Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Renungan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011 Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia

Renungan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011
Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia
(Yes 8:23b-9:3, Mzm 27:1,4,13-14, 1Kor 1:10-13,17, Mat 4:12-23)

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Bacaan Injil:
Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

“Andai ku jadi Gayus,” adalah judul lagu yang lagi popular saat ini. Lagu ini menjadi populer karena lirik lagunya merupakan ungkapan hati yang keluar dari pengalaman si pengarang dan penyanyi. Lagu tersebut menceritakan situasi saat ini. Banyak orang yang senang dengan lagu ini, karena merasa menyuarakan keprihatinan masyarakat atas kehidupan sekarang ini. Tetapi tidak sedikit orang yang tersinggung, tidak suka akan lagu ini, sehingga si pengarang lagu mendapat terror juga.

Kita juga tentu tahu bahwa baru-baru ini para tokoh agama berkumpul dan membicarakan persoalan yang terjadi saat ini di negeri kita. Para tokoh agama tersebut prihatin dengan situasi sekarang dalam negeri tercinta. Dari pertemuan tersebut lahirlah kesepakatan bersama dengan mengeluarkan keputusan bersama yang mengatakan ada 18 kebohongan public yang dibuat oleh pemerintah. Para tokoh agama menyampaikan langsung hasil kesepakatan itu kepada pemerintah. Pempinan negeri ini tersinggung dengan hasil pertemuan tersebut sehingga mengundang para tokoh agama untuk bertemu. Dari media juga kita ketahui bahwa para pejabat membuat pembelaan atas ‘tuduhan’ kebohongan itu, dan bahkan mengatakan bahwa para tokoh agama mengatakan sesuatu yang tidak riil dan konkrit.

Penyanyi dan para tokoh agama itu, tentu bukan untuk mencari popularitas di negeri ini. Mereka melakukannya karena menemukan dan melihat adanya kegelapan yang sedang meliputi kehidupan negeri ini. Kegelapan itu ditemukan dalam dunia hukum atau peradilan, dalam dunia para penguasa dan pemerintah dan masih banyak sisi gelap dalam kehidupan kita sekarang. Sehingga dapat dikatakan baik penyanyi lagu tersebut dan para tokoh agama berusaha membawa terang dalam kegelapan itu dan menyerukan pertobatan.

Dalam Injil hari ini diceritakan bahwa Yesus meninggalkan Nasaret dan berdiam di Kapernaum. Sebagaimana kita ketahui bahwa penduduk Nasaret dianggap sebagai penduduk yang percaya kepada Tuhan, kaum beragama dan taat beragama. Namun nyatanya justru mereka menangkap dan memenjarakan Yohanes pembaptis yang menyerukan pertobatan menyambut kedatangan Sang Mesias. Hal yang mungkin aneh bagi kita bahwa Yesus meninggalkan tempat itu, padahal Dia tahu bahwa penduduk negeri itu juga hidup dalam kegelapan. Yesus malah pergi ke tempat yang dikatakan sebagai tempat orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, penduduk yang tidak beragama. Apakah karena Yesus takut akan menerima nasib yang sama seperti Yohanes Pembandi? Tentu bukan karena takut akan menerima nasib yang sama seperti Yohanes Pembaptis. Yesus pergi ke Kapernaum karena memang Dia datang untuk membawa terang kepada dunia, kepada semua orang, bukan hanya kepada kelompok tertentu. Di negeri yang dikatakan penduduknya hidup dalam kegelapan itu, Yesus membawa terang dan mereka menerima kehadiran Sang Terang itu. Di situ Yesus menyerukan pertobatan karena kerajaan Sorga sudah dekat. Penduduk negeri itu mendengarkan seruan Yesus, ini bisa kita lihat dari kenyataan bahwa di negeri itulah Yesus memilih beberapa murid sebagaimana dikatakan dalam Injil hari ini.

Dari sini jelas kita ketahui bahwa sebenarnya di Nasaret Yesus juga hadir untuk membawa terang, namun kenyataannya mereka menolak kehadiran Sang Terang, mereka tidak mau bertobat, malah mereka menolak dan memenjarakan Yohanes yang memberitakan pertobatan untuk menyambut Sang Terang itu. Penduduk Nasaret merasa diri sebagai orang beriman, orang yang taat beragama dan merasa sebagai suku bangsa yang terberkati. Di dalam diri mereka ada kesombongan yang begitu besar, menganggap bahwa status itu merupakan jaminan untuk keselamatan kekal. Oleh karena itulah tidak ada pertoabtan dalam diri mereka. Kesombongan ini justru mereka tidak mau bertobat. Karena bagaimanapun, selama kesombongan itu melekat dalam diri mereka, mereka tidak akan pernah mau menerima kehadiran Sang Terang dan tidak akan pernah mau bertobat. Sedangkan penduduk di Galilea dengan penuh kerendahan hati mereka bertobat, menerima kehadiran Sang Terang.

Pertobatan merupakan kunci utama menerima kehadiran Yesus Sang Terang dalam kehidupan kita. Bertobat atau metanoia adalah suatu perubahan hidup dan perubahan sikap. Para penduduk Nasaret gagal menerima kehadiran Kerajaan Sorga karena mereka merasa status mereka sabagai bangsa beragama yang mengenal Tuhan, itulah yang menyelamatkan mereka. Bertobat dan menerima kehadiran Kerajaan Allah bukan soal status, bukan juga soal pengetahuan agama, bukan juga soal sudah beragama atau tidak tetapi keterbukaan menerima kehadiran Yesus Sang Terang sejati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus. Nyatanya banyak orang yang pintar dalam pengetahuan agama, banyak tahu ilmu ketuhanan dan sudah mengatakan diri sebagai orang beragama, nyatanya menolak Sang Terang, menolak kehadiran Kerajaan Sorga dalam diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, Yesus menyerukan pertobatan bagi kita semua, yakni dengan mengubah pola dan sikap hidup kita, menjadi hidup yang sesuai dengan kehendak Yesus dan menyerahkan diri sepenuhnya pada kuasa dan kasih-Nya.

Seruan pertobatan ini kiranya sangat dibutuhkand alam kehidupan sekarang ini. Jujur kita katakan bahwa dalam kehidupan sekarang ini, banyak terdapat orang yang hidup dalam kegelapan dan bahkan dengan sengaja menghadirkan dunia gelap. Siapa yang berani membawa terang pertobatan dalam dunia yang diliputi kegelapan ini? Dua contoh di atas yang kami utarakan adalah usaha membawa terang itu. Namun tugas itu juga menjadi tugas kita semua yang percaya kepada Yesus. Yesus memilih para murid-Nya dan mengutus mereka untuk menjala manusia. Itu berarti, kita semua juga dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk membawa terang dan menyerukan pertobatan itu dalam duni ini, dalam kehidupan ini, di manapun kita berada dan kapanpun. Semoga kita berani membawa terang pertobatan itu, sehingga layaklah kita mengharapkan hidup yang lebih baik. Amin.

Tokoh Agama Terus Lanjutkan Gerakan Moral

Tokoh Agama Terus Lanjutkan Gerakan Moral
21 Januari 2011 07:42

(Jakarta 20/1/2011)Sejumlah tokoh lintas agama kembali bertemu di Jakarta, Kamis (20/1). Mereka menyatakan akan terus melanjutkan gerakan moral dan berkomitmen untuk kehidupan bangsa yang lebih baik.

Pertemuan kali ini berlangsung di Kantor Pusat Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) di Menteng, Jakarta Pusat. Turut hadir di antaranya mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafi`i Ma`arif; Ketua KWI, Uskup Martinus Situmorang; Ketua Persekutuan Gereja Indonesia, Andreas Yewangoe; Kiai Haji Salahudin Wahid; Romo Frans Magnis Suseno serta Badan Pekerja Tokoh Lintas Agama.

Agenda tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan mereka dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 17 Januari silam. Menurut tokoh agama, pertemuan selanjutnya akan mengundang Presiden.

Dalam pertemuan berikutnya, mereka akan membicarakan kondisi yang dialami masyarakat Indonesia, seperti kemiskinan. Para tokoh agama mengaku akan tetap menagih janji dan komitmen pemerintah.(metrotvnews.com)

Bacaan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba) Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia

Bacaan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011 (Bahasa Batak Toba)
Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia
Yes 8:23b-9:3, Mzm 27:1,4,13-14, 1Kor 1:10-13,17, Mat 4:12-23

“Pauba hamu ma rohamuna, ai nunga songgop harajaon banua ginjang i!”

BARITA NAULI:
Dung dibege Jesus, naung tarhurung si Johannes, laho ma Ibana tu Galilea. Laos ditadingkon ma huta Nasaret, laho maringanan tu huta Kapernaum na di topi ni tao i, di luat Zebulon dohot Naptali. Asa jumpang na nidok ni panurirang Jesaya na mandok: "Luat Zebulon dohot Naptali na di topi ni tao i, di ipar ni aek Jordan, luat Galilea, inganan ni angka sipelebegu: Jolma angka na maringanan di na holom marnida Panondang na bolon; nunga binsar Panondang i di angka na manginganhon tano na nilinggoman ni hamatean". Jadi olat ni i mamungka ma Jesus marjamita; ia jamitana on do: Pauba hamu ma rohamuna, ai nunga songgop harajaon banua ginjang i! Dung i di na mardalani Jesus di topi ni tao Galilea, diida ma disi dua halak na saama na sumampakkon jalanasida tu tao i, ai pardengke do nasida; i ma si Simon na margoar si Petrus dohot donganna saama si Andreas. Dung i ninna ma mandok nasida: Ihuthon hamu ma Ahu; bahenonku do hamu gabe sijala jolma! Dung i pintor ditadingkon nasida ma jalanasida i, laho mangihuthon Ibana. Dung laho Ibana sian i, diida ma muse dua halak na asing na saama, i ma si Jakobus dohot anggina, si Johannes, anak ni si Sebedeus, angka na pauliuli jalanasida hundul di bagasan paraunasida rap dohot si Sebedeus, amanasida i. Jadi dijou ma nang nasida. Dung i pintor ditadingkon nasida ma parau i dohot amanasida, laho mangihuthon Ibana. Dung i didalani Ibana ma sandok luat Galilea laho mangajari di angka parguruan, mamaritahon Harajaon i huhut pamalum nasa sahit dohot na niae ni halak na disini
Songon i ma Barita Nauli na dipatolhas tu hita sadari on.

Bacaan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011 (Bahasa Karo) Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia

Bacaan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011 (Bahasa Karo)
Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia
Yes 8:23b-9:3, Mzm 27:1,4,13-14, 1Kor 1:10-13,17, Mat 4:12-23

"Jeralah kam i bas dosandu nari, sabap Kinirajan Surga enggo reh deherna!"

BERITA SI MERIAH:

Kenca ibegi Jesus berita maka Johanes Peridiken enggo ipenjaraken, lawes Ia ku Galilea. ItadingkenNa Nasaret e maka lawes Ia ringan i Kapernaum. Kapernaum e me sada kuta i tepi Dano Galilea, daerah Sebulon ras Naptali. Alu bage seh me kai si ikataken Nabi Jesaya nina, "Taneh Sebulon ras taneh Naptali, dalan kempak lawit, i lepar Lau Jordan, daerah Galilea si ni ingani kalak si labo bangsa Jahudi! Kalak si ringan i bas gelap, enggo ngidah terang si mbelin e! Man kalak si ringan i bas taneh si ikuasai kematen enggo mbincar terang e!" I bas paksa si e nari me ibenaken Jesus ngajar nina, "Jeralah kam i bas dosandu nari, sabap Kinirajan Surga enggo reh deherna." Asum Jesus erdalan-dalan i tepi Dano Galilea, idahNa dua kalak si sembuyak sangana njala nurung. Si dua kalak e, e me Simon (igelari Petrus) ras Andereas. Nina Jesus man bana, "Mari, ikutken Aku, maka Kuajari kam ndilo kalak si deban jadi ajar-ajarKu." Minter itadingken kalak e jalana jenari ikutkenNa Jesus. Asum iterusken Jesus erdalan, idahNa ka dua kalak si sembuyak. Si dua kalak e, e me anak Sebedeus, gelarna Jakup ras Johanes. Kalak enda i datas perahu ras bapana sangana pesikap jala. Asum idilo Jesus ia duana, minter itadingkenna perahu e bage pe itadingkenna bapana. Jenari ikutkenna Jesus. Isiari Jesus kerina daerah Galilea. Ngajar Ia i bas rumah-rumah pertoton dingen iberitakenNa Berita Si Meriah kerna Kinirajan Surga. IpepalemNa kerina penakit bage pe si mesui i bas daging kalak e nari.
Enda me kap Injil Tuhanta.

Hasil Rapat SBY-Tokoh Agama Tak Konkret

Hasil Rapat SBY-Tokoh Agama Tak Konkret

(Jakarta 18/1/2011)Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan para pemuka dan tokoh lintas agama belum menghasilkan hal yang konkret.

Keprihatinan para pemuka dan tokoh agama masih direspons oleh pemerintah dengan cara memberikan janji-janji yang baru. Namun, Presiden berkomitmen untuk meneruskan dialog ini guna membahas dan menghasilkan hal-hal yang lebih konkret.

Demikian disampaikan secara terpisah oleh Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Andreas Yewangoe, serta Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Selasa (18/1/2011).

"Kami akan mengawal terus dan menuntut janji pemerintah," kata Andreas kepada para wartawan seusai mengikuti dialog di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/1/2011). Selain Din dan Andreas, tokoh agama yang turut hadir, di antaranya, Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj dan Ketua KWI Mgr D Situmorang.

Ada juga Ketua Walubi Siti Hartati Murdaya, Ketua PHDI I Made Gde Erata, Ketua Matakin Budi S Tanuwibowo, rohaniwan Katolik Romo Frans Magnis Suseno, rohaniwan Buddha Bhiksu Sri Pannyavaro Mahatera, dan lainnya.

Sementara itu, Presiden didampingi Wakil Presiden Boediono, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, serta Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Ada pula Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Pendidikan M Nuh, Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

"Akan ada pertemuan lebih lanjut dan lebih substansial. Pemerintah membuka dengan lebar kesempatan dialog tersebut. Dialog seperti ini merupakan bagian komunikasi antara pemerintah dan komponen masyarakat," kata Djoko.

Sementara itu, Din meyakini bahwa kekuatan dialog dapat turut berkontribusi menyelesaikan masalah bangsa. Isu-isu yang dibahas dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir lima jam tersebut, antara lain, pemberantasan korupsi, kebebasan beribadah, kemiskinan, dan ketenagakerjaan.

Para pemuka dan tokoh agama, kata Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia Jeirry Sumampow, berkomitmen untuk terus menyiapkan data dan mengemukakan fakta-fakta baru. Menko Polhukam mengatakan, secara umum, dialog berlangsung hangat.

Kedua belah pihak saling menghargai pendapat yang dikemukakan. Selain persamaan pandangan, ada pula perbedaan pandangan terhadap sejumlah hal.

"Namun, inilah demokrasi," kata Djoko ketika menutup dialog yang berlangsung secara tertutup. Penutupan sedianya akan dilakukan oleh Presiden. Dialog ini digelar tak lama setelah para pemuka dan tokoh agama menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan kebohongan publik. Presiden pun, menurut pengakuan beberapa tokoh dan pemuka agama, langsung mengundang para tokoh agama tersebut ke Istana.

"Karena tokoh agama enggak enak, maka mereka datang dan mengemukakan pemikirannya," kata salah seorang tokoh agama yang hadir dalam pertemuan di Istana Negara.

Sementara itu, Ketua Umum Matakin Budi mengatakan, dirinya hadir dalam dialog tersebut atas undangan dari Sekretariat Negara. Rohaniwan Romo Benny Susetyo, secara terpisah, mengaku sempat bingung akibat undangan yang dikirimkan berkali-kali ke kantor KWI.

Namun, Presiden malah mengklaim bahwa dialog tersebut digelar bukan atas inisiatifnya. Ketika membuka dialog, Presiden mengatakan, inisiatif datang dari Din. Inisiatif ini pun langsung disambutnya.
(kompas.com)18 Januari 2011 08:25

Bacaan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011 Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia

Bacaan Hari Minggu Biasa III, 23 Januari 2011
Hari ke-6 Pekan Doa Sedunia
Yes 8:23b-9:3, Mzm 27:1,4,13-14, 1Kor 1:10-13,17, Mat 4:12-23

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Bacaan Injil:
Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, ? bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Renungan Harian : Sabtu 22 Januari 2011 (Hari ke-5 Pekan Doa Sedunia)

Renungan Harian : Sabtu 22 Januari 2011
(Hari ke-5 Pekan Doa Sedunia)
Ibr 9:2-3,11-14, Mzm 47:2-3,6-7,8-9, Mrk 3:20-21
(Vincentius, Laura Vicuna,)

"Ada orang mengatakan bahwa antara kekudusan dan kegilaan itu adalah ‘betti’ (beda tipis)."

BACAAN INJIL:
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Ada orang mengatakan bahwa antara kekudusan dan kegilaan itu adalah ‘betti’ (beda tipis). Hal ini ada benarnya, karena perilaku orang kudus dan orang gila seringkali bertolak belakang dari kebiasaan masyarakat umum. Namun perbedaannya sangat jelas kog. Orang gila berperilaku diluar dari kewajaran orang normal, karena memang dia tidak menyadari lagi apa yang dia lakukan karena control sarafnya tidak lagi bekerja dengan baik. Sedangkan orang kudus, sadar akan apa yang dia lakukan, dia menghendakinya dan untuk tujuan yang lebih tinggi. Orang kudus perilaku hidupnya berbeda dengan yang berlaku umum, karena perilaku hidup yang umum itu dilihat bukan lagi perilaku hidup yang baik sehingga perilaku hidupnya berseberangan dengan yang umum tersebut. Jadi bukan karena perilaku hidup orang kudus itu yang tidak baik dan gila, tetapi orang lain yang menganggap gila karena menganggap beda dengan yang terjadi umum, dan menganggap yang berlaku umum itulah yang waras dan benar. Padahal perlikau hidup yang sudah umum itu belum tentu selaman benar, dan itulah yang seringkali malah hidup yang gila.

Hidup Yesus, pengajaran-Nya dan sikap—Nya, sungguh berbeda dengan perilaku hidup para imam atau tokoh-tokoh agama pada waktu itu. Waktu itu, para imam, guru-guru agama hidup dalam kemewahan, menjadi kalangan atas dan membuat peraturan-peraturan dan mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan kehendak Allah. Yesus mewartakan kerajaan Allah, memberikan diri-Nya bagi semua orang, bergaul dengan semua orang, bahkan dengan orang-orang miskin, orang sakit dan para pendosa yang biasanya disingkirkan. Yesus juga berani dengan terang-terangan mengkritik perilaku yang tidak baik. Dia sungguh berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh orang pada masa itu. Oleh karena itulah Dia dianggap gila, bahkan oleh kaum keluarga-Nya sendiri.

Hal yang aneh dan menyedihkan karena kaum keluarga-Nya sendiri tidak memahami dan tidak mengerti siapa dan mengapa Yesus demikian, tetapi malah ikut-ikutan menganggap Yesus gila. Penginjil tidak menyebutkan apakah Yusuf dan Maria ibu-Nya termasuk dalam kelurga-Nya yang menganggap gila. Saya yakin bahwa mereka berdua tidak termasuk di dalamnya.

Issu yang mengatakan Yesus gila atau tidak waras pasti juga ditiupkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Yesus, yakni khususnya para imam, ahli-hali Taurat, orang-orang Farisi dan mungkin saja para penguasa yang merasa ‘diancam’ oleh Yesus karena kritikan yang pedas. Mereka menyebarkan issu itu bukan karena hidup Yesus tidak baik dan tidak benar, tetapi karena merasa terancam, merasa tersaingi dan sakit hati atas teguran Yesus. Padahal merekalah yang sebenarnya hidup dalam kegilaan.

Demikianlah yang sering terjadi dalam kehidupan ini. Seringkali orang menganggap bahwa apa yang sudah biasa terjadi dalam masyarakat umum, dianggap itulah yang baik dan benar, sehingga ketika ada orang yang berperilaku lain dari yang umum itu, dianggap gila, aneh dan tidak wajar. Padahal yang berbeda dari kebiasaan umum itulah yang seringkali justru yang benar dan baik karena tidak mau hanyut dengan arus kehidupan yang tidak baik. Nah sekarang bagaimana dengan hidup kita.

Saat ini, orang yang berusaha hidup baik, jujur, adil, berbuat dan membela yang benar, merupakan cara hidup yang berbeda dengan kehidupan umum. Gaya / cara hidup yang demikian berarti melawan arus dalam kehidupan. Orang yang demikian biasanya akan dianggap aneh, tidak wajar, dianggap gila dan akan disingkirkan dalam kehidupan ini. Ini seringkali kita takut untuk hidup benar menjalankan kehendak Tuhan, sehingga kita mengikuti begitus saja apa yang biasa, yang tentu tidak baik. Namun walaupun demikian, kita sebagai pengikut Kristus, tidak perlu takut bila kita dianggap gila karena hidup kita yang berusaha seperti yang dikehendaki oleh Allah, meneladan Yesus sendiri, karena Yesus sendiri sudah mengalaminya. Bila hal itu kita alami dan pasti kita alami, anggap itu ujian dari nilai tertinggi yang sedang kita hayati dan perjuangkan. Justru kesetiaan kita akan cara hidup seperti Yesus, itu menjadi kesaksian bagi dunia dan pada akhirnya dunia akan tahu dan melihat suatu kebenaran sejati dari cara hidup kristiani kita.

Selain itu, tentunya kita juga harus selalu waspada agar tidak dengan gampang menilai cara hidup orang lain yang tidak sesuai dengan kebiasaan umum, menganggap orang tersebut tidak waras, aneh dan gila. Namun sebagai umat kristiani yang terbuka pada kebaikan dan sedang dalam usaha dalam mencapai kekudusan hidup, bila menemukan hal demikian, kita mencoba melihat dengan kaca mata iman, berpikir positif, karena bisa saja itulah hidup yang baik dan benar, sehingga kita diajak untuk merenungkan cara hidup kita sendiri. Semoga kita semua bersiap-siap, berani dikatakan gila karena gaya hidup kristiani kita. Amin.

Gerakan Aksi Puasa Pembangunan 2011 : Pemberdayaan Kesejatian Hidup

Gerakan Aksi Puasa Pembangunan 2011 : Pemberdayaan Kesejatian Hidup
oleh Berita Katolik pada 22 Januari 2011

Kerangka Dasar APP 2011
Pemberdayaan Kesejatian Hidup:
Kesejatian Hidup dalam Perwujudan Diri

Pengantar
Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) dengan tema besar "Pemberdayaan Kesejatian Hidup" (2007 - 2011) telah menjadi bahan pembelajaran umat beriman katolik selama empat tahun. Buah hasil pembelajaran yang mulai tampak adalah, semangat pembaruan ke arah pemberdayaan hidup bersama dalam masyarakat, komunitas, keluarga, dan lingkungan hidup. Diharapkan bahwa pembelajaran bukan hanya menjadi medan pembekalan bagi orang lain tetapi terutama bagi diri sendiri.

Tahun 2011 melanjutkan tema "Pemberdayaan Kesejatian Hidup" dengan perhatian pada "Kesejatian dalam Perwujudan Diri". Tujuannya adalah setiap umat Katolik sadar akan panggilannya, sebagai anak-anak Allah yang sejati dalam perjuangan hidup di dunia.

Hasil sasaran yang ingin dicapai oleh tema ini adalah:

1. Meningkatnya kemampuan setiap umat beriman untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan.

2. Meningkatnya kemampuan setiap umat beriman untuk melibatkan diri dalam menata karya kesejahteraan hidup bersama sesama.

3. Berkembangnya daya cipta setiap umat beriman dalam menjawab pelbagai keprihatinan yang menghambat perwujudan diri yang sejati.

4. Meningkatnya kemampuan umat beriman dalam membangun kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan cita-cita dan harapan hidup bersama yaitu kesejahteraan bersama yang berwawasan lingkungan.

5. Meningkatnya kemampuan setiap umat beriman untuk memberikan kesaksian dalam membangun relasi dengan sesama, terutama antar umat beriman, dan lingkungan hidup demi kebaikan seluruh ciptaan.

Latar belakang

Keluarga Allah atau persekutuan murid-murid Yesus mempunyai hubungan yang erat dan khusus dengan Allah Tritunggal Mahakudus: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Hubungan ini merupakan anugerah Allah pada saat kita menerima Sakramen Permandian.

Melalui Sakramen Permandian setiap umat beriman diangkat menjadi anak angkat Allah, dalam persekutuan dengan seluruh Gereja dan makhluk ciptaan. Namun, hubungan khusus umat beriman mendapatkan tantangan yang besar dalam tatakelola kehidupan sekarang ini. Kehidupan yang berkembang mendapat tawaran pelbagai kebutuhan serta pencobaan yang mengurungnya dalam sikap ingat diri semata.

Sikap ingat diri ini memberikan nuansa terciptanya budaya mengasingkan yang membuat orang menjadi miskin, lemah dan berkekuarangan, tanpa peduli akan kesejahteraan bersama. Budaya ini menampilkan budaya yang berseberangan dengan budaya kasih yang benar.

Banyak tempat khusus seperti mal, perguruan tinggi, sekolah internasional, rumah sakit inter¬na-sional, dsb., di mana orang hidup dalam keterasingan. Orang yang tidak mempunyai penghasilan atau berpenghasilan rendah tidak dapat merasakannya. Rasa keadilan dipertanyakan berhadapan dengan sikap ingat diri semata. Perwujudan diri dalam sikap ingat diri, menyingkirkan sesama, sehingga mereka tidak memperoleh kesempatan meningkatkan perubahan hidup dalam kesejatian. Budaya hanya ingat diri membuat keadaan sesama semakin memprihatinkan. Kesempatan memba¬ngun kesejatian diri semakin terpuruk. Masyarakat semakin terperangkap oleh konsumtivisme, hedonisme, individualisme, dan egoisme yang menghasilkan tatakelola kehidupan yang keras, bah¬kan kejam.

Tidak heran di dalam tata kehidupan masyarakat demikian muncul istilah "premanisme". "Premanisme" ini bukan hanya berkembang di tataran kehidupan masyarakat warga, tetapi juga di tingkat para wakil rakyat, penegak hukum dan peradilan, serta birokrasi. Pembelajaran hidup masya¬ra¬kat demikian memunculkan pelbagai konflik sosial dan pribadi di pelbagai jenjang waktu dan tempat.

Dewasa ini orang mendapat suguhan pelbagai kasus yang tidak kunjung selesai. Kasus yang menimpa rakyat kecil seperti busung lapar, penyakit malaria, HIV/AIDS, TBC, kekurangan gizi, dsb belum mendapatkan perhatian yang benar dan tepat oleh mereka yang berwenang. Mereka sendiri sedang menghadapi pelbagai persoalan menyangkut kedudukan, kekuasaan, kepartaian, dan golong¬an. Masing-masing orang duduk di kursi pengambil kebijakan tata kelola hidup bermasyara¬kat, berbangsa dan bernegara lebih mengedepankan sikap "aji mumpung" daripada melaksanakan tugas utamanya: melayani, mendampingi, merencanakan dan memperjuangkan kesejatian hidup yang benar.

Orang beriman mendapat panggilan dan perutusan untuk mewujudkan diri sebagai sesama yang mampu berlaku baik dengan semua orang. Nyatanya, kesejatian hidup orang beriman belum sepenuhnya terwujud. Kedosaan manusia mengurung diri dalam keterasingan, sehingga keutuhan hidup yang terbuka tetap menjadi rahasia dalam persekutuan hidup bersama. Oleh karena itu, melalui permenungan APP 2011, kita kiranya rela memanfaatkannya untuk menyelisik "Bagaimana kita dapat menjadi manusia yang semakin siap mewujudkan diri, yaitu menata tata kehidupan diri yang mengarah pada kesejatian hidup dalam keutuhan hidup yang terbuka bagi kesejahteraan bersama."

Mendengarkan Sabda Tuhan

Setiap orang yang terhimpun dalam keluarga Allah sebagai murid-murid Yesus mendapatkan pengajaran khusus dari Sang Guru Sejati yaitu Yesus Kristus. Pengajaran yang paling unggul mendapat peragaan dalam acara Perjamuan Akhir. Di dalam kisah perjamuan akhir diungkapkan "pembasuhan kaki". Yesus melakukan pembasuhan kaki para murid-Nya. Yesus yang adalah Guru mau melakukannya. Perbuatan Yesus ini tidak steril karena mereka sebagai murid-murid-Nya harus melakukannya juga di antara mereka satu sama lain. Pembasuhan kaki merupakan simbol pelayanan yang sangat mendasar dan menyentuh tata kehidupan para murid. Tata kehidupan para murid yang diharapkan adalah adanya saling melayani, meneguhkan dan mengembangkan. Pelayanan satu sama lain memberikan nuansa baru dalam kehidupan bersama. Semangat hidup seperti ini merupakan ungkapan hidup iman setiap umat beriman. Rasul Yakobus mengungkapkan dengan tegas: "Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja. Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati" ( Yak 1:22; Ibr 2:17 )

Inspirasi pembelajaran Kitab Suci mendorong setiap umat beriman dalam keterlibatan hidup sehari-hari agar berkenan pada Allah. Allah yang telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini memberikan diriNya melalui Yesus PuteraNya untuk menyelamatkan manusia dan seluruh alam ciptaanNya:"Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya diselamatkan melalui Dia," (Yoh 3:16-17). Kasih Allah yang menganugerahkan hidup bagi umat beriman diharapkan berkelanjutan secara terbagi bersama sesama, sehingga perwujudan diri menjadi nyata dalam lingkungan hidup bersama yang penuh rahmat-Nya.

Dengan mengambil bagian dalam karya keselamatan, setiap umat beriman dipanggil untuk mewujudkan diri menurut Sabda Tuhan: "Akulah gembala yang baik. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku, sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini: domba-domba itu harus Ku-tuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dan satu gembala" (Yoh 10:11, 14 - 16). Gambaran tentang domba-domba adalah kawanan yang akan dibimbing ke padang rumput yang hijau (Yoh 10:9), mereka yang Ia kenal nama-namanya dan mereka mengenali suaraNya (Yoh 10:3-4,14). Domba-domba ini adalah mereka yang Ia maksudkan untuk dilindungi dari para pencuri dan perampok (Yoh 10:1,8,10). Mereka lah yang Ia kehendaki untuk dikumpulkan bersama-sama dengan semua yang lain sehingga menjadi satu kawanan, yang mendengarkan suaraNya (Yoh 10:16).Yesus akan melaksanakan ini karena Ia adalah Gembala Yang Baik (Yoh 10:11,14), yang dikasihi oleh BapaNya karena Ia mau menyerahkan nyawaNya bagi domba-dombaNya. Penyerahan nyawa ini merupakan tindakan pengorbanan diri yang total. Inilah contoh perwujudan diri yang sejati.

Pertobatan dan komitmen perubahan cara hidup

Upaya perwujudan diri setiap umat beriman dalam perutusan kesejatian hidup dengan semangat pengorbanan diri seutuhnya mengalami banyak tantangan dan pencobaan. Tantangan dan pencobaan seringkali membawa orang ke arah kecemasan, kekhawatiran dan keputus-asaan, sehingga membuat mereka takut bertindak. Umat beriman bersikap masa bodoh, karena imannya kerdil dan gersang.

Padahal tugas perutusan setiap orang membangun kehidupan diri yang terbuka dan terarah pada terciptanya keadilan, kebenaran, kedamaian, dan kebaikan Rahmat Allah yang menggerakan perutusan demi terciptanya kebaikan segala makhluk ciptaan berada dalam bejana tanah liat yang rapuh. Setiap saat umat beriman perlu membarui, memperbiki serta menyempurnakan diri, supaya dapat melakukan perutusan perwujudan diri dengan penuh tanggungjawab. Perbaikan dan penyempurnaan diri melalui pertobatan dan pembaruan pribadi. Pertobatan merupakan undangan sekaligus rahmat Allah. Ia menyampaikan pesan "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa: untuk menyelamatkan orang berdosa, (Mat 9:13; 1 Tim 1:15)."

Pertobatan pribadi dalam upaya perwujudan diri sebagai murid Kristus merupakan rahmat Allah demi penyempurnaan diri menuju pembenahan hidup bersama. Cara hidup umat beriman yang demikian sudah menjadi kenyataan dalam cara hidup Gereja Perdana: "Hendaklah kamu sehati sepikir. Dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan dirinya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati, (Fil 2:2-4; Ef 4:2; Lk 6:36)."

Keterlibatan dalam karya keselamatan bersama sebagai bagian utuh perwujudan kesejatian hidup diharapkan terlaksana dengan sepenuh hati, sehingga memberikan buah yang berkelimpahan dalam memperjuangkan kesejatian hidup pribadi yang terbuka bagi sesama. Hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna, (1 Ptr 1:22; Rom 12:9; 13:10; 1 Kor 13:2)

Kerelaan berbagi demi terciptanya pemberdayaan hidup bersama adalah wujud aktualisasi diri yang sejati. Kesejatian hidup yang terwujud harus berdasarkan kerelaan hati dan bukan karena paksaan dari luar. Pemberian diri dalam wujud pemberkatan, perhatian, dan pelayanan dalam kehidupan bersama akan semakin menciptakan kesejatian diri, yang terbuka untuk pembaruan diri dalam kebersamaan yang saling melayani dalam kasih (bkk. 2 Kor 9:7; Mat 6:3).

Perutusan untuk pembaharuan:

Pembelajaran diri umat beriman sebagai suatu proses kemampuan mewujudkan diri dalam membangun tata kelola kehidupan yang utuh terbuka memerlukan kesadaran akan pentingnya pengembangan diri sebagai murid Kristus. Pengembangan diri sebagai murid Kristus menuntut beberapa sikap dasar sebagai berikut:

1. Membangun nurani kemuridan sejati: perutusan kemuridan menghadirkan nurani Kristiani, demi kesejahteraan hidup berdasarkan pola pikir Yesus Kristus. Perwujudan diri membuka kesempatan bagi tumbuhnya kesadaran akan segala sesuatu yang terkandung dalam panggilan kemuridan, yaitu peradaban kasih. Nurani Kristiani harus utuh dalam penghayatan iman dan sekaligus terbuka untuk menggerakkan pelayanan iman dan sekaligus terbuka untuk menggerak-kan pelayanan sesama yang saling memerdayakan.

2. Belajar menghasilkan relasi sesama yang meluas: murid Kristus selalu sadar akan panggilan untuk mengalami relasi sesama yang baik dan meluas. Umat beriman sebagai persekutuan para murid Kristus hidup dan berkarya demi mekarnya hidup baru yang hadir di dunia karena kekuatan Roh Kudus. Karena itu setiap orang beriman harus berani meninggalkan cara hidup yang lama dan menuju cara hidup baru dengan mendayakan Roh Kudus yang telah diterimanya.

3. Belajar berbagi dan bekerjasama: Perwujudan diri dalam tata kehidupan di atas bumi memang memerlukan perjuangan melalui kesadaran akan pengembangan diri. Umat beriman harus mau belajar hidup berbagi dan bekerjasama dengan sesama, agar kesejatian hidup diri terpantul juga dalam lingkungan hidup bersama.

4. Belajar menggunakan pelbagai karunia dan peluang yang ada. Ada banyak anugerah Allah yang diberikan kepada setiap orang bersamaan dengan peluang yang disediakan Allah untuk mengembangkannya. Kesadaran akan keadaan karunia ini mendorong umat beriman secara terus menerus untuk menghasilkan cara dan kompetensi hidup yang bermakna dan bermanfaat bagi gerakan kesejatian hidup.

5. Berbicara dan mendengarkan orang yang berpengalaman: Membangun persaudaraan dan persahabatan dengan sesama, terutama mereka yang berpengalaman dalam perwujudan diri sebagai murid Kristus akan memberikan nilai tambah untuk pengembangan diri. Sesama yang berpengalaman sudah mengalami jatuh dan bangun dalam menata kehidupan diri dan sesamanya. Belajar dari mereka berarti mengurangi kegagalan yang mereka alami dan sekaligus menumbuhkan harapan baru dalam mengembangkan diri menurut hati nurani yang membimbing kepada kesejatian hidup.

6. Belajar membangun kehadiran yang unik: Setiap orang beriman adalah unik. Keunikannya perlu menjadi kisah tersendiri dalam hidupnya dan pada gilirannya mendorong peran ang menggem¬bira¬kan sesama dalam lingkungan hidup ini. Hasil kehadiran hidup dan kiranya akan memberi¬kan pemerkayaan hidup sejahtera bersama.

7. Tetap bersemangat dan gembira dalam menjalankan perutusan: Kepercayaan diri yang telah dibangun dengan karunia dan peluang yang tersedia dalam lingkungan hidup umat beriman akan menumbuhkan dinamika serta komunikasi iman yang tinggi. Menghayati kepercayaan yang penuh semangat sebagai murid Kristus menjadi tanda perwujudan diri dan dorongan untuk mengarus-utamakan peradaban kasih. Inilah disiplin kemuridan Kristus dalam membangkitkan diri untuk belajar terus menerus melalui pertobatan dan pembaruan diri. Inilah Injil Yesus Kristus yang menyelimuti perwujudan diri umat beriman dalam lingkungan hidup manusiawi terutama lingkungan hidup gerejawi.

Penutup

Pembaharuan diri dari setiap orang beriman menurut panggilan hidup sejati merupakan karunia iman yang berkesinambungan. Undangan Tuhan bagi pembaruan diri memang mengalami pelbagai tantangan bahkan ancaman. Namun inilah jalan yang tersedia untuk membangun persahabatan dengan tuhan dan sesama.

Yesus bersabda "Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan" dan Ia juga mengundang setiap orang datang belajar dari padaNya. Belajar untuk menjadi pewarta Kabar Gembira Injil dan sambil berbuat baik dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Umat beriman Kristiani selalu bersyukur atas kelegaan yang Kristus selalu hadirkan karena bersama Dia perwujudan diri dapat terlaksana dalam kesejatian yang melimpah.

Perbuatan baik yang Ia lakukan ialah "Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang", (Lk 4:18-19).

Pewartaan Kabar Gembira yang terungkap perwujudan diri Yesus ini menjadi teladan dan sekaligus dipercayakan kepada setiap orang sebagai murid-Nya untuk dilakukan. Ia mengatakan: "apa yang telah Kudengar dari BapaKu telah Kusampaikan dan Kuberikan kepadamu, maka pergilah ke seluruh dunia beritakanlah Injil dan sembuhkanlah mereka yang sakit.(bdk. Yoh 15:13-15; Mat 10:7, 27; Mark 16:15; Lk 9:60))". Mandat Yesus ini hendaknya dijalankan dengan baik dan tekun seturut teladan-Nya. Ia tidak akan membiarkan para sahabatnya berjalan sendirian untuk mewujudkan diri sebagai murid-Nya. Ia akan mengirim teman seperjalanan yang berdaya yaitu Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan pendampingan dan pengarahan penuh daya agar hidup dan karya pelayanan umat beriman Kristiani mencapai dan terlaksana dalam suatu lingkungan yang semakin berdamai sejahtera bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam mewartakan Kabar Gembira Injil dan menghayatinya dengan perbuatan baik di dalam kekuatan Roh Kudus, setiap umat beriman selalu perlu belajar membangun relasi dengan diri sendiri, sesama, masyarakat dan lingkungan hidupnya menurut cita-cita Sang Pencipta. Pembela-jar¬an ini membuka kemungkinan terciptanya lingkungan perwujudan diri yang mendatangkan kesejah¬teraan sejati menuju keselamatan.

Bahan-bahan APP 2011 tersedia sebagai pembelajaran hidup yang kiranya mendorong umat beriman untuk mewujudkan pembaruan diri sebagai murid-murid Kristus. Terang Sabda Tuhan pasti membimbing untuk kembali kepada tata kehidupan yang sejatinya menyejahterakan, menggembira¬kan serta membahagiakan para murid Kristus dalam lingkungan hidup yang terbangun dari hati umat beriman yang seutuhnya terbuka kepada Tuhan dan sesama. Inilah perwujudan diri dalam peradaban kasih.

Semoga demikian !
Disadur dari : BeritaKatolik.Com.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)