RENUNGAN HARI MINGGU: 10 NOVEMBER 2013
(HARI MINGGU BIASA XXXII)
2Mak. 7:1-2,9-14; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; 2Tes. 2:16 - 3:5; Luk. 20:27-38
INJIL : Luk. 20:27-38
“Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”
Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."
RENUNGAN :
Masih adakah kehidupan lain selain kehidupan di dunia ini? Pertanyaan ini mungkin perlu kita renungkan, mengingat bahwa pada kenyataannya bahwa kita seringkali berusaha memelihara hidup yang sekarang, seakan bahwa hidup yang sekarang inilah satu-satunya hidup.
Pertanyaan orang saduki sebagaimana kita dengarkan dalam injil hari ini, bagi orang Batak dan suku tertentu adalah hal yang wajar dan biasa dilakukan.
Dalam budaya Batak bila seorang suami meninggal, maka adek atau keluarga dari suami itu diharapkan menikahi istri abangnya atau istri saudaranya itu. Hal dilakukan bila saudaranya tidak punya keturunan sehingga saudara yang meninggal itu memberikan keturunan kepada istri saudaranya yang meninggal. Juga bila saudaranya yang meninggal itu punya keturunan apalagi anak laki-laki, maka saudara suami yang meninggal mengawini istrinya.
Semuanya ini dilakukan dengan tujuan agar kekerabatan dengan si jandi tidak hilang atau putus, karena bisa saja si janda menikah lagi dengan pria lain yang bukan keluarga suami yang meninggal. Juga dilakukan untuk menambah atau meneruskan keturunan dari pihak yang meninggal dan terutama juga menyangkut harta peninggalan suami, supaya tidak menjadi milik orang lain apalagi bila si janda menikah lagi dengan pria lain yang bukan keluarga suami.
Intinya perkawinan demikian dilakukan demi mempertahankan sesuatu yakni kekerabatan, keturunan dan juga harta.
Dengan demikian, apa yang dipertanyakan oleh orang Saduki kepada Yesus, bagi kita adalah hal yang wajar dan memang mungkin kitapun berpikir demikian. Namun perlu kita ketahui bahwa orang saduki adalah keturunan yang tidak mempercayai kehidupan kekal setelah kematian dari dunia ini. Bagi mereka hidup sekarang di dunia ini, hanya itulah satu-satunya hidup, tidak ada hidup yang lain. Oleh karena itulah, bagi mereka adalah hal yan gmembingungkan bila masih ada kehidupan lain setelah di dunia ini, sehingga tentu sulit bagi orang yang ketika hidup di dunia ini mempunyai lebih dari satu istri atau suami, dia akan repot dengan siapa dia akan hidup.
Memang sebagaimana dalam budaya kita juga demikian, kita bisa megerti akan pertanyaan orang Saduki ini. Namun jelas mereka itu bertanya demikian, karena mereka tidak mempercayai kehidupan kekal dan untuk mencobai Yesus sehubungan dengan adanya kehidupan kekal. Menanggapi pertanyaan demikian, Yesus menjelaskan bahwa dalam kehidupan kekal manusia tidak mati lagi dan mereka hidup dalam kebahagiaan sejati bersama Tuhan, kawin dan di kawinkan sehingga mereka tidak perlu lagi berpikir soal keturunan.
Dalam hidup kekal mereka tidak lagi berpikir bagaimana beroleh hidup bahagia karena mereka sudah hidup dalam kebahagiaan sejati bersama Tuhan Allah. Yesus mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang hidup, Allah yang tidak pernah mati. Allah itulah yang memberi hidup kepada manusia dan pada-Nya ada kehidupan kekal. Jadi Allah bukan Allah yang sudah mati sebagaimana Abraham, Isak dan Jakob yang sudah mati. Kematian Abraham, Isak dan Jakob bukan berarti Allah ikut mati bersama dengan mereka. Meskipun demikian, mereka telah mati dari dunia ini, tetapi mereka sudah masuk dalam kehidupan kekal.
Selain itu, orang Saduki dengan pertanyaan itu, mereka menggunakan pikiran manusia pada pikiran Allah. Mereka berpikir bahwa Allah juga berpikir seperti yang dipikirkan manusia, mereka juga memikirkan tentang hidup kekal seperti hidup manusia sekarang ini. Hal jelas keliru. Allah itu adalah Allah yang kekal, yang memberi hidup, yang menjadikan manusia. Allah itu melampaui pikiran manusia. Allah tidak bisa kita pikirkan dengan cara pikir manusia.
Sekarang menjadi permenungan kepada kita; Apa yang mau dikatakan injil hari ini kepada kita? Injil hari ini mengajak kita untuk mengimani bahwa hidup sekarang ini bukanlah hidup yang sesungguhnya, masih ada kehidupan lain yang lebih utama yakni kehidupan kekal. Kehidupan kekal itu akan dapat kita peroleh setelah kematian dari hidup di dunia ini. Namun hidup kekal itu diperuntukkan bagi orang-orang yang layak menerimanya.
Hidup kekal itu memang diperuntukkan bagi semua orang, tetapi orang yang diperkenankan masuk dalam kehidupan kekal adalah orang yang layak, yakni orang yang selama hidupnya di dunia ini hidup seturut kehendak Tuhan. Sehingga hidup yang sekarang adalah persiapan untuk beroleh hidup kekal.
Ingatlah para saudara, hidup yang sekarang ini tidak kekal, tidak abadi.
Hidup kita di dunia ini pasti akan berakhir, namun setelah itu kita akan beralih ke hidup kekal. Akan tetapi kita akan masuk ke kehidupan kekal, tergantung bagaimana hidup kita selama di dunia ini.
Bila kita menyakini adanya hidup kekal, tentunya membuat kita sadar agar tidak mempertahankan hidup yang sekarang dengan pengandaian kita ingin menikmati hidup sekarang dengan sepuas-puasnya karena berpikir bahwa tidak ada hidup yang lain setelah kehidupan di dunia ini.
Namun bila kita menyakini adanya hidup kekal setelah hidup di dunia ini, kita berusaha mengarahkan seluruh hidup kita di dunia ini untuk menuju kehidupan kekal. Hidup yang sekarang haruslah sebagai persiapan untuk beroleh hidup kekal, yakni dengan percaya kepada Yesus dan hidup seturut kehendak-Nya. Amin.
0 comments:
Post a Comment
Syalom. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya.Semoga Tuhan memberkati para Saudara.