Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.

Gerakan Moral Bukan Politik Praktis

Gerakan Moral Bukan Politik Praktis


(Jakarta 7/2/2011) Para tokoh agama di Indonesia harus menyuarakan berbagai persoalan bangsa yang dihadapi rakyat, seperti masalah yang terkait dengan kemiskinan dan praktik korupsi. Peran profetik tokoh agama seperti itu bukan merupakan politik praktik, melainkan politik kebangsaan atau politik dakwah.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin di sela-sela acara perayaan The World Interfaith Harmony Week di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (6/2/2011).

The World Interfaith Harmony Week merupakan program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diselenggarakan pada minggu pertama Februari. Perayaan itu dilatarbelakangi inisiatif Raja Jordania Abdullah II pada September 2010 dalam pertemuan tahunan sidang PBB.

Hadir dalam acara itu, perwakilan tokoh agama, antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendy Yusuf, Ketua Komisi Hubungan Antar-Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Mandagi, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu (Matakin) Wawan Wiratma, Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Dewa Putu Sukardi. Hadir juga Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua DPR Marzuki Alie, dan Ketua DPD Irman Gusman.

"Bicara kemiskinan, korupsi sebagai kemungkaran dan kejahatan terhadap rakyat, tokoh agama harus bangkit untuk menyuarakan. Itu bukan politik praktis, melainkan politik kebangsaan atau politik dakwah," kata Din. Gerakan moral lintas agama merupakan misi profetik agama-agama.

Seperti diberitakan, para tokoh agama resah karena pemerintah dinilai tak jujur dalam penanganan berbagai masalah bangsa. Pemerintah dipandang belum membuktikan komitmen dalam beragam persoalan mendasar, seperti penegakan hukum, pemberantasan korupsi, tenaga kerja, penghormatan hak asasi manusia, dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Pandangan tersebut tertuang dalam pertemuan para tokoh agama yang digagas Maarif Institute di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Kompas, 11/1/2011).

Terkait dengan perayaan The World Interfaith Harmony Week sebagai agenda PBB, menurut Din, acara itu lebih ditekankan untuk membangun dialog antarumat beragama. Kerukunan dan dialog antarumat beragama di Indonesia harus terus-menerus dipelihara dan dijaga.

"Kita mempunyai modal. Indonesia negara majemuk, tingkat kerukunan cukup besar, meski beberapa fase waktu terganggu. Misalnya, pada awal reformasi, ada konflik di Ambon dan Poso. Namun, (itu) sudah teratasi dan harus dijaga," tutur Din.

Slamet Effendy Yusuf mengatakan, harmoni antaragama sangat penting untuk mencapai perdamaian. "Harmoni bisa tercapai jika ada keadilan ekonomi, politik, dan sosial," ujarnya. Para tokoh agama dan elemen masyarakat perlu terus mengupayakan pencapaian keadilan di tengah masyarakat.(kompas.com)

Disadur dari http://www.mirifica.net/ 07 Februari 2011

Renungan Harian : Senin 7 Februari 2011

Renungan Harian : Senin 7 Februari 2011
Kej 1:1-19, Mzm 104:1-2a,5-6,10,12,35c, Mrk 6:53-56
osalie Rendu, Pius IX, Anselmus Polanco, Koleta dr Corbie

Apakah kita juga mengenal Yesus yang hadir dalam hidup kita?"

BACAAN INJIL:
Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

RENUNGAN:

Yesus sangat terkenal layaknya seperti selebritis, bahkan melebihi selebiritis, karena kemana pun Dia pergi, orang banyak mengenali-Nya, menyiarkan kehadiran-Nya dan berduyun-duyun datang kepada-Nya dengan segala harapan dan permohonan. Yesus tidak menyuruh utusan ke Genesaret untuk memberitahukan kedatangannya, namun saat mereka mendarat di sana, orang banyak langsung mengenali Dia. Mereka yang mengenal Yesus yang hadir, langsung berlari ke seluruh kampong untuk memberitakannya dan banyak orang yang datang membawa orang sakit untuk disembuhkan. Orang banyak mengusung orang-orang sakit untuk mendapatkan kesembuhan dari Yesus adalah karena percaya bahwa Yesus dapan menyembuhkan mereka. Iman dan keyakinan mereka itu sungguh besar sehingga mereka yakin bahwa hanya dengan menjamah jumbai jubah Yesus saja mereka pasti akan beroleh kesembuhan. Mereka yakin, kuasa penyembuhan mengalir dalam diri Yesus walaupun Yesus tidak perlu menjamah orang sakit. Keyakinan yang besar ini memberi semangat bagi mereka untuk datang kepada-Nya dan akhirnya mendapat kesembuhan.

Orang yang mengenali Yesus mungkin sudah pernah mendengar berita tentang Yesus, tapi mungkin saja belum pernah bertemu dengan-Nya. Iman dan keyakinan mereka akan kuasa dan kasih Yesus, itulah yang membuat mereka mampu mengenal kehadiran Yesus. Kita para pengikut Yesus sudah dibaptis, sudah banyak mendengar tentang Yesus Tuhan kita. Tetapi mungkin saja tidak banyak umat kristiani yang mengenal kehadiran Yesus dalam hidup sehari-hari. Kita seringkali sukar menangkap atau mengenali kehadiran Yesus dalam hidup sehari-hari karena kita belum sepenuhnya percaya akan kuasa dan kasih-Nya yang senantiasa hadir dalam hidup kita. Karena itupula kita tidak berani bersakasi akan itu, seperti dalam Injil tadi, ketika melihat Yesus, mereka berlari-lari ke seluruh kampung dan memberitakan kehadiran Yesus. Dari sebab itu, perlulah kiranya kita senantiasa membina dan memperdalam iman kita kepada Yesus, agar kita mampu menangkap kehadiran-Nya dan akhirnya mewartakan kehadiran-Nya kepada semua orang.

Orang banyak itu percaya bahwa kuasa Allah mengalir dalam diri Yesus. Kuasa Allah dalam diri Yesus hingga saat ini, mengalir untuk memberi penyembuhan, melimpahkan berkatnya. Kita hendaknya yakin akan hal ini. Sehingga dengan keyakinan itu, saat mengalami sakit atau persoalan hidup, kita datang kepada-Nya untuk mendapatkan penyembuhan, bukan malah pergi ke tempat lain atau ke seorang dukun. Kita yang percaya kepada Yesus juga hendaknya ‘berlari’ ke seluruh sisi kehidupan kita untuk memberitakan bahwa Yesus hadir dan kuasa-Nya mengalir untuk memberi berkat dan kesembuhan bagi siapapun yang datang kepada-Nya dengan penuh iman. Amin.

RENUNGAN Hari Minggu Biasa V : 6 Februari 2011

RENUNGAN Hari Minggu Biasa V : 6 Februari 2011
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16
“Kamu adalah garamg dan terang dunia.”

PENGANTAR:
Identitas orang kristiani adalah garam dan terang dunia dalam kehidupan ini. Dengan hidup sesuai dengan identitas itu pula, menjadikan hidup kekristenan seseorang menjadi bermakna bagi dunia dan berkenan kepada Tuhan serta menjadikan hidup dunia ini menjadi enak dan indah. Mari kita coba memahami identitas yang diberikan Yesus kepada kita dan juga jalan hidup bermakna yang sekaligus menjadi misi hidup kristiani.

RENUNGAN:

Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan identias para pengikutnya. Dia juga mengajarkan bagaimana hidup para pengikut-Nya menjadi bermakna dan sekaligus itu pula yang menjadi misi hidup para pengikut-Nya di dunia ini yakni dengan menggunakan lambang garam dan terang. Yesus menggunakan gambaran yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan sangat dekat dengan hidup manusia.

Kita semuat tentu mengenal dengan baik apa itu garam dan bagimana pentingnya garam bagi hidup kita setiap hari. Tidak dapat diragunakan bahwa setiap hari kita membutuhkan garam dan menikamatinya. Secara singkat dapat kita karakan bahwa garamg itu membuat makanan menjadi enak. Sebagus apapun ramuan dari makanan itu, tetapi kalau tidak diberi garamg, pasti akan terasa hambar dan tidak enak. Garam juga banyak digunakan untuk mengawetkan makanan dan bahkan banyak para pendaki gunung sering juga menaburi sekeliling kemah dengan garam dengan maksud agar ular tidak masuk ke kemah mereka. Bedasarkan pengalaman hidup kita, jelas bahwa garam itu sangat dekat dengan hidup kita, sangat kita butuhkan dan bisa dikatakan garam itu menjadi bagian hidup kita yang membuat makanan yang kita makan menjadi enak. Namun jelas juga kita ketahui bahwa garam itu berguna bagi kita kalau garam itu digunakan atau larut dalam makanan. Kalau garam itu hanya tinggal di kotaknya atau di tempatnya, dia tidak akan berguna apa-apa.

Dalam hidup sehari-hari kita juga membutuhkan terang. Saat malam hampir tiba, semua orang menyalakan lampu istrik atau lampu minyak. Semua orang membutuhkan terang dan tidak ada yang suka tinggal dalam gelap, kecuali pencuri tentunya. Bahkan bila saat malam lampu listrik padam, bisa jadi kita memaki-maki PLN, karena kita tidak menyukai gelap. Tidak ada orang yang menyukai gelap, karena dalam kegelapan kita tidak bisa melihat apa-apa, kita tidak bisa melihat arah jalan atau tujuan yang mau kita jalani, dan bahkan dalam kegelapan pasti banyak resiko yang harus kita hadapi; Misalnya kita takut akan hantu dan ada resiko tersandung.

Dengan mengumpamakan orang Kristen sebagai garam dan terang dunia, Yesus mengatakan bahwa begitu penting dan bergunanya kita dalam hidup dunia ini. Dengan gambaran ini, bagi kita dikatakan bahwa kehadiran kita sangat dibutuhkan dunia, tanpa kehadiran kita dunia tidak akan terasa enak dan hidup dalam kegelapan atau kekacauan. Inilah identitas orang Kristen, inilah misa kita dan ini pulalah yang menjadikan hidup kekristenan bermakna dalam hidup dunia ini.

Kita sebagai umat katolik tentu hidup dalam masyarakat bersama banyak orang, beragam suku, bahasa dan agama atau keyakinan. Kita tidak hanya hidup dalam satu kelompok saja, hanya dengan yang seiman dengan kita. Seperti garam yang larut dalam makanan, demikian juga kiranya orang Kristen harus tinggal bersama orang lain. Sangatlah tidak kristiani hanya tinggal dalam satu kelompok, baik itu hanya bergaul dengan kelompok yang satu suku, satu bahasa, satu marga atau satu agama. Iman Katolik sungguh sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh Yesus karena dalam Gereja Katolik terdiri atas berbagai suku, bahasa, bangsa, budaya dan agama. Iman Katolik mempersatukannya dan menjadikan keragaman itu menjadi enak. Orang Kristenpun hendaknya demikian, yakni hidup bersama orang lain. Namun dalam kebersamaan dengan orang lain, orang Kristen hendaknya tidak kehilangan identitas diri yakni dengan membuat hidup itu menjadi lebih enak.

Dengan sangat indah, nabi Yesaya melukiskan bagaimana hidup sebagai garam dengan mengatakan, “supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yes 58:7), lebih lanjut dia mengatakan, “apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.”(Yes 58:10). Hidup kekristenan menjadi garam, membuat hidup ini menjadi enak yakni dengan hidup yang rela berbagi dengan orang lain, terutama orang yang miskin, orang yang membutuhkan pertolongan. Menjadi orang Kristen yang sungguh bermakna menjadi garam berarti rela berbagi suka cita, berbagi berkat dengan orang lain, mempunyai kepekaan terhadap orang lain terutama yang membutuhkan pertolongan, selalu bersedia untuk membantu, bersikap adil dan selalu berusaha untuk membawa sukacita bagi orang lain. Semua kita bisa menjadi garam yang berguna dalam kehidupan ini yakni dengan berbagi. Kerelaan berabagi memang membutuhkan pengorbanan. Ini seringkali yang membuat menjadi sulit. Namun kita harus ingat bahwa Yesus sudah mengatakan bahwa kita dalah Garam bagi dunia ini, dan agar hidup kita bermakan, mau tidak mau kita sebenarnya harus disemangati hidup yang senantiasa rela berbagi. Kerelaan untuk berbagi hidup ini bagi orang kristiani semakin mendesak bila kita mempunya banyak kesempatan dan kemampuan untuk itu. Orang yang beroleh banyak berkat seharusnya kesempatannya untuk berbagi harus lebih banyak; berkat yang diperoleh dalam bentuk rejeki, penghasilan hendaknya tidak untuk dinikmati sendiri, tetapi dibagikan untuk kebahagiaan banyak orang. Bahkan Yesus mengatakan bahwa orang Kristen sungguh-sungguh menjadi garam bila mau mengorbankan kesenangannya untuk diberikan kepada orang lain.

Hidup menjadi garam dunia, saat itu pula kita menjadi terang dalam dunia ini. Nabi Yesaya sendiri mengatakan bahwa bila kita hidup rela berbagi dengan orang lian, saat itu pula kita menjati terang yang bercahaya.

Sekarang ini banyak orang yang hidup dalam kegelapan: orang hidup dalam kepura-puraan, hidup dalam kebohongan, hidup dalam keputusasaan seakan tanpa harapan, dan hidup yang sangat mendewakan kepentingan pribadi, hidup lebih banyak mementingkan diri sendiri, tidak lagi peduli dengan orang lain terutama orang-orang yang menderita. Bahkan karena hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, orang malahan dengan gampang mengorbankan orang lain. Orang kristiani yang menjadi garam, pada saat itu pula dia menjadi terang bagi dunia, karena dengan demikian kita membuka mata banyak orang bahwa hidup itu bukan untuk diri sendiri, tetapi hidup juga untuk orang lain dengan rela berbagi dengan orang lain. Hidup yang berbagi dengan orang lain, menjadi hidup kita bermakna bagi orang lain, dan hidup kita dan hidup orang lain akan menjadi semakin enak dan indah.

Hidup menjadi terang dunia dalam dunia yang penuh kegelapan karena kepura-puraan, kebohongan, kemunafikan, itu berarti kita berusaha hidup dalam kejujuran, ketulusan, dan keterbukaan, juga hidup dalam kerendahan hati terutama di hadapan Tuhan sebagaimana yang dikatakan oleh rasul Paulus, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” (1Kor 2:3).

Dalam dunia yang penuh kegelapan karena merasa tidak ada lagi jalan untuk hidup bahagia, seakan tidak ada lagi harapan atau hidup dalam keputusasaan, hidup yang tidak lagi melihat peran dan kehadiran Allah dalam dunia ini, kita hendaknya menjadi terang dengan memberi pengharapan akan kasih Tuhan yang senantiasa menyertai manusia yakni dengan hidup baik, dan juga dengan hidup iman yang senantiasa bergantung pada kekuatan Allah (1Kor 2:5). Hidup iman kita hendaknya dapat membawa orang lain pada tujuan hidup yang sebenarnya yakni persatuan dengan Tuhan.

PENUTUP:
Kita adalah garam dan terang dunia. Kehadiran kita umat kristiani sangat penting dan sangat dibutuhkan dalam hidup dunia ini bahkan hidup yang sekarang sangat membutuhkan kehadiran kita agar hidup itu menjadi enak dan indah. Untuk itu, hendaknya kita rela berkorban untuk berbagi hidup dengan sesama dan kehadiran kita terutama iman kita menerangi hidup orang lain sehingga orang lainpun dapat sampai pada tujuan hidup sebenarnya yakni persatuan dengan Tuhan. Amin.

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Toba)

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Toba)
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16

“Naeng songon i ma marsinondang palitomuna di jolo ni halak, asa diida angka pambahenanmuna na denggan i, asa dipuji nasida Amamuna na di banua ginjang i.”

BARITA NAULI:
Hamu do sira ni tano on! Alai molo tung gabe hambar sira i, aha ma bahenon paansimhon? Nda tung na hasea be i; sibolongkononhon nama tu balian, asa didegei halak. Hamu do panondang ni portibi on! Ndang tarbahen so sai patar huta na di atas dolok. Ndang dihungkuphon halak ampang tu palito na ginalahanna; tu ginjang ni parpalitoan do dibahen, asa disondangi saluhut na di jabu i. Naeng songon i ma marsinondang palitomuna di jolo ni halak, asa diida angka pambahenanmuna na denggan i, asa dipuji nasida Amamuna na di banua ginjang i.

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Karo)

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011 (Bahasa Batak Karo)
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16

“Ersinalsal lah min terangndu i lebe-lebe kalak si nterem gelah adi idahna perbahanenndu si mehuli, ipujina Dibata, Bapandu si i Surga!”

BERITA SIMERIAH:
"Bagi sira si seh kal perluna guna pangan, bage pe kam nandangi kerina manusia. Tapi adi sira e lanai masin, lanai banci ibahan masin mulihi. Sira e lanai erguna, e maka iambekken jenari idedehi kalak. Bagi terang si seh kal perluna i bas gelap, bage pe kam nandangi doni enda. Kuta si lit i das uruk la banci lang teridah. Labo isagani kalak lampu kenca bage itutupina alu tumba; tapi itamakenna ku datas nahe pertendangen, gelah terang iakap kalak kerina si lit i bas rumah e. Dage, ersinalsal lah min terangndu i lebe-lebe kalak si nterem gelah adi idahna perbahanenndu si mehuli, ipujina Dibata, Bapandu si i Surga.
Enda me kap Injil Tuhanta.

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011

Bacaan Hari Biasa Minggu V : 6 Februari 2011
Yes 58:7-10, Mzm 112:4-5,6-7,8a,9, 1Kor 2:1-5, Mat 5:13-16

" Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

BACAAN INJIL:
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini.

Beberapa Berita Media Massa Tentang Perayaan Yubelius (50 Tahun) Hirarki Gereja di Keuskupan Agung Medan

Din: Konflik Agama karena Kurangnya Dialog
Jumat, 28 Januari 2011, 21:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,MEDAN--
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan konflik agama yang terjadi selama ini disebabkan kurangnya pertemuan yang dialogis untuk menyelesaikan masalah.

"Harus sering berdialog, tetapi yang dialogis, dua arah," katanya di Medan, Jumat malam. Ia mengatakan hal itu pada acara dialog dalam rangka Yubileum 50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan dengan topik 'Menguatkan persaudaraan sejati dalam membangun bangsa'.

Menurut dia, dalam pemantauan selama ini di tanah air konflik umat beragama sering terjadi antara umat Islam dan Kristen. "Padahal Islam dan Kristen 'satu keturunan', yakni anak cucu Nabi Ibrahim," kata Din.

Namun, kata dia, yang sering terlibat dalam konflik tersebut adalah kelompok aliran keras yang dinilai kurang dapat memahami perbedaan dua agama tersebut. "Sedangkan yang moderat justru salam-salaman dan peluk-pelukan," katanya.

Untuk mengurangi kemungkinan dan potensi konflik itu, kedua agama tersebut harus sering diajak berkomunikasi secara dialogis agar dapat memahami perbedaan yang ada. Selama ini, dialog sudah ada tetapi belum dialogis. "Hanya satu atau dua sumber saja," katanya.

Din Syamsudin mengatakan pernah membuat pertemuan antara tokoh Islam dan Kristen serta menyiapkan daftar isian tentang ganjalan dan ketidaksenangan terhadap kedua agama itu. Ternyata, kata dia, hampir tidak ada masalah yang paling krusial selain dari metode penyebaran agama dan pendirian tempat ibadah.

Oleh karena itu, menurut dia, komunikasi yang dialogis harus terus diintensifkan agar ganjalan dan ketidaksenangan terhadap agama lain dapat diminimalisir, bahkan dituntaskan. "Saya tidak ingin kalau jumpa senyum-senyuman. Namun ternyata, masih ada dusta di antara kita," katanya, yang disambut tepuk tangan peserta dialog.

Red: Krisman Purwoko
Sumber: antara

Beberapa Berita Media Massa Tentang Perayaan Yubelius (50 Tahun) Hirarki Gereja di Keuskupan Agung Medan

Keuskupan Agung Medan
Rayakan Yubileum 50 Tahun

Jumat, 4 Februari 2011
MEDAN (Suara Karya): Ketua Gerakan Pemuda Katolik Sumatera Utara (Sumut) Oloan Simbolon memuji kekompakan umat Katolik di lingkungan Keuskupan Agung Medan. Salah satu bukti kekompakan itu menurut dia membludaknya massa yang hadir dalam pucak perayaan Yubileum 50 tahun Hirarki Gereja Katolik di Keuskupan Agung Medan yang dilaksanakan, Sabtu (29/1) di Wisma Deli Persada, Paroki Deli Tua, Deli Serdang, Sumut.

"Kami sebelumnya memperkirakan umat yang datang menghadiri perayaan dimaksud hanya sekitar 25.000 orang, tapi dugaan kami meleset yang datang hampir 50.000 orang atau dua kali lipat dari yang kami perkirakan. Puji Tuhan, walaupun massa ramai, perayaan berlangsung tertib, hikmat dan meriah. Begitu besar rasa kebersamaan umat Katolik dalam perayaan tersebut," sebut Oloan Simbolon yang juga Ketua Panitia Perayaan Jubileum Keuskupan Agung Medan menjawab Suara Karya, Rabu (2/2).

Dikatakan, dalam rangka memperingati Yubileum 50 tahun hirarki Gereja Katolik di Keuskupan Medan, panitia sebelumnya (Jumat) juga melaksanakan Dialog Interaktif yang menampilkan pembicara Ketua Tokoh Lintas Agama, Din Syamsuddin. Dialog diikuti sejumlah tokoh lintas agama di Sumut membahas persaudaraan sejati dengan tema "Tingkatkan Persaudaraan Sejati dalam Membangun Bangsa".

Menurut Oloan, pelaksanaan perayaan Yubelium 50 tahun hirarki gereja Katolik di Keuskupan Agung Medan salah satunya bertujuan untuk meningkatkan rasa persaudaraan sejati di antara umat Katolik, begitu juga di antara sesama umat beragama. "Persaudaraan sejati harus dibangun dengan ketulusan dan kejujuran dari kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Dengan demikian, tidak ada lagi perang antar agama, antar suku dan lainnya. Semua damai tidak ada perpecahan," ucap anggota DPRD Sumut ini.

Rangkaian acara puncak perayaan ini menurut Oloan Simbolon diawali perayaan misa ekaristi dipimpin Uskup Agung Medan, Mgr Dr Anicetus Bongsu Sinaga. Dalam misa tersebut, Uskup Anicetus menyampaikan sejarah singkat hirarki Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan. Dimulai tahun 645 di mana sudah ada gereja Katolik "Perawan Suci" di Barus, Tapanuli Tengah, kemudian masuk ke Aceh pada tahun 1668. Tahun 1878 berdiri Paroki di Medan. Jumlah umat Katolik di seluruh Sumatera pada waktu itu ada sekitar 4.000 orang umumnya berasal dari Eropa.

Mengutip data Kanwil Depag Sumatera Utara 2009, Uskup Agung Medan mengatakan, jumlah umat Katolik di Sumut sekitar satu juta orang yang tersebar di 50 paroki termasuk Keuskupan Sibolga. Sementara pada 1961 lalu jumlah umat Katolik di Medan, hanya sekitar 88.190 orang. Sedangkan Jumlah imam berdasarkan data statistik per 1 Januari 2010 sebanyak 227 orang. (M Tampubolon)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)