Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.
Showing posts with label Misa Tridentin. Show all posts
Showing posts with label Misa Tridentin. Show all posts

Praksis Pastoral Misa Tridentin

Praksis Pastoral Misa Tridentin

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI menuliskan motu proprio (“atas kehendak pribadi”) Summorum Pontificum (7 Juli 2007), ketika menyampaikan pesan mengenai dibukanya kembali kemungkinan merayakan Misa Tridentin. Motu proprio pada hakikatnya adalah inisiatif pribadi dan ditandatangani secara pribadi pula. Meski surat ini bisa saja ditujukan kepada sebagian komunitas atau seluruh komunitas Gereja universal, tetaplah ini inisiatif pribadi.

Dengan motu proprio, Paus menyampaikan secara resmi bahwa para imam mendapatkan delegasi untuk merayakan Misa Tridentin. Di sini Paus menggunakan kewenangannya, sekaligus dengan cara hati-hati menyampaikan kebenaran yang diyakininya.

Paus sadar bahwa anjuran ini akan menimbulkan perbantahan. Terutama pendapat yang hendak langsung membenturkan anjuran dan izin ini dengan Konsili Vatikan II yang mempunyai status ajaran dan otoritas lebih tinggi. Hasil-hasil Konsili di bidang Liturgi, Ekaristi, dan Sakramen justru sangat maju ke depan. Konsili berkali-kali menekankan inkulturasi, konteks lokal, bahasa vernakular. Sebaliknya, Paus menganggap bahwa tidak ada pertentangan ajaran iman di antara keduanya. Kontinuitas teologi liturgi berlangsung di sana.

Seorang perempuan Katolik aktivis perdamaian yang sangat dikenal beberapa dekade lalu bernama Dorothy Day sangat menggandrungi Misa Tridentin. Paus Yohanes Paulus II pun tidak jarang merayakan Misa yang dipromulgasikan Paus Pius V pada 14 Juli 1570 ini. Tetapi sebaliknya, seorang Uskup Agung ‘ultrakonservatif’ di Perancis bernama Lefebvre dikeluarkan (diekskomunikasi) dari Gereja gara-gara – satu dari banyak alasan lain – merayakan Misa yang sepenuhnya menggunakan bahasa Latin ini. Perbedaan dan gesekan semacam ini menjadi perhatian Paus. Dia menginginkan umat universal bisa bersatu, sebagaimana Gereja yang pada hakikatnya adalah Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Mereka yang pro terhadap Misa ini beranggapan bahwa liturgi ini adalah kekayaan tradisi Gereja yang pernah mengisi relung-relung rohani seluruh umat di atas planet ini sepanjang ratusan tahun. Mengapa ini tidak kita segarkan kembali? Misa ini terbukti mengandung keagungan dan kesakralan tersendiri. Membuka kemungkinan perayaan Misa yang praktis tidak pernah dibuat lagi sejak 1969, berarti juga membuka kemungkinan untuk mengajak kembali kesatuan dalam Gereja Katolik Roma. Sementara Misa ‘biasa’ yang kita kenal sekarang ini dikritik terlalu banyak eksperimen, penuh dengan coba-coba yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sehingga berisiko mengandung banyak penyimpangan.

Banyak pihak dan pemimpin Gereja memandang Misa ini dengan perasaan enggan. Ekspos yang berlebihan ‘demi persatuan dan penyeragaman’ justru berisiko melahirkan konflik dan perpecahan. Belum lagi kesulitan praktis dan teknis, yaitu semakin langka orang memahami bahasa Latin yang pada dasarnya melekat dengan Misa ini.

Praktik pastoral konkret mengenai Misa Tridentin di tengah-tengah umat ternyata jauh lebih rumit dari apa yang dikatakan dalam dokumen atau secarik kertas. Pastoral umat selalu memperhitungkan aspek-aspek psikologi, sosiologi, antropologi, bahkan politik umat. Terlalu gegabah menjelaskan pro-kontra praksis penggembalaan umat langsung hanya dengan argumen normatif, seperti ‘taat dan tidak taat’, ‘setia atau tidak setia pada tradisi suci’, sepaham atau tidak dengan Gereja’

Disadur dari: Majalah Hidup, Edisi No. 41 Tanggal 9 Oktober 2011

Misa Tridentin: Pro dan Kontra

Misa Tridentin: Pro dan Kontra

HIDUPKATOLIK.com - Misa Tridentin adalah sebuah bentuk Misa Ritus Romawi yang diundangkan oleh Paus Pius V pada 1570, berdasarkan keputusan Konsili Trente, dan diberlakukan di seluruh Gereja Barat, kecuali wilayah-wilayah dan Lembaga Hidup Bakti yang mempunyai tradisi tata cara Misa yang telah berusia 200 tahun.

Pada 1962 Paus Yohanes XXIII mengundangkan kembali Misa Tridentin, yang dipakai hingga November 1969 ketika diperkenalkan Misa Paulus VI, sebagai tindak lanjut pembaruan liturgi dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), khususnya dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci.

Dokumen pendukung

Sejak digunakan Tata Cara Misa Baru pada 1969, Misa Tridentin tidak pernah secara eksplisit dibatalkan. Melalui Konstitusi Apostoliknya, Paus Paulus VI menghendaki agar Tata Cara Misa Baru menggantikan Tata Cara Misa pra-Konsili. Sementara itu muncul kelompok-kelompok yang melawannya dan menghendaki agar Misa Tridentin tetap dapat digunakan. Menanggapi situasi ini, pada 3 Oktober 1984 Kongregasi Ibadat mengeluarkan surat Quattuor Abhinc Annos yang menyatakan, para uskup dapat memberikan izin (indult) kepada para imam dan umat yang menghendaki Misa Tridentin 1962 dengan syarat tertentu.

Pada 2 Juli 1988 Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan Surat Apostolik Motu Proprio Ecclesia Dei yang mengizinkan kelompok-kelompok tertentu merayakan Misa Tridentin dengan izin uskup setempat.

Pada 7 Juli 2007 Paus Benedictus XVI melalui Motu Proprio Summorum Pontificum menegaskan, umat Katolik diizinkan untuk merayakan Misa Tridentin 1962 yang disebut forma extraordinaria, tanpa perlu izin khusus dari uskup setempat. Sebenarnya Paus ingin merangkul semua umat Katolik dalam kesatuan dengan Gereja. Motu Proprio ini kemudian diteguhkan dengan Instruksi Pelaksanaannya yang dikeluarkan oleh Komisi Kepausan Ecclesia Dei pada 30 April 2011.

Pro dan kontra

Ada pandangan pro dan kontra tentang Misa Tridentin. Pro-nya, pertama, untuk membangun sikap toleransi bagi mereka yang mencintai liturgi ini sehingga diharapkan mereka tetap bersatu dengan Gereja. Kedua, Gereja diperkaya dengan Tata Cara Liturgi Lama yang berbahasa Latin. Ketiga, Bapa Suci melihat, tidak ada pertentangan antara liturgi pra-Konsili dan paska-Konsili; ada kontinuitas antara Liturgi Lama dan Liturgi Baru. Keempat, Misa Tridentin dirasakan lebih khusyuk, karena ada banyak waktu hening saat Doa Syukur Agung didaraskan secara berbisik-bisik oleh imam. Imamnya pun perlu mempersiapkannya dengan matang karena ada banyak rubrik (aturan) yang harus ditaati.

Kontra-nya, Misa Tridentin lebih dirasakan sebagai pertunjukan karena bahasa dan struktur yang digunakan. Umat tidak mengerti bahasa Latin sehingga tidak dapat mengikuti doa-doa yang didaraskan. Umat hanya “menonton” imam yang melakukan ritual, karena sama sekali tidak ada partisipasi umat di dalam Misa. Situasi inilah yang ingin diperbarui oleh Konsili Vatikan II. Konstitusi tentang Liturgi Suci menegaskan, liturgi merupakan perayaan iman umat. Liturgi bukan hanya urusan imam belaka, tetapi menjadi urusan umat seluruhnya. Dengan demikian, dibutuhkan partisipasi umat secara penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi (SC 14). Penekanan unsur persekutuan ini merupakan ciri paham Gereja sebagai umat Allah. Ciri ini tampak dalam posisi imam yang menghadap ke umat: ada kebersamaan, ada komunikasi, ada perayaan bersama. Rubrik-rubrik yang rumit tidak lagi diterapkan dalam Liturgi Baru. Ada penyederhanaan liturgi supaya umat dapat lebih memahami simbol-simbol yang digunakan dan imam pun tidak perlu menjadi skrupel, tegang, atau takut.

Istilah “extraordinaria” sering disalahartikan sebagai “yang istimewa”. Padahal maksudnya adalah “yang di luar kebiasaan umum”. Maka, tepat dikatakan, Tata Perayaan Ekaristi yang baru tetap merupakan bentuk Ekaristi yang biasa dan baku, sedangkan Misa Tridentin dapat dilakukan di luar yang biasa.

B.A. Rukiyanto SJ
Penulis adalah seorang imam, dosen di Yogyakarta.

Disadur dari: Majalah Hidup Katolik, Edisi No. 41 Tanggal 9 Oktober 2011

Misa Tridentin: Warisan Liturgi yang Dipertahankan

Misa Tridentin: Warisan Liturgi yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin bagi semua imam dan umat Katolik. Surat tersebut dikeluarkan pada 7 Juli 2007, dan mulai diberlakukan pada 14 September 2007.

Seiring dipromulgasikannya Summorum Pontificum, Bapa Suci juga menuliskan surat kepada seluruh uskup, dengan tanggal yang sama, untuk memberikan penjelasan dan petunjuk pelaksanaannya. Paus menyebutkan, Gereja Katolik Roma tetap hanya mempunyai satu ritus, tetapi dapat dirayakan dengan dua tata cara liturgi resmi.

Tata cara tridentin disebut sebagai bentuk liturgi yang luar biasa (forma extraordinaria); sedangkan tata cara liturgi hasil pembaruan Konsili Vatikan II disebut sebagai bentuk liturgi yang biasa (forma ordinaria). Bentuk liturgi yang biasa ini adalah tata cara yang dipromulgasikan pada tahun 1970, pada masa Paus Paulus VI, dan pembaruan terakhir dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 2005. Oleh karena itu, tata cara yang biasa tersebut dikenal dengan Missale Romanum Paulus VI.

Keduanya, baik bentuk liturgi yang biasa maupun yang luar biasa, adalah sama dan tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Dua cara liturgi itu tetap menunjukkan ekspresi tata doa (lex orandi) Gereja yang bersumber dari satu ritus Gereja Latin Roma yang sah.

Sebenarnya Summorum Pontificum sebagai motu propio (dengan kehendak sendiri) merupakan penegasan dari motu propio Ecclesia Dei yang dipromulgasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 2 Juli 1988. Reksa pastoral Yohanes Paulus II tersebut didorong oleh adanya survei dari para uskup seluruh dunia yang termuat dalam Notitiae (1981). Dua dokumen motu propio tersebut secara tegas mengizinkan pelaksanaan Missale Romanum 1962 yang tidak lain adalah tata cara tridentin.

Dalam Summorum Pontificum, Paus Benediktus XVI juga mengutip dokumen khusus tentang pelaksanaan tata cara tridentin, Quattuor Abhinc Annos, yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat pada 1984.

Komisi Ecclesia Dei

Dalam perkembangannya, pada 1991 Takhta Suci membentuk Komisi Kepausan Ecclesia Dei yang diberi wewenang untuk melaksanakan dan memantau ketaatan pada keputusan Surat Apostolik Bapa Suci. Saat ini Ecclesia Dei diketuai oleh Kardinal William J. Levada, Prefek Kongregasi Ajaran Iman.

Pada 30 April 2011 Komisi Ecclesia Dei mengeluarkan instruksi tentang penerapan Summorum Pontificum. Instruksi tersebut berisi tentang hal-hal praktis yang terkait dengan pelaksanaan tata cara tridentin. Imam dan umat berhak merayakan Misa Tridentin dengan memperhatikan syarat-syarat tertentu. Misalnya, pengetahuan dan pemahaman bahasa Latin harus memadai, tidak terhalang oleh Hukum Kanonik untuk merayakan Misa, dan imam mampu menunjukkan diri secara spontan dan terbiasa atau pernah merayakan Misa ini. Begitupun bagi para uskup diosesan. Para uskup bertugas memantau dalam rangka menjamin kebaikan bersama dan menjamin pelaksanaan serta penghormatan terhadap tata cara tridentin ini sesuai dengan amanat Bapa Suci dalam Summorum Pontificum.

Hal fundamental dalam instruksi ini adalah larangan untuk mempertentangkan validitas tata cara tridentin dengan tata cara biasa. Dalam Perayaan Ekaristi, bacaan Misa dapat dinyatakan dalam bahasa Latin, atau bahasa Latin diikuti bahasa setempat, atau hanya dalam bahasa setempat. Bahkan, demi kebutuhan pastoral, uskup diosesan berwenang memastikan calon imam dilatih untuk merayakan tata cara yang tidak biasa ini.

Tujuan ‘Summorum Pontificum’

Banyak orang menangkap bahwa Summorum Pontificum hanya bertujuan untuk merangkul kembali kelompok Mgr Marcel Lefebvre, yang dikenal sebagai kelompok tradisionalis Society of St Pius X (SSPX). Kelompok ini menentang hasil Konsili Vatikan II. Pada 1998 SSPX diekskomunikasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Tetapi, setahun setelah mengeluarkan Summorum Pontificum, pada 2008 Paus Benediktus XVI mencabut ekskomunikasi kelompok ini.

Namun, dokumen tersebut sebenarnya bertujuan untuk menawarkan kepada umat tata cara liturgi tua (usus antiquior) dalam Gereja Katolik sebagai harta bernilai yang harus dipertahankan. Hal ini direfleksikan sebagai reksa pastoral bagi umat yang ingin merayakannya. Dalam dokumen lain, Sacramentum Caritatis, juga disinggung tentang khazanah Gereja yang harus dipelihara dan dilestarikan, antara lain penggunaan bahasa Latin.

R.B. Agung Nugroho

Disadur dari: Majalah Hidup Katolik, Edisi No. 41 Tanggal 9 Oktober 2011

Fenomena Misa Tridentin

Fenomena Misa Tridentin

HIDUPKATOLIK.com - Misa Tridentin merupakan salah satu bentuk Misa Ritus Romawi yang mengacu pada Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII pada 1962. Di Indonesia, Misa ini masih dipraktikkan.

Mereka yang menghayati tata liturgi yang tidak biasa (for­ma extraordinaria) ini tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar. Dari pengamatan HIDUP, setidaknya praktik Misa ini berlangsung di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Bahkan, tidak hanya Misa Tridentin tetapi juga pemberkatan perkawinan, pemberkatan ibu-ibu hamil, dan pemberkatan rumah. Keberadaan komunitas ini dan informasi tentang Misa Tridentin juga dapat ditemukan di akun facebook “Kami Cinta Ritus Tridentin”, situs “www.misa1962.org”, dan blog "http://tradisikatolik.blogspot.com”.

Sutradara dan aktor kondang Mel Gibson, kabarnya secara rutin juga merayakan Misa Tridentin di gereja tradisional dekat rumahnya di Malibu, California. Tetapi, ia mengikuti ajaran komunitas Society of Pius X (SSPX), pengikut Marcel Lefebvre, uskup agung yang diekskomunikasi Gereja Katolik pada 1998. Tetapi, pada 2008, Paus Benediktus XVI telah mencabut ekskomunikasi tersebut.

Misa Tridentin sebenarnya adalah bentuk liturgi Misa yang digunakan oleh Gereja di seluruh dunia sejak 1570. Liturgi Misa Tridentin yang sekarang digunakan adalah Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII. Misa Tridentin dirayakan dengan menggunakan bahasa Latin. Sedangkan liturgi Misa yang umum dipakai sekarang mengacu pada Missale Romanum Paulus VI yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Liturgi Misa Paulus VI ini disebut bentuk liturgi biasa (forma ordinaria), dengan menggunakan berbagai bahasa sesuai kebutuhan umat setempat.

Trend di Indonesia

Di Indonesia sudah terbentuk beberapa komunitas pencinta Misa Tridentin. Misalnya, Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus di Jakarta. Andre Prasetya dipilih sebagai koordinator kelompok ini. Pada 2009 Andre mengenal Misa Tridentin tatkala diajak adiknya untuk mengikuti Misa Tridentin yang diorganisasi oleh Thomas Rudy Haryanto. Andre mengatakan, jumlah umat yang hadir sangat tergantung pada tempat di mana Misa diselenggarakan. Misalnya, di Kembang Wangi, biasanya dihadiri 10-20 orang; ketika diselenggarakan di Inti College, jumlah umat sekitar 15-40 orang. Jumlah umat yang hadir bisa mencapai 5.000 orang, ketika Misa diadakan di gereja.

Dalam Misa biasa, Doa Syukur Agung dibacakan secara lantang oleh imam. Sedangkan dalam Misa Tridentin, imam membacakannya secara ‘bisik-bisik’. Selain itu, bacaan epistola hanya ada satu, sedangkan bacaan Injil ada dua. Injil kedua dibacakan di akhir Misa dan selalu diambil dari Injil Yohanes 1.

Aktivis Misa Tridentin dari Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus, Thomas Rudy Haryanto, mengenal Misa Tridentin melalui buku maupun internet. Ia menemukan, ternyata ada bentuk liturgi lain yang tidak biasa yang digunakan sebelum Konsili Vatikan II, yaitu Tridentin. Kemudian, pada 2007 muncul peraturan yang menyatakan dapat menggunakan bentuk liturgi yang tidak biasa tersebut. Selanjutnya, ia minta seorang imam untuk mempersembahkan Misa Tridentin. Misa perdana dirayakan di rumahnya pada 2008, atas izin pastor Kepala Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat. Dan, Misa Tridentin ini berlanjut di rumah orangtuanya di Puri Kembangan, Jakarta Barat.

Rudy berpendapat, ada perbedaan aspek teologis antara Misa biasa dan Misa Tridentin. Misa biasa menekankan pada aspek kebersamaan, sedangkan Misa Tridentin menekankan pada aspek kurban. Misa Tridentin banyak membuat tanda salib, karena yang ingin ditonjolkan adalah kurban Kristus yang disalib. Ada sekitar 20 kali membuat tanda salib selama Misa. Selain itu, ada ‘acara’ penciuman altar yang dilakukan sekitar 10 kali. Peran imam sangat mencolok dalam Misa ini, karena ingin menonjolkan imam sebagai yang serupa dengan Kristus sendiri (in persona Christi). Hal ini berarti menekankan ajaran mengenai pentingnya Imamat Jabatan, dan perbedaannya dengan Imamat Umum kaum beriman. Lebih lanjut Rudy menjelaskan, Imamat Jabatan ditonjolkan agar kurban salib dapat terlaksana, yakni tanpa imam, tidak ada Misa.

Sementara di Surabaya, ada Kelompok Studi dan Koor Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS) yang telah diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, 30 Mei 2008. Anggota SCS berasal dari berbagai paroki di Surabaya, antara lain Paroki Katedral Surabaya, St Yusup Karang Pilang, dan Salib Suci Sidoarjo. Umur anggotanya pun bervariasi, berkisar antara 18 sampai 66 tahun. Kelompok ini berkumpul seminggu sekali untuk belajar bersama tentang tradisi musik Gregorian dan liturgi Gereja. Di samping itu, atas prakarsa Romo Eko Budi Susilo Pr, SCS juga mendaraskan Ibadat Penutup (Completorium) di Katedral setiap hari Minggu pukul 21.00-21.30.

Peminat liturgi dan tradisi Katolik asal Surabaya, Albert Wibisono mengatakan, baik Misa dengan tata cara biasa maupun yang tidak biasa, baik dan sah menurut Takhta Suci. Namun, yang hendaknya diperhatikan adalah peningkatan kualitas dan keterampilan imam, pelayan katekese umat, dan syarat untuk bisa merayakan Ekaristi.

Albert menambahkan, partisipasi aktif yang diamanatkan dalam Konsili Vatikan II tidaklah berarti bahwa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dan/atau menyanyikan semua lagu dalam Misa. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam, dan ada aklamasi-aklamasi yang merupakan bagian umat, misalnya aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membaca Sabda Tuhan dan umat mendengarkan (bukan ikut membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Sikap diam dan khusyuk mendengarkan serta menghayati doa, bacaan Kitab Suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam Misa. Mendengarkan mungkin menjadi bentuk partisipasi aktif yang tersulit. Akhirnya, partisipasi batiniah lebih penting daripada partisipasi lahiriah.

Tanggapan hirarki

Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI), Pastor Bosco da Cunha OCarm, mengatakan, Paus Benediktus XVI telah menerbitkan Surat Apostolik Summorum Pontificum, melanjutkan apa yang sudah direstui oleh para paus pendahulunya. Pada 1991 Paus Yohanes Paulus II membentuk Komisi Kepausan Ecclesia Dei, sebuah komisi khusus untuk mengurusi dan menangani realisasi Misa Tridentin. Segala hal atau persoalan yang terkait dengan pelaksanaan Misa Tridentin dari seluruh Gereja universal ditampung dan diolah dalam komisi ini.

Menurut Romo Bosco, Sri Paus melihat, masih ada kelompok-kelompok yang ingin bernostalgia dan merasa cocok hatinya dengan gaya liturgi lama (lagu-lagu Latin, penggunaan bahasa Latin, perayaan dengan imam yang terkesan sangat sakral). Mereka juga harus tetap dihormati dan dilayani.


A. Eddy Kristiyanto OFM & Bosco da Cunha OCarm [Dok. HIDUP]

Komlit KWI, demikian Romo Bosco, tidak mengurusi persoalan-persoalan tentang tridentin. Persoalan tersebut langsung diserahkan pada kewenangan para uskup diosesan di keuskupan masing-masing. Dalam Surat Apostolik juga tidak dijelaskan bahwa KWI harus mendukung. Namun, ada poin yang mengatakan bahwa uskup hendaknya memberikan pelayanan. “Seorang uskup yang ingin memenuhi permintaan dari umat, tetapi karena berbagai alasan tidak dapat memenuhinya, dapat langsung melaporkan kepada Komisi Ecclesia Dei di Roma yang akan memberikan bimbingan dan pemberitahuan lebih lanjut,” jelasnya.

Sedangkan pakar sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Prof Dr A. Eddy Kristiyanto OFM mengatakan bahwa tujuan Misa Tridentin adalah ingin mengakomodasi kelompok Santo Pius X yang dulu memisahkan diri atau dipisahkan dari Gereja Katolik Roma, karena Uskup Agung Marcel Lefebvre tidak mau menandatangani Konsili Vatikan II. Maka, Paus Benediktus XVI berusaha merangkul kembali. “Sri Paus ini sangat cerdas, mengarah ke suci, tapi juga sangat konservatif,” kata imam Fransiskan ini. Dalam motu proprio, yakni inisiatif pribadi Bendiktus XVI, dijelaskan bahwa Misa Tridentin tidak dianjurkan, tetapi apabila ada yang berkeinginan menyelenggarakan, kebijakannya diserahkan masing-masing keuskupan. Problem yang muncul, demikian Romo Eddy, adalah umat tidak menguasai bahasa Latin. Tetapi, jika ada orang yang merasa lebih tenang dengan misa ini, haruslah dilayani hanya sesekali saja. Jadi, kendalanya bukan pada perayaannya, melainkan pada bahasanya.

Di tempat terpisah, seorang imam di Malang mengatakan, Misa Tridentin itu mengacaukan liturgi. Maksudnya, umat sudah terbiasa dengan pembaruan liturgi Konsili Vatikan II, dengan segala pengetahuan liturgi yang begitu luas, tetapi justru diajak kembali ke belakang lagi. Seolah-olah Gereja mengalami kemunduran dan kembali ke zaman pra Konsili Vatikan II.

Benny Sabdo
Laporan: Aprianita Ganadi, Laurentia Rosalina, R.B. Agung Nugroho

Disadur dari: Majalah Hidup Katolik

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)