Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Pastor Ambrosius Nainggolan , OFM.Cap. Dari Pemekaran Paroki Hingga Pemugaran Makam Oppung Dolok

Pastor Ambrosius Nainggolan , OFM.Cap.
Dari Pemekaran Paroki Hingga Pemugaran Makam Oppung Dolok
(Dalam rangka Jubileum Paroki Seribudolok)

Paroki Saribudolok menginjak usia 75 Tahun. Kehadiran paroki yang cukup berkembang saat ini tidak terlepas dari peran Pastor Elpidius van Duijnhoven atau yang lebih dikenal dengan oppung Dolok. Kegembiraan ini disyukuri dengan merayakan Pesta Jubileum 75 Tahun Paroki Saribudolok

Bagi Pastor Ambrosius Nainggolan, OFMCap, moment jubileum Paroki Saribudolok saat ini adalah kesempatan bersyukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan paroki ini. Peristiwa ini menjadi kesempatan yang baik untuk merefleksikan kehadiran gere a selama 75 tahun di Paroki Saribudolok.

Untuk itu dibuat beberapa kegiatan mulai dari ziarah sambil memperkenalkan Oppung Dolok terutama dengan semangatnya, pengabdiannya, dan sampai kepada acara puncak dengan perayaan bersama pada 27-28 November2010. Saat itu juga diundang putera-puteri paroki ini yang ada di perantauan, baik itu awam,biarawan/wati, dan pemerhati paroki.

Pastor paroki ini menjelaskan perkembangan selama 75 tahun paroki ini sangat pesat dalam arti jumlah umatnya, jumlah stasi pun juga orang-orang, putera-puteri paroki ini yang bersedia menjadi imam, suster, bruder. "Saya sangat memuji paroki ini dalam hal panggilan," jelas pastor yang ditahbiskan pada 6 Januari 2001 ini. "Tetapi memang dalam hal, katakanlah kegiatan yang lebih terorganisir, masih belum tertata dengan baik. Terutama menyangkut tenaga awam. Kami melihat bahwa disini ada keterputusan generasi. Jadi katakanlah mulai dari Doktor Bosi mungkin sampai kepada bapak ini (sambil menunju Bapak Fransiskus Sipayung yang kebetulan hadir saat
wawancara) masih kuat sampai kepada generasi Albert Sinaga. Di situ masih terandalkan awam. Tapi sesudah itu saya lihat, sudah terputus. Pada generasi muda, berusia sekitar 30-40 tahun, saya belum melihat orang yang bisa diandalkan untuk gereja. Pengkaderan dilihat amat perlu untuk regenerasi tenaga awam yang militan," terang pastor kelahiran Palipi 38 tahun lalu ini.

PEMEKARAN PAROKI

Satu hal yang menjadi bagian permenungan pastor ini dalam kesulitannya adalah melihat luasnya paroki ini. Karena itu ia sendiri betul bercita-cita dan untuk pribadinya itu harga mati bahwa paroki ini akan dimekarkan. Selain efektifitas pelayanan, pun juga secara politik sudah saatnya untuk mengambil posisi pemekaran paroki baru di Pematang Raya.

"Saya melihat kalau kita sebagai gereja mau berdiri sendiri, tetapi tertutup pada pemerintahan, kewalahan juga kita jadinya. Jadi biar bagaimana pun untuk pembangunan masyarakat, pembangunan gereja kita harus menggandeng pemerintah saat ini dan tempatnya itu Pematang Raya. Prediksi, pengamatan saya mulai sekarang sampai ke depan, Raya itu akan menjadi pusat pergerakan orang, pusat pergerakan ekonomi, pusat pergerakan politik, sosial kemasyarakatan kabupaten Simalungun. Jadi kita harus hadir di sana. Itulah kiranya cita-cita saya pribadi begitu datang ke paroki ini. Dan langkah pertama sudah dibuat dengan membeli tanah untuk lokasi paroki di Pemalang Raya. Bapak Uskup Mgr A.B. Sinaga dengan segala latar belakang itu tadi, sebenarnya sudah merekomendasikan Pematang Raya menjadi paroki," jelas pastor ini yang sudah membangrm 5 gereja sejak ia hadir di Paroki Saribudolok.

HIDUP MENGGEREJA

Hidup menggereja umat, menurut Pastor Ambrosius mempunyai kelebihan dan kelemahan. Misalnya saja soal ketepatan atau disiplin waktu. Tidak bisa kita mengharapkan kegiatan umat seperti di paroki lain harus jam sekianlah tepat, belum. Situasi menuntut untuk tidak bisa. "Saya melihat tanaman palawija yang lebih banyak mengatur ritrne kehidupan umat disini, termasuk pada hari minggu," terang pastor paroki ini. "Tetapi kehadiran umat di gereja, sekurang-kurangya untuk Saribudolok sendiri ada perkembangan dalam 2 tahun terakhir ini, termasuk juga Bandar Hinalang.

Waktu baru sampai saya di paroki ini, misa hari minggu kadang hanya sepertiga gereja itu terisi. Sekarang sekurang-kurangnya kalau ada pastor, hampir penuh terus gereja. Mungkin udah mulai dirasakan juga apa manfaatnya hidup menggereja," jelasnya. Jumlah umat di Paroki Saribudolok saat ini lebih kurang 4500 KK dengan 61 stasi. Selama 2 tahun menggembala di Paroki Saribudolok Pastor Ambrosius melihat bahwa hubungan dengan gereja tetangga belum ada keistimewaan, belum ada acara-acara formal yang dilaksanakan bersama tapi bahwa saling menyapa waktu jumpa di pesta misalnya, itu wajar. Mungkin karena ikatan keluarga, ikatan adat tidak ada lagi orang di sini yang saling menyudutkan.

HARAPAN

Selain pemekaran paroki, pastor ini berharap agar umat benar menghargai apa yang diwariskan misionaris, karena para misionaris mengorbankan banyak hal. "Itu harus kita hargai dengan ketekunan dalam hidup menggereja," jelasnya sambil memberikan peribahasa "Jangan lupa kacang akan kulitnya". Pastor Ambrosius melihat bahwa peran Oppung Dolok sangat besar untuk paroki. Ia bertahan di daerah Simalungun, boleh dikatakan mulai dari tahbisan pastor sampai akhirnya hayatnya, itu sesuatu yang luar biasa. Memang Oppung Dolok pernah pindah ke Kabanjahe tapi hanya satu kali, tapi dia kembali lagi ke sini. Dia betul-betul menyatu dengan daerah Simalungun ini.

Pesan yang berikutnya yang ingin disampaikannya adalah untuk kemandirian, apakah itu rayon terutama supaya bisa mandiri untuk memperbaiki hidup menggereja keseluruhan, termasuk kepengurusan, sarana peribadatan lalu acara peribadatan dan jangan pernah seorang pun, kalaupun minoritas di tempat itu merasa diri minder. Pendidikan untuk para pengurus Gereja sudah pernah dibuat tapi terputus. Dulu disebut Pembinaan Hidup Menggereja. Terputus sebenamya karena perekrutan yang kurang pas. Pernah juga sekolah vorhanger diadakan, tapi mati suri. Baru tahun lalu tidak ada lagi.

Program ke depan jenis pembinaan ini memang harus dihidupkan itu. Hanya kami perlu tenaga yang lebih punya waktu untuk itu. Kami harap itu tenaga dari berbagai komisi yang ada di KAM ini," harapnya.

PERAN BIARAWAN/I ANAK PAROKI

Sampai sekarang, jum-lah biarawan/biarawati yang berasal dari Paroki Saribudolok berjunllah 250 orang. Selama 2 tahun keberadaan Pastor Ambrosius di Paroki Saribudolok, beliau melihat hanya beberapa anak paroki yang menjadi biarawan/wati yang memberi hati untuk paroki, tapi banyak yang tidak ada. Ia mengaku sebelumnya kurang tahu. Tapi dalam acara malam reuni para biarawan/wati asal paroki nanti diharaplan perhatian dari mereka rurtuk paroki; Bagaimana mereka punya jaringan, enlah grup, entah pemerhati pada paroki ini, entah melalu 'salah satu cata apa yang mau dibuat, itu harus dipikirkan. Pokoknya adalah perhatian mereka ke Paroki Saribudolok.

Satu hal lagi yang ingin diwujudkan Pastor ini adalah dengan memugar makam Opung Dolok, dan membuat tempat doa di sisi makam. Dengan demikian, kelak tempat itu bisa menjadi sebuah tempat ziarah dimana orang bisa berdoa dengan suasana tenang dan tetap mengingat Opung Dolok. Semoga. (Red)

Disadur dari MENJEMAAT, Majalah Keuskupan Agung Medan, No. 12/XXXII/Desember 2010

PAUS: Skandal Seks, Masyarakat Ikut Bersalah

PAUS:
Skandal Seks, Masyarakat Ikut Bersalah

VATICAN CITY, KOMPAS.com — Gereja Katolik harus memeriksa kegagalan dalam ajarannya yang memungkinkan pelecehan seksual yang tak "terbayangkan" terhadap anak-anak oleh para imam dapat berlangsung lama seakan tanpa hambatan.

"Penghinaan" luas yang dialami Gereja Katolik sebagai akibat dari skandal tersebut harus menjadi pendorong untuk melakukan reformasi, demikian dikatakan Paus Benediktus XVI kepada para kardinal yang berkumpul di Roma, Minggu (19/12/2010), sebagaimana dilaporkan Telegraph, Senin. Namun, Paus berpendapat, krisis pelecehan itu harus dilihat dalam "konteks" sosialnya. Ia menunjuk bahwa sebagian persoalan berasal dari sikap permisif masyarakat Barat sejak tahun 1970-an.

Para korban pelecehan seks para imam langsung meradang saat mendengar komentar Paus itu. Mereka mengecam pernyataan Paus sebagai upaya lain otoritas Gereja untuk menghindari tanggung jawab atas skandal tersebut.

Paus berbicara dalam pidato tahunan Natal-nya kepada para uskup dan kardinal, yang berkumpul di istana apostolik Vatikan yang bergaya fresko, Sala Regia. Meski menekankan bahwa kebanyakan imam terhormat, Paus Benediktus mengatakan, pengungkapan pelecehan itu tahun ini telah mencapai "sebuah dimensi yang tak terbayangkan" yang menuntut gereja untuk menerima "penghinaan" itu sebagai sebuah panggilan untuk melakukan pembaruan.

"Kita tahu gaya tarik khusus dari dosa yang dilakukan oleh para imam ini dan tanggung jawab yang melekat pada kita," katanya. "Kita harus bertanya kepada diri sendiri apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki sebanyak mungkin ketidakadilan yang terjadi. Kita harus bertanya kepada diri sendiri apa yang salah dalam ajaran kita yang memungkinkan hal seperti itu terjadi."
Namun, Benediktus mengatakan, kesalahan terletak bukan hanya pada gereja, melainkan juga pada "konteks zaman kita", di mana pornografi anak, penggunaan narkoba, perdagangan seksual sampai pada beberapa tingkat dianggap diperbolehkan. "Ada pasar pornografi anak-anak yang tampaknya menjadi semakin diterima secara normal oleh masyarakat," katanya. "Kerusakan psikologis anak-anak, di mana manusia direduksi menjadi sebuah artikel pasar, merupakan tanda-tanda zaman yang menakutkan." Ideologi yang mendasari ekses-ekses tersebut berasal dari tahun 1970-an, ketika "pedofilia diteorikan sebagai sesuatu yang sudah ada dalam diri seseorang dan bahkan anak", katanya. "Dampak dari teori tersebut nyata saat ini."

Perwakilan para korban pelecehan mengecam komentar Paus itu sebagai "omong kosong". Margaret Kennedy, dari kelompok Minister and Clergy Sexual Abuse Survivors, mengatakan, "Dia mencoba untuk mengatakan bahwa dunia modern itu korup dan garang secara seksual. Menyalahkan masyarakat untuk apa sebenarnya tanggung jawab mereka," katanya. "Tidak seorang pun pada zaman apa pun yang pernah berpikir bahwa orang dewasa melakukan hubungan seks dengan anak-anak merupakan sesuatu yang benar."

Skandal itu pertama muncul ke dalam kesadaran publik di Amerika Serikat tahun 2002, lalu menyebar ke seluruh dunia awal tahun ini, dengan ribuan korban bermuncul di Eropa dan seantero dunia.

Berbagai rincian diungkapkan tentang para uskup yang menutup-nutupi para imam pedofilia dan para pejabat Vatikan yang tutup mata terhadap kejahatan itu selama beberapa dekade. Benediktus sendiri bahkan menghadapi sejumlah persoalan tentang cara penanganannya terhadap krisis tersebut, ketika masih sebagai Uskup Agung di Muenchen, Jerman, dan sebagai Kepala Kantor Vatikan yang bertanggung jawab untuk menangani kasus-kasus pelecehan tersebut.

Sumber : http://internasional.kompas.com/ Selasa, 21 Desember 2010.

Paus Selesaikan Buku Kedua tentang Yesus

Paus Selesaikan Buku Kedua tentang Yesus

Paus Benediktus XVI

VATIKAN, KOMPAS.com — Paus Benediktus XVI telah menyelesaikan buku keduanya tentang Yesus Kristus. Menurut Vatikan, Senin (10/5/2010), buku itu akan segera tersedia dalam beberapa bulan ke depan di toko-toko buku.

Pernyatan resmi Vatikan menyebutkan, buku itu memfokuskan pada kisah sengsara dan kebangkitan Yesus Sang Juru Selamat.

Untuk diketahui, buku pertama Paus Benediktus XVI yang berkisah tentang kehidupan Yesus, terutama masa-masa Dia mewartakan kabar gembira melalui pengajarannya yang diluncurkan tahun 2007 lalu menjadi best seller.

Buku kedua ini rencananya akan diserahkan kepada dua penerbit sekaligus. Selain penerbit Vatikan, Libreria Editrice Vaticana, buku itu juga diserahkan kepada sebuah penerbit di Jerman. Libreria Editrice Vaticana akan menerjemahkan buku tersebut yang ditulis dalam bahasa Jerman sebagai bahasa ibu Paus.

Sumber : http://internasional.kompas.com, Senin, 10 Mei 2010

Renungan Hari Biasa Khusus Adven IV, Selasa 21 Desember 2010 dan dan Rabu 22 Desember 2010

Renungan Hari Biasa Khusus Adven IV, Selasa 21 Desember 2010
Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a, Mzm 33:2-3,11-12,20-21, Luk 1:39-45
(Petrus Kanisius)

"Apa saja yang sudah Saudara/i perbuat bagi sesama terutama yang ‘menderita’ pada masa Adven ini?

BACAAN INJIL:
Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Hari ini kembali kita terkagum-kagum akan Maria, dia sungguh menjadi teladan hidup kaum beriman. Imannya kepada Tuhan bukan hanya memberi dia kekuatan untuk berani menerima tawaran Tuhan, tetapi juga menggerakkan dia untuk berbagi sukacita dan begitu peka akan kebutuhan orang yang membutuhkan pertolongan. Hal ini dinyatakannya kepada Elisabeth saudarinya yang mengandung 6 bulan. Pada usia yang demikianya, tentu Elisabeth sangat membutuhkan bantuan. Maria setelah mendengar keadaan Elisabeth dari malaikat Tuhan, langsung bergegas menuju ke tumah Zakharia, suami dari Elisabeth. Dia memberi salam kepada Elisabeth. Elisabet dan terutama bayi yang dalam kandungannya begitu gembira ketika mendengar salam dari Maria, bahkan sampe dikatakan bahwa anak yang di dalam rahim Elisabeth sampai melonjak kegirangan. Sungguh luar biasa kegembiraan yang dibawa oleh Maria.

Kelahiran Yesus Kristus adalah Allah mengunjungi manusia membawa kegembiraan karena Yesus adalah bukti cinta kasih Allah kepada manusia. Yesus adalah Tuhan yang mewartakan Kerajaan Allah dan menghantar kita kepada keselamatan kekal. Apa yang dilakukan Maria, adalah perwujudan imannya kepada Tuhan. Sama seperti yang telah dilakukan oleh Tuhan sendiri kepada manusia. Lewat teladan Maria, nyata bahwa iman itu tidak tinggal diam atau pasif tetapi harus aktif, harus menggerakkan kita untuk berbagi cukacita kepada sesama, harus menggerakkan kita untuk peka terhadap sesama.

Kenyataannya, banyak orang beriman yang merasa hidup beriman cukup hanya berdoa, rajin ke Gereja, aktif dalam kegiatan gereja, tetapi tidak peduli dengan sesamanya, tidak peka akan sesama yang membutuhkan perhatian, sapaan dan pertolongan. Yesus sendiri mengatakan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Demikianlah seharunya selama masa Adven ini kita aktif melakukan pertobatan dan juga aktif melakukan perbuatan baik kepada sesama, mengunjungi sesama yang mungkin sudah lama tidak aktif ke Gereja, sesama yang imannya goyah dan butuh peneguhan, mengunjungi sesama yang membutuhkan pertolongan dan perhatian kita. Masa adven hendaknya kita gunakan sebagai kesempatan indah untuk membina kepekaan kita kepada sesama kita. Dengan demikian, masa adven sungguh menjadi bermakna bagi kita dan bagi orang lain. Semoga. Amin.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Apa saja yang sudah Saudara/i perbuat bagi sesama terutama yang ‘menderita’ pada masa Adven ini?

2. Berusahalan untuk membina kepekaan kepada sesama, bukan hanya memikirkan diri sendiri.

Renungan Hari Biasa Khusus Adven, Rabu 22 Desember 2010
1Sam 1:24-28, 1Sam 2:1,4-5,6-7, Luk 1:46-56

"Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus."

BACAAN INJIL:
Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Sikap sombong seringkali dengan mudah hinggap di dalam diri kita, bahkan sikap sombong ini bisa tanpa sadar kita lakukan setiap hari dan inilah dosa yang seringkali kita lakukan. Sombong dan menyombongkan diri seakan sudah menjadi bagian dari diri manusia. Sifat ini mungkin secara tidak sadar tertanam dan berkembang karena didikan yang senantiasa menuntut kita untuk menjadi yang terbaik. Orang tua seringkali mengharapkan atau menuntut anaknya menjadi yang terbaik, melebihi orang lain. Tanpa sadar pendidikan yang seperti itu, menanamkan sifat sombong dalam diri anak. Kesombongan akan membuat orang tidak mampun menyadari kelemahan dalam dirinya, tidak mampu melihat dan menghargai kebaikan yang ada pada orang lain. Singkatnya, sifat sombong akan membuat orang ‘merendahkan’ orang lain dan selalu berpikiran negative kepada orang lain, yang pada akhirnya berpuncak pada sikap kurang mampu bersyukur dan tidak lagi melihat peran, rahmat Allah dalam dirinya.

Injil yang kita dengarkan hari ini kita kenal dengan sebuat magnificat. Maginificat ini sungguh kaya dengan ajaran iman dan ungkapan iman. Namun kita coba renungkan kerendahan hati Maria, yang terungkap dalam magnificat ini.

Ketika Elisabet memuji dia, Maria bukannya menjadi sombong karena berkat istimewa yang dia peroleh dan juga setelah mendapat pujian dari Elisabet. Tetapi dengan rendah hati Maria menyadari bahwa kebaikan yang dia terima adalah semata-mata karena Allah melakukan perbuatan besar atas dirinya. Maria sadar bahwa dia akan disebut bahagia karena berkat dan rahmat Allah. Tidak tampak dan tidak ada kesombongan dalam diri Maria, bahkan dia dengan meyakinkan mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menyombongkan diri, menyombongkan berkat yang telah diterima, tetapi hendaknya semuanya digunakan agar Tuhan semakin dimuliakan, Allah semakin dikuduskan oleh banyak orang.

Maria menjadi teladan hidup kita untuk senantiasa bersikap rendah hati di hadapan Tuhand an sesama. Ketika kita melakukan perbuatan baik atau berhasil dan mendapat pujian dari orang, hendaknya kita tidak sombong diri. Kalau kita beroleh rejeki, punya kedudukan, pangkat, harta berlimpah, sehat dan kebaikan lain, baiklah kiranya kita tidak menyombongkan diri dan menyombongkannya kepada sesama. Tetapi hendaknya kita sadar bahwa semuanya itu adalah karena perbuatan Allah atas diri kita. Kita juga hendaknya berani berkata seperti Maria, “…karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku.” Kita juga hendaknya ingat, segala kebaikan yang ada pada kita, yang diberikan oleh Tuhan, kita gunakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan sehingga Tuhan semakin dimuliakan, dikuduskan oleh banyak orang. Dari sebab itu, Sabda hari ini dan teladan Maria mengajak kita untuk bertobat dan bersikap rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama kita. Semua kebaikan yang ada pada kita, bukan karena kehebatan kita, tetapi karena kebaikan, rahmat Tuhan, Tuhan melakukan perbuatan besar dalam diri kita.

Sehubungan dengan hal ini, dalam bacaan pertama, Hana juga memberi teladan kepada kita. Dia sadar bahwa anak yang dia peroleh adalah berasal dari Tuhan, karena belaskasihan Tuhan sehingga dia mempersembahkan anaknya ke hadapan Tuhan. Hana menyatakan kepada kita, bahwa bukan hanya harta, atau kebaikan yang ada pada kita berasal dari Allah bahkan anak-anakpun adalah berasal dari Tuhan dan karena Tuhan melakukan perbuatan besar atas diri para orang tua dan dalam keluarga. Dari sebab itu, orang tua juga hendaknya senantiasa sadar akan hal itu, dan pada akhirnya mempersembahkan anak-anak demi kemuliaan Tuhan. Mempersembahkan anak-anak demi kemuliaan Tuhan, dilakukan dengan mendidik anak-anak dalam iman kepada Tuhan, sehingga anak-anak tidak hanya sekedar hidup, tidak hanya sekedar pintar, tetapi menjadi pribadi-paribadi yang beriman kepada Tuhan. Sehingga anak-anakpun akhirnya tumbuh berkembang untuk memuliakan Tuhan. Semoga hari ini dan pada masa Adven ini, para ibu dan para orang tua juga sadar dan bertobat bahwa yang utama dan jaminan kebahagiaan bagi anak-anak, bukanlah harta, pangkat dan pendidikan, tetapi bila anak-anak dipersembahkan kepada Tuhan dan anak-anak tinggal dalam Allah. Semoga.

REFLEKSI PRIBADI:
1. Apakah selama ini Saudara/i termasuk orang yang rendah hati?
2. Jadikanlah hidup Anda, berkat yang Anda terima untuk memuliakan Tuhan!

PAROKI ST. FRANSISKUS ASSISI SARIBUDOLOK: LADANG PANGGILAN TERSUBUR

PAROKI ST. FRANSISKUS ASSISI SARIBUDOLOK:
LADANG PANGGILAN
TERSUBUR
(Tulisan dalam rangka Jubileum Paroki Seribudolok)

Tak hanya luhan pertanian, peternakan serta perikanan yung luas yang menandakan kesuburan paroki st. Fansiskui Assisi Saribudolok ini. Panggilan hidup meniadi biarawan-hiarawati meniadi ikon kesuburan paroki ini dalam tata kehidupan menggereia Katolik Tentu ini semua tak terlepas dari peran dan perjuangan Oppung Dolok dan vetetan-veteran Gereia.

AWAL KEHADIRAN MISI

1. Tahap Awal: Pastor non Pribumi (tahun 1935 - 1970)

Gereja Katolik Paroki Saribudolo, dirintis dan dikembangkan oleh Misionaris Kapusin Provinsi Belanda, P. Elpidius van Duijnhoven, OFMCap. Pada 16 Februari 1934 P. Elpidius tiba di Belawan, kemudian ditempatkan di Pematangsiantar. Pada 1935 pemerintah Belanda secara resmi mengizinkan misi Katolik masuk ke Tanah Batak. P. Elpidius berorientasi dan bermisi di

daerah Simalungun sebelah Utara dan Timur Danau Toba. Tahun inilah yang dianggap menjadi tahun resmi kehadiran Gereja Katolik di Paroki Saribudolok.

Karena masih sangat terbatas dalam penguasaan bahasa dan Peta daerah, melihat kesempatan sudah terbuka untuk misi Katolik, P. Elpidius merekrut Kenan Mase Hutabarat menjadi 'guru" bahasa, katekis sekaligus rekan dalam bermisi. Ia juga merekrut Laur Viator Hutabarat.

Misi ke Paroki Saribudolok diawali di Saba Dua, sekitar 7 km dari Pematangsiantar. Pada masa ini penduduk daerah Simalungun secara umum masih menganut agama tradisional, hanya sebagian kecil yang sudah beragama Protestan.

Selama 3 tahun P. ElPidius mempelajari daerah Simalungun Atas. Sambil mengamati Prospek misi ternyata ia sudah mulai mendirikan beberapa stasi, 40 - 60 km dari Saba Dua. Sungguh menakjubkan bahwa dalam waktu yang masih sangat.singkat permulaan misinva. yakni Pada 24
November 1935, P. ElPidius telah mengadakan pembaptisan pertama di Haranggaol terhadap Maknir Paulus Sihaloho.

Sebenamya pada masa awal misi, daerah Simalungun Atas tidak hanya dilayani oleh P. Elpidius, tetapi juga oleh P. Nepomucenus Hamer, OFMCaP. yang datang dari Sidikalang. Mereka sungguh menjadi duet misionaris yang handal, bukan hanya di daerah Simalungun tetapi sampai ke Tanah Karo dan Aceh Tenggara. Namun ingatan dan cerita tentang P. Hamers pelan-pelan
redup di ranah Simalungun karena pada akhir tahun 1939 ia lebih memusatkan perhatian di Sidikalang dan tinggal menetap di sana. P. Elpidius pun tinggal sendirian. Walau sendiri, namun naluri misi P. Elpidius tetap menggelora. Dia segera mengatasi kesendiriah itu dengan mendidik dan merekrut tenaga awam (katekis) Pribumi untuk mendukung karya misinya.

Bersama Petrus Datubara, ayah dari Uskup Emeritus KAM, Mgr. Pius Datubara, P. ElPidius mengunjungi stasi-stasi secara teratur dan umat Katolik pun terus bertambah. Melihat perkembangan ini, dipikirkan membuka pusat pelayanan di daerah Saribudolok yang merupakan Pusat Perdagangan dan letaknya cukup sentral antara Pematangsiantar dan Aceh Tenggara. Kebetulan pula di Saribudolok sudah ada stasi kecil. Stasi inilah Yang menjadi pusat kegiatan gerejani bagi P. Elpidius pada awalnya.

Melihat Prospek misi Yang semakin terbuka dan cerah tahun 1951 ia memohon Pengutusan katekis kepada Uskup Medan, Mgr. Ferrerius van Den Hurk. Uskup pun mencoPot "katekis tentara" dari Medan, yakni Bonaventura Yaep Lin Hin atau lebih dikenal Bonaventura. Kemudian mengutusnya ke Saribudolok untuk membantu P. Elpidius. Begitu cintanya umat dan massarakat kepada Bonaventura, ia pun dinobatkan bermarga Purba.

Dalam Periode l95l – 1973 bersama para misionaris hampir 50-an stasi telah mereka dirikan. Dengan perkembangan umat yang begitu pesat dan luasnya wilayah penggembalaan P. Elpidius merasa tidak sanggup bekerja sendiri. Selain dibantu oleh katekis, akhimya ia juga dibantu oleh
misionaris lainnya, yakni P. Hendricus Blaijs, OFMCap. (November 1963 -April 1968) dan P. Evaristus Albers, OFMCap. (Februari 1966 – Agustus 1974).

Perkembangan paroki bukan hanya dalam jumlah umat tetapi juga pertumbuhan dan perkembangan panggilan menjadi biarawan-biarawati. Panggilan hidup menjadi biarawan-biarawati bertumbuh amat subur. Tepatnya pada 01 Agustus 1950 beberapa putri Paroki Saribudolok menjadi suster, di antaranva Sr. Bernadetta Saragih, KSSY dari Stasl Haranggaol, Sr. Marietta purba, KSSY dan Sr. Yosefine Batubara, KSSy yang keduanya berasal dari Stasi Purbasaribu. Mereka menjadi putri Paroki Saribudolok yang pertama sekali menjadi suster. Dari mereka bertiga, kini hanya Sr. Bernadetta Saragih, KSSY yang masih berjiarah di dunia ini. Sementara itu, pada 0l Agustus 1961 seorangputra Paroki Saribudolok telah masuk novisiat hingga ditahbiskan menjadi imam. Dialah P. Thomas Saragi, OFMCap. Yang menjadi imam pertama dan ditahbiskan pada l0 Februari I 968.

2. Masa transisi: Pastor non pribumi - Pastor Pribumi (tahun 1970 - 1985)
Secara umum bukan hanya umat yang bertambah pesat, panggilan untuk menjadi calon biarawan-biarawati juga bertumbuh dengan subur. Imam-imam pribumi mulai muncul. Maka sejak Juli 1970 Paroki Saribudolok tidak lagi hanya dilayani oleh pastor-pastor dari Belanda tetapi juga para pastor pribumi. Pastor pribumi yang pertama sekali berkarya di Paroki Saribudolok adalah P. Fidelis Sihotang, OFMCap.

3. Tahap Ketiga : Pastor pribumi (tahun 1985 * 1991)
Seiring dengan perjalanan waktu, usia PastorElpidius semakin lanjut dan misionaris dari Belanda pun semakin berkurang. Tugas kegembalaan pun harus diemban oleh pastor pribumi. Bahkan pada periode ini sebagai tanggungjawab umat terhadap keberadaan imam, cukup banyak umat yang menyekolahkan anaknya ke Seminari untuk dididik menjadi imam. Hingga tahun 2010, anak paroki Saribudolok telah 23 orang ditahbiskan menjadi imam,2 diakon, 4 bruder yang
telah berkaul kekal, 150-an suster yang tersebar di berbagai kongregasi/tarekat dan masih banyak lagi calon-calon imam dan suster yang sedang belajar di seminari menengah, seminari tinggi dan novisiat. Umat Paroki Saribudolok sungguh bangga bila anak-anaknya terpanggil menjadi biarawan dan biarawati.

4. Tahap Keempat : Dewan pastoral Paroki (tahun I99I - sekarang)
Sesudah sekitar 56 tahun berkarya, P. Elpidius telah “tiada” dan kepemimpinan paroki telah diemban para pastor pribumi. Paroki Saribudolok pun dianggap telah dewasa. Sebagai pengikut Kristus, Gereja sungguh sadar bahwa Tuhan tidak hadir secara fisik dan menuntun umat dengan perintah nyata sebagaimana lazimnya seorang guru, namun sungguh percaya akan kehadiran Kristus secara batiniah dan pendampingan Roh Kudus. Maka DPP disahkan dan dikukuhkan dalam jabatan kepemimpinan kolegalial dan beberapa karunia pelayanan juga dilembagakan untuk memelihara tata tertib dan melestarikan kesinambungan.

Maka pada tahun 1990 dibentuklah Dewan Pastoral Paroki (DPP). Dengan adanya DPP, penggembalaan paroki bukan lagi hanya ditanggungjawabi oleh para pastor melainkan bersama
awam yang dianggap mampu dan berdedikasi.

Seiring dengan perjalanan waktu, Paroki Saribudolok pun menunjukkan pertumbuhan jumlah umat yang amat signifikan. Tercatat per 31 Desember 2009, Paroki Saribudolok telah berjumlah 61 stasi dan 5 persiapan stasi, yakni: Mardingding (31 KK), BagotRaja(15 KK), Hoppoan(18 KK), SinarBaru (20 KK), Gaja pokki (lS KK). Jadi, praktisnya Paroki Saribudolok terdiri dari 66 stasi. Dengan jumlah umat30.553jiwa . Selain karya dalam pewartaan iman, paroki ini juga telah lama bergerak dalam karya kesehatan dan karya pendidikan. Karya kesehatan, yakni Poliklinik St. Fransiskus (dikelola para suster SFD). Karya pendidikan, antara lain: TK St, Maria (dikelola para suster SFD); SD Don Bosco, SMp Bunda Mulia, SMP St. Agustinus dan SMA Duijnhoven yang dikelola yayasan St. Yosef Medan. Untuk mendukung sekolah ini didirikan asrama putera
yang dikelola oleh Kapusin provinsi Medan dan asrama puteri oleh para suster SFD.

Di Paroki Saribudolok terdapat tiga latar belakang budaya dominan, yakni Simalungun, Karo dan Toba. Baik dari segi adat maupun bahasa, ketiga budaya ini tetap saling mempengaruhi satu samalain. Akan tetapi di pihak lain sebagai gereja, kita juga perlu menjaga dan mengembangkan budaya Simalungun dalam terang iman Katolik. Jika budaya Simalungun ingin dikembangkan, Pematang Raya menjadi pilihan tempat yang perlu diperhatikan.

Setelah beberapa tahun terakhir, dengan jadinya Pematang Raya menjadi ibu kota Kabupaten
Simalungun, pemikiran ke arah Pemekaran Paroki Raya semakin berhembus kencang. Situasi sekarang menunjukkan bahwa Kota pematang Raya terus berkembang dan bertumbuh pesat. Kota Pematang Raya telah menjadi salah satu pusat “pergerakan orang" di Simalungun; pergerakan ekonomi, pemerintahan, politik, social budaya, pendidikan, informasi dan sebagainya. Dengan belum hadimya Gereja Katolik sebagai paroki di Ibu Kota Kabupaten Simahungun, kita tidak tahu informasi tentang pergerakan berbagai hal yang ada di tengah masyarakat, misalnya informasi politik dan pembangunan. Akhirnya kita diam sehingga tidak diperhitungkan dalam pemerintahan.(AGM)

Disadur dari Menjemaat, Majalah Keuskupan Agung Medan, Edisi 12/XXXII/Desember 2010

Siapa P. Elpidius van Duinjhoven, OFM. Cap?

P. Elpidius van Duinjhoven, OFM. Cap

OPPUNG DOLOK
Ompung Semua Marga
Oppung Dolok adalah nama yang tak asing bagi masyarakat Simalungun Atas, khususnya Umat Katolik Paroki Seribudolok. Siapa Oppung Dolok?

Tahun 1934, Pastor Elpidius van )uijnhoven diutus menjadi misionaris ke daerah Simalungun (Atas). Pastor Elpidius mulai menjadikan stasi Sawah Dua di Pematangsiantar menjadi pusat kegiatan untuk daerah sekitar Tigadolok, Sidamanik, dan arah Saribudolok. Lama-kelamaan kegiatannya di sekitar Saribudolok makin pesat, sehingga tahun 1939 Elpidius menetap di Saribudolok.

Pastor Elpidius adalah seorang pastor yang sederhana dan penuh perhatian pada orang sakit, menderita, dan miskin. Sikapnya tersebut dengan cepat menarik perhatian orang-orang Simalungun. Stasi-stasi baru didirikan dengan gereja sederhana dan kecil. Bersama katekis Petrus Batubara, tak jemu-jemunya dia mengunjungi stasi-stasi dan bermalam di kampung-kampung.

Selain itu, ia membutuhkan sedikitsaja bagi dirinya sendiri, tetapi tak pernah cukup bagi orang sakit dan miskin. Kantongnya selalu 'bocor' bagi siapa saja yang datang dan menganggap diri miskin. Mgr. Mathias Brans, prefek apostolik waktu itu, pernah menuliskan kepada pimpinan ordo kapusin tentang Elpidius: "Saya dengar bahwa L. Pied (nama julukan yang diberikan Mgr. Brans kepada Elpidius) memberi obat-obatan kepada orang sakit. Saya tidak tahu dari mana dia mendapat uang untuk itu." Ada orang yang mengatakan bahwa pastor ini sengaja mendirikan gereja-gereja yang sangat sederhana tanpa perhiasan apa pun, agar dapat memakai kelebihan uang. pembangunan untuk menolong orang sakit dan miskin.

Pada Pesta Emas (50) tahun Imamat, nama Oppung Dolok diberikan kepada pastor ini. Mengapa dijuluki Oppung Do/ok? Ketika beberapatokoh marga mengusulkan supaya beliau menyandang salah satu marga yang ada di Simalungun, beliau dengan sangat sederhana menjawab, "Saya ingin seluruh marga di Simalungun menjadi milik saya." Wacana berkembang dan kehidupan Paroki Saribudolok yang dirintisnya dari tahun 1936 sampai dengan 1993, dengan kondisi geografis bukit-bukit, lembah-lembah yang dalam bahasa Simalungun disebut Dolok, menjadikan beliau menjadi kakek (ompung) yang senantiasa setia melayani umat dengan Injil di daerah perbukitan (dolok) Simalungun Atas, Tanah Karo, sampai keAceh Tenggara. Dalam sidang paripurna gereja Katolik para peserta secara akiamasi membuat gelar bagi Pastor Elpidius van Duijnhoven, OFM Cap. menjadi Pastor Oppung Dolok. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dicurahkan untuk menyampaikan Kerajaan Allah di Simalungun Atas, Tanah Karo, hingga Lawe Diski-Aceh Tenggara.

Pastor van Duijnhoven telah menjadi mitos yang hidup di kalangan orang-orang Simalungun. Tak ada seorang pun pulang dari Ompung ini tanpa dibantu. Waktu perang dan pemberontakan dia tinggal di antara umatnya, sampai ditangkap. Orang percaya dia sudah dipukuli orang Jepang, dianiaya pemberontak, dicoba dibunuh penjahat, tetapi selalu kembali lagi dengan tak kurang suatu apapun. Doa ompung untuk minta hujan di musim kemarau pastilah berhasil. Jika Ompung yang selalu sabarini memberikan peringatan keras, pastilah ada akibat fatal bagi orang yang diperingati tapi tidak bertobat.

Satu cerita menarik dari Ompung ini adalah kebiasaannya membuat pelayanan kepada orang yang kurang waras, terkena penyakit lepra, orang-orang sakit dan susah. Suatu hari seorang sahabatnya wanita yang kurang waras lagi kambuh. Wanita itu menari-nari di jalan raya pada hari pekan tanpa sehelai kain penutup, tak ada seorang pun yang mampu mengatasinya. Akan tetapi, Oppung Dolok datang dan si wanita pun langsung sadarkan diri dan minta maaf. "Sahali nari lang boi sonai, mela hita (Sekali lagi tidak bisa begitu, malu kita)," kata Oppung Dolok.

Waktu pelayanannya yang sangat lama membuat beliau rindu dimakamkan di Purba Hinalang, di Simpang Haranggaol, karena memang tempatinilah yang menjadi pusat paroki sebelum pindah ke Saribudolok. Sekalipun seharusnya akan dimakamkan di Pekuburan Pastor Kapusin di Sinaksak atau permintaan anak-anak didiknya seperti Dr.Cosmas Batubara dan kawan-kawan di panorama indah Sihorbo di atas Haranggaol Danau Toba, beliau lebih memilih di samping Gereja Inkulturatif Simalungun di Purba Hinalang Simpang Haranggaol. Demikianlah Pastor Elpidius van Duijnhoven, yang diberi gelar Oppung Dolok oleh umatnya, dipandang sebagai Rasul Simalungun atas.

(Fr. Febry; dari berbagai sumber)

Menjemaat, No. 12/XXXII/Desember 2010

Jubileum Paroki Saribudolok: Keuskupan Agung Medan

KEBANGUNAN GEREJA DAN MASYARAKAT SIMALUNGUN

Tepat di lapangan berumput hijau yang terletak di alun-alun Kota Saribudolok, ribuan umat Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolok merayakan pesta iman. Mereka larut dalam kekhikmatan Ekaristi sebagai puncak syukur dan sukacita atas 75 tahun misi Katolik di Simalungun Atas.

Setelah melalui persiapan yang panjang dan melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan, akhimya pesta iman menyemarakkan 75 tahun Paroki St. Fransiskus Assisi, Saribudolok berpuncak pada Misa Agung yang diadakan pada Minggu, 28 November 2010 di lapangan yang tepat berhadapan dengan Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi Saribudolok. Misa Agung yang kental dengan nuansa inkulturatif Simalungun ini dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga dan berkonselebrasi bersama 47 imam yang umumnya merupakan putra Paroki Saribudolok. Turut hadir Uskup Emeritus, Mgr. A.G. Pius Datubara, Provinsial Kapusin Medan, Pastor Emmanuel Sembiring, OFMCap., dan Kustos Conventual, Pastor Antonio Razoli, OFMConv. Selain itu, kehadiran putra-putri Paroki Saribudolok dari perantauan yang kini telah menjadi tokoh' masyarakat dan orang-orang sukses turut memberi wama dalam pesta syukur atas 75 tahun misi Katolik di Simalungun Atas tersebut.

Sukacita dari syukur umat separoki Saribudolok terlukiskan melalui pesta yang bertema "Kebangunan Gereja dan Masyarakat Simalungun" ini. Lalu lintas di sepanjang jalan tampak ramai dipadati kendaraan, undangan dan umat yang datang dari stasi-stasi yang berada di wilayah a,, penggembalaan Paroki Saribudolok. Sekitar 18.000 umat datang berbondong-bondong membanjiri lapangan untuk turut serta mengambil bagian dalam perayaan pesta iman tersebut.

Pra Pesta Puncak

Selain sebagai kesempatan untuk bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah dicapai, tujuan Perayaan Jubileum ini adalah wujud introspeksi secara parokhial akan apa dan bagaimana langkah ke depan untuk semakin maju, menyentuh pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Baik sebagai bagian dari Gereja maupun sebagai bagian dari masyarakat agar semakin diyakini bahwa umat dipanggil untuk'turut serta lebih terlibat dalam pembangunan masyarakat dan manusia secara utuh menyeluruh. Oleh sebab itulah sesuai dengan anjuran Uskup Agung Medan bahwa tema Jubileum ini adalah "Kebangunan Gereja dan Masyarakat Simalungun". Untuk menghayati tema ini, berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan menyambut Pesta Puncak, antara lain:

a. Jiarah ke Makam Oppung Dolok

Sebagai pelopor kunci keberadaan Paroki Saribudolok adalah Oppung Dolok. Untuk memperkenalkan dan menanamkan semangat iman cinta kemanusiaan yang ditaburkan Oppung Dolok, diadakanlah jiarah rohani ke makam Oppung Dolok yang diikuti oleh setiap stasi, para guru di setiap lembaga pendidikan Katolik Saribudolok, serta warga asrama putra dan putri.

b. Bakti Sosial

Gereja bukan hadir dari dan untuk dirinya sendiri, melainkan berasal dari masyarakat dan berbakti kepada Tuhan lewat kehadiran dan keterlibatan Gereja di tengah masyarakat. Maka sebagai bagian dari masyarakat, juga diadakan bakti sosial dalam bentuk kegiatan penanaman pohon, pemeriksaan dan pengobatan gratis dan penyerahan bantuan sosial kepada keluarga-keluarga yang kurang mampu.

c. Perlombaan Keasrian Lingkungan Gereja

Di Paroki Saribudolok telah berdiri 61 stasi dan 5 stasi dalam proses persiapan. Dapat dikatakan bahwa stasi-stasi tersebut merupakan rintisan dan berkat perjuangan Oppung Dolok. Dari ke 61 stasi ini terdapat gedung gereja yang sudah permanen dengan lokasi atau-pekarangan yang relative baik.Namun masih banyak gedung gereja masih darurat dengan lokasi yang kumuh dan kurang terawat. Untuk itu, dalam bingkai Jubileum ini diadakan lomba/kontes keasrian lokasi gereja yang akan dibaktikan kepada Tuhan dan penghormatan khusus kepada pendiri paroki;

d. Perlombaan Kreativitas dan Keterampilan Anak- anak dan Muda-mudi

Untuk menanamkan dan menumbuhkembangkan cinta dan cita rasa katolisitas kepada anak-anak dan kaum muda serta menambah semarak gaung Jubileum kepada anak-anak dan muda-mudi juga diadakan perlombaan melukis foto oppugn dolok. Selain itu, di setiap rayon juga diadakan perlombaan koor.

e. Reuni Biarawan-biarawati Asal Paroki Saribudolok

Melihat begitu suburnya panggilan menjadi biarawan-biarawati di Paroki Saribudolok, dengan dengan kehadiran 23 imam dan sekitar 250 biarawan-biarawati yang tersebar di berbaga-i ordo, unio dan kongregasi, maka usia paroki yang ke-75 menjadi kesempatan yang paling tepat untuk mengumpulkan mereka sehingga semakin mengenal dan mendorong mereka untuk turut serta memikirkan masa depan Gereja, khususnya Paroki Saribudolok.

f. Ceramah dan Aksi Panggilanbagi Kaian Muda

Paroki Saribudolok terkenal dengan kesuburannya akan panggilan menjadi biarawan-biarawati. Seniangat im hendak dipertahankan. Oleh karena itu, berbagai tarekat, ordo, unio dan kongregasi yang berkarya di KAM beroleh kesempatan untuk memperkenalkan diri dan spiritualitasnya kepada muda-mudi Katolik di Paroki Saribudolok. Selain mengadakan aksi panggilan, kepada kaum muda juga disajikan ceramah dari seorang tokoh umat Katolik dan tokoh nasional yang berasal dari Paroki Saribudolok, yaitu Dr. Cosmas Batubara, yang pemah ikut mengalami suka-duka perjuangan awal Paroki Saribudolok. Dalam ceramahnya, Cosmas memotivasi kaum muda agar menjadi manusia yang berguna, berdedikasi, bekerja keras dan berperan aktif dalam kehidupan menggereja.

g. Penerbitan Buku Kenangan yang Mengisahkan Perjalanan Paroki Saribudolok Selanta 75 Tahun.

h. Pertunjukan Sendratari Misi Katolik di Saribudolok Pasca Pesta

"Jubileum 75 tahun Paroki Saribudolok sesungguhnya bukanlah segalanya. Jubileum ini hanya sebagai sarana untuk melihat kekuatan keberimanan dan kerja sama umat. Oleh karena itu, kemampuan dan kepercayaan diri yang diperoleh umat melalui pesta ini hendaknya tidak membentuk mereka menjadi pribadi yang soinbong namun semakin kuat dan yakin dalam menyelesaikan tantangan yang lebih berat," demikian Pastor Damianus Gultom, OFMCap. Menuturkan harapannya.

Dengan selesainya pesta puncak Jubileum bukan berarti bahwa kerja panitia telah selesai. Beberapa program lanjutan dari seksi Kenangan dan Rehap Makam Oppung Dolok serta Seksi Pemekaran Paroki telah menanti. Kedua seksi ini akan bersinergi untuk mengadakan pemugaran makam Oppung Dolok dan pemekaran Paroki Pematang Raya.
Sesudah 75 tahun menggereja, para pastor misionaris dari Negeri Belanda telah “tiada” dan kepemimpinan paroki pun telah diemban oleh pastor pribumi. Dengan demikian Paroki Saribudolok telah dianggap dewasa.

Sebagai paroki yang sudah dewasa, umat beriman mesti sadar bahwa Tuhan tidak hadir secara fisik dan menuntun paroki ini dengan peritah nyata sebagaimana lazimnya seorang guru, namun harus sungguh-sungguh percaya akan kehadeiran Kristus secara batiniah dan pendampingan Roh Kudus. Karena itu, di antara umat beriman paroki ini dalam semua tingkat dan jabatan harus merefleksikan dan menerjemahkan atau membuat aksi bagaimana umat harus megikuti Tuhan.

Kita sungguh bangga dan beruntung pernah dikunjungi oleh para misionaris. Kita mengenal Tuhan dan Injil lewat kehadiran mereka. Namun serentak dengan itu, kita juga harus bertanggung jawab untuk melestarikan pembaktian diri mereka. Jangan pemah puas karena pemah mengenal misionaris dan menerima Kabar Gembira Tuhan dari mereka. Pada gilirannya putra-putri paroki harus menjadi misionaris. Jangan pemah merasa cukup karena telah banyak
biarawan-biarawati sebagai putra-putri daerah ini. Sedaya mampu dan sebanyak mungkin kita harus mengerahkan putra-putri paroki ini menjadi misionaris. Semoga pesta ini semakin menyemangati kita dalam kehidupan menggereja dan memampukan kita meneladani semangat misionaris terdahulu. (GM)

MENJEMAAT, No. 12/XXXII/Desember 2010

Renungan Hari Biasa Khusus Adven, Senin 20 Desember 2010

Renungan Hari Biasa Khusus Adven, Senin 20 Desember 2010
Yes 7:10-14, Mzm 24:1-2,3-4ab,5-6, Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

BACAAN INJIL:

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Demikianlah Injl Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Pernah seorang ibu menelepon dan mohon doa karena anaknya sakit. Ibu itu cerita bahwa dia sudah membawa anaknya yang sakit ke seorang ‘dukun’. Si dukun menyuruh mereka berziarah ke makam leluhur mereka di kampong halaman mereka, dengan membawa makanan kesukaan si leluhur dan memberi makan tondi/ roh anaknya. Mereka melakukan seperti yang dikatakan oleh si dukun, dan katanya ternyata anaknya tidak sembuh juga. Saya tahu tempat yang kampung halaman yang mereka tuju, dan untuk itu mereka menghabiskan banyak biaya untuk itu. Ibu itu cerita bahwa ankanya sudah mendapatkan Sakramen Perminyakan dan sekarang dia menelepon dan meng sms semua pastor yang di Dairi untuk minta doa. Tiga hari kemudian, ibu itu telepon dan sms semua pastor yang di Dairi dan memberitahukan bahwa anaknya sudah sembuh, dokter memperkenankan mereka pulang dari rumah sakit karena udah sembuh.

Melaksanakan perintah Tuhan, bukanlah hal yang mudah, apalagi karena seringkali Sabda Tuhan itu ‘bertentangan’ dengan keinginan hati kita, bertentangan dengan kebiasaan dalam hidup. Juga Sabda Tuhan itu seringkali pasti mendapat penolakan atau menghadapi tantangan dari kehidupan dunia. Kita pasti ingin menjadi murid Yesus yang setia, meyakini bahwa Sabda Tuhan itu membawa kita ke kebahagiaan yang kekal, namun kita sulit melaksanakannya karena takut akan penolakan dunia, takut pada resiko dari semuanya. Oleh karena itulah, seringkali Sabda Tuhan yang kita dengar, hanya tinggal dalam hati, tidak menghasilkan buah dalam perbuatan atau perilaku hidup.

Adapula orang yang mendengar Sabda Tuhan, tetapi tidak melakukannya karena tidak yakin dengan ‘kekuatan’ Sabda itu yang akan membawa dia ke kebahagiaan hidup dan juga karena kurang percaya akan Tuhan. Orang tersebut lebih percaya kepada yang sifatnya manusiawi, atau kekuatan dunia. Oleh karena itu, sekarang ini masih banyak orang Kristen yang lebih percaya kepada dukun, para normal dibanding kepada Tuhan dan Sabda-Nya. Bukan rahasia bagi kita, masih banyak umat yang bila anaknya sakit atau menghadapi persoalan hidup, mereka pergi ke dukun untuk minta nasihat dan pengobatan. Tidak sedikit pula umat yang kurang percaya akan penyertaan Tuhan atas hidupnya, sehingga masih mencari ‘perlindungan’ atau jimat dari dukun. Memang itu mereka lakukan biasanya secara diam-diam, tetapi jelas mereka sebagai orang Kristen, namun kurang percaya kepada Tuhan dan lebih percaya kepada tuhan-tuhan yang lain.

Berbeda halnya dengan Bunda Maria, seorang wanita muda, sederhana dan beriman, dia mendengarkan perintah Tuhan, taat dan melaksanakan perintah dan kehendak Tuhan. Walaupun sebagai manusia yang biasa, sederhana dan jujur, dia bertanya dan minta penegasan dari malaikat Tuhan tentang tugas yang harus dilaksanakannya. Maria bertanya bagaimana hal itu terjadi pada dirinya adalah bukan karena dia tidak percaya, tetapi karena dia sadar akan dirinyan adalah wanita biasa, sederhana dan tidak layak menerima tugas yang begitu mulia. Selain itu, sebagai manusia biasa, Maria sadar akan resiko yang harus dihadapinya dengan menerima tugas mulia itu. Malaikat Tuhan meneguhkan Maria bahwa Tuhan akan menyertainya senantiasa. Malaikat Tuhan juga memberitahukan kepada Maria akan mekjizat yang terjadi pada Elisabeth saudarinya, yang menurut pemikiran manusia tidak akan bisa melahirkan lagi, tetapi karena kuasa Allah, Elisabeth sudah mengandung 6 bulan. Peneguhan dan pemeritahuan tentang Elisabeth ini, merupakan salah bentuk peneguhan bagi Maria, agar Maria tidak usah takut, karena Tuhan bisa berbuat apa saja demi kehendak-Nya dan Tuhan mampu berbuat apa saja melebihi kemampuan manusa. Apa yang dilakukan Maria adalah suatu bentuk proses pematangan iman. Sesudah itu, Maria dengan mantap menjawab ‘Aku ini hamba tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Maria sungguh menjadi teladan orang beriman, percaya akan rencana Tuhan atas dirinya adalah indah, percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah ingar janji, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertainya, percaya bahwa kehendak Tuhan atas dirinya adalah suatu berkat dan Maria percaya total kepada Tuhan.

Kita juga adalah hamba Tuhan dan tugas kita hendaknya untuk melakukan kehendak Tuhan, bukan Tuhan harus melakukan kehendak kita. Maria menjadi teladan bagi kita bagaimana hidup sebagai hamba Tuhan dan bagaimana menjalankan atau melaksanakan kehendak Tuhan. Mari kita juga berani percaya pada Sabda Tuhan, berusaha melaksanakannya dalam hidup. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji. Kalau kita berani jujur, banyak perbuatan baik yang sudah diperbuat oleh Tuhan atas diri kita, yang melebihi kemampuan kita. Dengan demikian, kiranya membuat kita tidak ragu untuk taat melaksanakan perintah dan kehendak Tuhan atas diri kita sebagai hamba-hamba Tuhan. Semoga.

REFLESKI PRIBADI:

1. Hari ini tanamkan dalam hati dan wujudkanlah kata-kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

2. Tanyalah kepada Tuhan dalam doa, apa yang menjadi kehendak Tuhan atas diri Saudara/I pada hari ini.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)