Nya harus lebih benar dari hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukanlah dalam maksud ketaatan dalam menjalankan atauran agama. Sebab orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang taat pada turan agama, dan rajin menjalankan ibadah. Namun mereka tidak menjalankannya dengan benar, sebab mereka melakukannya hanya untuk dilihat orang, hanya sebagai ketaatan, tidak tampak dalam kehidupan.

Demikian juga halnya, dalam kehidupan sehari-hari, pasti banyak orang yang begitu rajin menjalankan ibadah, rajin berdoa, aktif dalam kehidupan menggereja dan bahkan mungkin berjiarah ke tempat jiarah, dan ada yang sampai beberapa kali. Namun apakah mereka menjalankan hidup keagamaan mereka dengan benar? Hidup keagamaan dijalankan dengan benar bila hidup iman itu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik yakni hidup yang penuh kasih kepada sesama, hidup yang jauh dari perbuatan dosa dan hidup yang selalu berdamai dengan sesamanya. Namun bila seseorang taat pada kegiatan agama, tetapi tidak mengasihi sesama dan tidak berbuat baik kepada sesama, itulah orang yang menjalankan hidup keagamaannya tidak benar.

Maka hari ini, mari kita merenungkan hidup keagamaan kita, apakah sudah kita jalankan dengan benar atau tidak. Yesus mengatakan, bahwa sebelum kita mempersembahkan persembahan kepada Allah dan kita mengingat bahwa kita ada masalah dengan sesama, hendkanya kita terlebih dahulu berdamai dengan sesama kita, batu kita mempersembahkan persembahan kepada Allah. Kita jangan manunda-nunda waktu untuk berbuat baik kepada sesama, jangan sampai tiba waktunya, kita diserahkan kepada kebinasaan hidup. Amin.

Kebuntuan Pemimpin di Indonesia Harus Dipecahkan

Kebuntuan Pemimpin di Indonesia Harus Dipecahkan

(Jakarta 28/2/2012)Pemimpin di Indonesia harus memiliki sifat kepemimpinan profetik yang berani, tegar, dan tegas namun tetap menjunjung tinggi demokrasi.

Menurut rohaniawan, Franz Magnis Suseno, krisis dan kebuntuan dalam kepemimpinan harus bisa dipecahkan dengan mengakomodir sikap-sikap profetik dalam politik.

"Bangsa Indonesia harus memecahkan kebuntuan kepemimpinan yang bermutu dan kualitas. Jangan sampai kelemahan pemimpin yang sekarang berulang," kata Romo Magnis dalam diskusi bertajuk "Meneladani Misi Profetik dalam Kepemimpinan Nasional" di Megawati Institute, Jakarta, Selasa (2/2).

Menurut Romo Magnis, harus seorang pemimpin Indonesia di masa mendatang harus mempunyai visi, bersemangat, punya keberanian, mampu memimpin secara demokratis, dan berintegritas. "(Pemimpin) Harus mempunyai misi untuk bangsa. Tidak cukup hanya memecahkan masalah," kata Romo Magnis.

Ia menambahkan, seorang pemimpin di Indonesia tidak bisa loyo dan lemas. "Bagaimana bisa memimpin kalau sama-sama menangis seperti masyarakat," katanya.

Tokoh lintas agama tersebut mengatakan, perlu keberanian dalam diri seorang pemimpin. "Tapi bukan keberanian yang nekat," katanya.(micom)

Disadur dari: www.mirifica.net

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN I PRAPASKAH, Kamis 1 Maret 2012

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN I PRAPASKAH, Kamis 1 Maret 2012
Est 4:10a,10c-12,17-19, Mzm 138:1-2a,2bc-3,7c-8, Mat 7:7-12

BACAAN INJIL:

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

RENUNGAN:

Ada orang yang menyakini ungkapan yang mengatakan, “Lebih baik memberi, daripada meminta.” Namun ada juga yang meyakini dan menghidupi ungkapan, “Lebih baik meminta, daripada memberi.” Sebab pikiran mereka mengatakan bahwa dengan memberi itu berarti kehilangan, tetapi dengan meminta, kita mendapatkan sesuatu. Oleh karena itulah, pada umumnya banyak orang yang sangat sulit untuk memberi atau berbagi dengan orang lain. Lebih mudah menemukan orang yang lebih suka meminta. Misalnya, kalau kita mencari dana atau sumbangan, kita pasti sulit mendapatkan orang yang mau menyumbang, kalaupun ada yang menyumbang, banyak yang memberi hanya sekedarnya saja. Tetapi bila ada sesuatu yang mau dibagikan, pasti banyak orang yang datang untuk meminta dan mendapatkannya.

Orang seringkali sulit memberi kewajiban, tetapi begitu gampang untuk menuntut apa yang menjadi haknya. Injil hari ini memang berbicara tentang kebaikan Allah yang sungguh luar biasa. Yesus membandingkan kebaikan Allah dengan kebaikan manusia tua. Jelas memang tidak ada orang tua yang memberikan apa yang jelek kepada anak-anaknya. Orang tua pasti berusaha memberikan apa yang baik dan bahkan terbaik bagi anak-anaknya. Kalaupun ada orang tua memberikan yang tidak baik kepada anak-anaknya, itu orang tua yang jahat dan mungkin gila. Nah, orang tua atau manusia saja memberikan apa yang baik kepada anak-anaknya yang meminta kepadanya, apalagilah Allah sendiri. Malah kebaikan Allah melebihi kebaikan manusia, Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita, yang kita butuhkan.Oleh karena itu, Yesus mengajarkan kepada kita agar kita mau meminta dengan tekun dan sabar kepada Allah. Ketekutan dan kesabaran kita dalam meminta kepada Allah, pasti akan membuahkan hasil, yakni Tuhan pasti akan mengabulkannya.

Namun walaupun injil hari ini menyatakan kebaikan Allah dan menjadi dasar kita meminta kepada Allah, tetapi menjadi suatu permenungan bagi kita, “Apakah yang kita minta itu memang perlu untuk kehidupan kita?” Justru seringkali kita tidak tahu apa yang kita minta dari Allah. Juga justru seringkali kita meminta sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dan tidak kita butuhkan kepada Allah. Sehingga ketika Tuhan tidak mengabulkannya, kita langsung kecewa. Atau ketika seakan Tuhan lambat mengabulkannya, kita langsung kecewa. Atau ketika Tuhan mengabulkannya dengan pemberian lain, kita langsung kecewa karena menganggap bukan itu yang kita minta. Maka kita juga harus meminta apa yang memang perlu dan kita butuhkan. Kita juga harus percaya bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan perlukan untuk hidup dan keselamatan kita. Dari sebab itu, dalam meminta, juga harus dijiwai oleh iman bahwa semuanya kita serahkan kepada Tuhan dan kita yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Selain itu, juga patut kita renungkan dan bertanya dalam hati, “Apakah memang kita layak meminta sesuatau yang yang besar dari Allah?” Ini perlu kita renungkan, sebab kita seringkali hanya meminta saja, tetapi sulit atau hampir tidak pernah mau memberi baik itu kepada Tuhan maupun kepada sesama. Kita seringkali berharap dan seakan memaksa agar Tuhan mengabulkan permohonan kita, padahal kita malah seringkali kita tidak pernah mau memberi apa yang diharapkan oleh Tuhan atas kita, yakni iman dan hidup baik. Demikian halnya dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama kita, kita banyak meminta dari Tuhan, tetapi kita sendiri tidak pernah mau memberi atau berbagi dengan sesama. Dalam meminta juga menuntut kerelaan memberi. Inilah yang dikatakan oleh Yesus dalam ayat terakhir pada Injil hari ini, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Sehingga jelas bagi kita, agar kita layak mengaharapkan belaskasih dari Tuhan, maka kita harus terlebih dahulu mengasihi Tuhan, lewat iman dan pengapdian kita pada Tuhan. Agar kita bisa berharap kasih karunia dari Tuhan, kita juga harus pertama-tama rela memberi atau berbagi kasih karunia Tuhan kepada sesama. Janganlah kita mengharapkan banyak dari Tuhan, sedangkan kita begitu pelit dan tidak mau berbagi kasih dengan sesama. Orang yang banyak memberi, maka mereka layak untuk mendapatkan banyak dan akan beroleh banyak. Amin.

Sinode: pentingnya peran keluarga dalam evangelisasi

Sinode: pentingnya peran keluarga dalam evangelisasi

Dalam persiapan akhir untuk Sinode Uskup sedunia di Vatikan mengenai evangelisasi baru, sebuah komite kardinal dan uskup membahas betapa sulitnya sekarang ini untuk menerapkan iman kepada orang lain.

“Berbagai kisah tentang ‘kegagalan evangelisasi,’ termasuk pengaruh dari budaya modern yang membuat penerapan iman sangat sulit,” kata siaran pers yang dikeluarkan di Vatikan, pada 27 Februari.

Dewan ordinari dari sekretariat jenderal Sinode Uskup bertemu di Vatikan pada 16 Februari untuk membahas sebuah draft dokumen yang sedang dikerjakan untuk sinode itu, yang akan diselenggarakan di Vatikan pada 7-28 Oktober, demikian Catholic News.

Tema dari sinode itu: “The New Evangelization for the Transmission of the Christian Faith.”

Dalam sebuah diskusi tentang tantangan iman dan mempraktekkan iman, para anggota dewan itu memilih fokus pada peran keluarga, kata pernyataan itu.

Dalam keluarga, tulis pernyataan itu, orang muda “belajar baik isi maupun praktek dari iman Kristen. Tugas keluarga yang tak bisa tergantikan itu dilanjutkan dalam katekese yang diberikan oleh lembaga Gereja, terutama melalui liturgi termasuk sakramen dan homili.”

Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)