Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Renungan : Jumat 10 Nopember 2010

Renungan : Jumat 10 Nopember 2010
Yes 48:17-19, Mzm 1:1-2,3,4,6, Mat 11:16-19
(Marc Antonio Durando)

"Bukalah hati untuk menerima kehadiran Yesus dan Kerajaan Allah!"

BACAAN INJIL:

Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya."

PERMENUNGAN:

Dalam Injil kemarin, kita mendengar pujian Yesus kepada Yohanes Pemandi. Namun dalam Injil hari ini, penginjil menggambarkan kekesalah dan kejengkelan hati Yesus kepada orang-orang pada masa itu. Yesus sungguh kesal melihat sikap orang-orang pada waktu itu, karena mereka sudah tidak peduli dan tidak memperhatikan pewartaan para nabi. Mereka sudah mendengar pewartaan dan seruan pertobatan dari Yohanes Pemandi tetapi mereka juga tidak peduli, tidak menggubrisnya. Bahkan ketika Yohanes tampil dalam kesederhanaan dan tampil dengan tidak mengikuti kebiasaan orang pada zaman itu, malah dikatakan kerasukan setan. Demikian halnya ketika Yesus tampil hidup bersama mereka dan seperti pada zamannya, juga tidak digubris, ditolak dan malah dituduh sebagai pemabuk dan pelahap. Tuhan dengan berbagai cara menyerukan pertobatan lewat hidup dan pewartaan para nabi, tetapi tetap mereka tolak, bahkan Anak Manusiapun mereka tolak. Mereka malah bukan hanya menolak kehadiran dan pewartaan, tetapi malah menuduh dan menjelek-jelekkan para pewarta dan juga Yesus sendiri. Yesus sungguh kesal dengan sikap mereka. Namun walaupun demikian, Yesus menyatakan bahwa walaupun manusia menolak dan tidak menggubris pewartaan dan seruan pertobatan itu, Tuhan Allah tidak mundur. Tuhan tetap akan selalu dan kapanpun akan tetap mengasihi, merindukan dan dengan berbagai cara akan akan menerukan pertobatan kepada manusia, agar manusia bertobat dan selamat.

Dalam masa Adven ini, kita sudah mendengar seruan Yohanes Pemandi tentang kehadiran Kerajaan Allah dan seruan pertobatan, juga sudah mendengar Sabda Yesus, tentunya kita mau menerimanya, percaya dan mewujudkannya dalam pertobatan atau perubahan hidup seseuai dengan warta atau sabda yang kita dengarkan. Janganlah kiranya kita membuat Yesus menjadi kesal kepada kita karena ketegaran hati kita yang tidak mau percaya dan bertobat. Kita hendaknya menerima kehadiran Tuhan dan keselamatan yang ditawarkan-Nya kepada kita.

Dalam upaya menerima kehadiran Yesus dan Kerajaan-Nya, pasti kita akan mengalami tantangan dari orang lain yang tidak peduli dengan upaya kita dan bahkan mungkin akan menghalangi kita dengan tuduhan yang tidak baik. Demikian halnya dalam upaya kita untuk mewartakan kehadiran Kerajaan Allah, pasti ada saja orang yang tidak peduli, tidak menggubris kita. Semuanya itu pasti akan terjadi. Walaupun demikian, hendaknya kita tidak putus asa, tidak surut dalam usaha menerima, percaya kepada Yesus dan juga dalam usaha untuk mewartakan kehaderan Kerajaan Allah. Justru bila kita tetap teguh dan tekun bertahan dalam iman dan pewartaan, akan membuat orang lain akhirnya sadar karena dengan keteguhan itu kita membuktikan kebenaran yang tidak bisa dirubah dan dikalahkan orang lain. Selain itu, dlaam keteguhan iman itu, kita percaya bahwa Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Bukalah hatimu untuk menerima kehadiran Tuhan dan Kerajaan-Nya, yakni dengan pertobatan hidup.

2. Berusahalah dengan tetap teguh dan tekun mewartakan kehadiran Kristus dan Kerajaan Allah.

Progress Report SAGKI 2010 (Keuskupan Agung Medan)

Progress Report SAGKI 2010
(Keuskupan Agung Medan)

Pengantar

Perayaan SAGKI 2010 telah berlangsung pada tgl 1-5 November 2010 di Kinasih Bogor. Gereja Katolik di Indonesia sekali lagi menunjukkan semangat persaudaraannya untuk merefleksikan bersama sudah sejauh mana wajah Yesus hadir dalam dimensi kehidupan, balk itu di tengah umat maupun dalam interaksi dengan sesama warga masyarakat. Lewat SAGKI mi Gereja Katolik kembali menegaskan bahwa Gereja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari realitas Bangsa Indonesia.

Pembahasan SAGKI

SAGKI 2010 adalah moment merayakan panggilan Umat Beriman sebagai Gereja yang dipanggil mewartakan Kabar Gembira. SAGKI 2010 ini suatu penegasan perutusan Gereja. Tema yang direnungkan adalah "Dia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup Dalam Kelimpahan" (bdk Yoh 10:10). Fokus permenungan bertolak dari pribadi Yesus Kristus yaitu Hidup dan Karya-Nya dalam konteks pluralitas sesuai dengan realitas masyarakat Indonesia. Umat beriman diajak merenungkan serta menyadari iman akan Yesus Kristus sekaligus merayakan imannya akan Yesus Kristus yang mereka alami setiap hari dalam hidup bermasyarakat di Indonesia.
Dasar Biblis Yoh 10:10 "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya
dalam segala kelimpahan

Tujuan:

~ Melihat sejauh mana Kristus sudah diterimah dan berpengaruh di dalam kehidupan
- Bagaimana kita menghadirkan Yesus dan mewartakanNya lewat kesaksian hidup kita di dalam lingkungan Gereja dan masyarakat dengan keyakinan bahwa hidup-Nya adalah hidup kita, perutusan-Nya adalah perutusan kita
- Menggerakkan semangat berevangelisasi umat Katolik Indonesia

TOR (Term of Reference)

Tema utama SAGKI yaitu la datang supaya semua memperoleh Hidup dalam kelimpahan. Tema ini dibagi dalam 3 sub tema:

1. Mencari wajah Yesus dalam dialog dengan budaya,
2. Mengenali wajah Yesus dalam dialog dengan Agama dan kepercayaan lain
3. Mengenali wajah Yesus dalam pergumulan Hidup kaum marjinal dan terabaikan.

Ada tiga realitas yang dirasa cukup dominan dalam situasi berbangsa dan bemegara sekarang ini. Ketiga realitas ini dilihat sebagai cerminan dari situasi kehidupan social budaya, kehidupan sosio religius dan kehidupan sosial ekonomi Indonesia. Dengan ketiga topik ini Gereja merenungkan panggilan-nya untuk membangkitkan revitalisasi semangat misi Gereja Katolik Indonesia.

Latarbelakang SAGKI 2010

SAGKI 2010 ini terinspirasi oleh perayaan iman lewat kongres Misi Asia I Chiang Mai (Thailand, 2006) dengan tema refleksi "Telling the Story of Yesus in Asia". Kongres ini menjadi penyadaran, penghayatan dan penegasan sikap akan tugas mewartakan Kabar Gembira Keselamatan. Kongres misi ini memberikan kepada Gereja-gereja di Asia agar semangat misi ini ditindaklanjuti di setiap negara sambil mencari inspirasi kekhasan dan keragaman masing-masing. Hal inilah yang hendak dilanjutkan oleh Gereja Katolik di Indonesia dengan SAGKI 2010. Tujuan dari SAGKI ini diharapkan menjadi revitalisasi semangat perutusan Gereja dalam mewartakan Kabar Gembira.

Metodologi: Pewartaan Naratif

Metodologi SAGKI 2010 ini sungguh berbeda dari SAGKI sebelumnya. SAGKI 2010 menggunakan kekhasan Asia yaitu Metodologi cerita, atau pedagogi evokatif yang menggunakan kisah, perumpamaan, dan simbol-simbol yang merupakan kekhasan pengajaran di Asia (Ecclesia in Asia 20). SAGKI sebelumnya lebih menekankan ulasan ilmiah dalam bentuk refleksi akademis. Metodologi narasi ini adalah berbagi pengalaman tentang iman akan Yesus Kristus. Dengan narasi peserta saling menuturkan kisah dan mendengarkan kisah. Prinsip ceritanya bersumber dari lYoh 1:3, "Apa yang kami lihat dan kami dengar dan kami alami, itulah yang kami ceritakan kepadamu, supaya sukacita kita menjadi sempuma". Dalam kisah dituturkan pengalaman akan kehadiran Yesus maupun perjuangan dalam menghadirkan Wajah Yesus di tengah kehidupan konkrit.

Utusan dan Pembagian Kelompok:


NO.NAMABIDANG
1P. Octavianus Situngkir OFM.CapKebudayaan
2P. Sabat S. Nababan Pr.Kemiskinan
3Fr. Herman Tugas Ginting OFM.ConvAgama dan Kepercayaan
4Sr. Alfoncine Sianturi KSFLKebudayaan
5Sr. Rosaline Ambarita KSSYAgama dan Kepercayaan
6Antoni BangunKaum Miskin
7Wilopo HutapeaKaum Miskin
8P. Benddo Ola Tage Pr.Agama dan Kepercayaan
9Jakobus NdonaAgama dan Kepercayaan


Rancangan Implementasi SAGKI di KAM

Refleksi SAGKI ini hendak dibagikan atau disosialisasikan kepada semua umat benman, khususnya melalui para pemukajemaat atau pengurus. Disepkati untuk menyusun bahan sosialisasi. Peserta SAGKI telah bertemu untuk memikirkan sosialisasi pada tgl 30 Nov -1 Des. Rancangan bahan yang telah dipikirkan:

Materi sosialisasi:

- Pengertian SAGKI
- Pembahasan SAGKI 1995-2005
- Metodologi SAGKI 2010: Kaekese tentang narasi dalam katekese umat
- Proses SAGKI
- Topik bahasan SAGKi 2010 : 3 topik dengan uraian yang menjelaskan ketiga bidang ini agar umat mendapat pemahaman dan menghadapkannya dengan realitas kehidupan konkrit.
- Rekomendasi SAGKI 2010.
- SAGKI _ KAM (Pertanyaan reflektif: pendalaman, sharing dan juga jawaban akan ditampung untuk dipresentasikan kembali kepada umat).

SAGKI: Penegasan Pola Pastoral yang Diperjuangkan KAM:

Narasi merupakan metode evangelisasi yang cukup efektif dalam tugas pewartaan dan berterimah bagi semua lapisan baik orang terpelajar maupun sederhana. Sebagai metode pengajaran dan juga kesempatan untuk mendengar pergumulan menghidupi iman sekaligus kesempatan menyimak daya juang umat beriman dalam memberi kesaksian imannya pantas dikatakan bahwa metode ini perlu dihidupkan dan diberi ruang dan waktu agar orang semaldn dapat melihat pergumulan imannya dan ada kesempatan untuk
Memberi peneguhan maupun memberi ma"jkan yang tepat untuk melengkapi semaha-man umat Untuk itu ada hal yang perlu disikapi bila metode ini mau dilihat sebagai strategi berpastoral:

1. Perlunya Komunitas (kelompok) Tempat Berbagai Pengalaman

Mendengar dan membagikan pengalaman hidup sebagai cerita tidup dan pengalaman iman mengandaikan adanya komumtas. Di dalam komunitas sungguh dimungkinkan berlangsungnya kisah - cerita. SAGKI 2000 secara khusus membicarakan komunitas basis sebagai cara baru hidup menggereja. Berbagi pengalaman dan untuk menemukan wajah Yesus dalam kisah atau pengalaman hidup umat mengandaikan ruang dan tempat kondusifbaik itu secara teritorial dan kategorial. Dalam komunitas kecil ini ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghadirkan Gereja itu menjadi cerita hidup bersama dan pengembangan diri.

2. Pemandu - Pengarah (Katekese Menjemsat)

Bertolak dari gagasan katekese menjemaat yang telah lama diperiuangkan KAM lewat Komkat, pendalaman iman dalam komunitas kecil sungguh pertemuan yang efektif. Tetapi hal ini mengandaikan adanya pemandu. Pemandu akan mengarahkan pertemuan dan juga memberi catatan atau memberi refleksi pada kisah yang telah dibagikan dalam kelompok. Implementasi SAGKI ini juga meneguhkan periuangan KAM tentang peran para pemuka jemaat itu. Pengalaman mengandung nilai dan periuangan akan semakin dapat dilihat sarat makna ketika pemandu memberi pembobotan baik itu sebagai refleksi iman atas Kitab Suci dan ajaran gereja. Yang menjadi kekhasan dari SAGKI 2010 ini adalah bahwa Narasi dipergunakan sebagai metode pengungkapan iman. Narasi bukan sekedar cerita tetapi media untuk semakin masuk dan teriibat dalam pergumulan hidup sosial, ekonomi, politik umat dan sesama manusia. Permenungan ini hendak dijadikan juga permenungan semua umat KAM. Maka refleksi SAGKI hendaknya dibagikan untuk semua umat. Selamat bersharing dengan umat dan para pengurus kita.

Tim SAGKI KAM.

Renungan : Kamis 9 Desember 2010

Renungan : Kamis 9 Desember 2010
Yes 41:13-20, Mzm 145:9,10-11,12-13ab, Mat 11:11-15
(Bernardus Maria Silvestrelli)

"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar."

BACAAN INJIL:
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan -- jika kamu mau menerimanya -- ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.

PERMENUNGAN:

Memuji orang lain bukanlah pekerjaan mudah. Ketika kita memuji orang lain, saat itu kita bersikap rendah hati dan mengakui kebaikan ada padanya juga apa yang diperbuatnya. Kita cenderung lebih mudah melihat kekurangan orang lain, dan cenderung untuk mengkritik orang lain. Ketika kita melihat seseorang melakukan kebaikan, atau berhasil, justru yang seringkali muncul dalam diri kita adalah rasa cemburu atau malah berpikiran negative dan malah mungkin menjelek-jelekkan orang tersebut kepada orang lain. Semuanya terjadi karena seringkali kita menganggap diri kita lebih baik dan harus lebih baik dari orang lain. Dalam diri kita seringkali bibit kesombongan lebih besar daripada kerendahan hati.

Dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, justru suatu yang luar biasa. Yesus yang adalah Tuhan, dengan bersemangat memuji Yohanes Pembaptis, bahkan Yesus mengatakan bahwa dari semua yang pernah dilahirkan perempuan tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Kiranya pujian Yesus bukanlah berlebihan, tetapi suatu kenyataan yang memang demikian. Yesus memuji Yohanes Pembaptis karena dia seorang nabi yang mewartakan dan mempersiapkan kehadiran kerajaan Allah. Sebagai seorang nabi, Yohanes Pembaptis berani menegur semua orang dan mengajak untuk bertobat, bahkan dia tidaks segan-segan menegur orang Farisi, Ahli Taurat dan para imam yang seringkali merasa dirinya suci, baik dan tidak membutuhkan pertobatan. Yohanes berani membongkat kebobrokan atau kedosaan orang pada masa itu, meskipun resikonya tentu berat. Sebagaimana kita ketahui, dia dibenci oleh banyak orang dan akhirnya dia mati dibunuh. Dalam pewartaannya dia tidak hanya lewat kata-kata tetapi lewat kesaksian hidupnya yang sederhana, tidak peduli akan hidupnya, hidup dan kesaksiannya hanya demi mempersiapkan kedatangan kerajaan Allah. Dia hidup hanya untuk kerajaan Allah.

Kita juga tentunya berharap dipuji oleh Yesus. Agar kita mendapat pujian dari Yesus, sikap dan hidup seperti Yohanes Pembaptislah kiranya yang kita teladani dalam masa Adven ini, yakni berani mewartakan kehadiran kerajaan Allah dan mempersiapkan kehadiran kerajaan Allah lewat perkataan dan terutama kesaksian hidup kita yang penuh dengan kesederhanaaan. Seperti Yohanes Pembaptis, kitapun hendaknya berani berpihak, mewartakan dan melakukan kebenaran, keadilan, kejujuran dan berani menyerukan pertobatan kepada sesama kita. Namun apa yang kita wartakan hendaknya selaras dengan kehidupan kita, bukan hanya dalam kata-kata saja. Memang untuk melakukan hal itu, bukanlah hal yang mudah, kita pasti akan menghadapi banyak tantangan dan persoalan. Namun tantangan dan persoalan hendaknya tidak akan menyurutkan niat kita, karena kita percaya Yesus akan memuji kita yang artinya Yesus akan berpihak kepada kita.

Selain itu, kitapun harus berani memuji orang lain yang aktif dalam mewartakan kehadiran kerajaan Allah. Memuji juga dalam arti berpihak dan mendukung orang lain yang aktif dalam mewartakan kerajaan Allah. Mungkin kita tidak mampu dan tidak berani seperti orang lain yang aktif dan berani, namun hendaknya bukan malah melawan mereka tetapi memuji atau mendukung mereka.

Dengan demikian, jelaslah bahwa dalam masa Adven ini, pertobatan kita bukan hanya sekedar perubahan diri yang pasif, tetapi perubahan diri yang aktif, yakni ikut terlibat mempersiapkan kehadiran kerajaan Allah dengan perubahan diri dan pewartaan serta menyerukan pertobatan kepada orang lain. Dalam semuanya itu, kita tetap sadar bahwa semuanya semata-mata demi kemuliaan Tuhan. Hidup yang demikianlah yang dipuji oleh Yesus. Amin.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Sadarilah bahwa Andapun hendaknya seperti Yohanes Pembaptis, berani mewartakan dan mempersiapkan kedatangan Kerajaan Allah.

2. Berusahalah untuk menegur dalam cinta sesama yang melakukan hal yang tidak baik.

MENGAPA NATAL 25 DESEMBER

MENGAPA NATAL 25 DESEMBER

Tidak mudah menentukan dengan tepat asal-mula Pesta Natal, yang sekarang menjadi perayaan yang paling penting dalam masa Natal di sebagian besar Gereja-gereja Ritus Barat. Kita hanya dapat mengatakan dengan pasti bahwa kelahiran Yesus Kristus mulai dirayakan di Roma sekitar tahun 336 A.D. (Anno Domini = Tahun Masehi); kemudian Pesta Natal dirayakan juga di gereja-gereja Kristiani lainnya di seluruh dunia.

Mengapa Pesta Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember? Tidak ada catatan mengenai tanggal kelahiran Yesus yang dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru. Kitab Suci jauh lebih mementingkan “Siapakah Yesus?” daripada tanggal kelahiran-Nya. Perkiraan Gereja Perdana akan tanggal kelahiran-Nya dipengaruhi oleh tanda-tanda perubahan musim, yang kemudian diterima dalam pemikiran religius, yang dengan seksama memperhatikan equinox (di mana waktu siang dan malam sama lamanya) dan titik balik matahari. Para ilmuwan Kristiani memperkirakan bahwa Yesus dikandung pada equinox musim semi (25 Maret) dan oleh karenanya dilahirkan pada tanggal 25 Desember, tanggal titik balik musim dingin.

Di banyak gereja Kristiani, tanggal 25 Maret masih tetap dirayakan sebagai Hari Raya Kabar Sukacita, yaitu ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kabar kepada Maria bahwa ia akan menjadi bunda Yesus.

Pesta Natal mungkin juga berasal dari perayaan kafir “Dewa Matahari yang tak terkalahkan” yang ditetapkan oleh Kaisar Aurelius pada tahun 274 A.D. dan dirayakan pada tanggal 25 Desember, yaitu pada hari terjadinya titik balik musim dingin, di Roma dan di seluruh wilayah kekaisaran. Umat Kristiani mengambil alih perayaan tersebut untuk merayakan pesta “Surya Kebenaran” (Maleakhi 4:2), yaitu Yesus Kristus, yang menyebut Diri-Nya “Terang Dunia” (Yohanes 8:12).

sumber : “The Feast of Christmas” by Fr Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1996, 1997, 2000 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”

Renungan : Rabu 8 Desember 2010

Renungan : Rabu 8 Desember 2010
Kej 3:9-15,20, Mzm 98:1-2-3ab,3bc-4, Ef 1:3-6,11-12, Luk 1:26-38
(Hari Raya St. Maria Dikandung Tanpa Dosa)

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

BACAAN INJIL:

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Demikianlan Sabda Tuhan bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN:

Ketika gunung merapi meletus, Mbah Marijan menjadi ‘semakin terkenal’. Banyak orang menganggap dia sebagai orang yang setia pada keyakinannya dan bahkan rela mati dalam keyakinannya. Hanya sayang, dia setia pada keyakinan yang tidak pasti dan keliru.

Hari ini kita merayakan Maria dikandong tanpa dosa. Masih sering orang yang bukan katolik menuduh kita mendewakan Maria dan mengatakan kita menyembah Maria seperti menyembah Tuhan. Pernyataan itu sudah sejak lama dituduhkan kepada kita, dan mungkin pasti sudah banyak pernyataan atau tulisan yang menjawab sehubungan dengan hal itu. Namun tuduhan demikian masih terjadi. Beberapa waktu lalu, seorang putri yang hendak mengikuti pacarnya yang seorang katolik, juga bertanya tentang status Maria dalam Gereja kita. Dia bertanya karena memang ingin mengetahui atau mendalami iman katolik, mengikuti pacarnya yang katolik dan dia bertanya karena juga didasari pemahaman yang dia dapat dari protestan. Sehingga ini bisa menjadi gambaran bahwa orang yang bukan katolik belum bisa memehami dan menerima alasan atau jawaban kita sehubungan dengan peran Maria dalam Gereka Katolik. Bahkan mungkin umat kita sendiri juga pasti masih banyak yang belum bisa mengerti hal ini. Mungkin saja banyak umat kita tahu mengatakan bahwa kita bukan menyembah Maria dan bukan menjadikannya sebagai Tuhan, tetapi mungkin tidak bisa menerangkan peran atau kedudukan Maria dalam Gereja Katolik.

Hari ini kita merayakan Maria dikandung tanpa dosa. Dogma ini tentu lebih sulit lagi untuk dijelaskan dan dimengerti oleh umat apalagi yang bukan katolik. Sehubungan dengan dogma ini, kami tidak bermaksud membahasnya di sini, tetapi untuk lebih mengerti dogma ini, dapat di baca di sini ….. Dalam permenungan kita hari ini, kita diajak untuk melihat dan merenungkan sebagian dari keteladanan Maria bagi kita sebagai pribadi yang beriman dan imannya itu dinyatakan dalam ketaatan total kepada Tuhan. Ketaantannya yang total kepada Tuhan dapat kita lihat dalam Injil hari ini.

Maria seringkali digambarkan sebagai pribadi yang luar biasa tangguh, yang seakan berbeda dengan kita, berbeda dengan wanita pada umumnya. Semua gambaran yang ditujukan kepada Maria memang sebagai ungkapan kekaguman dan penghormatan kita kepada Maria. Namun hal itu bisa membuat kita tidak menyentuh realitas Maria yang tidak jauh berbeda dengan kita. Maria adalah manusia biasa seperti kita, seorang wanita sederhana dan polos. Hanya yang membedakan kita dengan dia, salah satunya adalah imannya yang sungguh besar kepada Tuhan dan imannya itu terungkap dalam ketaatan total pada kehendak Tuhan.

Kita yakin bahwa Maria pasti tahu resiko yang akan dia tanggung bila menerima kabar yang siampaikan oleh Malaikat kepadanya. Tugas itu memang tugas mulia, tetapi resikonya besar, karena dia akan mengandung tanpa suami, sebab dia masih bertunangan dengan Yusup. Resiko yang sudah ada di depannya adalah Yusuf pasti akan meninggalkannya atau memutuskan pertunangan mereka dan lebih fatal lagi bahwa dia akan dihukum rajam sampai mati karena mengandung tanpa suami. Namun walaupun demikian, Maria dengan penuh keberanian dan keyakinan menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Ini suatu keyakinan yang keluar dari seorang wanita biasa dan sederhana. Iman kepada Tuhan, itulah kiranya kekuatan Maria untuk menjawab dan menerima kehendak Tuhan atas dirinya.

Iman Maria yang terungkap dalam ketaatan total kepada Tuhan dan pada kehendak Tuhan, ini menjadi suatu contoh teladan bagi kita dan menjadi permenungan kita pada hari ini. Kenyataanya, begitu banyak orang yang mengatakan dirinya beriman kepada Tuhan, tapi imannya setengah-setengah, tidak nyata dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan. Seringkali kita takut melaksanakan kehendak Tuhan, karena kita tahu resikonya dan takut menanggung resiko dari ketaatan kita. Saat ini juga begitu sulit menemukan orang yang setia dan taat total pada Tuhan. Orang sering dengan mudah beralih dari pilihan hidup karena terengaruh dengan hal-hal duniawi atau karena takut pada resiko. Seringkali orang hari ini berpihak pada ‘A’ tetapi besok atau tidak lama setelah itu berubah menjadi ‘B’. Demikian juga halnya dengan iman. Tidak sedikit dari antara kita yang seringkali tidak berani taat total dan setia dalam iman kita dan kehendak Tuhan. Bahkan sering dengan gampang kita berpaling dan mengabaikan atau meninggalkan iman kita hanya demi kedudukan, pangkat, harta dan juga karena takut. Hari ini, Maria menjadi teladan bagi kita sehubungan dengan ketaatan total pada Tuhand dan kepada kehendak Tuhan. Imanlah yang menguatkan Maria sehingga sanggup taat total pada Tuhan. Demikianpun kiranya kita, hendaknya kita memperkuat atau memperdalam iman kita kepada Tuhan sehingga kitapun berani taat total melaksanakan kehendak Tuhan. Semoga.

PREFLEKSI PRIBADI:

1. Siapakah Maria bagi Anda dan sejauh mana Anda sudah meneladan Maria.

2. Berusahalan untuk taat pada Tuhan dalam situasi apapun.

SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa

SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa
oleh: P. William P. Saunders *

Saya bingung. Saya pikir Maria Dikandung Tanpa Dosa berhubungan dengan mengandungnya Bunda Maria dari kuasa Roh Kudus. Tetapi, teman saya mengatakan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan perkandungan Bunda Maria. Dapatkah dijelaskan?
~ seorang pembaca di Falls Church

Sesungguhnya, kebingungan atas dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa (= Immaculata) bukanlah hal yang jarang terjadi. Sebagian orang secara salah beranggapan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan Bunda Maria yang mengandung Kristus dari kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya, dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).

Dalam mempelajari sejarah seputar keyakinan ini, kita melihat keindahan Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang para pengikutnya yang setia berjuang untuk memahami dengan lebih jelas misteri keselamatan. Perjuangan ini dibimbing oleh Roh Kudus, yang disebut Yesus sebagai “Roh Kebenaran”, yang “akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”dan “akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (bdk. Yoh 14:17, 14:26, 16:13).

Sebagian dari “perjuangan” atas dogma Immaculata adalah tidak adanya kutipan Kitab Suci yang spesifik serta jelas dan gamblang tentangnya. Namun demikian, referensi dalam Injil mengenai Bunda Maria dan perannya dalam misteri keselamatan mengisyaratkan keyakinan ini. Dalam Injil St. Lukas, kita mendapati ayat indah tentang Kabar Sukacita, di mana Malaikat Agung St. Gabriel mengatakan kepada Maria (dalam bahasa kita), “Salam Maria, penuh rahmat. Tuhan sertamu.” Sementara sebagian ahli Kitab Suci berdebat atas “seberapa penuhnya rahmat,” kesaksian St. Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. Apabila orang merenungkan peran Bunda Maria dalam kehidupan Kristus - baik inkarnasi-Nya, masa kanak-kanak-Nya, ataupun penyaliban-Nya - pastilah ia sungguh luar biasa dalam kekudusan, sungguh “penuh rahmat” dalam menerima serta menggenapi perannya sebagai Bunda Penebus, dalam arti “Bunda” yang sepenuh-penuhnya. Sebab itu, kita percaya, bahwa kekudusan yang luar biasa, yang penuh rahmat ini diperluas hingga saat awal permulaan kehidupannya, yaitu perkandungannya.

Secara praktis, jika dosa asal diwariskan melalui orangtua, dan Yesus mengambil kodrat manusiawi kita dalam segala hal kecuali dosa, maka Maria haruslah bebas dari dosa asal. Pertanyaan kemudian muncul, “Bagaimana mungkin Kristus adalah Juruselamat Maria?” Sesungguhnya, banyak perdebatan mengenai SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam abad pertengahan berfokus pada masalah ini. Duns Scotus (wafat 1308) menawarkan satu solusi dengan mengatakan, “Maria lebih dari semua orang lain membutuhkan Kristus sebagai Penebusnya, sebab ia pastilah mewarisi Dosa Asal … jika rahmat sang Pengantara tidak mencegahnya.” Dengan mengutip Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Katekismus Gereja Katolik menambahkan, “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa', hanya terjadi berkat jasa Kristus: `Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul'” (no. 492). Pada pokoknya, karena Maria dipilih untuk berbagi secara intim dalam kehidupan Yesus sejak saat ia dikandung, Ia sungguh adalah Juruselamatnya sejak saat perkandungannya.

Mungkin salah satu alasan mengapa diskusi mengenai Dogma Immaculata ini berkepanjangan adalah karena Gereja Perdana dilarang dan di bawah aniaya hingga tahun 313, dan kemudian harus menyelesaikan berbagai macam masalah seputar Yesus Sendiri. Refleksi lebih jauh mengenai Bunda Maria serta perannya muncul setelah Konsili Efesus (thn 431) yang dengan segenap hati menegaskan keibuan ilahi Maria dan memberinya gelar, “Bunda Allah” sebab ia mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melahirkan Yesus yang adalah pribadi kedua dalam Tritunggal Mahakudus, yang sehakikat dengan Bapa. Beberapa Bapa Gereja Perdana, termasuk St. Ambrosius (wafat 397), St. Efrem (wafat 373), St. Andreas dari Crete (wafat 740) dan St. Yohanes Damaskus (wafat 749) merenungkan peran Maria sebagai Bunda, termasuk disposisinya yang penuh rahmat, dan menulis tentang ketakberdosaannya. Suatu pesta guna menghormati SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa telah dirayakan di Gereja Timur setidak-tidaknya sejak abad keenam.

Sementara waktu berlalu, dilakukanlah pembahasan lebih lanjut mengenai keyakinan ini. Pada tahun 1849, Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus, dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi. Dari 603 uskup, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 hanya menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah. Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia dimana kaum rasionalis sekolah filsafat telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi mengakibatkan gejolak sosial, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan. Maka, pada tanggal 8 Desember 1854, Pius IX menegaskan secara resmi dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam bulla “Ineffabilis Deus”.

Akhirnya, menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan Bunda Maria, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) pada tahun 1531 di Guadalupe, Bunda Maria mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu hidup…” Pada tahun 1830, Bunda Maria mengatakan kepada St. Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.” Terakhir, ketika menampakkan diri kepada St. Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

Dalam suatu homili pada Perayaan SP Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa yang disampaikan pada tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang memenuhi engkau, ya Perawan dari Nazaret, dengan segala rahmat rohani dalam Kristus. Dalam Dia, engkau dikandung tanpa noda dosa! Telah dipilih sejak semula untuk menjadi Bunda-Nya, engkau ditebus dalam Dia dan melalui Dia lebih dari segala manusia lainnya! Dilindungi dari warisan Dosa Asal, engkau dikandung dan datang ke dalam dunia dalam keadaan rahmat. Penuh rahmat! Kami mengagungkan misteri iman yang kami rayakan pada hari ini. Pada hari ini, bersama dengan segenap Gereja, kami memuliakan Penebusan yang dilaksanakan atasmu. Partisipasi yang teramat luar biasa dalam Penebusan dunia dan manusia, diperuntukkan hanya bagimu, semata-mata hanya bagimu. Salam O Maria, Alma Redemptoris Mater, Bunda Penebus yang terkasih.”

Sementara kita melanjutkan persiapan Adven kita, kiranya kita mohon bantuan doa Bunda Maria, Santa Perawan Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa, agar kita semakin dekat pada Kristus, Putranya, di Hari Natal.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Immaculate Conception” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

RENUNGAN : SELASA 7 Desember 2010

RENUNGAN : SELASA 7 Desember 2010
Yes 10:1-11, Mzm 96:1-2,3,10ac,11-12,13, Mat 18:12-14
(P. St. Ambrosius)

"Semua orang berharga bagi Tuhan."

BACAAN INJIL:
"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."
Demikianlah sabda Tuhan bagi kita hari ini.

PEREMENUNGAN:
Manusia sungguh berharga bagi Tuhan. Dia sungguh merindukan agar tidak seorangpun dari kita domba-domba-Nya atau anak-anak-Nya tersesat, terpisah dalam kawanan kerajaan Allah. Tuhan akan senantiasa berusaha mencari domba-domba yang tersesat atau menghilangkan diri bahkan Dia akan sangat bergembira bila menemukan domba-NYa yang tersesat.

Perumpaan dalam bacaan hari ini, bukan menyiratkan bahwa Tuhan lebih peduli dengan orang yang tersesat dan tidak menghargai yang tidak tersesat. Yang mau dikatakan adalah seperti pada akhir Injil hari ini, yakni bahwa Tuhan tidak menghendaki satu orangpun tersesat. Dia menghendaki semua orang ikut menikmati kebahagiaan kekal. Dalam injil dikatakan bahwa demi mencari 1 orang yang hilang, Dia akan meninggalkan yang 99 orang yang tidak hilang. Secara logika manusia, ini aneh meninggalkan 99 hanya demi 1 orang, karena bagi kita biasanya menganggap bahwa 1 orang kurang berharga disbanding 99. Kita pasti beranggapan bahwa biarlah 1 orang hilang, yang penting sudah ada 99 orang. Namun pemikiran Tuhan tidaklah seperti yang kita pikirkan. Bagi Tuhan 1 orangpun berharga dan Dia tidak mengehendaki 1 orangpun hilang. Perumpamaan di atas mau mengatakan juga, bahwa yang ke 99 orang sudah masuk dalam kawanan kerajaan Allah dan sudah menikmati kerajaan Allah, sehingga tidak perlu lagi dikhawatirkan sedangkan yang 1 itu belum dan Tuhan mengehendaki dia juga selamat.

Lewat bacaan hari ini, jelaslah bagi kita bahwa kita semua sangat berharga bagi Tuhan, Dia mendambakan tidak satupun tersesat dan hilang. Tuhan selalu mencari dan berusaha menemukan kita yang tersesat. Hanya seringkali kita yang seringkali menyesatkan diri, keluar dan lari dari cinta kasih Allah atau dari kawanan warga kerajaan Allah. Kita yang seringkali menganggap bahwa Tuhan dan keselamatan itu berharga bagi kita sehingga kita keluar dan melarikan diri.

Olehkarena itu, pada masa Adven ini jauhlah dari pikiran kita yang menganggap bahwa Tuhan kurang mencintai kita, bahwa Tuhan meninggalkan kita, bahwa kita tidak berharga di mata Tuhan. Tetapi marilah kita menyadari bahwa kita sangat berharga bagi-Nya, Dia mendambakan keselamatan kita. Sehingga kita berani membiarkan diri ditemukan oleh Tuhan yakni dengan pertobatan kita.

Hal lain yang dapat kita renungkan lewat bacaan hari ini ialah, bahwa dalam masa Adven ini kita hendaknya berusaha memiliki hati seperti hati Yesus, yakni yang melihat manusia semuanya berharga bagi-Nya dan mendambakan keselamatan semua orang. Beda halnya dengan kehidupan dan perilaku kita yang seringkali cenderung egois, tidak peduli dengan orang lain dan bahkan seringkali menganggap orang lain tidak berharga bagi kita, tidak ada perannya bagi kita yang mana kita menganggap bahwa kita bisa hidup tanpa orang lain, sehingga kita hanya hidup untuk diri sendiri. Seringkali kita tidak peduli dengan saudara kita yang mungkin sudah kurang rajin ke gereja, tidak pernah aktif lagi dalam kegiatan lingkungan atau kegiatan gereja. Kadang kita justru berpikir lebih baik mereka tidak hadir, tidak aktif karena kita anggap kurang memberi peran dalam kehidupan bersama, kurang berharga bagi kita dan kelompok kita. Dengan sikap ini, bahkan tanpa sadar bahwa kita membiarkan dan membuat mereka tersesat dan semakin terpisah dari Gereja. Oleh karena ini, teladan Yesus hendaknya menyemangati kita pada masa adven ini. Kita diajak untuk berani melihat dan menganggap bahwa semua orang itu berharga bagi kita, kita diajak agar kita juga peduli dengan orang-orang yang sudah mulai menjauh dari iman, dari gereja dan berusaha dengan berbagai cara untuk mencari dan mengajak mereka untuk kembali percaya kepada Tuhan dan kembali bergabung dalam kawanan kerajaan Allah dalam Gereja.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Berusahalah untuk selalu menganggap orang lain berharga buatmu.

2. Cobalah cari, sapa dan ajak sesama kita yang sudah kurang percaya kepada Tuhan dan sudah kurang aktif dalam kehidupan menggereja.

Renungan : Senin 6 Desember 2010

Renungan : Senin 6 Desember 2010
Yes 35:1-10, Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14, Luk 5:17-26
(St. Nikolaus)

"Iman kepada Yesuslah yang menyelamatkan kita. Iman kitapun hendaknya membawa keselamatan kepada sesama."

PEMBACAAN INJIL:
Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni." Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" ?berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:"Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan."

PERMENUNGAN:

Pernah saat pelayanan Misa di Penjara Sidikalang, ada beberapa narapidana yang bertanya, “Pastor, apakah Tuhan masih mau menerima dan mengampuni dosa kami?” Ini tentu suatu pertanyaan yang mengandung suatu kesdaran diri bawa dirinya telah berdosa dan merasa bahwa Tuhan tidak mau lagi mengampuninya karena manusia saja tidak lagi mau mengampuni mereka.

Pertobatan dan pengampunan dari Tuhan yang menjadi tema dari masa Adven kita ini, ini yang kita coba renungkan dalam Injil hari ini. Sungguh indah hal ini digambarkan dalam Injil hai ini. Beberapa orang yang percaya kepada Yesus dan yakin bahwa Yesus mampu menyembuhkan membawa orang lumpuh kepada Yesus untuk disembuhkan. Namun mereka menemui jalan buntu untuk membawanya kepada Yesus karena banyaknya orang yang berkerumun mendengarkan pengajaran Yesus sehingga mereka tidak dapat masuk. Aneh memang, bahwa yang mereka bawa adalah orang sakit, yang butuh pertolongan dan penyembuhan dari Yesus, tetapi orang-orang yang berkerumun itu tidak mengerti akan hal ini dan tidak memberi jalan agar orang lumpuh itu bisa dibawa ke hadapan Yesus. Padahal biasanya bila kita sedang berada di jalan raya dan ada mobil Ambulanse dengan membunyikan sirene yang membawa orang sakit, kita biasanya berusaha untuk minggir dan memberi jalan agar mobil Ambulanse itu tiba lebih dahulu. Namun dalam Injil hari ini, tidak demikian. Tetapi iman orang-orang yang mau membantu orang lumpuh itu tidak kehabisan akal, mereka memanjat atap dan membobol atap rumah tempat Yesus sedang mengajar dan menurunkan orang sakit itu ke bawah tepat di hadapan Yesus. Orang yang berkumpul pada saat itu, tentu merasa jengkel tetapi Yesus memuji iman mereka, yakni iman yang membawa orang sakit itu dan tentu juga si sakit. Orang yang membawa orang sakit itu percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan dan percaya Yesus tidak akan marah dengan sikap mereka yang mengganggu suasana mengajar Yesus, percaya bahwa Yesus akan menerima dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sungguh kreativ dalam membantu orang lain untuk dapat bertemu dengan Yesus dan untuk merasakan kasih dari Yesus. Si sakit tentu juga beriman, karena dia mau di bawa ke hadapan Yesus untuk disembuhkan. Jadi jelas, Yesus memuji iman orang membawa orang lumpuh dan si lumpuh itu.
Apa yang mereka yakini memang benar, bahwa Yesus tidak hanya memuji iman mereka, tetapi juga menyembuhkan si lumpuh. Si lumpuh akhirnya sembuh, dia bisa berjalan kembali ke rumahnya. Bahkan dia tidak hanya bisa berjalan, tetapi malah disuruh oleh Yesus untuk mengangkat tempat tidurnya dan kembali ke rumah atau ke kehidupannya sehari-hari.
Apa yang dapat kita renungkan dari Injil hari ini?

Jelas bahwa inti dari bacaan ini adalah soal iman. Iman itu hendaknya juga menyelamatkan orang lain. Kitapun tentu percaya kepada Yesus yang mahakuasa dan mahakasih dan berusaha untuk bertemu denggan dia. Namun seringkali untuk menghayati iman kita, kita menghadapi kendala, entah itu dari orang lain yang tidak ‘suka’ dengan Yesus maupun dari sesama kita yang mengatakan dirinya beriman tetapi tidak peduli dengan orang lain. Olehkarena itu, belajar dari injil hari ini, kita hendaknya selalu kreatif dalam beriman, berusaha mencari bagaimana cara agar kita dapat menghayati iman kita kepada Yesus, bukan langsung menyerah ketika ada tantangan untuk beriman.

Namun jelas harus kita ketahui bahwa iman kita itu juga harus berbuah. Iman itu tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga berusaha membantu orang lain untuk bertemu dengan Yesus. Banyak orang mengatakan diri beriman, tetapi tidak peduli dengan orang lain. Kita sering menganggap iman itu hanya untuk diri sendiri, cukup hanya dengan rajin ke Gereja untuk berdoa, mengikuti ibadah di Gereja, tetapi tidak peduli dengan orang lain. Misalnya saja, begitu banyak orang yang ramai-ramai beribadah di Gereja, tetapi tidak ada relasi interpersonal, tidak saling mengenal, dan tidak saling peduli dengan sesama di sampingnya, sehingga sehabis dari Gereja, mereka langsung pulang ke rumah. Demikian juga di luar kegiatan Gereja, orang tidak peduli dengan sesamanya terutama orang yang sakit dan menderita, dan juga tidak perduli dengan lingkungannya, yakni tidak mau bergabung dengan lingkungannya. Mereka yang demikian layaknya seperti orang-orang berkerumun mendengarkan pengajaran Yesus, tetapi tidak peduli dan tidak memberi jalan bagi orang lumpuh yang dibawa masuk untuk bertemu dengan Yesus. Kita hendaknya bukan menjadi bagian dari mereka, tetapi hendaknya seperti orang-orang yang berusaha membawa orang lumpuh itu untuk bertemu dengan Yesus untuk disembuhkan.

Di sekitar kita, pasti banyak orang sakit, orang menderita, orang yang merasa tersingkir dan juga orang yang merindukan pertemuan dengan Yesus tetapi mereka mengalami hambatan. Nah, kitalah yang seharusnya membantu mereka semua. Iman kita hendaknya kreatif untuk membantu mereka untuk bertemu dengan Yesus dan merasakan jamahan kasih dan penyembuhan dari Yesus. Iman kita hendaknya juga menyelamatkan orang lain.
Kita juga mungkin seperti orang lumpuh itu yang membutuhkan jamahan kasih dan penyembuhan dari Yesus. Mungkin secara fisik kita tidak lumpuh, tetapi secara iman kita lumpuh, karena kita tidak percaya lagi kepada Yesus dan kita tidak berbuat apa-apa atau iman kita tidak bergerak dan tidak berbuah. Kita sering puas hanya dengan mengatakan sudah percaya kepada Yesus, sudah dibaptis dan rajin ke Gereja. Iman kita tidak menggerakkan kita untuk mewujudkannya dalam hidup sehari-hari dan tidak menghasilkan buah pertobatan serta berusaha membawa orang lain kepada Yesus. Sudah banyak kotbah atau nasihat yang kita dengar, yang mengajak kita untuk menghayati dan mempraktekkan iman kita, tetapi kita tetap saja tidak mau disembuhkan, sehingga kita tetap lumpuh dan berdiam dalam kelumpuhan Dengarkanlah kata-kata Yesus hari ini, yakni bahwa iman itu menyelamatkan kita dan Yesus akan menerima dan mengampuni kita. Bahkan Yesus tidak hanya sekedar memberi pengampunan, tetapi Dia akan menganugerahkan rahmat-Nya sehingga kita mampu berjalan kembali ke kehidupan kita, meninggalkan kelumpuhan iman kita. Oleh karena itu, mari kita datang kepada Yesus dan mohon penyembuhan dari pada-Nya. Amin.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Apakah selama ini, iman Anda sudah menggerakkan Anda untuk membawa orang lain bertemu dengan Yesus?

2. Berusahalah agar iman Anda menggerakkan Anda untuk menyapa, memperhatikan dan membantu orang-orang yang sakit.

3. Bertobatlah, karena Tuhan pasti akan mengampuni.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)