Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA VI: RABU 19 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA VI: 
RABU 19 FEBRUARI 2014 
(Konradus dr Piacenza ) 
Yak. 1:19-27; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mrk. 8:22-26 

INJIL : 
Suatu hari tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?" Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!" 

RENUNGAN : 
 "Sudahkah kaulihat sesuatu?" 

Dalam kisah penyembuhan orang buta sebagaimana kita dengarkan dalam injil hari ini, Yesus tidak langsung menyembuhkan orang buta itu dan Yesus juga menyembuhkan orang itu bukan di tengah orang banyak. Yesus membawa orang buta itu keluarga kampung, meludahi mata orang buta itu dan meletakkan tangan atas orang itu. Yesus juga sampai dua kali menjamah orang buta itu karena pada jamahan pertama orang buta itu belum melihat dengan jelas, baru setelah kedua kali Yesus menjamah orang buta itu, orang buta itu baru melihat dengan jelas. 

Yesus melakukan proses demikian bukan karena Yesus tidak bisa langsung menyembuhkan orang buta itu. Namun Yesus melakukan demikian karena Yesus tidak mau bahwa orang buta itu melihat Dia hanya sebagai seorang penyembuh saja atau pelaku mukjizat saja. Apalagi dengan jelas kita ketahui dalam injil bahwa orang buta itu dibawa oleh orang kepada Yesus untuk disembuhkan bukan dia sendiri yang memohon penyembuhan dari Yesus. 

Jadi bisa dikatakan bahwa orang buta itu belum percaya kepada Yesus. Oleh sebab itu ketika Yesus bertanya apakah dia sudah melihat sesuatu, orang buta itu hanya mengatakan "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." Orang buta itu belum melihat dengan jelas Yesus yang ada di depan matanya. Baru setelah Yesus menjamah orang buta itu kembali, orang buta itu bisa melihat dengan jelas. Yesus tidak bertanya untuk kedua kalinya kepada orang buta itu, tetapi penginjil mengatakan bahwa orang buta itu akhirnya sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh sehingga bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas . 

Sesudah orang buta itu sembuh, Yesus menyuruh orang itu jangan masuk ke kampung. Yesus tidak menjelaskan mengapa Yesus melarang dia masuk ke kampung. Namun kita bisa mengartikan bahwa larangan Yesus itu bisa berarti menyuruh orang buta yang telah sembuh itu tidak kembali ke hidup masa lalunya tetapi hidup menjadi manusia baru yang telah mendapatkan sentuhan kasih dari Yesus. Kitapun seringkali menyampaikan permohonan kepada Yesus. Namun kita mungkin bisa merenungkan bahwa kita menyampaikan permohonan kepada Yesus bukan karena kita sungguh percaya kepada Yesus, kita bisa saja menganggap bahwa Yesus itu pelaku mukjizat saja sehingga kita datang kepada Dia hanya kalau kita mempunyai permohonan kepada Dia. 

Tuhan tahu apakah kita memohon karena iman atau hanya karena terpaksa. Oleh sebab itu, Yesus tidak langsung mengabulkan permohonan kita, Dia membawa kita ke luar dari kampung atau dari pemikiran atau kehendak kita yang hanya mengharapkan permohonan tetapi tidak sungguh percaya kepada Dia, Yesus menjamah kita terlebih dahulu sampai pada akhirnya kita mampu melihat kehadiran kasih-Nya dalam hidup kita. Baru setelah kita melihat kehadiran-Nya atau merasakah sentuhan kasih-Nya kepada kita, Yesus mengabulkan permohonan kita. Yesus tidak menghendaki bahwa kita datang kepada-Nya hanya kalau kita mempunyai permohonan dan menganggap Dia hanya sebagai orang yang bisa lakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Yesus mengharapkan bahwa kita datang kepada Dia setiap saat dalam kehidupan kita karena kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan kita. Amin.

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA VI: SELASA 18 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA VI: 
SELASA 18 FEBRUARI 2014 
(Fransiskus Regis Clet ) 
Yak. 1:12-18; Mzm. 94:12-13a,14-15,18-19; Mrk. 8:14-21 

INJIL : 
Dalam perjalananNya ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes." Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti." Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul." "Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul." Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?" 

 RENUNGAN : 
Kita tidak tahu mengapa para murid sampai lupa membawa roti perbekalan mereka. Apakah memang lupa karena sibuk atau sengaja tidak membawanya. Kita juga tidak tahu pasti mengapa Yesus tiba-tiba mengatakan supaya mereka berjaga-jaga dan awas terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Wajar para murid berpikir bahwa Yesus mengatakan demikian karena mereka lupa membawa roti perbekalan mereka. Namun kiranya Yesus mengatakan demikian bukan karena para murid kelupaan membawa bekal mereka, sebab bagi Yesus hal itu tidak masalah. 

Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajar dan mengingatkan para murid sehubungan dengan makanan. Bekal dan makanan itu penting tetapi seringkali karena makanan orang jatuh pada hal yang tidak baik. Yang dimaksud dengan ragi orang Farisi dan Herodes adalah cara-cara yang jahat yang dipakai untuk mempengaruhi orang lain. 

Cara-cara itu bisa berarti cara jahat yang digunakan lewat makanan. Hal demikian seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Begitu sering kita temui bahwa bila orang kelaparan, mereka akan bisa melakukan apa saja demi untuk mendapatkan makanan, bahkan bisa melakukan hal yang tidak baik. Kita juga seringkali menemukan orang mempengaruhi orang lain dengan memberikan makanan sehingga orang yang diberi makanan akan tunduk pada apapun yang diperintahkan orang yang memberi makan. 

Cara ini masih terjadi hingga saat ini. Kita lihat saja masa sekarang ini, seringkali ketika orang kampanye mereka membagi-bagikan makanan kepada rakyat miskin. Makanan dipakai menjadi alat untuk menguasai orang lain. Hal inilah yang mau dikatakan oleh Yesus kepada para murid dan juga kepada kita. Makanan itu penting bagi kehidupan kita, namun jangan karena makanan kita menjadi disesatkan atau tersesat. Jangan pula menjadikan makanan sebagai alat untuk menguasai orang lain. 

Kita harus tetap percaya bahwa kita hidup bukan terutama karena makanan tetapi karena Tuhan yang memberi kita hidup dan memberkati hidup kita. Kita juga harus yakin bahwa Tuhan mampu berbuat apa saja untuk kita dan Tuhan pasti akan memberi kita makanan bahkan rahmat dan berkat-Nya yang perlu bagi kita asal kita tetap setia percaya kepada-Nya. Amin.

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA VI: SENIN 17 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA VI: 
SENIN 17 FEBRUARI 2014 
(Tujuh Saudara Suci Pendiri Tarekat Hamba-hamba SP. Maria) 
Yak. 1:1-11; Mzm. 119:67,68,71,72,75,76; Mrk. 8:11-13 

INJIL : 
Pada waktu itu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. 

RENUNGAN : 
 Bagi orang Farisi, Yesus adalah musuh bebuyutan, mereka selalu mencari cara untuk menjatuhkan dan bahkan menyingkirkan Yesus. Mereka melakukan demikian, bukan karena Yesus melakukan yang tidak benar, namun semata-mata karena kehadiran Yesus dianggap merupakan ancaman bagi mereka. Kehadiran Yesus dianggap menjadi ancaman bagi orang-orang Farisi karena banyak orang yang dulu mengikuti mereka akhirnya beralih kepada Yesus. Ini tentu sangat merugikan mereka. Juga karena Yesus tidak segan-segan menegur dan mengkritik mereka. Jadi jelas bahwa mereka tidak menyukai Yesus hanya karena cemburu dan merasa terancam. Oleh sebab itu mereka selalu berusaha untuk memojokkan Yesus. 

Hal ini pula yang kita dengarkan dalam injil hari ini. Mereka meminta dari Yesus tanda dari sorga. Mereka meminta dari Yesus tanda dari sorga bukan karena percaya kepada Yesus, tetapi untuk mencobai Yesus. Kita tidak tahu apa yang mereka maksud tanda dari sorga. Namun dengan meminta tanda dari sorga itu, mereka berpikir bahwa Yesus bukan dari sorga jadi Yesus tidak akan bisa memberi tanda dari sorga. Mereka berpikir bahwa permintaan itu akan memojokkan Yesus. Namun Yesus tahu kebusukan hati mereka. Yesus tidak melayani permintaan mereka, karena mereka meminta itu bukan karena percaya tetapi untuk mencobai Yesus. 

Lagi pula, walaupun Yesus memberi tanda dari sorga toh mereka tidak akan percaya. Terlebih Yesus tidak melayani permintaan mereka karena seharusnya mereka sudah melihat tanda dari sorga yang sudah ada di hadapan mereka yakni Yesus sendiri. Yesus lah tanda dari sorga yakni Yesus yang diutus oleh Allah Bapa untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia lewat pengajaran dan mukjizat yang dilakukan-Nya. Seharusnya orang-orang Farisi dengan melihat apa yang diperbuat oleh Yesus, harusnya mereka tidak perlu lagi meminta tanda dari sorga. 

Namun karena mereka tidak percaya kepada Yesus, maka mereka tidak bisa melihat tanda nyata itu dan tidak akan pernah percaya. Kita yang percaya kepada Yesus tentunya tidak perlu lagi meminta tanda dari Yesus agar kita baru percaya. Bila kita sungguh percaya kepada Yesus adalah Tuhan kita, kita pasti bisa melihat tanda yang dibuat oleh Yesus dalam kehidupan kita. Namun seringkali kita masih seringkali seperti orang Farisi yang mengharapkan tanda besar dari Yesus baru kita sungguh percaya kepada Dia. 

Namun sebenarnya banyak tanda yang diberikan oleh Yesus dalam hidup kita namun karena kita kurang percaya maka kita tidak bisa melihat tanda-tanda itu. Selain itu, beriman tidak mengharapkan tanda tetapi harus menjadi tanda bagi orang lain. Maka semoga kita menjadi tanda Yesus bagi sesama kita. Amin.

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: SABTU 15 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: 
SABTU 15 FEBRUARI 2014 
 (Klaudius de La Colombiere ) 
1Raj. 12:26-32; 13:33-34; Mzm. 106:6-7a,19-20,21-22; Mrk. 8:1-10. 

INJIL : 
Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. 

RENUNGAN : 
Para saudara, Kisah Yesus memberi makan empat ribu orang perempuan, belum termasuk laki-laki dan anak-anak dilakukan di daerah yang dianggap kafir pada masa itu, dan tentunya mereka yang berkumpul pada masa itu adalah dianggap kafir atau tidak mengenal Allah. Namun kenyataannya orang banyak yang dianggap kafir itu, mengikuti dan mendengarkan pengajaran Yesus selamat tiga hari, sampai mereka lupa untuk makan. Mereka yang dianggap kafir justru mengiktui dan mendengarkan pengajaran Yesus sampai lupa memikirkan diri mereka sendiri. Kepada mereka Yesus juga menaruh kasih yang besar, bukan hanya mengajar mereka tetapi peduli akan mereka. 

Yesus tidak mengajarkan kebaikan tetapi Dia sendiri menyatakan kebaikan, kasih dan perhatian-Nya kepada orang yang mengikuti-Nya. Yesus memberi mereka makan sampai kenyang. Yesus sungguh tidak menghendaki mereka kelaparan. Yesus membalas kesetiaan mereka dengan memberi makan. Yesus memberi mereka makan dengan menggandakan tujuh roti dan beberapa ikan yang ada pada para murid-Nya. Yesus tentu bukannya tidak bisa mengadakan roti dan ikan, tetapi Yesus sengaja meminta bekal yang ada para murid. Yesus meminta itu dengan maksud agar para murid tidak sekedar prihatin dengan orang banyak itu, tetapi mau berbagi apa yang ada pada mereka. 

Para murid juga pasti tahu bahwa orang banyak itu kelaparan, mereka prihatin tetapi mereka tidak berbuat sesuatu. Maka maksud Yesus meminta perbekalan para murid dan menggandakannya, Yesus mau mengajarkan bahwa para murid tidak hanya sekedar prihatin tetapi berbuat sesautu dan berani berbagi bekal dengan orang banyak itu. Yesus sungguh berbelas kasih dengan kita, Dia tidak hanya mengajar dan tidak hanya mengajak kita untuk percaya kepada Dia, tetapi Dia akan selalu peduli dengan hidup kita dan Dia pasti akan memberikan rahmat dan berkat-Nya yang kita butuhkan untuk hidup. Dia tidak akan membiarkan kita binasa. 

Oleh sebab itu, percaya kepada Dia tidak akan membinasakan hidup kita tetapi kita akan beroleh selamat dan Tuhan sendiri akan selalu peduli dengan hidup kita. Kita tentunya bukan termasuk kalangan orang kafir, karena kita sudah menjadi murid-murid Yesus. Apakah kita rindu dan setia mengikuti serta mendengarkan sabda Yesus? Yesus sungguh berbelas kasih. Apakah kita juga penuh belaskasih kepada sesama kita? Semoga kita tidak hanya sekedar peduli dengan sesama yang menderita tetapi mau berbagi roti dan ikan yang ada pada kita untuk kita bagi-bagikan kepada sesama kita yang sangat membutuhkan.

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: JUMAT 14 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V:
 JUMAT 14 FEBRUARI 2014 
 (Peringatan Wajib St. Sirilus & Metodius) 
 1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37 

INJIL : 
Suatu hari Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." 

RENUNGAN : 
 Penyembuhan yang kita dengar pada injil hari ini juga hampir sama dengan penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus terhadap anak perempuan seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia yakni bukan termasuk suku bangsa Yahudi. Aturan yang berlaku saat itu adalah bahwa orang yang bukan dari suku bangsa Yahudi adalah dianggap kafir sehingga keselamatan Allah hanya diperuntukkan bagi mereka. Tentu sangat mengherankan bagi orang-orang pada zaman itu bila Yesus memenuhi permintaan orang-orang kafir itu dengan menyembuhkan mereka. 

Sebagaimana dalam penyembuhan anak seorang wanita yang bukan Yahudi, Yesus terlebih dahulu mengadakan dialog, tidak langsung menyembuhkan, demikian juga halnya dalam penyembuhan orang bisu tuli dalam injil hari ini. Yesus tidak langsung menyembuhkan tetapi membawa orang itu dari orang banyak, mereka sendirian baru setelah itu Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Sebelum menyembuhkan, Yesus terlebih dahulu melakukan beberapa hal, sepeti ada prosesnya. 

Yesus melakukan demikian bukan karena Yesus butuh proses untuk menyembuhkan orang sakit itu. Yesus bisa saja langsung menyembuhkan orang sakit bisu tuli itu. Namun Yesus melakukan demikian, adalah untuk mengajar kepada orang banyak dan juga kepada orang sakit itu bahwa Dia adalah Mesias yang ditutus Allah untuk semua orang, bukan hanya untuk suku bangsa Yahudi. Yesus tidak menghendaki bahwa orang sakit yang bukan dari suku bangsa Yahudi itu hanya merasakan belaskasih penyembuhan dari Yesus yang datang hanya untuk bangsa Yahudi. Yesus tidak menghendaki mereka yang dianggap kafir hanya sekedar mendapat kemurahan penyembuhan tetapi bukan diutus juga untuk mereka. 

Dengan membawa orang sakit itu dari kerumunan orang banyak, Yesus mau mengatakan bahwa Dia datang untuk semua orang, Dia mau menyambut siapa saja yang datang kepada-Nya. Yesus mau agar orang itu merasakan dan mengalami sentuhan kasih Allah yang datang juga untuk mereka yang dianggap kafir pada masa itu. Baru setelah itu, Yesus menyembuhkan orang bisu tuli itu sehingga dia bisa berakta-kata dengan jelas. Jadi dengan jelas kepada kita dikatakan bahwa sebelum menyembuhkan penyakit orang itu, Yesus terlebih dahulu menyembuhkan luka batin orang itu yang mungkin saja sakit karena ajaran pada masa itu bahwa kelompok mereka dianggap kafir, tidak dikasihi oleh Allah dan keselamatan Allah tidak diperuntukkan untuk mereka. 

Yesus terlebih dahulu menyembuhkan sakit sosialnya karena merasa diri dianggap kafir karena bukan keturunan bangsa Yahudi. Namun tindakan Yesus membebaskan mereka dari cap orang kafir dan akhirnya juga menyembuhkan orang tuli dan gagap itu. Dengan demikian, orang itu menjadi terbuka untuk mendengarkan sabda Tuhan dan mulut mereka juga terbuka untuk berkata-kata atau mewartakan kasih Tuhan. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa Allah mengasihi semua orang. Yesus datang untuk menyatakan bahwa Allah mengasihi semua orang dan keselamatan Allah diperuntukkan kepada semua orang. Allah dan keselamtan-Nya bukan hanya untuk orang atau kelompok tertentu. 

Allah tidak pernah membeda-bedakan dan tidak pernah menganggap orang lain adalah kafir. Dia pasti akan senantia menyambut dan menyatakan kasih-Nya kepada siapapun yang datang kepada Dia dengan penuh iman. Lewat injil dan sikap Yesus, kita diajarkan untuk tidak pernah merasa bahwa Allah dan keselamatan Allah hanya miliki kita atau milik kelompok tertentu. Kita harus sadar dan menyakini bahwa Allah mengasihi dan menghendaki semua orang selamat. 

Oleh sebab itu, kitapun harus mengasihi semua orang tanpa membeda-bedakan. Tugas kita adalah agar keselamatan dan sentuhan kasih Tuhan dirasakan oleh banyak orang. Pada kesempatan ini, kita juga mohon supaya Dia menyembuhkan kita dari ketulian dan kegagapan kita. Mungkin telinga kita dapat mendengar dan mulut kita bisa berbicara dengan baik, tetapi telinga kita tidak bisa mendengarkan sabda Tuhan dan mulut kita tidak bisa mewartakan sabda Tuhan kepada sesama kita. 

Kita juga punya telinga yang baik tetapi kita tuli terhadap sesama kita yang menderita, yang mendambakan sentuhan kasih Tuhan. Mulut kita juga berbicara dengan baik, tetapi kita gagap dalam mewartakan Tuhan kepada sesama. Semoga Yesus menyembuhkan kita sehingga kita sungguh bisa mendengarkan sabda Tuhan dan mendengarkan sesama kita serta mulut kitapun mampu berkata-kata akan Allah dengan baik. Amin.

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: KAMIS 13 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: 
KAMIS 13 FEBRUARI 2014 
(Yordanus dr Saksonia) 
1Raj. 11:4-13; Mzm. 106:3-4,35-36,37,40; Mrk. 7:24-30 

INJIL : 
Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar. 

RENUNGAN : 
 Sebagaimana kita dengarkand alam hal ini, kita kembali mendengar bahwa ketika Yesus pergi ke daerah Tirus dan masuk ke dalam rumah, Yesus tidak menghendaki diketahui oleh orang. Namun ternyata kedatangan-Nya ke manap dan di manapun tidak dapat dirahasiakan. Orang selalu mengetahui kedatangan Yesus dan selalu datang kepada Yesus. Yesus beberapa kali tidak menghendaki orang lain tahu kehadiran-Nya, bukan karena Yesus tidak mau peduli dengan manusia. 

Namun hal ini memang mau mengatakan bahwa secara manusiawi Yesus juga lelah dan demikian juga para murid-Nya. Yesus dan para murid-Nya butuh istirahat, butuh waktu untuk sendiri bersama murid-murid-Nya, sebab dengan waktu demikian, Yesus ingin memperdalam keyakinan dan untuk mengajar para murid-Nya.. Namun kiranya orang selalu mengetahui kehadiran Yesus dan orang tidak segan-segan untuk datang kepada Yesus. Yesuspun tidak menolak kehadiran atau kedatangan orang yang datang kepada Dia untuk meminta pertolongan. Ini mau mengatakan bahwa cinta kasih Yesus kepada manusia sungguh sangat besar, kapanpun kita datang kepada Dia, 

Dia pasti menyambut kedatangan kita dengan penuh sukacita. Yesus tidak pernah beristirahat dan menolak kehadiran orang yang datang kepada Dia. Kalaupun kita dengarkan dalam injil ini seakan Yesus menolak kedatangan seorang ibu yang memohonkan kesembuhan terhadap anaknya yang sedang kerasukan setan, bukan berarti Yesus menolak wanita itu. Yesus melakukan dialog dengan wanita itu. Dalam dialog itu, Yesus hanya sekedar mengutarakan ajaran atau pandangan umum saat itu yang seakan berpikir bahwa keselamatan Allah hanya diperuntukkan untuk suku tertentu, yakni suku bangsa Israel. 

Bangsa Israel juga menganggap bahwa keselamatan itu hanya untuk mereka, tertutup untuk suku bangsa lain. Sedangkan wanita itu bukan termasuk dari suku bangsa itu. Namun wanita itu berani datang kepada Yesus meskipun dia sadar bahwa dia bukan salah satu dari suku bangsa yang dikhususkan saat itu. Wanita itu bahwa kasih Allah untuk semua orang, bukan hanya untuk kelompok tertentu sebagaimana yang diajarkan orang pada masa itu. Jadi wanita itu, bukan hanya sekedar percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan anaknya yang sedang kerasukan setan, tetapi wanita itu bahwa Yesus mengasihi semua orang, tidak memandang suku bangsa dan status sosial seseorang. Dan iman wanita itu benar, Yesus menyembuhkan anaknya hanya dengan perkataan, “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." 

Perempuan itupun percaya akan perkataan Yesus bahwa anaknya telah sembuh, maka dia pulang ke rumahnya. Wanita ini sungguh menjadi teladan kepada kita agar kita tidak usah takut datang kepada Yesus untuk memohon pertolongan daripada-Nya. Kita harus yakin bahwa selain Yesus Tuhan yang mahakuasa mampu melakukan apapun untuk kebaikan kita, Dia juga tidak memandang status sosial kita. Kita harus yakin bahwa kasih Allah dan keselamtan-Nya diperuntukkan bagi semua orang yang percaya kepada dia. Iman wanita itu membuahkan kesembuhan bagi anaknya yang sedang kerasukan setan. 

Iman kita juga akan mendatangkan rahmat dan berkat Allah bagi kita dan juga bagi sesama. Sekali lagi patut kita renungkan bahwa cinta kasih Yesus dan keselamtan Allah diperuntukkan bagi semua orang yang percaya kepada dia. Maka hendaknya kita juga melakukan hal yang sama kepada sesama kita. Dalam hal ini mungkin kita pernah ingat perkataan pasu Fransiskus yang mengatakan bahwa dia percaya kepada Tuhan, tetapi bukan Tuhan yang adalah hanya milik orang katolik tetapi milik semua orang. Allah mengasihi semua orang dan menyatakan kasih-Nya kepada semua orang tanpa memandang suku bangsa, status sosial maka hendaknya kita juga demikian dalam bersikap dengan sesama kita. Amin.

Paus tidak akan mengubah ajaran Gereja

Paus tidak akan mengubah ajaran Gereja

Sean Kardinal O’Malley dari Boston, Amerika Serikat, mengatakan ia memuji sikap Paus Fransiskus yang cepat menanggapi sorotan dunia terkait ajaran Gereja. Tapi, kardinal itu memperingatkan bahwa bagi mereka yang memiliki harapan tinggi perubahan ajaran Gereja tentang kontrasepsi, aborsi, homoseksualitas, dan isu-isu lainnya kemungkinan akan kecewa. 

“Saya tidak melihat Bapa Suci akan mengubah ajaran Gereja,” kata Kardinal O’Malley dalam sebuah wawancara dengan the Globe. Uskup Agung Boston itu yang dikenal dekat dengan Paus Fransiskus mengatakan Gereja akan mempertimbangkan kemungkinan umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali untuk menerima sakramen-sakramen, meskipun Bapa Suci sendiri pernah memberikan sinyal secara keterbukaan terhadap isu tersebut. 

 “Gereja harus setia kepada Injil dan ajaran Kristus,” kata Kardinal O’Malley. “Kadang-kadang hal itu terasa sangat sulit. Kita harus mengikuti apa yang dikehendaki Kristus, dan percaya bahwa apa yang ia minta dari kita adalah sesuatu yang terbaik.” Kardinal O’Malley meminta agar wawancara, yang dilakukan di pastoran Katedral Salib Suci di Boston South End, tempat dia tinggal bersama empat imam lainnya, fokus pada Paus dan Gereja universal. Isu-isu tentang kontrasepsi, pernikahan gay dan perceraian, katanya, sudah sering dilontarkan oleh Paus Fransiskus di banyak kesempatan. 

Namun, Bapa Suci ingin lebih fokus pada penginjilan, sikap bela rasa dan perhatian kepada masyarakat miskin, kata Kardinal O’Malley. Para pengamat Gereja berspekulasi bahwa para uskup mungkin membahas dan melakukan revisi larangan menikah lagi bagi umat Katolik yang bercerai untuk menerima sakramen dalam sinode yang akan berlangsung di Roma pada Oktober tahun ini untuk membahas pelayanan Gereja pada isu-isu keluarga. 

Tapi, Kardinal O’Malley mengatakan bahwa meskipun Paus merasa prihatin dengan nasib umat Katolik yang menikah lagi yang ingin dekat dengan Gereja, “Saya tidak melihat adanya pembenaran teologis” untuk melonggarkan peraturan. Dalam persiapan untuk sinode tersebut, Vatikan telah mengumpulkan masukan dari para uskup di seluruh dunia tentang ajaran Gereja terkait keluarga dan moralitas seksual, serta sejauhmana pandangan mereka terhadap ajaran Gereja tersebut.

Sumber: UCA News
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: RABU 12 FEBRUARI 2014

RENUNGAN HARIAN, PEKAN BIASA V: 
RABU 12 FEBRUARI 2014 
(Humbelina ) 
1Raj. 10:1-10; Mzm. 37:5-6,30-31,39-40; Mrk. 7:14-23 

INJIL : 
Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!) Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 

RENUNGAN : 
Untuk memahami injil hari ini, kita harus membaca injil sebelumnya yakni berbicara tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahlit Taurat yang memprotes Yesus karena melihat beberapa murid Yesus makan tidak terlebih dahulu membasuh tangan mereka. Mereka prostes bukan soal kesehatan tetapi menganggap bahwa tindakan para murid itu melanggar aturan adat istiadat mereka dan itu dianggap najis atau berdosa. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat begitu taat pada aturan, padahal hati dan perbuatan mereka sungguh berbeda dengan sabda Tuhan. 

Oleh sebab itu Yesus mengatakan mereka itu adalah orang-orang munafik. Dari teguran Yesus, jelas bagi kita bahwa tindakan munafik adalah orang yang begitu memperhatikan hal-hal lahiriah tetapi kurang memperhatian yang rohani atau batin. Atau orang munafik adalah orang yang berpenampilan baik tetapi hati dan perbuatannya justru sebaliknya. Yesus sungguh tidak menyukai kemunafikan. Yesus mengajarkan ketulusan hati yang nyata dalam perbuatan, atau perbuatan itu hendaknya buah dari ketulusan hati yang tulus dan bersih. 

Melanjutkan pengajaran sehubungan dengan teguran Yesus terhadap orang-orang munafik, Yesus mengingatkan juga sikap yang sering kali mempersalahkan apa yang dari luar dirinya. Yesus mengatakan apa yang dari luar, itu tidak dapat menajiskan orang, juga soal makanan. Kiranya hal ini masih sering terjadi hingga saat ini. Masih banyak orang yang mengatakan bahwa makanan tertentu adalah haram sehingga tidak bisa di makan. Tidak memakan makanan tertentu bukan karena demi kesehatan tetapi karena dianggap najis atau haram. 

Demikian juga seringkali orang begitu sibuk memperhatikan dan mengkritik penampilan orang lain, karena dianggap haram dan membuat orang berdosa. Menanggapi pemikiran demikian, Yesus bukan berarti menyetujui hal luar yang tidak baik, tetapi Yesus menekankan agar kita lebih memperhatikan sikap batin kita. Kebersihan hati atau batin itu lebih penting daripada penampilan luar. Hati yang bersih pada akhirnya akan berbuah perbuatan yang baik pula. Kejahatan seringkali bermula dari hati yang tidak bersih yang pada akhirnya terlaksana dengan perbuatan yang tidak baik. Maka kita hendaknya lebih menata dan meperhatikan kebersihan hati atau batin kita, daripada penampilan luar kita. Amin.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)