Renungan Hari biasa Pekan V Prapaskah, Sabtu 16 April 2011
Yeh 37:21-28, MT Yer 31:10,11-12ab,13, Yoh 11:45-56
Yeh 37:21-28, MT Yer 31:10,11-12ab,13, Yoh 11:45-56
"Yesus adalah 'kambing hitam' kejahatan dan dosa-dosa manusia."
BACAAN INJIL:
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.
RENUNGAN:
Kata orang, Gayus hanya kambing hitam dari orang-orang kuat dan berpengaruh. Dia dikatakan hanya korban yang sengaja dikorbankan dan meu mengorbankan diri demi orang lain. Benarkah berita ini? Siapa di balik semua ini? Tidak ada yang tahu, hanya dia sendiri yang tahu dan tentunya Tuhan Allah pasti tahu akan hal ini.
Kemarin, Jumat 15 April 2011 terjadi bom bunuh diri mengecam keras bom bunuh diri yang melukai puluhan Muslim yang sedang melakukan sholat Jumat siang tadi di masjid yang terletak di komplek kepolisian kota Cirebon, Jawa Barat. Beritanya dapat dilihat di sini. Atas kejadian ini pasti akan banyak muncul spekulasi sehubungan dengan pelaku dan sebab kejadian. Mungkin orang akan mengatakan bahwa pelaku adalah pemain lama, atau para teroris yang merasa dihambat oleh para polisi. Mungkin adapula yang mengatakan bahwa pelaku adalah pihak atau kelompok tertentu yang sengaja mengcaukan keadaan Negara ini. Mungkin ada pula yang mengatakan pelaku adalah bukan orang Islam, karena tidak mungkin orang islam membom rumah ibadahnya dan mengorbankan saudaranya sendiri. Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu di sengaja untuk memancing perkelahian antar kelompok agama. Dan mungkin pasti ada pula yang mengatakan bahwa kejadian itu adalah hal yang disengaja orang-orang tertentu, untuk mengalihkan perhatian umum akan berita yang lagi marak saat ini.
Nah, kalau kita berandai-andai atas suatu peristiwa, pasti akan banyak komentar dan pengandaian. Pendapat atau komentar itu bisa positif, tetapi bisa jadi justru semakin memicu persoalan semakin lebih parah lagi. Namun yang jelas, dalam kehidupan ini seringkali kita mendengar istilah ‘kambing hitam’. Peristiwa atau tindakan ‘kambing hitam’ seringkali terjadi dalam kehidupan di Negara kita ini. Tindakan kambing hitam itu sungguh banyak terjadi, padahal kambing warna hitam sendiri hampir tidak pernah ada ditemukan, kecuali kambing hitam siluman. Dengan istilah kambing hitam, itu menandakan bahwa kejadian, atau peristiwa itu adalah sesuatu yang menutupi suatu kebenaran, Dalam peristiwa kambing hitam, berarti ada orang atau kelompok menjadi korban atau dikorbankan demi menutupi suatu kebenaran dengan alasan demi kepentingan banyak orang. Dalam peristiwa demikian, seseorang bisa menjadi korban kambing hitam dari pihak lain, padahal dia tidak melakukannya, tetapi tidak dapat membela diri dan tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi adapula yang tahu dan mau menjadi kambing hitam dari pihak lain karena diberi sesuatu yang menguntungkan dirinya. Misalanya koruptor kelas teri ditangkap dan diadili dan seakan-akan dialah pelaku utama, padahal koruptor kelas kakap masih bebas berkeliaran. Koruptor atau penjahat kelas teri dikorbankan untuk menutupi koruptor atau penjahat kelas kakap. Masih banyak bentuk pengkambing hitaman dalam kehidupan kita.
Yesus juga mengalami hal yang sama. Yesus menjadi kambing hitam dari para imam kepala, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi. Kehadiran Yesus bagi mereka dianggap suatu ancaman besar, karena jelas-jelas Yesus melakukan dan mewartakan kebenaran kerajaan Allah. Kehadiran dan pengajaran Yesus, membongkar kebusukan hati dan kejahatan mereka sehingga pelan-pelan orang mulai meninggalkan mereka. Mereka tidak mau hal itu terjadi, tidak mau kehilangan pengikut dan tentunya tidak mau kehilangan mata pencaharian dari menipu dan berbuat jahat kepada rakyat kecil. Dari sebab itulah mereka sepakat untuk membunuh Yesus, mengorbankan Yesus demi kepentingan mereka dan untuk menutupi kejahatan mereka.
Namun selain itu, Yesus akhirnya dihukum mati adalah juga sebagai kambing hitam dosa-dosa manusia. Dalam artian ini, Yesus merelakan diri sebagai korban tebusan atas dosa-dosa manusia. Dosa-dosa manusialah yang mengakibatkan Yesus wafat di kayu salib, bukan karena kesalahan dan dosa yang diperbuat-Nya. Namun itu semua diterima oleh Yesus dengan sukarela, karena dosa manusia yang sangat besar, darah hewan tidak lagi bisa menjadi korban penebusan dosa manusia. Manusia dari dirinya sendiri tidak lagi sanggup memberi silih atas dosa-dosanya, sehingga tinggal Allah sendirilah yang mampu dan sanggup memberi silih atas dosa-dosa manusia. Oleh karena itulah Allah Bapa rela Anak-Nya yakni Yesus Kristus menjadi silih atas dosa-dosa manusia dengan mengorbankan diri di kayu salib. Kematian Yesus memang karena dosa-dosa manusia, tetapi Yesus sendiri rela menerimanya karena kasih yang sangat besar terhadap manusia, yang menghendaki manusia selamat. Namun perlu kita ingat, bahwa kematian Yesus bukanlah kehendak Allah dalam arti Allah Bapa maupun Yesus, sudah sejak semula merencanakan bahwa Dia akan mati di salib. Bukan dalam arti demikian. Penderitaan dan kematian Yesus di salib adalah konsekuensi kasih Allah yang diterima demi keselamatan Allah. Allah tidak menolak resiko itu demi keselamatan manusia.
Oleh karena itu, dengan menyadari hal ini, baiklah kiranya dalam prapaskah dan menjelang perayaan paskah ini, kita bersyukur atas kasih Yesus yang mau menjadi kambing hitam demi keselamatan kita. Rasa syukur kita, baiklah kita ungkapkan dengan semakin percaya dan mengasihi Yesus. Iman dan kasih kepada Yesus kita wujudkan dengan pertobatan, yang mana kita berusaha hidup menuruti kehendak dan teladan yang telah diajarkan Yesus sendiri kepada kita.
Hidup dalam pertobatan dengan melakukan kehendak Tuhan, memang bukan hal yang mudah. Hidup yang demikian justru bisa jadi juga menjadi kambing hitam oleh pihak lain yang tidak menghendaki kebaikan. Namun walaupun demikian, kiranya kita siap dan tidak takut bila suatu waktu kita menjadi kambing hitam karena pertobatan dan perbuatan baik sesuai sesuai dengan kehendak Allah. Kita hendaknya siap, rela dan senang hati berkorban atau siap menjadi korban demi kebaikan sesama dan terutama demi kerajaan Allah. Hidup yang rela berkorban demi Kerajaan Allah dan hidup baik, itulah yang mendatangkan keselamatan bagi sesama dan juga bagi diri sendiri, karena itulah yang berkenan di hadapan Allah. Para murid Kristus, harulah siap menjadi korban kambing hitam daripada mengkambing hitamkan orang lain atau pihak lain untuk menutupi kedosaan atau kejahatan kita atau kelompok kita.
Nah, menjelang pecan suci ini, baiklah kita renungkan, ‘Sebesar apa pengorbanan kita selama masa prapaskah ini, demi menjalani masa prapaskah? Sejauhmana pengorbanan kita demi kebaikan sesama, banyak orang? Atau masihkah kita malah mengorbankan orang lain demi kepentingan kita dan kejahatan kita. Mari kita sadar bahwa, kedosaan kita dan dosa-dosa yang kita lakukan, itu sama halnya kita kembali mengkambing hitamkan Yesus sendiri. Amin.
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.
RENUNGAN:
Kata orang, Gayus hanya kambing hitam dari orang-orang kuat dan berpengaruh. Dia dikatakan hanya korban yang sengaja dikorbankan dan meu mengorbankan diri demi orang lain. Benarkah berita ini? Siapa di balik semua ini? Tidak ada yang tahu, hanya dia sendiri yang tahu dan tentunya Tuhan Allah pasti tahu akan hal ini.
Kemarin, Jumat 15 April 2011 terjadi bom bunuh diri mengecam keras bom bunuh diri yang melukai puluhan Muslim yang sedang melakukan sholat Jumat siang tadi di masjid yang terletak di komplek kepolisian kota Cirebon, Jawa Barat. Beritanya dapat dilihat di sini. Atas kejadian ini pasti akan banyak muncul spekulasi sehubungan dengan pelaku dan sebab kejadian. Mungkin orang akan mengatakan bahwa pelaku adalah pemain lama, atau para teroris yang merasa dihambat oleh para polisi. Mungkin adapula yang mengatakan bahwa pelaku adalah pihak atau kelompok tertentu yang sengaja mengcaukan keadaan Negara ini. Mungkin ada pula yang mengatakan pelaku adalah bukan orang Islam, karena tidak mungkin orang islam membom rumah ibadahnya dan mengorbankan saudaranya sendiri. Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu di sengaja untuk memancing perkelahian antar kelompok agama. Dan mungkin pasti ada pula yang mengatakan bahwa kejadian itu adalah hal yang disengaja orang-orang tertentu, untuk mengalihkan perhatian umum akan berita yang lagi marak saat ini.
Nah, kalau kita berandai-andai atas suatu peristiwa, pasti akan banyak komentar dan pengandaian. Pendapat atau komentar itu bisa positif, tetapi bisa jadi justru semakin memicu persoalan semakin lebih parah lagi. Namun yang jelas, dalam kehidupan ini seringkali kita mendengar istilah ‘kambing hitam’. Peristiwa atau tindakan ‘kambing hitam’ seringkali terjadi dalam kehidupan di Negara kita ini. Tindakan kambing hitam itu sungguh banyak terjadi, padahal kambing warna hitam sendiri hampir tidak pernah ada ditemukan, kecuali kambing hitam siluman. Dengan istilah kambing hitam, itu menandakan bahwa kejadian, atau peristiwa itu adalah sesuatu yang menutupi suatu kebenaran, Dalam peristiwa kambing hitam, berarti ada orang atau kelompok menjadi korban atau dikorbankan demi menutupi suatu kebenaran dengan alasan demi kepentingan banyak orang. Dalam peristiwa demikian, seseorang bisa menjadi korban kambing hitam dari pihak lain, padahal dia tidak melakukannya, tetapi tidak dapat membela diri dan tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi adapula yang tahu dan mau menjadi kambing hitam dari pihak lain karena diberi sesuatu yang menguntungkan dirinya. Misalanya koruptor kelas teri ditangkap dan diadili dan seakan-akan dialah pelaku utama, padahal koruptor kelas kakap masih bebas berkeliaran. Koruptor atau penjahat kelas teri dikorbankan untuk menutupi koruptor atau penjahat kelas kakap. Masih banyak bentuk pengkambing hitaman dalam kehidupan kita.
Yesus juga mengalami hal yang sama. Yesus menjadi kambing hitam dari para imam kepala, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi. Kehadiran Yesus bagi mereka dianggap suatu ancaman besar, karena jelas-jelas Yesus melakukan dan mewartakan kebenaran kerajaan Allah. Kehadiran dan pengajaran Yesus, membongkar kebusukan hati dan kejahatan mereka sehingga pelan-pelan orang mulai meninggalkan mereka. Mereka tidak mau hal itu terjadi, tidak mau kehilangan pengikut dan tentunya tidak mau kehilangan mata pencaharian dari menipu dan berbuat jahat kepada rakyat kecil. Dari sebab itulah mereka sepakat untuk membunuh Yesus, mengorbankan Yesus demi kepentingan mereka dan untuk menutupi kejahatan mereka.
Namun selain itu, Yesus akhirnya dihukum mati adalah juga sebagai kambing hitam dosa-dosa manusia. Dalam artian ini, Yesus merelakan diri sebagai korban tebusan atas dosa-dosa manusia. Dosa-dosa manusialah yang mengakibatkan Yesus wafat di kayu salib, bukan karena kesalahan dan dosa yang diperbuat-Nya. Namun itu semua diterima oleh Yesus dengan sukarela, karena dosa manusia yang sangat besar, darah hewan tidak lagi bisa menjadi korban penebusan dosa manusia. Manusia dari dirinya sendiri tidak lagi sanggup memberi silih atas dosa-dosanya, sehingga tinggal Allah sendirilah yang mampu dan sanggup memberi silih atas dosa-dosa manusia. Oleh karena itulah Allah Bapa rela Anak-Nya yakni Yesus Kristus menjadi silih atas dosa-dosa manusia dengan mengorbankan diri di kayu salib. Kematian Yesus memang karena dosa-dosa manusia, tetapi Yesus sendiri rela menerimanya karena kasih yang sangat besar terhadap manusia, yang menghendaki manusia selamat. Namun perlu kita ingat, bahwa kematian Yesus bukanlah kehendak Allah dalam arti Allah Bapa maupun Yesus, sudah sejak semula merencanakan bahwa Dia akan mati di salib. Bukan dalam arti demikian. Penderitaan dan kematian Yesus di salib adalah konsekuensi kasih Allah yang diterima demi keselamatan Allah. Allah tidak menolak resiko itu demi keselamatan manusia.
Oleh karena itu, dengan menyadari hal ini, baiklah kiranya dalam prapaskah dan menjelang perayaan paskah ini, kita bersyukur atas kasih Yesus yang mau menjadi kambing hitam demi keselamatan kita. Rasa syukur kita, baiklah kita ungkapkan dengan semakin percaya dan mengasihi Yesus. Iman dan kasih kepada Yesus kita wujudkan dengan pertobatan, yang mana kita berusaha hidup menuruti kehendak dan teladan yang telah diajarkan Yesus sendiri kepada kita.
Hidup dalam pertobatan dengan melakukan kehendak Tuhan, memang bukan hal yang mudah. Hidup yang demikian justru bisa jadi juga menjadi kambing hitam oleh pihak lain yang tidak menghendaki kebaikan. Namun walaupun demikian, kiranya kita siap dan tidak takut bila suatu waktu kita menjadi kambing hitam karena pertobatan dan perbuatan baik sesuai sesuai dengan kehendak Allah. Kita hendaknya siap, rela dan senang hati berkorban atau siap menjadi korban demi kebaikan sesama dan terutama demi kerajaan Allah. Hidup yang rela berkorban demi Kerajaan Allah dan hidup baik, itulah yang mendatangkan keselamatan bagi sesama dan juga bagi diri sendiri, karena itulah yang berkenan di hadapan Allah. Para murid Kristus, harulah siap menjadi korban kambing hitam daripada mengkambing hitamkan orang lain atau pihak lain untuk menutupi kedosaan atau kejahatan kita atau kelompok kita.
Nah, menjelang pecan suci ini, baiklah kita renungkan, ‘Sebesar apa pengorbanan kita selama masa prapaskah ini, demi menjalani masa prapaskah? Sejauhmana pengorbanan kita demi kebaikan sesama, banyak orang? Atau masihkah kita malah mengorbankan orang lain demi kepentingan kita dan kejahatan kita. Mari kita sadar bahwa, kedosaan kita dan dosa-dosa yang kita lakukan, itu sama halnya kita kembali mengkambing hitamkan Yesus sendiri. Amin.
0 comments:
Post a Comment
Syalom. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya.Semoga Tuhan memberkati para Saudara.