Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.
Showing posts with label Prapaskah. Show all posts
Showing posts with label Prapaskah. Show all posts

MENGAPA KISAH SENGSARA YESUS DISEBUT `PASSIO'dan MENGAPA KITA MEMBACA PASSIO DUA KALI??

MENGAPA KISAH SENGSARA YESUS DISEBUT `PASSIO'dan MENGAPA KITA MEMBACA PASSIO DUA KALI??

Minggu Palma disebut juga Minggu Mengenangkan Sengsara Tuhan, sebab pada hari itu akan dibacakan kisah tentang hari-hari terakhir kehidupan Yesus di dunia yang dikenal sebagai “Kisah Sengsara Tuhan Kita, Yesus Kristus”.

Passio berasal dari `Passio' bahasa Latin, yaitu suatu perasaan yang amat kuat serta mendalam. Misalnya saja cinta, benci atau marah. Di antaranya, yang paling besar kuasanya adalah cinta.

Tuhan amat sangat mencintai kita. Tuhan bukanlah arca batu yang tanpa perasaan. Arca seperti itu tidak mati untuk siapa pun. Tuhan Yesus wafat bagi kita. Yesus tidak berpura-pura. Ia sungguh-sungguh merasakan sakit yang amat menyiksa. Penderitaan Tubuh-Nya jauh lebih besar dari yang dapat ditanggung manusia mana pun. Penderitaan batin-Nya - sejak ditinggalkan oleh para sahabat-Nya hingga cercaan serta hinaan dari mereka yang hendak diselamatkan-Nya - lebih dahsyat dari yang dapat kita bayangkan. Jadi, ketika kalian mendengarkan Kisah Sengsara-Nya, berbagilah penderitaan dengan-Nya!

MENGAPA KITA MEMBACA PASSIO DUA KALI?

Pada Hari Minggu Palma kita membaca Passio yaitu Kisah Sengsara Yesus: bacaan dari Injil bagian sengsara Yesus yang biasanya dibacakan oleh 3 orang lektor. Kita juga akan mendengarkan kisah yang sama pada hari Kamis Putih dan Jumat Agung. Mengapa kita mengulanginya? Alasannya ialah, bagi kebanyakan orang, Pekan Suci hanya berlangsung selama 60 menit saja. Ada banyak upacara-upacara agung dan indah dalam Pekan Suci ini untuk membantu kita mengenangkan karya penyelamatan kita yang membawa kita kepada hidup yang kekal. Sayang sekali, sebagian orang tidak ikut ambil bagian dalam upacara-upacara penting ini. Oleh karena itu Gereja merasa perlu menghadirkan kisah Pekan Suci secara ringkas bagi mereka, dan menjejalkannya dalam Hari Minggu Palma. Sehingga kadang-kadang kita hampir saja lupa makna Hari Minggu Palma yang sesungguhnya: Yesus memasuki Yerusalem dengan jaya! Pekan Suci adalah pekan di mana kita seharusnya tidak melupakan Tuhan. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita agar kita dapat hidup kekal. Kita patut melalui pekan ini sebagai pekan yang lain daripada yang lainnya, sebagai pekan yang sungguh-sungguh SUCI. Kita patut ambil bagian dalam seluruh kegiatan mengenangkan kembali hari-hari terakhir Yesus sebelum kematian-Nya. Jika sekarang kita meluangkan waktu bersama-Nya, kita boleh yakin bahwa Ia akan bersama kita jika kita membutuhkan-Nya. Jangan puas dengan versi Pekan Suci yang singkat. Setidak-tidaknya selama sepekan ini saja, biarlah Allah menikmati versi lengkapnya.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
“dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

MENGAPA RANTING-RANTING PALMA DIGUNAKAN?

MENGAPA RANTING-RANTING PALMA DIGUNAKAN?

Hanya Yohanes satu-satunya penginjil yang menyebutkan bahwa ranting-ranting yang mereka gunakan adalah dari pohon palma. Matius serta Markus hanya menyebutkan "ranting-ranting". Lukas malahan tidak menyinggung soal ranting sama sekali, ia hanya mengatakan bahwa orang banyak menghamparkan pakaian mereka di jalan.

Di beberapa negara Eropa, umat merayakan Hari Minggu Palma dengan menggunakan ranting pohon willow atau ranting pohon sejenis, karena pohon palma jarang dijumpai di sana. Beberapa orang menganyam 3 lembar daun palma atau lebih untuk dijadikan salib atau mahkota duri. Tahun depan, daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Hari Minggu Palma akan dibakar menjadi abu untuk dipergunakan dalam perayaan Rabu Abu.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

APA ITU HARI MINGGU PALMA?

APA ITU HARI MINGGU PALMA?

Pernahkah kalian menyaksikan suatu pertunjukan drama hidup, dengan aktor serta aktris yang nyata? Jika mereka berakting dengan baik, mungkin untuk sementara waktu kalian lupa bahwa kalian sedang berada di gedung pertunjukkan. Malahan mungkin kalian tidak sempat berpikir bahwa aktor dan aktris di atas panggung itu hanyalah sedang berpura-pura menjadi orang lain. Dengan kata lain, kalian terbawa dalam peran yang mereka mainkan.

Itulah sebabnya mengapa kita memegang daun-daun palma pada hari ini. Kalian tidak hanya menyaksikan suatu pertunjukan, tetapi kalian diminta untuk berperan serta di dalamnya. Kalian menjadi aktor serta aktris dalam suatu drama yang paling hebat sepanjang masa: minggu terakhir dalam kehidupan Yesus. Dan daun-daun palma adalah perlengkapan kalian.

Adegan diawali dengan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan jaya. Di masa silam para raja mempunyai kebiasaan untuk setiap tahun sekali mengunjungi berbagai desa dan kota di wilayah kerajaannya. Kunjungan seperti itu dalam bahasa Yunani disebut "Epifani". Mereka mengadakan sidang dan bertindak sebagai hakim serta menjatuhkan vonis (=hukuman). Mereka juga mengumumkan peraturan-peraturan serta memungut pajak. Sebagian kunjungan epifani bersifat damai, sementara sebagian lagi lebih menyerupai perang.

Rakyat dapat mengetahui tujuan kedatangan raja dengan mengamati bagaimana ia memasuki kota. Pada masa itu kuda harganya amat mahal dan hanya digunakan untuk berperang. Jadi jika raja memasuki kota dengan menunggang kuda, biasanya berarti kerajaan dalam bahaya. Rakyat menjadi kalut dan ketakutan. Jika raja hanya bertujuan untuk mengadakan kunjungan damai, ia akan memasuki kota dengan menunggang keledai.

Cara inilah yang digunakan Yesus Kristus sang Raja untuk memasuki Yerusalem. Yesus bermaksud menyampaikan dua pesan yang jelas kepada rakyat Yerusalem. Yang pertama bahwa Ia adalah raja, yang kedua adalah bahwa Ia bermaksud membawa damai sejahtera.

Yesus datang dari Bukit Zaitun menuju lembah Kidron, di sebelah timur Bait Allah. Perjalanan yang harus ditempuh-Nya menurun dan curam. Selain jalanan di situ sempit dan kotor, hujan musim semi telah membuat jalanan menjadi licin. Orang-orang yang bersorak-sorai menyambut Yesus menebarkan ranting-ranting dan pakaian mereka di jalan supaya keledai Yesus tidak tergelincir. Sementara Yesus menuruni bukit, khalayak ramai meneriakkan "Hosanna!", bahasa Ibrani yang artinya "Selamatkanlah Kami!"

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH V, 10 April 2011

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH V, 10 April 2011
Yeh 37:12-14, Mzm 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8, Rm 8:8-11, Yoh 11:1-45

“Akulah kebangkitan dan kehidupan.”

BACAAN INJIL:

Pada waktu itu ada seorang jatuh sakit, namanya Lazarus. (Ia tinggal di Berania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.) Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?" Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya." Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya." Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" Maka menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!" Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.
Demikian Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Kita mungkin bisa bayangkan bagaimana kekesalan hati Maria dan Marta kepada Yesus. Mereka berdua dekat dengan Yesus sehingga ketika saudara mereka Lazarus sakit keras dan hampir mati, mereka menyuruh orang untuk memberitahukan kepada Yesus akan hal itu. Harapan mereka tentu Yesus segera datang melihat Lazarus dan menyembuhkannya. Namun kiranya Yesus tidak datang juga sampai saudara mereka itu mati. Malah sebagaimana dikatakan dalam Injil, seakan Yesus tidak peduli akan berita yang Dia dengar bahwa Lazarus hampir mati. Jawaban Yesus membuat mereka heran karena justru Yesus mengatakan bahwa Lazarus tidak akan mati, tetapi kemuliaan Allah akan dimuliakan. Setelah mendengat berita itu, malah Dia sengaja tinggal 2 hari di tempat di berada saat itu. Jawaban Yesus juga membuat orang-orang di sekitarnya heran karena Yesus mengatakan bahwa Lazarus bukannya mati tetapi tertidur. Juga ketika Yesus mengajak para murid untuk pergi ke Judea, para murid heran dan protes sebab di sana orang-orang Yahudi pernah ingin melempari Dia. Keputusan untuk pergi ke Judea bagi para murid adalah bunuh diri makanya Thomas Didimus mengatakan, "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."

Kekesalan hati Marta dan Maria juga jelas kita temukan dalam Injil hari ini. Dikatakan ketika Yesus datang, Lazarus sudah 4 hari terbaring dalam kubur. Mendegar bahwa Yesus datang dan belum sampai ke rumah Marta dan Maria, Marta sudah menyongsongnya dan kata-kata yang pertama keluar adalah kata ungkapan rasa kecewa kepada Yesus, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati…” Ada rasa kecewa pada Marta walaupun dia tetap mencoba untuk tetap percaya pada Yesus, sehingga Yesus meneguhkan iman Marta agar tetap teguh percaya pada-Nya. Yesus menguatkan iman Marta dengan mengatakan, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Iman Martapun kembali dikuatkan dengan memberi jawaban: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."

Maria juga mengalami kekecewaan seperti yang dialami Marta. Maka ketika Marta memberitahukan kepada dia bahwa Yesus datang, Maria langsung berdiri dan pergi ke Yesus sebelum Yesus sampai ke rumah mereka. Kata yang seakan mengandung ungkapan rasa kecewa juga dilontarkan Maria setelah bertemu dengan Yesus, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Yesus sedih dan bahkan dikatakan sampai menangis karena melihat iman Maria yang bersedih juga orang-orang yang bersedih karena kematian Lazarus. Jadi Yesus bersedih bukan karena kematian itu, tetapi kematian itu membuat Marta, Maria dan yang lainnya sedih, menjadi kurang percaya kepada Yesus.

Dalam pengalaman hidup beriman, hal yang sama sering kita alami. Seringkali sulit kita mengerti pengajaran, dan kehendak Allah atas diri kita. Kita juga seringkali merasa bahwa Tuhan seakan tidak peduli dengan kita, sehingga seakan Tuhan tidak mendengarkan keluhan dan persoalan hidup kita. Saat kita mengalami beban hidup, pasti kita datang kepada Yesus dengan harapan bahwa Tuhan datang membantu kita. Namun kerap kita merasa bahwa Tuhan tidak peduli, membiarkan kita menghadapinya dan membiarkan kita mati karena persoalan itu. Pengalaman demikian membuat munculnya suatu pertanyaan atau pernyataan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak peduli dan percaya kepada kita. Benarkah demikian? Tentu tidak.

Yesus adalah tanda nyata Allah yang penuh kasih, yang sangat peduli dengan kita. Dalam Injil jelas dikatakan bahwa Yesus ikut merasakan kesedihan Marta dan Maria atas kematian Lazarus. Allahpun ikut merasakan kesedihan kita dalam menghadapi persoalan hidup. Dia bukan Allah yang tanpa perasaan, malah Dia adalah Allah yang sungguh perasa, yang merasakan penderitaan dan persoalan kita. Inilah sukacita iman kita. Memang iman kita kepada Yesus, tidak membuat kita terlepas dari penderitaan atau persoalan. Namun iman itu memberi kita kekuatan dan selalu berharap karena Tuhan kita adalah Allah yang mahakuasa, mahakasih dan mahapeduli, dan Dia pasti akan membangkitkan kita dari persoalan atau beban sehingga kita hidup kembali. Untuk itu dari kita diminta kesetiaan kepada Allah dalam semua pengalaman hidup kita. Terlebih kesetiaan kita itu akan membuahkan kebangkita hidup kelak untuk menikmati kehidupan sejati. Yesus membangkitkan Lazarus menjadi gambaran bagi kita, bahwa orang yang setia kepada Yesus kelak juga akan dibangkitkan untuk kehidupan kekal bersama dengan Dia dalam kebahagiaan di surga. Maka boleh dikatakan bahwa perjuangan kita untuk tetap setia kepada Yesus bagi mata dunia sering dianggap tidak membuahkan hasil apa-apa, tetapi di hadapan Tuhan itu menghasilkan buah, dan kita akan dibangkitkan kelak untuk kehidupan kekal.

Dalam Injil hari ini, Yesus dikatakan sedih melihat Maria yang menangis dan orang-orang bersedih. Memang seringkali kita begitu sedih dan menangisi kematian badan, tetapi kita tidak menyadari bahwa kematian itu bukan hanya kematian badan, tetapi juga kematian rohani. Manakala iman kita tidak hidup dan berbuah, saat itu pulalah kita telah mengalami kematian iman atau rohani. Hal ini seringkali tidak kita sadari dan tidak kita pedulikan. Hampir sedikit orang yang tidak merasa sedih dan sampe menangis menakala iman kita tidak berbuah, manakala kita tidak pernah berdoa, hidup dalam perbuatan yang tidak baik. Hidup iman yang tidak menghasilkan buah, atau hidup dalam perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak baik, hidup yang selalu dengan mudah putus asa yang seakan tidak ada harapan lagi adalah hidup iman yang mati yang pelan-pelan hidup kita terkubur dalam kedosaan dan membusuk serta akhirnya berbau tidak sedap. Oleh karena itu, baiklah kiranya kita datang kepada Yesus agar Dia membangkitkan kita dari kematian rohani kita. Kita semua membutuhkan kembangkitan dari kematian rohani kita agar kita kembali hidup setia beriman kepada Yesus. Jangan kita biarkan iman kita mati sampai terkubur dan akhirnya hidup kita mengeluarkan bau tidak sedap. Maka segerahlah datang kepada Yesus agar membangkitkan kita dari kematian rohani atau iman kita. Amin.

Renungan Hari biasa Pekan III Prapaskah , Rabu 30 Maret 2011

Renungan Hari biasa Pekan III Prapaskah , Rabu 30 Maret 2011
Ul 4:1,5-9, Mzm 147:12-13,15-16,19-20, Mat 5:17-19

"Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

BACAAN INJIL:
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Di Negara Indonesia tercinta ini, bukan rahasia lagi bahwa hukum bisa diatur dan bisa dibeli dengan uang atau dengan mengandalkan relasi. Bahkan pasti ada beberapa hukum yang dibuat orang atau kelompok tertentu hanya untuk kepentingan mereka sendiri atau kelompoknya. Pembuatan hukum seringkali dikatakan demi kebaikan umum dan hidup bersama, namun dalam prakteknya sungguh berbeda. Padahal seharusnya hukum itu baik untuk mengatur hidup bersama dan demi kebaikan bersama.

Demikian juga halnya sehubungan dengan hukum Taurat dan Kitab Para nabi adalah suatu aturan atau pedoman hidup yang mengatur dan mengarahkan hidup manusia menuju Allah. Keduanya pada dasarnya adalah baik dan dibuat untuk kehidupan bersama sebagai umat Allah. Namun dalam prakteknya kerap bahwa para ahli kitab, orang-orang Farisi dan para ‘penguasa’ menyelewengkannya dengan menafsirkan sesuai dengan kepentingan sendiri atau kelompoknya. Mereka menafsirkan demi kepentingan mereka dengan membuat aturan-aturan yang mengatasnamakan demi kepentingan iman atau agama tetapi sebenarnya dibalik itu adalah kepentingan sendiri dan kelompok mereka. Penerapan hukumpun kerap hanya secara harafiah saja, tidak membatin. Semuanya itu tentu merugikan rakyat kecil sehingga ada pemikiran bahwa hukum Taurat dan Kitab Para Nabi bukannya membawa kebahagiaan dan membawa mereka kepada Allah tetapi justru memberatkan mereka. Situasi yang demikian tentu membuat orang-orang dirugikan berpikir bahwa hukum itu dihapus atau ditiadakan saja. Hukum itu baik hanya disalahgunakan dan diselewengkan orang tertentu sehingga bukannya lagi mengatur kehidupan bersama tetapi membuat orang-orang kecil menjadi menderita. Yang keliru bukan hukumnya tetapi orang-orang menyelewengkannya.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan Kitab Para Nabi, tetapi justru untuk menggenapinya. Kata-kata Yesus ini muncul mungkin karena orang-orang kecil yang dirugikan oleh para penyeleweng hukum berharap bahwa Yesus membantu mereka untuk menghapus hukum Taurat dan Kitab para nabi. Sehingga mereka cukup hanya mengikuti Yesus dan tidak perlu mentaati hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Alasan lain juga mungkin karena menurut pandangan orang saat itu, mereka melihat bahwa Yesus seringkali seakan melanggar dan bahkan tidak peduli dengan Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Misalnya saja, Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya pada hari sabat (Mrk 3: 3-4). Tindakan dan pengajaran Yesus yang demikian sepintas dilihat sebagai pelanggaran pada Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi, sehingga orang-orang kecil yang diberatkan karena ulah penyeleweng hukum Taurat dan Kitab Para Nabi merasa bahwa Yesusdatang untuk meniadakannya. Demikian juga halnya, karena sikap Yesus yang demikian, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan yang lainnya menganggap dan menuduh Yesus meniadakannya.

Terhadap harapan dan tuduhan yang keliru itu, Yesus memberi ketegasan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi, tetapi untuk menggenapinya. Bahkan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa satu iotapun tidak akan dikurangi-Nya dan barang siapa meniadakan meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga. Yesus mengatakan bahwa Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi pada hekekatnya adalah baik, hanya disalahgunakan dan diselewengkan orang-orang tertentu.
Dalam pembelaan-Nya, Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk menggenapinya. Kata menggenapi dapat kita mengerti dalam 2 hal:

1. Yesus adalah kehadiran kasih dan keselamatan Allah bagi manusia.

Kita ketahui bahwa Hukum Taurat dan Kitab para nabi berisikan kasih Allah, penyertaan dan penyelenggaraan Allah atas hidup manusia dan juga menjadi pedoman hidup umat beriman agar hidup sebagai umat Allah serta membawa manusia kepada keselamatan. Kasih, penyertaan dan keselamatan Allah sebagaimana yang diwartakan para nabi dalam Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi sekarang hadir nyata dalam diri Yesus Kristus. Yesuslah penggenapan dari warta para nabi. Dengan demikian, warta Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk menggenapinya adalah sekaligus menyatakan identitas Yesus yang sesungguhnya bahwa Dia-lah Mesias yang diwartakan para nabi, Dialah kegenapan kasih Allah yang nyata bisa dilihat oleh manusia.

2. Menggenapi dalam artian membaharui.

Sebagaimana kami katakan tadi, bahwa pada hakekatnya Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi adalah baik, tetapi diselewengkan oleh orang-orang tertentu. Penyelewengan inilah yang hendak digenapi atau diperbaharui oleh Yesus. Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi seringkali dijalankan tetapi melupakan cinta kasih kepada sesama, hanya sekedar taat pada hukum. Oleh karena itu Yesus mengajak orang untuk kembali pada hakekat hukum Taurat dan Kitab Para Nabi, yakni menghayatinya bukan hanya sekedar pelaksanaan hukum. Yesus juga mengkritik orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan para Imam yang menyelewengkannya dengna membuat hukum penafsiran hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Untuk hal ini Yesus tidak takut berseberangan dengan mereka, meskipun taruhannya Dia dianggap menghilangkan Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi, dibenci dan pada akhirnya dihukum mati dengan tuduhan itu.
Dengan demikian, berefleksi atas sabda Yesus hari ini, bagi kita jelaslah bahwa Yesus adalah Mesias yang diwartakan dan dijanjikan oleh para nabi pada Perjanjian Lama. Dia adalah kasih Allah yang nyata bagi kita. Kasih Allah itu bukan lagi hanya sebatas warta tetapi hadir nyata dalam diri Yesus Kristus. Maka baiklah kita bersyukur atas kasih Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus dan kita menerima Dia adalah Mesias penyelamat kita.

Selain itu, kitapun harus melaksanakan hukum yang ada, sabda Tuhan bukan sekedar melaksanakan dan taat tetapi menlaksanakannya dengan dilandasi iman penyembahan kepada Allah dan berbuah pada perbuatan cinta kasih kepada sesama. Memang seringkali hukum di negeri kita ini dibuat dengan label demi kehidupan bersama tetapi sebenarnya demi kepentingan kelompok, juga seringkali hukum itu bisa diatur dan dibeli orang-orang tertentu. Dalam situasi demikian, bukan berarti kita tidak perlu mentaatinya dan mengharapkan hukum itu ditiadakan. Hukum itu baik dan perlu, hanya diselewengkan orang-orang tertentu. Maka tugas kitalah untuk menggenapinya, menyempurnakan dan memperbaikinya seperti yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Manakala hukum yang ada itu sudah melanggar hukum cinta kasih kepada sesama, kita harus berani bersuara memperbaikinya dan menjalankannya dengan mengutamakan cinta kasih. Walaupun mungkin karena tindakan yang demikian, kita dianggap meniadakan hukum dan akan dibenci oleh orang-orang tertentu.

Dan kepada kita yang mungkin saat ini mempunyai tugas peranan dalam mebuat hukum tertentu, baiklah kita kiranya melakukannya bukan untuk kepentingan sendiri atau kelompok, tetapi demi kepentingan semua orang dan dilandasi iman dan cinta kasih kepada sesama. Ingatlah kata-kata Yesus pada akhir Injil hari ini, “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” Itu berarti mengatkan bahwa barang siapa menyalahgunakan hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok dan mengajarkannya kepada orang lain, dia kan mendapatkan tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga. Amin.

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH II (Thn A, 20 Maret 2011)

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH II
(Thn A, 20 Maret 2011)

Kej 12:1-4a, Mzm 33:4-5,18-19,20,22, 2Tim 1:8b-10, Mat 17:1-9
(Bacaan lain dan Mazmur lihat di sini)

"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."

BACAAN INJIL:
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Kebahagiaan hidup yang sekarang terutama kebahagiaan hidup yang akan datang adalah sebuah nilai tertinggi yang menjadi harapan, tujuan hidup yang kita dambakan, kita kejar dan ingin kita raih. Kebahagiaan itu bukan suatu hadiah yang dapat diberikan langsung oleh orang atau sesuatu, kebahagiaan itu tidak bisa kita peroleh dengan instan, tidak bisa dibeli dengan uang, harata atau jabatan, tetapi membutuhkan suatu perjuangan terus menerus dalam hidup sekarang ini.

Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya mengalami suatu kebahagiaan ketika menyaksikan Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Ini merupakan gambaran kebahagiaan surge. Mereka juga menyaksikan Yesus diapit dua nabi besar jaman perjanjian lama yakni Musa dan Elia. Musa adalah nabi besar perjanjian lama yang membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan dia mendapatkan 10 hukum Allah. Sedangkan nabi Elia adalah nabi yang selama hidupnya menjadi nabi yang menegakkan hokum Allah dan dikatakan dia tidak mati tetapi terangkat ke surge dengan kereta berapi dari surge. Kehadiran dua nabi besar itu menambah semarak kebahagiaan surge yang disaksikan Petrus dan dua murid yang lain. Petrus dan dua murid yang lain sungguh merasakan kebahagiaan yang besar dan tidak ingin melepaskan kebahagiaan itu berlalu dari mereka sehingga Petrus mengajukan proposal kepada Yesus untuk membuat tiga kemah untuk Yesus, Musa dan Elia. Kebahagiaan itu seakan membuat mereka lupa untuk juga membuatkan kemah untuk mereka bertiga. Namun Petrus mengatakan demikian karena tidak ingin agar kebahagiaan itu berlalu dari mereka, mereka ingin memilikinya segera dan tidak perlu susah-susah untuk mencapainya. Sebab dengan penampakan yang menakjubkan itu, bagi mereka jelaslah bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah diwartakan dan dijanjikan oleh para nabi dalam perjanjian lama, dengan demikian kebahagiaan surge itu akan diperoleh orang yang mengikuti Yesus. Petrus ingin mendapatkannya segera, tetapi Tuhan berkata lain. Lewat suara dari awan yang tiba-tiba muncul, yang membuat mereka ketakutan keluarlah suara yang mengatakan, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." .Kebahagiaan surga itu seperti yang mereka saksikan memang akan mereka peroleh tetapi bukan saat itu, bukan dengan cara instan tetapi hanya dengan mengikuti dan mendengarkan Yesus. Dalam mengikuti dan mendengarkan Yesus pun mereka harus siap menghadapi dan menjalani penderitaan hidup. Hal ini dengan jelas dikatakan oleh Yesus ketika mereka dilarang oleh Yesus untuk menceritakan peristiwa itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati. Yesus mememberitahukan kepada ketiga murid itu bahwa Dia akan mengalami penderitaan, mati dan dibangkitkan dari antara orang mati. Demikianpun halnya, mereka dan semua yang akan mengikuti Yesus akan mengalami penderitaan karena imannya, akan mengalami kematian tetapi akan dibangkitkan bersama dengan Yesus untuk masuk dalam kebahagiaan surgawi. Dalam hal ini, kebahagiaan itulah nilai yang kita kerja, kita dambakan dan kita ingin peroleh bukan penderitaan ataupun kematian. Tetapi untuk meraih kebahagiaan hidup, harus mendengarkan Yesus dan dalam hidup mendengarkan Yesus kita harus siap bekerja keras, berjuang dan siap mengalami penderitaan hidup dan kematian.

Dalam pengalaman hidup doa dan hidup iman, mungkin kita pernah merasakan bahagia dan terasa indah, mungkin karena doa kita dikabulkan. Bisa saja pada saat berdoa di Gereja atau mengikuti ibadah di Gereja kita merasa nyaman, senang dan bahagia. Kita berharap perasaan bahagia itu tidak cepat berlalu dan kita ingin berlama-lama dalam suasana bahagia itu. Namun hal itu tentu tidak bisa karena bagaimanapun kita harus kembali ke rumah, ke dalam keluarga dank e kehidupan nyata kita. Hal yang baik bila kita mengalami ketenangan batin, merasakan bahagia saat doa atau dalam ibadah, tetapi tidaklah baik bila kita ingin berlama-lama di dalam suasana itu karena mau menghindarkan diri dari hidup nyata dalam keluarga atau dalam hidup sehari-hari yang penuh dengan tugas, tanggungjawab dan persolan. Ada juga orang yang rajin ke Gereja untuk berdoa atau beribadah karena merasa tenang, bahagia, tetapi juga sebagai pelarian dari persoalan hidupnya.

Kebahagiaan menjadi nilai yang kita kejar, kita dambakan. Karena itulah banyak orang mencoba menawarkan jalan menuju kebahagiaan itu dengan cara instan. Orang juga seringkali ingin mendapatkannya dengan cara instan. Mental instan ini justru bukannya membawa orang pada kebahagiaan sejati tetapi jatuh pada kebahagiaan yang semu. Injil hari ini menegaskan kepada kita bahwa jalan untuk menuju kebahagiaan yang sejati hanyalah dengan mendengarkan Yesus. Mendengarkan Yesus berarti mengarahkan pikiran dan hidup kita seperti yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus sendiri. Itu berarti kita harus mengubah pola pikir dan tindakan kita seperti yang dikehendaki Yesus, juga berarti kita harus berani mengubah pola pikir dan tindakan kita. Ini pasti akan sulit, karena seringkali kita sudah merasa mapan dan nyaman dengan hidup lama kita dan kita tidak mau kehilangan kemapanan dan kenyamanan itu meskipun jelas kita tahu hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini juga dipengaruhi mental instan pada zama sekarang ini. Kalau kita memang sungguh mau beroleh kebahagiaan itu, kita mau meniggalkan hidup lama kita seperti yang dilakukan oleh Abraham.

Dalam bacaan pertama tadi kita tahu bahwa Abraham sudah berusia 75 tahun ketika di panggil oleh Tuhan dan diminta untuk meninggalkan kampung halamannya, keluarganya dan hartanya. Tuhan meminta dia meninggalkan hidupnya yang sudah mapan, nyaman dan pergi ke tempat yang ditunjukkan Tuhan kepadanya. Abraham belum tahu pasti tempat yang dikatakan oleh Tuhan, tetapi Tuhan berjanji bahwa dia akan dijadikan bapa segala bangsa dan memberkati keluarganya. Abraham percaya akan sabda Tuhan itu dan dia mau kelaksanakan perintah Tuhan. Bisa kita banyangkan bagaimana beratnya perjalanan Abraham dalam usia yang sudah tua dan juga yang akan dialami keluarganya karena melaksanakan perintah Tuhan, mereka juga harus meninggalkan kemapanan dan kenyamanan di kampung halamannya, tetapi mereka taat kepada Tuhan. Dengan demikian mendengarkan Yesus berarti kita taat melaksanakan perintahnya dan untuk itu kita harus berani meninggalkan hidup lama kita, harus berani meninggalkan rasa nyaman, kemapanan kita untuk menjalankan perintah-perintah Tuhan. Bagi Paulus, mendengarkan Yesus itu berarti bersaksi tentang Yesus sendiri. Hal ini pasti sulit, karena menuntut suatu pengorbanan dan juga suatu konsekuensi bahwa dalam mendengarkan perintah Yesus, pasti kita akan menghadapi penderitaan karena penolakan dari sesama, persoalan hidup seperti yang sudah dialami Yesus sendiri. Namun semuanya itu tidak menjadi penghalang bagi kita, dan kita disemangati menjalankan semunya itu karena kita yakin akan sampai ke kebahagiaan surga dan kebahagiaan surga sudah siap menanti kedatangan kita.

Peristiwa tarnsfigurasi di gunung Tabor menjadi gambaran bagi kita bahwa barang siapa yeng sungguh mengikuti dan mendengarkan Yesus, yang walaupun harus berjuang dan pasti mengalami penderitaan, pasti akan juga masuk dalam kebahagiaan yang penuh kemuliaan itu. Peristiwa ini juga disampaikan kepada kita pada masa prapaskah ini karena masa prapaskah merupakan masa retret agung bagi kita, masa untuk memperbaharui diri, masa kita untuk mengubah pola pikir dan perbuatan kita menjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Pantang, puasa dan pertobatan pada masa prapaskah ini adalah usaha kita untuk mendengarkan Yesus. Dalam semuanya tentu kita mengalami tantangan, persoalan dan mungkin saja menderita. Tetapi perjuangan kita untuk setia mendengarkan suara Yesus, akan berakhir pada kebahagiaan dalam kemuliaan surga. Peristiwa transfigurasi di gunung Tabor memberi semangat dan kekuatan bagi kita untuk menjalankan masa prapaskah dengan sungguh-sungguh, dan menjalaninya dengan penuh kegembiraan. Demikian juga halnya, peristiwa transfigurasi mengingatkan kita bahwa jalan untuk beroleh kebahagiaan sejati tidak ada jalan pintas selain hanya dengan sungguh-sungguh mendengarkan Yesus. Oleh karena itu, kita tidak usah takut untuk berubah, kita tidak usah takut menderita karena mendengarkan Yesus, karena Tuhan sendiri akan berkata kepada kita, “"Berdirilah, jangan takut!" Amin.

SURAT GEMBALA PUASA-PRAPASKA 2011 Keuskupan Agung Medan

SURAT GEMBALA PUASA-PRAPASKA 2011
Keuskupan Agung Medan


Saudara-saudarai, umat beriman yang kekasih.
Rabu tanggal 9 Maret 2011 adalah ahri Rabu Abu. Ini adalah pembukaan masa Puasa-Prapaska Katolik, yang berlangsung sampai Jumat Agung, tanggal 22 April 2011. Diketahu bahwa, selama masa Puasa-Prapaska, kita wajib berpuasa dan berpantang.

Mereka yang berusia 18 (delapan belas) tahun sampai 69 (enam pulu) tahun wajib berpuasa, artinya hanya satu kali makan kenyang pada hari Rabu Abu, tanggal 9 Maret dan pada hari Jumat 22 April 2011. Pada kedua hari ini, selain berpuasa, umat juga wajib berpantang.
Mereka, berumur 14 (empat belas) tahun sampai 60 (enam pulu) tahun, berpantang, pada setiap hari Jumat, sepanjang masa Puasa-Prapaska. Artinya:

1. Tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih sendiri sekurang-kurangnya satu dari kemungkinan ini: pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.

2. Hendaklah menghindari mengadakan pesta atau suasana hari raya pada masa pantang dan puasa. Bila perkawinan terpaksa dilangsungkan dalam masa Adven atau parpaska, atau pada hari lain yang diliputi suasana tobat, pastor paroki hendaknya memperingatkan pada mempelai agar mengindahkan suasana tobat itu, misalnya, jangan mengadakan pesta besar (Upacara Perkawinan, Komisi Liturgi 1976, hl.14)

Tujuan keagamaan dari peraturan pantang dan puasa ini mencakup tiga hal, yakni:

Umat bertobat dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kalau pada waktu-waktu lain kita agak lalai memelihara hubungan yang akrab dengan Tuha, maka masa puasa-Prapaska merupakan masa memalingkan diri kembali lebih mesra kepada Tuhan. Ini dilakukan lewat lebih berdoa, lebih rajin menerima sakramen dan lebih rajin melakukan kegiatan gerejawi: “Waktunya sudah genap…bertobatlah kepada Injil” (Mrk 1:15)

Dalam berpaling dan memusatkan perhatian kepada Tuhan, mirip dengan Nyepi bagi saudara-saudari penganup agama Hindu, dengan sendirinya muncul beberapa dorongan hati nurani. Terdapat rasa tidak layak bertemu dengan Tuhan, karena manusia tetaplah insane pendosa. “Pergilah daripadaku, sebab aku orang berdosa.: Inilah permulaan kesalehan sejati, yakni rasa takut, gentar, tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. “Alangkah dasyatnya tempat ini. Ini pasti rumah Allah; inilah pintu gerbang surge,” kata Yakub bangun dari mimpinya di Betel (Kej 27:7).

Di sana kita merenungkan sengsara Tuhan. Untuk menebus kita dari dosa-dosa, Tuhan disesah, dimahkotai duri, dihujat, dipaku pada kayu salib, dan meneteskan darah terakhir serta menghembuskan nafas penghabisan, karena cinta-Nya kepada kita. Dari itulah setiap hati yang saleh akan mulai tegerak menyesali dosa-dosanya. Ia ingin menyilih dosa dan pelanggarannya dengan bermati-raga, berpuasa dan berpantang. Dengan ulah tapa dan matiraga, Umat beriman ingin diperdamaikan kembali kepada Tuhan. Hatinya tergerak oleh penyesalan sehingga, dengan rendah hati, ingin mengakukan dosa-dosanya di hadapan imam. Masa puasa-Prapaska dan juga Adven adalah saat “penyucian diri lewat pengakuan dosa.” Sebab mereka diwajibkan oleh hukum Gereja untuk mengaku dosa sekurang-kurangnya sekali setahun.

Bermacam upaya penyucian diri, seperti perecikan umat dan rumah mereka, dengan air kudus, adalah tindakah yang sangat berguna. Demikianlah langsung terasa, bahwa hidup berfoya-foya, bermewa dan berpesta-ria tidak sesuai dengan semangat Puasa-Prapaska. Yang sesuai ialah semangat pengendalian diri, berugahari, bermatiraga dan mengaku dosa.

Selain itu, masa Puasa-Prpaska adalah saat yang tepat untuk memperbahurui semangat dan tekad mengamalkan hidup keagamaan, memperbaharui kesalehan doa, rasa bakti dan bersyukur kepada Tuhan. Pada saat ini, semangat agama, yang suam-suam kuku, dihangatkan dan dibangkitkan kembali, sambil menenangkan hati nurani, demi kedamaian batin. Di sana akan tumbuh rahmat, berkat dan damai sejati.

Juga semangat cintakasih sejati terhadap sesama akan muncul dan tumbuh. Semangat ini membangkitkan keinginan untuk melakukan perintah cinta kasih kepada sesama. Kita mengumpulkan aksi puasa untuk menolong para saudara yang kurang beruntung. Sebab masih banyak saudara-saudari kita yang menderita cacat buta, tuli atau tertimpa musibah. Ada juga yang tak sanggup menanggung biaya pengobatan atau pendidikan yang layak. Mereka itu adalah saudara-saudari kita, yang dicintai Tuhan dengan pengurbanan salib-Nya. Masa puasa-Prapaska sangat tepat melakukan aksi belaskasih, dengan menjadi orang tua asuh, dengan mengunjungi panti jompo, panti asuhan, panti rhabilitasi atau penjara.

Pada masa Puasa-Prapaska ini, doa umat beriman dimohon juga untuk tujuan-tujuan pembaharuan dalam keuskupan kita. Setiap perubahan dan pembaharuan senantiasa menuntut penyesuaian dan pengurbanan.

Pada tanggal 17 Juni 2011, kita akan memberlakukan pembagian wilayah pelayanan pastoral dalam 9 (Sembilan) KEVIKEPAN. Kevikepan dipimpin oleh seorang Pastor Vikaris Episkopal di awah Uskup Agung Medan. Memang pastoral langsung dari Uskup Agung Medan tetap dipertahankan, misalnya kunjungan pelayanan Sakramen Krisma. Tetapi tugas koordinatif pastoral akan semakin diserahkan kepada Pastor Vikaris Episkopal.

Kita juga bertekad membangun dua paroki pada tahun 2011 ini, yakni pastoran Parsoburan, yang terbakar, dan paroki baru Batang Kuis di dekat lapangan terbang Kuala Namu. Termasuk pembelian tanah yang cukup luas, rasanya, untuk pembangunan kedua paroki ini, kita membutuhkan dana tak kurang delapan milyar rupiah. Marilah kita bersama-sama mendukung perwujudannya.

Selain itu, pada tahun 2011 ini, kita hendak melincahkan peranan paroki-paroki. Tetap dalam perikatan satu Keuskupan Agung Medan, kita hendak membadan hukumkan paroki-paroki, sehingga secara hukum, dapat bekerjasama dengan Pemerintah-Tingkat Dua. Serentak dengan itu, kita ingin mneyertifikatkan milik tanah dan bangunan, atas nama badan hukum paroki. Manajemen pastoral dan keuangan paroki akan ditata secara modern, dalam bentuk pastoral berbasi data. Transparansi, daya-guna dan keterpecayaan akan meningkat untuk menggalang kemajuan dan kebersamaan.

Demikian surat gembala Puasa-Prapaska ini disampaikan agar menjadi periksa dan perhatian, demi pengembangan modern Umat dalam keuskupan kita.
Salam, damai-sejahtera dan berkat, dari Tuhan kita Yesus Kristus.


Medan, 7 Maret 2011
Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM.Cap
Uskup Agung Medan

Renungan Hari Biasa Pekan I Prapaskah ; Senin 14 Maret 2011

Renungan Hari Biasa Pekan I Prapaskah ; Senin 14 Maret 2011
Im 19:1-2.11-18, Mzm 19:8.9.10.15, Mat 25:31-46

"Tidak ada gunanya kita pantang, puasa, mengurangi makan dan minum kalau ternyata kita membiarkan dan tidak peduli dengan sesama yang menderita dan miskin yang ada di sekitar kita."

BACAAN INJIL:
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Ada semua kisah dalam satu keluarga kaya yang juga taat mejalankan ajaran imannya. Pada masa prapaskah, keluarga itu juga menerapkan pantang dan puasa dalam keluarganya, yakni mengurangi jatah makan dan juga menu makanan. Hampir setiap hari mereka mendengar rengekan dan tangisan itu untuk meminta makan, tetapi orang tuanya belum bisa memberi makan karena ayah mereka belum pulang dari bekerja sehingga mereka belum bisa membeli beras dan lauk untuk di makan. Ayah dan ibu dalam keluarga kaya dan beragama itu setiap mendengar tangisan anak tetangga mereka yang minta makan, mengatakan, “Kasihan mereka dan anak mereka, karena mereka kekurangan makanan. Mudah-mudahan Tuhan memberi rejeki ke ayahnya sehingga pulang membawa uang rejeki dan bisa membelikan makanan untuk keluarganya.” Kepada anaknya yang baru berumur 10 tahun mereka mengatakan, “Kamu harus bersyukur karena Tuhan masih memberi kita makanan, jadi kamu harus makan banyak biar sehat dan menjadi anak yang baik.”

Pada saat makan bersama dengan menu ala Prapaskah, mereka mendengar suara tangisan anak kecil tetangga mereka yang adalah keluarga miskin. Anak mereka yang berumur 10 tahun tiba-tiba mengumpulkan semua makanan yang telah disediakan di meja makan, membawanya keluar dan memberikannya kepada tetangga mereka yang sedang kelaparan karena tidak punya makanan. Sepulang dari rumah tetangganya itu dan duduk kembali di meja makanan yang tanpa makanan, ayah anak itu dengan sedikit bingung dan jengkel bertanya kepada anak itu, “Mengapa membawa dan memberi semua makanan itu kepada mereka? Memberi mereka makan, itu sama halnya tidak mendidik mereka, mereka tidak akan mau bekerja keras untuk mencari makanan mereka.” Anak itu menjawab dengan tenang, “Ayah, ibu, selama ini ayah hanya mengatakan ‘kasihan’ karena mereka tidak bisa makan cukup, dan ayah hanya berkata ‘Smoga Tuhan memberi mereka berkat rejeki dan makanan’, sedangkan kita punya banyak makanan dan tidak mau berbagi dengan mereka.” Anak itu lanjut berkata, “Kita pantang dan puasa, mengurangi makan bukan karena kita tidak mempunya makanan, sedangkan mereka tidak bisa makan karena memang tidak punya makanan untuk dimakan. Untuk apa kita pantang dan puasa kalau ternyata tetangga kita tidak bisa makan dan tidak kita bantu? Bukankah lebih baik kita pantang dan puasa, mengurangi makan dengan memberi kepada tetangga yang tidak punya makanan untuk dimakan?” Mendengar jawaban anak kecil mereka, kedua orang tuanya terdiam.

Dalam masa prapaskah ini, Yesus mengatakan bahwa yang berkenan di hadapannya adalah perbuatan cinta kasih kepada sesama yang miskin dan menderita. Sabda Yesus ini disampaikan kepada kita agar kita jangan lupa bahwa pantang dan puasa kita pada masa Prapaskah ini juga harus berbuah dalam perbuatan nyata dengan berbuat baik kepada sesama yang menderita dan miskin. Tidak ada gunanya kita pantang, puasa, mengurangi makan dan minum kalau ternyata kita membiarkan dan tidak peduli dengan sesama yang menderita dan miskin yang ada di sekitar kita. Kita pantang dan puasa atau mengurangi makan dan minum selain untuk melatih kita terlepas dari nafsu badan, juga untuk sesama yang menderita dan miskin. Artinya, hasil dari upaya pantang, puasa, mengurangi makan dan minum, itu kita persembahkan kepada Tuhan lewat Gereja-Nya untuk dibagikan kepada orang menderita dan miskin. Itulah yang dikatakan dengan APP. Namun sering terjadi yang kita berikan sebagai APP kita, bukan dari hasil pantang dan puasa kita selama prapaskah, tetapi kita ambil langsung dari dompet. Sering terjadi, APP yang diberikan dalam amplop APP jauh lebih kecil daripada baiya amplo APP itu sendiri. Nah semoga pada masa Prapaskah ini, kita juga nyatakan pantang dan puasa kita dengan hidup yang memperhatikan dan berbuat baik kepada sesama yang menderita dan miskin. Hidup yang demikianlah yang berkenan di hadapan Allah, pantang dan puasa yang demikianlah yang dikehendaki oleh Allah. Amin.

Pesan Prapaskah 2011 untuk para Imam

Pesan Prapaskah 2011 untuk para Imam
Oleh: Kardinal Mauro Piacenza, Prefek Kongregasi Untuk Imam

Saudara-saudara yang terhormat,

Masa rahmat ini, yang diberikan kepada kita untuk kita hayati, memanggil kita untuk sebuah pertobatan yang baru. Pelayanan imamat selalu baru, dan melalui karunia imamat ini, Tuhan Yesus dibuat hadir dalam hidup kita dan, melalui hidup kita, dalam kehidupan semua orang.

Pertobatan, bagi kita para imam, lebih dari semuanya, berarti menyesuaikan hidup kita secara lebih dekat dengan pewartaan yang kita tawarkan setiap hari kepada umat, menjadikan diri kita dengan cara ini ’secarik Injil yang hidup’ yang bisa dibaca dan disambut oleh setiap orang. Dasar dari sikap ini, tanpa ragu lagi, ialah pertobatan jati diri kita sendiri: Kita mesti mengembalikan diri kita kepada jatidiri kita! Jatidiri itu, yang disambut dan diterima secara sakramental dalam kemanusiaan kita yang rapuh, menuntut peneguhan yang progresif dari hati, pikiran, perilaku kita terhadap setiap hal, bahwa kita berada dalam citra Kristus Sang Gembala Baik yang secara sakramental telah dimeteraikan dalam diri kita.

Kita mesti memasuki Misteri-Misteri yang kita rayakan, teristimewa Ekaristi Suci, dan membiarkan diri kita dibentuk olehnya. Dalam Ekaristi itulah, imam menemukan kembali jatidirinya yang sejati. Di dalam perayaan Misteri Ilahi itulah, imam dapat menangkap penglihatan tentang ‘bagaimana’ menjadi gembala dan ‘apa’ yang perlu untuk benar-benar saling melayani.

Dunia yang sedang mengalami “pemerosotan hidup kristiani” ini menuntut evangelisasi baru; namun sebuah evangelisasi baru, menuntut imam-imam yang ‘baru’ pula. Bukan imam dalam arti dangkal seperti halnya mode yang segera berlalu, namun dalam arti hati yang seluruhnya diperbarui oleh setiap Misa Kudus, diperbarui oleh cinta Hati Kudus Yesus, Sang Imam dan Gembala Baik.

Terutama yang mendesak ialah pertobatan dari kebisingan menuju ke keheningan, dari kebutuhan yang serba gelisah untuk berbuat sesuatu, menuju ke hasrat untuk bertahan tinggal bersama Yesus, ambil bagian secara lebih sadar dengan keberadaan-Nya. Setiap tindakan pastoral haruslah selalu merupakan gema dan perluasan dari apakah hakikat imam itu! Kita mesti mengembalikan diri kita kepada paguyuban/Komunitas, menemukan kembali apakah sebenarnya paguyuban/komunitas itu: yakni paguyuban/komunitas bersama Allah dan Gereja dan kebersamaan satu sama lain.

Komunitas gerejawi secara mendasar ditandai dengan sebuah hati nurani yang diperbarui, yang menghidupi dan mewartakan ajaran yang sama, tradisi yang sama, sejarah orang-orang kudus yang sama, serta Gereja yang sama. Kita dipanggil untuk menghayati masa Prapaskah dengan kesadaran gerejawi yang mendalam, menemukan kembali keindahan berada dalam sekelompok umat yang sedang berziarah, yang di dalamnya termasuk semua imam tertahbis dam semua umat di mana mereka melihat gembala mereka sendiri sebagai contoh acuan yang aman dan sebagai kesaksian yang diperbarui dan bercahaya.

Kita harus menghadapkan kembali hidup harian kita pada pengorbanan Kristus di kayu salib. Kristus membuat Keselamatan kita menjadi dimungkinkan dan berdaya guna melalui pertukaran-Nya yang sempurna. Dengan cara yang sama, setiap Imam, Kristus Yang Lain, dipanggil sebagaimana para kudus yang mulia, untuk menghayati langsung misteri pertukaran ini dalam semua pelayanan khususnya ketika dengan setia bersama umat merayakan Sakramen Rekonsiliasi. Sakramen ini diberikan untuk kita sendiri, dan dengan murah hati ditawarkan kepada setiap orang, dengan disertai bimbingan rohani, sedemikian rupa sehingga dalam mempersembahkan hidup harian, kita memulihkan dunia dari dosa. Suasana tenang, peniten, imam-imam di hadapan Sakramen Mahakudus memberikan cahaya kebijaksanaan injili dan gerejawi untuk situasi masa kini yang menantang iman kita. Dengan cara ini, para imam mampu menjadi nabi-nabi, yang pada gilirannya, meluncurkan ke dunia, satu-satunya tantangan nyata: bahwa Injil memanggil kita kepada pertobatan.

Kadang-kadang kelelahan benar-benar berat dan kita merasakan ketidakberdayaan di hadapan kebutuhan Gereja. Namun jika kita tidak bertobat, kita akan selalu tak berdaya, karena hanya seorang imam yang diberbarui, dipertobatkan, imam yang ‘baru’, bisa menjadi alat yang dengannya Roh Kudus memanggil imam-imam baru lainnya.

Kepada Santa Perawan Maria, Ratu Para Rasul, kita memercayakan perjalanan masa prapaskah ini. Seraya memohon Kerahiman Ilahi, didasarkan pada teladan Bunda Surgawi semoga hati imamat kita akan menjadi “Pengungsian para Pendosa”.

Penerjemah: Rm Yohanes Dwi Harsanto Pr
Disadur dari : http://katolisitas.org/

Berbagi Berita : Imam aktivis memulai aksi Prapaskah

Imam aktivis memulai aksi Prapaskah
Oleh John Choi, Seoul

Pastor Bartholomew Mun Jung-hyun di halaman Katedral Myeongdong di Seoul. Memulai doa Prapaskahnya untuk pembaruan Gereja, seorang imam aktivis mendesak Gereja untuk mengikuti Yesus Kristus, bukan materialisme.

Pada Rabu Abu, Pastor Bartolomeus Mun Jung-hyun, seorang aktivis sosial terkenal, memulai aksi doa Prapaskahnya bersama sekitar 50 aktivis Katolik dan umat di Gua Maria di Katedral Myeongdong.

Pastor Mun mengatakan, “Melalui ibadat tersebut, kita akan membahas Gereja, kehidupan umat beriman, sesama kita, dan masa depan masyarakat, dan kita sendiri. Ibadat tersebut juga kesempatan untuk menyemangati diri kita untuk mengupayakan pembaruan Gereja.”

Dalam aksi doa tersebut, Pastor Mun akan mengadakan Jalan Salib, meditasi dan diskusi Kitab Suci dengan umat setiap hari hingga 20 April. Aksi tersebut bertema “Way of Jesus, Way of Man.”

Pastor Mun telah berdoa di Katedral Myeongdong bagi Nicholas Kardinal Cheong Jin-suk dan pertobatan Gereja sejak Agustus lalu. Dalam doa-doa tersebut, dia menulis frase-frase bacaan harian Alkitab di piringan kayu untuk menunjukkan keinginannya untuk membarui Gereja.

“Saya datang ke sini karena marah lantaran umat Myeongdong meminta imam untuk meninggalkan imamat dan Kardinal Cheong yang mendukung aksi umat tersebut. Memang awalnya saya marah tapi sekarang saya merasa tenang dalam Yesus,” kata imam yang sudah pensiuan asal Keuskupan Jeonju itu.

April lalu, para imam yang menolak proyek sungai dari pemerintah berusaha mendirikan tenda untuk berdoa di pintu masuk katedral tetapi umat memaksa mereka untuk meninggalkan katedral dan mengatakan bahwa imam-imam politik harus meninggalkan imamat.

Pastor Mun menyesal bahwa katedral, pusat Gereja Katolik di Korea dan jantung gerakan demokratisasi Korea, telah hancur karena materialisme dan telah kehilangan kekuatan simboliknya.

“Gereja dewasa ini,” katanya, “memiliki terlalu banyak hal dan telah dibutakan oleh materialisme seperti halnya masyarakat sekuler. Gereja kehilangan dasar pertobatan dan tidak mencerminkan keaslian dan kebenaran dari Gereja Kristen.”

“Iman itu berasal dari keyakinan dalam Yesus Kristus, bukan pada struktur Gereja. Gereja harus kembali ke posisinya dan umat tidak boleh mengabaikan Gereja yang bergerak menuju bersama arah lain bersama Yesus,” tambahnya.

ucanews.com

Disadur dari : http://www.cathnewsindonesia.com/Tanggal publikasi: 11 Maret 2011

Renungan Hari Jumat sesudah Rabu Abu ; 11 Maret 2011

Renungan Hari Jumat sesudah Rabu Abu ; 11 Maret 2011
Yes 58:1-9a, Mzm 51:3-45-6a18-19, Mat 9:14-15

"Untuk apa kita berpantang dan berpuasa?"

BACAAN INJIL:
Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Dalam masa prapaskah kita diajak untuk berpuasa dan berpantang makan dan minum. Namun banyak juga orang yang melakukan pantang dan puasa di luar masa Prapaskah, ada yang pantang dan puasa karena demi menjaga kesehatan, ada yang karena sudah sakit. Ada pula ibu-ibu atau kaum wanita yang berpantang dan puasa makanan dan minuman demi melangsingkan tubuh. Tentu bukan pantang dan puasa yang demikian yang diharapkan oleh Gereja selama masa prapaskah ini.

Adapula mungkin keluarga yang melakukan pantang puasa makanan dan minuman, tetapi mereka tetap hidup dalam kemewahan, tetap hidup dengan kesenangan yang lain, biaya yang mereka keluarkan untuk ternak anjing mereka jauh lebih besar bila dibandingkan dengan gaji yang diberikan kepada pembantu atau karyawannya, relasai dengan sesamanya tetap tidak berjalan dengan baik, juga relasi dengan Tuhan tetap tidak lebih baik. Pantang dan puasa yang dilakukan tetapi tidak mengubah hidupnya menjadi lebih baik dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan, itu bukanlah puasa yang sejati.

Selama masa prapaskah, pantang dan puasa bukanlah menjadi tujuan tetapi jalan untuk mengubah hidup lebih baik, yakni hidup lebih dekat dengan Tuhan. Dengan berpantang dan berpuasa kita berusaha untuk mengekang keinginan atau nafsu daging, nafsu badan kita dan kita berusaha mengharahkan hidup kita kepada Allah, sehingga semakin lebih dekat dan bersatu dengan Allah. Dalam bacaan pertama, nabi Yesaya dengan indah mengatakan puasa yang dikehendaki dan berkenan di hadapan Allah, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”

Jelaslah kiranya bahwa bila kita sungguh-sungguh berpantang dan berpuasa, kita tidak lagi hidup dalam keinginan daging atau badan tetapi kita hidup dekat dengan Allah dan dalam Allah. Yesaya menggambarkan bahwa hidup yang dekat dan dalam Allah, dia mengasihi sesama dan rela berbagi sukacita dengan sesama yang menderita. Bila pantang dan puasa kita belum berbuah hasil yang Nampak yakni perubahan hidup yang semakin dekat, bersatu dengan Tuhan dan belum mengasihi serta serla berbagi dengan sesama, itu berarti puasa kita belumlah sempurna. Dan memang kenyataannya selama ini kita belum hidup bersatu dengan Allah, sehingga kita membutuhkan tindakan berpantang dan berpuasa. Dengan demikian, berpantang dan berpuasa sebenarnya tidak hanya dapat dilakukan pada masa prapaskah, tetapi selama dalam hidup kita supaya kita hidup dalam Allah dan bersatu dengan Allah. Amin.

Renungan Hari Kamis sesudah Rabu Abu; 10 Maret 2011

Renungan Hari Kamis sesudah Rabu Abu: 10 Maret 2011
Ul 30:15-20, Mzm 1:1-2,3,4,6, Luk 9:22-25

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”

BACAAN INJIL:
Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Orang sering bilang bahwa Gayus dan para koruptor lainnya walau dihukum dan mendekam di penjara, tapi hidup mereka enak-enak saja, dan mereka sudah menyimpan, memiliki banyak harta yang cukup untuk beberapa keturunan. Mungkin kita juga berpikir demikian. Benarkah demikian adanya? Mungkin kita melihat bahwa dengan uang atau harta yang mereka miliki, mereka bisa berbuat apa saja, bahkan bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan menyogok para pejabat. Tapi apakah mereka hidup bahagia? Kalau kita tanya mereka itu, pasti mereka tidak bahagia dalam hidupnya, karena dibenci banyak orang terutama orang-orang kecil, hidup mereka selalu menjadi sorotan public karena kejahatan yang mereka lakukan, mereka tidak bisa hidup normal sebagaimana biasanya. Kalau juga boleh dikatakan, justru karena mereka belum menemukan kebahagiaan dalam hidupnya sehingga mereka melakukan itu, mereka masih mencari kebahagiaan dan mereka keliru menafsikan kebahagiaan itu. Mereka semua bisa dikatakan orang-orang yang sedang dalam pencarian kebahagiaan hidup, hanya mereka salah dan jatuh pada pengertian yang salah yang menganggap dengan memiliki banyak uang mereka akan bahagia. Suatu pemahaman yang keliru karena nyatanya mereka ditahan, mereka tidak bisa hidup sebagai manusia normal, dan bagaimanapun mereka akan dicap sebagai seorang koruptor, seorang penjahat. Bahkan mereka membuat orang lain menerita dan tanpa sadar mewariskan penderitaan kepada anak-anaknya atau keluarganya karena mereka mendapat cap sebagai anak atau keluarga koruptor, penjahat. Sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Yesus sebagaimana kita dengar dalam Injil hari ini, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Dalam kehidupan dunia saja mereka sudah membinasakan atau merugikan dirinya, diri orang lain, diri keluarganya, apalagi dalam kehidupan yang akan datang.

Hidup yang sekarang bukanlah hidup yang sesungguhnya. Hidup yang sekarang bukanlah hidup yang kekal, akan tiba waktunya semua orang pasti akan mengakhiri hidup yang sekarang di dunia ini. Kita percaya bahwa setelah kita mengakhiri hidup sekarang di dunia ini, kita akan beralih ke kehidupan kekal yang kebahagiaan surga. Untuk masuk ke kebahagiaan kekal ini, tidak bisa dibeli atau disogok, tetapi seseorang harus mengikuti Yesus. Yesus memberi jaminan bahwa barang siapa mengikuti Dia, seseorang akan masuk dalam kebahagiaan hidup yang sekarang dan kebahagiaan itu akan disempurnakan dalam kebahagiaan kekal. Namun dalam mengikuti Dia, bukanlah hal yang mudah, karena pasti akan mengalami tantangan dan persoalan. Yesus sendiri sudah mengalami banyak penderitaan, penolakan oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh. Yesus mengalami semuanya itu bukan karena kejahatan-Nyat tetapi karena kesetiaan-Nya kepada kehendak Allah yang akan menyelamatkan manusia dan itupula kehendak-Nya sendiri atas manusia, yang semuanya adalah hanya karena kasih yang sangat besar kepada manusia. Yesus setia menanggung semuanya itu, namun pada hari ketiga Dia dibangkitkan dari kematian.

Pengalaman hidup Yesus juga menjadi suatu gambaran bagi kita, bahwa kitapun bila mau mengikuti Yesus tidak akan terlepas dari semuanya itu. Kita para pengikut-Nya tidak akan terlepas dari persoalan, penderitaan karena iman kita kepada-Nya juga karena mengikuti-Nya. Persoalan pertama-tama yang kita hadapi bukan dari luar diri kita, tetapi dari dalam diri kita yakni kita harus menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Kita tidak lagi hidup menurut kehendak kita sendiri, tetapi kehendak Tuhan. Ini pasti berat dan inilah yang kiranya dikatakan oleh Yesus dengan mengatakan bahwa kita harus menyangkal diri. Hidup menyangkal diri, juga berarti kita tidak lagi hidup menurut kehendak atau kemauan dunia, tetapi hanya semata-mata menurut kehendak Tuhan.

Selain itu, dengan hidup menurut kehendak Tuhan, kita akan pasti mengalami persoalan dari dunia atau orang lain yang tidak ‘mengenal’ Allah. Orang yang tidak berpihak pada kebenaran dan kebaikan, pasti tidak menyukai kehadiran kita. Bahkan kita alami sendiri di Negara kita ini, kelompok agama lain tidak menyukai kita dan sekan mau menyingkirkan kita dari kehidupan dunia ini. Semuanya itu tentu mendatangkan penderitaan hidup bagi kita dan inilah salib kehidupan iman kita. Kita mengalami penderitaan hidup karena usaha kita hidup dalam iman. Inilah salin kehidupan pengikuti Yesus.

Hidup menyangkal diri dan mengikuti salib karena mengikuti Yesus, di mata dunia seakan kita ini tidak bahagia dan tidak kebagiaan dalam hidup yang sekarang. Hidup demikian seakan kita kehilangan hidup, padahal sebenarnya kesetiaan kita mengikuti Yesus, saat itu kita malah menyelamatkan hidup kita yang sekarang dan hidup yang akan datang. Dengan hidup setia kepada Yesus, kita terlepas dari jerat dosa, kita terbebas dari hidup seperti yang dialami para koruptor dan penjahat dunia ini. Lebih dari itu, kita akan memperoleh kehidupan kekal.

Kemarin kita sudah memasuki pasa Pra-Paska dengan diawali dengan penerimaan abu pada hari Rabu Abu. Menerima abu menjadi lambang kehinaan dan kedosaan kita serta mengingatkan kita bahwa kita butuh pembersihan diri dan pertobatan. Semoga sabda Yesus hari ini menyemangati kita untuk menggunakan masa Prapaskah ini sebagai kesempatan untuk menyangkal diri dan memikul salib kita demi beroleh hidup bahagia dalam hidup sekarang ini dan terutama hidup yang akan datang. Amin.

BEBERAPA HAL PANTANG DAN PUASA

BEBERAPA HAL PANTANG DAN PUASA

MENGAPA KITA BERPANTANG?
Ada dua alasan utama. Pertama, sebagai kurban silih atas dosa-dosa kita. Kita melukai hati Tuhan dan sesama ketika kita berdosa. Kedua, dan yang paling utama, kita melukai hati Tuhan dan sesama karena kita kurang dapat mengendalikan diri. Ketika kita tergoda untuk melakukan sesuatu yang jahat (atau tidak melakukan sesuatu yang baik). Kita jatuh dalam pencobaan karena kita tidak mempunyai kehendak yang kuat untuk melakukan yang baik.

Jika kalian ingin belajar mengendalikan diri, mulailah dari hal-hal yang kecil. Selama beberapa minggu berpantanglah sesuatu yang kalian sukai. Misalnya berpantang permen, atau berpantang menonton acara TV yang kalian sukai, atau berpantang pergi ke bioskop.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

MENGAPA KITA BERPANTANG DAGING PADA HARI JUMAT?

Pada abad ke-4 sudah ada hukum Gereja tentang berpantang pada hari-hari tertentu. Dahulu setiap hari Rabu, Jumat dan Sabtu adalah hari-hari pantang. Sejak abad ke-12 pantang ditetapkan hanya pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat - untuk mengenang bahwa Yesus wafat pada hari itu. Pada tahun 1965 Paus Paulus VI mengijinkan Konferensi Para Uskup untuk menetapkan masa pantang dan puasa. Maka ditetapkan hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai masa puasa dan pantang serta setiap hari Jumat dalam Masa Prapaskah sebagai masa pantang.

Mengapa berpantang daging? Banyak orang suka kelezatannya dan merasa kehilangan jika harus berpantang. Dulu peraturan pantang dan puasa orang-orang Kristen juga memasukkan susu dan telur sebagai pantangan. Pantang dan puasa menunjukkan rasa hormat akan ciptaan Tuhan dengan menggunakannya lebih hemat.

Sumber : Ask a Franciscan by Father Pat McCloskey, O.F.M.; © 2001 St. Anthony Messenger Press.


BAGAIMANA PERATURAN PANTANG & PUASA?

PERATURAN PANTANG DAN PUASA KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2009

Sesuai dengan ketentuan Kitab Hukum Kanonik (Kanon No. 1249 - 1253) dan Statuta Keuskupan Regio Jawa No. 111, maka ditetapkan:

a. Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

b. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

c. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

d. Salah satu ungkapan tobat ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang diharapkan mempunyai nilai pembaharuan pribadi dan nilai solidaritas tingkat paroki, keuskupan dan nasional. Hendaknya di setiap paroki diadakan kegiatan sosial konkret yang membantu masyarakat umum, seperti misalnya mengadakan beasiswa, pengobatan untuk umum, donor darah, pasar murah dan lain-lain.

e. Hasil pengumpulan dana selama APP, hendaknya selekas mungkin diserahkan kepada Romo Bendahara Panitia Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Surabaya, paling lambat tanggal 30 April 2009.

f. Hendaknya diusahakan agar masa tobat sungguh menjadi masa pembaharuan rohani umat dengan diselenggarakan pendalaman bahan APP di Lingkungan, Wilayah, Paroki dan kelompok-kelompok kategorial, rekoleksi, retret, ibadat Jalan Salib, meditasi dan sebagainya.


Surabaya, 11 Februari 2009
Mgr. V. Sutikno Wisaksono
Uskup Surabaya

“dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Rabu Abu: Asal mula Perayaan & Penggunaan Abu

Rabu Abu: Asal mula Perayaan & Penggunaan Abu
( P. William P. Saunders*)

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.

Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)*

Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.

Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.

Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.

Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.

Sementara kita mencamkan makna abu ini dan berjuang untuk menghayatinya terutama sepanjang Masa Prapaskah, patutlah kita mempersilakan Roh Kudus untuk menggerakkan kita dalam karya dan amal belas kasihan terhadap sesama. Bapa Suci dalam pesan Masa Prapaskah pernah mengatakan, “Merupakan harapan saya yang terdalam bahwa umat beriman akan mendapati Masa Prapaskah ini sebagai masa yang menyenangkan untuk menjadi saksi belas kasih Injil di segala tempat, karena panggilan untuk berbelas kasihan merupakan inti dari segala pewartaan Injil yang sejati.” Beliau juga menyesali bahwa “abad kita, sungguh sangat disayangkan, terutama rentan terhadap godaan akan kepentingan diri sendiri yang senantiasa berkeriapan dalam hati manusia. Suatu hasrat berlebihan untuk memiliki akan menghambat manusia dalam membuka diri terhadap Pencipta mereka dan terhadap saudara-saudari mereka.”

Dalam Masa Prapaskah ini, tindakan belas kasihan yang tulus, yang dinyatakan kepada mereka yang berkekurangan, haruslah menjadi bagian dari silih kita, tobat kita, dan pembaharuan hidup kita, karena tindakan-tindakan belas kasihan semacam itu mencerminkan kesetiakawanan dan keadilan yang teramat penting bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: The Ashen Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Disadur dari : YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Renungan Hari Rabu Abu, 9 Maret 2011

Renungan Hari Rabu Abu, 9 Maret 2011
Yl 2:12-18, Mzm 51:3-4,5-6a,12-13,14,17, 2Kor 5:20?6:2, Mat 6:1-6,16-18

"Menerima abu di dahi pada hari Rabu Abu."

BACAAN INJIL:
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:
Sering kita mendengar komentar yang mengatakan bahwa puasa katolik itu gampang dan terlalu mudah, jauh lebih gampang bila dibandingkan dengan puasa kaum muslim, karena dikatakan hanya makan kenyang 1 kali dalam sehari dan tetap makan 3 kali sehari, hanya dikurangi porsinya. Memang kalau hanya melihat dan mengerti puasa dalam artian itu, puasa kita sangatlah mudah. Sebenarnya puasa kita bukan hanya menyangkut puasa dan pantang atau soal mengurangi makan dan minum, tetapi yang lebih penting adalah perubahan hidup yang berkenan pada Allah serta lewat semuanya itu hidup kita semakin dekat dengan Allah. Puasa atau pantang yang hebat sekalipun, tidak ada gunanya bila hidup kita tidak berubah dan tidak semakin dekat dengan Tuhan. Namun kenyataannya, walaupun banyak umat berkomentar bahwa puasa kita itu gampang, tapi toh yang dirasa gampang itu pun tidak dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Hari ini kita membuka masa Puasa atau Prapaskah kita dengan liturgy Rabu Abu. Pada hari rabu abu, kita menerima abu yang dioleskan di dahi kita. Pengolesan atau peneriaan abu pada awal masa puasa adalah suatu pertandan dan suatu ingatakan bagi kita bahwa diri kita adalah ciptaan Tuhan yang hina, yang telah dikotori oleh dosa sehingga kita membutuhkan pertobatan, pembersihan diri dari dosa-dosa kita. Penerimaan abu itulah yang menjadi tanda awal kita memulai retret agung selama 40 hari pada masa prapaskah. Namun seringkali kita temui, umat begitu sulit menghadiri perayaan Rabu Abu untuk menerima abu yang menjadi awal masa prapaskah. Di beberapa stasi masih terjadi bahwa pada hari Rabu Abu tidak diadakan ibadat penerimaan abu, tetapi dilaksanakan pada hari Minggu setelah Rabu Abu. Seringkali alasan yang dinyatakan adalah sibuk bekerja, sehingga tidak sempat ke Gereja untuk mengikuti Ibadah Rabu Abu. Dalam Liturgi kita jelas Hari Rabu Abu adalah awal masa Prapaskah, saat penerimaan Abu di dahi. Jelas juga bahwa kita tidak mengenal Minggu Abu. Banyak paroki atau stasi yang kurang menekankan liturgy Rabu abu ini dengan tetap mengadakan penerimaan Abu pada hari Minggu setelah Rabu Abu. Alasannya dikatakan demi mengerti dan memahami kesibukan umat dan agar umat tetap menerima abu, pada masa prapaskah. Alasan ini kesanya seakan hanya mengetengahkan hal penerimaan abu saja. Tanpa sadar kurang mendidik umat akan liturgy Rabu Abu pada awal masa prapaskah, karena demikian itulah makanya umat tidak melihat nilai hari Rabu Abu karena berpikir toh bisa menerima abu pada hari Minggu nanti. Sikap yang terlalu kompromi itu pula, tanpa sadar juga membuat umat kurang dididik untuk mengatur waktu dan rela berkorban meninggalkan kesibukan sebentar untuk ikut merayakan Rabu Abu di Gereja bersama dengan semua umat. Mengatur waktu dan berani meninggalkan kesibukan sebentar untuk ikut dalam perayaan Rabu Abu dan menerima abu, itu merupakan awal yang sangat bagus memasuki masa prapaskah. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa mengubah diri dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan pada masa prapaskah, kalau kita tidak mengawalinya dengan sikap pengorbanan, kalau kita tidak bisa memngatur diri atau waktu untuk menghadiri perayaan Rabu Abu? Kiranya soal mengatur waktu, keluar sebentar dari kesibukan untuk menghadiri perayaan Rabu Abu, masih hal yang sederhana, tapi itupun belum bisa kita laksanakan, apalagi perubahan diri yang semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Nah, baiklah kitanya kita awali dan tunjukkan niat kita untuk serius menjalani masa prapaskah ini dengan diawali dengan kehadiran dalam perayaan Rabu Abu. Orang mengatakan, ‘Kalau tidak ada niat dan hati tidak di situ, pasti banyak alasan.’ Niat untuk menjalani masa prapaskah dengan baik, terwujud dalam kehadiran pada perayaan Rabu Abu dan menerima abu di dahi pada perayaan tersbeut.

Masa Pra-paskah kita kenal dengan masa Retret Agung selama 40 hari. Selama masa Pra-Paskah kita diajak untuk memperbaharui diri dan hidup kita seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Dalam masa Pra-paskah, pantang dan puasa adalah bentuk dari upaya kita untuk memperbaharui diri, di mana lewat pantang dan puasa, kita berusaha untuk tidak dirajai oleh makanan, minuman dan kesenangan lain. Bentuk lain yang bisa kita lakukan adalah hidup yang semakin rajin berdoa, semakin rajin bergereja, semakin rajin dan banyak melakukan amal baik kepada sesama. Intinya adalah hidup yang berubah sesuai dengan kehendak Tuhan dan hidup yang semakin dekat dengan Tuhan. Pantang dan puasa sebesar apapun yang kita lakukan, kalau kita hidup kita tidak berubah dan tidak semakin dekat dengan Tuhan, itu kiranya bukan pantang dan puasa yang dimaksudkan oleh Gereja. Selain itu, pantang dan puasa kita itu juga harus berbuah dan dapat dirasakah oleh sesama kita. Itulah yang diwujudkan dalam APP. Saat kita mengurangi makan, minum atau kesenangan lain, bukan untuk menambah kekayaan kita, tetapi hasil pantang dan puasa kita itu harus dirasakan oleh sesama yang menderita yakni hasil dari pantang dan puasa kita itulah yang kita berikan sebagai APP.

Namun hendaknya kita tetap ingat, bahwa pantang dan puasa kita itu adalah agar hidup kita semakin dekat dengan Tuhan. Pantang dan puasa selama masa pra-paskah bukan untuk dilihat atau untuk mendapat pujian dari orang lain, dan bukan juga jadi alasan untuk bermalas-malas dalam bekerja. Yesus mengatakan agar dalam menjalani pantang dan puasa seakan tidak melaksanakannya di mata orang, tetapi biarlah hanya Tuhan yang mengetahuinya. Sikap demikian juga menjadi salah satu bentuk penyangkalan diri kita, yang mana kita melakukan hal yang baik bukan untuk mendapat pujian dari orang lain. Sikap yang demikian juga berarti kita menghindarkan diri dari sikap untuk mencari pujian, kehormatan dan kesenangan diri.

Dengan demikian, mari kita awali masa pra-paskah dengan berusaha semaksimal mungkin dengan berkorban untuk menghadiri perayaan Rabu Abu di Gereja dan menerima abu pada perayaan itu. Pra-paskah yang kita awali dengan sikap berkorban, akan sangat memantu kita dalam menjalani masa pra-paskah dengan sangat baik. Sehingga pasa Pra-paskah merupakan kesempatan yang baik untuk mengubah hati, pikiran dan hidup kita serta hidup yang semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Amin.

MENGAPA KITA BERPANTANG DAGING PADA HARI JUMAT?

MENGAPA KITA BERPANTANG DAGING PADA HARI JUMAT?

Pada abad ke-4 sudah ada hukum Gereja tentang berpantang pada hari-hari tertentu. Dahulu setiap hari Rabu, Jumat dan Sabtu adalah hari-hari pantang. Sejak abad ke-12 pantang ditetapkan hanya pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat - untuk mengenang bahwa Yesus wafat pada hari itu. Pada tahun 1965 Paus Paulus VI mengijinkan Konferensi Para Uskup untuk menetapkan masa pantang dan puasa. Maka ditetapkan hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai masa puasa dan pantang serta setiap hari Jumat dalam Masa Prapaskah sebagai masa pantang.

Mengapa berpantang daging? Banyak orang suka kelezatannya dan merasa kehilangan jika harus berpantang. Dulu peraturan pantang dan puasa orang-orang Kristen juga memasukkan susu dan telur sebagai pantangan. Pantang dan puasa menunjukkan rasa hormat akan ciptaan Tuhan dengan menggunakannya lebih hemat.

Sumber : Ask a Franciscan by Father Pat McCloskey, O.F.M.; © 2001 St. Anthony Messenger Press.
“Dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”


APA ITU JALAN SALIB?

APA ITU JALAN SALIB?
Sejak abad pertama umat Kristiani telah mengadakan ziarah ke tanah kelahiran Yesus. Santa Helena, ibunda Raja Konstantin, melakukan ziarahnya yang terkenal itu pada abad ke-4 dalam usahanya untuk mengenali dari dekat tempat Yesus dilahirkan, wafat dan dimakamkan. Untuk jangka waktu yang pendek, yaitu setelah tahun 1199 ketika tentara-tentara Perang Salib berhasil menguasai Yerusalem dan wilayah sekitarnya, ziarah dapat dilakukan tanpa kesulitan. Tetapi sejak tahun 1291 setelah mereka kehilangan kekuasaan mereka atas daerah tersebut, ziarah menjadi lebih berbahaya dan mahal. Ibadat Jalan Salib bertujuan untuk menghadirkan Tanah Suci baik bagi mereka yang tidak dapat berziarah ke sana maupun bagi mereka yang sudah berziarah ke sana.

Fransiskus dari Asisi mempunyai dua devosi yang amat mendalam yaitu Inkarnasi Yesus dan Sengsara Yesus, masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib. Para biarawan Fransiskan mempopulerkan devosi Jalan Salib sejak abad ke-14. Umat membuat perhentian-perhentian kecil di dalam gereja, kadang-kadang dibangun juga perhentian-perhentian yang besarnya seukuran manusia di luar gereja. Segera saja, hampir semua gereja telah memiliki Perhentian-perhentian Jalan Salib. Para biarawan Fransiskan juga menuliskan lirik Stabat Mater, yang biasanya dinyanyikan saat Ibadat Jalan Salib, baik dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Latin, maupun dalam bahasa setempat. Jumlah perhentian serta peristiwa-peristiwa Jalan Salib yang dikenangkan bervariasi dari waktu ke waktu. Ke-14 peristiwa Jalan Salib yang sekarang ditetapkan oleh Paus Clement XII (1730-1740).

Baik kita melakukan Ibadat Jalan Salib seorang diri atau bersama-sama dengan umat lain, di dalam gereja atau pun di ke-14 perhentian di luar gereja, ibadat ini menjadikan kisah sengsara dan wafat Yesus terasa nyata dan hidup.


Sumber : Ask a Franciscan by Father Pat McCloskey, O.F.M.; © 2001 St. Anthony Messenger Press.

“dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)