Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Bacaan Injil Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam (Bahasa Indonesia)

Bacaan Injil Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam (Bahasa Indonesia)
2Sam 5:1-3, Mzm 122:1-2,4-5, Kol 1:12-20, Luk 23:35-43

"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi". Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Asal-mula Masa Adven

Asal-mula Masa Adven
oleh: Romo William P. Saunders *


Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas Rasul (30 November). Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.

Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.

Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).

Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.

Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama: “Bapa di surga… tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: The Celebration of Advent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Renungan Harian : Sabtu 20 Nopember 2010

Renungan Harian : Sabtu 20 Nopember 2010
Why 11:4-12, Mzm 144:1,2,9-10, Luk 20:27-40


"Allah bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

BACAAN INJIL:
Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.
Demikianlah warta gembira bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN.

Tantangan hidup beriman, makin hari bukan makin mudah, justru semakin berat karena semakin banyak tantangan. Ajaran iman seringkali bertolak belakang dengan kenyataan atau kebiasaan yang ada dalam hidup dan juga kadangkala bertolak belakang dengan keinginan manusiawi kita. Selain itu, orang sudah lebih menggunakan akal budi dalam menghadapi hidup ini, semuanya dinilai dan dihadapi dengan akal budi. Orang semakin banyak dan pintar dalam menghadapi dan menjawabi apa yang terjadi dalam hidup manusia. Hal ini bahkan bisa saja terjadi dalam penafsiran mukjizat yang terdapat dalam kitab Suci. Memang ilmu pengetahuan dan akal budi perlu dan dapat membantu kita dalam memahami Sabda Tuhan, tetapi tentunya tidak semuanya dapat dijawabi oleh akal budi dan iman. Namun kenyataan itu yang seringkali terjadi. Dengan lihainya orang mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan, makna iman dalam hidup. Dengan demikian itu berarti juga mempertanyakan kebangkitan badan, dan hidup kekal yang dijanjikan oleh Yesus kepada siapa saja yang setia kepada-Nya. Saat ini sudah begitu banyak orang Saduki yang tidak mengakui kehidupan kekal, bahkan mungkin orang Saduki sekarang jauh lebih pintar. Menghadapi mereka kita bisa kelabakan menjawabnya, apalgi kalau kita kurang beriman dan pengetahuan iman kitapun kurang mendalam. Hal ini bisa menyebabkan kita terjebak dan menjadi Atheis dalam praktek meskipun di KTP masih tertulis katolik.

Dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi orang Saduki yang tidak mengakui adanya kehidupan kekal. Mereka mau menjebak Yesus dengan ajaran soal kebangkitan, soal yang sulit untuk dijawab secara akal budi. Tetapi niat jahat dan jebakan mereka tidak berkekuatan apa-apa menghadapi Yesus. Yesus menjawabnya dengan sangat tepat dan pada akhir bacaan ini bahkan dikatakan mereka tidak berkutik dengan jawaban Yesus.

Jawaban Yesus sekaligus menjadi suatu pembelajaran kepada kita bahwa iman dan hal kehidupan kekal atau kerajaan Allah itu melampaui akal budi manusia, melampaui hal yang menusiawi. Iman dan kehidupan kekal itu memang sungguh tidak sama dengan kehidupan dunia dan melampaui hidup dunia ini. Gambaran hidup kekal itu, bukan seperti yang terjadi dalam hidup dunia dan bukan seperti gambaran manusia dan bahkan tidak bisa digambarkan oleh akal budi manusia. Inilah rahasia iman dan rahasia kehidupan kekal. Justru karena iman dan kehidupan kekal itu berbeda dengan hidup dunia ini dan tidak bisa kita pahami dengan akal budi, itulah yang menjadi salah satu kekuatan dan alasan kita beriman. Kalau sama seperti hidup di dunia ini dan dapat kita mengerti dengan akal budi kita, buat apa kita mempercayainya. Tetapi karena tidak sama dengan hidup dunia ini, melampaui hidup dunia dan akal budi manusia, maka kita percaya. Akan tetapi dengan percaya, bukan berarti kita pasrah dan menerima begitu saja. Tentu bukan. Tetapi karena percaya Tuhan itu adalah Tuhan yang hidup, yang mahakuasa, Dia melampaui dunia ini.

Dengan iman ini, kita hendaknya menyatukan pikiran dan kehendak kita dengan pikiran dan kehendak Tuhan. Kita diajak memandang dan menghadapi hidup dunia ini dengan kacamata iman kepada Tuhan. Justru dengan diresapi iman ini, kita dimampukan untuk berjuang menghadapi dunia, hidup yang penuh dengan persoalan yang kadang kita tidak bisa mengerti. Tetapi dengan iman, kita akan dimampukan karena kita percaya bahwa mempunyai Tuhan yang melampaui manusia dan ada harapan kehidupan kekal yang melampaui dunia ini yang siap menanti kita. Untuk mampu hidup demikian, mari kita undang agar Roh Kudus berdiam dalam diri kita, dan membiarkan Roh itu yang membimbing dan berkuasa atas diri kita. Hidup yang demikian, akan membuat kita mampu melihat dan menikmati indahnya hidup ini. Semangat hidup kita semakin bertambah besar karena suatu keyakinan, kebahagiaan sejati dan kekal sudah siap menanti kedatangan kita. Semoga kita mampu hidup dalam iman. Amin.

REFLEKSI PRIBADI:

1. Cobalah hari ini mengahadapi hidup dengan kacamata iman, tidak melulu dengan akal budi.

2. Sebelum Anda memulai aktifitas hari ini, berusahalah memberi waktu untuk hening sejanak, berdoa dan mendengarkan apa kehendak Tuhan bagi Anda hari ini.

3. Cobalah semakin hari semakin menyatukan pikiran dengan pikiran Tuhan sendiri.

Perlawanan Terhadap Fatwa Kondom Paus Benediktus

Perlawanan Terhadap Fatwa Kondom Paus Benediktus

Pernyataan Paus Benediktus XVI yang membolehkan penggunaan kondom guna mencegah penyebaran HIV mengundang penolakan dikalangan konservatif Katolik. Sejumlah gereja Ortodoks memang menerima titah Paus. Akantetapi tak sedikit yang menolak atau bahkan meragukan juru bicara VatiKan, Federico Lombardi dalam menerjemahkan pesan Paus. "Ini gila," papar Presiden National Catholic Bioethics Center, Philadelphia, AS. Dirinya mengaku tidak siap dengan apa yang dikatakan Paus dan juga Lombardi

Sebelumnya, kalangan konservatif juga dikejutkan dengan pernyataan Paus dalam bukunya "Light of the World: The Pope, the Church and the Signs of the Times'. Dalam buku itu Paus membolehkan penggunaan kondom di kalangan pelaku prostitusi. Paus berpendapat, bagi pekerja seks komersial laki-laki, penggunaan kondom bisa menjadi langkah dalam memikul tanggung jawab moral karena tujuannya untuk mengurangi resiko infeksi.

Selasa lalu, dalam konfrensi pers di Roma, Lombardi menjelaskan Paus sadar kalau pernyataannya itu memicu perdebatan sengit. Lombardi mengatakan Paus tidak membolehkan penggunaan kondom pada pekerje seks komersial laki-laki saja tetapi juga seorang pria, wanita atau transeksual. " Paus tidak menyarankan menggunakan kondom sebagai kontrol kelahiran, seperrti yang diputuskan Gereja Katolik Roma, dan dia juga mengatakan kondom itu bukan "solusi nyata atau moral" untuk krisis AIDS," kata Lombardi. Namun, ibarat nasi telah menjadi bubur, perdebatan panjang tengah berlangsung antara teolog dan pejabat gereja atas moralitas penggunaan kondom untuk pencegahan penyakit.

Jenn Giroux, Direktur Eksekutif Human Life International Amerika, yang mempromosikan ajaran Katolik tentang kontrasepsi, aborsi dan isu-isu moral lainnya, mengatakan Vatikan perlu mengklarifikasi pernyataan Paus lebih lanjut. "Saya melihat pernyataan Paus dengan sangat hati-hati," kata Giroux, seorang perawat terdaftar dan ibu dari sembilan anak. "Kami lebih melihat doktrin gereja pada pernyataan seperti ini,"

Germain Grisez, seorang teolog moral terkemuka mengatakan promosikan kondom sebagai perlindungan terhadap penyakit akan membenarkan hal "jahat" karena mengasumsikan seseorang tidak memiliki kapasitas untuk membuat pilihan moral yang baik. Dia menyatakan komentar Paus bisa jadi disalahgunakan untuk menabur keraguan tentang ajaran Katolik.

"Banyak perkataan Yesus sendiri telah disalahgunakan, dan dia tidak meragukan ramalan bahwa ajarannya akan disalahgunakan. Namun, dia tetap mengatakan apa yang dia pikir akan mengarah pada keselamatan orang-orang yang terbuka untuk pengajaran-Nya.," Tulis Grisez dalam sebuah e-mail. "Saya berasumsi bahwa niat Paus Benediktus saat berbicara karena ia tidak mirip dengan Yesus. Niat itu Benediktus harus dikatakan mungkin tidak terdengar seperti Yesus,"

Haas, seorang teolog moral lainnya mengatakan dia memanggil semua Uskup Selasa lalu, untuk mempertanyakan kebingungannya terhadap perkataan Lombardi. Menurutnya, apa yang dikatakan Paus terfokus usaha menegakkan ortodoksi Katolik tentang perkawinan dan seksualitas. Menanggapi itu, Konferensi Uskup Katolik AS menolak memberikan komentar.

Secara terpisah, Philip Lawler, editor Catholic World News, menuntut pengunduran diri editor surat kabar Vatikan, L'Osservatore Romano, setelah Paus mengutip harian tersebut saat mempublikasikan pemberitaan kondom dan topik lainnya dalam edisi Sabtu lalu.

Lawler dan kebanyakan umat Katolik ortodoks lain berpendapat bahwa media itu merongrong paus dengan mengutip dia tanpa konteks yang tepat. Lawler berdiri dengan kritik dan menyerukan pengunduran diri editor setelah konferensi pers. "Saya pikir klarifikasi itu membingungkan dan membuat frustrasi," ujar Lawler.

Pada dasarnya ajaran Katolik tidak pernah benar-benar melarang penggunaan kondom untuk perlindungan terhadap HIV. Vatikan sebagai otoritas tertinggi dalam hieraki kekristenan boleh dibilang mengeluarkan kebijakan tidak resmi atas masalah ini.

Sumber : www.republika.co.id

Vatikan pun Dilema

Vatikan pun Dilema

Sekian lama menentang penggunaan kondom, Vatikan menghadapi dilema. Terutama setelah Paus Benediktus XVI menyatakan kondom boleh digunakan dalam beberapa kasus. Ajaran Katolik Roma menyatakan penggunaan kondon tergolong tidak bermoral. Doktrin gereja mengenai penggunaan alat kontrasepsi buatan masih tidak berubah. Namun begitu, ucapan Benediktus seakan menentang hal tersebut. Ia menyatakan kondom boleh digunakan pada situasi tertentu.

“Ada perubahan yang sangat besar di Vatikan,” ujar Pastur James Martin, seorang penulis Jesuit dan editor. Menurutnya, kebijakan kondom Vatikan itu ternyata tidak membenarkan kasus yang membahayakan nyawa. Pernyataan Benediktus yang berbuntut panjang itu, termuat dalam wawancara bersama seorang jurnalis Jerman. Benediktus memperbolehkan penggunaan kondom dalam beberapa kasus. Sebelumnya ketika berkomentar mengenai AIDS di Afrika, ia menyatakan kondom takkan bisa memecahkan masalahnya.

“Dengan mengakui bahwa kondom membantu mengurangi penyebaran HIV antara manusia yang melakukan hubungan seksual, Paus Benediktus telah mengubah diskusi Katolik mengenai kondom,” tutur Martin yang seorang penulis Katolik liberal. Ahli teologi Vatikan sejak lama berdebat apakah menggunakan kondom untuk mencegah pasangannya menulari HIV bisa diterima secara moral. Beberapa tahun lalu, Vatikan merencanakan sebuah dokumen untuk hal ini. Namun hingga kini, dokumen itu tak pernah keluar.

Dalam wawancara yang disusun menjadi sebuah buku bertajuk Light of the World: The Pope, the Church and the Signs of the Time, Benediktus menyatakan kondom yang digunakan beberapa orang seperti PSK pria, mengindikasikan mereka lebih bertanggung jawab secara moral dan seksual untuk melindungi partner mereka dari infeksi mematikan.

Sumber : www.inilah.com
Disadur dari http://kabarkatolik.com/

Renungan : Jumat 19 Nopember 2010

Renungan Harian, 19 Nopember 2010
Why 10:8-11, Mzm 119:14,24,72, 103,111,131, Luk 19:45-48
(Mechtildis, Rafael dr Yosef Kalinowski )

"Hendaknya kita menjadi pelaku, pejuang bagi hidup yang lebih baik. Jangan takut! Sbab Yesus akan selalu berpihak kepada kita."

BACAAN INJIL:

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.
Demikianlah warta gembira bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN:
Setiap orang pasti mengharapkan hal yang baik. Tidak ada seorangpun yang mengharapkan hidup ini penuh dengan kekacauan, tidak seorangpun yang mengharapkan orang lain melakukan hal yang jahat atas dirinya. Namun seringkali kita hanya mengharapkan kebaikan, tetapi tidak melakukannya dan bahkan seakan ikut ‘memelihara’ hal yang tidak baik dalam hidup ini. Mungkin kita tidak melakukannya, tetapi kita tidak berani menyuarakan kebaikan, kebenaran dan keadilan. Kita seringkali berdiam diri ketika melihat sesuatu yang tidak baik terjadi. Lebih banyak orang yang takut untuk memperjuangkan kebenaran karena takut resiko yang tidak baik. Karena memang dalam dunia sekarang ini seringkali orang yang berbuat baik, memperjuangkan kebaikan, kebenaran dan keadilan kurang disenangi dan bahkan ‘dibenci’ oleh banyak orang. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang memilih diam, seakan-akan tidak tahu bila melihat suatu hal yang tidak baik.

Berbeda halnya dengan Yesus, sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini. Yesus begitu marah ketika rumah ibadah yang harusnya menjadi tempat berdoa, tempat yang disucikan tetapi dijadikan sebagai sarang penyamun. Bait Allah bukan hanya dicemari dengan pelanggaran-pelanggaran kecil, tetapi justru menjadi sarang penyamun. Dengan ungkapan jadi sarang penyamun, itu menggambarkan betapa besarnya kejahatan yang sudah dilakukan di Bait Allah. Umumnya kejahatan besar terjadi dalam instansi atau lembaga resmi, tentu dibekingi oleh orang-orang besar, orang-orang kaya atau para pejabat tertentu. Contohnya bukan rahasia bahwa sudah ada peraturan bagi para kooruptu, tetapi tetap orang melakukannya, tidak ada rasa takut dan jera. Pasti mereka melakukannya karena di belakang mereka ada orang-orang berpengaruh, para penguasa. Buktinya, kalaupun ketahuan, hukuman mereka jauh lebih sedikit dibandingkan rakyat kecil yang mungkin karena lapat mencuri buah dari ladang orang lain. Masih banyak contoh lain yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita. Karena itu pulalah seringkali orang takut untuk menegakkan kebenaran. Itu pulalah pasti yang terjadi di Bait Allah yang dihadapi oleh Yesus. Hal ini benar karena buktinya para imam dan ahli-ahli Taurat malah tidak senang atas sikap Yesus yang hendak mengembalikan fungsi Bait Allah sebagai tempat doa karena sudah menjadi sarang penyamun. Malah dikatakan mereka yang harusnya memelihara kekudusan Bait Allah merencanakan untuk secepatnya membinasakan Yesus. Benarlah bahwa sebenarnya mereka itulah kiranya yang menadi dalang dan beking dari kejahatan yang terjadi di Bait Allah. Walaupun demikian, Yesus tidak gentar, Dia tidak takut dan tetap mengajar di Bait Allah.

Syukurlah bahwa Yesus tetap konsekuen dan setia pada tugas perutusanNya, yakni membawa Kerajaan Allah, membela kebenaran, keadilan dan mengajak kita untuk bertobat dan masuk dalam Kerajaan Allah. Ini menjadi sukacita bagi kita. Lewa hal ini kita bersuka cita karena kita yakin bahwa Yesus tidak akan bisa dihalangi apapun untuk membela kita agar kita masuk surga. Dia adalah Tuhan yang setia, meskipun kita tidak setia. Berbeda dengan pemimpin bangsa ini yang seringkali hanya masin di bibir tetapi menyakitkan dan membinasakan dalam tindakan.

Apa yang dialami Yesus memang juga masih banyak terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Orang yang berusaha hidup baik, benar, jujur dan adil seringkali malah disingkirkan dari percaturan hidup ini. Melakukannya untuk diri sendiri saja sudah mendapat resiko tidak baik apalagi bila menjadi pembela kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Zaman ini malah caranya lebih canggih dalam menyingkirkan orang-orang baik. Oleh karena itulah orang lebih banyak memilih diam dan bahkan ikut ambil bagian dalam kejahatan dunia ini.

Walaupun demikian, apakah kita para pengikut Yesus harus berdiam diri dan melah ikut memelihara kejahatan dalam hidup ini? Tentu tidak demikian yang diharapkan oleh Yesus. Memang dunia tidak berpihak pada kita bila kita berusaha hidup baik, berusaha membela kebenaran, kebaikan, kejujuran dan keadilan, tetapi kita yakin bahwa Yesus Tuhan berpihak kepada kita. Yesus tidak hanya berpihak kepada kita, tetapi Dia sendiri akan menjadi pembela kita karena Dia tidak pernah takut kepada siapapun dalam melakukan kebaikan. Ini hendaknya menjadi semangat dan kekuatan bagi kita agar kita berani menjadi pelaku kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran dalam hidup. Ini memang bukan tugas yang mudah. Oleh karena itu, kita tetap memohon kekuatan daripada-Nya, agar Roh Kudus memampukan dan memberanikan kita melakukan seperti yang telah dilakukan oleh Yesus. Kita juga berdoa dan semoga semakin banyak orang yang berani berjuang untuk menciptakan hidup yang lebih baik. Kalaupun kita tidak berani menjadi pelaku kebaikan, paling tidak kita berpihak, mendoakan dan mendukung saudara-saudari kita yang berani memperjuangkan kebaikan. Atau paling tidak kita berusaha melakukan dengan memulainya dengan hal-hal yang kecil di sekitar kita, misalnya dalam keluarga kita, kepada anggota keluarga kita dan juga dalam lingkup Gereja kita. Semoga berkat kuasa Roh Kudus, kita dimampukan dan diberanikan menjadi pelaku dan pejuang kebaikan. Amin.

REFLEKSI RPIBADI:

1. Hari ini, cobalah berani menegur pelanggaran-pelanggaran kecil yang terjadi di sekitar Anda.

2. Coba juga terbuka atas teguran atau kritik dari orang lain.

3. Cobalah melakukan hal-hal yang baik pada hari ini, mulai dari diri Anda dan mulailah dengan hal-hal yang kecil yang kelihatannya sepela.

Pesan Natal Bersama Tahun 2010

Pesan Natal Bersama Tahun 2010

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010

"Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia"
(bdk. Yoh. 1:9)

Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup"1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: "Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"2. Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: "Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dunia".

2. Saudara-saudari terkasih,
Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam ke-rukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan "peradaban" yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; "peradaban" yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka tidak memiliki kesempatan bersuara; "peradaban" yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian dari pada budaya cinta yang menghidupkan.
Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penang-gungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kiner-ja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. So-rotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terung-kap dengan praktek korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat mempri-hatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.

Kenyataan ini yang berlawanan dengan keadaan masyarakat yang sema-kin jauh dari sejahtera, termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin mem-perparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.

Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus menjelma menjadi ma-nusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang menolak Terang itu, namun Terang yang sesungguhnya ini membawa pengha-rapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu me-numbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kege-lapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang"3.
Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, „Ÿ dan demikian juga menya-tukan diri kita dengan „Ÿ karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.
Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di da-lam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.

3. Saudara-saudari terkasih,
Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan ber-sama.

•• Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan"6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.

•• Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejah-tera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkrit seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.

•• Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.

•• Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik iba-dat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetap-kan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.

Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7.[1]Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:










SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011
Jakarta, 12 November 2010
Atas nama





PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)




KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI),




Pdt. Dr. A.A. Yewangoe Mgr. M.D. Situmorang OFMCap.
Ketua Umum Ketua




Pdt. Gomar Gultom, M.Th. Mgr. J.M. Pujasumarta
Sekretaris Umum Sekretaris Jenderal


Disadur dari http://www.mirifica.net/

Renungan : 18 Nopember 2010

Why 5:1-10, Mzm 149:1-2,3-4,5-6a,9b, Kis 28:11-16,30-31, Mat 14:22-33
(P. Fak Pemberkatan Gereja Basilik St. Petrus dan Paulus Rasul)

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

BACAAN:
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."
Demikianlah warta gembira bagi kita hari ini.

PERMENUNGAN:

Tidak ada hidup yang mulus berjalan atau terlepas dari persoalan. Hidup kita juga hidup beriman seringkali harus menghadapi badai atau persoalan yang kadangkala membuat hidup kita diombang-ambingkan, iman kita yang semula mungkin kuta, bisa saja pada akhirnya goyah karena badai kehidupan ini. Ketika hidup itu seakan lanjar, ketika kita tidak menghadapi persoalan, pasti kita akan mudah merasakan kehadiran Tuhan, mudah mengatakan bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita. Namun ketika ‘badai’ kehidupan datang menerjang perahu kehidupan kita, saat itu seringkali kita meragukan kasih dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Lebih dari itu, kita bisa jadi malah meragukan kuasa Tuhan yang sanggup membantu kita dalam mengatasi persoalan yang sedang kita hadapi.

Hal demikian pula yang dialami oleh para murid, ketika perahu mereka diombang-ambingkan oleh ombak, apalagi dikatakan bahwa hal itu terjadi pada malam hari. Mereka semua ketakukan, padahal jelas bahwa dalam kisah sebelumnya mereka sudah menyaksikan mukjijat yang diperbuat oleh Yesus, yakni mempergandakan 5 roti dan 2 ikan dan memberi makan 5 ribu orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka melupakan hal itu, karena ternyata tidak ada diantara mereka yang berseru mohon pertolongan Yesus. Bahkan ketika Yesus hadir untuk memberi pertolongan, mereka bukannya gembira, iman mereka bukannya bangkit, tetapi malah mengatakan bahwa Yesus yang hadir adalah hantu. Dalam situasi ketakutan, Yesus memperkenalkan diri-Nya tetapi Petrus masih ragu-ragu, walaupun sudah mulai yakin bahwa yang mereka lihat adalah Yesus. Tetapi karena keyakinannya kurang kuat dan disamping gelombang ombak yang dasyat, dia hampir tenggelam. Syukur bahwa dia langsung sadar dan berseru, “Tuhan, tolonglah aku.” Yesuspun menolongnya dan dia selamat.
Perikop ini sungguh menarik, menggambarkan bahwa hidup kita adalah seperti sebuah perahu yang mengarungi lautan luas. Dalam perjalanan perahu kehidupan kita, kita pasti mengalami gelombang badai kehidupan yang mengombang-ambingkan perahu kehidupan kita. Hidup iman kita yang semula lancar, bisa menjadi goyah dan seakan kita menjalani hidup dalam malam gelap dan penuh dengan gelombang yang siap untuk menghanyutkan atau menggulingkan perahu kehidupan kita. Biasanya dalam situasi demikian, kita mulai mempersoalkan kehadiran dan kuasa Tuhan atas kita, iman mulai kita pertanyakan. Kita mulai merasa bahwa Tuhan tidak hadir dalam kehidupan kita. Mungkin saja kita mulai ‘bangkit’ yakni dengan berdoa, tetapi karena kita memikirkan bahwa badai itu begitu besar, kita jadinya meragukan kehadiran dan meragukan kuasa Tuhan yang akan mampu membantu kita.

Perikop ini menjadi suatu peneguhan bagi kita, terutama bagi iman kita akan kehadiran Yesus dan kuasa-Nya yang senantiasa hadir untuk kita. Lewat perikop ini, kepada kita dikatakan bahwa Yesus senantiasa mengetahui semua perjalanan hidup kita terutama menakalai kita mengalami badai kehidupan. Saat badai itu datang dan iman kita mulai goyah, sebenarnya Yesus hadir dan menyatakan kehadiran-Nya lewat tanda-tanda yang diharapkan iman kita dikuatkan. Namun pikiran kita hanya terarah pada badai yang sedang kita alami, kita menjadi ragu akan kehadiran Tuhan dan kuasa-Nya. Persoalan atau badai kehidupan itu semakin terasa berat, manakala pikiran kita hanya tercurah padanya dan kita tidak pernah lagi memikirkan Tuhan, atau kita melupakan kehadiran Tuhan, tidak sempat lagi memikirkan Tuhan. Oleh karena itu, mari kita menyadari bahwa bagaimanapun besarnya badai kehidupan yang kita alami, kita berusaha tetap meyakinkan diri bahwa Tuhan ada dalam hidup kita dan Dia siap menolong kita. Hal ini kita nyatakan dalam doa-doa kita. Dalam doa kita berseru, “Tuhan, tolonglah aku.” Doa ini kita lakukan berulang-ulang sehingga keyakinan dan sikap mengharapkan pertolongan Tuhanlah yang mengisi pikiran kita, bukan badai itu saja. Melakukan hal ini, bukan berarti kita menghindar dari badai yang sedang kita hadapi. Tetapi dengan berdoa atau berseru-seru kepada Tuhan, kita memohon pertolongan Tuhan. Yakinlah, Tuhan pasti akan datang, hadir untuk menolong kita, terutama pada saat seakan-akan kita tidak akan sanggup lagi untuk menghadapi badai kehidupan itu. Nah beranikah kita percaya akan hal ini?

REFLEKSI PRIBADI:

1. Rasakan, sadari dan yakinkanlah dirimu bahwa Yesus senantiasa hadir dan siap menolong senantiasa, terutama menakala kita mengalami badai kehidupan ini.

2. Hari ini, bila mengalami ‘badai’ kehidupan, ‘berserulah’ kepada Tuhan, “Tuhan, tolonglah aku.”

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)