Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

BACAAN HARI MINGGU BIASA KE XXXIV : HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

BACAAN HARI MINGGU BIASA KE XXXIV :
HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
MINGGU 20 Nopember 2011
Yeh 34:11-12,15-17, Mzm 23:1-2a,2b-3,5-6, 1Kor 15:20-26,28, Mat 25:31-46

BACAAN I: Yeh 34:11-12,15-17

“Kamulah kawanan-ku dan aku menjadi hakim antara domba dengan domba.”

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya. Dan hai kamu domba-domba-Ku, beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba, dan di antara domba jantan dan kambing jantan.

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm 23:1-2a,2b-3,5-6

Reff.: Tuhanlah gembalaku, aku tanggak kekurangan.

1. Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

2. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

3. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

BACAAN II: 1Kor 15:20-26,28,

“Kristus akan menyerahkan kerajaan Allah Bapa, supaya Allah menjadi segalanya bagi semua orang.”

Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.
Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

BACAAN INJIL: Mat 25:31-46

“Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya, dan memisahkan orang-orang yang satu dari yang lain.”

"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Vatikan ambil langkah hukum terkait iklan ciuman

Vatikan ambil langkah hukum terkait iklan ciuman

Vatikan mengatakan pada Kamis bahwa pihaknya mengambil tindakan hukum untuk mencegah publikasi dari sebuah montase foto yang menunjukkan Paus mencium seorang klerik Muslim terkemuka sebagai bagian dari kampanye iklan Benetton.

Pernyataan dari sekretaris negara Vatikan dikeluarkan meskipun perusahaan pakaian Italia itu telah mengumumkan menarik foto itu setelah kritik keras dari Takhta Suci.

Vatikan mengatakan sekretariat negaranya akan meminta para pengacara “mengambil tindakan di Italia dan luar negeri untuk mencegah beredarnya foto itu di media massa dan di tempat-tempat lain.”

Vatikan mengatakan foto Benetton itu “melukai tidak hanya martabat paus tetapi juga kepekaan umat beriman.”

Poster itu menunjukkan Paus Benediktus berkecupan bibir dengan Ahmed el Tayyeb, imam Masjid Al-Azhar di Kairo, Mesir, dan seorang tokoh Islam Sunni.

Foto itu adalah bagian dari kampanye global melalui yayasan UNHATE yang memuat foto-foto dari para pemimpin politik dan agama yang sedang berciuman.

Foto-foto kejutan lain menunjukkan Presiden AS Barack Obama mencium mitranya dari Cina Hu Jintao dan Presiden Venezuela Hugo Chavez.

Sebuah foto lain memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berciuman dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy berciuman dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Poster-poster itu muncul di toko-toko pakaian Benetton serta di koran, majalah dan di situs-situs Web Internet.

Perusahaan itu membela kampanyenya, dengan mengatakan tujuannya “adalah semata-mata untuk memerangi budaya kebencian dalam segala bentuknya.”

Beberapa jam peluncuran kampanye itu pada Rabu, Vatikan mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan “protes keras atas penggunaan foto Bapa Suci itu yang benar-benar tidak dapat diterima, dimanipulasi dan dieksploitasi dalam kampanye publik dengan tujuan komersial.”

“Ini menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap Paus, sebuah pelanggaran terhadap perasaan umat beriman, sebuah demonstrasi yang jelas tentang bagaimana publik dapat melanggar aturan-aturan dasar yang menghormati orang dengan menarik perhatian yang bersifat provokatif,” kata juru bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi SJ.

Rangkulan diantara Paus dan imam itu juga sempat ditampilkan di spanduk pada Rabu di Castel Sant’Angelo dekat Roma, tidak jauh dari Vatikan.

Sumber: Vatican Takes Legal Action Over Kissing Ads

Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIII, Sabtu 19 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIII, Sabtu 19 Nopember 2011
(Rafael dr Yosef Kalinowski, Mechtildis )
1Mak 6:1-13, Mzm 9:2-3,4,6,16b,19, Luk 20:27-40

BACAAN INJIL:
Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

RENUNGAN:
Masih sering kita temui orang berziarah kemakam dengan mambawa makanan dan meletakkannya di makan. Kebiasaan ini menyiratkan bahwa orang yang telah dimakamkan di situ, dia atau rohnya masih tinggal di situ dan dia membutuhkan makan. Adapula kebiasaan yang kita temukan dalam budaya tertentu yakni acara memanggil roh arwah yang telah meninggal. Kita tidak tahu dari mana mereka dipanggil, tetapi yang jelas dengan peristiwa seperti itu, itu berarti dianggap arwah orang meninggal tinggal pada tempat tertentu atau mungkin masih gentayangan di dunia ini. Kebiasaan ini masih banyak dilakukan oleh orang dan orang yang sudah menyebut dirinya kristen juga masih banyak yang melakukannya.

Kita juga pasti pernah mendengar suatu ajaran reinkarnasi, yakni ajaran yang mengatakan bahwa seseorang akan hidup kembali setelah dia mati. Seseorang yang telah mati akan hidup kembali dalam suasana yang baru, sesuai dengan bagaimana hidupnya sebelum dia mati. Bila dalam hidup sebelumnya dia baik, maka dia akan hidup kembali dengan keadaan baik pula. Tetapi bila seseorang itu dalam hidup sebelumnya tidak baik atau jahat, maka setelah dia mati, dia hidup kembali dalam bentuk lain, bahkan dikatakan juga bisa jadi hidup dalam bentuk binatang. Tentu bukan demikian ajaran kristiani sehubungan dengan hidup setelah kamatian.

Kemana kita setelah mati?

Yesus mengajarkan bahwa setelah mengalami kematian di dunia ini, orang akan mengalami kebangkitan badan. Hal ini sulit dimengerti oleh orang-orang Saduki. Orang Saduki tidak mengakui adanya kebangkitan badan. Bagi mereka bila seseorang mati, berarti hidupnya berakhir dan menganggap hanya hidup inilah hidup, tidak ada lagi kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Pemikiran seperti ini juga banyak dihidupi orang zaman ini, sehingga ada orang yang mengatakan, “Hidup hanya sekali, maka harus dinikmati sepuas-puasnya.Juga kita tidak tahu apakah ada kehidupan setelah kematian dan bagaimana keadaan kita setelah mati, sehingga mengapa hidup yang sekarang tidak dipuas-puaskan?” Prinsipi seperti ini persis sama dengan pemikiran orang-orang Saduki yang menentang ajaran Yesus tentang kebangkitan badan. Oleh karena itu mereka mencoba menyangkal ajaran Yesus dengan menggunakan logika manusia sebagaimana kita dengarkan dalam injil hari ini.

Yesus mengajarkan bahwa setelah orang mati, dia akan dibangkitkan untuk masuk dalam kehidupan yang sejati, hidup yang sempurna, abadi dan penuh kebahagiaan karena hidup bersama dengan Allah. Hidup setelah kebangkitan bukan seperti hidup di dunia ini dan bukan seperti yang dipikirkan oleh manusia. Orang telah mati dibangkitkan dan hidup seperti malaikat-malaikat bersama dengan Allah di surga. Kebahagiaan, kesempurnaan hiduplah yang diperoleh orang yang mati ketika dibangkitkan.

Ajaran Yesus tentu bertetentangan dengan gambaran kebiasaan atau ajaran yang kita sebutkan di atas tadi. Ajaran atau kebiasaan di atas jelas menunjukkan bahwa hidup seseorang setelah kematian tidak punya kejelasan atau tidak ada kesudahaannya yang sempurna. Sedangkan ajaran Yesus mengatakan bahwa kesempurnaan hidup, keabadian hidup dan kebahagian hidup bersama Allah itulah pencapaian hidup manusia. Inilah kiranya yang menjadi kerinduan dan harapan kita kelak setelah kita mengalami kematian di dunia ini.

Bila kita menyakini ajaran Yesus ini tentunya kita menyingkirkan kebiasaan-kebiasaan sebagaimana kita sebutkan di atas. Ajaran ini hendaknya membuat kita menjadi hidup dalam semangat dan harapan supaya kelak masuk dalam keabadian hidup di surga. Sehingga hidup yang sekarang adalah persiapan untuk beroleh hidup kekal itu. Jalan satu-satunya yang ditawarkan oleh Yesus adalah percaya kepada Dia, mengikuti Dia, dan itu nyata dalam perbuatan hidup setiap hari yang sesuai dengan kehendak Allah. Dengan menghyati ajaran ini, kita selalu hidup dalam pengharapan akan kehidupan kekal yang penuh dengan kebahagiaan, sehingga walaupun dalam hidup dunia ini kita menderita, kita tidak putus asa karena bila kita tetap hidup baik, setia kepada Yesus, kehidupan kekal sudah menanti kita setelah kita dibangkitkan dari kematian. Maka semoga kita selalu sadar bahwa masih ada kehidupa sejati, kehidupan kekal yang siap menantikan kita bila kita hidup baik dalam kehidupan sekarang. Amin.

Uskup KWI: SBY Harus Stop Kekerasan di Papua

Uskup KWI: SBY Harus Stop Kekerasan di Papua

(17/11/2011)Wakil Ketua II Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Leo Labalajar mengatakan persoalan Papua tidak akan tuntas jika kekerasan masih saja terjadi. Kesejahteraan masyarakat dapat dibangun jika suasana damai terwujud.

"Kami mendorong Pemerintah Pusat untuk mewujudkan dialog dengan masyarakat Papua. Niat Presiden SBY untuk menyelesaikan masalah Papua hendaknya diwujudkan," katanya dalam jumpa pers di kantor KWI, Jalan Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 17 November 2011.

Menurut Leo, satu-satunya jalan yang harus dipakai oleh pemerintah untuk membangun Papua adalah dialog. Jika kekerasan dilawan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru dan menambah masalah.

Terlebih jika ungkapan pendapat dan pernyataan politik sekelompok masyarakat Papua yang disampaikan secara terbuka dan damai ditanggapi dengan gertak senjata, penangkapan, penganiayaan atau pembunuhan.

"Ucapan-ucapan indah seperti 'membangun Papua dengan hati' hendaknya dimulai dengan dialog dari hati. Dengan hati lapang, tanpa stigmatisasi apapun, hendaknya Pemerintah mendengarkan jeritan hati orang-orang Papua dan kisah penderitaan yang dialami sejak integrasi dengan NKRI," ujarnya.

Leo menuturkan pemerintah perlu mempertemukan berbagai komponen masyarakat Papua, seperti, Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Majelis Rakyat Papua untuk mengakomodasi keinginan mereka mengenai cara dan materi dialog. Dia juga mewanti-wanti pemerintah untuk tidak mendiskreditkan kelompok-kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Papua.

"Entah OPM atau apapun namanya, baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri, harus mendapat tempat utama dalam dialog," terangnya.

Untuk menjamin terjadinya dialog yang bermartabat, adil dan benar serta saling menghormati, harus ada pihak ketiga yang terpercaya untuk menjadi penengah. Selain itu, Leo menuntut pemerintah untuk meminta maaf, mengganti rugi, memulihkan hak-hak orang Papua dan menegakkan keadilan atas segala pelanggaran HAM yang dialami oleh mereka.

Otsus dan TNI

Leo Labalajar yang juga seorang Uskup di Jayapura menuturkan Undang-undang Otonomi Khusus sampai saat ini belum terlaksana secara efisien. Dengan banyaknya uang yang beredar di Papua, dia mengakui banyak pula oknum-oknum pejabat daerah Papua yang melakukan korupsi.

"Penggunaan uang itu tidak efisien, dihambur-hamburkan oleh pejabat pemerintah. Pendidikan untuk masyarakat juga tidak baik sehingga orang tidak dapat menyerap (dana otsus tersebut) secara produktif," katanya.

Dia menambahkan kehadiran TNI di tanah Papua terlalu banyak. Kondisi itu bukan membuat masyarakat aman atau terlindungi melainkan menimbulkan permusuhan.

"Mereka tidak mempunyai kegiatan yang secara positif mengisi waktunya, banyak yang hanya bermain kartu saja. Kami mendorong pemerintah untuk mengurangi jumlah TNI di Papua," ucapnya.

(vivanews)

Disadur dari: www.mirifica.net

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIII, Jumat 18 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIII, Jumat 18 Nopember 2011
(Pemberkatan Gereja-gereja Basilik St.Petrus & Paulus, Rasul)
1Mak 4:36-37,52-59, MT 1Taw 29:10,11abc,11d-a2a,12bcd, Luk 19:45-48

BACAAN INJIL:
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

RENUNGAN:
Satu saat sehabis perayaan ekaristi di stasi, saya melihat umat langsung menyalakan rokok dan merokok di dalam gereja. Saya melarang beliau dan mengatakan bahwa di dalam Gereja maupun di pintu teras umat tidak boleh merokok. Sambil mematikan rokoknya dia menjawab, “Loh, ini kan bukan gereja paroki pastor, dan toh di sini tidak ada Tabernakel.” Suatu jawaban yang mungkin logis. Dari cerita bebarapa umat, umat masih seringkali merokok di gereja, orang tidak merokok hanya kalau pastor datang ke stasi. Inilah suatu kenyataan di beberapa gereja kita, umat tidak bisa lagi menghayati nilai kekudusan gedung gereja sebagai tempat yang dikuduskan untuk Tuhan. Masih banyak umat yang menganggap bahwa gedung gereja tidak ada ubahnya seperti gedung serbaguna dan bahkan kedai tuak sehingga kurang menjaga kesakralan gedung gereja. Malahan kerap terjadi, umat kalau di rumah sungguh menjaga kebersihan, mengajar anaknya agar tidak membuang sampah sembarangan di dalam rumah, membuka sepatu atau sandal bila di dalam rumah, tetapi hal sebaliknya saat di gereja, umat kurang menjaga kebersihan, malahan dengan seenaknya membuang tissu atau memberi makan anaknya saat di dalam gereja dan bungkusnya dibiarkan begitu saja di dalam gereja.

Kenyataan ini terjadi di daerah pedalaman karena kurangnya pemahaman dan keyakinan umat bahwa gereja adalah tempat yang dikuduskan bagi Tuhan. Namun hal ini juga bisa kurang dipahami karena kenyataan banyak bentuk dan mutu gedung gereja di pedesaan kurang mendukung nilai kekudusan gedung gereja tersebut karena gereja itu sangat sederhana, jauh dari keindahan dan bahkan seringkali jauh lebih bagus rumah umat sekitar. Gedung gereja yang sangat sederhana, yang sebenarnya tidak layak itu bisa memperngaruhi penghargaan dan penghayatan umat akan kesakralan gedung gereja tersebut. Dari sebab itulah, gedung gereja hendaknya juga mendukung hakekat gereja itu sendiri. Namun untuk daerah-daerah pedesaan atau pedalaman, hal ini umumnya sulit diwujudkan karena pada umumnya banyak gereja di pedalaman sebeanarnya dari segi fisik tidak mendukung kekudusan gereja itu sendiri, karena umat tidak mempunyai biaya untuk membangun gedung gereja yang layak.

Namun kiranya penghayatan umat akan nilai luhur atau kekudusan gedung gereja tidak sepenuhnya ditentukan oleh bentuk fisik bangunan tersebut. Sebab yang menjadikan gedung gereja itu dikuduskan adalah iman bahwa gereja itu disepersembahkan kepada Tuhan sebagai tempat umat untuk bertemu dengan Allah, tempat umat bersama-sama memuji memuliakan Allah. Kalau umat sungguh-sungguh hidup dalam iman, tentu bagaimanapun jeleknya gedung gereja itu, umat akan tetap menjaga kebersihan, memelihara dan menjaga sikap selama berada di dalam gereja atau disekitarnya.

Apa yang kami katakan di atas tentu tidak atau hampir tidak pernah terjadi di gereja-gereja yang ada di kota-kota. Sebab pada umumnya gedung gereja di kota-kota bentuknya sangat bagus, mewah, anggun dan malah yang mana semuanya itu sangat mendukung penghayatan umat akan keyakinan bahwa gereja adalah tempat yang kudus. Juga suatu kenyataan bahwa gedung gereja di kota-kota jelas jauh lebih bagus daripada rumah sendiri. Namun bukan berarti bahwa sudah semua umat sungguh menghayati kekudusan gereja itu. Sebab kitapun bisa menjadi gereja menjadi sarang penyamun sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus dalam injil hari ini. Hal ini bisa terjadi bila mana kita tidak berlaku sopan saat berada di dalam gereja. Sebab sudah suatu hal yang biasa kita temui bahwa orang datang ke gereja dengan berpaikan yang biasa dipakai ke mall-mall, atau ke tempat rekreasi atau bahkan memakai pakaian yang layaknya dipakai ke pantai. Ada juga yang memakai sandal jepit yang biasa dipakai ke kamar mandi. Seringkali alasan yang dilontarkan adalah bahwa yang terpenting bukan pakaian atau apa yang dikenakan, tetapi hati yang datang untuk memuji Tuhan. Aneh memang, bila kita menghadiri suatu resepsi atau menghadiri rapat, kita pasti mengenakan pakaian yang layak dan pantas, tetapi untuk menghadiri perjamuan Tuhan di gereja kita justru mengenakan pakaian atau alas kaki yang tidak layak. Memang benar, yang penting adalah hati, tetapi penampilan luar juga menampilkan isi hati atau isi iman kita selama di dalam gereja.

Selain itu, juga kita menjadikan gereja sebagai sarang penyamun bila mana kita tidak berlaku sopan selama di dalam gereja. Lebih parah lagi bila hati dan pikiran kita tidak bersih, misalnya di dalam gereja kita masih sibuk memikirkan bisnis, rencana-rencana kerja, memelihara kebencian apalagi bila kita melihat orang yang kita benci juga ada di dalam gereja, dan lebih parah lagi bila di dalam gereja kita malah merencanakan perbuatan yang tidak baik. Tidak sedikit umat yang datang ke gereja, badannya di gereja tetapi hati dan pikirannya menembus dinding gereja dan malah jauh di tempat lain.

Oleh sebab itu, baiklah teguran Yesus dalam injil hari ini kita perhatikan dan kita renungkan. Sejauhmana penghayatan kita akan kekudusan gereja sebagai tempat yang telah dikuduskan untuk Allah.

Paus Benediktus XVI Susah Jalan

Paus Benediktus XVI Susah Jalan

(Kota Vatikan 11/11/11)Inilah alasan utama kenapa pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Benediktus XVI saat ini lebih sering menggunakan kursi roda. Menurut Andrea Tornielli, wartawan dari surat kabar La Stampa, Italia, ia menderita arthrosis.

Ini merupakan penyakit yang menyebabkan penderitanya sulit untuk berjalan. Seperti dilaporkan the Daily Telegraph, Jumat, 11 November 2011, Tornielli mengungkapkan arthrosis itu menyerang lutut, pangkal paha, dan pergelangan kaki Paus Benediktus.

Karena itulah, sejak bulan lalu pemimpin umat Katolik sejagat ini meminta kursi roda untuk memimpin misa di Basilika Santo Peter. Para pembantunya mendorong kursi roda itu menuju altar.

Kesehatan lelaki 84 tahun yang memburuk ini membuat khawatir karena pekan depan ia berencana melawat ke Benin. Ini merupakan kunjungan keduanya di Benua Afrika selama enam tahun ia menjadi Paus. Vatikan kemarin mengumumkan Paus Benediktus tahun depan dijadwalkan melawat ke Kuba dan Meksiko.

Namun juru bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi membantah laporan arthrosis yang diderita pria keturunan Jerman itu. Ia menegaskan untuk lelaki seusianya, kesehatan Paus Bendiktus secara umum bagus. "Kondisi kesehatannya baik dan ia mampu menjalankan tugas-tugasnya," katanya. (Tempo Interaktif)

(Foto: AP)

Disadur dari: www.mirifica.net

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIII, Kamis 17 Nopember 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN XXXIII, Kamis 17 Nopember 2011
Elisabet dr Hungaria
1Mak 2:15-29, Mzm 50:1-2,5-6,14-15, Luk 19:41-44

BACAAN INJIL
Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."

RENUNGAN:
Sungguh luar biasa besar kasih Allah atas manusia. Allah menghendaki semua manusia beroleh hidup bahagia, beroleh keselaamtan kekal dan kebahagiaan kekal di surga. Walaupun manusia menolak dengan tidak mendengarkan ajaran-Nya dan menolak Dia, Yesus bukannya marah atau membenci tetapi justru bersedih hati melihat orang tidak bertobat dan tidak mau percaya kepada-Nya. Injil hari ini sungguh indah menggambarkan kasih Allah kepada orang-orang Yerusalem yang tidak mau menerima Dia dan tidak mau bertobat, Yesus sampai menangis atas kedegilan hati mereka yang tidak mau bertobat. Yesus sedih mengingat bagaimana nasib orang-orang di Yerusalem yang menolak Dia, mereka akan menerima kebinasaan hidup. Yesus sungguh tidak menghendaki mereka binasa, Dia tidak membenci mereka karena menolak, tetapi bersedih dan bahkan menangisi nasib mereka.

Pasti hingga saat ini Yesus masih menangis karena kita umat yang dikasihi-Nya. Bahkan mungkin Yesus lebih sering menangis karena ulah kita. Sebab kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Dia, tetapi dalam kenyataannya kita tidak mengikuti ajaran dan teladan hidup-Nya, kita masih hidup dalam kedosaan. Kalau orang-orang Yerusalem jelas-jelas menolak Dia, kita menerima Dia tetapi tidak sungguh hidup sebagai murid-Nya. Kiranya perbuatan yang demikian yang dinamakan sejenis mengkhianati Yesus, sehingga lebih sakit kiranya bila dikhianati daripada ditolak. Maka hari ini, mari kita segera bertobat dari hidup kedosaan kita, jangan biarkan Yesus sering menangis karena kedegilan hati kita yang tidak mau bertobat. Ingatlah, Yesus sungguh mengasihi kita, Dia tidak menghendaki kelak hidup kita binasa.

Selain itu, mari kita juga meneladan sikap Yesus dalam hubungan kita dengan sesama yang mungkin tidak mau mendengarkan ajakan kita agar mereka bertobat. Kita seringkali kecewa terhadap sesama atau kerabat kita yang tetap hidup dalam ketidakbaikan walaupun kita sudah sering menegur dan mengingatkan mereka agar bertobat. Rasa jengkel yang memuncak bisa menjadi rasa benci atau tidak peduli dengan sesama kita yang hidup dalam kedosaan, membiarkan mereka. Atau ada pula yang malah senang melihat orang jatuh dalam kedosaan. Sikap demikian kiranya jauh dari kita para pengikut Yesus. Sebagai pengikut Yesus, kita harus justru prihatin dengan sesama yang hidup dalam perbuatan yang tidak baik, kita hendaknya selalu berusaha tanpa putus asa mengajak mereka bertobat. Kita juga ikut menangis bagi mereka yang tetap tegar hati tidak mau bertobat, kita sedih karena kita tahu mereka akan masuk dalam kebinasaan hidup. Sehingga janganlah kiranya membenci atau menjauhkan orang yang menolak kita atau orang yang menolak niat baik kita untuk menolong atau mengajak mereka bertobat. Kita menangisi nasib hidup mereka seraya berdoa bagi mereka supaya Tuhanlah yang mempertobatkan mereka sehingga kelak masuk dalam kebahagiaan kekal.

Maka semoga kita bukan orang yang ikut membuat Yesus menangis dan semoga kita ikut menangis bersama Yesus atas orang lain yang tidak mau bertobat. Amin.

RAJAWALI HARUS TERBANG LAGI (Selamat atas Pesta Perak STFTSt. Yohanes - Pematangsiantar)

RAJAWALI HARUS TERBANG LAGI
(Selamat atas Pesta Perak STFTSt. Yohanes - Pematangsiantar)


STFT St. Yohanes Pematangsiantar Yang tahun ini genap berusia 25 tahun mempunyai simbol rajawali. Rajawali adalah salah satu wajah dari empat wajah dari mahluk dalam teks Yehezkiel 1:10. Empat wajah mahluk tersebut kemudian hari oleh para Bapa Gereja dijadikan simbol empat pengarang Injil dalam Perjanjian Baru. St. Yohanes secara tradisi mendapatkan simbol rajawali.

Konon rajawali adalah burung yang bukan hanya mampu terbang paling tinggi (pasti juga bisa terbang sangat rendah) tetapi juga yang mempunyai umur paling panjang dari antara jenis burung. Dalam hal umur, rajawali bisa mencapai 70 tahun. Luar biasabukan? Bukankah 70 tahun adalah umur manusia menurut Kitab Mazmur?

Namun untuk bisa mencapai umur 70 tahun, rajawali harus bersedia melakukan tapa brata-askese tinggi dan perombakan diri besar-besaran. Keduanya membutuhkan mentalitas baru. Umur 70 tahun itu dapat dicapainya dalam dua tahap. Pada sekitar usia 40 tahun, paruhnya telah terlalu melengkung bengkok dan kuku kuku cakarnya juga demikian. Dua piranti tubuhnya yang menjadi senjata perkasa itu tidak mudah lagi menangkap mangsa dan menyuapi dirinya. Bulubulu sayapnya akan telah terlalu tebal dan berat, dan justru tidak mudah dikepakkan untuk terbang. Pada saat ini hanya ada dua pilihan baginya: mati menyedihkan tidak terhormat karena putus asa atau melanjutkan hidup dengan melalui proses yang sangat berat, yang membutuhkan ketahanan fisik, keteguhan niat, kesabaran dan kerendahan hati yang prima, serta keberanian menjalani dan menempuh resiko menderita. Sebab proses tersebut akan menyakitkan dan memakan waktu tak kurang dari 1 50 hari. Rajawali sejati akan memilih alternatif ke dua. Untuk bisa hidup lebih lama lagi, ada beberapa tahap yang harus dia lakukan:

Pertama: dia harus terbang mencari tempat yang sepi yang bisa dipastikan akan aman tanpa gangguan, sekurang-kurangnya untuk 150 hari ke depan. Biasanya tempat itu adalah pohon yangtinggi di tengah hutan belantara.

Kedua: di atas pohon itu, dia harus membangun sarang untuk bertapa.

Ketiga: setelah sarang selesai, dia harus mencari makanan sebanyak-banyaknya untuk persedia.

Keempat: mulailah proses yang sangat berat dan menyakitkan yakni, dengan paruhnya sendiri, dia harus mencabuti kuku-kuku cakarnya yang telah terlalu panjang yang tidak efektif lagi untuk mencengkeram, Selesai mencabuti kuku-kukunya, dia harus mencopot paruhnya yang telah melengkung itu dengan mematukkannya pada benda yang keras, supaya rusak dan hanya menyisakan tulang rawan. Proses keempat ini pastilah sangat menyakitkan. Namun ini belum yang terakhir.

Kelima: Setelah cakar dan paruhnya lepas, kini yang bisa dilakukan hanyalah duduk tepekur di sarangnya, menunggu sampai kedua senjata hidupnya itu tumbuh dan kuat kembali.

Keenam: Selelah paruhnya tumbuh dan kuat, sekali lagi dia harus melakukan proses yang menyakitkan, yakni mencabuti bulu-bulu sayapnya yang panjang dan berat itu.

Ketujuh: Setelah semua bulu panjangnya tedepas, dia tak bisa berbuat apapun lagi kecuali
duduk diam menunggu bulubulunya tumbuh dan menjadi kuat.

Seluruh proses itu butuh waktu tak kurang dari lima (5) bulan. Jika seluruh proses itu berjalan dengan baik dia akan bisa terbang lagi, untuk seperti terlahir kembali dalam hidup baru yang bisa mencapai 30 tahun ke depan. Dalam kehidupan yang baru, rajawali itu dapat terbang gagah kembali. Seluruh cakrawala kini dapat dia arungi kembali sama baiknya ,seperti kehidupannya yang lama.

Namun dapatkah kita membayangkan bagaimana pergulatan batin rajawali sebelum memutuskan menjalani proses tersebut dan bagaimana perjuangan melawan rasa sakit dan kesepian selama proses berlangsung? Apakah makanan yang dia kumpulkan akan cukup untuk lima bulan? Bagaimana kalau makanan itu tidak cukup? Berhemat dan kalau perlu harus berani berpuasa serta pantang berfoya-foya itulah satu-satunya cara. Bagaimana dia dirundung cemas sebab jangan-jangan ketika dia tak berdaya akan ada ular yang mendekatinya atau burung pemangsa lain menyerangnya? Apakah luka-lukanya akan sembuh atau makin hari akan makin menjadi koreng?

Keputusan untuk menjalani proses tersebut membutuhkan perubahan mentalitas. Dia harus memutuskan apakah bersedia menerima diri dari dulu si perkasa menjadi kini tak berdaya. Proses rnenyakitkan, ketika mencabuti kuku dan merusak paruhnya, dan kemudian mencabuti bulu-bulunya sendiri membutuhkan daya tahan luar biasa mengatasi rasa sakit. Rasa kesepian tanpa aktivitas berarti selama menunggu kuku, paruh dan bulu-bulunya tumbuh, membutuhkan kesabaran yang tinggi. Jika manusia tak berdaya, masih bisa berdoa. Apakah
selama diam itu rajawali juga berdoa? Hal-hal seperti itu tidak dia perlukan kalau dia memilih alternatif pertama, yakni putus asa dan mati muda tak terhormat. Rajawali sejati kendatipun
perkasa dan nampak pongah dapat menjadi rajawali yang bijak jika dia memiliki kerendahan hati. Dia harus dengan tulus dan rendah hati berani menanggalkan kejayaan masa lalu untuk
dapat hidup baru dan berkarya lagi.

STFT St. Yohanes, "si rajawali” itu tahun ini berpesta perak. Kita patut bersyukur. Banyak hal telah disumbangkan oleh STFT ini untuk Propinsi Gerejawi Sumatera, untuk Propinsi Kapusin Medan, Sibolga dan Pontianak, serta untuk Kustodia Konventual Medan. Alumni STFT yang menjadi imam diosesan ada yang bekerja di Aceh tetapi juga ada yang di papua
(2 iman diosesan dari Pangkalpinang dan masing-masing 1 imam diosesan dari Palembang dan Tanjungkarang). Yang religius selain pada propinsinya masing-masing, ada yang menjadi misionaris di China, di Madagaskar, philipina, Australia, Dili; selain yang bekerja di Jakarta, NTT danjuga Papua. Beberapa alumni baik imam diosesan maupun religius juga sedang menjalani studi lanjut baik di universitas:Indonesia maupun di Eropa danAmerika.

Dan karena alumni STFT St. Yohanes tidak semuanya menjadi imam, maka tidak hanya dalam lingkungan Gereja STFT telah menyumbangkan pengaruhnya. Ada yang menjadi awam juga ada yangbekerja diAceh dan di Papua dan tentu saja tak terbilang yang di bagian lain Sumatera dan Jawa, termasuk di Ibukota Jakarta. Mereka ada yang pegawai negeri namun banyak juga yang wiraswasta dan tentu saja tidak sedikit yang bekerja di lingkungan Gereja dan aktif sebagai pengurus Gereja, baik Gereja lokal maupun Gereja nasional.

Ketika Mgr. Mathias Brans (memimpin Keuskupan,Agung Medan l92l-195 5) memimpikan adanya lembaga pendidikan imam di Sumatera yang terwujud dengan berdirinya seminari menengah di Padang tahun 1950, pasti tidak membayangkan bahwa kemudian hari akan ada STFT seperti yang ada sekarang. Bahkan mungkin Mgr. Ferrerius van den Hurk (memimpin Keuskupan Agung Medan l955 – l97 ) yang pada tahun 1956 mendirikan Seminari Tinggi Kapusin belum membayangkan hal ini. Tahun 1956 Seminari Tinggi Kapusin hanya dimulai dengan 3 frater dan menumpang di Seminari Menengah Pematangsiantar.

Kini STFT memiliki mahasiswa calon imam tak kurang dari 300 orang. Mereka adalah calon imam diosesan dari enam keuskupan di Sumatera, dari Kapusin Propinsi Medan, Sibolga dan Pontianak (sekarang datang mahasiswa dari Propinsi Portugal), Kustodia Konventual dan beberapa anggota tarekat religius. Tahun ini bahkan para frater Kapusin Timor Timur ikut bergabung. Panggilan memang berlimpah karena panenan juga berlimpah. STFT yang ada saat ini diprakarsai berdirinya pada tahun 1986 oleh enam uskup Sumatera waktu itu (Mgr. A.G.P. Datubara, Mgr. Anicetus B. Sinaga, Mgr. M. D. Situmorang, Mgr. J. H. Soudant, Mg.A.Henrisoesanta, dan Mgr. R. F. J.Reichenbach) dan P. Bamabas Winkler (Propinsial Ordo Kapusin Indonesia). Mereka sepakat mendirikan STFT yang dimiliki bersama oleh enam keuskupan dan Ordo Kapusin' Ordo Konventual baru bergabung kemudian. Dan ketika propinsi Kapusin Indonesia dibagi menjadi tiga propinsi, masing-masing propinsi juga ikut bergabung menjadi anggota BKS (Badan Kerja Sama), pemilikSTFT.

Sejak didirikan STFT mempunyai dua program studi, Yakni Program S1 yang bergabung dengan Unika ST. Thomas sebagai Fakultas Filsafat; dan program Post S1 yang dapat dikatakan semacam progam S2 namun bersifat lokal, dan maka ijazah Post S1 juga bersifat lokal. Program Post S1 ini lebih menekankan studi Teologi. Karena itu sekolah ini disebut STFT (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi).

Saat ini ada rencana STFT untuk memproses program Post S 1 menjadi S 2 resmi dengan 1azah S2 negara. Tentu saja rencana ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan maupun kwalitas lulusan. Ada dilema besar di dalamnya. Di satu pihak materi ajar telah mencukupi bahwa lulusan STFT diganjar dengan gelar S2. Namun setelah 25 tahun berjalan, pada saat ini justru jumlah dosen sangat sedikit, bahkan jauh lebih sedikit dari saat didirikan. Sebagai Fakultas Filsafat, misalnya bagaimana mungkin hanya mempunyai satu dosen filsafat? Akreditasi yang sebelumnya mendapat nilai A kini justru turun dengan nilai B, juga antara lain karena kekurangan dosen itu. Dilema lain yang kiranya lebih mendasar adalah: kendatipun gelar S2 sangat dibutuhkan dalam relasi alumni dengan masyarakat umum, namun apakah gelar itu akan dengan sendirinya menjamin peningkatan kwalitas pelayanan dan pengabdian alumni pada masyarakat? Sebab selama ini dengan program yang ada sekarang tidak mengurangi kwalitas pelayanan dan pengabdian alumni sebagai gembala-gembala umat dan dalam relasinya dengan masyarakat umum. Sementara jika ditingkatkan ke S2, selain membutuhkan kerja keras dosen dan mahasiswa, jumlah dan mutu dosen juga harus ditingkatkan, dan mungkin juga tambahan waktu studi bagi mahasiswa serta tentu saja tambahan biaya pendidikan.

Maka refleksi dan mungkin juga kecemasan kita di Pesta Perak STFT tahun ini adalah: apakah rajawali ini akan (semakin dapat) dengan gagah perkasa terbang tinggi lagi menghasilkan alumni yang mampu menaburi baris bukit dengan butir Sabda-Nya? Mampu menciptakan alumni yang berdedikasi tinggi bagi nusa dan bangsa, bagi Tuhan dan Gereja? (lihat Himne STFT) Apakah rajawali ini akan bersedia menanggalkan kejayaan dan kepongahan serta kekakuan mada lalu (bdk. cerita di atas)' untuk dengan cerdik dan kreatif namun dengan rendah hati bisa dan berani mencari alternatif dan terobosan-terobosan kerasulan baru sehingga Kerajaan Allah makin disebarkan ke sebanyak mungkin orang? Agar tidak menjadi rajawali yang putus asa dan berhenti sampai di sini, seluruh civitas akademika dan stake holder harus dengan serius memikirkan kemungkinan hidup baru bagi STFT'.

Di depan, altematif apapun yang akan dipilih oleh hidup kita, selalu mengandung resiko yang menyakitkan. Namun resiko bisa disikapi peluang dan tantangan yang menggairahkan untuk dihidupi dan ditaklukan. Rajawali yangsejati adalah rajawali yang rendah hati cerdik (artinya cerdas), bijak tidak mudah putus asa melainkan tahan banting, bermental baja. Alumni STFT dan Para mahasiswa/wi yang ada sekarang, milikilah kualitas mental dan semangat rajawali. Selamat, Pesta Perak STFT. Semua Pastilah berharap rajawali ini harus terbang tinggi lagi.

* Penulis: Rektor STSP Sinaksak

Disadur dari: MENJEMAAT, No. 11/XXXIII/Nopember 2011

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)