Kira-kira demikian balasan surat yang barusan kami terima, jawaban atas permohonan sumbangan dana untuk pembangunan Gereja Paroki Tigalingga yang kami mohonkan ke salah satu paroki besar di kota besar. Dalam proposal yang kami kirimkan, kami sertakan foto-foto perjuangan umat yang bergotong royong dalam mem
bangun Gereja Paroki. Kami mengirimi porposal ke paroki ini karena kami lihat dan tahu bahwa paroki ini adalah paroki ini berada di kota besar, jumlah umat banyak dan juga umatnya banyak yang kaya. Kami sangat berharap bahwa paroki besar ini tentu paling tidak mampu memberi sumbangan dari dana paroki yang mereka miliki. Namun kiranya apa yang kami harapkan kandas dengan jawaban surat yang kami terima. Nadanya suratnya sangat sopan karena ada kalimat ‘sangat menyesal’ tidak bisa membantu. Alasannya mereka juga butuh dana untuk membangun kapel dan sarana pastoral di paroki itu. Alasan yang sangat halus dan memang logis. Mereka tidak bisa membantu satu paroki yang jangankan membangun sarana pastoral, Gereja paroki pun sulit untuk dibangun karena ketiadaan ekonomi umat dan kemiskinan paroki. Apakah memang mereka tidak punya sedikit dana untuk mereka berikan? Di paroki pedesaan membangun Gereja paroki sangatlah sulit mengingat ekonomi umat dan paroki yang miskin, juga karena akses mencari dana tambahan dari para donatur juga tentu sulit. Sedangkan di paroki besar, banyak peluang untuk membangun sarana pastoral karena umat yang kaya, dan banyak peluang-peluang lain.Proposal yang sama juga kami kirimkan ke paroki-paroki besar dan dikota-kota besar, dengan harapan bahwa paroki besar dengan jumlah umat yang besar dan tingkat ekonomi yang lebih menguntungkan rela berbagi berkat dan sukacita dengan paroki atau umat katolik yang ada di pedesaan. Kami juga berpikir bahwa kalau bukan sesama Paroki, sesama umat katolik yang saling membantu, siapa lagi. Juga berpikir bahwa paroki yang lemah memohonkan bantuan kepada paroki atau umat yang lebih beruntung. Namun kiranya pikiran dan angan-angan juga kandas direrumputan. Sekali waktu seorang suster asal paroki mengantar proposal ke paroki yang dikenal besar dan kaya di kota Surabaya. Suster itu berpikir bila proposal diantar langsung dan memohonkan sedikit sumbangan, pasti akan dikabulkan. Proposal diterima dengan janji akan dibicarkan. Namun setelah beberapa minggu menunggu jawaban, suster langsung menemui pastor paroki di paroki itu, jawaban yang dia terima sungguh membuat dia terkejut karena katanya, karena hal ini sudah menyangkut antar keuskupan yakni keuskupan Surabaya dan Keuskupan Medan, maka harus ada ijin uskup. Si suter begitu terkejut mendengar jawaban itu, dia berpikir bahwa saat proposal diterima ada kata-kata harapan bahwa akan diberi sedikit sumbangan, karena yang menerima proposal mengatakan ‘akan dibcirakan’, namun jawabannya ‘tidak diterima dan tidak dikabulkan’. Dalam proposal jelas hanya memohon sedikit sumbangan dari paroki besar, bukan untuk mohon ijin untuk merayakan misa di paroki itu dalam rangka penggalangan dana yang memang harus mematuhi prosedur tersendiri yakni seijin uskup setempat
. Hal ini sudah kami beritahukan sebelumnya kepada suster tersebut, tetapi ketika apa yang kami katakan terjadi, dia begitu kaget dan merasa malu serta juga kecewa. Beliau berpikir, “Apakah untuk memberi sumbangan kepada sesama katolik dan paroki lain walaupun beda keuskupan juga harus membutuhkan ijin uskup setempat?” Apakah berkat yang ada diparoki yang terdapat di kota besar, di tempat orang-orang kaya hanya bisa dinikmati oleh paroki itu sendiri atau umat yang ada di kesukupan itu sendiri? Apakah katolik di keuskupan tertentu beda dengan katolik yang ada di keuskupan lain? Jawaban yang diterima oleh suster tersebut juga kami terima dari jawaban salah satu paroki besar di Jakarta. Sehingga dapat dikatakan bahwa apa yang dikatakan di atas sudah menjadi fenomena yang mungkin terjadi saat ini.Terkadang sesama umat berpikir sederhana bahwa katolik itu kuat bersatu, saling membantu, sehingga mereka sering mengatakan, “Pastor datanglah ke Jakarta, ke paroki-paroki yang ada di kota besar dan umatnya kaya-kaya, karena umat pasti mau membantu dan pasti banyak sumbangan yang akan diperoleh dari umat.” Ada pula yang mengatakan, “Umat di paroki kami banyak orang kaya yang baik dan dermawan, maka pastor kirim saja surat ke paroki dan merayakan misa di sana dan pasti umat akan menyumbang. Sumbangan yang didapatkan akan jauh lebih besar kalau hanya lewat internet atau FB.” Suatu niat baik dan ketulusan hati untuk membantu,
Apakah kami tersinggung dengan pengalaman, keadaan dan semua prosedur itu? Hampir dan sedikit. Pengalaman ini membuat kami berpikir nakal yakni kami paroki kecil, miskin dan sedang membutuhkan dana untuk melanjutkan pembangunan Gereja paroki, tetapi tetap mau berbagi berkat dengan orang lain. Kami katakan demikian karena beberapa kali kami menerima proposal dari paroki lain untuk pembangunan dan kegiatan tertentu, juga barusan ini mendapat undangan berslip yang mengahrapkan sumabngan, kami tetapi memberikan semampu kami, walaupun paroki adalah paroki kecil, miskin dan sedang membutuhkan dana untuk pembangunan Gereja. Kami berpikir bahwa berbagi dalam kekurangan, itu jauh lebih indah daripada berbagi dalam kelebihan. Namun ketika kami tidak mengalami hal yang sama, yakni ketika kami memohon dan mengharapkan dari paroki Katolik, muncullah rasa kecewa dan berkecil hati. Tetapi rasa kecewa hilang karena kami juga sadar bahwa memang paroki besar juga punya program besar yang membutuhkan
Sebagai akhi





























