Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA PEKAN XV, 10 Juli 2011

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA PEKAN XV, 10 Juli 2011
Yes 55:10-11, Mzm 65:10abcd,10e-11,12-13,14, Rm 8:18-23,
Mat 13:1-23

BACAAN INJIL: Mat 13:1-23
“Seorang penabur keluar menaburkan benih.”

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

RENUNGAN:

Salam damai Yesus Kristus buat kita semua.

Seorang petani yang baik atau bijaksana pasti berusaha menanam bibit yang baik dan sebelum menanam bibit itu dia pasti mempersiapkan lahan yang baik pula. Petani itu akan berusaha membuat agar lahan atau ladang yang hendak ditanami bibit yang baik itu agar pada akhirnya menghasilkan buah yang baik pula. Tidak mungkin seorang petani yang baik, menaburkan benih yang baik ke sembarang ladang, tidak mungkin dia menaburkan benih itu ke ladang bila jelas-jelas ladang itu berbatu-batu, karena pasti dia tidak akan bisa mendapatkan hasil dari benih itu, walaupun benih itu baik. Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik dan banyak juga didukung oleh tanah tempat benih itu ditanam dan tumbuh.

Bila kita bandingkan cara kerja petani yang baik dengan sabda yang kita dengar hari ini tentu penabur yang digambarkan dalam Injil hari ini bukanlah seorang petani yang baik dan bijaksana. Sebab dengan jelas dikatakan bahwa penabur itu menaburkan benih yang baik di sembarang tempat, dia tidak memperhatikan ladang tempat dia menaburkan benih itu, apakah tanah itu subur atau tidak. Mungkin kita berpikir bahwa penabur itu bodoh karena menyia-nyiakan benih baik dengan menaburkan di sembarang tempat, atau mungkin penabur itu menghabmbur-hamburkan benih yang baik dengan sia-sia.

Memang benar bahwa Injil hari ini bukan berbicara tentang pertanian, tetapi jelas sebagaimana dikatakan dalam Injil hari ini, injil hari ini berbicara tentang Sabda Tuhan yang ditaburkan oleh Allah. Benih itu yakni Sabda Tuhan adalah benih yang memberi kehidupan dan kebahagiaan bagi manusia. Benih itu adalah sabda keselamatan dari Allah yang disampaikan kepada semua orang. Tuhan menaburkan sabda keselamatan kepada semua orang. Tuhan tidak memilih-milih kepada siapa sabda keselamatan itu diberikan. Itu artinya Tuhan menawarkan keselamatan kepada semua orang tanpa mempedulikan siapa orang itu karena Tuhan menghendaki semua orang selamat. Inilah gambaran cinta kasih Tuhan kepada semua orang. Ini juga yang digambarkan nabi Yesaya dalam bacaan bertapa, sabda Tuhan itu laksana air hujan yang turun dan membasahi semua bumi. Kasih Allah yang hendak menyelamatkan manusia diberikan kepada semua manusia dan tentu Allah juga berharap sabda keselamatan yang Dia berikan pada akhirnya menghasilkan buah.

Namun pada kenyataanya manusia yang mendengarkan sabda keselamatan itu tidah semuanya menjadi lahan yang baik dan subur untuk sabda itu sehingga tidak menghasilkan buah. Sebagaimana yang digambarkan oleh Yesus dalam injil tadi, ada orang yang mendengar sabda itu tetapi tidang menanggapinya bahkan mungkin menganggap bahwa sabda keselamatan yang mereka dengarkan itu tidak masuk akal dan tidak relevan dengan kehidupan sekarang yang mengandalkan pikiran, kekuasaan, pangkat dan kekayaan. Bagi mereka sabda keselamatan yang mereka dengarkan tidak lebih hanya sekedar kagum, tetapi tidak mempedulikannya. Orang yang mendewakan pikiran, logika, harta, perjuangan, pangkat dan kuasa, merekalah gambaran ladang yang berbatu-batu.

Ada pula orang yang mendengarkan sabda keselamatan itu, mengaguminya dan berusaha menerima kebenaran sabda itu. Namun sayang mereka tidak berusaha mengolah dan menghayatinya. Orang demikian adalah orang yang kurang percaya kepasa kuasa Allah karena mereka lebih memusatkan perhatian pada kehidupannya sehingga ketika ada muncul kekhawatiran hidup, sabda yang mereka dengarkan tidak berbuah apa-apa bagi hidup mereka. Mereka itu layaknya seperti orang yang rajin ke Gereja, mendengarkan sabda Tuhan tetapi pikirannya sibuk dengan hidup dunianya, sibuk dengan pikiran dan kehendak pribadi. Orang yang demikian juga bisa dikatakan adalah orang yang tidak punya pendirian yang jelas sehingga dia gampang mengiyakan apa saja yang dia dengar, tetapi tidak meresap dalam hatinya. Orang demikian juga seperti orang yang mendengarkan sabda ketika beribadah tetapi setelah pulang sabda itu tidak meresap dalam hidupnya.

Tanah subur. Tanah subur menggambarkan orang yang rendah hati serta terbuka terhadap aneka kesempatan dan kemungkinan, terbuka terhadap aneka macam nasihat, ajaran dan saran. Ia bagaikan seorang perempuan yang dalam keadaan subur menerima benih sperma dari seorang laki-laki langsung berbuah artinya hamil. Ia memiliki nafsu besar untuk segera ditaburi benih alias dikasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh alias kekuatan. Dengan kata lain tanah subur melambangkan juga orang yang siap sedia untuk dikasihi, dibentuk, dibina dan dituntun. Dikasihi pada masa kini memang sulit, dan orang maunya mengasihi saja, sulit menerima dan maunya memberi terus menerus. Apakah kita termasuk orang yang mudah dikasihi, dibina, dibentuk atau dituntun?

Nah para saudaraku, jelaslah bagi kita sabda Tuhan yang kita dengar adalah benih kehidupan yang memberi kita hidup dan kebahagiaan. Tetapi sabda yang diberikan oleh Allah kepada semua orang tidak berbuah, bukan karena Tuhan memberikan benih yang baik kepada orang-orang tertentu saja, bukan karena Tuhan tidak memelihara hidup orang itu, bukan pula karena Allah tidak menghendaki orang itu selamat. Tetapi karena orang yang mendengarkan sabda itu tidak hidup sebagai ladang yang subur. Hal itu bisa terjadi karena mereka hidup dalam bahwa Tuhan telah menyediakan apa yang perlu bagi hidupnya. Pemazmur menyadarkan kita bahwa Tuhan telah menyediakan hidup yang baik kepada kita, senantiasa mengaliri dengan rahmat dan berkat-Nya sehingga menghasilkan buah setiap saat. Namun kita kurang percaya dan meyakininya sehingga hidup kita tidak menjadi lahan yang subur atas sabda Tuhan.

Oleh karena itu, baiklah kita berusaha menjadikan diri dan hidup kita menjadi lahan yang subur sehingga sabda Tuhan yang kita dengarkan tumbuh dalam diri kita sehingga mengubah hidup kita sesuai dengan Sabda itu dan pada menghasilkan buah yang berlipat ganda. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesaya dalam bacaan pertama hari ini, kasih karunia Tuhan dicurahkan kepada semua orang, berkat-Nya juga diberikan kepada setiap orang seperti hujan yang membasahi semua bumi. Namun Tuhan mengharapkan kebaikan-Nya menghasilkan buah dan tidak kita sia-siakan, “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yes 55:11). Maka semoga kita berusaha menjadikan hidup kita menjadi ladang yang subur untuk sabda Tuhan. Amin.

OGEN WARI MINGGU SI SEMAL XV, 10 Juli 2011 (Bahasa Karo)

OGEN WARI MINGGU SI SEMAL XV, 10 Juli 2011 (Bahasa Karo)
Yes 55:10-11, Mzm 65:10abcd,10e-11,12-13,14, Rm 8:18-23,
Mat 13:1-23

OGEN SIPEMENA: Yes 55:10-11

“Udan mpebur doni dingen ngasilken sinua-sinuan.”

0 Bali ras udan sinusur i langit nari, lanai mulih ku datas tapi litap ibanna doni, si mahanca turah sinuan-sinuan, si ngelitken benih ras nakan man pangan, bage me pe kata si Kubelasken, la mulihken man bangKu alu sia-sia, tapi isehkenna kai si Kurencanaken, dingen ilakokenna kai Kusuraken.

MAZMUR PENGALO-NGALO : Mzm 65:10abcd,10e-11,12-13,14,
Reff.: Tuhan rende kami, ngataken bujur Bandu.

1. Taneh si enggo tenggala ieng-nengiNdu alu lau, dingen gulbakna lipat ibahanNdu, alu udan megabur ibahanNdu taneh e, janah sinuan si mbaru ipebali-baliNdu.
2. Perbahan liasNdu ipasu-pasuNdu sinuan-nuan, kuja pe Kam lawes ije pangan riba-riba. Mbal-mbal dem alu asuh-asuhen, uruk-uruk ermtikken keriahen.

3. Reben-reben iusi alu biri-biri, berneh-berneh tempa-tempa icabini alu page si megersing. Kerina kami ersuark-surak, janah rende perban riahna.

OGEN SIPEDUAKEN: Rm 8:18-23,

“Kerina si enggo ijadiken Dibata tertima-tima alu metedeh ae ndigan Dibata mpetangkas kemulian anak-anakna.”

Rikutken perkiranku maka kiniseran si inanami kita genduari labo kai kal pe e adi ibandingken ras kemalemen ate si pagin ipetangkas Dibata man banta. Kerina si enggo ijadiken Dibata tertima-tima alu ate metedeh ndigan Dibata mpetangkas kemulian anak-anakna. Sabap kerina si ijadiken Dibata e enggo lanai erguna, labo erkiteken sura-surana jine, tapi erkiteken bage me sura-sura Dibata. Amin bage gia lit arapen. Sabap i bas sada wari pagi ibebasken Dibata me kerina si enggo ijadikenNa e i bas perbudaken si erbahanca ia kernep, gelah ia merdeka janah ngenanami kebebasen dingen kemulian ras kerina anak-anak Dibata. Sabap ieteh maka seh paksa si genduari enda kerina si enggo ijadiken Dibata kelsehen ras-ras dingen seh kal akapna suina desken sekalak pernanden si nandangi mupus. Janah labo e saja, tapi kita pe si enggo ngaloken Kesah selaku jaminen i bas pemere-pemere Dibata si nandangi iberekenNa man banta, kelsehen nge nimai Dibata ndungi pengangkatenta jadi anak-anakNa, e me nebusi badanta
dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

BERITA SI MERIAH: Mat 13:1-23
“Lit me sekalak perjuma lawes me ku juma ngamburken benih.”

Jenari ngerana Jesus man kalak si nterem bage pe man ajar-ajarNa, nina, "Guru-guru agama ras kalak Parisi e, si nerusken ajar-ajaren Musa kap. E maka ikutkenlah kai si ikatakenna man bandu. Tapi ola usih si ibahanna, sabap kai si iajarkenna la idalankenna. Baban si mberat iampekenna ku bara kalak tapi ia sitik pe la nggit mabasa. Ntah kai gia ibahanna, tujunna e me gelah ia idah kalak. Perdiatekenlah tulisen ayat-ayat Pustaka Si Badia si ililetken i perdempakenna ras i bas pergelangen tanna! Bage pe perdiatekenlah ambu-ambu uisna si nggedang! Lit kenca kerja-kerja kundul ia arah ingan si mehamat, janah i bas rumah pertoton pe arah lebe ia kundul; atena gelah mehamat kalak man bana i tiga janah atena ikataken kalak ia 'Guru'. Tapi kam, ola kam nggit ikataken kalak 'Guru', sabap sada ngenca Gurundu, janah kam kerina ersenina. Ola ise pe i doni enda ikatakenndu 'Bapa', sabap sada ngenca Bapandu e me Dibata. Bage pe ola kam nggit ikataken kalak 'Peminpin', sabap sada ngenca Peminpinndu, e me Mesias si ipadanken Dibata. Ise si mbelinna i bas kam, ialah si ngelai kam kerina. Ise si peganjangken bana, ipeteruk Dibata me, janah ise si peteruk bana, ipeganjangken Dibata me Ia." "Andiko, cilaka kal kam o, guru-guru agama, janah kam pe o, kalak Parisi! O, kalak pekulah-kulah! Iolang-olangindu kalak gelah ola bengket ku bas Kinirajan Surga. Kam jine la nggit jadi rayat Kinirajan Surga, janah kalak si deban pe iolang-olangindu. [Andiko, cilaka kal kam o, guru-guru agama, janah kam pe o kalak Parisi! O, kalak pekulah-kulah! Ibuatndu erta-erta diberu si enggo mbalu jenari ibahanndu pertoton si nggedang i lebe-lebe jelma si nterem. Perbahan si enda, kugapa pe reh beratna ukumenndu.] Andiko, cilaka kal kam o guru-guru agama, janah kam pe o, kalak Parisi! O, kalak pekulah-kulah! Isiarindu lawit ras daraten si mbelang guna ndatken sekalak jelma gelah ikutkenna agamandu; tapi kenca idatndu, ijadikenndu ia jadi calon naraka si dua kali lipat jahaten asangken kam. Andiko, cilaka kal kam, o peminpin-peminpin si pentang! Sabap nindu, 'Adi lit kalak ersumpah i bas gelar Rumah Pertoton, sumpahna e la esah; tapi adi ersumpah i bas gelar emas si lit i bas Rumah Pertoton, sumpahna e esah.' Kam kalak motu dingen pentang! Apai kin pentingen, emas ntah Rumah Pertoton si erbahanca emas e badia? Bage pe nindu, 'Adi lit kalak ersumpah i bas gelar batar-batar ingan ersembah, sumpahna e la esah; tapi adi ersumpah kalak i bas gelar persembahen si lit i datas batar-batar e, sumpahna e esah.' Kam kalak pentang! Apai kin pentingen, persembahen ntah batar-batar si erbahanca persembahen e badia? Dage ise ersumpah i bas batar-batar, ia ersumpah i bas gelar batar-batar ras i bas gelar persembahen si lit i datas batar-batar e. Bage pe ise ersumpah i bas gelar Rumah Pertoton, ia ersumpah i bas gelar Rumah Pertoton ras i bas gelar Dibata si ringan i je. Ise ersumpah i bas gelar Surga, ia ersumpah i bas gelar kursi Kinirajan Dibata ras i bas gelarNa si kundul i bas kursi e. Andiko, cilaka kal kam o, guru-guru agama, janah kam pe o, kalak Parisi! O, kalak pekulah-kulah. Ipersembahkenndu man Dibata sepersepuluh i bas ulihndu nuan-nuan nari, seh maka jera, lenga ras serei pe ipersembahkenndu. Tapi si pentingna i bas Undang-undang la iperdiatekenndu, e me kap keadilen, keleng ate, ras kinibujuren. Si enda arus idalankenndu alu la ngelupaken si debanna.

BACAAN HARI MINGGU BIASA PEKAN XV, 10 Juli 2011

BACAAN HARI MINGGU BIASA PEKAN XV, 10 Juli 2011
Yes 55:10-11, Mzm 65:10abcd,10e-11,12-13,14, Rm 8:18-23,
Mat 13:1-23

BACAAN I: Yes 55:10-11

“Hujan membuat bumi subur.”

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm 65:10abcd,10e-11,12-13,14,
Reff.: Benih jatuh di tanah subur dan menghasilkan buah.

1. Tanah kami Kaukunjungi dengan kelimpahanMu, Kaubuat kaya dan subur. Air langit Kaucurahkan ke ladang, membuat tanah menjadi subur. Demikianlah Engkau mengerjakannya.
2. Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya.

3.(65-12) Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak;
tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit berikatpinggangkan sorak-sorai;

4. padang-padang rumput berpakaikan kawanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan gandum, semuanya bersorak-sorai dan bernyanyi-nyanyi.

BACAAN II: Rm 8:18-23,

“Segenap makhluk dengan rindu menantikan saat kemuliaan anak-anak Allah dinyatakan.”

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

BACAAN INJIL: Mat 13:1-23

“Seorang penabur keluar menaburkan benih.”

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.

Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, SABTU 9 Juli 2011 (Agustinus Zhao Rong, Hermina, Yohana Scopelli, Nikolaus Pick)

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, SABTU 9 Juli 2011
(Agustinus Zhao Rong, Hermina, Yohana Scopelli, Nikolaus Pick)
Kej 49:29-32, 50:15-26a, Mzm 105:1-2,3-4,6-7, Mat 10:24-33

BACAAN INJIL:
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

RENUNGAN:
Ada orang yang pernah bertanya, “Kalau kita sedang makan di restoran atau di tempat umum atau di rumah makan islam, berdoa sebelum makan dan membuat tanda salib tentu sangat sulit. Maka apakah kita bisa membuat tanda salib kecil di makanan yang kita makan supaya tidak dilihat orang? Dalam hal ini kita tidak hendak menjawab apa bisa atau tidak, tetapi jelas intinya adalah rasa takut untuk menunjukkan iman kepada orang lain. Sering alasan yang dibuat adalah juga demi menghargai orang lain atau pemilik restoran yang tidak seiman dengan kita. Apakah memang dengan berdoa dan membuat tanda salib di hadapan orang lain yang tidak seiman merupakan sikap yang salah dan tidak menghargai iman orang lain? Ada pula yang dengan sengaja mengganti agamanya di KTP demi suatu tujuan misalnya jabatan dan bahkan ada yang dengan mudah pindah ke agama lain demi tujuannya dan juga karena takut bila tetap dengan agama Kristiani dia tidak akan naik jabatan.

Inilah sebagian fenomena kehidupan beriman kristiani dalam hidup dengan agama lain yang mayoritas. Hal yang juga memprihatinkan adalah bahwa umat katolik kadang kala ‘menyembunyikan’ imannya bukan hanya di hadapan orang yang non kristiani, bahkan juga di hadapan sesama kristen sendiri yakni yang protestan. Sehingga jangankan bersaksi dengan mewartakan kerajaan Allah, menghayati iman secara terang-terangan saja kita seringkali sulit dan takut dengan segala resiko dari iman kita. Kita seringkali takut kepada sesama atau manusia, tetapi kita tidak takut kepada Allah. Ketakutan kita juga bukan kepada sesama, tetapi kita takut kehilangan kehendak atau kesenangan pribadi sehingga kita tidak mau sungguh menghayati iman kita dan bersaksi akan Allah.

Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita akan resiko akan iman dan pewartaan kita. Yesus tahu resiko dan ketakutan kita. Yesus juga tahu bahwa seringkali kita mencari-cari alasan untuk tidak setia pada iman dan pewartaan kita. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita bahwa hidup kita sungguh sangat berharga bagi-Nya sehingga Dia pasti memelihara hidup kita. Suatu perbandingan yang indah bahwa hidup kita dibandingkan dengan burung pipit yang diperjual belikan dan merupakan binatang kecil yang kurang berharga saja juga dipelihara oleh Tuhan, apalagi kita manusia yang merupakan secitra dengan Dia.

Maka dalam menjalani hidup iman dan pewartaan kita, rasa takut boleh saja ada dalam diri kita, tetapi ketakutan itu hendaknya jangan berlebihan dan jangan kita jadikan alasan untuk tidak sama sekali. Sebab percayalah bahwa Tuhan memelihara hidup kita karena kita sangat berharga bagi Tuhan. Kita juga hendaknya tidak menjadikan ketakutan menjadi alasan untuk bersaksi akan Kristus, sebab ingatlah Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga." Kata-kata Yesus ini hendaknya menjadi teguran dan peringatan bagi kita yang selama ini tidak menghayati iman kita dan tidak bersaksi akan Yesus Tuhan. Semoga Roh Kudus menguatkan kita untuk hidup dalam iman dan menjadi saksi-saksi Kristus. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Kamis 7 Juli 2011 (Maria Romero Meneses)

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Kamis 7 Juli 2011
(Maria Romero Meneses)
Kej 44:18-21,23b-29,45:1-5, Mzm 105:16-17,18-19,20-21, Mat 10:7-15

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. “

BACAAN INJIL:
Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

RENUNGAN:
“Beli dua, gratis 1.” Beginilah sering bahasa iklan dalam menjual produk mereka, karena memang manusia umumnya suka yang gratis. Dalam dunia bisnis walaupun terkadang dikatakan gratis, tentu mereka sudah memperhitungkan keuntungan, karena tentu mereka tidak mau rugi dalam usaha. Siapa yang mau rugi dalam usaha. Tetapi masih adakah yang gratis dalam hidup sekarang ini? Sekarang ini semua harus dibeli, malah harga-harga semakin malah dan butuh pengorbanan, seakan tidak ada lagi yang gratis. Karena itulah umumya kita menganggap bahwa yang ada pada kita misalnya harta, kedudukan dan pangkat adalah karena usaha keras dan perjuangan kita, tidak diperoleh dengan gratis. Kiranya kita sudah sulit melihat bahwa Allah masih berperan dalam kehidupan kita dan juga terutama dalam sukses yang kita peroleh.

Mental seperti ini juga sudah merasuki dalam kehidupan menggereja. Seringkali ada umat yang mengusulkan agar para pengurus Gereja juga mendapatkan gaji tetap, karena saat ini sulit mencari orang yang sungguh-sungguh mau berkorban untuk pelayanan, mungkin dengan mendapatkan gaji, banyak orang yang mau menjadi pengurus Gereja. Mungkin saja ada orang yang berpikir bahwa kalau sekiranya para imam mendapatkan gaji sesuai dengan pendidikan mereka, bisa menjadi kaya walau tidak menikah, mungkin banyak yang mau menjadi imam. Pemikiran nakal ini bisa saja muncul karena manusia sekarang masuk dalam prinsip bahwa semuanya diperoleh dengan perjuangan dan bayaran yang besar. Hal ini juga bisa dikaitkan dalam para imam. Para imam harus menjalani pendidikan selama kurang lebih 9 tahun dan harus hidup selibat dan menghayati 3 kaul. Sehingga rasanya menjadi imam juga bukan gratis dalam arti tanpa perjuangan dan pengorbanan. Namun syukurlah, pemikiran demikian belum ada dalam benak para imam hingga saat ini.

Walaupun demikian, bukan suatu rahasia bahwa dalam kehidupan pelayanan Gereja juga sudah seringkali kita temui bahwa pelayan harus dihargai dalam pelayanannya. Kerapkali dikatakan bukan gaji, upah tetapi penghargaan atau uang lelah. Namun yang kerak terjadi, seorang pengkotbah yang terkenal sudah membuat tarif sekali mengundang beliau. Rasanya tidak ada seorang pelayan atau pengkotbah terkenal mau menghadiri pelayanan atau menerima tawaran pelayanan kalau tidak mendapatkan upah yang pantas atau tanpa bayaran. Kalau bayaran yang ditawarkan tidak memuaskan, bisa saya mereka berkilah bahwa mereka sudah sangat sibuk karena ada kegiatan pelayanan di tempat lain.

Hari ini Yesus mengatakan kepada kita agar kita pergi mewartakan Kerajaan Allah. Dalam tugas pewartaan itu, kita sudah memperoleh dengan cuma-cuma sehingga kita harus membagikannya dengan cuma-cuma pula. Dengan sabda ini kita diingatkan kembali bahwa Allah sudah memberi kita hidup, Dia pulalah yang sebenarnya memberkati dan menyelenggarakan hidup kita dengan berkat-Nya sehingga hidup yang kita terima itu pada akhirnya menghasilkan buah lewat pekerjaan dan usaha keras kita. Dia memberi kita kehidupan dan berkat-Nya adalah bukan karena jasa kita tetapi terlebih-lebih hanya karena Dia mengasihi kita. Maka dengan menyadari ini, kita patutlah dan sudah selayaknya menjalankan tugas perutusan kita dengan penuh sukacita dan membagikan sukacita yang telah kita peroleh kepada sesama dengan cuma-cuma pula.

Sabda Yesus ini mengingatkan kita agar kita waspada jangan sampai kita jatuh pada mentalitas balas saja dalam karya pelayanan kepada sesama. Juga lewat sabda hari ini, kita diajak untuk yakin bahwa bila kita menjalankan tugas perutusan dengan penuh sukacita tanpa mengharapkan imbalan, balasa jasa, Allah sendiri pasti akan membalasnya dengan berkat berlimpah. Kita tidak usah mengharapkan balas jasa dari pelayanan atau dari orang yang kita layani, sebab Allah sendiri telah memberi kita dan ketika kita membagikannya, Allahpun akan semakin memberi kita kepercayaan yang lebih besar lagi. Amin.

Berbagi Berita : Rencana pembangunan gereja baru ditolak

Rencana pembangunan gereja baru ditolak

Pemerintah telah menolak permintaan seorang uskup untuk membangun gereja baru di keuskupannya, dengan alasan tidak mendapat restu dari umat Budha setempat.

Kemarin Menteri Agama menulis surat kepada Uskup Kurunegala Mgr. Harold Anthony Perera, memberitahukan kepadanya bahwa pemerintah tidak bisa memberikan ijin karena hal itu akan merusak hubungan antara umat Buddha dan Katolik di Hendiyagala dekat Pannala.

“Mereka mengatakan mereka tak bisa memberi ijin karena umat Buddha berkeberatan,” kata Uskup Perera.

Ia mengatakan akan mengajukan banding kepada pemerintahan pusat setelah otoritas setempat di Pannala sebelumnya telah menolak permintaan serupa.

Menurut uskup Parera, gereja itu untuk menggantikan sebuah bangunan sementara yang dibangun tahun 1997 untuk lebih dari 100 keluarga Katolik, dan sudah terbakar pada 13 Mei.

Umat Katolik menduga kaum ekstremis Buddha bertanggungjawab atas pembakaran gereja dan pelemparan Patung St. Maria ke sungai. Patung itu ditemukan kembali pada 3 Juli.

Keputusan pemerintah itu dikeluarkan menyusul pembahasan alot antara umat Buddha dan Katolik di kantor kementrian itu pada Selasa, termasuk sejumlah biksu dan pastor, untuk mencoba menyelesaikan masalah itu.

Pertemuan itu diadakan setelah kementrian itu menerima laporan dua pemerintahan setempat yang menjelaskan mengapa mereka menolak rencana uskup itu.

Menurut M. S. Kapukotuwa, pejabat kementrian itu, dalam pertemuan itu umat Buddha kembali menegaskan penolakan mereka atas rencana pembangunan gereja di sebuah desa yang mayoritas beragama Buddha.

Penolakan keras itu membuat para biksu beradu argumen sengit dengan para imam dan pejabat, kata pembantu sekretaris senior dari Bimas Buddha itu.

Alasan utama penolakan mereka adalah kecurigaan bahwa Katolik akan melakukan Kristenisasi terhadap umat Buddha, tambah wanita itu.

Pastor Linus Mcleod, dari paroki setempat, membantah hal itu kemarin, dan mengatakan bahwa 100 keluarga Katolik yang tinggal di wilayah itu membutuhkan bangunan yang permanen.

“Jika mereka tidak memiliki sebuah gereja mereka harus berjalan ke Nalawalana yang berjarak lebih dari empat kilometer. Beberapa dari umat sudah lanjut usia dan tidak bisa berjalan kaki ke sana,” katanya.

Government refuses new church plan

Disadur dari : www.cathnewsindonesia.com, Tanggal publikasi: 15 Juli 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Kamis 7 Juli 2011 (Maria Romero Meneses)

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Kamis 7 Juli 2011
(Maria Romero Meneses)
Kej 44:18-21,23b-29,45:1-5, Mzm 105:16-17,18-19,20-21, Mat 10:7-15

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. “

BACAAN INJIL:
Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

RENUNGAN:
“Beli dua, gratis 1.” Beginilah sering bahasa iklan dalam menjual produk mereka, karena memang manusia umumnya suka yang gratis. Dalam dunia bisnis walaupun terkadang dikatakan gratis, tentu mereka sudah memperhitungkan keuntungan, karena tentu mereka tidak mau rugi dalam usaha. Siapa yang mau rugi dalam usaha. Tetapi masih adakah yang gratis dalam hidup sekarang ini? Sekarang ini semua harus dibeli, malah harga-harga semakin malah dan butuh pengorbanan, seakan tidak ada lagi yang gratis. Karena itulah umumya kita menganggap bahwa yang ada pada kita misalnya harta, kedudukan dan pangkat adalah karena usaha keras dan perjuangan kita, tidak diperoleh dengan gratis. Kiranya kita sudah sulit melihat bahwa Allah masih berperan dalam kehidupan kita dan juga terutama dalam sukses yang kita peroleh.

Mental seperti ini juga sudah merasuki dalam kehidupan menggereja. Seringkali ada umat yang mengusulkan agar para pengurus Gereja juga mendapatkan gaji tetap, karena saat ini sulit mencari orang yang sungguh-sungguh mau berkorban untuk pelayanan, mungkin dengan mendapatkan gaji, banyak orang yang mau menjadi pengurus Gereja. Mungkin saja ada orang yang berpikir bahwa kalau sekiranya para imam mendapatkan gaji sesuai dengan pendidikan mereka, bisa menjadi kaya walau tidak menikah, mungkin banyak yang mau menjadi imam. Pemikiran nakal ini bisa saja muncul karena manusia sekarang masuk dalam prinsip bahwa semuanya diperoleh dengan perjuangan dan bayaran yang besar. Hal ini juga bisa dikaitkan dalam para imam. Para imam harus menjalani pendidikan selama kurang lebih 9 tahun dan harus hidup selibat dan menghayati 3 kaul. Sehingga rasanya menjadi imam juga bukan gratis dalam arti tanpa perjuangan dan pengorbanan. Namun syukurlah, pemikiran demikian belum ada dalam benak para imam hingga saat ini.

Walaupun demikian, bukan suatu rahasia bahwa dalam kehidupan pelayanan Gereja juga sudah seringkali kita temui bahwa pelayan harus dihargai dalam pelayanannya. Kerapkali dikatakan bukan gaji, upah tetapi penghargaan atau uang lelah. Namun yang kerak terjadi, seorang pengkotbah yang terkenal sudah membuat tarif sekali mengundang beliau. Rasanya tidak ada seorang pelayan atau pengkotbah terkenal mau menghadiri pelayanan atau menerima tawaran pelayanan kalau tidak mendapatkan upah yang pantas atau tanpa bayaran. Kalau bayaran yang ditawarkan tidak memuaskan, bisa saya mereka berkilah bahwa mereka sudah sangat sibuk karena ada kegiatan pelayanan di tempat lain.

Hari ini Yesus mengatakan kepada kita agar kita pergi mewartakan Kerajaan Allah. Dalam tugas pewartaan itu, kita sudah memperoleh dengan cuma-cuma sehingga kita harus membagikannya dengan cuma-cuma pula. Dengan sabda ini kita diingatkan kembali bahwa Allah sudah memberi kita hidup, Dia pulalah yang sebenarnya memberkati dan menyelenggarakan hidup kita dengan berkat-Nya sehingga hidup yang kita terima itu pada akhirnya menghasilkan buah lewat pekerjaan dan usaha keras kita. Dia memberi kita kehidupan dan berkat-Nya adalah bukan karena jasa kita tetapi terlebih-lebih hanya karena Dia mengasihi kita. Maka dengan menyadari ini, kita patutlah dan sudah selayaknya menjalankan tugas perutusan kita dengan penuh sukacita dan membagikan sukacita yang telah kita peroleh kepada sesama dengan cuma-cuma pula.

Sabda Yesus ini mengingatkan kita agar kita waspada jangan sampai kita jatuh pada mentalitas balas saja dalam karya pelayanan kepada sesama. Juga lewat sabda hari ini, kita diajak untuk yakin bahwa bila kita menjalankan tugas perutusan dengan penuh sukacita tanpa mengharapkan imbalan, balasa jasa, Allah sendiri pasti akan membalasnya dengan berkat berlimpah. Kita tidak usah mengharapkan balas jasa dari pelayanan atau dari orang yang kita layani, sebab Allah sendiri telah memberi kita dan ketika kita membagikannya, Allahpun akan semakin memberi kita kepercayaan yang lebih besar lagi. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Rabu 6 Juli 2011 (Maria Goretti)

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Rabu 6 Juli 2011
(Maria Goretti)
Kej 41:55-57,42:5-7a,17-24a, Mzm 33:2-3,10-11,18-19, Mat 10:1-7

BACAAN INJIL:
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

RENUNGAN:
Kalau kita melihat dan mendalami latar belakang para murid, tampak bagi kita bahwa para murid memiliki latar belakan yang berbeda-beda baik dari segi pendidikan maupun dari segi ekonomi. Yesus memilih para murid tidak berdasarkan kelas ekonomi atau pendidikan, tetapi Dia memilih para murid yang mau mengikuti-Nya. Yesus tentu tahu bagaimana hati dan pribadi para rasul yang dipilih-Nya. Mungkin kita berpikir, ‘Mengapa Yesus tidak memilih para rasul dari kalangan terpelajar dan dari kalangan kelas orang kaya? Sebab kerap dalam kehidupan manusia, bila seorang terpelajar dan orang kaya yang berbicara, pasti akan dengan mudah didengarkan dan mereka akan lebih pintar dalam menyampaikan sesuatu.” Itulah pikiran manusia, tetapi kehendak Yesus lain. Sebab memang tugas yang akan diemban oleh para Rasul adalah dalam mewartakan Kerajaan Allah yang tidak mengandalkan kepintaran dan harta. Dalam tugas perutusan para murid, Yesus sendiri mempersiapkan mereka dan Dia sendiri memberi kuasa-Nya kepada mereka sehingga mereka dimampukan dalam mewartakan kerajaan Allah. Juga yang terpenting adalah panggilan dan perutusan para murid adalah menyangkut iman. Dengan demikian, dalam tugas pewartaan para rasul, mereka mewartakan bukan ilmu tentang Allah tetapi iman akan Allah yang meluap dari iman dan penghayatan mereka sendiri.

Bermenung dari Injil hari ini, jelaslah bahwa Yesus memanggil dan mengutus semua yang percaya kepada-Nya untuk ikut mewartakan kerajaan Allah. Semua yang percaya dipanggil dan diutus mewartakan kerajaan Allah tanpa memandang status sosial dan pendidikan. Sehingga kiranya tidak ada alasan kepada kita mengatakan bahwa kita tidak mampu karena kita tidak mempunya pendidikan yang cukup. Sebab persoalannya adalah apakah kita percaya kepada Yesus atau tidak. Kalau kita sungguh percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tentu kita berusaha untuk semakin mengenal Yesus dan ajaran-ajaran-Nya serta menghayatinya. Dalam perutusan itu, kita juga harus ingat bahwa Tuhan sendiri akan memberi kuasa-Nya kepada kita supaya kita dimampukan untuk menjalankan tugas perutusan kita. Dengan demikian kita mengandalkan bukan pendidikan, kepintaran atau harta. Untuk kita kita perlu selalu mendekatkan diri kepada Yesus, agar kuasa-Nya itu tinggal dan berdiam dalam diri kita. Juga perlu kita ingat, dalam tugas perutusan ini yang kita wartakan adalah bukan ilmu agama, tetapi iman akan Yesus Kristus. Penghayatan iman kita yang berbuah dalam kehidupan, justru tidak membutuhkan kata-kata atau kepandaian berkotbah. Artinya Iman kita yang hidup, itulah bentuk pewartaan kita yang lebih terpenting. Maka semoga kita juga menyadari panggilan dan tugas perutusan kita dalam mewartakan Kerajaan Allah. Amin.

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Selasa 5 Juli 2011

RENUNGAN HARI BIASA PEKAN 13, Selasa 5 Juli 2011
Kej 27:1-5,15-29, Mzm 135:1-2,3-4,5-6, Mat 9:14-17

BACAAN INJIL:

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

RENUNGAN:
“Menjadi imam? Siapa mau.” Mungkin kalimat ini terdengar dari kaum muda saat ini, karena sadar menjadi imam bukanlah hal yang mudah selain merupakan panggilan dari Tuhan, bukan cita-cita yang bisa dikejar dan diperjuangkan. Jangankah menjadi imam, menjadi pengurus Gereja saja sudah merupakan pelayanan yang berat. Saat ini sulit mencari anak muda yang mau menjadi imam dan demikian juga umat yang sungguh-sungguh mau menjadi pengurus Gereja.

Sering kita mendengar bahwa saat ini dikatakan masa krisis panggilan menjadi imam. Sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena bila dibuat data lengkap, setiap tahun masih ada tahbisan imam dan mungkin rata-rata ada 10 atau lebih imam baru. Hanya memang pertambahan imam tidak sebanding dengan pertambahan jumlah umat. Pertambahan jumlah umat yang begitu banyak merupakan suatu kegembiraan, namun juga menjadi suatu tantangan karena pertambahan imam dan pekerja dalam pelayanan Gereja

hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Hal itu kiranya benar juga saat ini, karena pertumbungan imam tidak sebanding dengan besarnya pertumbuhan umat sehingga banyak umat yang kurang mendapat pelayanan dari imam dan para pekerja. Misalnya saja Paroki Tigalingga terdiri atas 27 stasi dengan hanya dilayani oleh 2 orang imam, sehingga umat tidak bisa setiap saat merayakan perayaan ekaristi, ibadat hari minggu hanya dipimpin oleh awam pengurus Gereja. Situasi yang demikian bisa kita mengerti bahwa umat kurang mendapat pelayanan dalam pembinaan iman dan juga ekaristi. Namun itulah kenyataan yang terjadi dan menjadi keprihatinan bersama. Dalam situasi demikian, diharapkan adanya awam yang membantu para imam menjadi pengurus Gereja, namun inipun kadangkala sulit karena memang menjadi pekerja di dalam Gereja adalah bukan jabatan, bangkat dan juga jalan mendapatkan kekayaan, tetapi lebih pada pelayanan dan pengorbanan.

Keprihatinan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita bersama sehingga kita mau dan bersedia bekerja di ladang Tuhan yakni dengan membantu para imam dalam pelayanan Gereja. Kalaupun kita sebagai orang tua tentu tidak bisa lagi menjadi imam, namun paling tidak sebagai awam mau ikut aktif dalam tugas pelayanan Gereja dan lebih penting lagi, para orang tua berperan aktif mencari dan menanamkan panggilan kepada kaum muda dan terutama bagi anak-anak sendiri. Kita sering berharap agar banyak panggilan menjadi imam, tetapi kita sendiri tidak ikut memikirkannya dan malah tidak rela membimbing anak-anak sendiri agar mau menjadi imam.

Lebih parah lagi, kita tidak bisa menjadi imam ataupun pengurus Gereja, hanya sebagai awam biasa, tetapi kita sendiri tidak ikut mendoakan dan pendukung para imam atau para pekerja di ladang Tuhan. Kita lebih sering hanya berharap dilayani, berharap dan menuntut dan bahkan hanya mengkritik para imam atau para pekerja di ladang Tuhan. Padahal kita sendiri tidak mau menjadi pekerja itu karena tahu menjadi pekerja di Gereja bukanlah hal mudah, merupakan suatu pengorbanan dan pelayanan.

Nah, lewat sabda hari ini dan keprihatinan yang masih terjadi saar ini, mari kita tidak hanya berdoa agar Tuhan mengirimkan pekerja untuk tuaian, tetapi kita sendiri mau menjadi pekerja awam, kita sendiri menanamkan panggilan kepada kaum muda, kepada anak-anak kita dan kita sendiri mendoakan, mendukung dan membantu para pekerja, khususnya para imam. Amin.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)