Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.
Showing posts with label Artikel Rohani. Show all posts
Showing posts with label Artikel Rohani. Show all posts

Dari balik jeruji besi, seorang ibu menulis surat kepada Paus Fransiskus

Dari balik jeruji besi, seorang ibu menulis surat kepada Paus Fransiskus 

Tiga putri Asia Bibi memegang foto ibu mereka di luar rumah mereka di Punjab. 

Asia Bibi, yang mendapat perhatian di seluruh dunia tahun 2010 setelah ia dijatuhi hukuman mati karena diduga melanggar Undang-Undang Penghujatan Pakistan, telah menulis surat kepada Paus Fransiskus pada Tahun Baru. 

Surat Bibi kepada Paus diterbitkan di surat kabar Italia Tempi pada Malam Tahun Baru. “Saya berharap bahwa setiap orang Kristen bisa merayakan Natal dengan sukacita. Seperti banyak tahanan lain, saya juga merayakan kelahiran Tuhan dalam penjara di Multan, di sini di Pakistan,” tulis Bibi. 

 “Saya sangat berterima kasih kepada seluruh Gereja yang berdoa untuk saya dan berjuang untuk kebebasan saya. Saya tidak tahu berapa lama saya terus dan terus di penjara. Jika saya masih hidup, itu adalah berkat kekuatan yang Anda doakan untuk saya. 

Saya telah bertemu banyak orang yang berbicara dan berjuang untuk saya. Sayangnya, itu sia-sia. Pada saat ini saya hanya ingin percaya rahmat Tuhan, yang dapat melakukan segalanya, bahwa semua adalah mungkin. Hanya Tuhan yang akan mampu membebaskan saya.” 

 Bibi berterima kasih kepada Yayasan Pendidikan Renaissance karena membawa suami dan anak-anaknya untuk bertemu dengan dia di penjara saat Natal. “Saya akan senang berada di Basilika St. Petrus untuk Natal dan doa bersama Anda,” tulisnya kepada Paus, “tapi saya percaya dalam rencana Tuhan bagi saya dan mudah-mudahan itu akan tercapai tahun depan.” 

 Bibi, seorang ibu Katolik dari lima anak, ditangkap pada Juni 2009. Dia dipenjara selama 4,5 tahun di Multan. Ia menjelaskan kondisi di penjara itu, “Saya menghadapi banyak masalah dengan musim dingin saat ini: sel saya tidak memiliki pemanas dan tidak ada pintu untuk berlindung dari dingin, keamanan tidak memadai, dan saya tidak punya cukup uang untuk kebutuhan sehari-hari dan saya sangat jauh dari Lahore, sehingga keluarga saya tidak bisa membantu saya.” 

“Saya tahu Anda berdoa untuk saya dengan segenap hati Anda. Dan ini memberikan saya kekuatan bahwa suatu hari kebebasan saya akan mungkin,” tulisnya.
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

JANGAN TAKUT DATANG KEPADA YESUS

JANGAN TAKUT DATANG KEPADA YESUS 

 "Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."(Mrk 1:40) 

 Para saudara, kalau dalam injil kemarin kita mendengar bahwa orang banyak membawa orang sakit kepada Yesus untuk disembuhkan, kali ini lain, orang kusta itu datang sendiri kepada Yesus dan minta belaskasih penyembuhan dari Yesus. Orang kusta itu sungguh berani, dia tidak peduli dengan aturan yang mengucilkan dia dan orang-orang kusta lain dari kalayak ramai, dari kebersamaan karena dianggap orang yang dikutuk oleh Tuhan. 

Pada masa itu, orang yang menderita kusta dianggap mendapat kutukan Tuhan sehingga harus dikucilkan. Orang kusta itu sangat berani menerobos kerumunan yang mengikuti Yesus, tidak peduli bahwa dia melanggar hukum pengucilan bagi dirinya dan bagi orang lain yang berpenyakit kusta sama seperti dia. Dia tidak peduli cibiran orang banyak yang mungkin heran dan mencibir dia karena merasa jijik atas penyakitnya dan karena melanggar aturan pengucilan yang berlaku saat itu. 

Orang kusta itu berani melakukan itu bukan karena dia tidak punya rasa takut tetapi karena dia punya keyakinan besar kepada Yesus; dia yakin bahwa Yesus adalah Tuhan yang Mahakasih, yang mengasihinya dan tidak mengucilkannya seperti yang dilakukan banyak orang atas dirinya. Dia yakin bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya, sehingga dia berkata, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Yesus menyembuhkan orang kusta itu, bukan hanya karena orang kusta itu memintanya tetapi karena Yesus melihat iman orang kusta itu sungguh mendalam. 

Orang kusta itu berani melanggar aturan yang diberlakukan buatnya dan kpd orang yang senasib dengan dia, dia yakin akan Yesus yang Mahakasih dan pasti sanggup menyembuhkannya. Dia dan yang senasib dengan dia adalah korban peraturan yang dibuat manusia, yang mengaburkan kasih Tuhan kepada semua orang. Orang kusta itu memohon penyembuhan bukan supaya dia sembuh dari penyakit fisik, tetapi agar dia juga disembuhkan dari penyakit sosial yang menghukum dia. Kesembuhannya dari penyakit kusta, juga membebaskan dia dari hukum sosial. 

Keyakinan orang kusta itu bahwa Yesus tidak mengucilkannya terbukti dengan jamahan Yesus atas dirinya sebelum dia disembuhkan. Yesus menjamah orang kusta itu sebelum menyembuhkannya bukan menjadi bagian dari ritual penyembuhan, sebab Yesus bisa menyembuhkan orang kusta itu tanpa harus menyentuh orang kusta itu. Sikap Yesus yang demikian menjadi tanda bagi banyak orang bahwa Yesus tidak merasa jijik dengan orang kusta, Yesus tidak pernah mengucilkan siapapun bahkan orang kusta yang dianggap dikutuk oleh Tuhan. Para saudara, iman orang kusta itu menjadi pembelajaran bagi kita agar kita tidak takut datang kepada Yesus untuk memohon belakasih dari-Nya.

 Yesus mengasihi kita semua tanpa terkecuali, Dia tidak pernah merasa jijik dengan hidup kita, Dia pasti menerima dan mengabulkan permohonan kita yang memang sangat kita butuhkan. Kita mungkin tidak menderita penyakit kusta. Tetapi kita menderita sejenis penyakit kusta yang membuat kita merasa tidak layak menghadap Tuhan, tidak berani datang kepada Tuhan karena hidup kita yang tidak baik dan mungkin membuat orang lain merasa jijik dengan kita, maka orang lain menyingkirkan kita. Tidak jarang juga terjadi, kemiskinan harta membuat orang merasa takut menghadap Tuhan. 

Namun hari ini, orang kusta itu mengajarkan kepada kita bahwa Yesus Tuhan yang Mahabaik dan Mahakuasa; Dia akan menerima siapapun yang datang kepada-Nya dengan penuh iman dan akan mengabulkan permohonan kita. Semoga kita juga seperti Yesus yang mau mengasihi semua orang, mau menerima semua orang dan berbuat baik kepada semua orang. Baiklah kita jangan justru membuat aturan atau mengkondisikan situasi sehingga membuat orang lain takut

JANGAN PERNAH MERASA DIRI SUDAH BAIK!

JANGAN PERNAH MERASA DIRI SUDAH BAIK!

"Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"(Mat 19:20) Ini penggalan pertanyaan pemuda kaya ketika Yesus mengatakan bahwa dia harus menuruti perintah Tuhan. Pemuda itu sungguh yakin bahwa
dirinya adalah orang baik dan kelak sudah layak dapat imbalan masuk surga.

Mungkin kita juga berpikir demikian. (Saya katakan kita, karena ini menjadi permenungan kita semua). Kita merasa sudah baik sebagai orang beriman dan kelak layak masuk surga karena kita menaati perintah Tuhan, rajin menghadiri misa, kita menaati peraturan Gereja, rajin atau banyak berdoa, kita banyak melakukan ziarah rohani, kita banyak baca dan hapal Kitab Suci, kita tiap hari berdoa dan membuat renungan lewat FB, atau kita bukan seorang koruptor atau penjahat. 

 Para saudara, kalau kita berpikir demikian, maka Yesus akan berkata kepada kita, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."(Mat 19:21) Oleh sebab itu, mari kita renungkan perkataan Yesus di atas. Apakah kita lebih melekat pada harta kekayaan atau apa yang kita miliki dibanding kepada Yesus? Apakah Yesus menjadi harta yang paling berharga bagi kita dibanding harta kekayaan atau apa yang kita miliki yang sifatnya duniawi? 

Ingatlah bahwa orang kudus tidak pernah merasa dan bangga bahwa dirinya orang kudus dan mereka tidak pernah berpikir untuk menjadi orang kudus. Mereka selalu merasa diri orang berdosa sehingga selama hidupnya hidup dalam pertobatan terus menerus dan selalu berusaha hidup baik memuliakan Tuhan.

MARI MELAKUKAN MUDIK ROHANI/KEHIDUPAN!



MARI  MELAKUKAN  MUDIK  ROHANI/KEHIDUPAN!

Dalam Wikipedia mudik  adalah kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Kata mudik berasal dari sandi kata bahasa Jawa ngoko yaitu mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. 

Pada masa sekarang mudik bukan hanya pada saat menjelang hari raya besar keagamaan, juga terjadi saat menjelang tahun baru. Orang mudik ke kampung halaman bukan hanya sekedar untuk bertemu atau berkumpul dengan keluarga, juga mau bertemu dengan kerabat lain dan juga teman-teman sekampung. Selain itu orang mudik ke kampung halaman yang tentunya tempat itu punya kenangan tersendiri bagi yang mudik, terutama tentunya kenangan baik. Dengan mudik, orang mau mengenang kembali masa-masa ketika bersama keluarga ataupun dengan sesama yang tinggal di kampung, berbagi cerita dan berbagi sukacita.
Kalau umumnya orang melakukan mudik ke kampun halaman menjelang tahun baru, baiklah kiranya kita juga mengadakan mudik rohani atau juga mudik kehidupan. Menjelang meninggalkan tahun 2013 ini dan menjelang memasuki tahun 2014, baiklah kita mudik kehidupan, juga mudik rohani dengan melihat kembali bagaimana kehidupan kita sepanjang tahun yang hendak kita lalui ini, sejak tahun baru 2013 hingga akhir tahun 2013 ini. Hal ini kiranya perlu kita lakukan untuk menyadarkan kita bahwa kita sungguh patut bersyukur pada Tuhan atas perlindungan-Nya kepada kita sepanjang tahun ini. Juga perlu untuk melihat kembali hidup kita sepanjang tahun ini untuk menjadi perbandingan dan juga menjadi modal kita untuk memasuki tahun yang akan kita jalani.

Selama setahun ini, pasti banyak yang telah kita alami, baik pengalaman yang tidak menyenangkan maupun pengalaman yang menyenangkan. Pengalaman yang menyenangkan selama tahun ini tentunya membuat kita bersemangat untuk memasuki tahun yang akan kita jalani. Semuanya itu bisa menjadi modal kita dalam memasuki tahun baru dengan harapan di tahun yang baru kita akan lebih baik lagi dan lebih banyak mengalami pengalaman yang menyenangkan. 

Namun kiranya, hendaknya kita tidak hanya melihat kembali pengalaman yang menyenangkan sepanjang tahun ini. Kita juga perlu melihat kembali pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan sepanjang tahun ini. Dengan mengingat kembali pengalaman yang tidak menyenangkan selama tahun ini, bukan berarti kita mau mengungkit luka lama hidup yang mungkin membuat kita bersedih. Namun dengan mengingat-ingat kembali pengalaman yang tidak menyenangkan kita, kita mau melajar untuk memperbaikinya kembali pada tahun yang baru nanti. Tidak bisa dipingkuri bahwa kita pasti banyak mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan, pengalaman yang sangat berat selama tahun ini. 

Namun sebelum mengakhiri tahun ini baiklah kita menyadari bahwa betapun beratnya pengalaman itu selama tahun ini, kita masih bisa bertahan dan saat ini bersiap-siap untuk memasuki tahun yang baru. Kita bisa bertahan dan melalui tahun ini adalah karena memang Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup kita dan Dia juga memberi kekuatan dan berkat-Nya kepada kita. Ini kiranya perlu kita sadari sehingga saat meninggalkan tahun ini kita tinggalkan dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Kalau bukan karena Tuhan, kita tidak bisa bertahan dan melalui tahun ini. Jangan biarkan tahun ini berlalu begitu saja tanpa mengucapkan syukur pada Tuhan. Jangan biarkan tahun ini berlalu dengan rasa sedih atau dengan penuh beban berat karena pengalaman yang tidak menyenangkan selama tahun ini, agar tidak membebani kita dalam memasuki tahun yang akan kita masuki.

Kita juga perlu mudik sebentar ke kehidupan kita selama tahun ini. Bagaimana hidup kita selama setahun ini; Apakah kita sungguh-sungguh hidup sebagai orang beriman? Apakah sebagai orang beriman, hidup kita selama ini sudah memberi makna bagi banyak orang? Atau apakah kita hidup hanya untuk diri sendiri, mencari kesenangan sendiri dan hanya memikirkan diri sendiri? Apakah kita hidup hanya mengejar prestasi, hanya sibuk dengan rutinitas pekerjaan tanpa peduli dengan hidup rohani, hidup iman kita? Apakah selama ini kita punya kepedulian kepada sesama? Masih banyak hal kiranya yang patut kita renungkan sehubungan dengan hidup iman kita selama setahun ini. Ingatlah bahwa hidup kita selama setahun ini adalah hidup penuh cukacita dan berarti bukan karena kita mendapatkan yang kita inginkan, bukan pula karena selama setahun ini kita sukses dalam pekerjaan, bukan pula karena selama setahun ini apa yang kita rencanakan berjalan dengan baik. Namun yang terutama adalah bahwa hidup kita selama ini bermakna bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk sesama kita atau banyak orang. Bila hidup kita selama setahun ini memberi makna kepada banyak orang, maka layaklah kita meninggalkan tahun ini dan mamasuki tahun baru dengan penuh sukacita iman. 

 Apakah di tahun yang akan kita masuki, hidup kita akan lebih baik daripada tahun ini? Kita hanya berharap demikian, tidak ada yang bisa menjamin bahwa hidupnya akan lebih baik lagi di tahun baru ini. Namun belajar dari pengalaman hidup selama setahun ini, kita boleh berharap banyak akan hidup lebih baik pada tahun yang baru dengan suatu keyakinan pasti bahwa Tuhan pasti selalu memberkati kita pada tahun yang baru ini. Tuhan tidak pernah meninggalkan hidup kita, Dia akan selalu menyertai, membantu dan memberi kekuatan kepada kita dalam perjalan hidup pada tahun yang baru nanti. Kita memasuki tahun yang baru dengan keyakinan iman bahwa Tuhan pasti menyertai kita sehingga apapun yang kita alami nanti pada tahun yang baru, kita akan mampu menghadapi dan melaluinya kembali hingga akhir tahun yang baru nanti.

Tahun yang baru adalah rahmat dan berkat Tuhan; kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan bagi kita, sehingga kita meninggalkan tahun yang sekarang dan memasuki tahun baru dengan penuh sukacita iman kepada Tuhan. Tahun yang baru harus kita sambut dengan penuh kegembiraan atau sukacita. Menyambut tahun yang baru dengan kegembiraan atau sukacita bukan berarti harus dengan pesta pora atau berfoya-foyah. Sangat disayangkan bahwa seringkali banyak orang menyambut tahun baru hanya dengan pesta pora; baik itu dengan makan-makan, kembang api dan hingar bingar musik atau kendaraan. Memang semuanya itu adalah bentuk luapan kegembiraan. 

Namun kiranya semuanya itu tidak akan memberi makna apa-apa bagi kita pada tahun yang baru bila kita tidak mensyukuri hidup pada tahun yang kita lewati dan berserah diri pada Tuhan pada tahun yang baru dengan memohon perlindungan dan pertolongan Tuhan selama tahun yang baru. Selain itu baiklah sebelum memasuki tahun yang baru, kita memiliki tekat dan niat untuk hidup lebih baik lagi juga dalam hal hidup iman. Sangat lebih baik lagi bila saat kita meninggalkan tahun 2013 kita melakukan perbuatna baik, demikian juga saat memasuki tahun 2014 dengan melakukan perbuatan baik. Kita mengakhiri tahun 2013 dan mengawali tahun 2014 dengan melakukan perbuatan baik kepada sesama. Mungkin, sangat lebih menggembirakan bila biaya yang kita persiapkan untuk kita habiskan dalam mengakhiri tahun 2013 dan menyongsong tahun 2014, itu kita persembahkan kepada Tuhan dengan memberi kepada sesama yang berkekurangan.


Maka baiklah kita meninggalkan tahun yang lama dengan sukacita iman dengan mengambil waktu sejenak berdoa baik secara pribadi maupun bersama keluarga untuk  bersyukur atas kasih perlindungan Tuhan kepada kita selama tahun yang kita lalui dan memohon agar  dalam perjalanan hidup selama tahun yang baru Tuhan memberi yang terbaik kepada kita, dengan tidak lupa niat dan tekat untuk hidup lebih baik lagi.

Selamat meninggalkan tahun 2013 dengan sukacita iman dan selamat memasuki tahun 2014 dengan sukacita iman pula. Tuhan Yesus memberkati kita.

CATATAN KECIL : DIMANA CINTA???

CATATAN KECIL : DIMANA  CINTA???


Banyak...bukan menghakimi, tapi kenyataan...banyak orang yg setiap saat koar-koar mulutnya mengatakan cinta Tuhan dan "mengumandangkan" firman Tuhan...tapi, disaat diminta sedikit bantuan dana utk Tuhan/Gereja...semua pada terdiam dan bersembunyi... ◦(˘_˘")◦ ♒нůfftttt...♒ Dimana cinta itu??? 

 Judul di atas saya ambil langsung dari kutipan status FB dari seseorang, yang tentunya tidak perlu saya sebutkan namanya. Status itu menyatakan kekesalan hati beliau atas apa yang beliau alami. Mungkin beliau sedang mencari sumbangan untuk satu kegiatan Gereja, dan meminta kebeberapa orang yang dia yakin akan memberi, namun nyatakanya harapannya tidak terkabulkan. Dia yakin bahwa yang dia mintai pasti akan memberi dengan alasan bahwa orang yang dia mintai itu banyak berbicara tentang cinta Tuhan dan berbicara indah tentang firman Tuhan. Namun ternyata dugaan dia tidak demikian, apa yang dia harapkan tidak terwujud. Itulah membuat orang ini kecewa. Pasti dia mengalami hal demikian sampai beberapa kali dengan banyak orang, sehingga dia begitu kesal sampai menuliskannya di status FB beliau. Selain untuk menumpahkan kekesalan hatinya, juga tanpa sadar berharap agar apa yang diungkapkannya dibaca oleh orang yang membuatnya kesal. 

Kebangkitan untuk ikut mewartakan iman. 

Apa yang dialami oleh seseorang yang kami sebutkan di atas, mungkin suatu gambaran dari apa yang sebenarnya terjadi. Memang kalau kita simak yang di Fb, begitu banyak orang yang menuliskan status FB berisi renungan berdasarkan bacaan hari itu, renungan pribadi atas sabda Tuhan, banyak pula menuliskan renungan dari refleksi pribadi, banyak pula yang membuat gambar aktivitasnya dalam kehidupan menggereja dan banyak pula membuat status baik dengan tulisan ataupun dengan gambar tentang kehidupan peziarahan imannya yang mengadakan perjalanan ziarah ke tempat-tempat ziarah rohani. 

Semuanya ini adalah hal yang positif , itu lebih baik daripada menggunakan FB hanya untuk canda dan sekedar pengisi waktu luang. Semuanya itu jadi salah satu tanda kebangkitan iman dari umat beriman yang mulai ikut ambil bagian dalam pewartaan iman lewat dunia maya, salah satu tanda kebangkitan hidup iman umat yang hendak me,bagikan pengalaman iman mereka kepada banyak orang. Kalau selama ini banyak umat yang tidak percaya diri menyatakan imannya dan berbagi pengalaman iman, saat ini umat mulai membuka diri. 

Apakah yang kelihatan menggambarkan kedalaman iman seseorang? 

Namun apakah semuanya itu bisa menyatakan kedalaman iman seseorang? Apakah status dan foto yang indah itu menggambarkan kedalaman iman sipembuat status atau gambar itu? Ini yang menjadi permenungan bersama. Apa yang tertulis atau apa yang ditulis dan apa yang kelihatan indah apalagi lewat foto, tidak bisa menjadi ukuran kedalaman iman seseorang. Bisa saja banyak orang yang pintar berkata-kata tentang cinta Tuhan, lihai berbicara akan sabda Tuhan dan melakukan banyak kegiatan gereja dan peziarahan ke tempat-tempat ziarah, belum tentu menggambarkan iman mereka. 

Walaupun orang yang membaca tulisan status yang indah, sarat akan firman Tuhan dan foto yang memperlihatkan kegiatan iman, pasti akan berpikir bahwa sipembuat dan sipemilik FB itu pasti orang beriman dan hidup menghayati imannya. Atas dasar itulah mungkin orang berharap kepada mereka dengan meminta bantuan dari mereka itu. Inilah mungkin yang dialami oleh orang yang membuat status di atas. Dia kecewa karena yang tampak di status FB tidak menggambarkan kehidupan iman pemiliknya. Ini menjadi permenungan bagi kita semua dan juga bagi kami yang juga mempunyai FB. 

Apakah harus Kecewa dan Sakit hati bila ditolak? 

Apa yang dialami oleh pemilik status tersebut, kiranya itu pulalah yang kami alami. Dalam upaya membangun Gereja Paroki Tigalingga, kami banyak berharap dari para saudara se iman lewat FB ini. Dalam upaya menggalang dana untuk pembangunan gereja paroki ini, kami banyak meminta lewat umat katolik yang ada di FB ini. Kami biasanya meminta dengan mengajukan permohonan lewa pesan FB yang kami mintai. Dasar kami meminta kepada seseorang adalah dengan melihat nama, agama, status FB mereka dan juga foto-foto yang ada di FB mereka. Sama seperti orang lain, kami pun berharap bahwa orang yang kami mintai itu adalah orang beriman, orang yang aktiv menggereja dan merekapun pasti orang yang baik hati, pasti mau berbagi berkat Tuhan apalagi kami meminta untuk pembangunan Gereja Paroki. Itulah harapan kami. Namun harapan itu tidak seluruhnya terpenuhi, bahwa dari sekian banyak yang kami minta, bisa dikatakan hanya sepertiga yang menanggapi permohonan kami. Tidak jarang terjadi yang kami mintai hanya sekedar bertanyat, berjanji dan ada yang mengabaikan begitu saja permohonan itu, mereka membaca tetapi tidak membari tanggapan apa-apa. 

Walaupun demikian, kami tidak sakit hari, dan tidak sampai menumpahkan semuanya itu dengan menuliskan di status FB. Mungkin bila dibandingkan dengan orang yang membuat status di atas, kami lebih sering mengalaminya. Kami mencoba berpikir positif saja, yakni kemungkinan mereka lagi sibuk dan masih banyak kebutuhan yang harus mereka tanggung, atau mungkin saja sebelum kami masih banyak permohonan yang meminta mereka sehingga kami diminta untuk bersabar menunggu giliran. Kami mencoba berpikir bahwa mungkin saja mereka kurang yakin akan permohonan ini karena sekarang ini banyak penipuan berselubungkan kegiatan amal, atau mungkin saja karena mereka tidak tahu bahwa yang meminta atau mengemis kepada mereka adalah seorang pastor/imam, gembala mereka sendiri. Mungkin kalau mereka yakin akan kebenaran permohnan ini dan tahu bahwa yang mengemis itu adalah seorang pasto, pasti mereka akan memberi dengan senang hati. 

Kami juga berpikir bahwa mungkin saja mereka tidak membalas permohonan tetapi dengan diam-diam mengirimkan persembahan untuk pembangunan ini karena mereka tidak mau perbuatan baik mereka kami ketahui. Kami yakin bukan karena mereka tidak peduli dan pelit, tetapi karena belum waktunya untuk kami. Syukur pada Tuhan, bahwa ada juga banyak yang kami mintai memberi persembahan kasih untuk pembangunan ini. Apa yang kami harapkan dengan melihat status dan foto kegiatan seseorang di FB nya, menggambarkan hidup iman mereka. Kami sangat bahagia menerimanya, karena itu adalah berkat Tuhan bagi kami lewat mereka. Namun walaupun sebenarnya pemberian mereka menurut kami hanya sekedarnya saja karena rasanya tidak seimbang dengan berkat Tuhan yang telah mereka terima. Walaupun demikian, kami tidak mau menghakimi mereka, kami tetap bersyukur dan memohonkan berkat bagi mereka semua baik yang memberi dan yang belum memberi, supaya Tuhan memberkati mereka di manapun mereka berada serta hidup mereka bahagia. 

Tuhan Punya Banyak cara menyalurkan berkat-Nya

Ada pengalaman yang menarik yang kami alami selama menggalang dana lewat FB ini. Pada satu kesempatan kami mencoba mengirimkan banyak permohonan lewat pesan di FB mereka, mereka itu adalah umat katolik. Kami menunggu beberapa saat dan beberapa hari, tetapi tidak ada yang menanggapi. Namun tanpa diduga kami menerima pesan dari FB dari seorang ibu yang mengatakan bahwa beliau telah mentransfer persembahan kasih untuk pembangunan Gereja paroki. Kami mencoba mengingat bahwa kami tidak pernah mengajukan permohonan kepada beliau. Kami memang sudah sering melihat beliau aktif di FB. Untuk menyakinkan diri, kami mencoba membuka halaman FB beliau dan melihat identitasnya. Dalam identitas beliau tertulis agamanya bukan Katolik, tetapi protestan. 

Sungguh luar biasa dan mengharukan. Kami meminta dari umat katolik dan berharap untuk diberi, namun ternyata tidak, malahan rahmat Tuhan justru datang bukan dari yang kami kenal dalam iman, dalam arti sama-sama katolik, malahan dari saudara yang bukan sei iman katolik. Jumlah yang beliau persembahkan juga lebih banyak dari beberapa umat katolik yang sudah memberi. Apakah karena beliau itu lebih kaya daripada umat katolik yang sudah memberi? Mungkin saja benar. Namun kiranya bukan soal beliau lebih kaya atau tidak, tetapi ini soal sara memiliki dan rasa syukur pada Tuhan. Kalau umat katolik menyadari bahwa yang memintai adalah Gereja dan bahkan seorang pastor, dan itu untuk Gereja, tentu akan dengan rela memberi persembahan kasih tanpa berhitung atau setimpal dengan berkat yang diterima. Kalau pemberian seorang katolik yang berada lebih banyak dari yang bukan katolik, itu hal biasa. Tetapi bila pemberian seorang katolik yang berada lebih sedikit daripada pemberian seorang yang bukan katolik, itu sungguh luar biasa. 

Pengalaman ini bagi kami adalah pengajaran dari Tuhan yang mengatakan bahwa dalam usaha yang baik, selalu berhadap pada Tuhan, bukan berharap pada orang bahkan orang yang seiman, karena dengan demikian kita mengandalkan mereka, bukan mengandalkan Tuhan. Tuhan mau mengatakan bahwa kami boleh meminta kepada umat se iman, tetapi pengharapan yang teguh hanya pada Tuhan, dan Tuhan punya banyak cara untuk menyalurkan berkat-Nya, bahkan bisa lewat orang-orang yang tidak pernah kita mintai dan harapkan. 

Cinta Tuhan pasti akan selalu mengalir dengan banyak cara dan bentuk yang tidak bisa kita prediksi sejak awal. Itulah salah satu misteri cinta kasih Tuhan bagi kita. Pada akhir catatan kecil ini, kami mohon maaf kepada para saudara, bukan niat kami mengahakimi siapapun, kami hanya sekedar berbagi pengalaman karena terdorong oleh status dari saudara yang kecewa sebagaimana kita baca di atas. Kami merasa terdorong untuk menuliskan hal ini. Ini semua menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar hidup iman kita selaras dengan perkataan, dan perbuatan baik kita bagi sesama, terutama lewat Gereja-Nya.

CATATAN KECIL : TUHAN DI MANA? TUHAN BERPIHAK KEPADA SIAPA?

CATATAN  KECIL : TUHAN DI MANA? TUHAN BERPIHAK KEPADA SIAPA? 

Kiranya pertanyaan demikian pasti akan terlontar manakali kita atau orang lain mengalami suatu malapetaka atau bencana. Ketika terjadi tsyunami di Filipina, orang pun pasti berpikir mengapa Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi. Orang seringkali mengaitkan bencana alam atau penderitaan sebagai peringatan dan hukuman dari Tuhan. Tidak jarang hal demikian kita dengarkan dan bahkan mungkin kita sendiri mengatakannya. 

Bila hal ini dikaitkan dengan bencana alam yang terjadi di Filipina, kita pasti heran karena kita ketahui penduduk Filipina mayoritas beragama Katolik sehingga, “Apakah memang Tuhan menghukum mereka dengan bencana itu? Apa yang mereka perbuat sehingga terjadi demikian? Kalaupun itu bukan karena hukuman dari Tuhan, mengapa Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi? Sebab peristiwa itu jelas membuat banyak orang menderita, terutama orang-orang miskin. Masih banyak bentuk atau hal yang membuat orang berpikir dan bertanya, “Di mana Tuhan ketika kita atau orang lain mengalami bencana alam, penderitaan dan persoalan dalam hidupnya? Apakah memang Tuhan masih peduli dengan hidup manusia? Adapula perkara yang membuat orang lain bingung, sehubungan dengan keberadaan dan keberpihakanTuhan. 

Kita pasti pernah mendengarkan seseorang yang miskin menjadi korban kejahatan orang lain, mereka mencari keadilan tetapi tetapi tidak mendapatkannya. Misalnya seseorang dituduh oleh seorang kaya atau orang yang berkuasa dan dijatuhi hukuman. Orang miskin itu tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan, dia hanya korban fitnah orang tertentu atau malah dikorbankan demi menutupi kejahatan yang menjani lawannya di pengadilan. Namun orang miskin itu yang menjadi korban sedangkan yang melakukan perbuatan jahat itu malah bebas. Orang kaya itu akhirnya bebas karena dia bisa membayar pengacara yang mahal dan mungki bisa membeli hakim sehingga membebaskan dirinya, sedangkan orang miskin itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ironisnya adalah orang kaya itu ketika putusan pengadilan seringkali menggelar konferensi pers dan dengan tegas mengatakan, bahwa Tuhan berpihak kepada diri-Nya dan Tuhan itu mencintainya makanya dia bebas dari hukuman. Sedangkan orang miskin yang akhirnya terhukum akan merutuki nasibnya dan akan bertanya, “Di mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak membelanya? Mengapa Tuhan justru berpihak kepada yang melakukan kejahatan. 

TUHAN MENGASIHI MANUSIA 

Bertitik tolak pada contoh di atas, kita bertanya, “Apakah memang Tuhan berpihak kepada orang jahat itu sehingga dia terbebas dari hukuman? Mengapa Tuhan tidak membela orang miskin dan benar itu? Secara manusiawi, pertanyaan ini sulit kita mengerti dan kitapun sulit untuk menjawab bila pertanyaan itu diajukan kepada kita. Benarkah Tuhan menjadi sumber bencana alam, sumber dari malapetaka atau penderitaan manusia? Benarkah Tuhan mendatangkan semuanya itu untuk menghukum manusia supaya manusia menjadi sadar? Tentu tidak pernah demikian. Tuhan tidak pernah menjadi sumber malapetaka, sumber bencana alam dan sumber penderitaan dan persoalan hidup manusia. Bila kita percaya bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan, berarti Tuhan itu sungguh kejam, mendidik manusia dengan penghukuman yang sangat berat. 

Dalam kitab suci jelas kita ketahui bahwa Allah itu kasih . Kasih Allah yang sungguh besar dinyatakan dalam diri Yesus yang diutus untuk membawa kabar sukacita bagi manusia, yakni bahwa Allah mengasihi manusia. Ini adalah kabar sukacita bagi manusia, karena pada masa itu orang sering berpikir bahwa Allah kita kejam dan Allah itu tidak berpihak kepada orang-orang kecil dan miskin. Pemikiran demikian muncul karena pengajaran saat itu yang mengatakan bahwa orang sakit, orang miskin adalah orang yang tidak diberkati oleh Tuhan, orang yang mendapat penghukuman. 

Pemikiran demikian juga muncul karena penderitaan yang dialami seakan tidak berkesudahan, sehingga berpikir bahwa mereka tidak dikasihi dan tidak dikehendaki oleh Tuhan sehingga membiarkan mereka demikian. Oleh sebab itulah para rasul juga bertanya bertanya kepada Yesus ketika melihat orang buta sejak dilahirmakan, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? (yoh 9:2). Para murid bertanya demikian karena memang pemahaman pada masa itu mengatakan bahwa orang sakit dan miskin adalah hukuman dari Tuhan karena dosanya atau juga karena dosa keluarga atau orang tuanya. Menanggapi pertanyaan itu, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa orang buta itu lahir demikian, bukan karena hukuman dari Tuhan, bukan karena dia tidak diberkati oleh Tuhan. Namun hal itu terjadi karena memang manusia adalh ciptaan dan akan ada dalam kehidupan manusia. Hal ini dikatakan oleh Yesus dengan mengakatan, “...selama masih siang; akan datang malam..” ini bisa kita artikan bahwa selama ada kehidupan, pasti masih akan ada penderitaan manusia, namun itu bukan berasal dari Tuhan dan bukan karena hukuman dari Tuhan karena kedosaan manusia. 

MANUSIA MENYALAHGUNAKAN ANUGERAH KEBEBESAN YANG DAROI TUHAN 

Mungkin kita berpikir, “Mengapa Tuhan tidak menghilangkan kejahatan dan penderitaan dari hidup manusia?” Mengapa Tuhan seakan membiarkan orang-orang jahat meraja lela dan seakan malah mendukung kejahatan mereka?” Kita pasti selalu berharap agar Tuhan membunuh saja kejahatan dari hidup ini dan menghilangkan persoalan dari hidup manusia. Menanggapi hal demikian, ada orang berpikir bahwa dengan adanya penderitaan dan persoalan itu, manusia sadar bahwa dirinya adalah manusia lemah sehingga membutuhkan Tuhan. Kita harus hati-hati dengan pemikiran demikian, karena bisa berarti bahwa Tuhan sengaja membuat kita lemah agar kita tergantung kepada Dia. Kiranya hal ini yang terjadi dalam kehidupan kita, pemerintah dan penguasa sengaja membuat rakyat miskin tetap miskin supaya mereka terikat dan merasa membutuhkan pemerintah. Tuhan tidaklah demikian. Kita pasti masih ingat dalam kisah penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa Allah. 

Allah menciptakan manusia bukan hanya sekedar berbeda bentuk dengan ciptaan lain, tapi Allah memberi kehendak bebas bagi manusia yang tidak ada pada ciptaan lain dan Allah memberi kuasa atas manusia untuk menguasai semua ciptaan. Allah memberi pesan kepada manusia yang tidak bisa mereka langgar, dengan berfirman; "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."( Kej 2:16-17)Namun apa yang terjadi? Manusia melanggar perintah Tuhan. Dalam hal ini bukan soal makan buah itu atau tidak, tetap pelanggaran atas perintah Tuhan. Sejak saat itu manusia keluar dari taman firdaus, bukan karena Allah menghukum tetapi karena perbuatan manusia itu sendiri yang membuat manusia itu tidak layak lagi tinggal di taman Firdaus. Walaupun manusia itu berdosa, Allah masih membela manusia dan tidak menghendaki manusia itu mati, yakni Allah masih membuatkan pakaian untuk manusia itu, (Kej 3: 20). 

Demikian juga halnya ketika Kain membunuh Habel adiknya hanya karena kecemburuan. Mengapa Tuhan membiarkan Kain membunuh adeknya Habel, Habel yang baik dan jujur itu? Hanya Tuhan yang tahu. Namun yang kita tahu pasti adalah bahwa Tuhan tetap mengasihi Kain walaupun telah membunuh Kain adiknya, sebab itu Tuhan menaruh tanda atas Kain agar orang tidak membunuh dia. Tuhan masih mengharapkan manusia itu hidup dan diberi kesempatan untuk bertobat. Secara singkat dapat kita katakan bahwa penderitaan itu bukan berasal dari Tuhan. Penderitaan itu berasal dari manusia sendiri, baik karena perbautannya sendiri maupun karena perbuatan orang lain. 

Kejahatan dan penderitaan itu bermula dari kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan dan disalahgunakan oleh manusia. Namun kita tentu tidak berpikir bahwa kejahatan itu terjadi karena kesalahan Tuhan yang memberi manusia kehendak bebas. Kalau Tuhan tidak memberi kita kehendak bebas karena itu yang menjadi awal kejahatan dan penderitaan orang lain, maka kita tidak ada ubahnya dengan binatang dan kita bukan lagi ciptaan menurut gambar dan rupa Allah. Demikianlah terjadi dalam perjalanan hidup manusia. Manusia bukannya semakin baik, tetapi semakin menyalahgunakan kebebasan yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan tidak menghendaki manusia itu binasa, oleh karena itu Yesus diutus untuk membawa kabar sukacita dan keselamatan bagi manusia. Kabar sukacita yang pertama-tama dinyatakan kepada manusia adalah bahwa Allah mengasihi semua manusia dan menghendaki manusia selamat dan pada akhirnya beroleh hidup kekal. Berita bahwa Allah mengasihi semua manusia terutama mereka yang miskin dan menderita tentu sungguh kabar yang menyejukkan hati bagi para kaum miskin dan menderita pada masa itu dan juga pada masa sekarang. Sebab pada masa itu dengan jelas diajarkan bahwa orang menderita dan orang miskin dianggap kutukan Tuhan dan mereka tidak diberkati oleh Tuhan. 

BERIMAN BUKAN MENGHILANGKAN PERSOALAN DAN PENDERITAAN MANUSIA. 

Kita percaya bahwa Yesus datang mewartakan kabar sukacita dan pertobatan. Namun apa yang terjadi? Tidak semua orang menerima Dia dan bahkan menolak serta membunuh Yesus. Mengapa Yesus tidak memaksa orang-orang yang menolak-Nya supaya percaya kepada Dia? Mengapa Yesus tidak melenyapkan orang yang tidak menerima Dia? Mengapa justru Yesus seakan kalah dan mati di salib? Apakah Yesus memang kalah? Yesus tidak melakukan demikian karena Yesus menghargai manusia sebagai manusia yang diciptakan secitra dengan Dia, Yesus mengheargai kehendka bebas manusia. Yesus kommit dengan apa yang sudah diberikan ketika manusia diciptakan, tidak menarik kehendak bebas manusia. Inilah tanda nyata kasih Tuhan bagi manusia. Yesus mengharapkan manusia menerima Dia karena kesadaran dan iman, bukan karena dipaksa. 

Penolakan sebagian besar manusia, penderitaan dan kematian Yesus, bukan berarti Yesus gagal. Memang secara manusiawi Yesus seakan gagal, tetapi sebenarnya tidak. Kedatangan Yesus adalah untuk mewartakan dan menyatakan kasih Tuhan kepada manusia dan mau menyelamatkan manusia. Inila misi utama Yesus datang ke dunia ini. Yesus siap menerima resiko dari perutusan-Nya dan Yesus tetap setia, tidak mau menghindar dari tugas itu walau menghadapi resiko kematian. Sehingga penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus akhirnya menyelamatkan manusia. 

Dengan demikian, Yesus tidak gagal tetapi Yesus menang karena setia pada kasih-Nya kepada manusia, manasia akhirnya diperdamaikan dengan Tuhan dan manusia mendapat kesempatan untuk bersatu dengan Tuhan dalam kehidupan kekal. Yesus datang tidak menghapus kejahatan dan penderitaan tetapi justru menantang dan melawan semuanya itu dengan kasih dan pengorbanan yang pada akhirnya berbuah hidup kekal kepada manusia. Yesus sendiri kerap mengatakan kepada manusia bahwa para murid-Nya akan menghadapi penderitaan, perosalan hidup dan nyawa mereka terancam oleh karena nama-Nya. Dengan demikian, kita juga mengatakan bahwa beriman kepada Dia bukan berarti terbebas dari penderitaan, persoalan dan kejahatan. 

NAMA TUHAN AKAN DIMULIAKAN DALAM HIDUP 

Jelas bahwa beriman tidak menghilangkan penderitaan, persoalan dan kejahatan dari hidup ini. Jelas juga bahwa semuanya itu tidak berasal dari Tuhan. Kita ingat kembali apa yang dikatakan oleh Yesus tentang orang buta sejak dilahirkan, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”( Yoh 9:3) Yesus yang akhirnya wafat di salibkan, bukan gagal atau kalah, tetapi pemenang, karena Yesus setia pada kehendak Allah. Secara manusiawi memang seakan gagal, tetapi yang gagal adalah orang yang menolak dan membunuh Dia. 

Demikian juga halnya dalam hidup, secara manusiawi orang yang membuat orang lain menderita, mereka seakan menjadi pemenang dalam hidup ini. Mereka bukan pemenang dan bukan karena Tuhan berpihak kepada mereka. Mereka itu justru orang yang kalah, karena mereka dikalahkan oleh kejahatan sehingga kelak mereka akan masuk dalam kebinasaan hidup. Memang saat ini mereka tertawa, tetapi akhirnya mereka pasti akan menangis dan menderita dalam penderitaan kekal. Kalaupun mereka mengatakan bahwa kemenangan mereka karena kebaikan Tuhan dan Tuhan berpihak kepada mereka, itu samasekali tidak benar, karena Tuhan tidak pernah berpihak dan membenarkan kejahatan. Mereka akan mendapat hukuman akibat perbuatan mereka. Kita tidak mengharapkan demikian, tidak usah kita berharap demikian, karena tanpa kita minta, mereka pasti akan mengalaminya. 

Kita yang menderita karena ulah orang lain, bencana alam yang terjadi bukan karena kita kalah dan berosa. Semuanya itu terjadi bukan karena Tuhan, tetapi lewat semuanya itu nama Tuhan akan dimuliakan. Bukan penderitaan dan bencana alam itu yang akan memuliakan Tuhan, tetapi orang beriman yang tetap setia akan memuliakan nama Tuhan. Coba kita lihat, bahwa dalam setiap bencana alam, pasti banyak orang bersimpati dan memberikan bantuan kasih kepada mereka. Lewat peristiwa itu, nama Tuhan dimuliakan lewat perbuatan kasih banyak orang. Nama Tuhan juga dimuliakan lewat orang-orang yang mengalami penderitaan tetapi tetap setia kepada Tuhan. Bukan rahasia bahwa sering kita temukan bahwa banyak orang yang mengalami penderitaan dan bencana alam, tetapi mereka tetap setia beriman. Nama Tuhan dimuliakan lewat keteguhan iman mereka. Sebab mereka sanggup tetap teguh beriman, bukan dari dirinya sendiri tetapi Tuhan sendirilah yang menguatkan hati mereka yang tetap memberi semangat hidup kepada mereka. Dalam diri mereka ini Tuhan bekerja atau menyatakan diri. Tentu kita heran melihat orang yang menderita, dianiaya dan kena bencana alam tetapi mereka tetap ceria dan tetap teguh dalam iman. 

Dalam hidup mereka itu, nama Tuhan semakin dimuliakan, karena mereka mengajarkan iman yang hidup kepada kita. Selain itu, kita harus yakin bahwa dalam setiap penderitaan, persoalan dan bencana alam, Tuhan tetap hadir, Tuhan tidak jauh, Tuhan tidak menghukum dan tidak meninggalkan kita, Tuhan tetap beserta kita dan akan menyatakan mukijzat-Nya. Oleh sebab itu, ktia hendaknya tetap teguh dalam hidup, walau kita menderita, dianiaya dan menghadapi bencana alam. Biarlah lewat keteguhan iman kita, nama Tuhan semakin kita muliakan.

Paus : Allah menjadi Daging adalah sebuah Skandal!

Paus : Allah menjadi Daging adalah sebuah Skandal!

“Gereja bukanlah sebuah organisasi budaya,” tapi, “keluarga Yesus.” Ini adalah fokus dari homili Paus Fransiskus kepada umat beriman yang berkumpul pada Misa Sabtu pagi [01-06-2013] di kapel kediaman Paus, Domus Sanctae Marthae, di Vatikan. Paus mengatakan bahwa orang Kristen seharusnya tidak malu untuk hidup dengan skandal akan Salib, dan mendesak mereka tidak “terperangkap oleh roh dunia.” 

Paus Fransiskus mengambil pertanyaan yang diberikan kepada Yesus oleh para ahli Taurat dan imam-imam kepala, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal ini?” sebagai titik tolaknya. Sekali lagi, katanya, mereka sedang mencari [kesempatan] untuk mengatur perangkap bagi Tuhan, mencoba untuk menyudutkanNya, untuk memaksa Dia untuk berbuat kesalahan. Bapa Suci melanjutkan dengan bertanya mengapa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ingin mempermalukan Yesus. “Masalah yang dimiliki orang-orang tersebut,” kata Bapa Suci bukanlah soal Yesus yang telah melakukan mukjizat-mukjizat. Melainkan, ia menjelaskan, “Mereka terkejut karena setan-setan berseru kepada Yesus, ‘Engkau adalah Putra Allah, Engkau adalah Yang Kudus” Ini adalah hal sesungguhnya tentang Yesus yang menjadi skandal. “Dia adalah Allah yang berinkarnasi.” Bagi kita, juga, “mereka memasang perangkap-perangkap dalam hidup,” meskipun, “[itulah karakteristik] dari Gereja, yang menjadi skandal, adalah misteri Penjelmaan Sabda, dan, ini tidak dapat ditoleransi, iblis tidak mau menderita karena hal ini”: 

“Berapa kali kalian mendengar orang berkata: ‘Tapi kalian orang Kristen, jadilah sedikit lebih normal, seperti orang lain: yang masuk akal!’ Ini adalah ucapan si ular yang menggoda, sudah pasti: “Tapi, -yang normal-normal saja, OK? Sedikit lebih normal, jangan terlalu ketat.” Tapi di balik ini adalah: ‘Tolong, jangan datang dengan dongeng [kalian], tentang Allah yang menjadi manusia!’ Inkarnasi Sang Sabda: inilah skandal di balik itu (red-godaan si ular)! Kita bisa melakukan semua pekerjaan sosial yang kita inginkan, dan mereka akan mengatakan, ‘Betapa baiknya, Gereja, betapa baiknya karya sosial yang Gereja lakukan.’ Tetapi jika kita berkata bahwa kita melakukan ini karena orang-orang [yang kita bantu] itu adalah daging Kristus, muncul skandal. Dan itu adalah kebenaran, itulah wahyu Yesus: kehadiran Yesus yang berinkarnasi.” 

Dan “inilah poinnya,” kata Paus Fransiskus. “Selalu akan ada godaan untuk melakukan hal-hal baik tanpa skandal Inkarnasi Sang Sabda, tanpa skandal tentang Salib.” Sebaliknya, kita harus berada dalam “kebenaran dari skandal ini, dengan kenyataan ini yang menjadi skandal.” Itu adalah, “lebih baik dengan cara ini: konsistensi iman.” Paus lantas teringat bagaimana Rasul Yohanes mengatakan: “mereka yang menyangkal bahwa Sabda datang menjadi daging, adalah dari golongan antikristus, mereka adalah antikristus.” Sebaliknya, ia melanjutkan, “Hanya mereka yang mengatakan bahwa Sabda telah menjadi daging berasal dari Roh Kudus.” Paus Fransiskus kemudian berkata, “Kiranya baik bagi kita semua untuk berpikir demikian: Gereja bukanlah sebuah organisasi budaya yang [mencakup] karya agama dan karya sosial.”: 

“Gereja adalah keluarga Yesus. Gereja mengakui bahwa Yesus adalah Putra Allah yang datang dalam daging: itulah skandalnya, itulah alasannya mengapa mereka menganiaya Yesus. Alhasil, Yesus yang tidak ingin memberikan jawaban mengenai hal ini, untuk pertanyaan, ‘Dengan kuasa manakah Engkau melakukan ini?’ Dia [justru] menjawab imam besar. ‘Tapi, pada akhir dari: apakah Engkau Putera Allah? – Ya!’ Dia dihukum mati untuk itu. Ini adalah inti dari penganiayaan itu. Jika kita menjadi Kristen yang “wajar”, Kristen “sosial”, orang Kristen yang hanya melakukan kedermawanan, apa yang akan menjadi konsekuensinya? Kita tidak akan pernah memiliki martir: itu yang akan menjadi konsekuensinya.” 

 Saat, bagaimanapun juga, kita orang Kristen mengatakan kebenaran, bahwa “Putra Allah telah datang, dan telah menjadi daging,” ketika kita “mewartakan skandal Salib, penganiayaan akan datang, Salib akan datang,” dan “kita akan baik-baik saja,” karena “itulah hidup kita”: 

 “Kita mohon kepada Tuhan [agar kita] tidak menjadi malu untuk hidup dengan skandal Salib ini. [Kita mohon kepadaNya] akan kebijaksanaan: kebijaksanaan untuk memohon agar tidak terjebak oleh roh dunia, yang akan selalu memberikan kita saran-saran yang sopan, usulan-usulan yang santun, rencana-rencana yang baik – yang akan tetapi di belakang itu justru ada peniadaan fakta bahwa Sabda telah datang dalam daging, bahwa Sabda berinkarnasi. Hal itulah, yang pada akhirnya, menjadi skandal bagi mereka yang menganiaya Yesus, hal itulah menghancurkan pekerjaan setan. Maka jadilah itu.” 

Uskup Agung Havana, Kardinal Jaime Ortega, mengkonselebrasi Misa, dengan sekelompok pelayan awam Bapa Suci, the Gentlemen of His Holiness, dalam kongregasi. 

(AR) 
Paus Fransiskus, 
Domus Sanctae Marthae, 1 Juni 2013 
Diterjemahkan dari : www.news.va
Disadur dari: http://katolisitas.org

Berbagi Berita : Paus: Anda tidak boleh melayani dua “tuan”

Paus: Anda tidak boleh melayani dua “tuan” 

 Paus Fransiskus mengatakan orang Katolik tidak boleh menerima penghiburan dari roh dunia ini, tapi dari Roh Kudus. “Anda tidak boleh melayani dua tuan. Anda melayani Tuhan, lalu Anda juga melayani roh dari dunia ini, kita tidak boleh mencampur-adukan,” kata Paus Fransiskus di kapel, Domus Sancta Martha. “Sedikit Roh Kudus, sedikit roh dari dunia ini, tidak!” katanya pada 10 Juni selama homilinya. 

Paus mengatakan bahwa keselamatan itu ada “dalam penghiburan Roh Kudus, bukan penghiburan roh dari dunia ini.” “Keselamatan itu mendorong dan membuka hati kita sehingga orang dapat menerima penghiburan Roh Kudus, yang adalah keselamatan,” kata Paus. “Ini tidak bisa dikompromi, Anda tidak dapat mengambil sedikit dari sini dan sedikit dari sana,” tegasnya. Paus Fransiskus membuat komentar berdasarkan pada bacaan hari itu, 2 Korintus 1 dan Matius 5. Dia menjelaskan bahwa St. Paulus menggunakan kata “penghiburan” beberapa kali dalam bacaan pertama. 

“Ia berbicara kepada orang-orang Kristen yang masih muda iman mereka, orang-orang yang baru saja mulai mengikuti jalan Yesus,” kata Paus. “Mereka adalah manusia normal, tetapi mereka telah menemukan Yesus.” Dia mengatakan ini adalah pengalaman yang mengubah hidup bahwa “kekuatan khusus dari Allah yang dibutuhkan dan kekuatan ini adalah penghiburan.” “Penghiburan adalah kehadiran Allah dalam hati kita, tetapi kita harus membuka pintu,” jelasnya. 

 Paus Fransiskus kemudian menghubungkan bacaan pertama dengan bacaan Injil, yang mengingatkan ketika Yesus menyampaikan ucapan bahagia dalam khotbah di Bukit. Dia menjelaskan bahwa ucapan bahagia adalah “hukum bebas” dan orang “akan tampak konyol” jika tidak membuka hati kita bagi Roh Kudus. “Berbahagialah orang yang miskin, berbahagialah orang yang lemah lembut, berbahagialah orang yang murah hatinya, semuanya itu akan membawa kita kepada kesuksesan,” katanya. “Jika kita tidak memiliki hati yang terbuka dan jika kita tidak mengalami penghiburan dari Roh Kudus, yang adalah keselamatan, kita tidak dapat memahami hal ini,” tambahnya. 

Paus Fransiskus mengatakan ia yakin hati orang-orang yang tertutup terhadap keselamatan karena mereka takut dan orang-orang ingin tetap mengendalikan diri mereka sendiri. “Dalam rangka memahami perintah-perintah baru, kita membutuhkan kebebasan yang lahir dari Roh Kudus, yang menyelamatkan kita, yang menghibur kita dan pemberi kehidupan,” tambahnya. 

DI DEPAN MISTERI KEMATIAN

DI DEPAN  MISTERI  KEMATIAN

Rahasia kematian hari-hari ini menyapaku, amat menggugat dalam tanya dan memaksa merenunginya dalam rahasia agung Si Empunya kehidupan Tuhan Allah kita. Betapa tidak, seorang sahabat yang menjadi ibu keluarga bagi suami yang diplomat dengan dua putri dan satu putranya, dipanggil Tuhan begitu lekas dalam hitungan mingguan mendekati satu bulan karena kanker getah bening. 
Anak-anak itu satu per satu disapa dididik dengan mandiri oleh sang ibu; dikenalkan dengan makanan kesukaan masing-masing dan disiapkan dengan perkembangan pendidikan watak yang mandiri. Mereka juga menyayangi adik serta menghormati dan cinta ke orang tua dengan dialog-dialog terbuka membahas masalah dari yang sepele sampai yang berat. 

Bila diekstremkan, seluruh waktu si ibu diberikan pada keluarga dan anak-anak, mulai dari mengantar dan menjemput sekolah sampai menemani menjadi guru. Anak yang paling kecil dan duduk di bangku TK menjelang SD, meski lebih pintar berbahasa Inggris, tetap diajari bahasa Indonesia. 

 Maka ketika tiap kali menjadi tamu mereka di luar negeri, saya menemukan rumah dengan oase segar rohani. Karena tiap kali diundang oleh mereka untuk misa ibadah bersama, dilanjutkan dengan makan penuh syukur. 

Namun, itulah tadi, sang ibu sampai tidak memperhatikan dirinya sendiri. Suara bagus dan koor serta solislah satu-satunya ruang ia memuji Yang Ilahi dengan suara amat merdu. Ini menjadi sanctuary bagi spiritualitasnya dengan tangan jemari menderaskan Rosario doa untuk Bunda Maria agar menuju Yesus Tuhan; menjadi curahan hati dan rasa perasa yang hanya ia sendiri yang tahu di saat akhirnya ia tahu kanker getah bening akut menjalarinya. 

Dalam hening di misa requiem kematian, di RS Panti Rapih, Yogyakarta, ia tampaknya minta ke Tuhan untuk hari pemakamannya pada Minggu, 12 Mei 2013. Betapa dahsyat 

“banyak kebetulan-kebetulan yang merupakan tanda-tanda dari langit” karena udara cerah sekali hari itu. “Kebetulan” rekan-rekan suami yang di Departemen Luar Negeri berkumpul di Yogya, ada yang mantu sehingga kebanyakan mereka bisa hadir di sekitar peti pembaringannya yang wajahnya semakin siang semakin “tersenyum” seakan-akan memberi tahu untuk tidak bersedih. 

Wajah itu semakin “tersenyum” saat penantian putrinya yang ditunggu dari Kanada mendekati kedatangannya. Ada kebetulan aneh pula saat Sabtu-nya, jadi sehari sebelum di Yogya Panti Rapih, ada pertemuan reuni eks siswi-siswi SMP Santa Maria, teman-teman SMP-nya dahulu. 

Menjamah misteri kematian, terasakanlah misteri “kehadiran” atau presence dan “ketidakhadiran” atau absence. 

Mengapa ia dipanggil dari antara kami justru saat ia selalu mengusahakan agar kami semua sehat dan tidak sakit? Ia bersikap seperti Bunda Maria yang selalu menyimpan semuanya dengan diam mengheningkannya dalam doa dalam cakap-cakap dengan Tuhan sendiri. 

 Hari-hari ini pasti ketidakhadiran dirasakan sekali oleh anak-anak tercinta dan suami serta kami yang ditinggalkan. Being absent physically, pengalaman merasai absennya dalam sapa-sapa yang biasanya dirasakan oleh si kecil bungsu, si nomor dua lelaki dan si sulung yang ketika sudah datang dari terbang jauh ke tanah air lalu merangkul adik-adiknya dan bersama sang ayah menciumi ibu terus dengan bahasa hening mencekam Tuhan menghadapnya. 

Terasa sekali bagaimana dalam kitab suci Yesus yang menangisi kematian sahabat-Nya Lazarus di depan saudari-saudarinya Lazarus, yaitu Maria dan Marta. Suasana serupa hanya bisa ditangkap maknanya dalam iman akan kebangkitan manakala Yesus menyatakan “saudaramu akan bangkit”. Jadi yang absen adalah sosok fisik dan yang hadir adalah “ruh” yang didoakan semua dalam misa kudus untuk diampuni kesalahan dan diterima di pangkuan Allah di Surga. 

Dalam kematian yang “merenggut” seperti memutuskan langkah sesungguhnya justru ditunjukkanlah bahwa semua ada waktunya. Semua dibuat indah menurut kehendak-Nya (bukan kehendak kami manusia dan bukan pula tafsir waktu kami!) dibuat indah pada waktunya. 

Di sinilah terjawab bahwa kebetulan-kebetulan tadi menyatu di depan misteri kematian, hening merenungi selesainya tugasmu sebagai ibu yang hadir di dunia untuk anak-anakmu dan suami. Namun pada saat yang sama, engkau “hadir” kembali dengan pendampingmu, doamu, penyertaanmu lebih dekat dengan Tuhan kita. Kini anak-anak dan kami dengan berbahasa doa terus kauantarkan ke Tuhan dan bisa kami mintai tolong bahkan dalam suka dan duka hidup melaksanakan tugas panggilan ini sampai nanti pada saatnya kita masing-masing juga pasti akan kembali ke rumah Bapa tanpa tahu kapan itu terjadi. Karena itu kematianmu menjadi jalan iman menuju kebangkitan seperti janji Yesus yang setelah mati disalib. 

Dia pergi ke rumah Bapa menyediakan tempat bagi kita semua. Karena itu pula meski kami sedih, namun engkau terus hadir spiritually karena kami boleh meneladanmu dalam menjadi butir gabah yang mengorbankan diri untuk mencintai keluargamu, jatuh ke tanah dan mengelupas agar tumbuh padi-padi baru, ya anak-anakmu, suami dan kami semua yang dengan “mata iman baru” disadarkan di depan kematian bahwa kami terus sedang dalam perjalanan atau ziarah. 

Ziarahmu dengan suami dan anak-anak sebagai tim perjalanan tugas benar-benar kau hayati dari negara yang satu ke negara yang lain dan kini pasti pula “secara ruh” hadirmu akan menyertai suami, anak-anak dan mereka yang menyertaimu untuk terus berziarah dan bepergian nanti ke tujuan akhir kembali ke rumah Bapa. Doakan kami, doakan agar tempat di surga selalu ada untuk kami karena Yesus pergi ke Bapa bersamamu untuk menyediakan tempat di rumah Bapa. Selamat jalan dan selamat bertemu Bapa di Surga Icus. *Dalam Peringatan 7 harinya 17 Mei 2013, Mudji Sutrisno SJ adalah Budayawan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh shnews.co pada 8 Juni 2013
Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)