Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN PEKAN IV PRAPASKAH, Senin 19 Maret 2012 (Hari Raya St. Yosef, Suami SP Maria)

RENUNGAN PEKAN IV PRAPASKAH, Senin 19 Maret 2012
(Hari Raya St. Yosef, Suami SP Maria)
2Sam 7:4-5a,12-14a,16, Mzm 89:2-3,4-5,27,29, Rm 4:13,16-18,22, Mat 1:16,18-21,24a atau Luk 2:41-51a

BACAAN INJIL:

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

RENUNGAN:

Santu Yusuf adalah suami, ayah yang ‘pendiam’ tetapi sangat bertanggungjawab atas keluarganya dan orang yang beriman.

Kiranya pernyataan di atas cocok untuk Santo Yusuf suami Maria yang hari ini kita rayakan. Dalam Injil kita dengan jelas mengetahui banyak kitab yang berbicara tentang Maria, tetapi tentang Yusuf hanya beberapa kali saja. Juga dalam kehidupan menggereja begitu banyak devosi atau gelar yang diberikan kepada bunda Maria, tetapi kiranya sedikit devosi yang dilakukan untuk Yusuf dan tidak banyak gelar yang diberikan kepadanya. Namun bukan berarti Gereja kurang menghargai Yusuf dan bukan berarti bahwa Gereja tidak melihat peran Yusus dalam karya keselamatan manusia.

Memang kitab suci tidak banyak berbicara tentang Yusuf, namun Yusuf juga mempunya banyak peran dalam karya keselamatan manusia. Yusuf adalah gambaran orang beriman yang sangat sederhana, tidak banyak berbicara, tidak suka menampilkan diri tetapi sungguh bertanggungjawab atas hidup dan tugas yang diberikan kepada-Nya. Saat dia mulai ragu untuk mengambil Maria untuk menjadi isterinya karena Maria sudah mengandung, Roh Allah datang dalam mimpi, menjelaskan kepadanya akan semua itu, dan pagi harinya dia melaksanakan sabda Tuhan yang dinyatakan dalam mimpi sehingga mengampil Maria menjadi isterinya. Yusuf tidak hanya mengambil Maria menjadi isterinya, tetapi sungguh mempertanggungjawabkan sabda Tuhan yang didengarkan dan dilaksanakannya. Yusuf menampilkan ketaatan pada Allah bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan. Dia juga menggambarkan kerendahan hati, yakni melaksanakan kehendak Allah dan apa yang dilakukan tidak perlu dikatakan kepada orang lain dan tidak perlu dibangga-banggakan. Masih banyak yang bisa kita ambil sebagai permenungan dari Yusuf yang kelihatan hanya diam, tetapi penuh dengan ajaran iman dan menjadi teladan hidup beriman.

Merayakan hari Raya Yusuf hari ini, kita patut bersyukur atas Yusus yang karena imannya sungguh ikut berperan dalam karya keselamatan bagi kita. Juga dalam perayaan hari ini, baiklah kita meneladan iman Yusus si pendiam namun banyak berbuat atau melaksanakan sabda Tuhan bukan dengan kata-kata tetapi dalam perbuatan. Lewat perayaan hari ini, Yusuf mengajar kita bahwa dalam hidup beriman, bukan soal kata-kata, iman kita hanyati bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan nyata. Nyatanya saat ini juga banyak orang beriman yang begitu hebat dalam berkata-kata soal iman, tetapi begitu miskin dalam perbuatan nyata sebagai perwujudan iman yang dihayati. Banyak orang yang mengatakan dirinya beriman, tetapi tidak melaksanakan sabda Tuhan. Banyak juga orang beriman yang tidak memiliki kerendahan hati seperti Yusuf, yakni ada orang beriman yang memang taat beragama, juga banyak melakukan amal kepada sesama tetapi tidak dalam diam, tetapi dalam keramaian dan publikasi. Artinya melakukan semuanya itu tidak dengan tulus tetapi supaya diketahui dan dipuji orang lain. Yusuf dalam diamnya melaksanakan sabda Allah mengajarkan kepada kita, bahwa hidup iman yang kita hanyati atau laksanakan tidak perlu diketahui orang lain, tidak perlu diberitahukan kepada orang lain dengan kata-kata, tetapi biarlah dengan perbuatan orang lain mengetahui bahwa kita menghayati sabda Tuhan. Juga Yusuf mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita lakukan memang harus kita lakukan sehingga kita tidak perlu memberitahukannya kepada orang lain, tidak perlu kita banggakan atau kita sombongkan kepada orang lain.

Para suami hendaknya juga bercermin dan meneladan Yusus bagaimana menjadi suami yang kristiani dan bertanggungjawab bagi keluarga. Hendaknya para suami dalam mendidik anak-anaknya dan dalam menjalankan tugas atau tanggungjawab dalam keluarha bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan dan contoh teladan yang baik. Sekarang ini banyak suami yang mendidik anak-anaknya hanya dengan kata-kata tidak dengan teladan yang baik, bahkan sangat sering hanya pintar dalam menasihati anaknya tetapi bodoh dan miskin dalam perbuatan baik. Baiklah kiranya para suami meneladan Yusus dengan hidup sebagai suami yang beranggungjawab atas keluarganya.

Maka semoga Yusuf menjadi teladan beriman kepada kita dan para suami meneladan Yusuf dengan hidup sebagai suami yang diam tetapi sangat bertanggungjawab atas keluarganya. Semoga kita pintar melaksanakan sabda Tuhan, bukan hanya pintar dalam membicarakan sabda Tuhan. Amin.

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH IV : 18 Maret 2012

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH IV : 18 Maret 2012
2Taw 36:14-16,19-23, Mzm 137:1-2,3,4-5,6, Ef 2:4-10, Yoh 3:14-21

BACAAN INJIL: Yoh 3:14-21

“Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkannya.”

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada Nikodemus yang datang kepada-Nya pada waktu malam, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

RENUNGAN:

Yesus adalah jaminan kebahagiaan dan keselamatan bagi kita. Jalan salib-Nya menjadi jalan cinta kasih, kebahagiaan dan keselamatan. Semoga kita yakin akan hal ini dan berusaha untuk mencari kebahagiaan dan keselamatan yang sejati

Mungkin kita masih ingat bahwa dalam berita yang hangat akhir-akhir ini, satu pernyataan seorang yang dikatakan terlibat korupsi, yakni mengatakan: “Bila saya korupsi 1 rupiah saja sebagaimana dikatakan terdakwa, saya siap digantung di tugu Monas Jakarta!” Pernyataan ini yang merupakan jawaban atas tuduhan yang sampaikan kepadanya sungguh pernyataan yang mengejutkan, walaupun orang menanggapinya berbeda-beda. Kalau sekiranya ini terjadi (tidak akan mungkin terjadi), itu berarti dia tergantung di tugu Monas karena kesalahannya. Hal ini tentu berbeda dengan ular yang ditinggikan oleh musa di Padang gurun. Ular yang ditinggikan di padang gurun bukan membinasakan tetapi barang siapa memandang ular itu, maka bangsa Israel yang dalam perjalanan keluar dari Mesir, yang terkena pagut ular akan diselamatkan. Bangsa Israel dipagut ular karena mereka dalam perjalanan itu mengeluh kepada Tuhan dan memberontak dengan berbalik dari Allah. Mereka menyesal dan akhirnya Tuhan mengampuni mereka dengan menyuruh Musa meninggikan ular di padang gurung sehingga mereka yang melihat ular itu, maka akan diselamatkan. Tentu mereka diselmatkan bukan karena ular itu, tetapi Tuhanlah yang menyelamatkan mereka lewat memandang ular yang ditinggikan oleh Musa atas perintah Allah sendiri.

Di dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia yakni diri-Nya sendiri harus ditinggikan di salib, supaya orang yang percaya kepada-Nya beroleh keselamatan. Ditinggikan di salib adalah berarti dialibkan. Yesus ditinggikan di salib atau mati disalib bukan karena kesalahan-Nya, bukan karena penghukuman dari Allah. Namun karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, maka Allah Bapa merelakan Anak-Nya yakni Yesus menanggung resiko warta keselamatan, yakni dengan rela mati di salib. Ditinggikan di salib atau rela mati disalib adalah konsekuensi warta keselamatan Allah bagi manusia, bukan karena dosa-dosa-Nya, bukan karena hukuman dari Allah. Dengan ditinggikan di salib, Yesus menjagi korban tebusan atas dosa-dosa manusia, dan salib Kristus adalah keselamatan manusia. Sehingga dengan ditinggikan di salib, orang yang percaya kepada Yesus akan beroleh kesalamatan.

Sehingga sama seperti bangsa Israel dengan memandang ular yang ditinggikan oleh Musa, mereka diselamatkan, demikian juga halnya barang siapa yang memandang Yesus yang ditinggikan di salib, akan beroleh keselamatakan kekal. Memandang Yesus yang ditinggikan di salib, tentu bukan dalam maksud memandang atau melihat begitu saja. Memandang yang dimaksudkan adalah percaya kepada Yesus, bahwa Yesus yang ditinggikan di salib adalah Mesias yang diutus oleh Allah untuk membawa keselamatan kepada manusia, percaya bahwa salib Kristus adalah tanda nyata kasih Allah, Allah merelakan Putera-Nya Yesus Kristus dan Yesus sendiri rela ditinggikan di salib demi keselamatan manusia. Yesus itulah sumber kehidupan dan sumber keselamatan manusia. Sehingga barang siapa memandang atau percaya kepada-Nya akan beroleh keselamatan.

Namun sebagaimana dikatakan Yesus dalam Injil hari ini, “..barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah!” Jelas penghukuman itu bukan dari Allah, Allah datang bukan untuk membawa penghukuman tetapi keselamatan. Tetapi orang yang tidak percaya kepada-Nya, dia sendiri yang memasukkan dirinya ke dalam penghukuman, karena dia menolak Yesus sumber kehidupan dan sumber keselamatan. Jadi bukan Allah yang menghukum tetapi orang yang tidak percaya itulah yang mendatangkan hukuman bagi dirinya.

Yesus juga menyatakan diri-Nya adalah terang yang datang ke dunia. Dia membawa terang, tetapi dunia lebih suka tinggal dalam kegelapan.

Sehubungan dengan hal ini, ada sebuah kisah, persahabatan gua yang gelap dan matahari. Ada satu gua yang tinggal dalam tanah yang gelap. Satu hari sahabatnya matahari mengundang dia untuk melihat sinar cahayanya. Gua itu keluar dari tempatnya dan menanggapi undangan Matahari. Sesudah gua itu bertemu denga sahabatnya matahari, gua itu melihat betama sinar matahari begitu cerah dan menyinari sekitarnya. Gua itu begitu senang sehingga dia juga mengundang Matahari untuk berkunjung ke guanya. Matahari menerima undangan sahabatnya gua dan dia datang cahayanya yang bersinar. Saat matahari memasuki gua itu, seisi gua menjadi terang benderang dan tampaklah keindahan gua itu. Gua itu begitu senang karena tempatnya menjadi terang dan keindahannya menjadi tampak. Sejak saat itu, sinar matahari menyinari gua itu dan banyak orang yang datang mengunjungi gua itu untuk menikmati keindahan gua itu. Sinar matahari membuat keindahan gua itu menjadi tampak dan banyak orang menikmatinya.

Dalam hidup kita tentu sadar betapa pentingnya sinar bagi kita. Bisa kita banyangkan bagaimana malam bila tidak ada sinar yang menyinari, semua gelap, pasti kita tidak tahu di mana letak kamar mandi, kita bisa tersanjung atau jatuh. Demikianpun kita membutuhkan sinar yang bisa menyinari hidup kita sehingga kita bisa melihat keindahan hidup kita dan bisa sampai ke tempat tujuan kita. Yesus adalah terang yang datang dari Surga untuk menyinari hidup kita agar kita dapat sampai ke kebahagiaan sejati. Maka baiklah kita kiranya menerima dan mengundang Yesus sang terang untuk hadir dalam kehidupan kita, agar kita bisa menemukan dan menikmati keindahan dalam hidup kita. Lebih dari itu, dengan sinar terang dari Yesus, hidup kita akan disinari sehingga kita bisa sampai pada kehidupan kekal.

Namun sebagai pengikut Yesus yang telah menerima sinar terang Kristus, hendaknya terang Kristus itu tinggal dalam diri dan hidup kita serta sinar itu juga hendak memancar sehingga sinar terang Kristus dapat dinikmati oleh banyak orang. Hidup kita juga hendaknya menjadi terang bagi sesama dan menyinari hidup sesama agar mereka dapat menemukan dan menikmati hidup yang adalah anugerah Tuhan dan dengan sinar itu pula, orang dapat sampai pada sang terang sejati yakni Kristus sendiri.

Maka semoga hari ini, iman kita semakin diteguhkan. Semoga kita berani memandang Yesus yang ditinggikan adalah sumber kehidupan, sumber dan jaminan keselamatan kita. Dia pulalah yang menjadi terang dalam hidup kita sehingga kita dapat sampai kepada keselamatan kekal. Hidup kita juga hendaknya memancarkan sinar terang Yesus kepada sesama kita. Amin.

BACAAN HARI MINGGU PRAPASKAH IV : 18 Maret 2012

BACAAN HARI MINGGU PRAPASKAH IV : 18 Maret 2012
2Taw 36:14-16,19-23, Mzm 137:1-2,3,4-5,6, Ef 2:4-10, Yoh 3:14-21

BACAAN I: 2Taw 36:14-16,19-23

“Murka Allah dinyatakan lewat pembuangan, kerahiman-Nya dinyatakan lewat pembebasan.”

Juga semua pemimpin di antara para imam dan rakyat berkali-kali berubah setia dengan mengikuti segala kekejian bangsa-bangsa lain. Rumah yang dikuduskan TUHAN di Yerusalem itu dinajiskan mereka. Namun TUHAN, Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya. Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.

Mereka membakar rumah Allah, merobohkan tembok Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu dengan api, sehingga musnahlah segala perabotannya yang indah-indah. Mereka yang masih tinggal dan yang luput dari pedang diangkutnya ke Babel dan mereka menjadi budaknya dan budak anak-anaknya sampai kerajaan Persia berkuasa. Dengan demikian genaplah firman TUHAN yang diucapkan Yeremia, sampai tanah itu pulih dari akibat dilalaikannya tahun-tahun sabatnya, karena tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun. Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, TUHAN, Allahnya, menyertainya, dan biarlah ia berangkat pulang!"

MAZMUR TANGGAPAN: Mzm 137:1-2,3,4-5,6

Reff: Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.

1. Di tepi sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon Gandarusa di tempat itu kita gantungkan kecapi kita.

2. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian suka-cita: “Nyanyikanlah bagi kami nyanyi dari Sion.”.

3. Bagaimanakah mungkin kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!.

4. Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak menjadikan Yerusalem puncak sukacitaku.

BACAAN II: Ef 2:4-10

“Kamu mati karena kesalahan, tetapi diselamatkan berkat kasih karunia.”

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita?oleh kasih karunia kamu diselamatkan? dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

BACAAN INJIL: Yoh 3:14-21

“Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkannya.”

Sekali peristiwa Yesus berkat kepada Nikodemus yang datang kepada-Nya pada waktu malam, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

RENUNGAN PEKAN III PRAPASKAH, Sabtu 17 Maret 2012

RENUNGAN PEKAN III PRAPASKAH, Sabtu 17 Maret 2012
(Patrisius)
Hos 6:1-6, Mzm 51:3-4,18-19,20-21ab, Luk 18:9-14

BACAAN INJIL:

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

RENUNGAN:

Hidup dan berjuang menjadi orang yang baik dan menjadi lebih baik, adalah hal yang wajar. Kita memang harus selalu berusaha hidup baik, berbuat baik dan menjadi lebih baik dari orang lain. Tetapi yang menjadi kesalahan adalah bahwa kita membanggakan diri dan kebaikan kita di hadapan orang lain dan juga dihadapan Tuhan. Sikap yang terlalu menganggap dirinya sangat baik seakan tidak punya kekurangan apa-apa adalah sikap sombong dan pada akhirnya orang demikian akan jatuh pada sikap yang selalu memandang rendah orang lain dan bahkan mereka itu tidak akan suka bila orang lain lebih baik dari dirinya. Orang yang angkuh dan sombong dengan sendirinya juga akan selalu melihat kekurangan orang lain dan tidak mau menerima atau mengakui kebaikan yang ada pada diri orang lain.

Dalam injil hari ini, kita membaca atau mendengarkan bagaimana orang Farisi itu berdoa di dalam baik Allah. Orang itu menganggap dirinya baik, suci karena bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, berpuasa dua kali seminggu, dan memberikan sepersepuluh dari segala penghasilannya, sehingga dia merasa pantas menduduki tempat terdepan di Bait Allah. Memang yang dia lakukan baik, namun yang menjadi kesalahannya adalah dia pamer kebaikan di hadapan Tuhan, justru dia tidak bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Lebih parah lagi adalah sikap sombongnya itu berbuah pada sikap mengina dan merendahkan orang lain, yang dalam hal ini adalah pemungut cukai. Orang Farisi itu, merasa dirinya baik, sempurna sehingga tidak memerlukan kasih Tuhan dan seakan dengan hidupnya itu, dia menganggap sudah wajar Tuhan harus mengasihi dan memberkatinya. Kesalahannya adalah sikap sombong dan menyombongkan diri di hadapan Tuhan.

Sedangkan pemungut cukai itu, dia menyadari kerendahannya di hadapan Tuhan dan kedosaannya, sehingga dia berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit, Sambil tertunduk dia memohon belaskasihan dari Tuhan atas kedosaannya. Namun justru dialah yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan berkenan kepada dia bukan karena dia telah berbuat dosa, namun dia bersikap rendah hati di hadapan Tuhan, menyadari kedosaan dan kehinaannya di hadapan Tuhan, sehingga dengan rendah hati dan tertunduk memohon belaskasihan Tuhan. Kerendahan hati di hadapan Tuhan dan kesadaran akan kedosaan serta kerendahan hati memohon belaskasihan di hadapan Tuhan, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Kitapun mungkin seringkali bersikap seperti orang Farisi itu, meresa kita lebih baik dari orang lain karena kita telah taat menjalankan agama, taat beriman dan juga suka melakukan amal kepada sesama. Semua mungkin kita banggakan di hadapan Tuhan sehingga kita merasa bahwa Tuhan sudah sewajarnya harus membalas semuanya dengan berkat berlimpah kepada kita. Juga dengan semuanya itu, kita merasa orang lain harus memuji kita sebagai orang baik. Kita juga mungkin karena merasa diri sudah baik, kita langsung dengan mudah menghakimi orang yang tidak hidup baik dan bahkan menghina mereka. Hidup baik, taat beriman dan melakukan amal kepada semuanya, itu baik dan memang tuntutan iman kita, namun baiklah kiranya kita tidak menjadi sombong, menyombongkan diri di hadapan Allah dan juga di hadapan sesama. Justru sebaliknya, semakin hidup kita baik, kita harus semakin rendah hati di hadapan sesama terutama di hadapan Allah. Orang yang rendah hati, orang itu semakin bisa menerima, mengerti orang yang tidak hidup baik, dia tidak mudah menghakimi dan tidak hanya melihat sisi jelek dari orang lain serta mampu melihat dan menerima kebaikan yang ada pada orang lain. Maka semoga kita selalu hidup dalam kerendahan hati di hadapan sesama, terutama di hadapan Tuhan. Amin.

CUPLIKAN FILM SOEGIJA

CUPLIKAN FILM SOEGIJA



Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

Uskup: Tidak benar kepala suku Asmat masuk Islam

Uskup: Tidak benar kepala suku Asmat masuk Islam

Mgr Aloysius Murwito OFM

Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Agats-Asmat, Papua, Mgr Aloysius Murwito OFM, membantah sejumlah pemberitaan di media massa yang mengklaim kepala suku besar Asmat masuk Islam.

Bantahan ini disampaikan Mgr Aloysius melalui surat klarifikasi yang dikirm kepada tokoh-tokoh lintas agama, pemerintah, dan pihak keamanan di Papua.

“Menyimak pemberitaan yang dimuat oleh sejumlah media online (dakwatuna.com, Arrahmah.com) mau pun media cetak (Banten Post, Republika) dan elektronik (TVRI) tentang Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam, sungguh disayangkan karena tidak benar. Mungkin ada benarnya bahwa ada orang Asmat dari Kampung Per bersama keluarganya sebagaimana diberitakan masuk Islam, tetapi bahwa dia adalah seorang kepala suku besar Asmat sungguh suatu kekeliruan atau kesalahan,” ujar Mgr Murwito dalam surat klarifikasi itu, seperti dilansir theindonesianway.com.

Menurut Mgr. Aloysius, pengakuan atau gelar Kepala Suku Besar Asmat yang diberikan kepada Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) tidak benar. Pernyataan atau pemberitaan itu adalah sebuah kebohongan publik karena tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada dalam kebudayaan suku Asmat sampai dengan saat ini. Gelar kepala suku hanya diberikan, berlaku dan terbatas dalam satu rumpun saja. Bahwa media kemudian memberitakan dia sebagai Kepala Suku Besar Asmat, adalah bentuk kebohongan belaka.

Berdasarkan dokument resmi Gereja Katolik Keuskupan Agats-Asmat, saudara Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) adalah warga biasa yang lahir di Per pada 13 Desember 1962 dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada 31 Januari 1963 oleh Pastor Miller OSC. Sebagai saksi pembaptisan waktu itu adalah bapak Mikael Apakci. Data kelahiran dan baptisan ini tercatat dalam buku Baptis Paroki Ewer No. LB. IV. 5988, tahun 1963.

“Kami sangat menyesal dan menyayangkan berita yang sensasional itu. Berita ini hemat kami sangat tendensius dan provokatif, dimana dengan mengatakan bahwa Kepala Suku Besar Asmat masuk Islam seolah-olah semua orang Asmat telah masuk atau menjadi Islam. Kami mau mengatakan bahwa berita soal Sinansius dan keluarganya menjadi Islam mungkin benar tetapi bahwa dia seorang Kepala Suku Besar Asmat adalah suatu yang tidak benar, tidak objektif dan merupakan suatu kebohongan public yang direkayasa oleh orang tertentu, kelompok tertentu dan media yang memberitakannya,” lanjut Mgr Aloysius.

“Pemberitaan sensasional yang keliru atau salah ini, langsung mau pun tidak langsung, memiliki dampak religius, sosial dan kultural dalam kehidupan bersama di Asmat. Menyadari semua itu maka kami sebagai Uskup Keuskupan Agats yang adalah Pemimpin Tertinggi Gereja Keuskupan Agats – Asmat ingin menyampaikan beberapa klarifikasi dan harapan atau himbauan kepada kita semua khususnya MUI Asmat dan Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kabupaten Asmat, demi terciptanya kerukunan, toleransi dan persaudaraan sejati dalam hidup bersama di tanah Asmat ini,” tutur Mgr Aloysius.

Mgr Aloysius juga mengharapkan agar pimpinan MUI dan Ketua Penyelenggara Agama Islam di Kantor Kementrian Agama Islam Kabupaten Asmat bisa meneruskan dan mengklarifikasi berita ini kepada media online dan sura kabar yang telah membuat pemberitaan yang tidak benar itu. Intinya bahwa Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) yang telah menjadi Islam setelah melalui upacara pengukuhan pada tanggal 19 Pebruari 2012 di Masjid Darussalam, Jati Bening, Bekasi, Jawa Barat dengan didampingi oleh Ustadz Fadhlan Garamatan dan Imam Masjid Istiqlal Ali Hanayiah, sesungguhnya bukan Kepala Suku Besar Asmat.

Keuskupan Agats juga meminta kepada saudara-saudari muslimin dan muslimah agar tetap menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama dan masyarakat di Asmat dengan menyampaikan, menyiarkan, mengajarkan, memberitakan segala sesuatu dan khususnya berkaitan dengan agama atau iman kepercayaan yang bersentuhan dengan agama atau kepercayaan lain secara objektif dan akurat.

“Jangan kita hanya menyebarkan berita bersifat isapan jempol, sensasional dan tendensius yang bisa berdampak pada disharmonitas dan konflik sosial di kalangan masyarakat Asmat dan Papua pada umumnya. Perlu diketahui dan disadari bersama bahwa semua masyarakat di Asmat telah memiliki iman dan menganut agama atau kepercayaan tertentu (tidak ada yang khafir). Untuk itu mari kita saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam ranah hidup bersama dengan semangat persaudaraan dan toleransi,” tambahnya prelatus itu.

Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

Klarifikasi dari Keuskupan Agats mengenai mualafnya seorang kepala suku besar Asmat....

Klarifikasi dari Keuskupan Agats mengenai
mualafnya seorang kepala suku besar Asmat....

Nomor : 49.020.00.05Lamp. : -Hal : Klarifikasi dan Himbauan Pemberitaan :“Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam”

Kepada Yth.Pimpinan Majelis Ulama Islam AsmatKepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kab. AsmatDiAgats – Asmat.

Dengan hormat,

Menyimak pemberitaan yang dibuat oleh saudara-saudari muslim lewat media maya (dakwatuna.com; Arrahmah.com) mau pun media cetak (Bantenpost; Republika) dan elektronik (TVRI) tentang “Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam” sungguh disayangkan karena tidak benar. Mungkin ada benarnya bahwa ada orang Asmat dari Kampung Per bersama keluarganya sebagaimana diberitakan masuk Islam, tetapi bahwa dia adalah seorang kepala suku besar Asmat sungguh suatu kekeliruan atau kesalahan. Pemberitaan sensasional yang keliru atau salah ini langsung mau pun tidak langsung memiliki dampak religius, social dan kultural dalam kehidupan bersama di Asmat.

Menyadari semua itu maka kami sebagai Uskup Keuskupan Agats yang adalah Pemimpin Tertinggi Gereja Keuskupan Agats – Asmat ingin menyampaikan beberapa klarifikasi dan harapan atau himbauan kepada kita semua khususnya MUI Asmat dan Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kab. Asmat, demi terciptanya kerukunan, toleransi dan persaudaraan sejati dalam hidup bersama di tanah Asmat ini. Semoga klarifikasi dan himbauan ini menjadi masukan dan pertimbangan yang membantu kita semua dalam membangun komunikasi yang lebih benar dan objektif.

1. Klarifikasi : “Kepala Suku Besar Asmat”

- Pengakuan atau gelar Kepala Suku Besar Asmat yang diberikan kepada Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) tidak benar. Pernyataan atau pemberitaan itu adalah sebuah kebohongan public karena tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada dalam kebudayaan suku Asmat sampai dengan saat ini. Gelar kepala suku hanya diberikan, berlaku dan terbatas dalam satu rumpun saja. Kepala suku ini pun bersifat warisan – diturunkan dari leluhur – ayah pada garis lurus dan langsung. Secara structural adat / budaya Asmat, yang ada dan diakui adalah Kepala Perang dan bukan Kepala Suku apalagi Kepala Suku Besar Asmat. Kepala suku itu ada tetapi bersifat local dan terbatas; artinya tidak diakui dan berlaku untuk seluruh Asmat. Untuk saudara Sinansius, ia adalah warga biasa seperti saudara dan saudari lain yang ditinggal di kampung Peer, Distrik Agats. Dalam struktur social dan budaya/adat, dia tidak memiliki posisi, kedudukan atau pun jabatan (kekuasaan) apa pun. Bahwa media kemudian memberitakan dia sebagai Kepala Suku Besar Asmat, adalah bentuk kebohongan belaka.

- Setelah dicermati dengan saksama dan berdasarkan document resmi gereja Katolik Keuskupan Agats – Asmat, saudara Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) adalah warga biasa yang lahir di Per tanggal 13 Desember 1962 dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada tanggal 31 Januari 1963 di Per oleh Pastor Miller, OSC. Sebagai saksi pembaptisan waktu itu adalah bapak Mikael Apakci. Data kelahiran dan baptisan ini tercatat dalam buku Baptis Paroki Ewer No. LB. IV. 5988, tahun 1963.

- Perlu diketahui pula bahwa dewasa ini masyarakat mengenal yang namanya ketua LMAA (Lembaga Masyarkat Adat Asmat). LMAA ini diakui bersama baik oleh masyarakat adat maupun pemerintah yang diketuai oleh Bapak Yuvensius Alvons Biakai, BA. SH. Jabatan ini ia emban sebelum menjadi bupati sampai sekarang ketika ia dipilih dan menjabat sebagai Bupati Asmat dalam periode kedua berjalan.

- Kami sangat menyesal dan menyayangkan berita yang sensasional itu. Berita ini hemat kami sangat tendensius dan provokatif, dimana dengan mengatakan bahwa Kepala Suku Besar Asmat masuk Islam seolah-olah semua orang Asmat telah masuk atau menjadi islam. Kami mau mengatakan bahwa berita soal Sinansius dan keluarganya menjadi Islam mungkin benar tetapi bahwa dia seorang Kepala Suku Besar Asmat adalah suatu yang tidak benar, tidak objektif dan merupakan suatu kebohongan public yang direkayasa oleh orang tertentu, kelompok tertentu dan media yang memberitakannya.

- Tanpa kita sadari bahwa dampak dari pemberitaan yang tidak objektif ini dapat menciptakan keresahan dan konflik internal – konflik saudara – konflik keluarga antara masyarakat di kampung Per maupun kampung lain yang ada di Asmat ini.

2. Himbauan Bersama

- Kami mengharapkan agar pimpinan MUI dan Ketua Penyelenggara Agama Islam di Kantor Kementrian Agama Islam Kab. Asmat bisa meneruskan dan mengklarifikasi berita ini kepada sumber-sumber media on line sebagaimana beberapa Website dan Koran yang telah membuat pemberitaan yang tidak benar itu. Intinya bahwa Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) yang telah menjadi islam setelah melalui upacara pengukuhan pada tanggal 19 Pebruari 2012 di Masjid Darussalam, Jati Bening – Bekasi, Jawa Barat dengan didampingi oleh ustadz Fadhlan Garamatan dan Imam Masjid Istiqlal – Ali Hanayiah, sesungguhnya bukan Kepala Suku Besar Asmat. Yang bersangkutan hanyalah masyarakat biasa di kampung Per distrik Agats, Kabupaten Asmat.

- Kami meminta kepada saudara-saudari muslimin dan muslimah agar tetap menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama dan masyarakat di Asmat dengan menyampaikan, menyiarkan, mengajarkan, memberitakan segala sesuatu dan khususnya berkaitan dengan agama atau iman kepercayaan yang bersentuhan dengan agama atau kepercayaan lain secara objektif dan akurat. Jangan kita hanya menyebarkan berita bersifat isapan jempol, sensasional dan tendensius yang bisa berdampak pada disharmonitas dan konflik sosial di kalangan masyarakat Asmat dan Papua pada umumnya.

- Perlu diketahui dan disadari bersama bahwa semua masyarakat di Asmat telah memiliki iman dan menganut agama atau kepercayaan tertentu (tidak ada yang khafir). Untuk itu mari kita saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam ranah hidup bersama dengan semangat persaudaraan dan toleransi.

Demikian klarifikasi dan himbauan dari kami Uskup Keuskupan Agats (Pemimpin Gereja Katolik Agats-Asmat) semoga dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi kita semua. Atas perhatian dan tanggapan baik dari semua pihak saya sampaikan banyak terima kasih.

Agats, 9 Maret 2012

Hormat kami,



† Mgr. Aloysius Murwito, OFMUskup Keuskupan Agats



Tembusan kepada Yth.

1. Bupati Kab. Asmat di Agats
2. Sekda Kab. Asmat di Agats
3. Ketua DPRD Kab. Asmat di Agats
4. Kepala Kantor Kementrian Agama Asmat di Agats
5. Kepala Kantor Kesbang Asmat di Agats
6. Ketua LMAA di Agats
7. Kapolres Asmat di Agats
8. Periwira Penghubung Kodim Asmat di Agats
9. Umat Paroki Ewer (Ewer, Yepem, Peer, Uwus)
10. Gereja-gereja Kristen di Asmat
11. Para Pastor se-Keuskupan Agats
12. File....

RENUNGAN PEKAN III PRAPASKAH, Jumat 16 Maret 2012

RENUNGAN PEKAN III PRAPASKAH, Jumat 16 Maret 2012
Hos 14:2-10, Mzm 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17, Mrk 12:28b-34

BACAAN INJIL:

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

RENUNGAN:

Apakah kita mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama kita? Mengapa kita harus mengasihi sesama?

Dua pertanyaan ini patut kita renungkan. Sebab seringkali kita menyatakan diri sebagai orang yang beriman dengan aktif dalam kegiatan hidup mengereja, rajin berdoa tetapi kita tidak memiliki kasih kepada sesama. Hidup sekarang ini nampaknya jauh dari kasih kepada sesama, meskipun pada umumnya semua manusia adalah orang beriman. Kalau sekiranya orang sungguh mengasihi Allah dengan segenap hidupnya, diapun pasti akan mengasihi sesamanya dan berusaha untuk melakukan perbuatan baik bagi sesamanya.

Namun pada kenyataannya, iman atau kasih kepada Allah hanya sebatas ibadah, sebatas liturgi dan kadang hanya sebatas formalitas saja. Iman itu sungguh tidak berbuah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam perbuatan baik kepada sesama. Dalam hidup, banyak orang beriman yang begitu rajin dalam menjalankan ibadahnya, tetapi tidak berbuat kasih kepada sesama, bahkan mungkin tidak peduli dengan orang lain dan malah melakukan perbuatan hidup yang merugikan orang lain.

Hari ini, dengarkanlah ajaran dari Yesus bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hidup, yang artinya kasih kepada Allah itu harus dihanyati dalam keseluruhan hidup kita di manapun dan kapanpun. Jadi bukan hanya dengan kata-kata saja dan bukan hanya di tempat tertentu saja, misalanya bukan hanya dalam doa-doa, bukan hanya dalam liturgi saja, tetap dalam semua kehidupan sehari-hari. Yesus juga menlanjutkan pengajaran-Nya bahwa kasih kepada Allah itu tidak lepas dari kasih kepada sesama. Kedua hukum ini saling berkaitan dan menyempurnakan. Dengan demikian Yesus mengatakan kepada kita bahwa kasih kita kepada Allah harus justru nyata dalam perbuatan kasih kepada sesama. Bahkan sungguh menarik pada ayat terkahir yang mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap hidup dan mengasihi sesama, itu jauh lebih lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.

Sehingga jelas, alasan mengapa kita harus mengasihi sesama,yakni karena itu adalah perintah atau hukum dari Tuhan, dan kasih kepada sesama itu justru menjadi tanda nyata bahwa kita mengasihi sesama. Juga alasan mengapa kita harus mengasihi sesama, karena Allah mengasihi kita dan semua manusia. Sehingga kasih kepada sesama bukan karena belaskasihan atau menganggap bahwa sesama itu lebih rendah dari kita, namun kasih kita kepada sesama adalah wujud kasih kita kepada sesama.

Semoga kita tidak hanya taat menjalankan ibadah atau hidup iman kita tanpa mengasihi sesama. Semoga kita tidak hanya mengasihi Allah dan sesama hanya dalam kata-kata belaka, tetapi kasih itu berbuah nyata dalam perbuatab baik bagi sesama. Amin.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)