Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. (2Kor 8:14

Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGANHARI MINGGU PASKAH III, 8 Mei 2011

RENUNGANHARI MINGGU PASKAH III, 8 Mei 2011
Kis 2:14,22-33, Mzm 16:1-2a,5,7-8,9-10,11, 1Ptr 1:17-21, Luk 24:13-35
(Bacaan selengkapkan baca di sini.)

“Mari kita kembali ke yerusalem kehidupan kita, yakni hidup dalam dan bersama Yesus.”

Hidup kristiani adalah perjalanan menuju kesempurnaan yakni bersatu dengan utuh bersama dengan Allah. Dalam perjalanan hidup kristiani seringkali mengalami perjalanan seperti perjalanan dua orang murid yang berjalan menuju Emaus. Dua murid yang berjalan menuju Emaus adalah murid yang mengalami kekecewaan atas kematian Yesus, karena dengan kematian Yesus bagi mereka itu juga berarti hilangnya, kegagalan dan matinya harapan manusiawi mereka. Bagi mereka kematian Yesus juga adalah hilangnya pegangan hidup karena Yesus yang mereka harapkan sebagai pemimpin mereka dirasa tidak bersama mereka lagi. Semuanya itu pada akhirnya juga melahirkan ketakutan dalam diri mereka. Walaupun mereka sudah mendengar berita tentang kebangkitan Yesus, tetapi mereka masih diliputi rasa kekecewaan, keraguan dan ketakutan.

Kedua murid ini dan murid yang lain sangat kecewa atas kematian Yesus, apalagi Yesus mati dengan cara yang mengerikan yakni disalibkan. Mereka sangat kecewa atas kematian Yesus, sebab mereka sangat bangga mengikuti dan menjadi murid Yesus yang dianggap sebagai nabi besar, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa mereka. Lebih dari itu, mereka berharap bahwa Yesus-lah yang akan membebaskan dari dari penjajahan. Mereka kecewa karena harapan dan keinginan manusiawi mereka seakan leyap dengan matinyaYesus. Semangat hidup mereka juga hilang karena merasa tidak adalah lagi kebanggaan sebagai pengikuti Yesus, sebab Yesus yang mereka bangga-banggakan telah mati. Mereka juga mengalami ketakutan dalam hidup karena merasa Yesus tidak ada lagi bersama mereka untuk mengajar, membimbing dan membantu mereka dalam menghadapi kesulitan hidup.

Kekecewaan, kekhawatiran dan ketakutan mereka atas kematian Yesus sungguh besar, sehingga berita kebangkitan Yesus yang telah mereka dengar dari beberapa perempuan dan beberapa murid yang mengatakan bahwa Yesus telah bangkit. Oleh karena itulah mereka pergi ke Emaus. Perjalanan mereka ke Emaus bukanlah perjalan untuk suatu tugas atau tujuan yang jelas. Kita tidak tahu ada urusan apa mereka ke Emaus. Tetapi dalam perjalanan itu, mereka sedang dalam kekecewaan dan juga ketakutan. Itu terlihat dari percakapan mereka dalam perjalanan, mereka seakan saling melampiaskan kekecewaan dan kekesalan hati mereka atas kematian Yesus. Sehingga dapat kita katakan bahwa kepergian mereka ke Emaus adalah tanpa tujuan yang jelas , juga karena mereka mau meninggalkan Yerusalem, keluar dan lari dari Yerusalem. Kepergian mereka ke Emaus seakan mereka mau menghilangkan semua kenangan mereka hidup bersama Yesus ketika di Yerusalem.

Dalam keraguan dan upaya mereka menghilangkan semua kenangan hidup bersama Yesus di Yerusalem, saat itu Yesus menemui mereka, namun mereka tidak mengenal Yesus yang hadir menjumpai mereka. Hati mereka terasa berkobar-kobar setelah Yesus menerangkan Kitab Suci kepada mereka. Kehadiran Yesus yang menerangkan Kitab Suci membuat mereka berdua seakan terhibur, mereka menjadi lupa akan kekecewaan dan kekhawatiran hidup mereka setelah kematian Yesus. Namun saat itu mereka belum mengenal Yesus yang hadir bersama mereka. Mereka baru mengenal Yesus setelah Yesus tinggal bersama mereka dan makan bersama dengan mereka. Saat makan bersama itu, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Saat itu pula mereka mengenal Yesus yang telah bangkit. Mereka mengenal Yesus yang bangkit bukan hanya sekedar bahwa mengenal tetapi membuat mereka percaya akan kembangkitan Yesus. Mereka menjadi percaya bahwa Yesus yang telah mati demi keselamatan manusia, kini bangkit kembali dan hidup bersama mereka. Yesus tidak mati, tidak meninggalkan para murid-Nya tetapi dengan kebangkitan-Nya, Yesus hadir dalam setiap sisi kehidupan manusia dan selalu datang untuk menghibur dan meneguhkan iman umat-Nya.

Kisah perjalanan dua murid ke Emaus adalah merupakan gambaran perjalanan hidup kita para beriman. Hidup beriman mengikuti Yesus Kristus bukanlah hal yang mudah. Ada saatnya kita mengalami kekecewaan dalam mengikuti Yesus, karena kita merasa bahwa harapan atau keingingan hati kita seakan tidak dikabulkan oleh Yesus. Kita kadang merasa beratnya penderitaan atau persoalan hidup, tetapi seakan Yesus telah mati dalam kehidupan kita, seakan Dia tidka hadir untuk membantu dan menolong kita. Kita sering merasa kecewa karena ketidakpuasan hati kita tidak terpuaskan. Juga mengalami ketakutan dalam mengikuti Yesus Kristus karena mengikuti Yesus Kristus penuh dengan tantangan dari pihak lain seperti yang dialami oleh para murid yang ketakutan kepada bangsa Yahudi dan para pemimpin agama, orang-orang Farisi, mereka takut mengalami nasib yang sama dengan Yesus.

Kekecewaan, kekhawatiran dan ketakutan itu kerap membuat kita lari dari iman kita. Tidak sediki orang yang merasa kecewa dalam hidup beriman karena merasa keinginan dan kehendaknya tidak terpenuhi dan seakan tidak dipenuhi oleh Yesus. Misalnya ada orang yang merasa tidak terpuaskan dalam ibadah dalam Gereja, dia lari ke Gereja lain karena merasa di sana keinginan mereka terpuaskan dengan kotbah yang menggebu-gebu dan nyanyian yang meriah dan seakan hiruk pikuk. Ada orang yang merasa keinginan mereka tidak dipuaskan oleh Yesus sehingga mereka lari ke agama lain. Dan ada pula karena takut tidak mendapat jabatan atau harta, mereka lari meninggalkan iman kepada Yesus.

Kita memang seringkali lebih mengutakaman keinginan dan kehendak kita, kita seringkali begitu dirasuki oleh kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan. Begitu lambat hati kita percaya kepada Yesus yang telah mati dan bangkit bagi keselamatan kita. Betapa kita lamban untuk percaya bahwa hanya dalam Yesuslah kita beroleh keselamatan kekal. Betapa lambat hati kita untuk percaya bahwa Yesus yang telah bangkit hadir senantiasa dalam hidup kita, bahkan dalam kekhawatiran dan ketakutan hidup kita.

Bermenung dari Injil hari ini, kepada kita ditegaskan bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Yesus yang telah bangkit selalu hadir bersama kita dan selalu menemui kita terutama saat kita mengalami penderitaan, kekecewaan dan ketakutan dalam hidup. Hanya karena kita kurang percaya kepada Dia yang telah bangkit, kita sulit menangkap kehadiran-Nya dalam hidup kita. Dia tidak pernah meninggalkan Dia, tetapi kitalah yang seringkali lari meninggalkan Dia. Oleh karena itu, kita diajak untuk memperdalam iman kita kepada Yesus.

Kekecewaan dan ketakutan para murid sedikit lebih sedikit hilang setelah Yesus hadir dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka. Iman mereka menjadi semakin pulih ketika mereka makan bersama dengan Yesus. Demikian pula halnya, saat iman kita lemah dan goyah, hendaknya kita tidak justru melarikan diri dari Yesus, tetapi kita hendaknya kembali ke Yerusalem hidup kita yakni hidup bersama dengan Yesus. Saat mengalami semuanya, baiklah kita mencoba menguatkan iman kita dengan mendengarkan dan membaca Sabda Allah lewat Kitab Suci. Sabda Allah akan menguatkan kita dan membantu kita menemukan kehendak Allah atas hidup kita. Terlebih baiklah kita berkata, “Tuhan, tinggallah bersama dengan kami.” Yakinlah bahwa Yesus akan dengan senang hati menerima undangan kita, untuk tinggal dan makan bersama dengan kita. Diapun akan membagikan roti kehidupan bagi kita, yakni diri-Nya sendiri dan berkat berlimpah, sehingga kita mampu menjalani kehidupan kita dengan penuh sukacita. Kalaupun selama ini kita seperti dua murid yang lari dan berjalan ke Emaus, maka saat ini baiklah kita kembali ke yerusalem kehidupan kita, yakni ke hidup iman kita bersama Yesus Kristus yang telah bangkit. Amin.

BACAAN HARI MINGGU PASKAH III, 8 Mei 2011

BACAAN HARI MINGGU PASKAH III, 8 Mei 2011
Kis 2:14,22-33, Mzm 16:1-2a,5,7-8,9-10,11, 1Ptr 1:17-21, Luk 24:13-35

BACAAN I: (Kis 2:14,22-33)

“Tak mungkin Yesus tetap ada dalam kuasa maut.”

Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.

Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.

MAZMUR TANGGAPAN: (Mzm 16:1-2a,5,7-8,9-10,11,)

Reff. Tunjukkan kepadaku, ya Tuhan, jalan kehidupan. Alleluia.

1. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!" Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

2. Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

3. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;
sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

4. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

BACAAN II: (1Ptr 1:17-21)

“Kamu telah ditebus dengan darah Kristus, Anak Domba yang tidak bernoda.”

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

BACAAN INJIL: (Luk 24:13-35)

“Mari tinggal bertsama kami, karena hari sudah senja.”

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Renungan Masa Paskah, Sabtu 7 Mei 2011

Renungan Masa Paskah, Sabtu 7 Mei 2011
(Magdalena dr Kanossa, Marie-Louise dr Yesus Trichet)
Kis 6:1-7, Mzm 33:1-2,4-5,18-19, Yoh 6:16-21

"Aku ini, jangan takut!"

BACAAN INJIL:
Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Kita mungkin pasti ingat kalimat terkenal yang sering diungkapkan oleh Beato Paus Yohanes Paulus II, yakni, “Jangan takut!” Kalimat ini tentu bukan hanya sekedar kata penghias bibir dan penghiburan bagi kita dan banyak orang yang sedang merasa ketakutan. Beliau menyerukan kalimat ini keluar dari penghayatan dan pengalamannya sendiri. Kita ketahui bahwa dalam sejarah hidup dan karyanya Beato Paus Yohanes Paulus II sungguh seakan tidak pernah takut. Beliau berani menyampaikan pendapat yang mungkin bertentangan dengan pandangan umum, dia berani mengkriti ketidak benaran dan ketidak adilan tanpa melihat apakah yang dikritik itu pejabat atau penguasa. Beliau juga tidak takut menghadapi bahaya kematian yang mengancam hidupnya karena keberaniannya. Tentu bukan berarti karena beato kita ini tidak punya rasa takut. Sebagai manusia biasa seperti kita, pasti dia juga memiliki rasa takut, tetapi rasa takut itu dikalahkan oleh keyakinan iman akan Yesus Kristus yang senantiasa menyertainya. Beliau tentu memegang prinsip hidup bahwa selama yang kita katakan dan lakukan adalah benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan, maka dia tidak perlu takut karena percaya bahwa Tuhan pasti berpihak padanya.

Seruan Beato kita ini, “Jangan takut!” kiranya juga diperdengarkan oleh Yesus kepada para murid sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini. Seruan ini beberapa kali dikatakan Yesus kepada para murid yang sedang dalam ketakutan. Dalam Injil hari ini diceritakan bahwa para murid, saat mulai malam sesudah kisah penggandaan roti dan ikan, mereka pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Pada saat malam sangat gelap, laut bergelora karena angin kencang. Hal yang menarik dikatakan bahwa dalam situasi demikian mereka belum ketakutan. Penginjil mengatakan bahwa mereka merasa ketakutan baru setelah mereka melihat Yesus berjalan di atas air laut dan mendekati perahu mereka. Mereka tentu tetap merasa takut di tengah lautan pada malam gelap terjadi angin bertiup kencang sehingga laut bergelora, tetapi mereka merasa masih bisa mengatasi semuanya. Namun dalam situasi panic, Yesus hadir menemui mereka dan itu justru membuat mereka menjadi merasa ketakutan karena hal yang mustahil bagi manusia dapat berjalan di atas air. Tentu dalam pikiran mereka itu adalah hantu. Ketakutan mereka hilang ketika Yesus menyapa mereka dengan berkata, “Ini Aku, jangan takut!” Ketakutan para murid hilang karena mereka mengenali suara Yesus dan saat mereka mau menaikkan Yesus ke dalam perahu itu, seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Pengalaman para murid ini sungguh mendalam untuk kita renungkan. Dalam hidup kita pasti pernah mengalami ketakutan, baik itu pengalaman atau peristiwa yang membuat kita sedikit takut dan pangalaman yang sungguh membuat kita sungguh merasa ketakutan. Dalam situasi ketakutan menguasai kita, saat itu kerap kita berpikir bahwa Yesus tidak ada bersama kita dan tidak peduli dengan kehidupan kita. Tetapi lewat pengalaman para murid hari ini, kita diberi keyakinan bahwa Tuhan Yesus tidak pernah peduli dengan hidup kita, Dia tidak pernah membiarkan kita sendiri mengalami ketakutan hidup. Yesus pasti akan datang untuk menolong kita dan menguatkan kita dengan berkata, “Ini Aku, jangan takut!” Namun seringkali karena ketakutan sudah mengusai kita, kita menjadi tidak mampu menangkap kehadiran Yesus dan tidak mampu menangkap suara-Nya yang mau menguatkan kita. Memang kita tidak melihat dan mendengar secara langsung wajah dan suara-Nya, tetapi Dia datang dan mau menolong kita lewat sesama kita yang mau membantu kita, tetapi kita tidak melihat niat baik sesama kita tersebut.

Maka lewat injil hari ini, kita diajak untuk selalu percaya bahwa dalam setiap kehidupan kita bahkan dalam situasi yang sangat mengancam sekalipun, Yesus menyertai dan datang untuk membantu kita. Oleh karena itu, dalam ketakutan hidup, kita hendaknya peka mendengar suaru Yesus untuk menolong kita, dan kita hendaknya terbuka untuk mempersilahkan Yesus masuk dalam kehidupan kita, dalam persoalan kita, maka kitapun pada akhirnya akan sampai kepada tujuan hidup kita dengan selamat. Membiarkan Yesus masuk ke dalam perahu kehidupan kita adalah dengan sikap percaya kepada-Nya. Sehingga dalam ketakutan hidup, kita hendaknya mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, maka bersama Tuhan Yesus kita akan sampai ke tujuan hidup kita dengan selamat.

Beato Paus Yohanes Paulu sungguh menghayati kata-kata Yesus ini dan beliau pun seringkali menyerukan seruan Yesus ini. Beato kita ini sungguh mengalami dan menghayati bahwa seruan Yesus, “Jangan takut, ini Aku”, bukanlah hanya penghiburan belaka, tetapi suatu kenyataan yang terjadi dan dia alami sendiri. Semasa hidupnya, seruan Yesus ini sangat sering dia sampaikan, karena memang dalam hidup sekarang ini banyak orang yang hidup dalam ketakutan dan banyak hal yang membuat orang merasa takut. Maka sangatlah indah hidup ini, manakala kita yang percaya pada Yesus, mau menyerukan seruan ini kepada sesama kita yang sedang mengalami dan dilanda ketakutan. Tentunya dengan menyerukan seruan Yesus ini, kita tidak hanya sekedar menghibur atau mengulangi kembali seruan Yesus, tetapi dengan menyerukan seruan ini, berarti kita siap hadir untuk meneguhkan iman saudara-saudari kita dan siap untuk membantu mereka. Maka marilah kita dalam Yesus Kristus, bersama Beato Paus Yohanes Paulus II berseru kepada sesama kita, “Jangan takut!”. Amin.

KURSUS DAN LOKA KARYA LITURGI PENGURUS GEREJA SE-PAROKI MARIA DARI GUNUNG KARMEL-TIGALINGGA

KURSUS DAN LOKA KARYA LITURGI
PENGURUS GEREJA SE-PAROKI MARIA DARI GUNUNG KARMEL-TIGALINGGA

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu. Adapula yang berpikir bahwa liturgy hanya menyangkut tata urutan atau aturan dalam ibadah. Juga seringkali ada keluhan yang mengatakan bahwa ibadah hari Minggu seringkali membosankan, ada juga pengurus yang kurang mampu melaksanakan tugas memimpin ibadah pada hari Minggu di stasi dan seringkali juga tata cara ibadah di masing-masing stasi berbeda satu sama lain. Kesadaran atas semua hal ini, membuat paroki dan para pengurus stasi memutuskan perlunya pembinaan liturgy bagi semua pengurus Gereja di Paroki. Kegiatan ini diputuskan pada saat sermon awal tahun 2011 ini.

Oleh karena mengingat nilai iman dari perayaan liturgy dan juga kesadaran bahwa banyak pengurus Gereja sendiri kurang memahami nilai iman perayaan Liturgi dan juga kurang mengerti dalam menjalankan tugas, maka paroki akhirnya mengadakan Kursus dan Lokakarya Liturgi bagi semua pengurus Gereja se-Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga. Kegiatan ini sangat penting, karena suatu kenyataan bahwa pastor tidak bisa setiap hari hadir untuk merayakan ekaristi setiap hari Minggu di stasi yang terdiri atas 26 stasi. Maka para pengurus Gerejalah yang memimpin ibadah hari minggu di stasi-stasi. Padahal bukan suatu hal rahasia bahwa banyak pengurus kurang memiliki pemahaman yang mendalam sehubungan dengan liturgy Gereja Katolik, dan bahkan seringkali cenderung pemahaman mereka banyak dipengaruhi oleh Gereja lain, karena banyak juga pengurus Gereja adalah umat yang dulunya berasal dari Gereja Protestan.

Kegiatan ini telah dilaksanakan pada hari Selasa – Rabu, 3 s/d 5 Mei 2011 lalu. Semua pengurus Gereja dari stasi maupun lingkungan hadir dalam pertemuan tersebut, hanya memang ada 1 stasi yang tidak hadir yakni stasi Pertumbungen. Pastor jauh hari sebelumnya sudah mengedarkan surat undangan dan sudah menerangkan pentingnya kegiatan ini, namun kiranya stasi ini tanpa pemberitahuan yang jelas, tetapi tidak hadir. Kegiatan ini dihadiri sekitar 92 orang pengurus Gereja. Kegiatan ini dibimbing oleh Tim Komisi Liturgi dari Keuskupan Agung Medan yakni Sr. Alfoncine KSFL dan bapak Osber M. Sinurat.

Adapun materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut adalah:

1. Pengertian Liturgi Gereja Katolik.
2. Hidup Menggereja.
3. Arti dan Makna Perayaan Ekaristi.
4. Tata Perayaan Sabda Hari Minggu tanpa Imam.
5. Latihan Simulasi Tata Perayaan Sabda
6. Dialog serba-serbi seputar Liturgi Gereja
7. Simulasi Memimpin Ibada Hari Minggu tanpa Imam
8. Evaluasi.

Kegiatan ini berjalan dengan baik dan lancar dan para peserta merasa senang dan terlibat aktif dalam kegiatan ini. Pada akhir kegiatan, paroki membagikan Rosario kepada masing-masing peserta. Kegiatan ini dapat berjalan dengan baik tentu karena berkat dan perlindungan Tuhan, juga karena para peserta sendiri dan karena kerjama panitia terutama seksi konsumsi yang bekerje keras agar para peserta tidak sampai kelaparan. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi perkembangan iman, pemahaman liturgy Gereja Katolik para pengurus dan pada akhirnya berguna bagi semua umat di stasi untuk ikut merayakan liturgy sebagai perayaan iman.

Orang Kristen Harus Mendoakan Osama

Orang Kristen Harus Mendoakan Osama

(4/5/2011)Orang Kristen harus berdoa bagi jiwa Osama bin Laden meskipun ia merupakan musuh mereka karena pengampunan merupakan kunci ajaran Kitab Suci Kristen. Kardinal Perancis Albert Vanhoye (87) mengatakan hal itu kepada harian Italia, Il Messaggero, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Rabu (4/5/2011).

Saya telah berdoa untuk jiwa Osama bin Laden. Kami harus berdoa untuk dia sama seperti kami berdoa bagi para korban 11 September. Itu yang Yesus ajarkan kepada orang Kristen," kata Kardinal Vanhoye.



"Yesus telah mewajibkan kami untuk mengampuni musuh kami. Doa Bapa Kami yang kami ucapan setiap hari mengatakan itu. Bukankah dalam doa itu dikatakan, 'Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami'," kata Vanhoye.

"(Memang) tidak mungkin untuk menerima doa ini sambil berpegang pada dendam dan kebencian terhadap musuh kita," katanya. Vanhoye, seorang imam Yesuit, diangkat jadi kardinal tahun 2006 oleh Paus Benediktus XVI. Ia terkenal karena karya ilmiahnya dalam Kitab Suci Kristen. (kompas.com)

Disadur dari : www.mirifica.net

Renungan Masa Paskah, Jumat 6 Mei 2011 (Dominikus Savio)

Renungan Masa Paskah, Jumat 6 Mei 2011
(Dominikus Savio)
Kis 5:34-42, Mzm 27:1,4,13-14, Yoh 6:1-15

Dengan memberi dari kekurangan kita kepada sesama yang membutuhkan, saat itulah kita menyatakan mukjijat kasih Allah kepada sesama kita.

BACAAN INJIL:
Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

RENUNGAN:
Kadang orang berusaha menafsirkan perikop ini dengan suatu permainan logika dengan maksud agar mudah dimengerti pendengar. Salah satu bentuk penafsiran yang pernah saya dengar adalah dengan mengatakan bahwa untuk mengerti perikop ini, kita tidak usah terlalu melihat keilahian Yesus yang mampu membuat mukijjat, tetapi melihat dan merenungkan bagaimana Yesus bisa menggerakkan hati orang banyak itu sehingga berani membuka dan mengeluarkan bekal masing-masing yang sebenarnya mereka bawa. Pemikiran demikian mengatakan bahwa sebenarnya orang banyak itu membawa bekal masing-masing, hanya mereka tidak mau mengeluarkannya karena takut dimintai orang lain. Nah dikatakan bahwa setelah Yesus lewat para murid memperlihatkan anak kecil yang membawa bekal dan mau terbuka, orang banyak itupun mau membuka bekal mereka dan bahkan mengumpulkan sisa bekal yang mereka bawa. Dikatakan sisanya yang terkumpul ada 12 bakul.

Logika penafsiran yang demikian memang bisa masuk akal. Tetapi penafsiran demikian tanpa sadar menjadi mengaburkan cinta kasih Allah yang mahabesar dan Allah mampu melakukan mukjijat untuk umat-Nya sebagai ungkapan cinta kasih-Nya. Sehingga bagi jelas bukan itu maksud utama dari Injil hari ini yang menjadi permenungan kita.

Dalam Injil hari ini jelas bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang mahakuasa dan cinta kasih Allah sungguh besar kepada manusia. Cinta kasih Allah sungguh besar sehingga Dia tidak akan membiarkan umat-Nya yang setia mengikuti-Nya. Tuhan akan melakukan apa saja yang perlu untuk kita hidup dan melimpahkan berkat-Nya kepada umat yang setia mendengar sabda-Nya dan mengikuti-Nya. Cinta kasih yang sungguh besar ini sungguh nyata dalam diri Yesus Kristus. Seringkali kita berpikir bahwa mengikuti Yesus Kristus, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, malah akan rugi karena umumnya hanya sebagai pengorbanan dan pelayanan. Kita juga seringkali sangat khawatir dengan kehidupan kita, sehingga kita tidak berani untuk setia mengikuti Yesus. Lewat injil hari ini, kita diajak merenungkan bahwa Allah itu mahakuasa dan mahakasih, Dia tidak akan membiarkan kita yang mengikuti-Nya akan menderita kelaparan dan binasa, tetapi dengan kuasa dan kasih-Nya Yesus akan mencukupi apa yang kita butuhkan, memelihara hidup kita bila kita setia mengikuti-Nya. Dia tidak akan menyuruh kita pulang dengan tangan hampa, tetapi Dia akan mengeyangkan kita dengan berkat-Nya dan bahkan dengan berkat yang berlimpah. Oleh karena itu, mengapa kita takut setia mengikuti Yesus Kristus?

Injil hari ini, selain mengajak kita untuk tidak takut kekurangan dalam mengikuti Yesus, juga mengajar kita untuk rela berbagi sukacita dengan sesama kita. Sering kita merasa bahwa kita adalah orang miskin yang tidak punya apa-apa untuk kita bagikan kepada orang lain. Kita merasa masih kekurangan sehingga tidak mungkin bisa berbagi dengan orang lain. Atau kita juga berpikir bahwa kita mau memberi dari kekurangan kita, tetapi merasa bahwa pemberian kita yang kecil itu tidak akan berguna apa-apa bagi orang lain. Namun semua alasan di atas bukanlah menjadi alasan kita untuk berbagi sukacita dengan orang lain. Kita harus sadar bahwa Tuhan telah memberi kita hidup dan rahmat berlimpah, maka kitapun haruslah berani berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan perhatian dan cinta kasih kita. Coba kita simak Injil hari ini. Seorang anak yang hanya mempunyai 5 potong roti dan 2 ekor ikan, di tangan Yesus, yang sedikit itu mampu memberi makan 5000 orang laki-laki, belum dihitung dengan anak-anak. Demikian juga kiranya, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Pemberian kita yang kecil dan sedikit karena kita hanya memiliki sedikit bila kita bagikan kepada sesama kita dalam iman kepada Yesus, yang kecil itu akan sangat berguna bagi sesama yang membutuhkannya dan akan mendatangkan rahmat berlimpah bagi mereka dan bagi kita sendiri. Dengan berani berbagi walaupun kita masih merasa kekurangan, kita tidak akan kekurangan atau kehabisan, karena Tuhan akan memberikan berkat-Nya kepada kita. Sehingga kita tidak usah menunggu kaya dahulu, atau menunggu kita sukses dan berkelebihan dahulu baru kita mau berbagi kita sesama kita.

Saat ini di sekitar kita masih banyak orang yang berkekurangan jauh lebih menderita daripada kita. Maka Yesus sendiri meminta kita menyatakan mukjijat kebaikan Allah bagi mereka dengan kerelaan kita mau berbagi dengan mereka. Dengan memberi dari kekurangan kita kepada sesama yang membutuhkan, saat itulah kita menyatakan mukjijat kasih Allah kepada sesama kita. Amin.

Renungan Masa Paskah, Kamis 5 Mei 2011 (Vincent Soler, Angelus)

Renungan Masa Paskah, Kamis 5 Mei 2011
(Vincent Soler, Angelus)
Kis 5:27-33, Mzm 34:2,9,17-18,19-20, Yoh 3:31-36

"Menjadi saksi Kristus adalah suatu keharusan dan menjadi ungkapan nyata bahwa kita lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia."

BACAAN INJIL:
Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."
Demikianlah Injil Tuhan kita hari ini.

RENUNGAN:
Menjadi saksi atas suatu kebenaran, tentu bukanlah hal yang gampang. Biasanya orang yang menjadi saksi akan suatu kebenaran pasti akan mengalami tantangan bahkan kebencian dari orang-orang yang tidak menghendaki suatu kebenaran terungkap. Saksi suatu kebenaran pasti juga akan berhadapan dengan saksi-saksi palsu yang akan mencoba memutarbalikkan kebenaran dan mencoba melemahkan suatu kebenaran. Bahkan saksi suatu kebenaran bisa justru menjadi korban ketidakadilan dan dikorbankan. Dari sebab itulah tidak banyak orang yang mau menjadi saksi kebenaran. Banyak orang lebih baik memilih diam atau pura-pura tidak tahu bila melihat suatu ketidakbenaran terjadi.

Demikian halnya juga menjadi saksi akan Yesus Kristus. Ini malah lebih sulit lagi. Karena yang mau kita saksikan adalah suatu kebanaran iman yang melampaui akal budi manusia, melampaui logika berpikir manusia. Apalagi saat ini orang lebih mengutakan akal budi dan logika. Sekarang ini orang menganggap bahwa sesuatu yang tidak bisa ditangkap akal budi dan tidak logis, dianggap tidak benar dan dianggap hanya fiksi belaka. Menjadi saksi iman, bukan soal logis atau tidak logis, masuk akal atau tidak masuk akal. Sekali lagi, karena yang kita saksikan adalah kebenaran iman yang melampaui akal budi dan logika manusia. Justru di sinilah letak kemahakuasaan dan misteri iman yang kita saksikan. Kalau yang kita saksikan itu dapat dicerna, dianalisa dengan akal budi dan logika manusia, itu justru berarti yang kita saksikan tidak ada ubahnya dengan kita manusia dan bersifat manusiawi. Padahal kita percaya dan mengikuti Yesus adalah karena Dia Tuhan penyelamat, tidak sama seperti kita dan melampaui kemanusiaan kita.

Walaupun menjadi saksi Yesus penuh tantangan dan melampaui akal budi manusia dan logika manusia, bukan berarti membuat kita tidak perlu menjadi saksi Kristus. Dalam injil hari ini, Yohanes pembaptis dengan berani memberi kesaksian tentang Yesus Kristus. Dia mengatakan bahwa Yesus bukan berasal dari dunia ini, tetapi datang dari atas yakni dari Sorga. Yohanes juga mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang diutus oleh Allah, Dia bersatu dengan Roh Kudus sehingga kesaksian dan pengajaran-Nya adalah benar. Lebih lanjut Yohanes mengatakan bahwa barang siapa Yesus yang adalah Anak Allah, akan beroleh hidup yang kekal. Kesaksian Yohanes sungguh luar biasa mendalam dan berani. Yohanes Pembaptis sungguh mengenal Yesus secara mendalam dan berani memberi kesaksian akan hakekat Yesus yang adalah Allah sendiri.
Apa yang disaksikan oleh Yohanes tentu bukan hal mudah untuk kita wartakan saat ini. Manusia sekarang mungkin bisa menerima kebenaran ajaran-ajaran Yesus sebagai ajaran yang baik, mungkin bisa mengagumi tindakan Yesus yang penuh cintakasih, yang berani membela kebenaran. Tetapi orang sulit mengerti, memahami dan mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Apalagi orang sulit mengerti bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karena orang berpikir, “Bagaimana mungkin Allah mempunyai Anak?” Bagi mereka yang tidak percaya kepada Yesus adalah Tuhan, menganggap hal ini adalah penghinaan. Ada juga yang mengatakan bahwa kalau Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa mati, apalagi mati dengan sangat hina. Masih banyak alasan penolakan dan penyangkalan atas ke- Allahan Yesus dari orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus. Bahkan terkadang orang yang sudah dibaptis sendiri, yang mengutamakan logika dan akal budi, tidak jarang juga meragukan Yesus adalah Allah, Anak Alla yang diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah.

Para rasul dan para murid sendiri pada awalnya mengalami keraguan dan ketakutan untuk menjadi saksi Kristus setelah kematian Yesus di salib. Namun setelah kebangkitan Yesus dan setelah beberapa kali Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepada mereka, mereka menjadi berani mewartakan Kristus. Kebangkitan Yesus menjadi suatu kebenaran iman bagi mereka bahwa Yesus adalah memang Anak Allah, Tuhan sendiri yang diutus Allah untuk menyelamatkan manusia. Kematian dan kebangkitan-Nya dari mati memang tidak bisa dicerna oleh akal budi manusia, layaknya juga perbuatan mukjijak yang dilakukan oleh Yesus. Karena tidak pernah ada orang di bumi ini yang bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati dan tidak ada orang yang pernah bangkit lagi setelah kematian. Semuanya ini menjadi suatu bagian yang menguatkan mereka bahwa justru itulah misteri kebesaran Allah dan itu adalah misteri cintakasih Allah bagi manusia. Para rasul akhirnya berani menjadi saksi Yesus Kristu. Bahkan sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini, mereka begitu berani mewartkan Kristus yang telah bangkit walaupun mereka dihadapkan ke mahkama agama dan imam-imam besar menanyai dan melarang mereka mewartakan Yesus yang bangkit. Malahan mereka dengan berani sangat berani mengatakan bahwa mereka lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia. Ini suatu ungkapan pernyataan bahwa mewartakan Yesus adalah suatu keharusan dan menjadi ungkapan takut akan Allah. Kita ketahui bahwa para rasul adalah orang-orang biasa, tetapi mereka memilik keberanian mewartakan Kristus yang bangkit dan mereka mampu bersoal jawab dengan para ahli kita dan ahli Taurat. Darimana mereka mendapat semuanya itu? Tentu bukan karena mereka belajar khusus, tetapi itulah misteri iman yang menguatkan dan memampukan mereka untuk bersaksi. Semuanya itu adalah karya Roh Kudus yang telah berdiam dalam diri mereka.

Dengan demikian, jelaslah bahwa bagi kita yang percaya kepada Krisus, menjadi saksi Kristus adalah suatu keharusan dan menjadi ungkapan nyata bahwa kita lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia. Dari pengalaman para rasul kita belajar bahwa kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dan sungguh mau bersaksi akan Dia, Allah akan memampukan kita lewat Roh Kudus. Maka semoga kita berani berksaksi akan Kristus di manapun dan kapanpun dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

BERGEMBIRAKAH ORANG (KRISTIANI) ATAS KEMATIAN OSAMA BIN LADEN?

BERGEMBIRAKAH ORANG (KRISTIANI) ATAS KEMATIAN OSAMA BIN LADEN?

Hal yang menarik, dalam beranda FB ada tertulis, “Kabar gembira bagi kita semua khususnya umat kristiani, Osama telah meninggal dunia tanggal 2 Mei 2011. Dia meninggal dunia dalam serangan pasukan Amerika serikat.” Ada pula yang menuliskan, “Turut berdukacita atas meninggalnya Osama Bin Laden.”

Kematian Osama Bin Laden menimbulkan banyak reaksi. Ada banyak orang yang bergembira atas kematian pemipimpin Al-Qaeda yang memang sepak terjangnya melahirkan kebencian antar agama dan juga melahirkan terror dan bahkan pembunuhan yang mengorbankan banyak orang. Tetapi dipihak lain, tentu juga tidak sedikit orang yang berduka atas kematiannya, yakni para pengikutnya atau para pendukungnya yang setuju atau yang sealiran dengannya. Sebab pasti banyak juga orang sealiran dengannya baik secara terang-terangan dengan menjadi pengikutnya maupun secara diam-diam karena tidak berani. Orang yang berduka atas kematian Osama Bin Laden malah akan marah dan benci terhadap yang bergembira atas kematiannya. Bahkan mungkin para pengikutnya bukannya menjadi surut tetapa akan melahirkan Osama Bin Laden lain yang mungkin akan lebih sadis lagi.

Osama Bina Laden memang telah banyak menimbulkan kematian atau pembunuhan di dunia ini. Dia melakukannya karena paham keliru dan pahamnya sudah merasuk bagi banyak orang. Orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya tentu ada rasa lega karena otak terror dan pembunuhan selama ini dicari-cari akhirnya mati juga. Tetapi apakah kita orang Kristen patut bergembira atas kematiannya? Pantaskah kita meluapkan kegembiraan itu dengan ekpresi yang meluap-luap?

Mungkin suatu hal yang menuasiawi bahwa kita ‘bergembira’ karena otak perpecahan dan pembunuhan selama ini telah mati. Kita bergembira karena dengan kematiannya berharap bahwa kerusuhan dan terror atau pembunahan akan berkurang. Tetapi apakah kematian Osama Bin Laden akan menjadi jaminan bahwa terror dan pembunuhan selama ini akan berkurang dan tidak akan terjadi lagi? Ini buka suatu jaminan, karena bagaimanapun selama dia hidup, dia pasti sudah mengkader dan mencuci otak para pengikutnya untuk meneruskan aksinya selama ini. Mungkin kematian Osama Bina Laden akan mengejutkan para pengikutnya dan mungkin membuat mereka sedikit gentar, kehilangan semangat karena kehilangan pemimpin mereka. Tetapi kematian pemimpin Al-Qaedah itu bukan jaminan bahwa aksi mereka akan berkurang dan hilang. Justru pasti akan muncul pemimpin-pemimpin baru yang bisa saja akan lebih sadis lagi. Dendam dan kebencian para pengikutnya atas kematian pemimpin mereka bisa saja akan melahirkan aski yang lebih hebat lagi karena melihat reaksi kegembiraan yang meluap-luap dari orang yang tidak sejalan dengan mereka. Hal ini juga dinyatakan oleh Uskup Agung Emeritus Lahore Mgr Lawrence Saldanhaskup di Pakistan kepada ucanews.com pada 2 Mei. (Beritanya di sini.) “Karena tidak bisa menyerang AS, kami bisa dijadikan empuk empuk. Kami menuntut keamanan. Pemerintah harus mengendalikan serangan balasan apapun,” Uskup ini mengingatkan orang Kristen akan kemungkinan ini. Kata-kata bijak uskup ini sekaligus mengingatkan kita untuk tidak perlu bergembira atas kematian Osama Bin Laden, bahkan tidak perlu kegembiraan itu diekspresikan secara berlebihan.

Vatican juga mengatakan hal yang sama juru bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi SJ, dengan mengatakan, “Dalam menghadapi kematian seseorang, orang Kristen tidak pernah bergembira, tetapi merenungkan tentang tanggung jawab serius dari setiap manusia di hadapan Tuhan dan di depan manusia, dan berharap dan berusaha agar setiap peristiwa menjadi kesempatan untuk lebih menumbuhkan kedamaian dan bukan kebencian,”. (Beritanya di sini.)Maka benar dan tepatlah bahwa kematian Osaba Bin Laden kita tidak bergembira, karena orang Kristen tidak pernah bergembira atas kematian seseorang. Dalam hal ini kita bisa belajar dari Yesus sendiri ketika dia dihukum mati di salib. Saaat Dia tergantung di kayu salib, Yesus tidak membenci atau mengutuki orang yang membunuh-Nyat tetapi malah memohonkan pengampunan kepada mereka (Luk 23:34). Maka baiklah kiranya kematian Osama Bin Laden juga membuat kita merenungkan bahwa kematian akan menemui semua orang, hanya memang saat dan bentuk kematian seseorang itu berbeda satu sama lain. Dari peristiwa itu, kita bisa merenungkan bahwa kematian orang yang hidupnya banyak ‘melakukan’ kejahatan, akan juga mati akibat perbuatannya dan bahkan dengan cara yang mengerikan pula. Dan sebagaimana dikatakan oleh juru bicara Vatikan, menanggapi kematian Osama Bin Laden justru harus membuat kita merenungkan bahwa manusia membutuhkan kedamaian dalam hidup ini. Maka tugas kita juga untuk ikut mengupayakan kedamaian dalam hidup ini. Kebencian yang telah ditanamkan dan diwariskan oleh Osama Bina Laden kepada para pengikutnya, justru kita hadapi dengan mengupayakan kedamaian. Dengan hidup damai dan memperjuangkan kedamaian, kita berharap tidak muncul lagi Osama Bin Laden lain yang lebih kejam.

Berbagi Berita : Vatikan: Renungkan kematian Osama, bukan bergembira

Vatikan: Renungkan kematian Osama, bukan bergembira

Vatikan mengatakan pembunuhan pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden, penabur perpecahan dan kebencian dan penyebab kematian manusia yang “tak terhitung” banyaknya, seharusnya mendorong kita untuk melakukan refleksi serius tentang tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan, bukan bergembira.

Pernyataan Vatikan 2 Mei itu dikeluarkan sehari setelah Presiden Barack Obama mengumumkan bahwa pasukan Amerika Serikat telah membunuh bin Laden dalam serangan terhadap tempat persembunyiannya di Pakistan bagian barat laut, demikian Catholic News Service.

Di beberapa kota di Amerika Serikat, berita itu menimbulkan demonstrasi jalanan dan ekspresi gembira.

Pastor Federico Lombardi SJ, juru bicara Vatikan, mengeluarkan pernyataan singkat tertulis sebagai reaksi terhadap berita tersebut.

“Osama bin Laden, seperti yang kita semua tahu, memikul tanggung jawab paling serius untuk menyebarkan perpecahan dan kebencian di antara masyarakat, menyebabkan kematian manusia yang tak terhitung banyaknya, dan memanipulasi agama untuk tujuan ini,” kata Pastor Lombardi.

“Dalam menghadapi kematian seseorang, orang Kristen tidak pernah bergembira, tetapi merenungkan tentang tanggung jawab serius dari setiap manusia di hadapan Tuhan dan di depan manusia, dan berharap dan berusaha agar setiap peristiwa menjadi kesempatan untuk lebih menumbuhkan kedamaian dan bukan kebencian,” katanya.

SUMBER

Vatican says bin Laden’s death cause for reflection, not rejoicing(Catholic News Service)

Vatican asks to not celebrate killing of Bin Laden, fears it will increase hate (Rome Reports/YouTube)

Disadur dari : www.cathnewsindonesia.com :Tanggal publikasi: 4 Mei 2011

Video Pesta Paskah Se-Rayon Lau Pamulutan Di stasi Lau Ipuh, Senin 25 April 2011 (Manortor Bersama )2

Video Pesta Paskah Se-Rayon Lau Pamulutan Di stasi Lau Ipuh,
Senin 25 April 2011 (Manortor Bersama )2


Video : John Paul II is officially beatified

Video : John Paul II is officially beatified

Berbagi Berita : Serangan Balasan, Peringatan Uskup

Serangan Balasan, Peringatan Uskup

Foto Osama bin Laden, yang tewas di Pakistan pada hari Minggu di tangan pasukan Amerika Serikat.

Umat Kristen Pakistan bisa menderita jika ada serangan balasan terkait tewasnya “otak” 9/11 Osama bin Laden di tangan Amerika Serikat (AS), kata uskup di Pakistan kepada ucanews.com pada 2 Mai.

“Karena tidak bisa menyerang AS, kami bisa dijadikan empuk empuk. Kami menuntut keamanan. Pemerintah harus mengendalikan serangan balasan apapun,” kata Uskup Agung Emeritus Lahore Mgr Lawrence Saldanha.

Meskipun ada resiko jangka pendek berupa serangan balasan dengan menargetkan orang Kristen, kematian bin Laden dapat memulihkan keseimbangan dalam masyarakat Pakistan yang telah tersobek karena terjadi banyak pertikaian, katanya.

Dia berharap bahwa kematian teroris yang paling dicari di dunia itu bisa mengurangi radikalisme kelompok militan yang sudah sedemikian merusak Pakistan dalam beberapa tahun belakangan ini.

“Paling tidak, kami berharap situasi akan secara bertahap menjadi lebih baik,” katanya.

“Banyak kaum Muslim Pakistan memandang bin Laden sebagai pahlawan revolusi Islam. Tetapi dia adalah model peran ekstremisme dan ancaman bagi perdamaian dunia. Kematiannya akan mengubah penampilan serta mendesentralisasi dan mendemistifikasi ekstremisme,” kata Uskup Agung Saldanha.

Pasukan AS membunuh Osama bin Laden, pendiri Al-Qaeda, di Kota Abbottabad di utara Propinsi Pakhtunkhwa Khyber setelah terjadi baku tembak. Presiden AS Barrack Obama mengatakan pasukan AS bertindak sesuai data intelijen yang diperoleh Agustus tahun lalu dan dalam kerja sama dengan pihak keamanan Pakistan.

Bin Laden kelahiran Arab Saudi itu memerintahkan serangan terhadap Amerika Serikat pada 11 September 2001. Peristiwa 9/11 itu menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Pada hari serangan 9/11 itu, Saldanha ditahbiskan menjadi uskup.

“Pasca tragedi 9/11 itu mempengaruhi seluruh karier dan kehidupan saya sebagai uskup,” katanya, seraya menambahkan bahwa peristiwa dibalas, dan balasan itu kembali mendapat reaksi, dan semua kekerasan dan pertumpahan darah dialami oleh orang Kristen di Pakistan. Situasi itu saya lihat semakin memburuk,” katanya.

Sementara itu di India, seorang pemimpin Gereja berdoa semoga kematian pemimpin Al-Qaeda itu tidak menimbulkan serangan balasan.

Pastor Babu Joseph, jurubicara Konferensi Waligereja India, menyesalkan bahwa bin Laden menemui ajalnya dalam kekerasan. “Gereja tidak pernah mendukung kekerasan atau berhubungan dengan kekerasan. Kekerasan yang dilakukan atas nama agama tidak pernah diterima oleh setiap masyarakat beradab.”

Sejumlah Muslim India bereaksi terhadap kematian bin Laden dengan menyalahkan Amerika Serikat.

“Osama bin Laden dan lainnya merasa bahwa Central Intelligence Agency (CIA) menggunakan mereka untuk kepentingan pribadi CIA. Inilah yang menyebabkan serangan terhadap World Trade Center yang dibalas AS dengan menyerang Irak,” kata J.S. Badukwala, seorang pakar sejarah Islam di Gujarat.

Penarikan pasukan AS dan sekutunya dari Afghanistan [setelah dikalahkan oleh Uni Soviet] membuat para pendukung mereka merasa dikhianati, tambahnya. Namun, Muslim di India, tidak seperti rekan-rekan mereka di tempat lain, tidak dipengaruhi oleh ideologi Al-Qaeda, kata Badukwala.

Muhammad Syafi’i Madani, tokoh Muslim lainnya di Gujarat, mengatakan bahwa AS menciptakan “Osama-Osama” setiap kali AS hanya mau melayani kepentingannya sendiri. Madani berharap bahwa dunia bisa memahami “berbagai rancangan AS.”

Kematian bin Laden memicu reaksi beragam dari umat Kristen dan kaum Muslim di Bangladesh.

“Pembunuhan tidak bisa diterima. Setiap penjahat harus diseret ke pengadilan dan dikenai hukuman semestinya,” kata Uskup Khulna Mgr Bejoy D’Cruze, ketua Komisi Ekumene dan Dialog Antaragama dari Konferensi Waligereja Bangladesh. “Saya tidak tahu apakah bin Laden atau Al-Qaeda memiliki hubungan dengan militan Bangladesh atau tidak. Namun jelas, kaum militan Bangladesh sangat terdorong dan terinspirasi dengan berbagai aktivitas bin Laden, dan saya yakin bahwa kematian bin Laden ini akan meredakan kekerasan kaum militan.

Sujit Purification, 34, seorang staf LSM Katolik mengatakan, “Saya senang bahwa otak tragedi 9/11 tewas. Ini kabar baik. Tidak seorangpun mendukung kegiatan teroris yang dilakukan bin Laden.”

Moni Haider, 47, seorang Muslim, mengatakan dia yakin kelompok militan Bangladesh akan kecewa dengan matinya bin Laden. “Mereka akan sadar bahwa bin Laden sudah berlalu, sekalipun dia seorang teroris yang sangat kuat.”

Shah Kawthar Abululayee Mustafa, 61, seorang Muslim dan dosen filsafat di Universitas Dhaka, mengatakan ucanews.com, “Kematian [Bin] Laden pasti akan mempengaruhi militansi dan terorisme nasional dan internasional, tetapi beri saya waktu beberapa hari untuk memikirkannya sebelum berkomentar panjang lebar. Semua kegiatan teroris di dunia harus dihentikan.”

Di Filipina, para pemimpin Gereja Katolik saat ini disarankan pemerintah untuk mempersiapkan kemungkinan serangan balasan dari para loyalis bin Laden.

“Pengikutnya di berbagai tempat yang berbeda mungkin saja melakukan pembalasan atas apa yuang terjadi pada bin Laden,” kata Uskup Caloocan Mgr Deogracias Iniguez.

Uskup Marbel Mgr Dinualdo Gutierrez dalam sebuah wawancara terpisah juga menyuarakan perasaan takut seperti yang diungkapkan Uskup Iniguez.

“Kematian bin Laden itu baik [dalam perang melawan teror]. Tetapi juga buruk karena para loyalisnya akan membalas tidak hanya terhadap polisi dan militer, tetapi juga terhadap warga sipil yang tak berdosa,” katanya di Radio Veritas 846 yang dikelola Gereja.

Sementara itu Uskup Martin Jumoad dari Prelatur Isabela mengatakan bahwa kematian para teroris merupakan “kebaikan yang memang atas kejahatan.”

Prelaturnya berada di Propinsi Basilan, tempat kubu pasukan militan Islam Abu Sayyaf yang sangat terinspirasi oleh Al-Qaeda. Abu Sayyaf telah sering menyerang umat Kristen.

Uskup Jumoad mengatakan, dia berharap kematian bin Laden “akan memperlemah kelompok Abu Sayyaf di Basilan karena pemimpin Abu Sayyaf pernah menyatakan mereka didukung oleh Al-Qaeda melalui Jemaah Islamiyah.

Namun, katanya mengakui, serangan balasan bisa terjadi setelah berita pembunuhan bin Laden tersebar luas.

ucanews.com

Disadur dari : www.cathnewsindonesia.com; Tanggal publikasi: 3 Mei 2011

Vatikan akui peran blogger Katolik

Vatikan akui peran blogger Katolik

Rocco Palmo, pemilik blog popular "Whispers in the Loggia," menghadiri pertemuan para blogger Katolik di Vatikan pada 2 Mei.

Gereja butuh blogger aktif, tetapi blogger Katolik juga butuh Gereja, terutama untuk saling mengingatkan pentingnya keutamaan cinta kasih dalam tulis menulis, kata seorang peserta pertemuan blogger Katolik di Vatikan.

Pertemuan 2 Mei itu disponsori oleh Dewan Kepausan untuk Kebudayaan dan Komunikasi Sosial.

Pertemuan itu dihadiri oleh 150 peserta yang dibagi menurut geografi, bahasa, dan jenis blog, apakah blog mereka itu personal atau institusional.

Richard Rouse, seorang pejabat di Dewan Kebudayaan tersebut, mengatakan berita tentang pertemuan di Vatikan itu telah mendorong para pejabat gereja lain untuk memulai dialog dengan para blogger lokal.

Pertemuan blogger pertama para di Vatikan itu, katanya, tidak dirancang sebagai seminar dan tidak dimaksud untuk mengembangkan kode etik, melainkan untuk mengakui peran blog dalam komunikasi modern dan untuk memulai dialog antara blogger dan Vatikan.

Pastor Roderick Vonhogen, seorang imam Belanda dan penulis Katholiek Leven (Kehidupan Katolik), mengatakan dalam pertemuan tersebut bahwa blogging “memungkinkan saya untuk menjadi gembala bagi orang-orang yang tidak punya gembala, bukan mereka yang sudah memiliki gembala” karena aktif di paroki.

“Jika Anda menulis di blog dan tidak ada komentar, Anda merasa sengsara … sendirian dan terisolasi,” katanya. Komentar membuat penulis dan pembaca menjadi bagian dari komunitas.

Sementara Rocco Palmo, pemilik “Whispers in the Loggia,” sebuah blog yang cukup populer, mengatakan dalam pertemuan itu, “banyak komunikator profesional” yang berkarya bagi Gereja Katolik, namun jarang kita temui bahwa mereka memiliki blog.

Pertemuan tersebut, katanya, merupakan pengakuan akan “kontribusi kita bagi kehidupan Gereja.”

SUMBER DAN BERITA SELENGKAPNYAChurch needs blogs, bloggers need church, say meeting participants

>Disadur dari : www.cathnewsindonesia.com

Renungan Masa Paskah, Rabu 4 Mei 2011

Renungan Masa Paskah, Rabu 4 Mei 2011
(Fidelis dr Sigmaringen, Yosef Maria Rubio )
Kis 5:17-26, Mzm 34:2-3,4-5,6-7,8-9, Yoh 3:16-21

"Kasih Allah sungguh besar atas kita, Dia tidak pernah menghukum kita."

BACAAN INJIL:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Ada pepatah yang mentakan bahwa orang yang tidak pernah mengalami kasih sayang, tentu juga tidak akan bisa mengasihi sesamanya. Kalimat ini mungkin ada benarnya, karena bagaimana dia mau mengasihi sesamanya karena dia sendiri tidak pernah mengalami apa itu dikasihi atau tidak pernah mengalami betapa indahnya hidup dikasihi. Tetapi benarkah orang tidak punya pengalaman dikasihi? Tentu tidak ada orang yang tidak pernah mempunya pengalaman dikasihi. Setiap orang pasti mempunyai pengalaman dikasihi, hanya memang kerapkali orang tidak menyadari. Mungkin karena pengalaman pahit lebih dominan dalam hidup seseorang atau seseorang itu lebih terpusat pada pengalaman pahit, sehingga membuat dia menyadari bahwa dia juga mempunyai pengalaman indah dalam hidupnya yaitu pengalaman dikasihi. Paling tidak kita yakini bahwa Allah mengasihi semua orang, tanpa kecuali.

Dalam Injil hari ini, Allah menegaskan bahwa Allah sungguh mengasihi manusia dan karena kasih-Nya yang sungguh besar, Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Karena kasih pula, Allah mengutus anak-Nya yakni Yesus Kristus bukan untuk menghakimi atau menghukum manusia yang hidup dalam kedosaan, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Yesus menawarkan keselamata bagi manusia lewat teladan hidup yang baik dan mngajarkan mana yang baik dan mana yang tidak baik dan tidak berkenan di hadapan Allah. Hidup baik sesuai dengan kehendak Allah, itulah hidup dalam terang sedangkan hidup dalam kejahatan itulah hidup dalam kegelapan. Namun nyatanya manusia lebih senang hidup dalam kegelapan yakni dalam perbuatan-perbuatan jahat. Manusia lebih tertarik pada perbuatan-perbuatan jahat, karena tidak mau kehilangan kesenangannya. Juga karena hidup dalam terang atau dalam perbuatan baik yang ditwarkan oleh Yesus memang menuntut suatu pengorbanan dan sarat dengan tantangan.

Maka dalam merenungkan sabda hari ini, kita diajak untuk menyadari kasih Allah. Allah sungguh mengasihi kita semua dan tidak menghendaki kita hidup dalam kebinasaan. Sehingga kalaupun kita mengalami penderitaan dalam hidup, walaupun kita kurang mengalami kasih dari sesama kita karena perlakuan yang tidak baik dari orang lain, baik itu dari orang tua, saudara atau sesama kita, tapi yakinlah bahwa Allah mengasihi kita semua. Dengan menyadari kasih Allah yang demikian besar, kita tetap hidup dalam sukacita, karena selalu ada kasih Allah dalam hidup kita yang selalu menyertai kita.

Selain itu, banyak diantara kita yang mengatakan mengatakan bahwa dirinya menyadari kasih Allah dalam hidupnya dan mengatakan dirinya juga mengasihi Allah. Namun dalam kehidupan dia tidak hidup dalam kasih Allah. Banyak orang yang tidak mengasihi Allah dengan tidak hidup dalam terang. Kalau kita sungguh menyadari kasih Allah atas hidup kita dan kita mengasihi Allah, kita harus hidup dalam terang yakni hidup dalam perbuatan-perbuatan baik dan juga berbuat baik terhadap sesama kita. Kiranya kasih Allah ini sangat perlu kita nyatakan dalam hidup sekarang ini, karena saat ini banyak saudara kita yang tidak lagi mampu menyadari kasih Allah dalam hidupnya karena beratnya beban hidup dan juga karena perlakuan tidak adil dari Negara ini atau dari orang-orang tertentu. Maka tugas kitalah untuk membagikan kasih Allah kepada sesama kita. Juga saat ini kita mengalami bahwa banyak orang yang suka hidup dalam kegelapan, hidup dalam perbuatan-perbuatan jahat. Orang tidak menyadari bahwa dengan perbuatan itu, orang akan masuk dalam kebinasaan hidup. Malah seringkali orang mengatakan bahwa dia mengalami penderitaan hidup adalah karena hukuman Tuhan. Pandangan ini tentu tidak tepat. Allah tidak pernah menghukum kita, tetapi perbuatan kitalah yang ‘menghukum’ kita yang membuat kita masuk dalam penghukuman. Inilah yang perlu kita sampaikan kepada sesam dengan berusaha hidup dalam terang.

Maka semoga kita membagikan kasih Allah kepada sesama kita dengan hidup dalam terang sehingga dengan hidup dalam terang. Amin.

Renungan Masa Paskah, Selasa 3 Mei 2011 Pesta St. Filipus & Yakobus Rasul

Renungan Masa Paskah, Selasa 3 Mei 2011
Pesta St. Filipus & Yakobus Rasul
1Kor 15:1-8, Mzm 19:2-3,4-5, Yoh 14:6-14

BACAAN INJIL:

“Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Semua agama pasti mengatakan bahwa agama dan ajaran agama merekalah yang paling benar dan yang menjamin orang untuk bahagia serta masuk surga. Setiap orang pasti bangga dengan agama yang dianut. Pasti tidak ada orang atauy agama manapun yang mengatakan bahwa agamanya tidak baik atau mengatakan bahwa agama orang lain lebih baik dan benar. Bahkan seringkali agama tertentu begitu fanatic dengan agamanya sehingga menganggap bahwa agama lain tidak benar dan tidak boleh ada. Fanatisme ekstrim begini sering kita temui, menganggap bahwa orang lain harus masuk dalam kelompok mereka dan mereka tidak segan-segan memaksakannya dengan bentuk tekanan, terror dan pembakaran rumah ibada agama lain.

Kita juga kerap mendengarkan pendapat yang mengatakan semua agama sama, sama-sama menyembah Allah dan mengajarkan kebaikan. Sikap seperti ini seringkali membuat orang suka pindah agama atau tidak punya pendirian. Kita sebagai Katolik tentu juga menganggap bahwa ajaran Agama kitalah yang benar dan kita bangga dengan hal ini. Ini baik dan memang kita harus punya keyakinan bahwa iman yang kita anut adalah baik dan benar, kitapun harus bangga dengan iman kita. Apalagi dalam Injil hari ini Yesus mengatkan bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Yesus mengatakan bahwa Dia bersatu dengan Allah Bapa sehingga barang siapa menerima dan melihat Dia, juga telah menerima dan melihat Allah Bapa yang telah mengurus-Nya. Kiranya hanya Yesuslah pemimpin agama yang berani mengatakan bahwa diri-Nya adalah jalan, kebenaran dan hidup. Kita boleh selidiki sejarah agama-agama lain, tidak ada pendiri atau pemimpin agama yang berani mengatakan seperti yang dikatakan oleh Yesus. Dengan ungkapan demikian, Yesus menjamin bahwa barang siapa yang menerima dan mengikuti Dia, pasti akan sampai kepada keselamatan kekal. Maka kita boleh berbangga diri sebagai pengikut Yesus.

Namun kiranya rasa bangga itu bukan menjadi kesombongan, sebab Yesus menuntut suatu dari para pengikut Yesus. Yesus mengatakan bahwa barang siapa yan gmengikuti-Nya, harus melakukan pekerjaa-pekerjaan yang dilakukan-Nya dan bahkan harus melakukan lebih besar daripada semuanya itu.

Kita semua tahu bahwa Yesus diutus oleh Allah Bapa untuk mewartakan kerajaan Allah, mewartakan keselamatan kekal. Untuk itu Yesus melakukan perbuatan-perbuatan baik, melakukan perbuatan cinta kasih, beprihak kepada orang-orang kecil dan berani membela kebenaran. Maka demikianlah kiranya yang harus dilakukan oleh para pengikut Yesus. Kita sebagai pengikut Yesus yang adalah jalan kebenaran dan hidup, justru bukan menjadi sombong tetapi kebenaran iman kita akan Yesus kita tunjukkan dalam kesetian hidup dalam perbuatan baik, melakukan perbuatan cinta kasih, dan berani membela kebenaran. Bahkan Yesus juga mengatakan bahwa kita tidak hanya sekedar melakukan pekerja-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus, tetapi juga berani berkorban demi iman kita kepada-Nya. Justru dengan hidup demikianlah nyata bahwa kita adalah pengikut Yesus yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Oleh karena itu, semoga kita bangga sebagai pengikut Yesus yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Amin.

Peziarah banjiri rumah JPII

Peziarah banjiri rumah JPII

Replika rumah Paus Yohanes Paulus II di Propinsi Bulacan

Sebuah replika dari rumah masa kecil Yohanes Paulus II(JPII) di Wadowice, Polandia, menjadi daya tarik besar bagi peziarah menjelang perayaan beatifikasi JPII pada 1 Mei.

Rumah di Kota Marilao, Propinsi Bulacan, di Filipina bagian utara itu terletak di kompleks Paroki Kerahiman Ilahi yang menjadi sebuah tempat ziarah nasional. Rumah itu dibangun tahun 2005 segera setelah kematian Paus Yohanes Paulus II.

Di luar rumah itu ada patung Yohanes Paulus. Di dalamnya terdapat foto-foto perjalanan hidup Karol Wojtyla dari masa kecilnya sampai kematiannya tahun 2005.

Jaime Corpuz, seorang sejarawan lokal, mengatakan, dia merasa damai di depan rumah itu. “Rasanya berbeda. Saya bisa merasakan bahwa rumah itu suci,” katanya.

“Saya tidak biasanya pergi ke sana, tetapi ketika saya pergi, saya bisa merasa tempat itu suci,” kata Jocelyn Gianan-Clemente, penduduk kota tersebut.

Rumah itu berdiri di samping kapel yang didedikasikan untuk Santa Faustina, biarawati yang memulai devosi kepada Kerahiman Ilahi, yang pernah dilarang, tetapi kemudian diakui oleh Paus Yohanes Paulus II.

Pastor Vicente Robles, pendiri Tempat Ziarah Nasional Kerahiman Ilahi tersebut, mengatakan, rumah dan kapel tersebut dijuluki pameran “Little Polandia.”

Rumah itu dibangun untuk mempromosikan kehidupan dan ajaran paus, katanya, sedangkan pameran “Little Polandia” dimaksud untuk mempromosikan devosi kepada Kerahiman Ilahi.

Sementara itu, di Bacolod City, para pejabat Gereja mengatakan mereka berharap bisa menarik banyak umat Katolik ke sebuah situs ziarah baru dalam rangka penghormatan kepada Paus Yohanes Paulus II.

Situs dengan nama “Pilgrimage for Life with John Paul II” itu akan berisi 10 tempat ziarah, yang semuanya berisi ajaran tentang pengharapan dari JPII, demikian Pastor Felix Pasquin, rektor Katedral San Sebastian.

ucanews.com,

Disadur dari :www.cathnewsindonesia.com, Tanggal publikasi: 2 Mei 2011

Renungan Masa Paskah, Senin 2 Mei 2011 (Atanasius)

Renungan Masa Paskah, Senin 2 Mei 2011
(Atanasius)
Kis 4:23-31, Mzm 2:1-3,4-6,7-9, Yoh 3:1-8

BACAAN INJIL:
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Setiap orang pasti mengherapkan suatu kebaikan dan kebanaran terjadi. Tidak ada yang mengharapkan hal yang tidak baik dan pasti tidak ada orang yang menginginkan orang lain melakukan ketidak baikan. Namun kerap terjadi bahwa kita tahu hal yang baik dan benar, tetapi kita tidak melakakanya. Kesulitan untuk berbuat baik dan benar bisa karena kita takut kepada orang-orang yang mungkin akan dirugikan dengan perbuatan itu. Adapula yang tidak melakukannya karena tidak mau tidak mau berubah hidup dan tidak mau kehilangan kesenangan diri.

Demikian mungkin kiranya dalam diri Nikodemus, dia seorang pemimpin agama Yahudi. Secara pribadi dia mengakui Yesus adalah guru yang diutus oleh Allah, sehingga dia datang kepada Yesus pada tengah malam. Dia datang sengaja pada tengah malam, tentu karena dia seorang pemimpin bangsa Yahudi tidak ada yang mengetahui bahwa dia datang kepada Yesus. Dia menjaga harga dirinya dihadapan para jemaatnya dan merasa gengnsi seorang pemimpin Yahudi datang kepada Yesus. Sebab kalau hal itu diketahui orang lain, tentu dia merasa akan diejek dan tidak lagi dihargai oleh warganya. Maka dia datang kepada Yesus pada waktu malam dan datang diam-diam, supaya tidak ada yang melihat. Dia jelas mengakui kebenaran dalam diri Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah guru yang diutus Allah, tetapi dia tidak kehilangan kedudukan di hadapan bangsa Yahudi dan dia juga tidak mau menjadi pengikut Yesus. Yesus sendiri mengatakan bahwa untuk masuk dalam Kerajaan Surga adalah harus dilahirkan dalam Roh. Dibaptis dalam Roh yang dimaksudkan adalah menerima Yesus adalah Tuhan, bukan sekedar guru.

Kitapun banyak yang hanya seperti Nikodemus, merindukan masuk surge. Kita mengakui kebenaran ajaran Yesus, mengagumi dirinya, tetapi kita tidak mau sungguh-sungguh percaya dan mengikuti dirinya. Kita tidak mau kehilangan kesenangan diri, kita tidak mau berkorban dalam mengikuti Yesus Tuhan. Padahal sebenarnya kita telah lahir kembali dalam Roh lewat baptisan yang kita terima, tetapi kita tidak hidup dalam Roh itu. Hidup dalam Roh berarti mengikuti ajaran-ajaran Yesus, menyembah Dia sebagai Tuhan dan meneladan hidupnya. Para Rasul menjadi teladan yang telah lahir dalam Roh karena mereka hidup dalam Roh. Mereka digerakkan oleh Roh untuk mewartakan kerajaan Allah dan mereka tidak takut walaupun para penguasa mengancam mereka. Dalam situasi demikian, malah membuat mereka selalau berserah dan mohon kekuatan dari Tuhan sendiri.

Jadi benarlah bahwa kerinduan untuk masuk ke adalamKerajaanSurga, tidaklah cukup hanya kerinduan. Beriman juga tidak hanya sekedar mengakui bahwa Yesus adalah guru yang diutus oleh Allah, tidak cukup hanya mengakui kebenaran ajaran Yesus atau mengagumi-Nya tetapi harus mau lahir kembali dalam Roh dan hidup dalam Roh. Amin.

1 Mei 2011 YUBELIUM BARU: Karol Wojtyla, Beato

1 Mei 2011 YUBELIUM BARU: Karol Wojtyla, Beato
Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli
Pondok Renungan, Milano, 29 April 2011.

Hari Minggu tanggal 1 Mei, tepat pada Hari Raya Kerahiman Ilahi, perhatian umat Katolik sedunia akan tertuju kepada upacara yang sudah tidak langka dan yang sering dilakukan oleh Gereja Katolik. Namun upacara yang akan dilangsungkan tahun ini begitu spesial dan menyentuh hati seluruh umat dari Gereja dengan jumlah pengikut terbesar di dunia. Karena pada Hari Yubelium Baru itu, seorang wakil Kristus dan pemimpin Gereja Universal dari sebuah negara "jauh", akan menerima penghargaan dan penghormatan di Altar Tuhan. Pada hari itu, Karol Wojtyla, Paus Yohanes Paulus II, akan masuk ke dalam Persekutuan Orang Kudus, dia akan diakui sebagai seorang Beato, Yang Terberkati.

* Wojtyla Semasa Hidup

Karol Wojtyla lahir di kota Wadowice di Polandia pada tahun 1920. Diangkat menjadi Paus pada tahun 1978 dan bertahta sampai saat meninggal dunia tanggal 2 April 2005.

Wojtyla yang agung dan menggetarkan. Menggetarkan? Ungkapan ini mungkin jarang sekali digunakan akhir-akhir ini terutama di mana Kristianisme terkontaminasi oleh New Age. Karena bukan saja Yohanes Paulus II seorang Paus yang baik hati, yang terbaring mendoakan orang-orang sakit agar lekas sembuh, yang hatinya penuh pengampunan dan yang menampakkan Belas Kasih Allah melalui tatapan matanya. Tetapi, Paus asal Polandia itu juga memiliki kebaikan yang menggetarkan, bagaikan seorang serdadu seperti ayahnya. Hanya cukup menatap kakinya untuk mengetahui bahwa dia dilahirkan bukan saja untuk berjalan ke mana dia dibutuhkan, tetapi juga untuk menaklukkan kerajaan kegelapan dengan menendang dan meruntuhkan gerbang-gerbangnya.

Sejak Surat Ensiklik yang pertama, Yohanes Paulus II sudah menunjukkan ketegasannya. Dalam "Redemptor hominis" dia memperkenalkan ungkapan yang tidak lazim bagi umat Kristiani dan jarang digunakan: "kegetaran hati Allah". Ungkapan itu ditemukannya dalam diri Santo Paulus, untuk mengartikan hidup adalah sebuah pertempuran.

Menggetarkan Iblis. Itu pasti. Bahkan, sangat menggetarkan. Pada bulan September tahun 2001, dalam surat kabar Libero penulis Renato Farina dari Fraternitas Comunione e Liberazione menceritakan bagaimana Yohanes Paulus II sendiri menghadapi dan melawan Iblis, dengan mengusirnya keluar dari tubuh seorang anak perempuan dengan kalimat-kalimat yang menggetarkan dan menakutkan roh jahat itu. Dia mengikuti nasehat dari Santo Bernardus di Chiarvelle, yaitu bukan memerintah atas kekerasan, melainkan mengusir dan mematikan kekerasan: "jika kamu mengusir roh jahat keluar dari orang yang lemah dan mematikan dia, kamu bukan membunuh orang itu tetapi iblis yang kamu bunuh." Yohanes Paulus II tidak pernah meragukan nasehat Biarawan-serdadu Kudus itu.

Suatu hari dia pernah berkata: "Saya seorang Paus yang sudah tua, tetapi berjalan di dalam gunung-gunung." Dia menggunakan kata "di dalam" gunung-gunung, bukan "di atas" gunung-gunung. Jadi, dia berjalan di dalam batu-batu gunung. Pada upacara pemakamannya, tidak ada pernak-pernik apapun di atas peti matinya, yang ada hanya sebuah Kitab besar dan Salib. Petinya pun sederhana dan tidak berwarna. Saat itu angin berhembus kencang, membilah halaman demi halaman Injil seperti sebuah topi hias dari seorang janda yang putus asa.

Yohanes Paulus II tidak gentar melawan Komunisme. Berusia 59 tahun dan pergi ke Polandia memerangi Komunisme dengan berkotbah di hadapan orang-orang. Disebut sebagai “atlit Allah”. Dia tampak lebih lagi sebagai Malaikat Agung Mikael dengan pedang melawan penindas. Kepahlawanan Yohanes Paulus II yang menggetarkan ditampakkan saat dia menulis surat ke Moskow, mengatakan jika Soviet sampai menjajah Polandia mereka akan berhadapan langsung dengannya.

Kegetaran hatinya ditunjukkan dengan tidak memberikan toleransi atas pengartian yang salah terhadap tema doktrinal. Keyakinan Iman adalah kekayaan bagi orang miskin, maka tak seorang pun boleh memberikan pemahaman yang palsu. Waktu itu, dia baru saja menjabat Bapa Suci, namun dengan segera mengkritik Hans Kung dan menolak memberikan kesempatan kepadanya untuk menamakan dirinya dan mengajarkan “Teolog Katolik”. Yohanes Paulus II justru memberikan posisi itu kepada muridnya, Kardinal Joseph Ratzinger.

Demikian halnya mengenai “Teologi Pembebasan”. Wojtyla pergi ke Puebla di Meksiko dan menjelaskan rakyat bahwa: “hanya Kristus dan daripadaNya saja” datangnya pembebasan bagi manusia dan rakyat. Bahwa ajaran Marxisme adalah penyangkalan atas keadilan.

Dengan kaum muda, terutama dari Barat, dia tidak pernah putus asa berbicara tentang tema moralitas seksual, abortus, dan penggunaan metode kontrasepsi. Kepada siapa yang menunjuknya sebagai pemimpin yang paling bijak, yang paling dekat dengan modernitas, dia menjawab: “Bukan saya yang membuat doktrin Gereja, saya tidak mengubah firman Yesus.”

Yohanes Paulus II juga tidak gentar akan penyakit dan kematian. Bahkan tidak takut sama sekali. Boleh dibilang lebih galak daripada penyakit dan kematian itu. Dia tidak mau ditaklukan oleh penyakit dan kematian. Tahun 2003 dia masih sempat pergi ke Ajerbaijan dan Bulgaria, menampakkan sosoknya bagai sebuah patung putih yang kokoh.

Di akhir hayatnya, tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Tetapi di hadapan dunia memukul meja baca dengan kepalan tangannya, dengan seluruh sisa kekuatan duniawi yang ada padanya.

Mungkin kepalan tangannya itu juga ditujukan kepada Allah, menunjukkan betapa Agung Dia dan betapa dia sangat mencintaiNya.

* Rahmat Kesembuhan Suster Marie Simon-Pierre melalui perantaraan Wojtyla

Setelah melalui penelitian yang panjang, akhirnya Kongregasi Penyebab Orang Kudus menyatakan setuju atas mukjizat yang dikaitkan dengan perantaraan Paus Wojtyla. Suster Marie Simon-Pierre, seorang biarawati asal Perancis berusia 44 tahun, menderita suatu bentuk agresif dari penyakit Parkinson. Penyakit itu memaksanya meninggalkan pelayanannya di bangsal sebuah rumah sakit bersalin di Arles. Namun, yang secara misterius langsung sembuh setelah para biarawati lainnya, pada bulan Juni 2005, datang kepada Yohanes Paulus II yang baru saja meninggal, untuk memohon rahmat mukjizat kesembuhan.

* Berkat Wojtyla juga Ratzinger Sembuh

Semua orang tahu, bahwa mereka berdua bersahabat dan secara doktrinal spektakuler. Tetapi bahwa Joseph Ratzinger telah mengalami sebuah pertemuan yang sangat spesial dengan seorang Beato masa depan, lebih-lebih di bawah tanda keajaiban – tanda mukjizat – sungguh-sungguh tiada yang tahu.

Saat sedang bekerja merampungkan Katekismus yang baru, antara tahun 1991 dan 1992, Kardinal Ratzinger mengalami sebuah serangan yang mematikan dan segera dirawat di sebuah klinik swasta di sekitar Jalan Aurelia. Saat itu, dia ditangani oleh Dokter Bedah Saraf, Francesco Chiappetta, yang menganalisa Ratzinger untuk menjalankan operasi. Kardinal Ratzinger juga disarankan untuk menjalankan operasi di Jerman, tetapi dia sendiri yang meminta untuk tidak dioperasi dan tetap tinggal di Roma.

Setelah beberapa saat berlalu, seorang dokter ahli yang baru membawa hasil analisa yang mengatakan bahwa penyakit mematikan tersebut hilang secara mukjizat.

Dalam perbincangan dengan tim dokter, Ratzinger menyebutkan secara khusus ikatan dengan Yohanes Paulus II. Tetapi, apakah yang telah terjadi?

Beberapa saksi mengatakan fakta bahwa, selama perawatannya itu, Ratzinger menerima kunjungan pribadi pada malam hari yang dilakukan oleh Wojtyla. Kemungkinan itu sebuah kunjungan yang dilakukan dengan doa bersama dan percakapan yang sangat mendalam diantara keduanya.
Lalu, muncul beritanya: Ratzinger sembuh.

* Upacara Beatifikasi

Upacara Beatifikasi Yohanes Paulus II akan di langsungkan di Vatikan di Basilika Santo Petrus dan Paulus pada pukul 10.00 waktu Italia atau pukul 15.00 waktu Indonesia, dan akan dipimpin oleh Paus Benediktus XVI. Diperkirakan ratusan ribu orang akan membanjiri alun-alun dan sekeliling Basilika untuk mengikuti acara penting tersebut.

Pada bagian facciata dari Basilika telah dipasang sebuah poster besar yang bergambar wajah Beato Karol, dan untuk pertama kalinya akan dipertunjukkan relikwi suci dari Yohanes Paulus II.

Sebuah ampola yang berisikan darahnya akan diarak bagi semua umat yang hadir dan yang menonton melalui acara TV dari rumah. Di Italia hampir sebagian besar kanal TV akan menayangkan acara penting tersebut. Sementara di Indonesia, umat dapat mengikutinya melalui kanal TVOne dan Indosiar.

Selain daripada itu, Youtube bekerjasama dengan Kanal TV Vatican Centro Televisivo Vaticano dan Radio Vatikan mengumumkan pada tanggal 1 Mei juga akan menayangkan Upacara Beatifikasi Yohanes Paulus II melalui live video streaming di link www.youtube.com/live, dan secara langsung di kanal Youtube buatan Vatikan di link www.youtube.com/giovannipaoloii. Tayangan Youtube itu akan berlangsung dari pukul 09.00 sampai pukul 12.45 waktu Italia. Sehingga demikian, siapapun juga di seluruh dunia dapat mendukung dan menyaksikan Upacara Beatifikasi Yohanes Paulus II yang bersejarah.

(Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli, dari sumber Libero dan Il Giornale

Disadur dari :pondokrenungan.com

BEATO YOHANES PAULUS II

BEATO YOHANES PAULUS II
Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli
Pondok Renungan, Milano, 1 Mei 2011.

Hari ini, 1 Mei, Hari Raya Kerahiman Ilahi, dihadapan sekitar 1 juta orang baik umat Katolik dan non-Kristiani, antara pukul 10.00-10.30 waktu Italia, Bapa Suci Benediktus XVI menyambut kerinduan dan permohonan dari Vikar General Tahta Suci untuk Keuskupan Roma dan seluruh umat dari Gereja Katolik untuk mengakui berdasarkan Otoritas Gereja Katolik dan memproklamasikan Venerabile Yohanes Paulus II sebagai BEATO (Yang Diberkati).

Hari ini, Venerabile Yohanes Paulus II masuk ke dalam Persekutuan Orang Kudus dan Diberkati. Pesta Perayaannya ditetapkan oleh Gereja Katolik setiap tanggal 22 Oktober.

Sesaat setelah Bapa Suci mengumumkan pengakuan Gereja atas kesucian paus dari Polandia itu, pada bagian atas tengah dari Basilika Santo Petrus dilepaskan kain putih yang sebelumnya menutupi foto besar Yohanes Paulus II yang diambil pada tahun 1995.
Setelah itu, Suster Marie Simon Pierre yang menerima Rahmat Kesembuhan dari Allah berkat perantaraan Yohanes Paulus II dan Suster Tobiana membawa ke hadapan Paus Benediktus sebuah ampul yang berisikan darah Beato yang amat dikasihi umat itu. Bapa Suci menerimakan ampul suci itu dan menciumnya.

Bapa Suci dalam Homilinya, mengingat penyebab utama dari masa kepausan Beato baru, yang diungkapkannya dengan penuh semangat dan gembira dalam Misa Kudusnya yang pertama di Lapangan Santo Petrus: "Jangan takut. Bukalah semua pintu bagi Kristus!". Paus juga mengatakan bahwa hari ini adalah hari pertama bulan Mei, yaitu bulan Maria; dan juga adalah peringatan Santo Yoseph pekerja. "Elemen-elemen ini memperkaya doa kita, membantu kita yang masih dalam peziarahan duniawi; sementara di Surga, sungguh berbeda, hari ini adalah pesta diantara para Malaikat dan Orang-orang Kudus! Namun demikian, hanya satu Allah, dan dia adalah Kristus Tuhan, yang bagaikan sebuah jembatan menghubungkan Langit dan bumi, dan kita saat ini merasa lebih dekat lagi, hampir terasa ikut serta di dalam Liturgi Abadi."

Sri Paus juga mengingat pengalaman pribadinya bekerja selama 23 tahun bagi Beato Yohanes Paulus II, saat dia diangkat menjadi Kepala Kongregasi Bagi Doktrin Iman. "Pelayanan saya telah didukung oleh semangatnya yang dalam, oleh kekayaan intuisinya." Paus melanjutkan, "Pribadinya yang sangat sederhana, mengakar dalam persatuan dengan Kristus, membuatnya mampu melanjutkan dan memimpin Gereja dan memberikan kepada dunia sebuah pesan yang lebih tepat lagi terlebih pada saat kondisi fisiknya menurun. Demikian, dia telah merealisasikan dengan cara yang luar biasa panggilan dari semua Imam dan Uskup: menjadi satu semuanya dengan Yesus, yang setiap hari menerima dan memberikan di dalam Ekaristi."

Paus Benediktus XVI kemudian menutup homili dengan berkata," Terberkatilah engkau, Paus Yohanes Paulus II tercinta, karena engkau telah percaya! Teruslah - kami mohon kepadamu - mendukung dari Surga, iman dari Umat Allah. Sering kali engkau memberkati kami di lapangan ini....Hari ini kami mohon kepadamu: Bapa Suci, berkatilah kami! Amen."

Sementara itu, di pagi hari saat menunggu beatifikasi, peti Yohanes Paulus II telah di pindahkan dari Grotta Vatikan menuju bagian dalam Basilika dan ditempatkan di hadapan Altar pusat, yang dinamakan Altar "Pengakuan".
Demikianlah, setelah upacara beatifikasi selesai, Paus dan para Kardinal menjadi yang pertama, lalu disusul para delegasi resmi, dan akhirnya barisan umat yang menyerupai ular, berbaris dan melakukan adorasi di hadapan peti.
Saat adorasi selesai nanti, peti tersebut akan di bawa ke tempat semayamannya yang pasti yaitu di dalam kapel Santo Sebastianus, dekat dengan patung Pietà di Micheangelo.

Menanggapi keinginan umat Allah agar Yohanes Paulus II dikanoniasi sebagai Santo (Orang Kudus), Kardinal Angelo Amato, kepala dari Kongregasi Penyebab Orang Kudus, meyakinkan bahwa dia sedang bekerja dengan "kecepatan" yang sama sehingga tahap akhir ini dapat terealisasi. Sudah banyak laporan-laporan mukjizat masuk ke Vatikan dari seluruh dunia, sehingga seharusnya tidak sulit untuk memberikan pengakuan atas mukjizat kedua yang terjadi berkat perantaraan Paus asal Polandia itu.

(Oleh Shirley Hadisandjaja Mandelli, dari Italia)

Disadur dari : www.pondokrenungan.com

Foto-foto dapat dilihat di http://www.facebook.com/notes/berita-katolik/laporan-dari-vatikan-beato-yohanes-paulus-ii/10150565967090538

RENUNGAN Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 1 Mei 2011 (Hari Minggu Kerahiman Ilahi)

RENUNGAN Hari Minggu Paskah II, 1 Mei 2011
(Hari Minggu Kerahiman Ilahi)
Kis 2:42-47, Mzm 118:2-4,13-15,22-24, 1Ptr 1:3-9, Yoh 20:19-31

BACAAN INJIL: (Yoh 20:19-31)
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

RENUNGAN:

Perayaan Minggu Paskah II merupakan perayaan Paskah yang penuh dengan makna bagi kita. Pada hari Minggu Paskah II ini, oleh Paus Yohanes Paulus sebagai Minggu Kera-himan Ilahi sebab Paus Yohanes Paulus II menyebut Minggu Paskah II sebagai Minggu Kera-himan Ilahi. Salah satu Ensiklik Paus Yohanes Paulus II ini juga berjudul “Dives in Misericordia” (1981), yaitu bahwa Allah sebagai Bapa sung-guh maharahim. Hari ini tanggal 1 Mei juga merupakan pembukaan bulan Maria. Dan hari ini juga Paus Paus BenediktusXVI akan mengangkat Paus Yohanes Paulus II, pendahulunya sebagai Wakil Kristus, menjadi Beato.

Baik pembukaan bulan Maria maupun perayaan beatifikasi Paus Yohanes Paulus II menjadi Beato adalah 2 momen semakin menguatkan keilahian perayaan Minggu ini yang menekankan Kerahiman Ilahi sebagaimana memang nyata dalam Injil yang akan kita renungkan pada hari ini. Baik Bunda Maria maupun Paus Yohanes Paulus, adalah contoh teladan bagi kita karena mereka menyadari dan mensyukuri kerahiman Allah atas diri mereka, atas manusia dan mereka membagikan kerahiman Allah itu kepada sesama. Inipulalah yang seharusnya menjadi semangat hidup kita sebagai pengikut Yesus Kristus.

Dalam Injil yang diperdengarkan kepada kita hari ini dikatakan bahwa pada hari pertama minggu para murid berkumpul di suatu tempat dan pintu-pintu maupun jendela terkunci rapat karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Setelah kematian Yesus para murid memang dalam ketakutan, mereka takut ikut dibunuh oleh orang yahudi seperti Yesus guru mereka. Dalam ketakutan itu, mereka sering mengurung diri di rumah atau tidak banyak tampil di depan umum. Ketakutan mereka sungguh luar biasa sehingga walaupun sudah beberapa kali Yesus yang bangkit dari kematian telah menampakkan diri kepada beberapa murid yang lain, tetapi mereka masih ketakutan. Pada saat ketakutan itulah, Yesus tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka. Yesus sungguh tahu suasana hati mereka sehingga saat menemui mereka kata damai sejahteralah yang dikatakan kepada mereka. Tentu sapaan Yesus itu sungguh menjadi sapaan yang menyejukkan bagi para murid yang sedang dalam ketakutan itu. Kata-kata itu sampai 2 kali dikatakan oleh Yesus untuk menghibur mereka dan untuk meneguhkan hati mereka bahwa Dia sungguh telah bangkit, Yesus memperlihatkan kepada mereka bekas-bekas luka ketika Dia disalibkan. Dalam penampakan ini, Yesus tidak hanya menghibur dan menguatkan mereka agar mereka tidak usah takut, tetapi juga mengutus mereka menjadi saksi kebangkitan Yesus. Yesus juga memberikan mereka Roh Kudus agar Roh itu menguatkan mereka dalam perutusan itu.
Sungguh Yesus menyatakan kerahiman Allah. Yesus datang, menderita sengasara, mati disalib dan dibangkitkan adalah karena kerahiman-Nya untuk menyelamatkan manusia. Allah yang maharahim sungguh peduli akan manusia dan itulah yang nyata dalam penampakan kepada pada murid sebagaimana yang kita dengarkan dalam injil tadi. Dalam seluruh hidup manusia juga terutama dalam ketakutan hidup, Yesus senantiasa hadir dan memberi penghiburan dan peneguhan.

Maka merayakan hari Minggu paskah: Kerahamiman Ilahi hari ini, kita dikuatkan bahwa Allah itu sungguh maharahim, Dia sungguh peduli dalam atas hidup kita, Dia akan senantiasa hadir dalam hidup kita. Bahkan sesudah kebangkitan-Nya, jelas bahwa kematian, kubur dan ruangan tertutup tidak bisa menghalangi-Nya untuk menemui kita dan memberikan damai sejahtera kepada kita.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tentu tidak lepas dari persoalan dan ketakutan-ketakutan hidup. Kebangkitan Kristus memang tidak membuat kita terlepas dari persoalan dan ketakutan hidup. Tetapi kebangkitan Kristus memberi kita harapan dan semangat baru bahwa kasih Allah senantiasa menyertai kita, Dia akan selalu memberi damai sejahtera-Nya kepada kita. Dengan demikian, dalam seluruh suasana kehidupan kita, terutama dalam duka dan ketakutan, kita hendaknya selalu percaya kepada Yesus. Walaupun terkadang kita seperti tidak dapat melihat kehadiran-Nya secara nyata, tetapi kita percaya bahwa Yesus yang bangkit tetapi hadir bersama kita. Sebab Yesus sendiri berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Namun kiranya perlu kita ingat, bahwa kasih Allah dan kerahiman Allah hendaknya bukan hanya untuk kita sendiri. Kasih Allah yang nyata dalam kebangkitan Kristus hendaknya juga dibagikan kepada banyak orang. Yesus menghendaki kerahiman Allah itu juga dapat dirasakan oleh banyak orang. Untuk itulah Yesus mengutus para murid dan kita semua. Untuk menjalankan tugas itu, Yesus telah memberikan kita Roh Kudus. Maka kita yang sudah menyadari, merasakan dan menikmati kerahiman Allah, hendaknya juga membagikan kepada sesama kita. Membagikan kerahiman Allah kita nyatakan dengan membawa damai sejahtera kepada sesama kita. Membawa damai sejahtera terwujud dengan sikap kepedulian dengan sama kita terutama yang menderita dan kekurangan. Janganlah seperti Thomas dari Didimus yang tidak peduli dengan para rasul yang lain yang sedang dalam ketakutan. Sebagaimana kita dengarkan tadi dalam Injil, saat para murid ketakutan dan mengurung diri di satu tempat, dia tidak peduli malah pergi sibuk dengan dirinya sendiri. Bahkan ketika para murid itu membagikan sukacita karena telah melihat Yesus yang bangkit, dia tetap tidak percaya dan tidak peduli, sibuk dengan dirinya dan pikirannya sendiri.

Kerahiman Allah kita bagikan dengan meneladan hidup para murid sebagaimana diwartakan dalam bacaan pertama tadi. Para murid senantiasa berkumpul sebagai satu saudara, mereka makan bersama. Mereka saling berbagi dengan sesama terutama yang lemah, bahkan mereka tidak segan-segan membagikan harta mereka menurut keperluan masing-masing. Sunguh indah hidup kekristenan awali yang sungguh menggambarkan kerahiman Allah yang mau berbagi sukacita dengan kita manusia. Maka mewartakan kerahiman Allah, kita wujudnyatakan dalam sikap peduli dengan sesama yang menderita dan mau berbagi sukacita dengan mereka. Kita sudah menerima kerahiman Allah dengan cuma-cuma, maka kitapun seharusnya mau berbagi dengan sesama dengan cuma-cuma dan penuh sukacita pula. Tetapi kiranya dalam berbagi sukacita, tidak hanya sekedar dengan memberi, tetapi dilandasi prinsip hidup sebagai sesama saudara sehingga kita juga mau berkumpul dan hidup bersama orang lain. Karena bisa saja kita begitu social, mau berbagi harta yang kita miliki, tetapi kita tidak mau berkumpul dan hidup bersama dengan orang lain. Hidup yang demikian, belumlah menggambarkan kerahiman Allah. Karena jelas Allah tidak hanya membagikan sukacita atau melimpahkan berkat-Nya dengan kita, tetapi Dia mau menemui dan tinggal bersama kita.

Maka semoga perayaana Kerahiman Ilahi hari ini, kita bersukacita, tidak takut menjalani hidup karena percaya bahwa Yesus yang bangkit selalu bersama kita. Kitapun menjadi tidak takut untuk membawa damai sejahtera Allah kepada sesama kita. Amin.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)