Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Renungan : Jumat 12 Nopember 2010

Pw. St. Yosafat, Theodorus Studit
2Yoh 1:4-9, Mzm 119:1,2,10, 11,17,18, Luk 17:26-37
"Hanya Tuhanlah yang kekal dan abadi."

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan." (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."
Demikianlah warta gembira bagi kita hari ini:

PERMENUNGAN:

Berbicara tengtang akhir zaman atau kiamat, tentu bukan hal yang menyenangkan karena memang seringkali digambarkan dengan suatu peristiwa yang menyeramkan. Mendengar kata kiamat atau akhir zaman, bisa membuat orang merinding, ketakutan dan akan membayangkan suatu kematian akan akan tiba. Dalam ketakutan itu, umumnya orang ingin masuk surga bila kiamat itu tiba. Keinginan itu sungguh besar, dan ini seringkali disalah gunakan oleh orang-orang tertentu dengan ‘mewartakan’ akan datangnya kiamat. Tidak sedikit orang yang terbuai, percaya sehingga mereka melakukan apa saja yang dikatakan oleh si peramal.

Gambaran yang disampaikan Yesus dalam Injil hari ini, mungkin menambah ketakutan kita akan akhir zaman atau hari kiamat. Kita sudah takut, seakan Yesus semakin menakut-nakuti kita. Tentu bukan maksud Yesus untuk menakut-nakuti kita. Yesus hanya sekedar mengingatkan kita agar kita berjuang mencari dan mempertahankan yang kekal dan abagi, bukan hal yang sifatnya fana. Yesus menyatakan hal ini, karena memang seringkali kita itu keras kepala dan bandel. Kita tahu bahwa kita pasti akan mati, kita merindukan kehidupan kekal, tetapis seringkali hal itu bukan membuat kita untuk hidup sesuai dengan syarat yang dibutuhkan untuk kehidupan kekal. Dari pengalaman hidup kita tahu, bahwa semua pasti akan mati, dan bila hal itu datang, tidak ada siapapu dan apapun yang bisa menolaknya, harta yang banyakpun tidak akan berguna apa-apa. Namun walaupun demikian, seringkali kita masih mempertahankan hidup ini, mengejar dan mempertahakan jabatan, harta, pangkat dan yang lainnya sifatnya duniawi. Bahkan seringkali kita dengan mudah meninggalkan iman kepada Tuhan, berpindah agama demi mempertahakan hal yang sifatnya duniawi. Tidak sedikit orang yang dengan santainya meninggalkan Gereja Katolik karena untuk mengejar jabatan, pangkat, harta dan kedudukan.

Hari ini Yesus kembali mengingatkan kita bahwa semua yang sifatnya duniawi, yang seringkali kita anggap penting, kita pertahankan dan bela mati-matian, semuanya akan sia-sia, semuanya akan kita tinggalkan. Yesus menuntut suatu ketegasan dari kita, mana yang menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Yesus mengajarkan agar kita menjadikan Tuhan dan kehidupan kekal sebagai prioritas utama dan yang harus kita pertahankan. Ingatlah kata-kata Yesus tadi, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” Itu berarti barang siapa yang memelihara nyawanya hanya demi yang sifatnya duniawi, dia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barang siapa yang berani kehidungan hal duniawi dan bahkan hidupnya sendiri demi iman dan Tuhan, maka dia justru akan menyelamatkan nyawanya. Yesus menuntut suatu ketegasan dari kita. Hal ini diumpakannya dengan perkataan, "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar." Dengan ungkapan ini, kita harus mengarahkan seluruh hidup kita hanya kepada Tuhan dan kepada hidup yang kekal, karena hanya Tuhanlah yang abadi, semuanya yang berasal dari dunia, sifatnya tidak abadi.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Marilah kita menjadikan Yesus sebagai prioritas yang pertama dan utama dalam hidup kita.
2. Cobalah untuk tidak terikat dengan apa yang kita sukai, mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Renungan : Kamis, 11 Nopember 2010

aKamis, 11 Nopember 2010
Flm 1:7-20, Mzm 146:7,8-9a,9bc-10, Luk 17:20-25

MISTERI KEDATANGAN KERAJAAN ALLAH

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan- Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.
Demikianlah warta Gembira bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN:

Saya mengenal seorang bapak karena rajinnya ke gereja mengikuti perayaan ekaristi dan kegiatan-kegiatan gerejani lainnya. Perkenalan itu terasa begitu singkat tatkala mendengar berita kematiannya. Seorang ibu yang menyampaikan berita duka itu tertegun sesaat sambil berujar: “Pastor, baru beberapa bulan ini dia (almarhum) mulai rajin ikut kegiatan-kegiatan gerejani karena dulunya dia seorang preman. Sayang dia keburu dipanggil Tuhan”. Dalam hati aku bangga melihat perubahan yang dialami bapak tersebut, walaupun dia keburu meninggal. Perubahan ini menjadi tonggak penting hadirnya Kerajaan Allah, yakni dengan menghasilkan satu manusia baru, dengan hati yang baru yang terjadi dalam suatu pembaharuan hidup dari cara hidup sebagai seorang preman kepada cara hidup sebagai seorang murid Kristus.
Orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, “bilamanakah Kerajaan Allah itu tiba?” Satu hal yang pasti dari jawaban Yesus adalah Kerajaan Allah itu akan tiba. Bagaiamana supaya kita tahu bahwa Kerajaan Allah itu tiba, Tuhan Yesus cuma memberi sedikit jawaban bahwa Kerajaan Allah itu datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Itu berarti kita tidak bisa tahu secara pasti kapan Kerajaan Allah itu datang. Ada satu misteri yang sulit terungkap di sini.
William Barclay menulis penafsiran tentang kata-kata Yesus ini. Agak sulit kita mengerti jawaban Yesus atas pertanyaan orang-orang Farisi ini. Penafsiran yang mungkin adalah Kerajaan Allah itu sebenarnya ada dalam hati manusia; ia tidak menghasilkan hal-hal baru, tetapi ia menghasilkan manusia-manusia baru. Kerajaan Allah itu bukanlah suatu revolusi dalam hal-hal material yang dapat terlihat, tetapi revolusi dalam hati manusia, demikianlah yang ditulis William Barclay.

Bilamanakah Kerajaan Allah itu tiba? Pertanyaan orang-orang Farisi ini juga menjadi pertanyaan setiap manusia. Banyak orang Katolik yang tidak lagi mengenal Gereja karena tidak percaya dengan kehadiran Kerajaan Allah. Mereka bahkan menganggap sebagai sesuatu yang sia-sia menghadiri perayaan-perayaan yang terjadi dalam gereja. Perayaan Ekaristi sebagai puncak dari seluruh kegiatan umat Katolik tidak lagi dirasa sebagai sesuatu yang penting.

Namun ketika musibah bencana terjadi di mana-mana gedung gereja terlihat sempit karena banyak orang berdatangan untuk menghadiri perayaan ekaristi. Pertanyaannya: “Apakah bencana mengubah disposisi hati manusia terhadap Allah? Apakah orang melihat bencana sebagai kutukan dari Allah atas ulah manusia-manusia jaman ini? Ataukah Allah memberi peringatan kepada manusia bahwa Dia akan datang?” Yang kita tahu bahwa ketika bencana tiba semua orang diajak untuk berdoa: “Pray For Indonesia”. Orang-orang diajak untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta. Ada perasaan bahwa menjalin hubungan dengan Allah menjadi hal yang utama. Mungkin dengan adanya bencana manusia merasa kalau Kerajaan Allah itu tiba karena sebagaimana ditulis William Barclay bahwa Kerajaan Allah menghasilkan manusia-manusia baru bukan hal-hal baru.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Mudah-mudahan kita selalu menyadari hadirnya Kerajaan Allah dalam hidup kita dengan selalu membaharui hati kita sehingga kita selalu berusaha untuk menjadi manusia-manusia baru dengan hati yang selalu baru.

2. Tersenyum dan berlakulah baik kepada siapapun yang Anda temui hari ini.

AJARAN GEREJA KATOLIK TENTANG PERKAWINAN

Pemahaman Perkawinan Menurut
Gereja Katolik
Salah satu usaha menafsirkan
AJARAN GEREJA KATOLIK TENTANG PERKAWINAN

Ada begitu banyak pasangan calon mempelai yang sudah lama ber¬pacaran, namun seringkali mereka belum mempergunakan kesempatan pacaran itu untuk dapat mempersiapkan diri dalam membangun keluarga katolik. Salah satu hal yang sangat penting namun seringkali terlupakan adalah kurangnya/ tidak pernah dilaksanakan pengolahan pengalaman hidup untuk melangsungkan suatu pernikahan sesuai ajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu pentinglah, dalam membaca uraian di bawah ini, pembaca menggali pengalaman pribadi, khususnya ketika mempersiapkan perkawinannya. Rumusan ini bisa membantu un¬tuk menilai diri sendiri, apakah memang sudah siap (minimal) secara mental dan rohani untuk melangsungkan perkawinan.
Perkawinan adalah:
PERSEKUTUAN HIDUP - ANTARA SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA - YANG TERJADI KARENA PERSETUJUAN PRIBADI - YANG TAK DAPAT DITA¬RIK KEMBALI - DAN HARUS DIARAHKAN KEPADA SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI - DAN KEPADA PEMBANGUNAN KELUARGA - DAN OLEH KARENANYA MENUNTUT KESETIAAN YANG SEMPURNA - DAN TIDAK MUNGKIN DIBATALKAN LAGI OLEH SIAPAPUN, KECUALI OLEH KEMATIAN.
a. PERSEKUTUAN HIDUP
Apa yang pertama-tama kelihatan pada perkawinan Katolik? Jawabnya adalah: Hidup bersama. Namun, hidup bersama itu masih berane¬karagam isinya. Dalam perkawinan Katolik, hidup bersama itu mewujudkan persekutuan. Jadi, hidup bersama yang bersekutu. Bersekutu mengisyaratkan adanya semacam kontrak, semacam ikatan tertentu dengan sekutunya. Bersekutu mengandaikan juga kesediaan pribadi untuk melaksanakan persekutuan itu, dan untuk menjaga persekutuan itu. Ada kesediaan pribadi untuk mengikatkan diri kepada sekutunya, dan ada kesediaan pribadi untuk memperkembangkan ikatannya itu supaya menjadi semakin erat.
Ikatan ini tidak mengurangi kebebasannya. Justru ikatan itu mengisi kebebasan orang yang bersangkutan. Pertama-tama karena para calon mempelai memilih sendiri untuk bersekutu, dan bebas un¬tuk memilih mau bersekutu dengan siapa, memilih untuk terikat dengan menggunakan kebebasan sepenuhnya; tetapi juga karena kebebasan itu hanya dapat terlaksana dalam melaksanakan pilihannya untuk bersekutu ini. Dengan kata lain boleh dikatakan bahwa persekutuan itu membuat orang sungguh-sungguh bebas karena dapat memperkem¬bangkan kreatifitas dalam memelihara dan mengembangkan persekutuan itu; bukan dengan menghadapkan diri pada pilihan-pilihan yang baru lagi. Persekutuan yang dibangun itu menjadi tugas kehidupan yang harus dihayatinya.

b. SEORANG PRIA DENGAN SEORANG WANITA
Penekanan pertama di sini adalah seorang dengan seorang: arti¬nya orang seutuhnya dengan orang seutuhnya. Ini menggambarkan penerimaan terhadap satu pribadi seutuhnya. Yang diterima untuk bersekutu adalah pribadi, bukan kecantikan, kegantengan, kekayaan atau kepandaiannya saja. Ada beberapa catatan untuk penerimaan satu pribadi ini: Pertama, menerima pribadi itu berarti menerima juga seluruh latar belakang dan menerima seluruh masa depannya. Artinya, saya tidak dapat menerima pribadi itu hanya sebagai satu pribadi yang berdiri sendiri. Selalu, saya harus menerima juga orang tuanya, kakak dan adiknya, saudara-saudaranya, teman-teman¬nya, bahkan juga bahwa dia pernah berpacaran atau bertunangan dengan si ini atau si itu. Lebih jauh lagi, saya juga harus meneri¬ma segala sesuatu yang terjadi padanya di masa mendatang: syukur kalau ia menjadi semakin baik, tetapi juga kalau ia menjadi sema¬kin buruk karena penyakit, karena ketuaan, karena halangan-halangan; saya masih tetap harus menerimanya. Yang ke dua, menerima pribadi berarti menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau dipikir secara matematis: yang berseku¬tu itu satu dengan satu; bukan 3/4 + 1/2, atau 1 + 6/8; lebih-le¬bih lagi, bukan satu dengan satu setengah/satu seperempat/satu tiga perempat/apalagi dengan dua, tiga, dan seterusnya.
Dengan ungkapan lain lagi: Saya seutuhnya, mau mencintai dia seutuhnya/apa adanya. Ini berarti, saya mau menerima dia seutuh¬nya, apa adanya; tetapi juga sekaligus saya mau menyerahkan diri seutuhnya kepadanya saja. Yang lain sudah tidak mendapat tempat lagi di hati saya, di pikiran saya. Hanya dia saja. Bahkan, anak-anakpun tidak boleh melebihi dia di hadapan saya, dalam pelayanan saya.
Penekanan ke dua pada seorang pria dengan seorang wanita.Yang ini kiranya cukup jelas. Hanya yang sungguh-sungguh pria dan yang sungguh-sungguh wanita yang dapat melaksanakan perkawinan secara katolik.

c. PERSETUJUAN PRIBADI
Hidup bersekutu itu terjadi karena setuju secara pribadi. Yang harus setuju adalah yang akan menikah. Dan persetujuan itu dilakukan secara pribadi, tidak tergantung pada siapapun, bahkan juga pada pasangannya. Maka, rumusannya yang tepat adalah: “Saya setu¬ju untuk melangsungkan pernikahan ini, tidak peduli orang lain setuju atau tidak, bahkan tidak peduli juga pasangan saya setuju atau tidak”.
“Lalu bagaimana kalau pasangan saya kurang atau bahkan tidak setuju?. Dia hanya pura-pura setuju”. Kalau demikian, bukankah pihak yang setuju dapat dirugikan? Ya, inilah resiko cinta sejati. Cinta sejati di sini berarti saya setuju untuk mengikatkan diri dengan pasangan, saya setuju untuk menyerahkan diri kepada pasangan, saya setuju untuk menjaminkan diri pada pasangan; juga kalau akhirnya persetujuan saya ini tidak ditanggapi dengan baik/sesuai dengan kehendak saya. Yang menjadi dasar pemahaman ini adalah karena setiap mempelai membawa cinta Kristus sendiri. Kristuspun tanpa syarat mengasihi kita, Kristus tanpa syarat menerima kita dan memberikan DiriNya bagi kita.

d. PERSETUJUAN PRIBADI YANG TAK DAPAT DITARIK KEMBALI
Persetujuan pribadi untuk bersekutu itu nilainya sama dengan sumpah/janji dan bersifat mengikat seumur hidup. Sebab persetujuan itu mengikutsertakan seluruh kehendak, pikiran, kemauan, pera¬saan. Pokoknya seluruh kepribadian. Maka dinyatakan bahwa perse¬tujuan itu tidak dapat ditarik kembali. Sebab, penarikan kembali pertama-tama berarti pengingkaran terhadap diri sendiri, penging¬karan terhadap kebebasannya sendiri, pengingkaran terhadap cita-cita dan kehendaknya sendiri. Tetapi, kemudian, juga berarti bah¬wa pribadinya sudah tidak menjadi utuh kembali.

e. DAN YANG DIARAHKAN
Sebenarnya, pengalaman untuk membuat dan memelihara dan memper kembangkan persetujuan pribadi untuk bersekutu itu sudah harus dipupuk sejak masa pacaran Maka, ada banyak yang merasa bahwa persetujuan semacam itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pokok¬nya sudah beres, begitu. Semua sudah siap. Namun, kenyataannya persetujuan yang terjadi pada masa pacaran belumlah memenuhi sya¬rat perkawinan. Dan benarlah, persetujuan yang dibangun pada masa pacaran baiklah persetujuan sebagai pacar. Persetujuan yang dibangun pada masa tunangan, baiklah persetujuan sebagai tunangan. Baru, setelah menikah, persetujuan itu boleh menjadi persetujuan sebagai suami-isteri. Maka, Kita lihat, misalnya adanya pembatasan-pembatasan dalam berpacaran, menunjukkan bahwa persetujuan itu belum bisa dilaksanakan sepenuhnya. Secara lebih positif dapat dikatakan bahwa persetujuan semasa pacaran lebih diarahkan untuk dapat melaksanakan janji pada saat perkawinan. Supaya janji pada saat perkawinan sungguh berisi dan memberi jaminan bagi masa de¬pan baik pribadi maupun pasangannya. Tiga kata ini juga dapat diartikan penegasan terhadap perkawi¬nan sebagai awal dari kehidupan baru bagi kedua mempelai. Bagai¬manapun oleh perubahan situasi manusia masih dapat berubah. Pene¬gasan ini membantu para suami/isteri untuk melaksanakan isi persetujuan itu.

f. SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI
Pengalaman menunjukkan bahwa calon mempelai biasanya bingung dengan ungkapan ini. Mereka merasa sudah saling mencintai, kok masih ditanya soal ini. Masalahnya, sering tidak disadari bahwa cinta itu bermacam-macam. Ada cinta sebagai saudara, ada cinta sebagai sahabat, ada cinta karena belas kasihan, demikian pula ada cinta suami isteri. Tentu saja, yang namanya cinta sejati tidak pernah dapat berbeda-beda. Yesus menunjuk cinta sejati itu seba¬gai orang yang mengorbankan nyawaNya bagi yang dicintaiNya. Dan Yesus memberi teladan dengan hidupNya sendiri yang rela sengsa¬ra, bahkan sampai wafat untuk kita semua yang dicintaiNya. Na¬mun, perwujudan cinta sejati itu ternyata bisa beranekaragam. Kekhasan dari cinta suami isteri adalah adanya keterikatan isti¬mewa yang membuat mereka dapat menyerahkan diri seutuhnya bagi pasangannya. Dalam hal ini kiranya cinta suami isteri dapat diseja-jarkan dengan cinta yang diwujudkan dalam suatu kaul biara atau janji seorang imam. Bedanya, kalau kaul biara atau janji seorang imam tertuju kepada Tuhan di dalam umatNya; dalam perkawinan cinta itu tertuju kepada Tuhan di dalam pasangannya. Yang mau dituju adalah membangun suasana saling mencintai sebagai suami/isteri. Maka, tidak hanya membabi buta dengan cintanya sendiri. “Pokoknya saya sudah mencintai”. Ini tidak cukup. Perjuangan seorang suami/isteri adalah di samping memelihara dan memperkembangkan cintanya, juga mengusahakan supaya pasangannya da¬pat ikut mengembangkan cintanya sebagai suami/isteri.

g. PEMBANGUNAN KELUARGA
Hidup dalam persekutuan sebagai suami-isteri mau tidak mau mewujudkan suatu keluarga. Harus siap untuk menerima kedatangan anak-anak, harus siap untuk tampil sebagai keluarga, baik di hadapan saudara-saudara, di hadapan orang tua maupun di hadapan masya¬rakat pada umumnya. Maka, membangun hidup sebagai suami-isteri membawa juga kewajiban untuk mampu menghadapi siapapun sebagai satu kesatuan dengan pasangannya. Mampu bekerjasama menerima, meme¬lihara dan mendewasakan anak, mampu bekerjasama menerima atau da¬tang bertamu kepada keluarga-keluarga lain, mampu ikut serta mem¬bangun Gereja. Semuanya dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan.

h. KESETIAAN YANG SEMPURNA
Setia dalam hal apa? Empat hal yang sudah diuraikan di atas, yakni persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita, memelihara dan memperkembangkan persetujuan pribadi, membangun sa ling mencintai sebagai suami isteri, membangun hidup berkeluarga yang sehat. Tidak melaksanakan salah satunya berarti sudah tidak setia. Apalagi kalau kemudian mengalihkan perhatiannya kepada se¬suatu yang lain: membangun persekutuan yang lain, membuat perse¬tujuan pribadi yang lain, membangun hubungan saling mencintai sebagai suami isteri dengan orang lain, membangun suasana kekeluargaan dengan orang lain (juga saudara): Ini dosanya besar sekali
Satu pedoman untuk kesetiaan yang sempurna adalah Kristus sen¬diri. Ia setia kepada tugas perutusanNya, Ia setia kepada Bapa¬Nya, Ia setia kepada manusia, kendati manusia tidak setia kepadaNya.

i. TAK DAPAT DIPISAHKAN OLEH SIAPAPUN
Persekutuan perkawinan terjadi oleh dua pihak, yakni oleh sua¬mi dan isteri. Maka, tidak ada instansi atau siapapun yang akan dapat memutuskan persetujuan pribadi itu. Bahkan suami isteri itu sendiripun tidak dapat memutuskannya, sebab persekutuan itu dibangun atas dasar kehendak Tuhan sendiri. Dan Tuhanlah yang merestuinya. Maka, pemutusan persekutuan perkawinan bisa dipandang sebagai pemotongan kehidupan pribadi suami/isteri. Ini bisa be¬rarti pembunuhan, karena pribadi itu dihancurkan.

j. KECUALI OLEH KEMATIAN.
Pengecualian ini didengar tidak enak. Namun, nyatanya, misteri kematian tidak terhindarkan. Karena kematian yang wajar, persetu¬juan pribadi itu menjadi batal, karena pribadi yang satu sudah tidak mampu lagi secara manusiawi melaksanakan persetujuannya.

sumber http://www.imankatolik.or.id/

PERNYATAAN AKHIR & REKOMENDASI SAGKI 2010

PERNYATAAN AKHIR & REKOMENDASI
SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA (SAGKI) 2010

"Ia Datang supaya Semua Memperoleh Hidup dalam Kelimpahan" (bdk. Yoh 10:10)

PENGANTAR

1. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) yang berlangsung dari tanggal 1 sampai dengan 5 November 2010 di Kinasih, Caringin - Bogor, Jawa Barat, dihadiri oleh utusan dari 37 keuskupan di Indonesia . Hadir 385 orang peserta, yang terdiri dari para Uskup, imam, biarawan-biarawati, dan sejumlah wakil umat. Sidang Agung ini bertema, Ia Datang supaya Semua Memperoleh Hidup dalam Kelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Hidup dalam kelimpahan berarti ada dalam relasi dekat dengan Sang Gembala serta selalu merasakan perlindungan-Nya. Kedekatan dengan Sang Gembala itulah yang akan menjamin kehidupan manusia, dalam relasinya dengan sesama dan seluruh alam ciptaan.

2. Kami menyadari tema SAGKI ini diilhami pula oleh suatu perayaan iman Kongres Misi Asia I di Chiang Mai (Thailand, 2006) yang bertemakan, Telling the Story of Jesus in Asia. SAGKI ini merupakan suatu perayaan iman akan Yesus Kristus sekaligus kesempatan untuk berjumpa satu sama lain dan berbagi pengalaman iman dalam perjumpaan dengan keberagaman budaya, agama dan kepercayaan, serta dalam pergumulan hidup kaum terpinggirkan dan terabaikan.

3. SAGKI 2010 menegaskan pentingnya metode narasi (kisah) dalam pewartaan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dengan metode narasi (kisah) ini, pengalaman iman dapat disampaikan kepada orang lain secara lebih meyakinkan. Dengan cara mengisahkan Yesus, sebagaimana Ia sendiri berkisah, kami berharap diteguhkan dan digerakkan sebagai saksi Kristus. Sesungguhnya, metode narasi tidak asing dalam tradisi Asia, terutama Indonesia. Dalam metode bertutur para peserta SAGKI terlibat secara aktif mengungkapkan pengalaman dalam konteks bhinneka tunggal ika.

4. Seluruh proses SAGKI bertolak dari narasi publik. Para narator publik berkisah bukan saja dengan melaporkan apa yang dikerjakannya, melainkan juga dan terutama dengan pengalaman imannya. Sharing dalam kelompok yang menyusuli narasi publik pada prinsipnya merupakan ungkapan dan ajang berbagi pengalaman berkenaan dengan ketiga sub tema SAGKI 2010. Pada gilirannya hasil sharing kelompok itu dilaporkan dalam sidang pleno dan diperkaya dengan refleksi teologis.

HASIL

5. Sedemikian pentingnya makna paparan narator publik, berikut sharing dalam kelompok, yang masih diperkaya dalam pleno dan refleksi teologis, maka berikut ini akan dikemukakan rangkuman yang memuat sejumlah pokok gagasan terpenting dalam SAGKI. Kami menyadari bahwa rangkuman ini tidak memuat seluruh kekayaan Sidang ini. Aneka kisah dalam SAGKI masih akan terdokumentasikan dalam bentuk buku, video, dan foto. Kami yakin, para peserta SAGKI sendiri merupakan dokumen hidup yang terus menuturkan SAGKI ini.

6. Keberagaman budaya di Indonesia merupakan suatu kenyataan dan kekayaan yang patut kami syukuri. Dengan kebudayaan kami maksudkan segala sesuatu, dengan mana manusia mengasuh dan mengembangkan pelbagai bakat rohani dan jasmaninya, berupaya menguasai bumi dengan pengetahuan dan karyanya, lebih memanusiawikan kehidupan sosial, mengungkapkan melalui karya-karya, pengalaman-pengalaman rohani dan aspirasi-aspirasi besar sepanjang sejarah, serta mengkomunikasikannya dan memeliharanya sebagai inspirasi bagi kemajuan banyak orang, malah bagi seluruh umat manusia (bdk. Gaudium et Spes 53). Oleh karena itu, di dalam keragaman budaya, Allah hadir dan disapa dengan pelbagai macam nama. Kehadiran-Nya dikenali melalui orang dan unsur-unsur kebudayaan yang menghormati dan mencintai kehidupan. Kehadiran-Nya itu dimengerti oleh para pendukung setiap kebudayaan.

7. Gereja sebagai umat Allah yang percaya akan Yesus Kristus menampilkan sikap hormat dan kasih terhadap kebudayaan (bdk. Lumen Gentium 13). Gereja memperhatikan dan menjunjung tinggi setiap bentuk kebaikan, kasih persaudaraan dan kebenaran yang terdapat dalam kebudayaan. Gereja pun mengungkapkan diri dalam unsur-unsur kebudayaan setelah dilakukan refleksi teologis yang sesuai dengan Injil, tradisi, dan magisterium. Dalam perjumpaan dengan kebudayaan setempat, Gereja diperbarui dan sekaligus memperbarui beberapa unsur kebudayaan dengan kekuatan Injil.

8. Gereja mengakui bahwa Allah telah menyatakan karya-karya agung melalui pelbagai peristiwa keselamatan yang dituturkan dari generasi ke generasi lain. Dalam pertemuan dengan kebudayaan, Gereja ternyata mengenali aneka wajah Yesus, sebagai gembala yang baik, inspirator, guru, pengampun, raja damai, dan terutama pengasih tanpa batas dan syarat.

9. Dalam pelbagai kisah mengenai dialog dengan agama dan kepercayaan, para peserta SAGKI ternyata menyadari bahwa Gereja mampu menemukan nilai-nilai injili yang dihidupi oleh para penganut agama dan kepercayaan. Maka, Gereja perlu keluar dari dirinya sendiri, menjumpai para pemeluk agama dan penganut kepercayaan, sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus yang berani terbuka dan mengambil inisiatif untuk menyeberangi batas-batas agama - budaya (bdk. Yoh 4). Melalui perjumpaan tersebut, Gereja ditantang untuk menilai kembali pemahaman imannya akan Yesus Kristus. Kecuali itu, gambaran Gereja tentang Yesus juga diteguhkan.

10. Gereja mendengarkan ajakan Yesus untuk dengan rendah hati belajar beriman dari setiap orang yang beragama dan berkepercayaan (bdk. Mat 8: 10; Luk 7: 9). Gereja disadarkan akan pentingnya mewujudkan iman yang mendalam akan Kristus dalam tindakan-tindakan kemanusiaan dan mengungkapkannya dalam ibadat. Dengan belajar dari Yesus yang berwajah lembut, penuh empati, dan pendoa, Gereja mengembangkan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik yang berasal dari pelbagai agama dan kepercayaan untuk mengembangkan dialog dan aksi-aksi kemanusiaan demi terwujudnya perdamaian (bdk. Mat 9: 13).

11. Sementara itu, kisah-kisah pergumulan hidup kaum terpinggirkan dan terabaikan menyadarkan para peserta SAGKI bahwa Gereja harus mengakui proses pemiskinan merupakan pencideraan manusia yang adalah citra Allah yang luhur, mulia, dan kudus (bdk. Kej 1:26-27). Hidup dalam kemiskinan sesungguhnya merupakan keadaan serba terbatas dalam sandang, pangan, papan, dan kehilangan akses terhadap hak-hak dasar. Gereja memandang pribadi si miskin sebagai "pewahyu" wajah Yesus yang sedang menderita, yang terluka, tabah, menangis, karena Yesus hadir dalam dirinya yang miskin, menderita, tertekan dan susah (bdk. Mat 25: 31-46).

12. Meneladani Yesus, Sang Penyelamat, Pembebas, Penolong, Pembawa Harapan, Gereja wajib solider dengan orang miskin. Solidaritas itu dinyatakan melalui keberpihakan dan pemberdayaan orang miskin, tindakan berbagi serta keterlibatan secara aktif dalam memperbaiki struktur atau sistem yang tidak adil, dan memelihara lingkungan hidup.

REKOMENDASI

13. Setelah pengayaan melalui proses narasi publik, sharing kelompok, pleno, dan refleksi teologis, kami sampai pada sejumlah rekomendasi berikut ini, yang merupakan misi perutusan Gereja agar seluruh keuskupan menanggapinya dalam program keuskupan.

13.1. Kami berkomitmen untuk melanjutkan dialog dengan kebudayaan setempat supaya kami semakin mampu mengenali dan menghadirkan wajah Yesus dalam kebudayaan.

13.2. Kami juga berkomitmen untuk menciptakan model-model baru dalam pewartaan dan katekese dengan metode naratif serta menggunakan pelbagai bentuk kesenian.

13.3. Tidak kurang juga komitmen kami untuk mengembangkan katekese naratif bagi anak-anak, yang sesuai dengan zaman, tempat dan budaya.

13.4. Kami akan meneruskan dan meningkatkan kerja sama dan dialog antar-umat beragama yang sudah dilaksanakan oleh Gereja di setiap tingkatan.

13.5. Kami merasa wajib mengembangkan sikap rela merendahkan diri dengan telinga seorang murid yang selalu siap mendengarkan.

13.6. Kami bertekad mengedepankan pewartaan lewat kesaksian hidup dan melakukan aksi-aksi kemanusiaan baik secara pribadi (orang per orangan), Gereja sendiri sebagai komunitas beriman maupun dalam kerja sama dengan pelbagai lembaga untuk memerdekakan orang miskin dari cengkeraman kemiskinan dan peminggiran.

13.7. Kami berkomitmen untuk menghidupi spiritualitas yang memerdekakan. Untuk itu diperlukan pertobatan hati yang mendalam dan diwujudkan secara nyata dalam aksi solidaritas. Para petani, nelayan, buruh, kelompok terabaikan, dan terpinggirkan perlu didampingi secara pastoral. Tidak kalah pentingnya, kami memelihara lingkungan hidup.

PENUTUP

14. Pada akhirnya, kami semakin diteguhkan bahwa kesaksian kami untuk menghadirkan Kristus di tengah masyarakat dapat terjadi secara efektif melalui komunitas-komunitas basis gerejawi. Kami percaya bahwa Roh Kudus membimbing dan menyertai Gereja dalam upaya mengenali dan mencintai wajah Yesus dalam keanekaragaman budaya, dalam dialog dengan agama dan kepercayaan, dan dalam pergumulannya dengan dan bersama orang-orang yang dipinggirkan dan diabaikan. Dan sebagaimana Maria selalu menyertai Puteranya, kami yakin bahwa Bunda Maria menyertai dan mendoakan kami.

Caringin, 5 November 2010
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia
sumber : http://pujasumarta.multiply.com

Renungan : 10 Nopember 2010

Pw. St. Leo Agung (Uskup dan Pujangga Gereja)
10 Nov - Tit 3:1-7; Luk 17:11-19
"Apakah Anda termasuk orang yang tidak tau berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan?"

"Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Luk 17:11-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

PERMENUNGAN:

Pernah waktu makan di rumah makan, sewaktu pelayan mengantarkan makanan yang dipesan, saya katakana terimakasih. Lalu teman mengatakan, “Buat apa berterimakasih, toh kan kita bayar juga dan gak ada discounnya bila kita katakan terimkas kasih.”

Mungkin kita masih ingat dan hal itu masih terbiasa dalam kelaurga-keluarga, yakni orang tua selalu mengajarkan kepada anaknya agar mereka mengucapkan terimakasih bila diberi sesuatu. Misalnya orang tua bilang, “Ayo bilang apa sama om?”. Si anak akan menjawab, “timakacih om.” Kebiasaan untuk mengucapkan terimakasih sudah ditanamkan kepada seseorang sejak dini. Namun apakah kata terimakasih itu sungguh keluar dari hati yang murni dan tulus? Kata terimakasih kiranya bukan lagi barang langka, karena sudah begitu sering kita dengarkan dan bahkan mungkin dengan mudah kita katakan. Tetapi mungkin karena terlalu sering dan sudah menjadi hal yang biasa, kata terimkasih itu sudah kehilangan maknanya, seringkali dianggap hanya sebagai basa-basi saja, bukan lagi keluar dari hati yang tulus. Kata terimkasih yang jujur tentunya mengadung suatu pengakuan bahwa orang lain telah melakukan sesuatu yang berguna, penting bagi kita dan menghargai perbuatan itu walau sekecil apapun. Makna dan sulitnya orang berterimakasih juga dipengaruhi oleh rasa gengsi yang besar dan juga kemajuan tekhnologi sekarang yang terlalu membanggakan intelektual, kerja keras dan kemajuan jaman. Tentu mungkin sulit seorang suami berterimakasih kepada isterinya yang sudah memasakkan makanan yang enak buatnya. Suami itu berpikir bahwa itu sudah haknya dan sudah tugas istri sehingga buat apa mengucapkan terimakasih, gensi sehingga harga diri suami bisa turun. Sama halnya seorang tuan, tidak akan pernah mengucapkan terimakasih kepada pembantunya yang sudah banyak membantu, karen berpikir sudah haknya dan kewajibannya karena dia digaji untuk itu. Sama halnya dengan sekarang ini, orang begitu sulit mengatakan terimakasih karena menggap apa yang dia dapatkan adalah karena kerja kerasnya, bukan karena bantuan dari pihak luar atau orang lain.

Dalam Injil hari ini, diceritakan bahwa ada 10 orang kusta berteriak dari jauh dan minta belaskasihan Tuhan. Teriakan mereka tentu bukan meminta uang seribua, tetapi memohon belaskasihan agar Yesus berkenan menyembuhkan mereka. Hal yang menarik dari reaksi Yesus adalah, Yesus bukannya mengeluarkan kata-kata yang berisi penyembuhan tuk menjawabi keinginan hati mereka, tetapi menyuruh mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam-imam. Umumnya seorang yang sudah sembuh, baru menghadap imam untuk dipulihkan kembali status mereka dalam kalangan masyarakat. Tapi dalam Injil hari ini, Yesus tidak mengeluarkan kata-kata atau melakukan tindakan penyembuhan, tetapi menyuruh mereka pergi ke imam-imam, seakan mereka telah Dia sembuhkan. Hal yang menarik lagi, ke 10 orang kusta itu, pergi begitu saja melaksanakan apa yang dikatakan oleh Yesus, tanpa protes. Kita tidak tahu pasti, apakah mereka pergi karena menuruti perintah Yesus, atau karena kesal sebab Yesus tidak menyembuhkan mereka, seakan merasa ditolak oleh Yesus. Tetapi dalam perjalan, dikatakan bahwa mereka menyadari bahwa diri mereka telah tahir atau sembuh. Pasti mereka semua menyadari bahwa diri mereka telah sembuh, tetapi tidak semua sampai pada kesadaran dari mana kesembuhan yang mereka dapat, hanya satu yang sampai ke tahap itu, yakni orang Samaria sehingga dia kembali kepada Yesus. Dia menyadari bahwa dirinya sembuh, adalah karena kuasa Yesus, makanya dia kembali kepada Yesus, dia tersungkur di hadapan Yesus. Ini suatu ungkapan pengakuan atas kuasa Yesus dan ungkapan terimkasih yang sangat mendalam. Yang kesembilan lagi kemana? Penginjil tidak mengatakannya kepada kita. Tetapi dari kata-kata Yesus kita ketahui bahwa yang ke 9 orang lagi itu, adalah orang-orang yang tidak mengakui bahwa Yesuslah yang menyembuhkan mereka dan mereka tidak tau berterimakasih. Mungkin mereka berpikir bahwa bukan Yesus yang menyembuhkan mereka, karena Yesus tidak mengatakan atau melakukan tindakan yang menandakan menyembuhkan mereka, mereka mengira mereka sembuh karena nasib sedang berpihak pada mereka. Oleh karena itulah mereka tidak kembali kepada Yesus untuk berterima kasih.

Hal yang sama mungkin terjadi dalam hidup sekarang ini. Sebagaimana kami katakana tadi di atas, rasanya saat ini orang sulit untuk berterimakasih dari hati yang tulus apalagi bersyukur atas apa yang mereka dapatkan dalam hidup, karena merasa bahwa apa yang dia peroleh adalah karena kerja kerasnya, haknya dan karena kemajuan jaman, bukan karena berkat dan campur tangan Tuhan. Bahkan mungkin orang sudah banyak yang merasa bahwa peran Tuhan pada zaman ini sudah tidak ada, semua ditentukan oleh nasib, kerja keras, uang dan kemajuan jaman. Benarkah demikian? Tentu tidak. Suara Tuhan dan perbautan kasihnya memang seringkali begitu lembut, dikalahkan atau tertutupi oleh kebisingan dunia dan kemajuan jaman. Namun Tuhan tetap bertindak dan melimpahkan berkatNya kepada kita, hanya memang seringkali Dia melakukannya tidak secara langsung, tetapi lewat jalan lain dan Tuhan bisa berbuat apa saja dan dengan jalan apa saja untuk menyalurkan berkat-Nya. Untuk itu, coba kita sedikit berenung melihat kembali perjalanan hidup kita. Pasti kita banyak menemukan saat-saat atau pengalaman yang luar biasa, di luarkan kemampuan manusiwi kita, diluarkan pikiran dan harapan kita. Semuanya itu tentu harusnya membuat kita berani berterimakasih dan bersyukur atas kepada Tuhan.

Sikap syukur yang sejati, melepaskan kita dari dosa kesombongan, dan membawa kita pada sikap hidup yang senantiasa rendah hati di hadapan sesame dan terutama di hadapan Tuhan sendiri. Sikap syukur yang sungguh-sungguh, akan membawa kita pada sikap menghargai orang lain, senantiasa merasa membutuhkan orang lain, apalagi Tuhan dalam hidup. Sehingga orang yang senantiasa tau berterimakasih dan bersyukur adalah orang yang senantiasa berpengharapan pada Tuhan, rendah hati memohon pada Tuhan, dan orang yang demikian, akan bahagia dalam hidupnya dan akan beroleh sukacita berlimpah dari Tuhan.

Orang Samaria tadi bersyukur atas berkat kesembuhan yang dia peroleh dari Yesus, untuk itu dia kembali kepada Yesus sambil memuliakan nama Tuhan. Dengan demikian, rasa syukur sejati tentu tidak cukup hanya dalam kata-kata belaka, tetapi juga harus nyata dalam hidup yang senantiasa memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan, juga bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan baik, sehingga semakin banyak orang yang ikut memuliakan Tuhan. Orang yang bersyukur pada Tuhan atas apa yang dia peroleh, pada umumnya rela berbagi sukacita dengan sesamanya. Semoga kita juga berani menyadari berkat dan rahmat yang sudah kita peroleh dari Tuhan, sehingga kita berani bersyukur atas semuanya. Rasa syukur itu kita nyatakan dengan berbagi suka cita dan berkat dengan orang lain. Amin.

REFLEKASI PRIBADI:

1. Cobalah bersyukur atas hidup baru dan semua yang Anda alami hari ini.
2. Cobalah untuk berterimakasih dengan tulus kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada Anda, walaupun mereka statusnya lebih rendah dari Anda, misalnya kepada pembantu Anda.
3. Nyatakanlah rasa syukurmu dengan kerelaan berbagi suka cita dan berkat dengan orang lain, terutama mereka yang merindukan belaskasihan dari Tuhan.

Renungan : 9 Nopember 2010

9 Nov 2010
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
Yeh 47:1-2,8-9,12, Mzm 46:2-3,5-6,8-9, 1Kor 3:9c-11,16-17,
Yoh 2:13-22

"Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.
Demikianla warta Gembira bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN:

Dalam pesta pemberkatan Gereja Basilik Lateran ini, tentu kita diajak untuk menyadari kekudusan Rumah Tuhan, Gereja yang dikhususkan dan dikuduskan bagi Tuhan. Sehubugan dengan hal ini, saya teringat pengalaman yang barusan terjadi ketika pesta paroki tanggal 7 Nopember lalu. Sehabis misa yang dilansungkan di lapangan belakang Gereja, kami masuk ke sakristi melalu depan Gereja. Di dalam Gereja saya temukan umat yang lagi merokok dengan santainya, bak seakan di dalam kedai tuak dan ada pula umat yang tidur nyenyak di bangku Gereja sambil buka baju. Melihat pemandangan ini, saya hampir marah, tapi kutahan amarah sehingga hanya menyuruh mereka keluar dari Gereja. Dalam hati berpikir, “Apakah mereka tidak bisa bedakan mana Gereja dan mana bukan Gereja? Apakah mereka itu tidak tahu kekudusan Gereja? Apakah karena Gereja paroki yang sekarang kalah bagusnya dibandingkan dengan rumah mereka, sehingga Gereja yang sekarang kurang kelihatan Sakral?
Itulah sekilas pengalam yang muncul ketika mempersiapkan renungan ini. Memang secara umum, hal itu banyak terjadi terutama di Gereja-Gereja stasi. Seringkali kita temui, umat yang merokok sebelum dan sesudah ibadah. Umat tidak merokok, hanya karena ada pastor, atau dilarang pastor, tetapi ketika pastor tidak berkunjung, umat tetap merokok, bahkan ada pula pastor yang merokok di Gereja stasi. Intinya umat belum memahami secara sungguh makna kekudusan Gereja, masih karena dilarang dan masih melihat bagusnya Gereja itu, bukan maknanya.

Contoh kecil yang kami katakan di atas, mungkin juga sudah terjadi di tempat lain, hanya mungkin bentuknya berbeda atau mungkin lebih unik, lebih terpoles sehingga tidak terlalu memperlihatkan kekurang sopanan umat di dalam Gereja. Coba kita lihat dan renungkan saja, tidak jarang umat yang hadir di Gereja bukan sepenuh hati untuk berdoa, tetapi kadang menjadi ajang pamer kekayaan, pamer pakaian bagus dan modis. Adapula yang darang ke Gereja dengan pakain seperti mau ke mall atau ke pantai. Adapula umat yang hadir, tetapi hati dan pikirannya menembus tembok bangunan Gereja. Masih banyak lagi pola tingkah laku umat di dalam Gedung yang bisa dipertanyakan, apakah umat menghayati kesakralan Gereja.

Dalam Injil hari ini, Yesus begitu marah ketika menemukan orang-orang menyalah gunakan Bait Allah. Bahkan penginjil menceritakan bagaimana kemarahan Yesus yang sampai memporak-porandakan jualan orang-orang yang berjualan di Bait Allah. Dalam kemarahan itu, Yesus tidak peduli pedagang besar maupun kecil, semua tidak disukai olehNya. Yesus menemukan kenyataan bahwa orang tidak lagi menghargai dan menghayati kekudusan Bait Allah. Bait Allah dan ‘ritual’ keagamaan sudah dijadikan sebagai ladang bisnis atau kepentingan kelompok atau pribadi. Namun lebih dari itu, bukan sekedar tidak menghargai dan menghayati kekudusan Bait Allah, tetapi itu menjadi gambaran bagaimana orang-orang itu sudah kurang mengimani Tuhan. Sebab kalau mereka mengimani Tuhan, tentu mereka akan menghormati dan menghargai tempat yang dikuduskan dan dikhususkan bagi Tuhan yang adalah kudus.

Selain hal di atas, penginjil dalam Injil hari ini juga mau memusatkan kita pada diri Yesus yang adalah bait Allah sejati. Di dalam Yesuslah kita bertemu, bersatu dan memuliakan Tuhan. Iman akan Yesus bukan lagi dibatasi oleh gedung, tempat dan waktu, tetapi beriman kepadaNya hendaknya dihidupi kapanpun dan di manapun. Bahkan diri kita juga sudah menjadi Bait Allah, karena Yesus telah bersatu sepenuhnya dengan kita, sudah tinggal dan berdiam dalamd diti kita. Hal ini terjadi dalam Roh ketika kita menerima baptisan. Tentu dengan keyakinan ini, hidup kita hendaknya menjadi kehadiran Allah bagi sesama dan tentu juga hal itu nyata dalam perilaku kita.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Bagaimana sikap dan perilaku kita selama di dalam Gereja?
2. Apakah diri kita sudah menjadi ‘Bait Allah’ yang hidup di manapun kita berada?

Pelantikan Pengurus Gereja dan Sakramen Krisma

PERAYAAN EKARISTI
DALAM RANGKA PELANTIKAN, MENGUTUSAN PARA PENGURUS GEREJA
SE-PAROKI TIGALINGGA DAN PENERIMAAN SAKRAMEN KRISMA

PEMBUKAAN
Tema yang diambil dalam perayaan ini adalah kata-kata dari nabi Yesaya ketika Tuhan memanggil dia “Ini aku, utuslah aku”. Kata-kata Yesaya ini kiranya sangat tepat, mengingat tugas sebagai pengurus gereja adalah tugas pelayanan dalam pewartaan kabar gembira, penggembalaan dalam Gereja. Menjadi pengurus Gereja adalah suatu panggilan dan pelayanan dalam iman, bukan suatu jabatan, kedudukan yang mendapatkan upah uang. Demikian juga kiranya kalimat itu tepat ditujukan kepada para krismawan-krismawati. Sebab jelas bahwa dalam menerima sakramen Krisma, seseorang bukan lagi hanya sekedar menjadi anggota umat Allah, anggota Gereja, tetapi mereka diharapkan dapat menjadi saksi-saksi Kristus dan iman. Jadi dengan mengambil tema ini, para pengurus Gereja dan para krismawan-krismawati secara khusus dan umat semuanya secara umum diingatkan kembali pada panggilan dan perutusan Tuhan untuk menjadi saksi-saksi Kristus.

PERAYAAN INI, PERAYAAN SE-PAROKI

Perayaan atau kegiatan ini merupakan kegiatan se-paroki, semua umat se-paroki Tigalingga diundang dan diharapkan hadir dalam perayaan ini. Sebagai tanda kebersamaan se-paroki, tidak hanya dalam bentuk undangan kehadiran semua umag, tetapi semua umat se-paroki ikut berpartisipasi dalam menanggung semua biaya yang dibutuhkan, setiap umat dikutip partisipasi dana per kepala keluarga. Selain itu, masing-masing stasi diharapkan memberi sumbangan yang diperlukan untuk kegiatan tersebut, namun itupun tidak dipaksakan, sesuai dengan kesanggupan stasi. Suatu hal yang menarik adalah bahwa semua stasi menanggapi dengan baik kegiatan bersama ini. Hal itu terlihat dari peran stasi yang memberi sumbangan, ada stasi yang menumbangkan kelapa, buah-buahan, cabe, sayur-sayuran dan masih banyak lagi sesuai dengan kesanggupan dan hasil pertanian yang ada di wilayah stasi tersebut. Semua persiapan juga diupayakan oleh umat peroki, tidak seperti biasanya yang meminta tenaga dari paroki lain untuk menghias bunga maupun untuk koor. Semua diupayakan dari umat sendiri, kecuali untuk main organ selama mengiringi perayaan Ekaristi, yakni meminta bantuan Fr. Alfon Manik O.Carm, dari paroki Sidikalang, karena memang di paroki tidak ada umat yang bisa main organ.

PEMBINAAN PARA PENGURUS GEREJA

Kegiatan ini dumulai pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember 2010, pukul 16.00 sore yakni pembinaan semua pengurus Gereja periode 2010 s/d 2015. Dalam pembinaan ini yang memberi masukan adalah Vikjen KAM yakni Pastor Harold Harianja Ofm.Cap. Beliau menekankan Panggilan dan peran serta pengurus Gereja dalam pelayanan pastoral Gerjea dan beliau juga memaparkan arah dan kebijakan-kebijakan Gereja KAM. Semua pengurus Gereja hadir dalam pertemuan tersebut, semuanya sebanyak 300 orang lebih kurang. Mengingat jumlah yang begitu banyak, kapasitas Aula paroki tidak mencukupi bila peserta menggunakan kursi dan meja. Oleh karena itu, supaya kapasitas aula muat menampung jumlah peserta yang begitu banyak, maka dalam pertemuan kali ini semua peserta duduk di tikar, hanya Pembina yang duduk di kursi.

PERAYAAN HARI MINGGU

a. Gerimis yang berhenti dan kehadiran umat yang membludak.

Hari Minggu pagi, sisa-sisa hujan pada hari Sabtu masih terasa, yakni masih turun gerimis. Gerimis yang turun sedikit membuat resah, gelisah dan ragu apakah hujan akan turun, apakah acara akan berjalan dengan baik dan apakah akan banyak umat yang hadir atau tidak. Tetapi syukur pada Tuhan, pada sekitar jam 9, gerimis mulai berhenti dan akhirnya berhenti total dan umat mulai berdatangan. Diluar dugaan, ternyata sedikit demi sedikit umat mulai berdatangan dan bahkan melebihi perkiraan. Panitia semula memperikirakan jumlah umat yang akan hadir akan biasa-biasa saja banyaknya, seperti sebelum-sebelumnya yang hanya sekitar enam ratusan orang saja, sehingga tenda yang disiapkan untuk umat hanya cukup untuk jumlah itu saja. Oh, ya perayaan Ekaristi atau kegiatan dilaksanakan di pekarangan yang terletak di belakang Gereja juga dilokasi fondasi bangunan Gereja yang belum mulai-mulai. Mengingat jumlah umat yang hadir ternyata membludak, terpaksa panitia pontang panting mencari tambahan tenda dan memasungnya lagi, agar umat tidak kepanasan selama mengikuti kegiatan. Hal ini membuat perubahan jadwal acara mulai, yang mana semula direncanakan mulai jam 10.00, akhirnya diundur menjadi jam 10.30, karena panitia diberi waktu untuk memasang tenda tambahan. Jumlah umat yang hadir diperkirakan sekitar seribu delapan ratus orang banyaknya. Menurut para pengurus Gereja, mungkin baru kali ini kehadiran umat begitu banyak. Hal ini bisa terjadi karena barukali ini diadakan pesta pelantikan pengurus dan penerimaan Sakramen Krisma se-paroki.

b. Pembukaan Perayaan Ekaristi

Perayaan Ekaristi dimulai pada jam 10.30 pagi, selebran adalah Pastor Vikjen dan konselebran adalah pastor Antonius Manik O.Carm dan Pastor Yoakim Lako O.Carm. Rombongan mesdinar, perwakilan para pengurus yang akan dilantik, perwakilan krismawan-krismawati dan rombongan pastor disambut dengan tarian Karo yang dibawakan oleh penari dari Mesdinar paroki dan pada tempat yang sudah ditentukan diadakan pengalungan bunga kepada Vikjen. Sungguh perpaduan budaya local dan iman yang sungguh indah, menambah semarak perayaan dan sekaligus menjadikan iman itu ‘membumi’ dengan local atau setempat. Meskipun selama perayaan ekaristi ada kendala kecil yakni tidak semua umat ikut bernyanyi. Hal ini bukan karena umat tidak aktif, karena memang situasinya demikian, yakni perayaan ekaristi diadakan dalam bahasa Indonesia dan juga bahasa Karo, padahal banyak stasi yang menggunakan bahasa Batak Toba dalam ibadah pada hari Minggu, ada pula yang menggunakan bahasa Karoki, hanya di stasi induk yang menggunakan bahasa Indonesia. Jadi memang merepotkan panitia dalam menentukan bahasa apa yang harus dipake, dank arena itu selama perayaan Ekaristi tidak sedikit umat yang tidak bisa ikut bernyanyi meskipun teks lembaran udah disiapkan.

C. Isi Kotbah

Secara garis besar dalam kotbahnya Vikjen menekankan bahwa penjadi pengurus Gereja adalah panggilan dan perutusan dari Tuhan sendiri. Panggilan dan tugas ini hendaknya dijalankan dan dihayati dengan sungguh-sungguh dan harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Vikjen juga menekankan peran umat semuanya yang bukan hanya sekedar menjadi anggota jemaat Allah, tetapi harus berperan aktif menjadi saks-saksi Kristus dalam mewartakan kerajaan Allah.

d. Pelantikan, Pengutusan Pengurus.

Vikjen melantik para pengurus Gereja namun sebelumnya menanyakan kesungguhan hati para pengurus dalam menerima dan menjalankan tugas sebagai pengurus Gereja. Setelah selesai semuanya itu, diadakan penandatanganan janji pengurus dengan meminta perwakilan pengurus datang ke panti imam untuk menandatangani janji pengurus. Sebagai bentuk pengurusan kepada para pengurus, diadakan pemberian atau pengalungan salib kepada semua pengurus Gereja yang dilantik dan diutus.

e. Penerimaan Sakramen Krisma

Penerima sakramen krisma ada sekitar 260 orang. Usia dari penerima sakramen krisma sungguh beragam, mulai dari usia kelas 2 SMP sampai ada pula yang berusia 65 tahun. Dari jumlah peserta tersebut, adapula yang sudah jadi pengurus beberapa periode, tetapi ternyata belum menerima krisma. Penerimaan sakramen krisma berjalan dengan lancer, walaupun sedikit kendala karena memang tidak sempat mengadakan latihan bersama-sama karena peserta berasal dari stasi yang berbeda-beda. Walaupun peserta krisma dari stasi-stasi, mereka semua tetap menerima sakramen pengakuan dosa sebelumnya dengan cara disatukan dalam rayon-rayon dan pastor datang ke rayon untuk memberi sakramen pengakuan dosa.

f. Tetap ajak umat untuk solider dengan sesama yang menderita.

Dalam suasana gembira dalam pesta, juga umat diingatkan dan diajak untuk solider dengan para Saudara yang jadi korban bencana di Mentawai, Gunung Merapi dan Wasior. Untuk itu diadakan kolekte khusus yang akan disumbangkan. Pastor paroki mengingatkan agar semua umat berani memberi lebih dari kolekte yang biasa diberikan.

KEGIATAN BERSAMA SESUDAH PERAYAAN EKARISTI

a. Makan bersama

Perayaan ekaristi selesai baru pada jam 13.30. Setelah itu langsung pada acara makan bersama. Biasanya makan bersama dilaksanakan dengan cara semua umat dibagi dalam kelompok menurut stasi atau rayon masing-masing, baru setelah itu panitia membagikan lauk yang sudah dibungkus dan masing-masing keluarga dapat jatah 1 bungkus lauk sedangkan nasi dibawa oleh masing-masing umat. System demikian berarti setiap keluarga hanya mendapat 1 bungkus lauk yang sudah ditentukan jumlahnya sama, dengan demikian bisa terjadi satu keluarga hadir 5 orang atau lebih, tetapi lauk tetap 1 bungkus, sehingga mungkin tidak akan cukup untuk semua keluarga, dan ada pula yang mungkin hadir hanya 1 orang tetapi dia tetap dapat 1 bungkus, sehingga jatahnya banyak. Dengan system demikian, bisa jadi ada umat yang kekurangan laun tetapi ada juga yang kekurangan. Ada juga kebiasaan jatah titipan buat umat yang tidak hadir tetapi membayar partisipasi. Artinya, umat yang membayar partisipasi tetapi tidak hadir ke pesta itu, mereka meminta jatah lauk dibawakan ke stasi atau jatah lauk dititipkan untuk diberikan ke mereka.
System makan yang demikian tentu tidak menunjukkan kebersamaan pesta Gereja, oleh karena itu mulai dirubah. System makan yang diterapkan dalam pesta ini adalah bahwa semua yang hadir makan dan semua sama rata. Semua umat yang hadir mengambil piring masing-masing dank e meja yang disediakan dan di situ panitia membagikan nasi dan lauk. Dengan system ini, semua umat yang hadir makan dan semua sama. Juga tidak ada system lauk titipan. Syukur pada Tuhan, semua umat yang hadir bisa makan, meskipun sebelumnya panitia khususnya seksi konsumsi yang dimotori WKRI Paroki Tigalingga ragu dan khawati bahwa konsumsi yang disediakan bakal kurang, karena konsumsi yang disediakan paling banyak untuk 1500 orang, karena ditaksasikan yang hadir paling sebanyak itu. Tetapi ternyata yang hadir melebihi perkiraan. Namun syukurlah bahwa pada akhirnya semua teratasi dan semua bisa makan dengan kenyang.

b. Bergembira bersama

Setelah makan bersama direncanakan acara gembira bersama, yakni menortor bersama dan juga diupayakan lelang untuk mencari dana untuk pembangunan Gereja paroki. Namun rencana itu tidak sepenuhnya berjalan dengan baik, karena pada umumnya umat sudah banyak yang pulang sesudah selesai makan. Katanya hal itu sudah biasa terjadi, tapi kiranya menjadi pertanyaan mengapa hal itu terjadi. Apakah karena memang stasi jauh-jauh dan takut tidak ada kendaraan kalau pulang lama dan agak sore? Atau umat langsung ‘ketakukan’ karena mendengar ada lelang pembangunan? Atau adakah alasan lain? Apapun alasannya, tetap hal itu perlu direnungkan dan suatu refleksi serta tugas untuk menanamkan kebersamaan dalam diri umat separoki.

PENUTUP

Panitia sudah merencanakan dan mengumumkan bahwa ada akhir acara akan dibagikan hadiah partisipasi pesta untuk setiap stasi, yakni dibagikan tempat lilin sepasang dan salib altar. Hal ini diumumkan dengan maksud agar umat atau paling tidak pengurus Gereja tidak langsung buru-buru pulang. Namun nyatanya pada saat pesta bersama ditutup pada jam 16.30 sore hari, yang tinggal tidak ada lagi sepertiga dari jumlah yang hadir. Umat yang tinggal hanya sebagian lingkungan kota dan beberpa pengurus stasi yang setia. Oleh karena itulah, hanya 12 stasi yang mengambil hadiah partisipasi tersebut. Hal ini tentu menjadi PR lanjutan untuk dievaluasi dan direnungkan.
Sesudah pesta ditutup, semua umat bubar dan peralatan pesta diringkas sebagian, pastor paroki mengajak panitia berdoa di Gereja, untuk bersyukur karena kegatan sudah selesai, berjalan dengan dengan baik. Panitia dan beberapa pengurus stasi yang masih tinggal diajak untuk menyadari bahwa kegiatan berjalan dengan baik, hanya karena berkat dan kasih Tuhan. Hal itu nyata, pagi gerimis akhirnya berhenti selama pesta berlangsung.
Sebagai penutup dari bagi-bagi pengalaman ini adalah bahwa Kuasa, kasih dan berkat Tuhan lah yang menyempurnakan semua rencana dan kegiatan kita. Sehebat dan sebagus apapun yang kita rencanakan dan persiapan, kalau bukan karena berkat dan kehendak Tuhan, semuanya tidak akan terlaksana. Tuhan pasti akan selalu membantu dan melimpahkan berkatNya bagi kegiatan-kegiatan yang dengan tujuan untuk memuliakan nama-Nya dan mewartakan kerajaan Allah. Amin.


Renungan : 8 Nopember 2010

Renungan 8 Nopember 2010
Tit 1:1-9, Mzm 24:1-2,3-4ab,5-6, Luk 17:1-6
(Elisabeth dr Tritunggal)
“Mengapa masih ada penderitaan, kejahatan dan orang-orang jahat di dunia ini?”

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." Demikianlah Warta gembira bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN:

Seringkali orang bertanya, “Mengapa masih ada kejahatan dan orang-orang jahat di dunia ini?” “Mengapa masih ada penderitaan?” “Mengapa Tuhan tidak langsung menghapus penderitaan dan menghukm orang-orang jahat?”

Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini muncul karena kita melihat bahwa dalam hidup ini, begitu banyak penderitaan yang terjadi, begitu banyaknya kejahatan yang terjadi. Karena hidup ini nampaknya tidak semakin baik, bisa saja membuat orang berputus asa, bukan hanya melontarkan pertanyaan di atas, tetapi bisa jadi sampai pada suatu pemikira, keyakinan yang mengatakan bahwa Tuhan itu sudah ‘mati’, Tuhan itu tidak lagi peduli dengan hidup manusia, Tuhan itu tidak ada lagi dalam hidup sekarang ini.

Ketika kita mengalami semuanya itu, mungkin rasanya penjelasan teologis dan biblis tentang adanya penderitaan dalam hidup manusia, masih belum cukup untuk melegakan hati kita. Tetapi hari ini jelas dikatakan kepada kita, bahwa Tuhan senantiasa berpihak kepada manusia yang menderita yang lemah, Tuhan sangat tidak berkenan pada kejahatan dan kepada orang-orang yang menyebabkan orang lain menderita. Bahkan Tuhan tidak hanya tidak berkenan kepada orang-orang yang berbuat jahat dan menyebabkan orang lemah tersesat, malah dengan jelas mengatakan bahwa orang-orang demikian lebih baik ‘lenyap’dari kehidupan ini. Namun kenyataannya, manusia seringkali dengan gampang jatuh dalam dosa. Tetap walaupun demikian, Tuhan yang mengasihi manusia, senantiasa merindukan manusia itu selamat.

Oleh karena itulah, Tuhan mengingatkan kita agar selalu waspada, agar tidak jatuh ke dalam dosa, dan tidak menyebabkan orang lain tersesat. Hal ini perlu kita renungkan dengan sungguh-sungguh. Bisa saja kita tidak melakukan kejahatan langsung dengan orang lain, tetapi karena ulah dan perilaku kita, orang lain menjadi tersesat dan berdosa. Misalnya saja, kita terbiasa hidup mewah dan seakan pamer kekayaan di depan banyak orang. Atau kita memberi nasihat yang tidak baik dan benar kepada orang lain. Hal ini tanpa kita sadari membuat orang lain cemburu, bahkan mungkin menjadikan orang lain merencanakan sesuatu yang tidak baik kepada kita. Nah, ini bisa dikatakan karena ulah kita, orang lain jadi tersesat. Bisa pula ketika ada orang yang bersalah kepada kita, dia meminta maaf kepada kita, ingin bertobat tetapi kita menolaknya. Penolakan kita itu, bisa menjadikan dia semakin tersesat karena ditolak.
Nasihat Tuhan agar kita mau memaafkan orang lain yang bersalah tentu sebagai peringatan kepada kita bahwa kita juga pasti bisa salah sehingga membutuhkan pengampunan dari Tuhan dan juga dari sesama kita. Sebagaimana kita doakan dalam doa Bapa kami, “…..ampunilah keselahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami,” ini menyiratkan bahwa syarat utama mendapat pengampunan dari Tuhan adalah bila kita juga mau dan berkenan mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Apa yang dinasihatkan oleh Yesus di atas memang suatu hal yang sulit secara manusiawi. Oleh karena itulah para rasul mengatakan, “Tuhan, tambahkanlah iman kami.” Secara manusiawi, rasanya sulit mengerti adanya kejahatan dan orang-orang jahat, sulit mengerti untuk mengampuni orang yang bersalah, sulit menghindar atau terlepas dari kejahatan atau salah, tetapi dalam iman, hal itu pasti bisa kita jalani. Oleh karena itu, selain upaya dari kita, Yesus mengajak kita, agar selalu hidup dalam iman, berusaha untuk memelihara dan memperdalam iman kita. Imanlah kiranya yang menjadi andalan kita dalam hidup ini. Tanpa iman, kita tidak akan mampu bertahan dalam hidup ini.

REFLEKSI PRIBADI:
1. Adakah orang lain yang menderita, tersesat karena hidupku?
2. Apakah kita berani mengampuni orang yang bersalah kepada kita?
3. Carilah cara untuk memperalam iman Anda selama sehari ini.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)