Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga
Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.
Gotong Royong Pembangunan Gereja
Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.
Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja
Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.
Kerjasama Imam dan Umat
Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.
Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan
HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...
Pembinaan Para Pengurus Gereja
Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.
Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki
Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.
Pembinaan Asmika se-Paroki
Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.
Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki
Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.
Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)
Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.
Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)
Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.
Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)
Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.
Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki
Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.
Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal
Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.
Rahmat dan Perlindungan Tuhan
Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.
Rekoleksi dan Aksi Panggilan
Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.
Pesan Prapaskah Kepausan 2012
"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).
Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi
Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.
Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm
Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.
Bakti Sosial : Pengobatan Gratis
Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.
MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN
| "Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14) |
| "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9) |
| "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27) |
| "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17) |
| Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur. |
|
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
|
| BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang |
| No. Rekening : 5379-01-000112-50-8 |
| Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK. |
| ATAU |
| BCA KCU MEDAN |
| NO.0222053453. |
| Atas Nama : ADYTIA PERMANA P. |
| (Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.) |
| Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui: |
| E mail ke :. |
| parokimariagk3lingga@yahoo.com |
| atau di SMS ke:. |
| Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645 |
| Romo Willy O.Carm : 081333837433 |
|
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat . Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat |
| Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. |
HORMAT KAMI: |
Pastor Antonius Manik O.Carm |
VARIA PAROKI

RENUNGAN HARIAN HARI RABU PEKAN PASKAH II, 18 April 2012
RENUNGAN HARIAN: HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 11 April 2012
RENUNGAN HARIAN: HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 10 April 2012
Pacquiao perbaharui imannya
unia Manny Pacquiao adalah seorang pria yang telah berubah dalam kehidupan imannya setelah bertemu dengan Allah dalam mimpinya menyusul pertarungan tinju terakhirnya, katanya, hari ini.“Jika saya meninggal tahun lalu atau dua tahun lalu, saya yakin saya akan langsung masuk neraka,” kata Pacquiao dalam sebuah wawancara yang diposting di situs Berita ABS-CBN.
“Iman saya kepada-Nya 100 persen, tapi setelah berdoa, saya masih melakukan hal-hal yang jahat.”
Ia mengatakan bahwa dia telah berhenti berjudi, minum dan main perempuan. Namun, setelah bermimpi tentang Allah, ia sekarang bergelut mempelajari Alkitab dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama istri dan anak-anaknya.
Perubahan ini terjadi setelah ia melawan petinju Meksiko Juan Manuel Marquez pada November lalu.
Dalam mimpinya, katanya, ia berada di sebuah hutan yang indah, saat itu cahaya menyinari dirinya dan bertanya: Anak, mengapa engkau pergi dari-Ku?”
“Saya bangun dan menangis. Saya ingat saya juga menangis dalam mimpi dan ketika saya menyentuh bantal, bantal tersebut masih basah,” katanya.
Pacquiao mengatakan ia coba mencari arti dari mimpi itu dan jawabannya ditemukan dalam Alkitab.
“Pada jaman dahulu kala, Allah berbicara dengan orang melalui mimpi mereka. Jadi saya berkata pada diriku sendiri ‘mimpi ini adalah nyata dan saya harus mengubah hidup saya,” katanya.
Dia juga mengatakan perubahan itu terjadi, bukan hanya karena keinginannya, tapi karena Allah yang mengubah dirinya.
“Menjadi seorang Kristen berarti menerima Kristus sebagai Juru Selamat Anda, Allahmu,” katanya. “Itulah mengapa Anda disebut seorang Kristen. Jika Anda menghapus ‘Kristus’, hanya ada ‘ian’ dan itu berarti “Hidup saya adalah hampa.”
Sumber: Champion boxer renews his faith
Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com
Setelah membunuh 20.000 orang jadi penginjil
kisah tentang transformasi yang telah mengejutkan dan mengagetkan ribuan orang yang telah mendengar: seorang panglima perang Afrika yang melakukan kekerasan brutal masa lalu menemukan Kristus dan secara dramatis mengubah hidupnya.Terpilih untuk The Economist Film Project, sebuah inisiatif dari The Economist dalam kemitraan dengan PBS NewsHour, “The Redemption of General Butt Naked” adalah sebuah film dokumenter yang mengerikan tentang kehidupan yang mengubah Yosua Milton Blahyi, pertama kali dijuluki sebagai salah satu panglima perang Liberia yang paling ditakuti.
Sekarang ia bertobat dari kekerasannya di masa lalu, yang mengaku menewaskan hampir 20.000 orang selama 14 tahun perang saudara di Liberia.
Setelah masuk Kristen, Blahyi berusaha untuk menemukan kembali dirinya sebagai seorang penginjil, mengadakan perjalanan sebagai pengkhotbah dan mengadakan rekonsiliasi dengan orang yang ia telah lukai di masa lalu.
Pembuat film itu Eric Strauss dan Daniele Anastasion menghabiskan waktu lima tahun dengan Blahyi, menyusul kehidupannya yang bermasalah.
Strauss telah tertarik dengan Blahyi setelah ia membaca buku tentang kehidupan pribadinya berjudul The World’s Most Dangerous Places (Tempat-Tempat Dunia Paling Berbahaya).
“Itu hanya uraian kecil tentang seorang panglima perang yang terkenal telah menewaskan ribuan orang dan sekarang berjalan-jalan membawa khotbah tentang kebenaran dan rekonsiliasi,” kata Strauss kepada Los Angeles Times.
Sumber: African warlord who killed 20,000 becomes an evangelist
Disadur dari: www.cathnewsindonesia.com,Tanggal publikasi: 10 Januari 2012
KISAH SEJATI: ‘Passion of the Christ’ runtuhkan karir saya, kata Jim Caviezel
ood, Jim Caviezel, yang bermain di film layar lebar ‘Passion of the Christ’ mengungkapkan karirnya sebagai bintang mulai redup sejak ia bermain sebagai Yesus dalam film yang disutradarai Mel Gibson itu.Ia mengatakan dirinya ‘ditolak di industri saya sendiri’ setelah bermain dalam film kontroversial tersebut.
Sejak bermain sebagai Anak Allah dalam film yang dirilis tahun 2004 itu tawaran untuk bermain film bagi dirinya mulai kering dan banyak yang tidak suka lagi dengan dia.
Kendati film itu meraup lebih dari US$400 juta di seluruh dunia, film tersebut dikutuk sebagai anti semitik.
Sutrada Mel Gibson bahkan kemudian dituduh membuat pernyataan anti Yahudi setelah ditahan karena menyetir sementara mabuk.
Caviezel mengatakan Gibson sudah mengingatkan dia bahwa dengan mengambil peran tersebut ia tidak akan lagi menjadi bagian dari Hollywood.
‘Dia bilang ‘Kamu tidak akan pernah lagi bekerja di kota ini.’ Saya jawab,” Kita semua harus memanggul salib kita masing-masing.”
Caviezel mengatakan itu kepada umat di Orlando, Florida.
Ia lebih lanjut mengatakan sejak bermain di Passion of the Christ ia hanya muncul di beberapa film saja.
Padahal sebelum bermain di film itu Caviezel, 42 tahun, dianggap sebagai salah satu bintang laris di Hollywood. Ia pernah membintangi “Count of Monte Cristo’ and ‘Angel Eyes” bersama Jennifer Lopez.
Caviezel yang merupakan seorang Katolik yang taat mengetahui tahu bahwa memainkan peran sebagai Yesus akan mendapat resiko besar.
‘Sekarang Yesus adalah sosok yang kontroversial, bahkan akan selalu seperti itu,” kata Caviezel. “Tidak banyak yang berubah selama 2.000 tahun,” Lanjutnya.
Ia menambahkan imannya akan Yesus Kristus menjadi petunjuk baik bagi pribadi maupun profesinya.
Ia mengakui bukan sesuatu yang kebetulan saja bahwa saat dia menginjak usia 33 tahun dirinya ditawari untuk memerankan Yesus. Bahkan dia bercanda bahwa jika namanya disingkatkan JC punya makna yang sama: JC= Jim Caviezel dan JC=Jesus Christ.
Foto dan kisah selengkapnya: Passion Christ actor Jim Caviezel said Hollywood shunned him
Disadur dari : www.cathnewsindonesia.com, Tanggal publikasi: 5 Mei 2011
Renungan Hari biasa Pekan V Prapaskah, Rabu 13 April 2011
(Martinus I)
Dan 3:14-20,24-25,28, MT Dan 3:52,53,54,55,56, Yoh 8:31-42
BACAAN INJIL:
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." "Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita.
RENUNGAN:
Seminggu yang lalu, pagi-pagi saat kantor paroki belum buka, seorang ketua Dewan stasi datang ke pastoran bersama dengan seorang bapak, umat stasi tersebut. Mereka datang untuk meminta misa arwah 40 hari bagi ibu. Ibu tersebut adalah ibu dari bapak yang datang bersama ketua dewan stasi itu. Permohonan ini merupakan hal yang langka saya jumpai di paroki ini sejak saya pertugas di paroki ini, karena setelah satu setengah tahun berugas di paroki ini, baru kali ini ada umat yang meminta misa arwah peringatan 40 hari. Saya senang mendapat permohonan umat untuk misa arwah tersebut. Saat menyampaikannya kepada saya, “Pastor kami datang untuk meminta agar diadakan misa arwah 40 hari bagi ibu kami. Apakah di paroki ini bisa diadakah misa arwah 40 hari bagi yang meninggal? Karena kami sendiri tidak pernah tahu akan kebiasaan itu dalam Gereja kita. Kami tahu hal ini karena kami diberitahu keluarga yang dari Jakarta, yang katanya di tempat mereka ada kebiasaan demikian.”
Saya kaget juga mendengar pernyataan mereka yang mengatakan bahwa mereka selama ini tidak tahu ada kebiasaan misa arwah di gereja Katolik. Ini tentu suatu kekurangan, yang mana umat sendiri kurang mengetahui kebiasaan dalam gerejanya sendiri. Kesempatan ini saya gunakan untuk berkatekese dengan mereka. Setelah panjang lebar berkatekese, saya mengatakan mengapa beliau belum saya kenal, belum pernah saya lihat di stasi padahal saya udah beberapa kali misa di stasi mereka. Jawaban yang diberikan adalah katanya bahwa beliau juga sering juga ke Gereja, hanya pas pastor datang untuk merayakan Ekaristi, beliau tidak hadir. Beliau juga mengatakan bahwa beliau dulunya adalah Ketua Dewan Pastoral Stasi, hanya beberapa tahun ini tidak aktif dalam menggereja. Beberapa hari kemudian, saya ketahui bahwa beliau dan keluarganya tidak lagi aktif sejak beberapa tahun lagi karena pastor paroki terdahulu tidak bisa mengiyakan permohonan mereka sehubungan dengan pernikahan anak mereka. Dari cerita yang saya dengar, anak mereka itu tidak memenuhi persiaratan Gereja tetapi mereka memaksakan dengan alasan beliau adalah ketua dewan stasi. Karena Gereja tidak memenuhi permintaan mereka, mereka tidak lagi aktif di Gereja dan bahkan cenderung mengkritik kebijakan paroki dan stasi dan malah seakan memecah belah umat.
Mungkin ini bisa menjadi gambaran yang kerap terjadi dalam kehidupan menggereja. Kerap banyak umat begitu bangga menjadi pengurus Gereja, tetapi kurang menghayati peran mereka dengan sungguh-sungguh dan kurang mengikuti dan menghayati iman maupun peraturan Gereja. Bahkan seringkali tugas sebagai pengurus Gereja dianggap sebagai karcis khusus untuk mendapat pelayanan dan kebijakan khusus dari Gereja. Demikian juga halnya yang terjadi, banyak umat yang menganggap bahwa menjadi anggota Gereja adalah cukup bila mereka sudah dibaptis, ada pula yang merasa cukup bila sudah rajin ke Gereja hari Minggu. Sehingga seringkali terjadi, orang datang ke Gereja bila mana saat anak mau dibaptis, atau bila mau menikah dan ada pula saat mati. Saat-saat seperti itu, mereka mengakui sebagai anggota Gereja dan memaksakan bahwa mereka mempunyai hak untuk dilayani Gereja dan Gereja wajib melayani mereka.
Di dalam injil hari ini, Yesus mengkritik orang-orang Yahudi yang mengaku diri sebagai keturunan Abraham dan mengatakan bahwa mereka tidak dilahirkan dari zinah. Bapa mereka satu, yaitu Allah. Yesus mengkritik mereka karena mereka hidup tidak mengikuti teladan Abraham yang taat kepada Allah. Mereka juga tidak hidup sebagai anak-anak Allah, karena menolak Yesus yang datang dari Allah. Mereka bangga dengan status mereka, dan menganggap dengan status yang mereka miliki itu, itulah jaminan mereka sebagai anak-anak Allah yang masuk surga.
Kiranya Yesus mengatakan kepada kita, status sebagai anak-anak Allah yang sudah dianugerahkan kepada kita lewat baptisan bukanlah menjadi jaminan untuk diselamatkan oleh Allah. Janganlah kita berbangga diri dengan status yang kita peroleh, dengan baptisan yang kita terima, tetapi hendaknya kita senantiasa tinggal dalam firman Allah dan itulah tandanya kita benar-benar murid Kristus. Tinggal dalam Firman Allah itu berarti setia mengikuti dan menghayati sabda Allah dalam hidup setiap hari. Kesetiaan kita tinggal dalam firman Allah itulah yang membebasakan kita dari penjajahan atau perbudakan dosa. Dengan demikian orang yang percaya kepada Allah, mereka tentu terlepas dan jauh dari perbuatan-perbuatan dosa. Lebih penting lagi sebagaimana dikatakan oleh Yesus, bahwa barang siapa yang sungguh percaya kepada Allah, tentu mereka juga menerima Yesus sebagai Putera Allah yang diutus untuk menyelamatkan manusia. Amin.
Renungan Hari biasa Pekan V Prapaskah, Selasa 12 April 2011
Bil 21:4-9, Mzm 102:2-3,16-18,19-21, Yoh 8:21-30
BACAAN INJIL:
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.
RENUNGAN:
Pernah dalam sebuah film barat ditampilkan seorang pemain mengunakan kalung salib dan terkadang diperlihatkan bahwa dia mencium salib yang dia kenakan. Bila sepintas kita melihat adegan itu, pasti kita berpikir bahwa pemeran itu adalah seorang Kristen yang baik, atau dia memerankan sebagai orang baik dalam film tersebut. Ternyata setelah mengikuti cerita film secara keseluruhan, dia malah salah satu pemeran penjahat dalam film tersebut. Tanda salib bagi orang Kristen memiliki arti yang sangat istimewa berkat salib Kristus, Kristus yang rela wafat di salibkan demi menyelamatkan manusia. Kiranya makna salib itu sudah kurang dimengerti dan dihayati secara sungguh-sungguh oleh banyak orang Kristen sendiri.
Bila kita melihat seseorang mengenakan salib baik itu sebagai kalung, anting-anting atau hiasan di rumah, kita pasti menebak bahwa mereka adalah orang Kristen. Saat ini memang banyak orang yang mengenakan salib di leher, di telinga sebagai anting-anting, di rumah, di kuburan-kuburan dan ada pula yang membuat tato di badannya dengan bentuk salib. Kiranya tanda salib tidak lagi memiliki atau mengandung arti kultis, tetapi lebih merupakan mode, gaya hidup dan hiasan belaka. Kalaupun oran gmenempatkan salib di rumah, itu banyak sudah merupakan sebagai hiasan bagi rumah-rumah orang Kristen, hanya sekedar sebagai tanda bagi orang bahwa mereka adalah orang Kristen. Memang penggunaan tanda salib itu hanya digunakan oleh orang Kristen sendiri, tidak pernah ada seorang yang non Kristen atau muslim yang mengenakan salib.
Pada zamannya dan hingga sekarang, masih banyak orang yang tidak mengerti mengapa Yesus yang adalah Tuhan rela mati di salib. Ada orang yang meragukan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh mati di salib. Sebab bagi banyak orang berpikir adalah suatu hal yang tidak masuk akal bahwa Yesus Tuhan mati dengan cara yang mengerikan dan hina karena hukuman mati di salib pada umumnya hanya diperuntukkan bagi para penjahat. Sehingga bagi orang yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan mengatakan bahwa bukan Yesus yang mati di salib, tetapi orang lain yang menggantikan Yesus. Sebagian orang yang mengakui bahwa Yesuslah yang mati disalibkan, ini menjadi alasan bagi mereka untuk mengatakan bahwa memang Yesus bukanlah Tuhan, karena tidak mungkin Tuhan bisa mati apalagi mati dengan disalibkan.
Sebagaimana pernah dikatakan oleh Paulus, bagi orang yahudi dan bagi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, salib memang kebodohan. Tetapi bagi kita, salib adalah tanda kemenangan kita atas dosa, lambang kemenangan berkat Yesus Kristus yang rela disalibkan untuk menebus dosa kita. Salib adalah tanda misteri cintakasih Allah yang sungguh besar kepada kita. Di salib itu, Yesus menyatakan cintakasih-Nya yang sehabis-habisnya untuk kita manusia. Bagi kita yang percaya kepada Yesus, salib bukan hanya sekedar kayu yang tegak lurus dan melintang tetapi mempunyai arti mendalam dan mengandung arti kultis.
Dalam Perjanjian Lama, dikatakan bahwa ketika Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka bersungut-sungut dan mempersalahkan Musa utusan Allah. Karena mereka bersungut-sungut atau memberontak kepada Tuhan, Tuhan menyuruh ular tedung untuk memagut mereka sehingga banyak orang Israel yang mati. Mereka akhirnya menyadari kedosaan mereka sehingga meminta Musa agar berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan menjauhkan ular-ular itu dari mareka. Maka Tuhan menyuruh Musa membuat patung ular tedung dari tembaga dan menempatkannya di atas tiang. Setiap orang yang terpagut ular tedung dan memandangnya, tetap hidup. Ular tedung di atas kayu merupakan pralambang anak manusia yang ditinggikan di atas salib demi menyelamatkan manusia. Sehingga dengan memandang salib Yesus, kita akan tetap hidup. Namun kiranya memandang yang dimaksudkan bukanlah hanya sekedar melihat atau memelototi salib Kristus. Tetapi yang dimaksudkan dengan mamandang salib Yesus adalah percaya kepada Yesus yang adalah Tuhan penyelamat dan kasih penyelamatan-Nya berpuncak pada salib-Nya.
Oleh karena itu, baiklah kiranya kita tidak usah malu atau takut menggunakan salib entah itu di rumah, sebagai kalung, anting-anting, cincin dan membuat tanda salib di manapun kira berada. Namun kiranya kita ingat bahwa semuanya kita lakukan bukan hanya sekedar hanya untuk memperlihatkan bahwa kita orang Kristen, dan hendaknya juga tidak hanya sekedar gaya hidup, mode atau hiasan belaka. Hendaknya kita menggunakannya karena kita bersyukur kepada Tuhan karena kasih-Nya yang sungguh besar kepada kita, yang sangat nyata dalam diri Yesus yang rela mati disalibkan. Baiklah kita mempunyai sikap hormat pada salib, tetapi hormat bukan kepada kayu salib itu namun pada Yesus yang mati disalibkan. Pandanglah salib Kristus dengan penuh hormat dan penuh iman, maka kamu akan hidup dan diselamatkan. Amin.
KISAH SEJATI: PEMERAN YESUS DALAM FILM "THE PASSION OF THE CHRIST" Kesaksian Jim Caviezel
dalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion of the Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dilakukannya (sebelum The Passion) adalah sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line”. Itupun hanya salah satu peran dari bgitu banyak aktor besar yang berperan dal film kolosal itu. Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya.
Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Aku terkejut suatu hari dikirimi naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah aku bermain dalam film besar apalagi sebagai pemeran utama. Tapi yang membuatku lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus ku mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda." demikian pikir Jim Caviezel.
Besok paginya aku mendapat telepon, “Hallo ini, Mel”, kata suara di telpon. “Mel siapa?”, tanya Jim bingung. Aku tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan aku menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya aku harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan kuhadapi bila memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karirku sebagai aktor di Hollywood. Sebagai manusia biasa aku gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karirku dalam dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan apakah jadi bermain dalam film itu, aku bertanya pada Mel Gibson.,“Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilihku murni karena peranku di “Thin Red Line”. "Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!" sahut Jim.
Maka akupun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan aku terus bertanya-tanya, dapatkah aku melakukannya? Keraguan meliputi sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkanku, karena begitu banyak referensi mengenai DIA dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa kulakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini. Karena siapalah aku ini, memerankan DIA yang begitu besar. Masa laluku bukan seorang yang dalam hubungan dengan-Nya. Aku memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diriku.
Aku hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera pergelangan kaki menghentikan karirku sebagai atlit bola basket. Aku sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti menghancurkan seluruh hidupku.
Aku kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawaku pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidupku. Kemudian aku mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari terus mengejar casting.
Kini aku telah berada dipuncak peran. Benar Tuhan,.. Engkau yang telah merencanakan semuanya dan membawaku sampai di sini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apa pun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu.
Aku tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, aku adalah satu-satunya orang di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuatku sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak, aku kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal aku sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun aku mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahuku cedera, dan tubuhku tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan akupun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau aku dalam kecelakaan sebenarnya. Saat itu aku memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan perawatan medis.
Sungguh aku merasa seperti iblis karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun aku hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang dan bertanya apakah aku ingin melanjutkan film ini, ia berkata sangat mengerti kalau aku menolak untuk melanjutkan film itu. Aku bekata pada Mel, aku tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagiku, maka aku akan sangat malu jika tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak cedera lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagiku, yaitu syuting penyambukan Yesus. Aku gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggungku hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh yang tidak terlindungi papan. Aku tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambukku. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara aku harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuhku. Aku terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang bisa menyebabkan kematian), seluruh tubuhku lumpuh tak bisa bergerak, mulutku gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawaku jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawaku sangat depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawaku pada batas kemanusiaanku. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu sampai pada batas kekuatan kemanusiaanku, saat aku tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawaku pada batas-batas fisik dan jiwaku sebagai manusia. Aku sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga sering kali aku harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau aku tidak mampu lagi, memohon DIA agar memberi kekuatan bagiku untuk melanjutkan semuanya ini. Aku tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya DIA. DIA bukan sekadar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat aku ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Aku ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, aku adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja aku berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantamku beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan akupun tidak sadarkan diri.
Yang ku tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan namaku, saat aku membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi di sini).
“Apa yang telah terjadi?” tanyaku. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuhku menghitam karena hangus, dan rambut berasap. Sungguh sebuah mujizat kalau aku selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu sering kali aku bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun aku terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat pada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaanku saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karirku berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaanku sebagai aktor. Walaupun aku harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak aku memerankan film ini.
Aku ber arap mereka yang menonton "The Passion of Jesus Christ" tidak melihatku sebagai aktornya. Aku hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihatku dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidupku. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidupku, aku berharap hal yang sama juga terjadi pada hidup anda. Amin.
(Teresa Avila Henny)
Kolom Berbagi Kesaksian : Kisah Kasih





























