Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Mahasiswa NTT desak Yonif 744 dibubarkan

Mahasiswa NTT desak Yonif 744 dibubarkan

Berbagai elemen mahasiswa, termasuk PMKRI Kupang, yang tergabung dalam Front Anti Militerisme menggelar aksi damai di DPRD NTT kemarin.

Mereka menuntut pembubaran Yonif 744/SYB yang telah melakukan tindakan brutal terhadap beberapa warga sipil bahkan hingga menewaskan satu orang di Atambua, Kabupaten Belu.

Seperti dilaporkan sebelumnya, anggota Yonif 744 pada Minggu, 13 Maret lalu, menganiaya enam pemuda kelurahan Fatubenao, sehingga menyebabkan salah satu dari mereka, Charles Mali, 24, meninggal dunia akibat kekerasan fisik.

Dalam aksi Senin, 21 Maret, para mahasiswa menuntut agar oknum pelaku yang menyebabkan Charles Mali meninggal harus diproses secara hukum dan harus transparan.

Mereka juga mendesak agar petinggi TNI jangan menutup-nutupi proses hukum yang berlangsung sehingga masyarakat dan keluarga korban mengetahuinya.

Bahkan dalam pernyataan sikap, para mahasiswa menuntut agar petinggi TNI membubarkan Yonif 744/SYB.

Dalam pernyataan tersebut mahasiswa meminta agar petinggi TNI mengembalikan korps ini sebagai alat pertahanan negara, bukan sebagai alat keamanan sipil.

Mereka juga menuntut pengembalian militer ke barak dan perbatasan serta pembubaran komando territorial.

Mahasiswa juga mengecam pemerintah pusat dan daerah atas kegagalan menjamin keberlangsungan HAM, menuntut penegak hukum secara cepat dan transparan agar publik mengetahui secara benar, serta mencabut hak istimewa peradilan militer yang terkesan tertutup.

Ketua DPRD Belu, Simon Guido Seran, yang menerima kelompok mahasiswa tersebut menegaskan, pihaknya setuju agar pos TNI yang tidak resmi di Mako Yonif 744/SYB dibubarkan, karena seringkali ada keluhan dari warga bahwa oknum TNI selalu melakukan pemalakan di lokasi pos tidak resmi itu.

“Kalau pos provost dalam kompleks Mako Yonif 744/SYB itu memang sesuai aturan. Tapi pos tidak resmi yang berada di luar mako harus dibubarkan. Selama ini banyak sekali pengaduan dari warga bahwa setiap kali mereka melintas di lokasi itu, selalu terjadi pemalakan yang dilakukan oknum TNI,” kata Simon seperti dilaporkan Pos Kupang .

Menurut dia, kehadiran pos tidak resmi itu sama sekali tidak ada fungsinya, bahkan hanya menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

Danrem 161 Wirasakti, Kol Arh I Dewa Ketut Siangan mengakui adanya pos tidak resmi yang meresahkan masyarakat. Ia menegaskan, untuk pengamanan perbatasan RI-Timor Leste TNI hanya menyiapkan pos permanen, bukan pos darurat yang dijadikan tempat pemalakan.

Sumber: Mahasiswa: Bubarkan Yonif 744

Disadur dari : http://www.cathnewsindonesia.com/

Renungan Hari biasa Pekan II Prapaskah, Rabu 23 Maret 2011

Renungan Hari biasa Pekan II Prapaskah, Rabu 23 Maret 2011
Yer 18:18-20, Mzm 31:5-6,14,15-16, Mat 20:17-28
(Turibius dr Mogrovejo)

“Mengapa kita percaya dan mengikuti Yesus?

BACAAN INJIL:
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
“Mengapa kita percaya dan mengikuti Yesus? Apa yang kita harapkan dengan percaya kepada Yesus?” Bila pertanyaan ini ditujukan kepada kita, apa jawaban kita? Jawaban kita pada umumnya adalah supaya kelak masuk surga. Tujuan dan kerinduan itu adalah baik. Tetapi pernah seorang nenek menjawab lain. Nenek itu sudah berumur 92 tahun saat saya memberi dia sakramen Perminyakan dan komuni suci, sekitar 2 tahun yang lalu dan beliau sudah meninggal dunia sekitar 1 tahun lalu. Saat bincang-bincang saya bertanya, “Ompung (nek) nanti kalau meninggal, apakah minta kepada Yesus supaya masuk surge?” Nenek itu menjawab, “Saya tidak akan minta apa-apa, terserah Yesus mau Dia ijinkan masuk surge atau neraka. Saya percaya kepada Yesus karena Dia Tuhan, bukan supaya saya masuk surge setelah mati. Saya percaya bahwa Yesus akan beri yang pantas untuk saya, sesuai dengan hidup saya selama di dunia ini.” Jawaban ini sungguh berbeda dengan jawaban kita pada umumnya. Jawaban nenek ini sungguh luar biasa untuk seorang nenek yang buta huruf, yang tidak pernah menyenyam bangku pendidikan dan juta pernah belajar teologi. Selama hidupnya memang setia dalam imannya, ketika masih muda dan sehat, dia bersama suaminya yang juga sudah dipanggil oleh Tuhan, adalah pengurus Gereja. Dalam masa tuanyapun beliau selalu berusaha hadir dalam misa di Gereja pada hari Minggu dan iman yang dia hanyati, dia tanamkan dalam diri anak-anaknya. Nenek tua itu percaya dan mengikuti Yesus bukan terutama supaya nanti setelah mati masuk surge, tetapi karena percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Dia juga percaya bahwa Tuhan akan memberi yang terbaik baginya kelak.

Bagi saya ini adalah iman yang sederhana dan mendalam. Banyak orang beriman atau beragama atau mengikuti Yesus dengan harapan kelak setelah mati tidak masuk neraka tetapi masuk surga. Atau bisa dikatakan mengikuti Yesus karena takut masuk neraka. Hal ini memang baik, tetapi iman yang demikian kuranglah mendalam karena iman demikian bukan karena sungguh percaya kepada Yesus tetapi karena mengharapkan sesuatu. Kiranya pikiran yang demikian pula yang ada dalam diri ibu anak-anak Zebedeus yang meminta supaya kelak bila Yesus datang dalam kerajaan-Nya, memerintahkan agar kedua anaknya duduk di sebelah kanan dan sebelah kiri Yesus. Permintaan ibu itu baik, tidak ada salahnya karena mengharapkan anak-anaknya kelak masuk surga dan tinggal bersama dengan Yesus dalam kerajaan-Nya. Namun permintaan itu menjadi kurang baik karena seakan kebahagiaan surga itu bisa diperoleh dengan sia-sia. Juga seakan bahwa mengikuti Yesus hanya beriorientasi pada supaya masuk surga, bukan karena percaya kepada Yesus. Atas permintaan itu, Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang menginginkan masuk surge, harus siap meminum cawan yang diminum Yesus sendiri. Artinya bahwa setiap orang yang mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh, mengikuti sabda-Nya dan jalan hidupnya, yakni penderitaan demi kerajaan Allah, pasti akan masuk surge. Namun belajar dari pengalaman di atas tadi, kita mengikuti Yesus dan jalan hidup-Nya adalah karena kita percaya, dan kita percaya bahwa Yesus pasti akan memberi yang terbaik kepada kita pada hidup sekarang ini dan terutama pada kehidupan kelak.

Ibu anak-anak Zebedeus sungguh merindukan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibu itu mengharapkan anak-anaknya kelak masuk surga, sehingga dia tidak malu-malu meminta hal itu kepada Yesus. Kita bisa bermenung lewat kerinduan dan harapan ibu itu atas anak-anaknya. Bermenung dari permintaan ibu itu, kita bisa berenung dan bertanya, “Sejauh mana kerinduan ibu atau orang tua agar anak-anaknya bahagia dan kelak masuk surga?’

Banyak orang tua mengharapkan anak-anaknya bahagia dan kelak masuk surga, tetapi kiranya tidak cukup hanya berharap, tetapi harus bekerja keras atau berjuang agar anak-anaknya mengikuti jalan hidup yang dijalani oleh Yesus. Inilah tugas dan tanggungjawab orang tua dalam keluarga kristiani. Namun tidak sedikit pula orang tua yang tidak peduli akan hidup iman anak-anaknya, tidak peduli anak-anaknya bahagia dalam hidup sekarang ataupun dalam kehidupan kekal. Banyak orang tua yang menganggap bahwa yang terpenting bagi anak-anak adalah mencukupi kebutuhan jasmani anak. Oleh karena itu, lewat sabda hari ini, para orang tua diajak untuk bertobat, yakni memperhatikan kehidupan iman anak-anaknya, berjuang agar anak-anaknya setia mengikuti Yesus dalam hidup sekarang, sehingga kelak, pantaslah orang tua berharap bahwa anak-anaknya menikmati kebahagian di surga dalam kerajaan Allah. Amin.

Pendidikan Katolik: Tanamkan Semangat Misionaris

Pendidikan Katolik: Tanamkan Semangat Misionaris

(Balikpapan 19/3/2011)Peringatan 100 tahun pendidikan Katolik di Kalimantan Timur merupakan salah satu momen, titik pijakan refleksi pendidikan Katolik 100 tahun mendatang. Insan pendidik harus terus membawa semangat roh pendidikan yang sudah ditanamkan para misionaris 100 tahun silam di Laham, Kaltim.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Samarinda Pastor Nicolas Setija saat membacakan sambutan Uskup Agung Samarinda pada seminar Refleksi Karya Pendidikan Katolik Menuju Kualitas Pendidikan di Masa Depan .

Seminar pendidikan yang diadakan di Hotel Adika Bahtera Balikpapan ini dalam kaitan memperingati 100 tahun karya pendidikan Katolik di Kaltim sekaligus HUT ke-37 Yayasan Pendidikan Katolik Yos Sudarso Balikpapan.

Menurut Nicolas, semangat roh pendidikan yang sudah ditanamkan para misionaris 100 tahun di Laham adalah tidak menyerah menghadapi kesulitan dan tekun mencari jalan keluar.

Pendirian sekolah pertama di Laham tahun 1911 tak lepas dari berbagai kesulitan, seperti susah mencari peralatan dan keperluan sekolah, serta sulit mencari murid. Hari pertama hanya ada 10 laki-laki dan akhir tahun ada 31 orang. Orangtua tidak melepas anaknya tinggal di asrama dan sekolah karena dulu harus membantu di kebun. Pemerintah kolonial pun tak mendukung karena saat itu manfaat sekolah tak diperhatikan.

Para misionaris mencari murid dengan jalan dari kampung ke kampung di pedalaman. Pendekatan dan sosialisasi makna pendidikan kepada kepala kampong dan pemerintah kolonial Belanda dilakukan. Hasilnya, selama 10 tahun jumlah murid menjadi 92. Rata-rata ada penambahan 6-7 murid per tahun.

Dalam perkembangan zaman, lanjut Nicolas, karya pendidikan Katolik diteruskan Yayasan Pendidikan Pengajaran dan Pembangunan Rakyat (YP3R) dan berkembang 100 tahun dengan munculnya Yayasan Pendidikan Katolik Harapan Mulia Tarakan, Budi Bakti Karya MASF, Yos Sudarso Balikpapan, Elifa Mitra Setia FSE, Perkumpulan Dharma Putri Suster SPM, dan Gabriel Manek PRR. Saat ini di Kaltim ada 31 sekolah dan 7.248 murid.

Katolik menjadi ciri khas dan identitas karya pendidikan Katolik sepanjang masa, walaupun ada banyak persoalan global dalam dunia pendidikan. Inilah dimensi religious yang membedakan dengan sekolah negeri maupun swasta.

Ketua panitia yang juga Pembina di Yayasan Yos Sudarso Balikpapan, Daniel Thio, mengatakan, masalah yang dihadapi yayasan dan sekolah saat ini adalah klasik, yakni keterbatasan dana. Berkurangnya minat orangtua menyekolahkan anaknya ke sekolah Katolik tak bisa terhindarkan.

Tantangan semakin banyak tatkala sekolah Katolik berhadapan dengan sekolah negeri. "Di sekolah kami memang kuota siswa terpenuhi, namun dari tahun ke tahun peminat turun. Kecenderungan sekarang, sekolah negeri lebih favorit," ujar Daniel.

Sekolah Katolik memang terus berbenah. Namun, kata Daniel, sekolah lain juga sama kencang berbenah. Agar mendapat tempat di hati masyarakat, sekolah Katolik sudah terbuka. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Yos Sudarso, 10 persen gurunya beragama non-Katolik. Siswa separuhnya juga non-Katolik.

Seminar ini antara lain menghadirkan Pastor Markus Wanandi SJ, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta, sebagai pembicara kunci. Romo Markus menyentil banyak tentang paradigma dan sistem pendidikan lawas yang mesti ditepikan apabila ingin memajukan karya pendidikan Katolik di Kaltim.

Di negara Amerika Serikat, misalnya, sekolah-sekolah yesuit malah menanti disupervisi. Sebab, dari supervisi itu digali masukan dari siswa dan guru. Siswa ditanya apa yang kurang pada pendidikan di sekolah, sedangkan guru ditanya apa yang diajarkan sudah bagus. "Lalu ini digabungkan dan ditindaklanjuti," kata Romo Markus.

Sementara di Indonesia, supervisi dianggap sebagai mencari-cari kesalahan sekolah. Tak heran jika sekolah dan guru malah cemas jika hendak disupervisi. "Karena itu, kami sedang merancang kursus bagi para kepala sekolah agar mereka tahu apa sebenarnya supervisi," kata Romo Markus.

Daniel Thio mengatakan, seminar ini untuk merefleksikan apa yang terjadi dan apa yang dihadapi sekolah , yayasan-yayasan Katolik, serta umat saat ini. "Itu sangat penting agar ke depan karya pendidikan Katolik semakin berkualitas," ujarnya.(kompas.com)

Renungan Hari biasa Pekan II Prapaskah, Selasa 22 Maret 2011

Renungan Hari biasa Pekan II Prapaskah, Selasa 22 Maret 2011
Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23; Mat 23:1-12

Ingatlah bahwa kepada siapa Tuhan memberi berkat lebih besar, kepadanya dituntut pelayanan yang lebih besar pula, dia pula harus menjadi pelayan bagi sesama.

BACAAN INJIL:
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Demikianlah Injil Tuhan hari ini.

RENUNGAN:
Para pemimpin Negara atau pejabat Negara ini ketika mereka berkampaye selalu mengatakan diri mereka adalah pelayan masyarakat yang hendak melayani masyarakat. Kata-kata ini memang indah untuk di dengar dan kerap menjadi sejata yang ampuh untuk bisa menarik simpati masyarakat untuk memilih mereka. Kalau memang benar bahwa mereka sungguh mau menjadi pelayan masyarakat, alangkah besarnya biaya yang mereka habiskan untuk menjadi pelayan masyarakat. Karena bukan rahasia bahwa dalam masa kampanye dan untuk mendapatkan simpati, kedudukan yang mereka peroleh, mereka menghabiskan banyak biaya dan bahkan mereka tidak segan-segan berbuat curang untuk mendapatkan tujuan mereka. Ada juga kepala daerah dalam spanduk mereka mengadopsi kata-kata Yesus yang mengatakan mereka datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Slogan yang sangat indah untuk dibaca. Tetapi juga semua pasti tahu bahwa untuk dapat duduk menjadi kepala daerah, mereka menghabiskan banyak uang, mereka melakukan banyak hal dan bahkan menghalalkan banyak cara. Melihat banyaknya uang dan banyaknya hal yang mereka korbankan untuk mendapatkan apa yang mereka ingin raih, tentu slogan itu pasti hanya tinggal slogan saja, hanya sebagai senjata ampuh untuk menarik simpati masyarakat. Sebab kenyataannya setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, hidup dan perilaku mereka tidak mencerminkan sebagai seorang pelayan, tetapi bertindak sebagai bos, juragan dan pemimpin yang harus dilayani. Mereka menuntut pasilitas yang mewah, menuntut gaji dan harus dihormati sebagai orang yang terhormat.

Slogan itu mereka gunakan justru sebenarnya memperalat mental manusia yang pada umumnya memiliki mental untuk dilayani. Sehingga dengan slogan itu, masyarakat pada umumnya pasti merasa senang karena menganggap ada yang mau menjadi pelayan bagi mereka. Dan memang manusia memiliki mental untuk menjadi yang terbaik. Orang tua ataupun pendidik, seringkali mengharapkan dan bermimpi agar anak-anak mereka menjadi yang terbaik dari orang lain. Tidak ada orang tua yang mengharapkan anak-anaknya menjadi pembantu rumah tangga, menjadi pelayan di restouran atau di mana saja. Semua pasti berharap agar anak mereka menjadi pemimpin, menjadi bos.

Mental demikian sungguh dikritik oleh Yesus dan itulah yang dilaksanakan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus mengharapkan agar para muridnya khususnya yang menjadi pemimpin umat tidak sampai jatuh pada mental yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Namun kiranya melihat situasi yang ada dalam hidup manusia sekarang ini, kita merasa bahwa sabda Yesus ini kurang actual atau kurang laku untuk dijadikan pedoman hidup manusia zaman ini. Memang dengan melihat mental manusia sekarang ini, sabda Yesus mengajak agar senantiasa bersikap rendah hati dan hidup menjadi pelayan dan menjadi pemimpin yang rendah hati, sepintas tidak lagi actual. Tetapi justru sabda Yesus ini saat ini menjadi sangat actual bagi para pengikut-Nya. Ajaran ini juga menjadi sangat actual karena karena manusia sekarang ini sudah kurang menyadari bahwa hidup dan apapun yang dia miliki adalah karena anugerah dan berkat Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Kesadaran ini sudah kurang sehingga menganggap bahwa semua yang dia miliki juga jabatan dalanya karena kerja kerasnya, karena dia sudah mengeluarkan banyak dana atau uang untuk itu sehingga merasa sudah sewajarnya dia mendapatkan penghormatan atau kekayaan dari kerja kerasnya.

Sabda Yesus ini memang ditujukan bagi para pengikut-Nya. Tetapi jelas bahwa para pengikut Yesus pada zaman sekarang ini pasti banyak yang mendapat kesempatan menjadi pemimpin, oleh karena itu, baiklah kiranya mendengarkan dan menghayati sabda Yesus ini. Hendaklah para saudara yang mempunyai jabatan seabgai pemimpin, jadilah pemimpin yang baik, yakni pemimpin yang tidak hanya mengatakan atau merencanakan hal yang baik, tetapi melakukan apa yang baik, melaksanakan terlebih dahulu kata-kata dan rencan yang baik itu. Para pemimpin janganlah kiranya hanya merencanakan dan membebankannya kepada masyarakat. Juga hendaknya selalu bersikap rendah hati, gunakanlah jabatan dan kekayaan bukan untuk dilayani tetapi suatu kesempatan emas untuk melayani sesama. Hidup, harta maupun jabatan itu dipercayakan oleh Tuhan bukan untuk dinikmati sendiri tetapi jalan untuk semakin lebih banyak dalam melayani orang lain yang adalah sesama kita. Seorang pemimpin yang dijiwai oleh pelayanan dan bertindak sebagai pelayan, itulah yang diberkati dan berkenan pada Allah. Ingatlah bahwa kepada siapa Tuhan memberi berkat lebih besar, kepadanya dituntut pelayanan yang lebih besar pula, dia pula harus menjadi pelayan bagi sesama.

Sabda Yesus ini tentu juga berbicara kepada kita semua. Yesus mengharapkan agar kita hidup tidak seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang seringkali menjalankan tugas atau ibadah mereka hanya untuk mencari hormat dari orang lain. Mereka sering mengatakan yang baik tetapi tidak melaksanakannya. Sebagai pengikut Yesus, kita hendaknya menjalankan hidup iman dan perbuatan baik kita bukan untuk mengejar kehormatan atau bukan supaya dihormati, tetapi sebagai pelayanan kepada sesama. Kita hendaknya menjadi pelaku kebaikan, bukan hanya mengatakan hal-hal yang baik. Orang yang dalam hidupnya melakukan perbuatan baik dan dirasuki oleh pelayanan, dia tidak akan surut untuk berbuat baik melayani sesama walaupun tidak mendapat pujian dari orang lain. Amin.

Kolom Berbagi Kesaksian : Kisah Kasih

Kolom Berbagi Kesaksian : Kisah Kasih

Anda dapat pula mengambil bagian dalam pelayanan kesaksian dan artikel yang disediakan oleh situs ini. Kirimkan kesaksian (Kisah Kasih)dan artikel Anda dengan disertai alamat lengkap yang bisa dihubungi beserta foto Anda ke alamat email paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, parokimariagk3lingga@yahoo.com. Semoga kesaksian dan artikel Anda dapat memperkuat iman saudara-saudari kita yang lain dan nama Tuhan semakin dimuliakan.

Berbagi Berita : Misi Bunuh Diri Pekerja Reaktor Nuklir

Misi Bunuh Diri Pekerja Reaktor Nuklir

(21/3/2011)PESAN-PESAN memilukan dikirim para pekerja yang mencoba untuk mencegah bencana nuklir skala penuh di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang bermasalah di Jepang. Pesan-pesan itu mengungkapkan, mereka tahu betul bahwa mereka sedang menjalankan misi bunuh diri.

Seorang dari mereka, yang disebut sebagai Fukushima Fifty, mengatakan, mereka menerima dengan tabah nasib mereka seperti suatu hukuman mati. Seorang yang lain, setelah menyerap dosis radiasi yang hampir mematikan, mengatakan kepada istrinya, "Tolong terus lakoni hidup dengan baik, untuk sementara saya tidak bisa pulang."

Tingkat radiasi di pintu masuk PLTN itu berada pada level yang akan langsung membunuh para pekerja atau menyebabkan mereka menderita penyakit mengerikan dalam sisa hidup mereka. Para ahli mengatakan, pakaian kedap udara yang mereka kenakan hanya sedikit bisa menghentikan paparan radiasi.

Harian Inggris, The Dailymail, akhir pekan lalu melaporkan, kelompok Fukushima Fifty (Limapuluh Orang Fukushima) itu tetap bertahan setelah 700 rekan mereka melarikan diri saat tingkat radiasi menjadi terlalu berbahaya. Identitas mereka belum terungkap, tetapi para ahli mengatakan, mereka sepertinya para teknisi garis depan dan petugas pemadam kebakaran yang sangat mengetahui pembangkit itu.

Diperkirakan, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki paruh baya yang menjadi sukarelawan karena mereka sudah memiliki anak-pekerja muda mungkin akan menjadi tidak subur oleh dosis radiasi yang tinggi. Mereka disebut Fukushima Fifty, tetapi sesungguhnya kelompok itu berjumlah 200 orang yang bekerja empat shift secara bergiliran. Mereka bekerja untuk menghidupkan kembali sistem pendingin reaktor Fukushima yang rusak akibat hantaman tsunami.

Jumat lalu, pesan-pesan menyayat hati mereka kepada keluarganya dipublikasikan televisi nasional Jepang yang telah mewawancarai kerabat mereka. Seorang anggota keluarga mereka berkata, "Ayah saya masih bekerja di pembangkit itu. Dia mengatakan, dia menerima nasibnya, seperti sebuah hukuman mati." Seorang perempuan mengatakan, suaminya yang berada di pembangkit itu terus bekerja dan sepenuhnya menyadari ia sedang dibombardir radiasi.

Perempuan yang lain mengatakan, ayahnya yang berusia 59 tahun secara sukarela mengajukan diri untuk tugas di Fukushima. Ia menambahkan, sebagaimana dikutip Dailymail, "Saya mendengar bahwa ia secara sukarela meskipun ia akan pensiun dalam waktu setengah tahun dan mata saya jadi penuh dengan air mata. Di rumah, ia tidak tampak seperti seseorang yang bisa menangani pekerjaan besar. Tapi hari ini, saya benar-benar bangga padanya. Saya berdoa agar dia kembali dengan selamat."

Gadis lain yang ayahnya bekerja di reaktor Fukushima itu berkata, "Saya tidak pernah melihat ibu saya menangis begitu kencang." Dia menulis di Twitter, "Orang-orang di pembangkit itu berjuang, mengorbankan diri mereka untuk melindungi Anda. Semoga Ayah kembali dalam keadaan hidup."

Dari semua mereka yang bertahan di pembangkit itu, lima diantaranya diketahui meninggal dan dua hilang. Sedikitnya 21 orang lainnya terluka. Seorang pekerja perempuan yang mengaku bertugas di reaktor Fukushima Nomor 2 saat tsunami melanda telah mem-posting di akunnya di internet tentang apa yang terjadi.

Michiko Otsuki, yang sejak saat itu mencari perlindungan, menulis pada sebuah situs jejaring sosial Jepang yang diterjemahkan The Straits Times sebagai berikut: "Di tengah suara alarm tsunami pada pukul 03.00 pada malam hari ketika kami tidak bisa melihat ke mana kami pergi, kami terus bekerja untuk memulihkan reaktor-reaktor di tempat kami, yang berada tepat di tepi laut, dengan kesadaran bahwa ini bisa berarti kematian. Mesin yang mendinginkan reaktor itu betul-betul berada di tepi laut, dan hancur oleh tsunami. Setiap orang bekerja mati-matian untuk mencoba memulihkannya."

"Memerangi kelelahan dan perut kosong, kami menyeret diri kembali bekerja. Ada banyak yang belum dapat berhubungan dengan anggota keluarga mereka, tetapi menghadapi situasi ini dan bekerja keras."

Dr Michio Kaku, seorang ahli fisika teoritis, mengatakan kepada jaringan televisi AS, ABC, bahwa situasi telah memburuk dalam hari-hari terakhir. "Kami berbicara tentang para pekerja yang masuk ke reaktor itu mungkin sebagai misi bunuh diri," katanya.

Michael Friedlander, yang telah bekerja di manajemen krisis di pembangkit nuklir yang sama di Amerika, menambahkan, para pekerja mungkin makan ransum militer dan minum air dingin untuk bertahan hidup. "Di tengah rasa dingin, gelap, dan Anda melakukan hal itu sambil mencoba untuk memastikan Anda tidak mencemari diri Anda saat Anda sedang makan," katanya.

"Saya dapat memberitahu Anda dengan kepastian 100 persen bahwa mereka benar-benar berkomitmen untuk melakukan apa pun yang secara manusiawi perlu untuk membuat pembangkit itu berada dalam kondisi aman, bahkan dengan risiko hidup mereka sendiri." (kompas.com)

Disadur dari :mirifica.net/KWI

Renungan Hari biasa Pekan II Prapaskah, Senin 21 Maret 2011

Renungan Hari biasa Pekan II Prapaskah, Senin 21 Maret 2011
Dan 9:4b-10, Mzm 79:8,9,11,13, Luk 6:36-38
(Benediktus)

“Jangan kita menunda untuk bermurah hati kepada sesama, karena Allah sudah bermurah hati kepada kita.”

BACAAN INJIL:
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Paroki Tigalingga termasuk paroki kecil, saat ini mendapat tambahan dana untuk operasional paroki. Hingga saat ini juga masih berjuang mengumpulkan dana untuk melanjutkan pembangunan Gereja yang sudah tertunda selama 2 tahun lebih, banyak usaha yang dilakukan, proposal juga banyak yang sudah disebarkan, namun belum membuakan hasil yang tampak. Pembangunan masih belum bisa lanjutkan, fondasi belum masih tetap fondasi. Dalam situasi yang demikian, sekali waktu pernah beberapa kali seorang pengurus Gereja dari paroki lain datang ke paroki dan beliau membawa proposal pembangunan Gereja stasi mereka yang sedang dalam pembangunan. Beliau meminta bantuan dari paroki untuk pembangunan gereja stasi tersebut. Sekali waktu, pernah pula seorang pengurus Gereja dari Paroki lain datang membawa proposal Natal Ekumene dan juga meminta bantuan dana untuk kegiatan tersebut. Secara manusiawi saya berpikir bahwa nasib mereka sama dengan nasib kami saat ini, yakni sama-sama kekurangan dana untuk suatu tujuan yang baik, sama-sama berusaha mencari dana untuk suatu tujuan yang baik. Dalam hati juga saya juga berkata, “Nasib sama, kami juga paroki yang kekurangan, membutuhkan tambahan dana, saat ini juga membutuhkan bantuan untuk melanjtukan pembangunan Gereja. Tetapi mengapa mereka justru datang kepada kami yang juga kekurangan dan lagi mencari dana? Apakah mereka tidak tahu bahwa kami juga sama seperti mereka? Apa yang bisa kami berikan, karena toh kami juga kekurangan dan masih membutuhkan bantuan jauh lebih besar dari yang mereka anggarkan dalam proposal? Namun kiranya itu hanya pikiran manusiawi saja mengingat karena juga merasa kekurangan, karena pada akhirnya saya juga kasihan kepada mereka yang sudah datang jauh-jauh, berharap dapat bantuan dan mereka sudah berkorban untuk melakukan tugas Gereja. Saya membayangkan diri mereka adalah diri saya sendiri saat ini, yang tentunya bila pulang dengan tangan kosong, pasti juga akan merasa sedih. Maka dengan senang hati, kami tetap memberi sesuai dengan kemampuan kami. Karena bagaimanapun, memberi dari kekurangan, itu jauh lebih berharga dibanding dengan memberi dari kelebihan.

Namun bila membaca sabda Yesus hari ini yang mengatakan hendaklah kita bermurah hati seperti Bapa yang adalah murah hati, tentu memberi atau membantu sesama karena kasihan, itu tidaklah cukup. Tindakah memberi dan membantu tidak baik hanya karena kita memiliki lebih dan lebih tidak baik lagi hanya karena kasihan saja. Memberi atau membantu hanya karena kasihan, memiliki sifat kurang baik, karena itu berarti kita memposisikan kita berada di atas orang yang kita bantu. Tetapi lebih baik bila kita membantu karena kita menghayati dan menganggap bahwa mereka juga saudara kita, dan kita hendak menghidupi cinta kasih dengan perwuju dan untuk saling membantu.

Hidup yang disemangati oleh cinta kasih, akan terpancar juga dalam hidup yang senantiasa rela berbagi sukacita dan rela berbagi berkat kepada sesama. Sikap hidup demikianlah kiranya disebut dengan sikap murah hati. Namun sikap hidup yang demikian tentulah sulit untuk terwujud bila kita belum menyadari bahwa kita telah banyak mendapatkan perbuatan cinta dari orang lain, kalau kita belum menyadari bahwa kita sudah mendapatkan kemurahan hati dari orang lain terutama dari Tuhan sendiri.

Dalam sabda hari ini Yesus mengajak kita untuk bermurah hati kepada sesama, sama seperti Bapa yang adalah murah hati. Sabda ini mengingatkan kita bahwa Allah Bapa sudah terlebih dahulu bermurah hati kepada kita, hanya kadang kita tidak menyadarinya. Yesus menyadarkan kita akan kemurah hatian Allah Bapa yang sudah kita terima. Hidup yang kita peroleh adalah karena kemurah hatian Allah. Allah yang murah hati juga senantiasa melindungi, melimpahkan berkat-Nya dan seantiasa mengasihi kita. Semuanya sekali lagi hanya karena kemurah hatian Allah, bukan karena kita layak dan pantas mendapatkannya. Namun seringkali kita kurang menyadarinya. Kita sering mengangap baru merasakan kemurah hatian Allah kalau permohonan kita terkabul, kalau kita tidak memiliki persoalan hidup dan kita memiliki sesuatu yang berlebih. Kita tidak sanggup melihat bahwa banyak kemurah hatian Allah Bapa yang sudah kita terima. Kita bisa hidup, kita bisa bertahan hidup hingga sekarang adalah karena Allah bermurah hati kepada kita. Karena kurang menyadari dan mesyukuri apa yang sudah kita terima membuat kita berpikir bahwa kita masih kekurangan sehingga kita berpikir bahwa kita bisa bermurah hati kalau kita keperluan dan apa yang kita butuhkan sudah cukup, terpenuhi dahulu. Banyak diantara kita berpikir, “Saya akan bermurah hati, kalau saya sudah mempunyai banyak.” Atau juga ada yang mengatakan, “Bagaimana mungkin saya bisa bermurah hati, saya saja masih kekurangan, masih sangat mengharapkan kemurah hatian Allah dan sesama?” Hidup yang demikian, tidak akan pernah menikmati hidupnya, tidak akan pernah bersyukur dan selalu meresa kekurangan.

Selain itu Yesus mengatakan bahwa kita seringkali mengaharapkan agar Allah bermurah hati atas kita, juga seringkali mengaharapkan agar orang lain bermurah hati kepada kita, tetapi kita sendiri tidak melakukannya. Bahkan mungkin karena pikiran di atas tadi, kita malah berbuat yang tidak baik kepada sesama. Bila kita mengharapkan kemurah hatian dari sesama, tetapi kita juga berbuat hal yang sama kepada sesama kita. Kita sering dengan mudah mengatakan bahwa orang lain tidak bermurah hati, padahal kita sendiri tidak bermurah hati kepada sesama. Yesus mengatakan kalau kita hendak mengharapkan orang lain bermurah hati kepada sesama, baiklah kita terlebih dahulu bermurah hati kepada sesama kita. Dengan bermurah hati kepada sesama, orang lain akan melihat kemurah hatian kita dan orang lainpun akan membuat hal yang sama terhadap kita. Namun tetap kita ingat bahwa kita melakukannya bukan karena sekedar agar orang lian melakukan hal yang sama kepada kita, tetapi karena kita sadar bahwa Allah sudah terlebih dahulu bermurah hati kepada kita. Kemurah hatian Allah Bapa yang sudah kita terima juga mengharapkan agar kita melakukan hal yang sama kepada sesama. Dengan bermurah hati, Allahpun akan semakin melimpahkan berkat-Nya kepada kita, karena Dia melihat bahwa berkat-Nya yang Dia berikan kepada kita karena kemurah hatia-Nya juga kita bagikan kepada sesama. Allah akan semakin mempercayakan berkat-Nya kepada kita untuk kita bagikan dan kita dijadikan menjadi saluran berkat bagi sesama. Maka janganlah kita menunda untuk bermurah hati kepada sesama. Amin.

Motivational Video, anti racial and Unity is strength

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)