Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Renungan : Minggu 24 Oktober 2010

Minggu 24 Oktober 2010 MINGGU XXX/C/2010
Sir 35:12-14.16-18 2 Tim 4:6-8.16-18 Luk 18:9-14

Hidup yang senantiasa rendah hati, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.


PENGANTAR:
Pernah dalam satu kunjunga ke rumah seseorang yang ada di kota besar, si tuan rumah mengatakan, “Wah pastor, sudah biasa para pastor datang ke rumah ini, dan kalau pastor-pastor berkunjung ke kota ini dan membutuhkan bantuan, selalu memberitahukan ke kita dan bahkan terkadang menginap di rumah ini.” Juga mereka menceritakan panjang lebar beberapa gereja atau paroki yang sudah mereka bantu dalam mencari dana. ‘Uraian dan kesaksiannya’ memang sangat menarik, benar atau tidak hal itu, hanya beliau dan Tuhan yang tahu.

RENUNGAN:
Salah satu kebiasaan kita yang seringkali tanpa sadar kita lakukan adalah sikap membanggakan diri dan membanggakan apa yang telah kita lakukan. Bila kita melakukan sesuatu hal yang baik, seringkali kita berharap agar orang lain mengetahuinya dan mengharapkan pujian dari orang. Bahkan tidak sedikit orang yang dengan cara halus mewartakan perbuatan baiknya. Kata orang, sikap demikian bila sangat berlebihan, biasaya sangat cenderung untuk menilai orang lain dan bahwa akan menganggap orang yang tidak melakukan seperti yang mereka lakukan, akan mereka anggap berdosa. Mungkin hal itu tidak mereka ungkapkan, tetapi dalam hati sikap menilai jelek itu akan ada dalam hati mereka. Hal demikian diperparah juga dengan sikap manusia yang seringkali menggap orang lain itu berguna, baik bila mereka melakukan suatu perbuatan besar, membantu mereka.
Sikap ‘pamer’ atau menyombangkan diri ini juga mungkin sudah mewabah ke dalam Gereja. Tidak sedikit orang yang datang ke Gereja bukan dengan ketulusan hati untuk bersyukur dan memuji Tuhan. Ada orang yang sengaja datang terlambat, lalu maju ke depan dengan santainya padahal upacara sudah di mulai, sehingga banyak orang yang melirik kepadanya dan akhirnya melihat pakaian atau asesoris yang digunakannya. Mungkin itupulah yang diharapkannya, yakni agar semua orang melihat penampilannya dan pakaian yang dikenakannya. Jadi Gereja jadi ajang pamer mode pakaian terbaru. Adapula yang menyumbang Gereja dengan harapan diumumkan. Ketika pastor atau petugas lupa mengumumkannya, orang tersebut langsung marah-marah dan mencak-mencak dan berpikir bahwa sumbangannya sudah disalahgunakan pastor atau pengurus gereja lainnya.
Masih banyak contoh yang kita dapatkan sehubungan dengan sikap pamer dan membanggakan diri, kesalehan diri dan perbuatan baiknya.

Sehubungan dengan hal ini, Yesus sungguh luar biasa dalam mengajarkan bahwa kesombongan tidak berkenan di hadapanNya. Yesus mengajarkannya lewat perumpamaan dua orang yang datang ke Gereja, 1 orang farisi dan 1 lagi seorang pemungut cukai. Orang Farisi itu berada diurutan paling depan dan dalam doanya dia ‘mewartakan dirinya dan kebaikan-kebaikannya. Dia melaporkan kepada Tuhan bahwa dia adalah orang baik. Orang Farisi itu sungguh memuji dirinya benar dan memanggakan dirinya dan apa yang telah dilakukannya. Sedangkan pemungut cukai itu berada di bangku paling belakang dan dalam doanya dia mengakui kesalahan, kedosaannya di hadapan Tuhan. Pemungut cukai itu dengan tunduk dan menepuk dada memohon belaskasihan Tuhan atas kedosaannya.
Dari dua orang itu, justru pemungut cukai itulah yang dibenarkan oleh Tuhan. Sepintas mendengar hal ini, tentu kita berpikir dan bertanya, “Mengapa Tuhan justru membenarkan memuji dan membenarkan pemungut cukai itu? Padahal dia jelas-jelas sudah melakukan perbuatan dosa. Orang Farisi itu dalam doanya jelas-jelas ‘melakukan perbuatan baik’, tapi malah tidak dipuji dan dibenarkan oleh Tuha. Apakah Tuhan mendukung perbuatan jahat?
Tentu maksud dari perumpamaan ini bukan berate Yesus membenarkan perbuatan pemungut cukai, membenarkan perbuatan jahat dan tidak mendukung perbuatan baik. Hal yang mau disampaikan Yesus bukan soal itu, tetapi soal sikap batin dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh orang Farisi itu baik, dan Tuhan pasti mendukung hidup dan perbuatan baik. Kesalahan dan kekurangan dari orang Farisi itu adalah sikap sombong, pamer diri dan kebaikannya di hadapan Tuhan. Kesombangan inilah yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sikap sombong atau menyombongkan diri, pada dasarnua orang tersebut menganggap hidup dan apa yang dilakukan, keberhasilannya adalah karena perjuangannya, kerja kerasnya, bukan karena kasih karunia atau berkat pertolongan Tuhan. Orang yang demikian biasanya sulit untuk menyadari belaskasih dan karunia Tuhan akan hidup dan keberhasilannya. Sikap sombong pada umumnya akan jatuh pada sikap merasa tidak membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Kalaupun tetap bertahan dalam identitas sebagai orang beriman atau beragama, itu hanya semata-mata karena tuntutan hidup social, bukan karena percaya akan Tuhan yang merupakan sumber hidup dan berkat. Demikian halnya, orang yang senang menyombongkan diri akan jatuh pada sikap menghina atau merendahkan orang lain. Orang demikian akan dengan mudah menilai negative akan orang lain. Dan inilah yang kita dengarkan tadi dalam doa orang farisi tersebut. Orang Farisi itu berdoa bukan terarah pada Tuhan tetapi terarah pada dirinya sendiri dan membicarakan dirinya sendiri.
Lain halnya dalam doa pemungut cukai tadi. Dia menyadari kedosaan dan kehinaannya di hadapan Tuhan dan memohon belaskasihan Tuhan. Ini suatu sikap kesadaran dan pengenalan diri sebagai orang berdosa yang mengharapkan belaskasihan Tuhan atas dirinya. Sikap inilah yang dipuji oleh Tuhan dan dibenarkan, bukan perbuatan jahat yang telah dilakukan pemungut cukai tersebut.
REFLEKSI:
Dengan demikian, lewat warta hari ini kita dapat mengambil suatu permenungan:
1. Sikap rendah hati di hadapan Tuhan, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.
2. Orang yang rendah hati, mengenal diri dan menyadari kedosaannya dan pada akhirnya selalu mengharapkan belaskasihan Tuhan.
3. Sikap rendahati, merupakan awal yang baik untuk pertobatan hidup.
4. Sikap rendah hati terbuka dan sadar akan berkat yang ada pada sesame dan berani menghargai sesamanya.
5. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan atau yang kelihatan saja, tetapi dia lebih memperhatikan ketulusan dan kerendahan hati kita.
6. Tuhan sungguh Allah yang berbelaskasih, dia selalu siap menyambut kita orang berdosa asal kita dengan tulus hari memohon belaskasiha dari-Nya.
Maka mari kita berlomba untuk bersikap rendah hati, maka hidup kita akan semakin lebih baik. Amin.

Catatan Kecil Mudika

Mudika berbicara tentang dirinya sebagai Generasi pembaharu bangsa dan Gereja.
Generasi muda sekarang ini dikatakan larut dalam arus perkembangan zaman. Banyak gambaran atau pandangan negative yang ditujukan kepada kaum muda sekarang ini. Juga ada yang mengeluhkan kaum muda yang tidak peduli lagi dengan hidup imannya, tidak mau lagi aktif dalam kehidupan menggereja. Mudika seakan sudah juah dari Gereja. Pandangan itu tentu tidak akan disetujui oleh kaum muda. Bila mendengar pandangan negative tersebut, kamu muda pasti akan tersinggung dan memberi jawaban bahwa pendapat itu dilontarkan oleh generasi muda pada zaman dahulu, atau orang tua yang tidak bisa menerima zaman modern dan yang tidak mengerti bahwa kaum muda sekarang bagaimanapun harus menjadi anak dari zamannya. Mungkin saja kaum muda itu mengatakan bahwa orang tua yang melontarkan pandangan demikian adalah karena mereka cemburu melihat kaum muda sekarang dapat menikmati perkembangan zaman yang tidak mereka dapatkan pada zaman mereka. Kalau hal ini diperpanjang, tentu akan menjadi suatu perdebatan panjang, masing-masing pasti akan memberi argument untuk membenarkan pendapatnya.

Sebenarnya hal tersebut tidak perlu harus diperdebatkan panjang, karena bagaimanapun kaum muda adalah tetap anak-anak bangsa, generasi penerus bahkan generasi yang kita harapkan menjadi pembaharu hidup ke hidup yang lebih baik lagi. Bagaimanapun kaum muda sekarang harus hidup dan bisa menyesuaikan hidup mereka sesuai dengan situasi dan kondisi mereka. Tidak mungkin kaum muda sekarang menghadapi hidup sekarang dengan gaya hidup tahun-tahun masa lampau, tentu tidak akan banyak kesesuain lagi. Yang penting adalah bagaimana orang tua mendampingi kaum muda sesuai pribadi mereka, sesuai dengan dunia mereka sekarang ini. Bahkan seharusnya para orang tua atau para pendamping kaum muda harus bisa lebih memahami kedaan kuam muda sekarang dan harus lebih bijaksana dalam pendampingan, karena bagaimanapun kerasnya dan tuntutan hidup yang dihadapi kaum muda sekarang jauh lebih besar dan lebih berat bila dibandingkan dengan tahun masa lampau.
Memang mungkin penilaian negative yang dilontarkan kepada kaum muda bisa terjadi karena ulah beberapa kaum muda yang tidak mampun menyesuaikan diri dengan zaman mereka. Namun itu bukan menjadi gambaran semua kaum muda. Kalaupun itu terjadi, tentu kita tidak hanya bisa mempersalahkan kaum muda atau pihak-pihak tertentu. Bisa saja mereka demikian karena mereka tidak mendapatkan arahan atau pendampingan dari para ‘pendamping’ yang harusnya mendampingi mereka, bisa saja terjadi justru karena kesalahan orang tua atau orang dewasa yang harusnya mendampingi mereka. Juga bisa jadi mereka tidak menemukan wadah untuk mengekspresikan diri mereka sebagai kaum muda. Namun demikian, tidak baik saling mempersalahkan, tetapi sangat lebih baik dan bijak bila kaum tua dan kaum muda saling bergandengan tangan dalam hidup bersama. Penilaian negative yang ditujukan kepada kaum muda, bisa jadi salah satu yang membuat beberapa kaum muda akhirnya terhayut dengan kemajuan zaman yang menjerumuskan mereka ke hidup yang tidak baik.

Tugas siapakah untuk memperhatikan dan mendampingi kaum muda?
Seringkali para orang tua mengatakan bahwa tugas itu adalah tugas para pendidik atau sekolah. Orang tua menganggap bahwa tugas mereka hanya mencari nafkah untuk sekolah anak-anak mereka dan tugas memparhatikan dan membimbing anak-anak mereka adalah para guru atau pedidik. Tidak sedikit orang tua yang menganggap demikian karena merasa sudah ‘membayar’ gaji para guru dengan uang sekolah anak-anak mereka. Tidak jarang pula terjadi, bila ada kaum muda yang berbuat tidak baik, para orang tua atau banyak orang mempersalahkan para pendidik. Benar para pendidik atau guru juga mendapat tugas demikian, tetapi itu bukan sepenuhnya menjadi tanggungjawab mereka. Semua kita seharusnya ikut memperhatikan dan mendampingi kaum muda, baik itu pihak orang tua, pendidik, masyarakat, lembaga agama dan bahkan kaum muda itu sendiri. Kaum mudapun harus memperhatikan dan mendampingi sesama kaum muda itu sendiri. Namun yang lebih berperan dalam hal ini adalah orang tua atau keluarga. Bila orang tua dalam keluarga sudah menanamkan nilai-nilai luhur, nilai-nilai baik kepada anak-anaknya di dalam keluarga, itu menjadi fondasi hidup kaum muda itu sendiri sehingga seberapa berat dan besarnya pengaruh hidup, karena mereka sudah memiliki fondasi hidup yang kuat dalam keluarga, mereka akan mampu menghadapi dan menyesuaikan diri dengan sebaik-baiknya dengan hidup zaman mereka. Fondasi yang kuat dalam keluarga akan membuat mereka mampun menyaring hal-hal baik dari zamannhya. Baru setelah itu, pendampingan dari luar keluarga, baik itu sekolah atau lembaga pendidikan, lembaga masyarakat dan lembaga agama akan semakin menambah atau penyempurnakan kematangan pribadi kaum muda itu sendiri.

Kaum Muda butuh teladan?
Kadang kala mengatakan sesuatu yang baik itu mudah, tetapi melakukannya sulit. Kaum muda adalah pribadi yang masih dalam tahap hidup berkembang. Untuk sampai pada suatu pribadi yang matang dan dewasa, merek membutuhkan pendampingan, perhatian, bimbingan dan terutama teladan hidup. Saat ini mungkin bisa dikatakan banyak ajaran-ajaran dan bimbingan yang diberikan kepada kaum muda, tetapi mereka sulit menemukan tokoh atau teladan yang menghidupi pengajaran yang mereka dapatkan. Selain kaum muda kehilangan arah pegangan hidup juga kehilangan tokoh teladan buat mereka. Salah satu hal, kaum muda dididik untuk jujur padahal mereka menemukan bagitu banyak orang yang tidak jujur dalam hidup ini. Hal in bisa membuat kaum muda mempetanyakan nilai ajaran kejujuran yang mereka dapatkan. Jadi selain suatu pengajaran, arahan, bimbingan, kaum muda juga membutuhkan ‘pengajaran’ yang dapat mereka saksikan sendiri. Selain itu juga kaum muda perlu melihat suatu perhatian dan pendampingan itu juga terdapat suatu pengorbanan, bukan hanya sekedar nasihat.
Dalam hal ini, kami sharing pengalaman kecil sebagai mudika, apa yang kami bagikan itu mungkin contoh kecil atau sepele, tetapi kami melihatnya suatu hal yang berguna.
Di paroki kami yang kecil dan pedesaan, pastor pada pelayanan hari minggu ke gereja-gereja stasi, selalu mengajak dan membawa beberapa mudika. Dengan hal itu, secara tidak langsung pastor menanamkan sikap pelayanan kepada mudika. Kami tahu bahwa pastor bisa saja pergi naik sepeda motor dan itu lebih menguntungkan bagi paroki. Kami katakana demikian karena, kami tahu bila pastor bawa kendaraan ke stasi itu berarti biaya perjalanan atau transportasi lebih banyak bila hanya naik sepeda motor. Pada umumnya, jumlah kolekte yang dibawa dari stasi tidak dapat menutupi biaya transportasi, bahkan separohpun tidak tertutupi. Jadi dalam hal ini, kami tahu bila pastor naik mobil ke stasi supaya mudika bisa ikut, paroki secara financial sebenarnya rugi, apalagi kami tahu bahwa ekonomi paroki kami tidak besar bahkan boleh dikatakan ‘mendapat subsisi’ dari keuskupan. Namun walaupun demikian, pastor mau melakukannya dan kami tahu itu adalah cara mereka menanamkan nilai pelayanan dan perhatian kepada kami mudika. Mudikapun sangat menghargai hal itu dan kami akan selalu mengingatnya.
Itu salah salah contoh yang mungkin sederhana, kecil dan sepele yang kami alami, tetapi bagi kami hal itu sangat berguna. Ini mungkin hal biasa, dan pasti akan lebih besar lagi yang dialami mudika-mudika yang ada di paroki perkotaan. Tetapi dari hal inti, kami mau mengatakan bahwa kaum muda juga membutuhkan bentuk nyata perhatian, pembinaan dan pengorbanan dalam perwujudannya.
Demikian kiranya catatan kecil yang bisa kami bagikan.

KEUSKUPAN DI INDONESIA

DAFTAR KEUSKUPAN DI INDONESIA

PEMBAGIAN MENURUT PROVINSI GEREJAWI

I. Provinsi Gerejawi Medan:
01. Keuskupan Agung Medan
02. Keuskupan Sufragan Sibolga
03. Keuskupan Sufragan Padang.

II. Propinsi Gerejawi Palembang:
01. Keuskupan Agung Palembang
02. Keuskupan Sufragan Pangkalpinang
03. Keuskupan Sufragan Tanjungkarang

III. Propinsi Gerejawi Jakarta:
01. Keuskupan Agung Jakarta
02. Keuskupan Sufragan Bogor
03. Keuskupan Sufragan Bandung

IV. Propinsi Gerejawi Semarang:
01. Keuskupan Agung Semarang
02. Keuskupan Sufragan Purwokerto
03. Keuskupan Sufragan Surabaya
04. Keuskupan Sufragan Malang

V. Provinsi Gerejawi Pontianak:
01. Keuskupan Agung Pontianak
02. Keuskupan Sufragan Sanggau
03. Keuskupan Sufragan Sintang
04. Keuskupan Sufragan Ketapang
VI. Propinsi Gerejawi Samarinda:
01. Keuskupan Agung Samarinda
02. Keuskupan Sufragan Banjarmasin
03. Keuskupan Sufragan Palangka Raya
04. Keuskupan Sufragan Tanjung Selor.

VII.. Propinsi Gerejawi Makassar
01. Keuskupan Agung Makassar
02. Keuskupan Sufragan Manado
03. Keuskupan Sufragan Amboina.

VIII. Propinsi Gerejawi Ende:
01. Keuskupan Agung Ende
02. Keuskupan Sufragan Larantuka
03. Keuskupan Sufragan Ruteng
04. Keuskupan Sufragan Denpasar
05. Keuskupan Sufragan Maumere .
IX. Propinsi Gerejawi Kupang :
01. Keuskupan Agung Kupang
02. Keuskupan Sufragan Weetebula
03. Keuskupan Sufragan Atambua:

X. Provinsi Gerejawi Merauke :
01. Keuskupan Agung Merauke
02. Keuskupan Sufragan Agats-Asmat
03. Keuskupan Sufragan Jayapura
04. Keuskupan Sufragan Sorong -
Manokwari
05. Keuskupan Sufragan Timika
PEMBAGIAN MENURUT REGIO

I. Regio Sumatera :
01. Keuskupan Agung Medan
02. Keuskupan Sufragan Padang
03. Keuskupan Agung Palembang
04. Keuskupan Sufragan
Pangkalpinang
05. Keuskupan Sufragan Sibolga
06. Keuskupan Sufragan Tanjung
Karang .

II. Regio Jawa :
01. Keuskupan Agung Jakarta
02. Keuskupan Sufragan Bogor
03. Keuskupan Sufragan Bandung
04. Keuskupan Agung Semarang
05. Keuskupan Sufragan Purwokerto
06. Keuskupan Sufragan Surabaya
07. Keuskupan Sufragan Malang

III. Regio Kalimantan:
01. Keuskupan Agung Pontianak
02. Keuskupan Sufragan Sanggau
03. Keuskupan Sufragan Sintang
04. Keuskupan Sufragan Ketapang
05. Keuskupan Agung Samarinda
06. Keuskupan Sufragan Tanjung
Selor
07. Keuskupan Sufragan Banjarmasin
08. Keuskupan Sufragan Palangka
Raya
IV. Regio Sulawesi & Maluku :
01. Keuskupan Agung Makassar
02. Keuskupan Sufragan Amboina
03. Keuskupan Sufragan Manado.

V. Regio Nusa Tenggara :
01. Keuskupan Agung Ende
02. Keuskupan Sufragan Larantuka
03. Keuskupan Sufragan Ruteng
04. Keuskupan Sufragan Denpasar
05. Keuskupan Agung Kupang
06. Keuskupan Sufragan Atambua
07. Keuskupan Sufragan Weetebula
08. Keuskupan Maumere

VI. Regio Papua :
01. Keuskupan Agung Merauke
02. Keuskupan Sufragan Agats-Asmat
03. Keuskupan Sufragan Jayapura
04. Keuskupan Sufragan Sorong-Manokwari
05. Keuskupan Sufragan Timika



Disadur dari Situs KWI...

PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-26, TAHUN 2011 DI MADRID

PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-26, TAHUN 2011 DI MADRID
"Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus,
berteguh dalam iman"
(bdk. Kol 2:7)

"Sahabat muda terkasih,
Saya sering mengingat kembali Hari Orang Muda Sedunia di Sidney pada tahun 2008 silam. Di sana, kita merayakan pesta iman, saat Roh Allah secara giat bekerja di tengah-tengah kita semua, dan membangun komunitas rohani yang secara sungguh-sungguh dapat saling berbagi dalam satu iman, di antara para peserta yang datang dari berbagai belahan dunia. Pertemuan tersebut, seperti perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, berbuah lebat dalam hidup banyak orang muda dan hidup Gereja. Sekarang kita menuju Hari Orang Muda Sedunia berikutnya, yang akan terselenggara di Madrid pada bulan Agustus 2011. Mengingat kembali masa pada tahun 1989, beberapa bulan sebelum hari bersejarah keruntuhan tembok Berlin, peziarahan orang muda seperti ini pernah dilakukan di Spanyol pula, waktu itu di Santiago de Compostela. Sekarang, saat masyarakat Eropa sedang dalam kebutuhan besar untuk menemukan kembali akar Kekristenan mereka, pertemuan kita akan mengambil tempat di Madrid, dengan tema : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2: 7). Saya menyemangati Anda untuk mengambil bagian dalam peristiwa ini, yang merupakan peristiwa penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja sedunia. Saya mengajak kalian semua orang muda, baik yang saling berbagi iman dalam Yesus Kristus, maupun kalian yang ragu dalam ketidakpastian, atau kalian yang tidak percaya akan Dia, untuk berbagi pengalaman ini, yang akan membuktikan kepastian hidup kalian. Inilah pengalaman akan Tuhan Yesus yang bangkit dan hidup, dan pengalaman akan kasihNya bagi kita masing-masing.

1. Pada sumber Keinginanmu yang terdalam

Dalam setiap periode sejarah kehidupan, termasuk periode kita, banyak orang muda memiliki kerinduan yang mendalam akan relasi pribadi, yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak dari mereka membangun hubungan persahabatan yang tulus, untuk mengenal cinta sejati, untuk memulai hidup berkeluarga yang diharapkan manunggal bersatu, untuk mencapai kepenuhan pribadi dan kemapanan hidup yang nyata, serta semua hal yang menjamin masa depan yang bahagia dan tenang. Ketika mengenangkan masa muda saya sendiri, saya tersadar bahwa kemapanan dan perasaan aman nyaman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pemikiran generasi muda. Memang cukup benar, bahwa pentinglah memiliki pekerjaan agar dengan itu memiliki pijakan yang kokoh. Namun selain itu, tahun-tahun masa muda merupakan juga waktu, saat kita mencari yang terbaik dari hidup kita. Ketika saya membayangkan kembali masa muda itu, saya ingat semua bahwa kita tidak ingin hidup nyaman demi kehidupan dalam kelas menengah yang mapan. Kita menginginkan sesuatu yang besar, sesuatu yang baru. Kita ingin menjelajahi kehidupan itu sendiri, dalam semua keagungan dan keindahannya. Secara alamiah, tahap itu merupakan bagian dari kehidupan yang kita alami. Selama kediktatoran Nazi dan peperangan, dapat dikatakan pada masa itu, semua orang terkungkung oleh segala peraturan dan batasan yang diciptakan oleh struktur yang sedang berkuasa. Maka, semua orang saat itu ingin mendobrak segala batasan: menginginkan adanya kebebasan, keterbukaan yang memungkinkan kita meraih peluang sebagai manusia. Saya berpikir, bahwa dorongan untuk mendobrak segala batasan yang ada, pada jangkauan tertentu, selalu menandai jiwa orang muda dari masa ke masa. Bagian dari menjadi muda, ialah hasrat akan sesuatu di balik hidup harian dan pekerjaan yang mapan, suatu kerinduan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih besar.
Apakah ini hanya mimpi yang akan memudar dan akhirnya menghilang jika kita menua? Tidak! Pria maupun perempuan, diciptakan untuk sesuatu yang besar, untuk sebuah keabadian. Tiada pernah cukup. Santo Agustinus benar ketika ia mengatakan: "Hati kami belum tenang, sampai menemukan istirahat di dalam Engkau".
Hasrat untuk mencari kehidupan yang lebih bermakna merupakan tanda bahwa Tuhan menciptakan kita, agar mengemban citra diri-Nya. Tuhan adalah Sang Kehidupan, dan itulah sebabnya kita ciptaanNya selalu berusaha untuk menggapai dan menggenggam kehidupan. Karena manusia diciptakan dengan citra Allah, maka kita menggapai kehidupan dengan cara yang unik dan istimewa. Kita selalu berusaha untuk menggapai cinta, suka cita , dan damai. Jadi dapatlah kita lihat, betapa mustahil apabila kita berpikir bahwa kita dapat sungguh-sungguh hidup dengan menyingkirkan Allah dari gambar hidup kita! Tuhan adalah sumber kehidupan. Mengenyampingkan Allah berarti kita telah memisahkan diri kita dari sumber kehidupan, dan berarti kita telah memisahkan diri dari sumber sejati kebahagiaan, suka cita, dan damai. "Tanpa Sang Pencipta, makhluk ciptaan hilang melenyap" (Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 36). Di beberapa belahan dunia, terutama kehidupan di belahan dunia Barat, budaya mereka saat ini cenderung menyingkirkan Tuhan dari segala aspek dan segi kehidupan, dan memandang bahwa iman kepercayaan adalah urusan pribadi, tanpa memiliki hubungan dan relevansi apapun dengan kehidupan. Sekalipun segugus nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat berasal dari Injil, seperti nilai martabat pribadi, nilai solidaritas, nilai kerja, dan nilai berkeluarga, namun kita menyaksikan suatu "gerhana Tuhan" yang pasti, semacam amnesia (penyakit lupa) akan sejarah, sebuah penolakan Kristianitas, pengingkaran khasanah iman Kristen, sebuah pengingkaran yang bisa membawa kita pada hilangnya jati diri kita yang paling dalam.
Untuk alasan inilah, para sahabat, saya mendorong kalian untuk memperkuat iman kalian akan Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Kalian adalah masa depan masyarakat dan Gereja. Seperti Rasul Paulus telah menulis untuk umat di Kolose : Pentinglah memiliki akar, dasar yang kokoh. Perkara ini secara sebagian, benar untuk zaman kita sekarang. Banyak orang tidak memiliki titik acuan yang kokoh, tempat mereka membangun hidup, dan karena nya mereka sungguh merasa tidak aman. Saat ini ada mentalitas relativisme yang berpaham bahwa alasan adanya setiap hal cukup kuat dari dirinya sendiri, serta bahwa suatu kebenaran dan titik acuan yang mutlak, tidak pernah ada. Namun, jalan pikiran seperti ini tidak akan pernah mengarahkan kita kepada kebebasan sejati, tetapi lebih mengacu kepada ketidakstabilan, kebingungan, kompromi buta terhadap keisengan zaman ini. Sebagai orang muda, kalian berhak untuk mewarisi dari generasi pendahulu, titik acuan yang kokoh bagi kalian untuk menolong kalian membuat pilihan, dan membangun hidup di atasnya, bagaikan tunas muda yang membutuhkan dorongan yang mantap hingga bisa membenamkan akar tunggangnya dalam-dalam, tumbuh menjadi pohon kuat yang mampu menghasilkan buah lebat.

2. Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus

Untuk menekankan betapa pentingnya iman bagi hidup umat Allah, kepada kalian saya ingin menyampaikan renungan saya, perihal tiga kata yang digunakan oleh St. Paulus dalam ungkapan : "Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman" (bdk. Kol 2:7). Kita dapat membedakan tiga buah gambaran berikut ini: "Berakar" mengingatkan kita pada pohon dan akar yang memberi makan pohon itu. "Dibangun" mengacu pada susunan sebuah rumah; "Berteguh" menunjukkan pertumbuhan fisik dan susila. Ketiga gambaran ini sangat tepat. Sebelum memberi ulasan mengenai ketiga kata tersebut, saya tunjukkan bahwa menurut tata bahasa, ketiga kata itu dalam teks aslinya berbentuk kata kerja pasif. Berarti, Kristus sendirilah yang berkehendak untuk menanam, membangun, dan menguatkan kaum beriman.
Gambaran pertama ialah mengenai sebuah pohon yang dengan kokoh ditanam, yang berterima kasih kepada akar yang telah menopang dan memberi makanan kepadanya. Tanpa akar-akar itu, pohon akan roboh ditiup angin dan mati. Apakah akar kita? Secara alamiah, orangtua, keluarga dan kebudayaan negara kita merupakan unsur-unsur penting dari jati diri pribadi kita. Namun Kitab Suci mewahyukan unsur yang lebih lagi. Nabi Yeremia menuliskan: "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah" (Yer 17:7-8). Bagi Nabi Yeremia, berakar dalam Tuhan berarti menyerahkan kepercayaan kepada Tuhan. Dari Dia, kita melukis hidup kita. Tanpa Dia, kita tidak bisa benar-benar hidup. "Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam anak-Nya" (1 Yoh 5:11). Yesus sendiri menyatakan kepada kita, bahwa Dia sendirilah kehidupan kita (bdk. Yoh 14:6). Sebagai akibatnya, iman Kristen bukanlah hanya suatu kepercayaan bahwa suatu hal tertentu merupakan kebenaran, melainkan lebih dari itu, iman Kristen merupakan suatu hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Iman kita ialah suatu perjumpaan dengan Sang Putra Allah yang memberikan tenaga pada seluruh keberadaan kita. Ketika kita memasuki hubungan pribadi dengan Dia, Kristus menyingkapkan jati diri kita yang asli, dan dalam persahabatan denganNya, hidup kita bertumbuh menuju kepenuhan yang lengkap. Ada saatnya ketika kita mengalami masa muda, ketika bertanya: Apa makna hidup saya? Manakah tujuan dan arah yang harus kuberikan pada hidup saya? Saat itu merupakan saat penting, dan pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bisa membuat kita cemas untuk beberapa lama. Kita mulai mempertanyakan mengenai jenis pekerjaan yang harus kita pilih, pola hubungan-hubungan yang harus kita bangun, persahabatan yang harus kita pelihara.
Di sinilah, suatu saat, saya melihat kembali masa muda saya. Saya agak cukup dini menyadari, mengenai kenyataan bahwa Tuhan menghendaki saya menjadi imam. Kemudian setelah masa peperangan berakhir, saat saya di seminari dan universitas dalam jalur menuju tujuan imamat itu, saya harus melihat kembali kepastian cita-cita saya itu. Saya harus bertanya diri: sungguhkan ini jalur yang harus saya jalani? Apakah benar jalan ini merupakan kehendak Tuhan bagi saya? Apakah saya akan mampu bertahan setia bagiNya dan sepenuhnya melayani Dia? Keputusan seperti ini menuntut perjuangan tertentu. Hal ini tidak bisa tidak, harus dilakukan. Namun kemudian tibalah kepastian itu: inilah keputusan yang tepat! Ya, Tuhan menginginkan saya, dan ia akan memberi saya kekuatan. Jika saya mendengarkan Dia dan berjalan bersamaNya, maka saya pasti menjadi diri saya yang asli. Yang diperhitungkan bukanlah pemenuhan hasrat hati saya sendiri, namun kehendak Dia. Dengan cara ini, hidup menjadi sejati.
Serupa dengan akar yang menopang kuat pohon untuk tetap berada dalam tanah dan kehidupannya, maka pondasi sebuah rumah memberikan jaminan kekokohan jangka panjang. Melalui iman, kita telah dibangun dalam Yesus Kristus (bdk. Kol 2:7), seperti rumah dibangun di atas pondasinya. Sejarah Kekudusan telah menyediakan bagi kita banyak contoh Santo-Santa yang membangun hidupnya pada Sabda Tuhan itu. Yang pertama ialah Abraham, bapa iman kita, yang taat pada Tuhan, ketika Tuhan memerintahkan dia meninggalkan tanah leluhurnya untuk menuju tanah yang tidak ia kenal. "Percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut "Sahabat Allah" (Yak 2:23). Dibangun dalam Yesus Kristus berarti menanggapi secara positif panggilan Tuhan, mempercayaiNya, dan menaruh SabdaNya dalam tindakan. Yesus sendiri mengingatkan para murid, "Mengapa engkau berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Luk 6:46). Dia lalu memakai gambaran pembangunan sebuah rumah: "Setiap orang yang datang kepadaKu dan mendengarkan serta melakukannya - aku akan menyatakan kepadamu - dengan siapa ia dapat disamakan. Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah. Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun" (Luk 6:47-48).
Para Sahabat terkasih.
Bangunlah rumah kalian sendiri di atas batu karang seperti orang yang menggali dalam-dalam untuk membuat pondasi. Cobalah setiap hari untuk mengikuti sabda Kristus. Dengan keberadaan-Nya disamping kalian, kalian akan menemukan keberanian dan pengharapan untuk menghadapi berbagai kesulitan dan masalah, bahkan untuk mengatasi kekecewaan dan kemunduran. Kepada kalian, secara terus menerus ditawarkan pilihan-pilihan yang lebih mudah, namun kalian sendiri tahu, bahwa segala tawaran itu bersifat menipu dan tidak akan pernah mampu memberikan damai dan suka cita. Hanya Sabda Allah saja yang mampu memperlihatkan kepada kita jalan yang sejati dan hanya iman yang kita terima-lah yang menjadi cahaya dalam jalan kehidupan kita. Dengan penuh syukur, terimalah hadiah rohani ini yang telah kalian warisi dari keluarga kalian; Berusahalah untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan penuh kesadaran, dan bertumbuhlah dalam iman. Janganlah percaya para mereka yang memberitahu kalian bahwa kalian tidak memerlukan orang lain untuk membangun hidup kalian! Temukanlah dukungan dalam iman, pada orang-orang yang mengasihi kalian, temukanlah dukungan dari iman Gereja, dan bersyukurlah pada Tuhan bahwa kalian telah menerima iman itu dan telah membuatnya menjadi milik kalian sendiri!

3. Berteguhlah dalam iman

Hendaklah kamu "berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, berteguh dalam iman." (Kol 2:7). Surat dari mana kata-kata tersebut dikutip, ditulis oleh Santo Paulus untuk menanggapi kebutuhan khusus umat Kristen di kota Kolose. Waktu itu, komunitas umat di Kolose terancam oleh pengaruh kecenderungan budaya tertentu yang memalingkan kaum beriman dari Injil. Ruang lingkup budaya kita sekarang, para sahabat, bukanlah seperti keadaan umat kuno di Kolose. Namun saat ini, terdapat arus kuat pikiran kaum sekular serupa, yang bertujuan untuk meminggirkan Tuhan dari kehidupan masyarakat dengan menekankan dan menciptakan "surga" tanpa kehadiran-Nya. Sebenarnyalah, pengalaman memberikan bukti nyata kepada kita semua, bahwa dunia tanpa Tuhan selalu menjadi "neraka" : dipenuhi oleh keakuan, keluarga berantakan, kebencian antar-pribadi dan antar-bangsa, dan kekurangan yang besar akan kasih, suka cita, dan harapan. Di lain pihak, di manap ada pribadi dan bangsa menerima kehadiran Allah di tengah-tengah mereka, memujiNya dalam kebenaran serta mendengarkan suara-Nya, maka peradaban cinta kasih sedang dibangun, yaitu sebuah peradaban di mana martabat semua orang dihormati, dan persekutuan paguyuban meningkat, dengan segala kebaikannya. Namun demikian tetap saja, beberapa umat Kristen tergoda oleh sekularisme dan arus kepercayaan yang menjauhkan mereka dari iman akan Yesus Kristus. Ada pula beberapa orang Kristen, sekalipun tidak terpengaruh oleh godaan itu, namun telah dengan sembrono membiarkan iman mereka tumbuh seadanya, yang berakibat buruk pada hidup kesusilaan mereka.
Kepada orang-orang Kristen yang dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang jauhb dari nilai Injil, Rasul Paulus memberitakan mengenai kekuatan wafat dan kebangkitan Kristus. Misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan dasar hidup kita serta pusat iman Kristen. Dengan tetap menghormati pertanyaan-pertanyaan besar yang terbenam dalam-dalam di hati manusia, menurut saya semua filsafat yang mengabaikan misteri salib serta menganggapnya "kebodohan" (1Kor 1:23), justru menyingkapkan keterbatasan mereka sendiri. Sebagai penerus Rasul Petrus, saya juga ingin menguatkan kalian dalam iman (bdk. Luk 22:32). Kita dengan teguh percaya bahwa Yesus Kristus menyerahkan diriNya sendiri di kayu salib untuk memberikan kasih-Nya kepada kita. Dalam penderitaanNya, Dia memikul penderitaan kita, menanggung dalam diri-Nya dosa -dosa kita, memberikan pengampunan bagi kita dan mendamaikan kita dengan Allah Bapa, membukakan bagi kita jalan menuju hidup abadi. Jadi, kita dibebaskan dari hal yang paling membelenggu hidup kita yaitu perbudakan dosa. Kita bisa mengasihi setiap orang, bahkan musuh kita, dan kita bisa membagikan kasih ini untuk yang termiskin dari saudara-saudari kita, dan bagi semua orang yang sedang dalam dalam kesukaran hidup.
Para Sahabat terkasih;
Salib sering menggentarkan kita karena salib tampak sebagai penolakan hidup. Pada kenyataannya, sebaliknyalah yang benar. Salib adalah pernyataan ‘Ya' dari Allah kepada umat manusia, yang merupakan ungkapan tertinggi dari cinta-Nya dan sumber dari mana kehidupan kekal mengalir. Sesungguhnyalah, pernyataan ini berasal dari hati Yesus, yang dihancurkan di salib, yang justru dari hati yang hancur itu hidup ilahi mengalir, yang bisa ditampung oleh semua yang mengangkat mata mereka kepada Sang Tersalib.
Saya hanya dapat mendesak kalian untuk memeluk Salib Yesus Kristus, tanda cinta kasih Tuhan, sebagai sumber hidup baru.

4. Mengimani Yesus Kristus tanpa melihat langsung

Dalam Injil kita menemukan paparan mengenai pengalaman iman Rasul Thomas ketika ia menerima misteri Salib dan kebangkitan Kristus. Thomas merupakan salah satu dari kedua belas rasul. Dia mengikuti Yesus, dan menjadi saksi mata dari penyembuhan dan mukjizat yang dibuat Yesus. Thomas mendengarkan sabda-Nya, dan dia mengalami ketakutan pada saat wafat Yesus. Malam pada hari Paskah itu, ketika Tuhan menampakkan diri pada para murid, Thomas tidak hadir. Ketika ia diberitahu bahwa Yesus hidup dan memperlihatkan diriNya, Thomas menjawab: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya, dan mencucukkan jariku pada bekas paku itu dan mencucukkan tanganku pada lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh 20:25).
Kita juga, ingin mampu melihat Yesus, berbicara denganNya dan merasakan kehadiranNya bahkan secara lebih penuh kuasa. Bagi banyak orang dewasa ini, menjadi sukar untuk mendekati Yesus. Ada terlalu banyak gambaran mengenai Yesus yang beredar, yang dinyatakan sebagai ilmiah, yang malahan membuat kabur keagungan dan keunikan pribadiNya. Itulah sebabnya, setelah bertahun-tahun belajar dan merenung, saya memikirkan untuk membagikan sesuatu dari perjumpaan pribadi saya bersama Yesus dengan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ini merupakan sebuah cara untuk membantu orang lain melihat, mendengar, dan menyentuh Tuhan kepada siapa Ia datang supaya diri-Nya dikenal. Yesus sendiri ketika seminggu kemudian menampakkan diri lagi kepada para murid berkata kepada Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah." (Yoh 20:27). Kita juga, bisa memiliki kontak yang tampak dengan Yesus dan menaruh tangan kita, juga berbicara padaNya, atas tanda-tanda penderitaan-Nya, tanda-tanda cinta kasih-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Dia secara khusus dekat dengan kita, dan memberikan diriNya untuk kita. Orang muda terkasih, belajarlah untuk "melihat" dan "menjumpai" Yesus dalam Ekaristi, di mana Dia hadir dan dekat dengan kita, dan bahkan menjadi santapan bagi perjalanan kita. Dalam Sakramen Tobat, Tuhan memperlihatkan kerahimanNya dan selalu memberikan pengampunanNya untuk kita. Kenalilah, dan layanilah Yesus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan dalam diri saudara-saudari yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan.
Masuklah dalam percakapan pribadi dengan Yesus Kristus dan peliharalah hal itu dalam iman. Kenalilah Dia lebih baik lagi dengan membaca Kitab Suci dan buku Katekismus Gereja Katolik (KGK). Berbincanglah dengan-Nya dalam doa kalian, dan letakkan kepercayaan kalian dalam Dia. Dia tidak pernah mengkhianati kepercayaan kalian itu! "Iman pertama-tama ialah ikatan pribadi manusia dengan Allah. Sekaligus tak terpisahkan dari itu, ialah persetujuan bebas terhadap seluruh kebenaran yang diwahyukan Tuhan" (KGK, 150). Dengan demikian, kalian akan menuai iman yang matang dan mantap, yaitu iman yang tak hanya didasarkan kepada rasa-perasaan keagamaan, atau hanya mengandalkan ingatan samar-samar akan katekismus pelajaran agama Katolik yang kamu terima dulu saat kanak-kanak. Kalian mau datang untuk mengenal Allah, dan hidup secara sejati dalam kesatuan dengan Dia, sebagaimana Rasul Thomas yang memperlihatkan imannya yang teguh dalam Yesus, dengan berkata: "Tuhanku dan Allahku!".

5. Ditopang oleh iman Gereja untuk menjadi saksi.

Yesus berkata kepada Thomas: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." (Yoh 20:29). Yesus saat itu sedang memikirkan jalur iman Gereja yang harus diikuti yang didasarkan pada para saksi mata wafat dan kebangkitan Kristus yaitu para Rasul. Dengan demikian, kita melihat, bahwa iman pribadi kita pada Kristus, yang menjumpai kita dalam percakapan pribadi denganNya, diikat dalam iman Gereja. Kita tidak beriman sebagai individu yang terpisah dari yang lain, namun melalui Baptis, kita ialah anggota keluarga besar Gereja. Iman yang diakui oleh Gereja selalu menguatkan kembali iman pribadi kita masing-masing. Kredo "Aku Percaya" yang kita doakan setiap misa hari Minggu melindungi kita dari bahaya kepercayaan terhadap "allah lain" yang tidak diwahyukan oleh Yesus Kristus: "Setiap orang beriman adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat menjadi orang beriman kalau saya tidak didukung oleh iman orang lain. Dan oleh iman saya, saya pun mendukung iman orang lain" (KGK 166). Marilah selalu bersyukur kepada Tuhan atas anugerah Gereja, karena Gereja menolong kita untuk maju dengan aman, dalam iman yang memberi kita hidup sejati (bdk. Yoh 20:31).
Dalam sejarah Gereja, para orang kudus dan para martir selalu bergerak dari kemuliaan Salib Kristus - daya kesetiaan kepada Tuhan - menuju Allah, hingga pada titik mereka harus menyerahkan nyawa. Dalam iman, mereka menemukan kekuatan untuk mengatasi kelemahan, dan menang atas setiap kesulitan. Benarlah Rasul Yohanes mengatakan: "Siapakah yang mengalahkan dunia selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (1Yoh 5:5). Kemenangan yang lahir dari iman adalah cinta kasih. Masih ada dan tetap ada, banyak umat Kristen yang menghayati kesaksian nyata dari daya iman yang diwujudkan dengan pelayanan karya amal kasih. Merekalah para juru perdamaian, promotor keadilan dan pekerja-pekerja demi dunia yang lebih manusiawi, dunia yang sesuai dengan rencana Tuhan. Dengan kompetensi dan sikap profesional, mereka bekerja penuh tanggung jawab dalam sektor-sektor hidup masyarakat yang beraneka ragam, menyumbangkan secara tepat guna, kesejahteraan bagi semua. Karya amal kasih yang berasal dari iman membawa mereka kepada kesaksian nyata dengan kata dan perbuatan. Kristus bukanlah harta milik yang ditujukan untuk diri kita saja. Dia, harta paling berharga yang kita miliki, ialah Dia yang ditujukan dan dibagikan untuk sesama yang lain. Pada masa globalisasi ini, jadilah saksi harapan Kristiani di seluruh dunia. Betapa banyaknya orang yang telah menanti untuk menerima harapan ini! Ketika berdiri di depan batu makam sahabat-Nya Lazarus, yang mati empat hari sebelumnya, sebelum Ia menghidupkan kembali si mati itu, Yesus berkata kepada saudari Lazarus, Martha: "Jika engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah" (bdk Yoh 11:40). Dengan cara yang sama, jika kalian percaya, dan jika kalian mampu menghayati iman dan menjadi saksi atas iman setiap hari, kalian akan menjadi sumber yang membantu orang muda lainnya seperti diri kalian, untuk menemukan makna dan kegembiraan hidup, yang terlahir dari perjumpaan dengan Kristus!

6. Menuju Hari Orang Muda Sedunia di Madrid

Para Sahabat terkasih,
Sekali lagi, saya mengundang kalian semua untuk menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Madrid. Saya menunggu kalian masing-masing dengan sukacita yang besar. Yesus Kristus ingin menguatkan iman kalian melalui Gereja. Keputusan untuk percaya kepada Yesus dan mengikuti-Nya bukanlah perkara yang mudah. Iman padaNya sering terhalangi oleh kegagalan pribadi, dan oleh banyak keriuhan yang menawarkan jalur-jalur perjalanan yang lebih mudah. Jangan lemah semangat. Namun, temukanlah dukungan dari komunitas seiman, temukanlah dukungan dari Gereja! Selama tahun ini, persiapkanlah secara cermat untuk pertemuan di Madrid, bersama uskup-uskup, para imam, para pembimbing orang muda di keuskupan, komunitas-komunitas paroki, dan berbagai serikat serta perkumpulan kalian.
Mutu pertemuan kita mendatang akan seluruhnya bergantung pada : Persiapan rohani kita, doa-doa kita, kebersamaan kita dalam mendengarkan sabda Allah, dan dukungan satu sama lain.
Para muda terkasih, Gereja bergantung kepada kalian! Dia membutuhkan iman kalian yang bersemangat, amal kasih kalian yang kreatif, dan energi dari pengharapan kalian. Kehadiran kalian memperbaharui, meremajakan,dan memberikan energi baru bagi Gereja. Karena itulah, maka Hari Orang Muda Sedunia adalah rahmat, bukan saja untuk kalian orang muda, tapi juga untuk keseluruhan umat Allah.
Gereja Spanyol sedang bersiap diri secara aktif untuk menyambut kedatangan kalian sekaligus untuk berbagi pengalaman iman yang menggembirakan ini bersama kalian. Saya mengucapkan terima kasih kepada keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, tempat-tempat ziarah, komunitas-komunitas religius, asosiasi-asosiasi dan perkumpulan-perkumpulan gerejawi, serta semua yang bekerja keras untuk mempersiapkan peristiwa ini. Allah menganugerahkan berkat-Nya untuk mereka semua. Semoga Bunda Perawan Maria menyertai kalian selama persiapan ini. Ketika menerima kabar gembira, Bunda Maria menerima Sang Sabda dengan imannya. Dalam iman, ia menyetujui rencana kepenuhan janji Allah yang terlaksana dalam dan melalui dirinya. Dengan menyerukan "fiat", "terjadilah padaku menurut perkataanMu", Bunda Maria menerima anugerah cinta kasih yang sedalam-dalamnya, yang membuat dia memberikan diri seutuhnya kepada Allah. Semoga doanya campur tangan dalam diri kalian, sehingga pada Hari Orang Muda Sedunia mendatang ini, kalian bertumbuh dalam iman dan kasih. Saya meyakinkan kalian bahwa saya dengan kasih kebapaan, mengingat kalian dalam doa-doa saya, dan saya memberikan kepada kalian berkat dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Dari Vatikan, 6 Agustus 2010
pada Pesta Penampakan Kemuliaan Tuhan
Benedictus PP. XVI

SEJARAH ORDO KARMEL

SEJARAH ORDO KARMEL

“Jika kita yang hidup sekarang ini tidak menyimpang dari apa yang dihayati para pendahulu kita, maka mereka yang akan mengikuti kita akan berbuat seperti para pendahulu kita dan bangunan akan selalu kokoh.”
(St. Teresa Avila)
Pelindung Paroki Tigalingga adalah Maria dari Gunung Karmel. Dari nama pelindung tersebut, tentu jelas bahwa paroki kita ini didirikan oleh para karmelit dan hingga saat ini dilayani oleh Para Karmelit.
Oleh karena itulah kiranya, kita perlu sedikit mengenal siapa dan bagaimana sejarah Ordo karmel. Tulisan ini kami sadur dari tulisan yang terdapat dalam Blog Karmelindo. Untuk lebih mengenal lebih mendalam lagi tentang Ordo Karmel, Lihat di sini..atau Lihat di sini..
Sedangkan untuk mengetahui sejarah paroki Tigalingga, atau Lihat di sini..

1. Sejarah Karmel Awal

“Mereka bagaikan lebah-lebah Tuhan yang mengumpulkan kemanisan madu rohani di gua-gua mereka yang sempit”
(Jacques de Vitry, Uskup Arce, 1216-1228)
Sekitar abad XI, orang-orang Eropa pergi ke Palestina untuk berziarah dan mewujudkan pertobatan. Dengan pergi ke Tanah Suci mereka ingin mengikuti Kristus secara radikal. Banyak peziarah itu singgah di Gunung Karmel untuk mengagumi keindaan dan mengenang karya para nabi.

Maka, ada pula di antara mereka yang menggunakan kesunyian tempat itu untuk berdoa dan bertapa. Akhirnya, mereka tinggal di sekitar suatu sumber yang disebut sumber Elia.
Elia dipandang Bapa inspirator hidup para pertapa yang memilih hidup kontemplatif dalam kesendirian dan kesunyian.
Sesuai permohonan mereka, St. Albertus, Uskup Yerusalem, membuat suatu peraturan hidup bagi para pertapa Karmelit (1214). Peraturan itu mengarahkan hidup mereka untuk mengikuti Kristus dengan hati yang suci dan nurani yang murni dengan mempersembahkan ketaatan dan kemiskinan religius dalam satu komunitas saling melayani. Peraturan itu berkembang menjadi Regula Karmel sekarang ini.
Devosi kepada Maria juga mendapat tempat istimewa dalam hidup para Karmelit. Maria dipandang sebagai Kusuma Karmel, Bunda Pelindung dan saudari. Nama Kapel yang mereka gunakan untuk menyatukan diri dalam perayaan Ekaristi mereka persembahkan kepada Sang Perawan. Karena itu, mereka menamakan diri sebagai Para Saudara Santa Maria dari Gunung Karmel.

Setelah Tanah Suci dikuasai orang-orang Sarasin, mulai sekitar tahun 1238, secara bergelombang para Karmelit berpindah ke Eropa. Di Eropa, Regula mereka disesuaikan dengan situasi baru, namun tetap mempertahankan ciri kontemplatif. Mereka diperbolehkan melayani secara aktif sebagaimana Ordo-ordo mendikan (para pengemis). Dari Eropa, Ordo Karmel berkembang ke seluruh dunia.
2.Sejarah Karmel Indonesia

Para Karmelit pertama kali datang untuk menangani misi wilayah Indonesia pada tahun 1923. Mereka dikirim dari Provinsi Boxmeer, Belanda. Kedatangan mereka menanggapi permintaan Kongregasi Misi agar menggantikan pelayanan misi Yesuit di daerah Malang, Besuki, dan Madura. Mereka memulai pelayanan paroki dari Gereja Kayutangan, Malang.

Karya tersebut makin bertumbuh dan meluas, tersebar banyak paroki di Keuskupan Malang hingga sekarang. Karya parokial ini terdapat pula di Keuskupan Jakarta, Medan, Ende, Sorong, dan Palangkaraya.
Setelah menjadi provinsi tersendiri dan berkarya lebih dari 80 tahun, Ordo Karmel Indonesia melayani pula bidang-bidang kategorial. Karya pendidikan calon imam calon imam mereka rintis dengan mendirikan Seminari Tinggi dan Seminari Menengah.

Mereka juga menangani pendidikan sekolah. SMA St. Albertus (Dempo), Malang mulai dibuka tahun 1930 dan SMA St. Paulus, Jember tahun 1951.
Sekarang mereka pelayanan rohani, retret-rekoleksi, pendampingan kaum muda, kaderisasi, karya sosial, dan beberapa karya lain sesuai kharisma mereka. Ordo Karmel juga melayani di Keuskupan Agung Medan dan melayani 8 paroki yakni: Paroki Pasar Merah Medan, Paroki Kisaran, Paroki Perdagangan, Paroki Sumbul Dairi, Paroki Sidikalang Dairi, Paroki Parongil Dairi, Paroki Tanjung Balai Dairi dan Paroki Tigalingga Dairi. Dan sejak tahun 2006 Karmel sumatera sudah mempunyai rumah biara dan sekaligus tempat pembinaan para postulat Karmel. Hal yang istimewa sesudah sekitar 40 tahun Ordo Karmel di Keuskupan Agung Medan, baru tahun itulah mempunyai rumah Biara sendiri, selama ini hanya ‘menumpang’ di paroki yang merupakan milik Keuskupan Agung Medan.

Renungan : Sabtu 23 Oktober 2010 (Luk 13:1-9)

Sabtu 23 Oktober 2010 (Luk 13:1-9)
Iman yang berbuah.

Teks:
Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Permenungan
Orang tua yang berjuang untuk menyekolahkan anak-anaknya tentu mempunyai suatu harapan atas anak-anak mereka dan harapan itu bisa bermacam-macam, tergantung dari pribadi orang tua tersebut. Semua harapan itu pasti harapan yang baik. Untuk suatu harapan itu, orang tua membina, mendidik dan bekerja keras agar anak-anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya. Sehingga sangat wajar bila orang tua mengharapan buah dari perjuangan mereka atas anak-anak mereka. Nah ketika orang tua tidak melihat atu menemukan hasil dari perjuangan mereka, pasti orang tua mereasa kecewa. Sama halnya ketika kita menanam pohon buah, berharap kelak buah itu tidak hanya sekedar besar menjulang tinggi, tetapi ada buah yang dihasilkannya untuk dinikmati. Manakala seharusnya sudah tiba waktunya menghasilkan buah, tetapi tetap tidak berbuah, pemilik tentu akan kecewa berat.

Permenungan kita hari ini, kita arahkan pada perumpamaan Yesus tentang pohon yang tidak berbuah. Dalam hal ini bisa diibaratkan bahwa kita adalah pohon yang berada di kebun Allah yakni yang berada dalam kerajaan-Nya. Pemilik kebun itu adalah Allah sendiri. Allah sebagai pemilik kebun tentu sudah merawat dan memberi fasilitis agar pohon itu berbuah seperti yang diharapkan-Nya(bdk. Mat. 21:33) dan seharusnya pohon-pohon yang ada dalam kebun itu berbuah baik dan banyak. Namun ternyata pohon-pohon itu tidak berbuah seperti harapan pemilik. Walaupun demikian Tuhan tidak langsung meenbangnya, tetapi merawat dan memberi kesempatan untuk berbuah kemudian.Nah bagaimana dengan kita, apakah kita yang adalah anak-anak-Nya yang bergabung dalam keluarga kerajaan Allah sudah menghasilkan buah seperti yang diharapkan oleh Tuhan sebagai pemilik atas hidup kita? Tuhan mengharapkan kita, bahwa kita tidak hanya sekedar hidup, sekedar mengatakan diri sebagai orang beriman kepadaNya tetapi iman kita itu tidak menghasilkan buah yang baik, mansia dan banyak. Banyak diantara kita yang hidupnya demikian, hanya bangga sebagai umat kristiani, hanya sekedar menjalankan aturan hidup beriman tetapi tidak menghasilkan buah yang banyak. Iman kita harus menghasilkan buah seperti yang diharapkan oleh Tuhan.Mungkin yang menjadi persoalan bagi kita adalah, ‘buah yang bagaimana yang diharapkan oleh Tuhan dari kita masih-masing?’ atau ‘Apakah buah dari iman kita selama ini sudah sungguh seperti yang diharapkan oleh Tuhan?’ Untuk mengetahu hal ini lebih baik, kita perlu menjalin relasi yang baik dengan Sang Pemilik atau ‘bertanya’ kepada Tuhan, buah yang bagaimana yang diharapkanNya dari kita. Hal ini kita laksanakan dengan memelihara hidup iman kita dan juga dalam doa-doa kita. Dalam doa, kita berusaha mendengar dan mengetahui kehendak Tuhan atas diri kita. Sebab seseorang tidak akan mungkin mengetahui apa dan bagaimana kehendak Tuhan atas dirinya bila dia tidak pernah mendengarkan Tuhan lewat doa.
Dalam akhir permenungan kita, mari kita ingat bahwa selama kita hidup, itu adalah masa atau waktu yang diberikan oleh Tuhan bagi kita agar kita berbuah. Jangan kiranya bila tiba waktunya Tuhan menuntut buah dari iman kita dan Tuhan tidak menemukan buah yang baik, manis dan banyakd ari kita.

Refleksi kita hari ini:
1. Mari kita bertanya kepada Tuhan, buah apa yang diharapkanNya dari kita hari ini?
2. Buah apa yang akan kita persembahkan kepada Tuhan hari ini?
Roh Kudus dan rahmat Tuhan pasti akan memberkati kita sepanjang hari ini. Amin.

INJIL HARI MINGGU 24 Oktober 2010 (Toba)

INJIL HARI MINGGU 24 Oktober 2010 (Minggu Biasa XXX)

“Ai sipaoruon do ganup na patimbo dirina; alai na paoru dirina, i do sipatimboon!”
Alai dihatahon ma umpama sada taringot tu halak na mangkaposi dirina, mandok na tigor nasida, angka na marhu, ni roha di dongan, ninna ma: Adong ma dua halak na nangkok tu joro i martangiang; halak Parise do na sada, sijalo beo na sada nari. Jadi dirgak ma Parise i jongjong; songon on ma tangiangna di bagasan rohana: Mauliate ma ahu tu Ho, ale Debata, ala so dos ahu dohot halak na leban, angka panamun, pargeduk, pangalangkup manang songon sijalo beo an. Dua hali saminggu ahu marpuasa jala huparsampulu do saluhutna na huomo. Ianggo halak sijalo beo i, mandaodao do ibana jongjong; gari manaili dompak ginjang, ndang barani. Alai ditompuk ma andorana huhut mandok: Asi roham, ale Debata, di ahu pardosa on! Hudok ma tu hamu: Umpintor do on laho muli asa na sada an: Ai sipaoruon do ganup na patimbo dirina; alai na paoru dirina, i do sipatimboon!

INJIL HARI MINGGU 24 Oktober 2010 (Karo)

INJIL HARI MINGGU 24 Oktober 2010 (Minggu Biasa XXX)

“Kalak si peganjangken bana ipeteruk Dibata, janah kalak si peteruk bana ipeganjangken Dibata kap!”

Man kalak si pebujur-bujur bana dingen si erpengakap maka kalak si deban la lit ergana, ituriken Jesus perumpaman enda,"Lit me dua kalak si lawes ku Rumah Pertoton guna ertoto. Sekalak e me kalak Parisi janah sekalak nari pengalo cuke. Kalak Parisi e tedis janah ertoto ia i bas ukurna nina, 'O Dibata, bujur kukataken man baNdu, sabap aku la merangap, la nipu, la erlua-lua bagi kalak si deban. Bujur kukataken man baNdu sabap aku labo bagi pengalo cuke ah. Aku erpuasa dua kali seminggu, janah kupersembahken man baNdu sepersepuluh i bas kerina ulihku erdahin nari.' Tapi pengalo cuke tedis ndauh i bas ia nari, janah la ia pang nare ku langit, itemtemina bana janah nina, 'O Dibata, mekuah min atendu aku kalak perdosa!'Nina Jesus, "Kukataken man bandu: Mulih kalak enda ku rumah janah pengalo cuke enda me si ibenarken Dibata, labo kalak Parisi e. Sabap kalak si peganjangken bana ipeteruk Dibata, janah kalak si peteruk bana ipeganjangken Dibata kap.

INJIL HARI MINGGU 24 Oktober 2010

INJIL HARI MINGGU 24 Oktober 2010 (Minggu Biasa XXX)

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

BUKU TAMU

Syalom. Selamat bertemu dan salam kenal. Tuhan berkati selalu.

Renungan: Jumat 22 Oktober 2010

Jumat 22 Oktober 2010
Luk 12:54-59

Kalau ditanya , ‘Mengapa ayam berkokok pada pagi hari?’ Orang tentu akan memberi banyak jawaban yang mungkin berbeda-beda sesuai dengan penafsiran masing-masing atau juga mungkin dari pengamatan. Mungkin saja benar jawaban yang diberikan, tetapi mungkin juga tidak karena memang hanya ayam yang tahu dan ayam sendiri tidak pernah memberitahukan kita apa alasannya.
Lewat ilustrasi ini, yang mau kami katakan adalah bahwa kepada kita manusia diberi Tuhan akal budi untuk melihat, menilai, menganalisa dan akhirnya mengambil kesimpulan berdasarkan pengalaman ataupun pembelajaran. Tuhan membari akal budi kepada kita, untuk kelansungan hidup kita. Namun tentunya bukan hanya untuk kelangsungan hidup yang sekarang saja, tetapi terutama untuk hidup kekal. Namun seringkali kita hanya menggunakannya untuk bertahan hidup di dunia ini. Kita begitu lihai melihat cara, jalan atau peluang untuk bisa bertahan hidup di dunia ini. Kita kurang menggunakannya untuk mendapatkan kehidupan kekal.
Dalam pengalaman kita tahu bahwa hidup korupsi itu tidak baik dan bila ketahuan akan dapat hukuman, tetapi kita mungkin tetap melakukannya dan malah mencari cara atau belajar biar tidak ketahuan. Kita tahu bahwa setiap orang pasti akan mati, tetapi kita seringkali seakan mau membertahankan hidup di dunia ini. Kita mungkin percaya kepada Tuhan dan akan hidup kekal, tetapi seringkali kita menjalankan apa yang perlu untuk itu. Selain dari itu, mungkin kita sadar bahwa dalam pengalaman hidup kita, kita menyadari begitu banyak peristiwa hidup yang melebih kemampuan manusiawi kita, tetapi kita tetap tidak mau percaya kepada Tuhan. Atau juga mengapa kita tidak mampu menilai dan menangkap kehadiran Tuhan dalam hidup kita?
Hal-hal demikianlah yang sungguh dikritik oleh Yesus dan bahkan ditegur sebagai orang-orang munafik. Tuhan memberi kita akal budi agar kita dapat bertahan dalam hidup dan terutama agar kita mampu menemukan, menilai dan memutuskan apa yang perlu untuk kehidupan kekal.
Sebagai permenungan bagi kita:
1. Coba temukan kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari.
2. Gunakanlah akal budi dan semua anugerah yang diberi Tuhan untuk menemukan apa yang perlu untuk kehidupan kekal.
3. Berusahalah untuk memutuskan dan melakukan hal yang benar sepanjang hari ini.

Renungan: Kamis 21 Oktober 2010

Kamis 21 Oktober 2010
Luk 12:49-53

“Yesus membawa pertentangan atau perpecahan dalam hidup manusia?”

Pertanyaan atau pernyataan ini mungkin akan muncul setelah mendengar kalimat pertama dalam bacaan hari ini. Padahal kita semua percaya bahwa Yesus adalah membawa damai, cinta kasih dan keselamatan. Tentu Yesus bukan bermaksud untuk berpaling dari misi kedatanganNya ke dunia, dan tentu juga bukan mau menjadi pengacau atau membuat kekacauan dalam hidup kita.
Kedatangan-Nya adalah membawa keselamatan bagi manusia, mengajar kita jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan sejati. Namun memang apa yang diajarkan dan diteladankan-Nya berbeda dengan pikiran, kehendak dan kebiasaan manusia. Sehingga seringkali perkataan dan tindakan Yesus melawan arus kebiasaan hidup manusia. Tentu bukan berarti Yesus sengaja supaya berbeda atau melawan arus, tetapi karena kebiasaan yang hidup dalam hidup kita sudah bertentangan dengan kehendak Allah. Nah Yesus tetap setia pada jalanNya yakni membawa manusia pada keselamatan dan dia setia mengajarkan yang benar. Inilah yang menimbulkan pertentangan karena manusia tentu akan lebih memilih keingingan atau kehendaknya atau apa yang sudah biasa terjadi dalam hidup manusia. Seringkali manusia menganggap apa yang sudah biasa itu adalah baik dan benar. Itu belum tentu. Justru sebaliknya juga, apa yang benar itu, belum tentu biasa dilakukan manusia.
Oleh karena itu pulalah bahwa orang yang berusaha untuk menjalankan ajaran Yesus dengan sungguh-sungguh akan menimbulkan pertentangan dari dari orang-orang yang sudah kurang ‘menyukai’ kebaikan dan kebenaran, akan menimbulkan pertentangan dengan orang yang sudah mapan dalam kelemahan dan kedosaannya. Hal inipulalah yang seringkali membuat kita begitu sulit untuk sungguh-sungguh mengiktui Yesus, karena disamping kita sudah mapan dalam kebiasaan kita yang kurang baik, juga karena kita tidak berani berbeda, melawan arus kebiasaan yang tidak baik. Seringkali yang terjadi, apa yang biasa dalam hidup ini, itu yang kita ikuti. Dari sebab itulah ada orang mengatakan, “Korupsi itu adalah hal yang biasa, ngetren sehingga rugi bila tidak ikut melakukannya.” Semuanya itu tentu tidak benar dan akan membawa kita pada hidup yang lebih sengsara.
Nah sebagai permenungan bagi kita:
Kita mau ikut kebiasaan yang terjadi padahal tidak benar di hadapaun Tuhan, atau kita berani ‘melawan’ arus kebiasaan itu karena percaya dan demi iman kepada Yesus Kristus?

Renungan: Rabu 20 Oktober 2010

Rabu 20 Oktober 2010
Luk 12:39-48

“…Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." Apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita?

Sabda Yesus hari ini dan pertanyaan di atas mungkin saja muncul. Karena sekarang ini tanpa sadar orang menganut prinsip bahwa hidup ini hanya semata-mata perjuang. Orang yang berani dan berjuang keras, akan beroleh banyak pula dalam hidupnya. Tanpa sadar orang pada zaman ini sudah kurang menyadari peran Tuhan dalam hidupnya. Tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa Tuhan itu tidak adil atas dirinya, karena merasa Tuhan tidak memberi apa-apa atau begitu sedikit bila dibandingkan dengan orang lain. Karena itulah pada akhirnya merasa bahwa semua yang ada padanya atau yang diperoleh karena kerja kerasnya, hanya untuk dirinya sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Kalaupun berbagi dengan orang lain, hanya sekedar basa-basi atau kelebihan dari miliknya ataupun terpaksa.
Memang benar bahwa usaha, kerja keras dapat membuat seseorang itu berhasil, beroleh banyak tetapi kita harus tetap sadar bahwa tanpa karuni Tuhan semua upaya, usaha dan rencana kita tidak akan berhasil. Manusia boleh saja berusaha dan berencana atas hidupnya, tetapi kalau Tuhan tidak berkenan, semuanya tidak akan terjadi.
Lewat perikop ini, kembali Yesus mengingatkan dan menyadarkan kita akan hakekat hidup dan apa yang pada kita. Kita ‘hanyalah hamba’ Tuhan dan Tuhan adalah tuan yang baik. Dia mempercayakan berkat dan milik-Nya kepada kita. Tuhan sebagai tuan mengharapkan agar kita berlaku sebagai hamba yang baik yakni dengan menggunakan dengan baik apa yang dipercayakannya sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagaimana kita ketahui, seorang hamba selalu bekerja untuk tuannya, berbicara atas nama tuannya seperti kemauan tuannya. Tidak pernah seorang hamba berbicara lain dari yang dikatakan, diperintahkan dan diharapkan tuannya. Agar hamba itu dapat bertindak, berbicara sebagaimana diharapkan tuannya, hamba itu harus hidup bersama atau dekat dengan tuannya. Demikianpun kita, agar kita hidup sebagai hamba yang baik, yang mengetahui kehendak, pikiran dan kemauan Tuha, kita harus dekat dan hidup bersama dengan dengan Tuhan.
Nah, akhirnya mari kita sadari bahwa hidup dan semua yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan yang dipercayakan kepada kita hamba-hamba-Nya. Mari kita hidup sebagai hamba-hamba yang baik. Bila kita menerima kepercayaan yang besar dan banyak, besar dan banyak pula yang harus kita pertanggungjawabkan kepada-Nya. Amin.

Selasa: 19 Oktober 2010

Selasa 19 Oktober 2010
Luk 12:35-38

‘ABS’ : Asal Bos Senang.’ Istilah ini seringkali dilakukan oleh bawahan kepada tuannya atau atasannya. Secara positif berarti bermaksud suatu loyalitas yang besar seorang bawahan kepada atasannya. Hal negatifnya, bisa terjadi loyalitas yang terlalu, karena bisa saja bawahan melakukan apa saja perintah atasan, padahal belum tentu hal itu baik dan benar, dan bahkan bisa saja pada akhirnya untuk menyenangkan atasan yang mungkin gila hormat, bahawan melakukan apa saja dan menjilat atasan.
Hari ini Yesus mengajar kita lewat suatu perumpamaan tentang seorang hamba yang baik, yang selalu menanti dengan setia kedatangan tuannya, dalam penantian itu si hamba melakukan tugasnya dengan baik. Bila tuannya tiba, dia langsung melayani tuannya dan karena tuannya mendapatkan dia sedang bekerja, maka tuannya itu memuji dia.
Lewat perumpamaan ini, Yesus mengingatkan kita agar kita berlaku sebagai hamba di hadapan Tuhan. Memang kita bukan sebagai ‘hamba’ Yesus, karena kita telah dijadikan-Nya sebagai putera-puteri-Nya dan telah diangkat menjadi saudara-saudari-Nya. Namun kita harus tetap harus tetap rendah hati bahwa Tuhan tetap tuan yang harus kita sembah, kita muliakan dan semua yang kita peroleh berasal daripada-Nya dan harus kita abdikan kepada Dia.
Hidup seperti hamba yang baik, itu berarti kita menggunakan dan berusaha hidup untuk menyenangkan Tuhan yang menjadi tuan atas hidup kita. Namun seringkali kita merasa sebagai tuan atas hidup kita dan bahkan atas hidup orang lain, sehingga kita hidup hanya untuk menuruti kehendak pribadi, hanya mencari kesenangan pribadi, bukan mencari dan melakukan apa yang disenangi oleh ‘tuan’ hidup kita yakni Yesus sendiri. Mari kita senantiasa sadar, bahwa kita bukanlah tuan atas hidup kita dan juga orang lain. Akan tiba waktunya, kita tidak bisa mempertahankan hidup kita, karena memang bukan milik kita. Kita tidak tahu kapan Tuhan Sang pemilik menemui dan mengambil milik-Nya yang dipercayakanNya kepada kita. Kalau kita berlaku sebagai hamba yang baik, maka Dia akan memuji kita saat Dia menemui kita. Amin.

Senin: 18 Oktober 2010

Senin 18 Oktober 2010
Pesta Santo Lukas Penginjil
Luk 10:1-9

Masih menarikkah ikut ambil bagian dalam tugas pelayanan Gereja?
Beberapa kali dalam pemilihan pengurus Gereja, banyak umat yang menghindar agar tidak dipilih menjadi pengurus Gereja, karena jelas menjadi pengurus Gereja adalah suatu pelayanan dan bahkan pengorbanan. Nampaknya pelayanan dan pengorbanan ini suatu hal yang langka untuk saat ini, mengingat zaman yang menawarkan atau mengagungkan ‘kesenangan’ dan prinsip instan, upah dan kebutuhan ekonomi yang semakin menuntut. Mungkin untuk wilayah perkotaan atau orang yang sudah memiliki ekonomi mapan, menjadi pengurus Gereja bukan sesuatu yang lumayan sulit, karena ekonomi sudah tercukupi dan malah menjadi pengurus Gereja dapat menjadi suatu ‘kabanggaan tambahan’.
Menjadi seorang imam demikian halnya. Selain tantangan soal Kaul-kaul juga medan dan situasi dapat menjadi suatu tantangan. Misalnya tempat tugas di daerah pedalaman atau pedesaan, para imam juga bertugas bukan hanya dalam pelayanan Sakramental, bukan hanya membina iman umat, tetapi juga ‘terlibat’ dalam peningkatan ekonomi umat dan persoalan sehubungan dengan ekonomi. Gereja ingin mengadakan pembinaan iman umat, tetapi dana tidak cukup, Gereja mau membangun Gedung Gereja yang layak untuk beribadah, juga dana tidak ada. Ketika berusaha membuat proposal dan memohon bantuan dari umat maupun paroki yang ekonominya lebih, juga seakan tiada tanggapan. Ada kesan bahwa masing-masing paroki mengurusi paroki masing-masing dan malah terkadang tidak perduli dengan yang lain. Ada paroki yang membangun Gereja yang menyamai atau bahkan melebihi mall, membangun gedung ini itu, membuat kegiatan ini itu, para imam di perkotaan ziarah ke sana ke mari, sedangkan yang di pedalaman, hanya untuk bertahan tetap hidup saja sudah sangat kewalahan. Terkadang terjadi, ketika yang dari pedalaman memohon kasih dari ‘saudaranya’ yang di perkotaan, yang diperoleh adalah ‘nasihat’, seindiran halus dengan mengatakan, “Kalau umat gak mampu dan gak punya dana cukup, tidak usah membuat yang besar-besar!” ‘Jawaban dan masukan’ yang menarik. Sungguh seakan diutus ke dalam kawanan ‘serigala’ gaya baru.
Hari ini Gereja merayakan pesta Lukas Rasul dan Yesus mengajar para muridNya bahwa para murid semuanya diutus dan perutusannya ke dalam kawanan serigala. Semoga perayaan dan Sabda Yesus hari ini menjadi kekuatan bagi para pelayan pastoral dalam pelayanan, sehingga tetap bertahan dalam pelayanan karena memang itulah situasi yang sudah digambarkan oleh Yesus sebelumnya, dan walaupun demikian, akan berpuncak pada keselamatan kekal. Yesus mengajak kita semua menjadi rasul di manapun, kapanpun dan dengan cara masing-masing sesuai dengan berkat yang kita peroleh dari-Nya. Jelas tidak semua orang bisa menjadi pelayan pastoral di paroki, tetapi kita semua bisa ambil bagian yakni dengan mendoakan, mendukung dan membantu mereka yang terjun secara langsung dalam pelayanan parokial. Semuanya tergantung pada iman kita. Amin

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)