RENUNGAN HARIAN: Kamis 12 Januari 2012
MASA BIASA TAHUN B: Pekan I:
1Sam 4:1-11, Mzm 44:10-11,14-15,24-25, Mrk 1:40-45
MASA BIASA TAHUN B: Pekan I:
1Sam 4:1-11, Mzm 44:10-11,14-15,24-25, Mrk 1:40-45
BACAAN INJIL:
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
RENUNGAN:
Sungguh kata-kata orang kusta sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini sungguh menungkapkan iman kepada Yesus. Dia percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan Dia, dia sungguh percaya bahwa Yesus punya kuasa untuk menyembuhkan dia. Namun dalam kata-katanya ini, seakan orang kusta itu kurang yakin bahwa Yesus mau menyembuhkannya. Kemungkinan orang kusta itu mengatakan ‘jika Engkau mau,” adalah karena keputus asaan atau kekecewaannya selama ini, karena tidak ada yang peduli kepadanya dan tidak ada yang mau menyembuhkannya. Jadi bukan semata-mata karena tidak yakin bahwa Yesus mau menyembuhkannya. Oleh sebab itulah hati Yesus tergerak oleh belaskasih kepada orang kusta itu, bukan hanya karena sakit kusta yang dialami orang itu, tetapi juga karena kata-kata yang mengandung rasa putus asa dan keraguan karena pengalaman tidak diperhatikan, tidak dipedulikan orang-orang sekitarnya dan selama ini tidak ada yang membantunya. Karena itu jugalah Yesus kahirnya menyembuhkannya.
Kitapun mungkin sering mengalami seperti yang dialami orang kusta itu. Kita merasa diri orang yang menderita, punya persoalan tetapi seakan tidak ada yang peduli kepada kita dan tidak ada yang mau membantu kita. Saat mengalami demikian kita merasa bahwa orang-orang di sekitar kita hanya merasa iba pada kita tetapi tidak berbuat apa-apa pada kita. Perasaan putus asa mungkin juga terjadi dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita merasa seakan Tuhan tidap peduli kepada kita dan tidak menolong kita pada masa-masa sulit hidup kita, sehingga kita menjadi ragu bahwa Tuhan akan mau menolong kita. Namun hari ini, kita diajak untuk senantiasa yakin kepada kita, bahwa Allah tetap peduli dan mau menolong kita. Kalaupun orang mungkin tidak peduli dan tidak membantu kita, tetapi Tuhan itu sungguh peduli dan pasti mau membantu kita. Oleh sebab itu, datanglah senantiasa kepada Yesus.
Selain itu, pasti di sekitar kita juga banyak orang yang putus asa karena merasa tidak ada yang mau peduli dan mau membantu mereka. Kitapun seringkali memang tidak mau peduli dan tidak mau membantu sesama kita yang membutuhkan pertolongan atau bantuan dari kita. Melihat sesama yang menderita atau membutuhkan pertolongan kita, kita seringkali hanya prihatin, merasa iba dan kadang kala hanya berharap agar ada orang yang mau membantu kita. Kadangkala kita juga dengan mudah mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sesama yang sedang menderita, tetapi kami berharap dan berdoa semoga Tuhan memberi pertolongan dan ada orang yang mau membantu.”
Benarkah kita tidak punya apa-apa untuk kita bagikan dalam membantu sesama kita yang membutuhkan pertolongan? Sebenarnya kita mampu dan mempunyai sesuatu yang bisa kita berikan untuk membantu sesama kita, hanya kita tidak mau. Kita tidak mau atau enggan membantu sesama kita, karena kita tidak mau repot, kita tidak mau kehilangan atau kekurangan dari apa yang kita miliki karena dibagikan kepada sesama yang membutuhkan bantuan. Sehingga sesungguhnya kita bisa dan sanggup berbuat kasih kepada sesama yang membutuhkan bantuan, hanya kita tidak mau. Semoga kita mau membantu sesama kita yang sedang membutuhkan pertolongan kita. Amin.
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
RENUNGAN:
Sungguh kata-kata orang kusta sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini sungguh menungkapkan iman kepada Yesus. Dia percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan Dia, dia sungguh percaya bahwa Yesus punya kuasa untuk menyembuhkan dia. Namun dalam kata-katanya ini, seakan orang kusta itu kurang yakin bahwa Yesus mau menyembuhkannya. Kemungkinan orang kusta itu mengatakan ‘jika Engkau mau,” adalah karena keputus asaan atau kekecewaannya selama ini, karena tidak ada yang peduli kepadanya dan tidak ada yang mau menyembuhkannya. Jadi bukan semata-mata karena tidak yakin bahwa Yesus mau menyembuhkannya. Oleh sebab itulah hati Yesus tergerak oleh belaskasih kepada orang kusta itu, bukan hanya karena sakit kusta yang dialami orang itu, tetapi juga karena kata-kata yang mengandung rasa putus asa dan keraguan karena pengalaman tidak diperhatikan, tidak dipedulikan orang-orang sekitarnya dan selama ini tidak ada yang membantunya. Karena itu jugalah Yesus kahirnya menyembuhkannya.
Kitapun mungkin sering mengalami seperti yang dialami orang kusta itu. Kita merasa diri orang yang menderita, punya persoalan tetapi seakan tidak ada yang peduli kepada kita dan tidak ada yang mau membantu kita. Saat mengalami demikian kita merasa bahwa orang-orang di sekitar kita hanya merasa iba pada kita tetapi tidak berbuat apa-apa pada kita. Perasaan putus asa mungkin juga terjadi dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita merasa seakan Tuhan tidap peduli kepada kita dan tidak menolong kita pada masa-masa sulit hidup kita, sehingga kita menjadi ragu bahwa Tuhan akan mau menolong kita. Namun hari ini, kita diajak untuk senantiasa yakin kepada kita, bahwa Allah tetap peduli dan mau menolong kita. Kalaupun orang mungkin tidak peduli dan tidak membantu kita, tetapi Tuhan itu sungguh peduli dan pasti mau membantu kita. Oleh sebab itu, datanglah senantiasa kepada Yesus.
Selain itu, pasti di sekitar kita juga banyak orang yang putus asa karena merasa tidak ada yang mau peduli dan mau membantu mereka. Kitapun seringkali memang tidak mau peduli dan tidak mau membantu sesama kita yang membutuhkan pertolongan atau bantuan dari kita. Melihat sesama yang menderita atau membutuhkan pertolongan kita, kita seringkali hanya prihatin, merasa iba dan kadang kala hanya berharap agar ada orang yang mau membantu kita. Kadangkala kita juga dengan mudah mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sesama yang sedang menderita, tetapi kami berharap dan berdoa semoga Tuhan memberi pertolongan dan ada orang yang mau membantu.”
Benarkah kita tidak punya apa-apa untuk kita bagikan dalam membantu sesama kita yang membutuhkan pertolongan? Sebenarnya kita mampu dan mempunyai sesuatu yang bisa kita berikan untuk membantu sesama kita, hanya kita tidak mau. Kita tidak mau atau enggan membantu sesama kita, karena kita tidak mau repot, kita tidak mau kehilangan atau kekurangan dari apa yang kita miliki karena dibagikan kepada sesama yang membutuhkan bantuan. Sehingga sesungguhnya kita bisa dan sanggup berbuat kasih kepada sesama yang membutuhkan bantuan, hanya kita tidak mau. Semoga kita mau membantu sesama kita yang sedang membutuhkan pertolongan kita. Amin.
0 comments:
Post a Comment
Syalom. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya.Semoga Tuhan memberkati para Saudara.