Renungan harian : 15 Januari 2011
Ibr 4:12-16, Mzm 19:8-9,10,15, Mrk 2:13-17
(Arnoldus Janssen, Aloysius Variara,Maurus & Plasidus)
Ibr 4:12-16, Mzm 19:8-9,10,15, Mrk 2:13-17
(Arnoldus Janssen, Aloysius Variara,Maurus & Plasidus)
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."
BACAAN INJIL:
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini:
RENUNGAN:
Dalam suatu pertemuan, ada seorang ibu yang mengeluh karena suaminya sulit diajak ke Gereja dan hal itu mempengaruhi beberapa anaknya, sehingga anaknya juga seperti suaminya. Ibu yang lain menanggapinya dengan santai dengan mengatakan agar menjadikan itu sebagai syukur, karena dengan situasi demikian, itu menjadi kesempatan atau jalan bagi dia untuk memberi contoh makna iman dan berdoa bagi suami dan anak-anaknya supaya aktif dalam menggeraja. Dikatakan lagi, sebab bila semuanya baik-baik saja, mungkin kita jadi lupa berdoa bagi suami dan anak-anak. Sejak saat itu, ibu itu tidak mengeluh tetapi semakin memberi perhatian kepada suami dan anaknya yang malas ke Gereja dan semakin banyak berdoa bagi mereka.
Ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi begitu terkejut ketika Yesus bergaul dengan Lewi si pemungut cukai anak Alfeus dan bahkan makan bersama dengan pemungut cukai lainnya yang dianggap kalangan pendosa. Mereka tentu kaget dengan sikap Yesus yang demikian dan pasti mencela Yesus melakukan hal yang tidak terpuji, karena pada dasarnya mereka yang menganggap dirinya terhormat, akan bergaul dengan kaum terhormat pula, tidak dengan para pemungut cukai yang dianggap pendosa. Mereka yang menganggap dirinya baik dan suci, tentu tidak akan bergaul dengan orang yang dianggap tidak baik, karena takut ternodai dan dianggap bersekongkol dengan para pemungut cukai. Sama halnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mana ada orang yang berani terang-terangan bergaul dengan si ‘Gayus’, karena pasti takut dianggap bersekongkol, meskipun sebenarnya mungkin saja bersekong-kol dengan dunia si ‘gayus’. Pada umumnya, orang yang menganggap dirinya baik, pasti hanya bergaul dengan orang yang dianggapnya baik, dan akan menjauh dari orang-orang yang dianggap tidak baik.
Namun syukurlah bahwa Yesus tidak seperti yang kita pikirkan dan perbuat. Yesus mengatakan bahwa "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Dia yang adalah Tuhan, Dia yang adalah Kudus, Suci dan mulia, mau menyapa dan beragaul dengan orang berdosa tentu bukan dengan maksud untuk bersekongkol dalam kejahatan, tetapi untuk mengajak dan mempertobatkan manusia dari kedosaan, dan berbalik kepada Allah. Kita semua adalah tentu tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Kalau sekiranya Yesus seperti kita yang hanya bergaul dan mau hidup hanya dengan orang-orang yang kita atau orang anggap baik, tentu Yesus tidak akan mau datang mengunjungi kita, hidup bersama kita dan mau menyelamatkan kita. Yesus datang membawa keselamatan kepada semua orang, membawa dan mengajak pertobatan secara khusus bagi kita dan semua yang hidup dalam dosa. Seperti yang dikatakan-Nya kepada Lewi "Ikutlah Aku!", panggilan ini juga ditujukan oleh Yesus kepada kita. Sehingga sebesar apapaun dosa dan kelemahan kita, Yesus mengajak kita pada pertobatan hidup dengan mengikuti Dia. Dia senantiasa berjalan mencari dan mengajak kita pada pertobatan. Kita tidak usah takut, karena Dia tidak akan menolak kita, malah bahkan mencari dan menantikan pertobatan kita.
Ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi merasa dirinya baik, suci dan menyingkirkan orang-orang yang dianggap berdosa. Kalau Yesus sendiri benar-benar Tuhan yang kudus, suci dan mulia, mau menyapa dan bergaul dengan orang pendosa dengan tujuan menyelamatkan mereka, mengapa kita yang berdosa tidak melakukan hal yang sama. Betapa banyak orang saat ini merasa terkucilkan dan dituduh bersalah padahal belum tentu mereka bersalah, tetapi kita ikut-ikutan menghukum mereka dengan tidak mau peduli dengan nasib mereka, tidak mau menyapa dan bergaul dengan mereka. Betapa banyak orang dan umat kita yang hidupnya jauh dari kehendak Tuhan, tetapi kita tidak peduli, malah kita semakin mengucilkan mereka dengan sikap kita yang mencibir, tidak mau menyapa dan bahkan mungkin ikut ‘mewartakan’ kekurangan atau kejahatan mereka. Harusnya, kalau kita tidak mampu menasihati mereka, paling tidak kita menyapanya dalam kasih dan berdoa agar mereka bertobat. Betapa banyak gereja yang sepi ketika beribadah, karena kemalasan atau karena jalan-jalan ke kandang domba yang lain, tetapi kita tidak peduli. Kita sering hanya mengeluh soal umat yang tidak aktif dan umat yang jajan ke Gereja lain, tetapi kita tidak pernah mencari mereka, menyapa dan mengajak mereka untuk kembali. Semoga Injil hari ini menyemangati kita untuk berbuat bagi pertobatan banyak orang. Boleh kita katakana bahwa iman yang mendalam dan kekudusan hidup seseorang, dapat juga diukur dari upaya untuk mewartakan pertobatan sesama. Amin.
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."
Demikianlah Injil Tuhan bagi kita hari ini:
RENUNGAN:
Dalam suatu pertemuan, ada seorang ibu yang mengeluh karena suaminya sulit diajak ke Gereja dan hal itu mempengaruhi beberapa anaknya, sehingga anaknya juga seperti suaminya. Ibu yang lain menanggapinya dengan santai dengan mengatakan agar menjadikan itu sebagai syukur, karena dengan situasi demikian, itu menjadi kesempatan atau jalan bagi dia untuk memberi contoh makna iman dan berdoa bagi suami dan anak-anaknya supaya aktif dalam menggeraja. Dikatakan lagi, sebab bila semuanya baik-baik saja, mungkin kita jadi lupa berdoa bagi suami dan anak-anak. Sejak saat itu, ibu itu tidak mengeluh tetapi semakin memberi perhatian kepada suami dan anaknya yang malas ke Gereja dan semakin banyak berdoa bagi mereka.
Ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi begitu terkejut ketika Yesus bergaul dengan Lewi si pemungut cukai anak Alfeus dan bahkan makan bersama dengan pemungut cukai lainnya yang dianggap kalangan pendosa. Mereka tentu kaget dengan sikap Yesus yang demikian dan pasti mencela Yesus melakukan hal yang tidak terpuji, karena pada dasarnya mereka yang menganggap dirinya terhormat, akan bergaul dengan kaum terhormat pula, tidak dengan para pemungut cukai yang dianggap pendosa. Mereka yang menganggap dirinya baik dan suci, tentu tidak akan bergaul dengan orang yang dianggap tidak baik, karena takut ternodai dan dianggap bersekongkol dengan para pemungut cukai. Sama halnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mana ada orang yang berani terang-terangan bergaul dengan si ‘Gayus’, karena pasti takut dianggap bersekongkol, meskipun sebenarnya mungkin saja bersekong-kol dengan dunia si ‘gayus’. Pada umumnya, orang yang menganggap dirinya baik, pasti hanya bergaul dengan orang yang dianggapnya baik, dan akan menjauh dari orang-orang yang dianggap tidak baik.
Namun syukurlah bahwa Yesus tidak seperti yang kita pikirkan dan perbuat. Yesus mengatakan bahwa "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Dia yang adalah Tuhan, Dia yang adalah Kudus, Suci dan mulia, mau menyapa dan beragaul dengan orang berdosa tentu bukan dengan maksud untuk bersekongkol dalam kejahatan, tetapi untuk mengajak dan mempertobatkan manusia dari kedosaan, dan berbalik kepada Allah. Kita semua adalah tentu tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Kalau sekiranya Yesus seperti kita yang hanya bergaul dan mau hidup hanya dengan orang-orang yang kita atau orang anggap baik, tentu Yesus tidak akan mau datang mengunjungi kita, hidup bersama kita dan mau menyelamatkan kita. Yesus datang membawa keselamatan kepada semua orang, membawa dan mengajak pertobatan secara khusus bagi kita dan semua yang hidup dalam dosa. Seperti yang dikatakan-Nya kepada Lewi "Ikutlah Aku!", panggilan ini juga ditujukan oleh Yesus kepada kita. Sehingga sebesar apapaun dosa dan kelemahan kita, Yesus mengajak kita pada pertobatan hidup dengan mengikuti Dia. Dia senantiasa berjalan mencari dan mengajak kita pada pertobatan. Kita tidak usah takut, karena Dia tidak akan menolak kita, malah bahkan mencari dan menantikan pertobatan kita.
Ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi merasa dirinya baik, suci dan menyingkirkan orang-orang yang dianggap berdosa. Kalau Yesus sendiri benar-benar Tuhan yang kudus, suci dan mulia, mau menyapa dan bergaul dengan orang pendosa dengan tujuan menyelamatkan mereka, mengapa kita yang berdosa tidak melakukan hal yang sama. Betapa banyak orang saat ini merasa terkucilkan dan dituduh bersalah padahal belum tentu mereka bersalah, tetapi kita ikut-ikutan menghukum mereka dengan tidak mau peduli dengan nasib mereka, tidak mau menyapa dan bergaul dengan mereka. Betapa banyak orang dan umat kita yang hidupnya jauh dari kehendak Tuhan, tetapi kita tidak peduli, malah kita semakin mengucilkan mereka dengan sikap kita yang mencibir, tidak mau menyapa dan bahkan mungkin ikut ‘mewartakan’ kekurangan atau kejahatan mereka. Harusnya, kalau kita tidak mampu menasihati mereka, paling tidak kita menyapanya dalam kasih dan berdoa agar mereka bertobat. Betapa banyak gereja yang sepi ketika beribadah, karena kemalasan atau karena jalan-jalan ke kandang domba yang lain, tetapi kita tidak peduli. Kita sering hanya mengeluh soal umat yang tidak aktif dan umat yang jajan ke Gereja lain, tetapi kita tidak pernah mencari mereka, menyapa dan mengajak mereka untuk kembali. Semoga Injil hari ini menyemangati kita untuk berbuat bagi pertobatan banyak orang. Boleh kita katakana bahwa iman yang mendalam dan kekudusan hidup seseorang, dapat juga diukur dari upaya untuk mewartakan pertobatan sesama. Amin.
0 comments:
Post a Comment
Syalom. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya.Semoga Tuhan memberkati para Saudara.